Monday, May 26, 2014

Jogja Miniprint Biennale 2014




​INVITATION
You are cordially invited to attend the official opening of the Jogja Miniprint Biennale (JMB) 2014 
On Friday 6 June 2014, 18:30 hours 
At Bank Indonesia Museum, Jl Taman Surapati no 2, Yogyakarta
Programs : -Intaglio demonstration by Yogyakarta Printmakers
                     -Announcement of the winner of the three best work JMB 2014
                     -Opening exhibition by Drs. GBPH Yudhaningrat MM
                     -Special performance by Ade Aryana Uli Pandjaitan
And
Tuesday 17 June 2014, 19:00 hours
At Mien Gallery, Jl. Cendana 13, Yogyakarta
Programs:  -Intaglio Demonstration II by Yogyakarta Printmakers
                    -Opening by dr Oei Hong Djien
                    -Refreshements

7 June 2014, 12.00-1500 at IVAA, Jl. Ireda, Gg. Hiperkes 188 A-B, Yogyakarta: Discussion with JMB organizer and discussion “Contemporary Australian Printmaking” with Carolyn Craig McKenzie.

Sincerely,
TERAS Print Studio
Exhibition durations: 
6-13 June 2014  at Bank Indonesia Museum, open hours: 9.00-17.00
17-23 June 2014  at Mien Gallery, open hours: 9.00-21.00

 Pengantar penyelenggara
Dengan segala keterbatasannya kami hadirkan Jogja Miniprint Biennale (JMB) yang pertama ini ke tengah publik pencinta seni di Yogyakarta secara sederhana. Sudah menjadi komitmen kami untuk terus melakukan kegiatan dalam  menyebar luaskan seni cetak grafis ke tengah masyarakat dan upaya meningkatkan mutu sajiannya. Even JMB ini adalah salah satu dari beberapa program yang telah, sedang dan akan kami jalankan disamping kegiatan lain seperti workshop, program ‘mini residensi’ yang baru dimulai awal tahun ini dan berbagai kegiatan propaganda dan rencana pameran. Pada tahun 2013 lalu kami menyelenggarakan Jogja International Mini Print Festival (JIMPF) yang diikuti 167 peserta dan 460 karya yang merupakan even pendahuluan bienal ini.

Hasrat yang disimpan sejak lama agar Yogyakarta memiliki sebuah even seni cetak grafis berkala setiap 2 atau 3 tahun sekali -dimana even tersebut selain berfungsi sebagai pertemuan karya-karya bermutu sekaligus juga sebagai ajang pergaulan  para pegrafis dari berbagai belahan dunia- tengah terbentang saat ini.  Minimnya infrastruktur, seretnya dukungan di dalam negeri sebagaimana banyak dikeluhkan oleh pegrafis membuat even semacam JMB menjadi sebuah keharusan untuk diselenggarakan secara rutin agar para pegrafis tumbuh rasa percaya dirinya dan tetap bergairah berkarya. Format miniprint yang diusung adalah alternatif, tantangan dan jembatan untuk mewujudkan ide-ide tersebut baik bagi seniman maupun bagi penyelenggara. Hal ini antara lain dikarenakan format miniprint memiliki beberapa kepraktisan dalam pendistribusian dan penangannya disamping dengan tetap mengutamakan  muatan pesan dan kualitas dari karya-karya yang  dihasilkan.

