Saturday, December 28, 2019

Bahagia versi Ekwan Marianto


Menjadi seniman itu tidak mudah. Tidak mudah dalam hal membiayai hidup dia. Apalagi bila dia sudah memiliki keluarga. Uang hasil penjualan karya belum tentu bisa didapat kapan dan berapa jumlahnya. Mikirin itu saja bisa jadi bikin pusing kepala. Apalagi harus terus berpikir kreatif, harus produksi karya yang biayanya tentu tidak sedikit. Sementara seorang seniman juga mesti dituntut untuk selalu ada karya yang baru sebagai bentuk eksistensi dia di dunia seni rupa.

Nah dari semua kekompleksitasan masalah tersebut diatas, ada seorang seniman Ekwan Marianto (lahir 18 Desember 1977) asal Tuban, yang mengesampingkan itu semua. Kok bisa? Iya, dia sudah bertekad untuk berkarya dengan bahagia. Kalau tidak bahagia, dia mengaku tidak bisa berkarya. Jika tidak merasa bahagia, karya apapun yang dia buat serasa selalu ada salahnya atau tidak pas di hati. Untuk mencapai pada tahap ini, tentu tidak mudah ya. Harus benar benar ikhlas dan menerima dengan rasa syukur apa yang sudah didapatkan. Ketika seseorang sudah sampai pada titik ini, itu tidak mudah, saya yakin dia sudah bisa memaknai hidup yang sesungguhnya. Hasil kebahagiaan itu, Ekwan tampilkan dalam sebuah pameran tunggal seni rupa bertajuk “The Journey of Happiness” di Taman Budaya Yogyakarta, mulai tanggal 21 Desember 2019 hingga 4 Januari 2020. Ini merupakan pameran tunggalnya yang ke-5 selama karirnya sebagai seniman.

Ekwan menampilkan lebih dari 40 karya, dengan media beragam. Dari kanvas, kayu, perunggu, resin. Karyanya pun memiliki ukuran dan dimensi yang besar. Lihat karya-karya yang ditampilkan oleh Ekwan Marianto, tema-tema karyanya adalah keseharian yang sederhana. Tentang ikan, burung, kerbau, sapi, anjing dan manusia-manusianya.


Latar Belakang
Ekwan mulai mempelajari seni di Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR). Disana ia belajar dasar-dasar menggambar, melukis, mengukir kayu, membatik, membuat cetakan, membuat ilustrasi dan sebagainya. Tak butuh waktu lama baginya untuk memutuskan bahwa ia akan menekuni lukis. Pada akhirnya ia menguasai beragam teknik dan gaya lukis.

Waktu itu ia tinggal di sebuah rumah kos di Yogyakarta, jauh dari kota asalnya yaitu Tuban, Jawa Timur. Lingkungan di sekitar rumah kosnya dipadati para seniman muda yang penuh gairah. Sebagian besar mereka menempuh pendidikan tinggi di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogya. Walaupun ia tidak menempuh pendidikan tinggi seperti para tetangganya, pengaruh lingkungan tempat tinggalnya itu begitu besar dalam jalan hidupnya, termasuk diantaranya adalah pertemuan dengan seorang perempuan yang kelak akan ia nikahi. Kemantapannya menjadi seniman dan caranya memandang hidup secara umumpun juga tak lepas dari pengaruh lingkungan tersebut.

Saat ini dia memiliki ruang seni yang dikelolanya dengan kesungguhan hati dan didedikasikan untuk siapa saja yang membutuhkannya, ia beri nama Kembang Jati Art House.



Kekuatan Kesederhanaan
Diantara berbagai artefak peradaban kuno, kartun tahun 1980an, aliran abstrak ekspresionis, emoticon (simbol-simbol emosi pada gawai) kontemporer dan wayang kulit Jawa, kita bertemu dengan karya seni Ekwan.

Tawa kita terpancing ketika melihat kelucuan dalam karyanya. Rasa penasaran kita akan dunia yang diciptakan oleh sang senimian pun tergelitik, namun pada saat yang sama kita juga terharu dan terinspirasi untuk membuka diri pada sebuah hal mendasar yang membuat kita jadi manusia sesungguhnya. Kita mendapat kesempatan berharga untuk mengingat kembali hal-hal yang membahagiakan.

Kesederhanaan karya Ekwan tak hanya menyamarkan kepekaan sang seniman yang luar biasa namun juga keahlian yang dilatih selama bertahun-tahun serta, yang paling penting, beragam lapis interpretasi terhadap karya-karyanya.

Karya seni Ekwan menjadi sebuah peringatan merisaukan bahwa keberhasilan manusia yang paling hebat sebenarnya selalu berakar dalam imajinasi dan kerbesamaan, bukan pada sesuatu yang acap kita pikirikan seperti sistem penilaian yang rumit dan kompetitif, kemampuan konsumsi, dan kesempurnaan layaknya produk buatan mesin. Lukisan Ekwan yang tampaknya kekanakan justru menyimpan rahasia kegembiraan yang selalu dicari-cari oleh manusia layaknya sebuah pencapaian.

