Thursday, April 19, 2018

Hari Warisan Dunia

#Heritage4Generations17-18 April 2018

Mungkin bukan hanya saya yang belum tahu, bahwa tanggal 18 April 2018 diperingati Hari Internasional untuk Monumen dan Situs atau secara informal dikenal sebagai Hari Warisan Dunia. Ditetapkan oleh ICOMOS pada tanggal 18 April 1982 dan disetujui pada Konferensi umum UNESCO ke 22 pada tahun 1983. Sementara itu, kita (Indonesia) memiliki 8 situs warisan dunia (apa aja hayo?). Maka bersama sekitar 40 anak muda dengan berbagai komunitas, UNESCO & Kementrian Pendidikan & Kebudayaan RI merayakan bersama dalam bentuk workshop "Borobudur dalam Potret Lanskap Budaya".

Mungkin juga bukan hanya saya yang belum tahu bahwa Borobudur itu nama Kecamatan, nama Kelurahan (Desa). Maka Borobudur tidak hanya sekadar candi, Borobudur adalah lanskap. Selama dua hari mereka melakukan cultural mapping (dibagi dalam 5 kelompok) di seputaran kawasan Borobudur. Dan hari berikutnya memaparkan hasil mapping dan mendiskusikan upaya nyata membuat Borobudur sebagai sebuah wisata kawasan. Bahwa di kawasan Borobudur bisa kita temui wisata kuliner, wisata budaya, kearifan lokal, handicraft khas tiap desa, seni pertunjukan dan masih banyak yang lain.
Inilah bentuk perayaan kami, semoga memberi kontribusi positif bagi perkembangan wisata kawasan Borobudur 

Foto-foto oleh
Hairus Salim
Akbar Muhibar
Nisya
Nunuk Ambarwati


PERAYAAN HARI WARISAN DUNIA 2018
Workshop “Borobudur dalam Potret Lansekap Budaya”
Borobudur, Magelang, Jawa Tengah
18 April, 2018 

Hari Internasional untuk Monumen dan Situs (secara informal dikenal sebagai Hari Warisan Dunia) ditetapkan pada tanggal 18 April 1982 oleh ICOMOS dan kemudian disetujui pada Konferensi Umum UNESCO ke-22 pada tahun 1983. Dengan adanya hari yang diistimewakan ini akan memberi kesempatan untuk meningkatkan kesadaran publik tentang keragaman warisan dunia dan upaya yang diperlukan untuk melindungi dan melestarikannya, serta untuk menarik perhatian publik terhadap kerentanan yang ada pada setiap warisan dunia.

Di Indonesia, yang menjadi tuan rumah delapan Situs Warisan Dunia yang telah ditetapkan oleh UNESCO, perayaan Hari Warisan Dunia telah dilakukan sejak bertahun-tahun di berbagai daerah di Indonesia. Dalam hal ini, selama bertahun-tahun, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah melakukan kegiatan kesadaran publik dengan komunitas lokal, kelompok pemuda, masyarakat sipil, media dan kantor pelestarian warisan di seluruh Indonesia. Untuk 2018, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan akan mengadopsi tema global Hari Warisan Dunia 2018 yang diluncurkan oleh ICOMOS, yaitu Warisan Untuk Generasi.

Untuk itu, Kementerian Pendidikan & Kebudayaan Republik Indonesia  menyelenggarakan serangkaian kegiatan selama 17-18 April 2018 di daerah Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. Acara ini dilakukan untuk menciptakan lebih banyak kesadaran serta memfasilitasi transfer pengetahuan antar generasi dalam memahami Borobudur sebagai salah satu Warisan Dunia di Indonesia, dan bagaimana cara kerjanya dengan lansekap budaya dan dinamika perkembangan modern yang melingkupinya. Acara yang dikemas dalam bentuk workshop ini mengambil tema“Borobudur dalam Potret Lansekap Budaya”. Pada hari pertama, sekitar 40 peserta workshop diterjunkan ke lapangan di sekitar delapan belas  titik di kawasan Borobudur termasuk didalamnya Candi Borobudur, Candi Pawon, Candi Mendut, Balkondes Borobudur, Balkondes Bumiharjo, Balkondes Ringinputih, Balkondes Kenalan, Sanggar Saking Ndene – Giritengah, Arum Art, Nglipoh, Batik Borobudur,  Punthuk Setumbu, Gereja Ayam, Rafting, Candirejo,  Pengelola Homestay di Ngaran,  Kelurahan Karanganyar, Kecamatan Borobudur, Dinas Pariwisata Magelang, Bappeda Magelang. Para peserta melakukan pengamatan dengan mendengar dan melihat kondisi yang ada di lokasi masing-masing, serta juga melakukan wawancara dengan pengelola situs serta perwakilan pemerintah dan masyarakat. 