Peserta pameran ini dijaring lewat pendaftaran terbuka kepada seniman Indonesia dan luar negeri yang dilakukan dari tanggal 1 Januari  sampai 20 April 2014. Awalnya tercatat ada 169 calon peserta dari 27 negara yang mencatatkan namanya mengikuti seleksi, namun dalam perjalanannya ada peserta yang mundur, tidak siap, tidak memberi kabar dan  terlambat mengirim karya. Pendaftar  yang datang tepat waktu sesuai deadline yang ditetapkan panitia dan berhak mengikuti seleksi ada 142 seniman dengan jumlah sebanyak 465 karya. Pada tanggal 26 April 2014 bertempat di Kedai Kebun Forum, Jalan Tirtodipuran 3 Yogyakarta, Indonesia, dewan juri yang terdiri dari Hendro Wiyanto (ketua), Devy Ferdianto (anggota) dan Agung Kurniawan (anggota) telah menyeleksi 140 karya dari 72 seniman berasal dari 23 negara untuk mengikuti pameran JMB 2014. Pameran akan diadakan di dua tempat, pertama dilaksanakan di gedung heritage Museum Bank Indonesia, Jl. Panembahan Senopati 2, Yogyakarta dari  6 – 13 Juni 2014, dan pameran kedua dilanjutkan di Mien Gallery, Jl Cendana 13, Yogyakarta dari 17 – 23 Juni 2014. Rencananya pameran ini masih akan dibawa ke berbagai tempat baik di Yogyakarta maupun luar kota sampai bulan Desember 2014.

Dalam JMB yang pertama ini kami sengaja memasang 3 juri  yang merupakan kombinasi  dari 3 karakter berbeda: “pengusung tema”, “penjaga teknik” dan “ pengawal teknik & tema”. Dalam hemat kami seni cetak grafis sebagaimana seni-seni lainnya memerlukan unsur-unsur tersebut untuk menjadi menarik, mampu bersaing dan diminati penonton. Teknik saja tidak cukup, harus diperkuat oleh tema. Tema saja akan terlepas dari bangunan karya jika tidak didukung teknik yang baik. Mengabaikan teknik atau tema atau keduanya akan celaka karena  membuat seni ini ditinggalkan. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi dua tahun ke depan dimana JMB direncanakan diadakan kembali, namun penting buat kami selaku penyelenggara  memberi pondasi yang kokoh sejak dari JMB yang pertama ini agar lebih mudah melangkah selanjutnya. Independensi dewan juri sangat kami jaga sehingga apa yang disajikan dapat dipertanggung jawabkan. Adalah sebuah konsekuensi tersendiri buat kami penyelenggara dimana di satu sisi kami perlu merangkul dan menjaga hubungan  dengan sebanyak mungkin seniman agar JMB kian hari bertambah peminat dan pendukungnya dan di sisi lainnya  profesionalisme dan independensi juri harus kami hargai. Kami perlu mengatakan hal ini sehubungan adanya pertanyaan dan keberatan yang ditujukan kepada kami oleh beberapa peserta yang kebetulan tidak berhasil lolos dalam seleksi. Dengan kerendahan hati, melalui perhelatan JMB pertama ini kami ingin membangun sebuah bienal yang profesional dan kuat serta dapat bersanding dengan bienal-bienal miniprint yang telah lebih dahulu hadir di berbagai belahan dunia.

Lewat pengantar ini perlu kami informasikan bahwa logo JMB 2014 dibuat oleh Fakri Syahrani, pegrafis muda Yogyakarta.  Logo ini terpilih dari 20 disain logo hasil lomba terbatas yang diikuti beberapa perupa Yogyakarta beberapa waktu sebelumnya. Pengadaan hadiah uang untuk 3 karya terbaik JMB yang pertama  ini  dikumpulkan dari sumbangan oleh Studio Biru,  perupa Ronald Manullang dan patungan  donasi perupa Agung Kurniawan-istrinya Yustina Neni-pengusaha Tom Tandio. Untuk trofi JMB 2014 bagi 3 pemenang karya terbaik adalah hasil  tangan kreatif seniman muda Yoel Fenin Lambert yang kami percayakan membuatnya.  Semoga untuk ke depannya akan ada “commission artists trophy’ dari seniman-seniman lainnya.