Sumber inspirasi Ekwan yang lain adalah desa kampung halamannya, film-film kartun yang pernah ditontonnya waktu kecil, perayaan-perayaan di desa, lukisan karya pelukis Indonesia maupun mancanegara, ingatan-ingatan serta imajinasinya, wayang kulit, ukiran tradisional, graffiti yang tersebar di dinding-dinding kota Yogya, pesawat terbang di udara dan banyak lagi. Beberapa sumber inspirasinya adalah sesuatu yang berada di alam sadarnya, dan ada pula yang berasal dari alam bawah sadar. Yang pasti, Ekwan kini membuka pintu bagi apapun untuk menjadi inspirasi, selama ia masih tetap setia menggerakkan tangan sesuai keinginan hati dan selama ia masih merasa nyaman untuk berkarya. Hasilnya adalah karya-karya sugestif yang utuh.

“Berkesenian bagi saya itu tidak ada kata berhenti karena itu sumber kebahagiaan saya. Saya suka menyaksikan citra yang muncul dari permainan-permainan ekspresif saya.  Saya sering terkejut melihat sebuah bentuk muncul, dan mewujud. Seandainya saya berhenti dan berpikir, mungkin hal itu tampak konyol. Saya tak mungkin akan berani melukis tangan seperti itu, atau kumis yang menggelantung di tepian muka…atau apapun yang serupa, jika saya kebanyakan berpikir. Tapi kalau mengerjakan hal seperti ini menyenangkan, melukis dan memainkan warna sesuka hati, buat apa dipikirkan? Hahaha…

Nasirun
Saya bersyukur melihat para seniman muda yang berdedikasi terhadap karyanya. Pada dasarnya, saya senang melihat Ekwan mendapat kesempatan untuk mengeksplorasi media lain selain cat dan kanvas. Saya yakin ini sangat penting untuk perkembangan keseniannya. Lebih-lebih kalau kita membicarakan budaya lokal di sini. Tidak pernah ada batasan kaku di antara berbagai media kesenian--semuanya merupakan satu kesatuan, bagian dari wadah yang luas yang membawa warisan budaya. Ini termasuk asas-asas kebersamaan, kebahagiaan, dan keterhubungan dengan beragam hal. Kebahagiaan itu pada dasarnya datang dari hal-hal sederhana yang semakin langka ditemukan di zaman modern ini.


Edi Sunaryo
Ada hal yang mengharukan ketika berhadapan dengan sosok Ekwan, yaitu kesederhanaan dalam menyikapi hidup. Dia ingin berbagi rasa bersama dengan teman-temannya yang baru miniti karier sebagai perupa. Jiwa sosial yang dia miliki diwujudkan dalam konsep ruang pajang, ruang alternatif yaitu bangunan rumah Jawa sebagai wadah memamerkan karya seni rupa secara gratis diberi nama Kembang Jati. Latar belakang konsep ruang pajang ini adalah berdasar pengalaman pribadi ketika betapa susahnya mendapatkan kesempatan untuk memamerkan karya-karya seninya di galeri yang ada di Yogyakarta. Ekwan sadar diri dan merasa bahwa setiap penolakan secara halus oleh galeri alasannya karena karya seninya belum layak pameran.

dr. Oei Hong Djien
Karya patung Ekwan juga bercorak naif, namun dibandingkan dengan lukisannya lebih mempunyai keunikan. Dimana letak keunggulan patung Ekwan?  Dari segi visual, patungnya mudah diapresiasi karena indah, menyenangkan dan mempunyai daya pajang lebih. Yang terakhir ini disebabkan ukurannya yang mini sehingga mudah dicarikan tempat untuk dipajang. Temanya menarik dan jenaka. Bentuknya juga mempunyai daya tarik dikarenakan deformasi bentuk yang lucu, aneh tapi enak dipandang. Hal ini mengingatkan saya pada deformasi Widayat. Warnanyapun segar, indah dan harmonis. Warna ini kalah mengesankan kalau ia memakai bahan perunggu.

Jean Couteau
Wong Cilik pada Ekwan. Lihatlah lukisan Ekwan! Apakah wong ciliknya -- kaum miskin tertindas, para pengangguran, dan mereka yang dieksploitasi -- tampak teralienasikan dalam lukisan-lukisannya? Sama sekali tidak. Mereka justru sebaliknya tampak gembira.
Apa yang kita lihat? Orang-orang yang ketawa-ketiwi, jejingkrakan, bergairah, dan penuh canda ria. Seolah-olah hidup mereka merupakan suatu kesinambungan terus-menerus dari peristiwa-peristiwa yang membahagiakan. Dan ini bukan hanya apa yang kita lihat, melainkan juga apa yang mau dikatakan oleh Ekwan. “Saya melukis kebahagiaan”, katanya, “sebagaimana kebahagiaan yang datang kepada saya. Karakter-karakter saya mendapatkan inspirasi dari apa yang saya lihat di pasar-pasar malam, pada jathilan, dan pada semua acara favorit kehidupan desa Jawa”.