Kami berharap apa yang dilakukan ini dapat bermanfaat baik bagi pelaku seni cetak grafis itu sendiri maupun pelaku seni dari disiplin yang berbeda, para pencinta seni dan masyarakat pada umumnya. Adanya berbagai kendala dalam mempersiapkan even JMB ini kami jadikan pelajaran berharga dan penyemangat untuk bisa mempersiapkan lebih baik lagi ke depannya. Akhir kata, kami dari TERAS Print Studio mengucapkan selamat bekerja pada panitia, selamat berpameran para peserta, selamat datang tamu/undangan dalam dan luar negeri yang secara khusus datang di acara ini. Kami mengucapkan terima kasih kepada patner kerja kami HPAM dan Tirana Art Management, pendukung tempat Museum Bank Indonesia dan Mien Gallery, dewan juri, dewan pesehat, donatur, sponsor, pemasang iklan, simpatisan dan juga kepada  para peserta baik yang lolos seleksi maupun yang kali ini belum beruntung lolos seleksi.   Bantuan dan peran anda semua telah membuat acara ini terwujud.
Salam hangat kami,
TERAS Print Studio.

A Few Words from the Organizers 
Despite the challenges and limitations the first Jogja  Miniprint Biennale (JMB) 2014 is being presented to the art loving public in Yogyakarta. It is our commitment to improve and widen the scope of our activities for the general public. An event like JMB 2014 is one of several activities which we have already carried out or are planning, including workshops, ‘mini-residencies” which began in 2014, as well as other exhibitions. In 2013 we presented the Jogja International Mini Print Festival (JIMPF) which exhibited 460 works by 167 printmakers and was a pre-event to the Jogja Miniprint Biennale (JMB 2014).

The long-held desire for Yogyakarta to host a periodic printmaking event which would not only exhibit high quality print work but would also serve as a forum for printmakers from all over the world is finally being realized. Minimal infrastructure and low levels of in-country support, as frequently expressed by printmakers, makes it important to hold regular events like JMB 2014 which will increase the confidence and spirit of Indonesian printmakers. The miniprint format is an alternative, a challenge, and a bridge to realize these ideas, both from the artist’s as well as the organizer’s perspective. The reason is that the miniprint format has a number of practical aspects related to distribution and handling although the meaning and quality of the works produced are always paramount.       

Artists exhibiting at JMB 2014 were chosen through an open call to Indonesian and international artists from 1 January to 20 April 2014. Initially, 169 artists from 27 countries responded to the call although a number of artists did not submit promised works and ultimately, by the 26 April 2014 deadline, 465 works had been submitted by 142 artists. The jury, chaired by Hendro Wiyanto, together with Devy Ferdianto and Agung Kurniawan chose 140 works by 72 artists from 23 countries to be shown at JMB 2014. The opening and the first exhibition will be held at the Museum Bank Indonesia, a heritage building located at Jl. Panembahan Senopati 2, Yogyakarta from 6 – 13 June 2014. The second exhibition will held at Mien Gallery, Jl Cendana 13, Yogyakarta from 17 to 23 June 2014. It is also planned that the exhibition will travel to other galleries in Yogyakarta as well as to locations outside Yogyakarta through December 2014 

For this first Jogja Miniprint Biennale (JMB) a three member jury was chosen representing three different areas of interest and expertise: theme, technique, and the interplay between technique and theme. According to our observation, printmaking, like other types of art, needs these elements to be engaging, to be competitive, and to be interesting to observers. Technique alone is insufficient; it must be strengthened by a theme, although the theme will be lost in the structure of the work if it is not supported by good technique. To ignore technique or theme or both would be disastrous because the content, the art itself, would be utterly abandoned. We do not know what will happen two years from now, when the next JMB is planned, though it is important for us, the organizers, to provide a strong foundation, beginning with the first JMB so that future Biennales will proceed smoothly. The independence of the jury is vital so that the decision making process is fully accountable. An additional concern from the point of view of the organizers is the need to foster relationships with as many artists as possible so that future Biennales will attract more participants and supporters, while at the same time never allowing the professionalism and independence of the jury to be compromised. It is necessary to mention this matter in relation to the questions and objections which were directed to the organizers by artists whose work was not selected for inclusion in JMB 2014. It is our hope that following the first JMB a strong, professional biennale tradition will develop which will be competitive with miniprint biennales in other parts of the world.  

The JMB 2014 logo was designed by Fakri Syahrani, a young artist working in Yogyakarta. The logo was chosen from 20 designs submitted in a competition to determine the best logo for the Biennale. Trophies for the three prizewinners were designed by another young Yogyakarta artist, Yoel Fenin Lambert. We hope that in future their design skills will be utilized by other curators and artists. A number of supporters and art lovers contributed to the prizes for the three best works submitted to JMB 2014 including Studio Biru, Ronald Manullang, Agung Kurniawan and Yustina Neni, and Tom Tandio. We are grateful for their support. 

We hope that our efforts will be useful to printmakers, artists working in other mediums, art lovers, and the general public. There were a number of constraints in preparing JMB 2014 which we consider as lessons learnt and which will encourage us to better prepare for the next Biennale. Finally, TERAS Print Studio would like to express its best wishes to the committee and the artists. We would like to express our thanks to our partners, Heri Permad Art Management and Tirana Art Management, Museum Bank Indonesia and Mein Gallery, members of the jury, our advisors, donors, sponsors, advertisers, supporters, and finally to the artists, both those whose work was selected for JMB 2014 and to those whom we hope will submit their work for the next Jogja  Miniprint Biennale. It through the help of everyone that JMB 2014 has been successfully organized.      
Warm regards and a warm welcome to JMB 2014 to our guests from Indonesia and abroad. 
TERAS Print Studio

 Miniprint Biennale: Potensi Maksi Di Balik Format Mini
Oleh Suwarno Wisetrotomo

Ide penyelenggaraan peristiwa seni rupa Miniprint Biennale (MB), pantas disambut dengan banyak cara, sesuai kapasitas masing-masing penerima. Yang bergerak di dunia praktek seni, peristiwa MB adalah tantangan yang seksi; berkarya dengan prinsip cetak (print; seni grafis, lipat ganda, dengan varian teknik yang beragam) berukuran mini, namun tetap kuat daya pikat dan daya ganggunya. Tantangan dan peluang untuk mengkreasi karya yang unik, terbatas, artistik, dan menarik, terbuka lebar. Prinsipnya, ukuran/format boleh mini, tetapi gagasan-gagasan di baliknya, pesan-pesan yang ingin disuarakannya, tetap harus (dan boleh) maksi.

Bagi mereka yang tertarik di wilayah pemikiran (pembacaan, pemaknaan) karya seni rupa, peristiwa MB juga sebuah tantangan yang menggairahkan. Melalui peristiwa MB ini dapat memburu, menyelidik, juga menagih, adanya kemungkinan-kemungkinan yang tak terduga di balik penggunaan istilah ‘miniprint’. Karena pada dasarnya teknik cetak (print; atau printmaking; seni grafis) ‘menyembunyikan’ sejumlah kemungkinan potensi artistik. Dari teknik konvensional; cetak tinggi(wood cut, hardboard cut, lino cut); cetak dalam (etsa, aquatint, drypoint, sugartint); cetak datar  (lithography dan monotype); dan cetak saring (silkscreen, atau serigraphy) dengan segenap variannya, masih dapat dikembangkan menjadi beragam teknik, dan bahkan sebutan. Sejumlah teknik itu sangat mungkin dipadukan (mix), bahkan bisa dicobakan pada berbagai medium. Berkarya dengan medium dan teknik print, adalah berkarya sembari berkawan dengan ketegangan dan ketakterdugaan. Karena itu unsur kejutannya (surprise) demikian tinggi.  Sang perupa hanya bisa mengukur dan mengira (kedalaman cukilan, torehan, pengasaman, kelembaban kertas, ketebalan tinta, kekuatan rekatan, dan lain-lainnya) dengan menganggap  – atas dasar pengalaman empiris – semuanya seolah tepat. Selebihnya, ia sang seniman hanya bisa menduga dan mengharap; semoga hasil cetaknya seperti yang dibayangkan.

Itulah dunia seni cetak; perpaduan antara ketrampilan teknik, kecerdasan gagasan, imajinasi konstruksi bentuk dan komposisi, serta tegangan/ketegangan emosi yang diliputi ketakterdugaan. “Ketepatan” atas dasar dugaan dan (sekali lagi) pengalaman empiris, menjadi faktor penentu keberhasilan karya cetak yang diharapkan.

Miniprint sebagai konsep, justru harus bisa membuka sejumlah kemungkinan dalam aspek eksplorasi gagasan, eksplorasi material, teknik, dan presentasi. Keliaran gagasan dan hasrat, harus terakomodasi dalam keterbatasan format. Saya membayangkan, melalui peristiwa Miniprint Biennale ini, muncul perupa-perupa ‘baru’ dengan gairah baru, yang mendalami sekaligus mengembangkan dunia print, dunia seni cetak; dari yang miniprint hingga yang maxiprint. Maksimal gagasannya, maksimal mediumnya, maksimal formatnya, dan maksimal presentasinya.

Dari aspek teknis, peristiwa Miniprint Biennale ini berpotensi menjangkau seluas-luasnya wilayah dan sebanyak-banyaknya seniman. Bahkan bisa diselenggarakan serentak di mana-mana. Merayakan seni rupa secara egaliter, terjangkau, ringkas, tanpa kehilangan nilai penting atau kewibawaan dunia gagasan. Memiliki watak edukasi dan apresiasi seni rupa yang tinggi bagi masyarakat luas. Saya menyambut dengan sukacita dan penuh harap pada peristiwa Miniprint Biennale ini.

(Suwarno Wisetrotomo / Kritikus Seni Rupa / Dosen di Fakultas Seni Rupa dan Pascasarjana ISI Yogyakarta).

Jogja Miniprint Biennale: Mini Format, Maximum Potential
By Suwarno Wisetrotomo

The idea of holding an art event like the Miniprint Biennale (MB) can be welcomed in many different ways, according to the capacity of the various audiences. For those who are active in the world of art practice this is an interesting challenge: to produce work based on the principles of printing and employing various graphic art techniques in a mini format but with a persuasive ability to entice and stimulate the viewers. The challenges and opportunities to create unique, artistic, and interesting works are wide open. In principle, although the format may be small, the ideas behind the works and the meaning the artist wishes to convey are big.

For those who are interested in this area of activity, MB  is a stimulating challenge. Through the Biennale one can look for there are unexpected and unexplored possibilities behind the term ‘miniprint’ because in fact printing techniques ‘hide’ a number of artistic possibilities: from conventional relief print techniques (wood cut, hardboard cut, lino cut) to intaglio (etching, aquatint, drypoint, sugartint), planograph (lithography, monotype) and screen printing ( silkscreen or serigraphy). All are variations which can be still further developed and combined in a number of techniques. New techniques could also be developed or even a number of these techniques could very possibly be combined and applied to different media. Creating works in a particular medium with specific printmaking techniques can create a unique new mixture combining ‘surprises’ and the unexpected. Thus the ‘surprise’ factor is important. The artist can only measure and approximate (e.g., depth of the carving, the incision on the surface of the plate, acidity and moisture content of the paper, viscosity of the ink, and strength of the adhesive material by reflecting empirically on his/her own experience – all are equally valid. More than that, the artist can only guess and hope that the results are like what he/she imagined.            

Such is the world of printmaking; a combination of technical skills, cleverness, ideas, imagination, constructions, compositions of form, as well as tension and feelings - all encompassing the unexpected. Precision founded on guesswork and once again, empirical experience; the factor which determines the results that the artist is hoping for in the printed work.       
Miniprints as a concept must open a number of possibilities from the aspect of exploring ideas, materials, techniques, and presentation. Wild ideas and intentions must be accommodated within the limitations of the given format. I can imagine that through MB  new artists with new passions, who delve deeply into as well create new developments in the world of printmaking, will emerge. From miniprints to ‘maxiprints’: maximal ideas, maximal media, maximal formats, and maximal presentations.       

From a practical, logistical point of view, MB  has the potential to reach a wide area and a great many artists. In fact, the event could be presented simultaneously in several different venues.  It is an egalitarian celebration; affordable, succinct and all without losing sight of important values or the world of ideas in the frame of education and art appreciation in the broader society Thus I have great expectations for the Miniprint Biennale.

(Suwarno Wisetrotomo Art Critic and Lecturer in the Department of Fine Art and Post-Graduate Program, Indonesian Institute of Art, Jogjakarta. 
Post a Comment