Di hari kedua, pada tanggal 18 April 2018, para peserta berkumpul bersama para pemangku kepentingan dari Balai Konservasi Borobudur, PT. Taman Wisata Candi Borobudur, BPCB DIY, BPCB Jawa Tengah, Camat Borobudur, Forum Rembug Klaster dan perwakilan masyarakat Borobudur. Dalam sambutannya, Kepala Sub-Direktorat Warisan Budaya Benda Dunia, Kementerian Pendidikan & Kebudayaan, Yunus Arbi, menyampaikan,” Yang ingin ditekankan dalam perayaan Hari Warisan Dunia ini sekarang adalah bukan lagi hanya mengenalkan apa itu warisan dunia, tetapi lebih kepada bagaimana kita menransfer pengetahuan kita kepada generasi yang lebih muda  sehingga mereka bisa terus melestarikan Situs Warisan Dunia kita dengan pendekatan dan inovasi yang kekinian ala generasi muda sekarang. Mereka juga perlu mengidentifikasi titik titik kerawanan dalam upaya pelestarian sehingga mereka kemudian bisa memberikan kontribusi solutif di masa mendatang.

Perayaan Hari Warisan Dunia ini juga diisi dengen pemotongan tumpeng bersama oleh para peserta workshop bersama para pemangku kepentingan dari Balai Konservasi Borobudur, BPCB DIY, BPCB Jawa Tengah, Perwakilan Kemdikbud, Camat Borobudur, PT. Taman Wisata Candi Borobudur, staff UNESCO di Borobudur serta perwakilan masyarakat Borobudur. 

Setelah dilakukan pemotongan tumpeng, peserta kemudian menikmati penampilan tari Kubro Siswo dari rup tari komunitas Borobudur serta kemudian melanjutkan dengan diskusi hasil pemetaan dipandu oleh pengamat budaya dari LIKE Indonesia Yogyakarta, Hairus Salim. Menurut Hairus Salim, dengan mengubah perspektif memandang Borobudur tidak semata-mata candinya saja, tetapi juga sebagai kawasan, akan membuat kegiatan wisata menjadi sebuah dialog dan pertemuan antartradisi, antarkelompok masyarakat, antarkota dan desa, singkatnya antar mereka yang berbeda. 

Dalam diskusi lanjutan ini potensi kawasan Borobudur menjadi bahan diskusi yang cukup hangat. Para peserta menyampaikan masukan dan pemikiran yang cukup segar tentang bagaimana Borobudur bisa dikembangkan sebagai kawasan, berikut tantangan dinamika sosial di dalamnya.



Tuesday, April 10, 2018

Seni Rupa dalam Prangko

Tirana Art House & Kitchen
14 April - 6 Mei 2018

Selamat datang di "pertemuan" bangsa-bangsa.

Forum ini merupakan pertemuan budaya melalui lembaran prangko, alat pembayaran dalam pengiriman surat. Meskipun saat ini peran dan pemakaian prangko sudah berkurang signifikan akibat adanya alat telekomunikasi sosial-virtual-digital-paperless yang canggih, namun daya tariknya tak pernah turut hilang. Dari selembar prangko berbagai hal dapat diambil pelajaran. Selain sebagai romantika masa lampau, pameran ini juga bisa untuk mengingat sejarah kebangsaan, tafsir selera estetika (dan politik) sebuah negara melalui pemerintah atau lembaga yang menerbitkan prangko, sampai pada pergolakan hak publikasi harta karun nasional masing-masing negara. 

Pameran ini menyajikan materi khusus berupa prangko dengan tema seni rupa dari 31 negara (antara lain: Belanda, Rwanda, Jerman, Amerika, Uni Emirat Arab, Tiongkok, Singapura, Rumania, Yaman, Mozambique, Hungaria, sejumlah koloni Prancis, dan sebagainya). Seni rupa yang dimaksud dalam sajian prangko ini misalnya potret para perupa dan karya seni rupa yang dipakai sebagai objek visual pada prangko. Potret pelukis Rembrandt, Rubens, sampai pelukis Indonesia terkenal, S. Sudjojono ada di dalamnya. Sedangkan foto karya seni rupa yang dijadikan objek visual prangko adalah lukisan, gerabah, keramik, dan kartun. Lebih dari 150 an lembar prangko terkurasi disajikan dalam pameran ini.

Dalam dunia filateli, objek seni rupa menjadi salah satu pilihan penting di dalamnya. Hampir setiap negara memiliki prangko bertema seni rupa. Dalam pameran ini tersaji objek seni dengan pilihan lukisan dari kajian sejarah seni rupa modern, utamanya seni lukis modern Eropa. Oleh sebab itu judul pameran ini memakai kata "Fine Art". Sebagian lukisan yang dipakai sebagai objek prangko merupakan lukisan era Renaissance (yang berkembang pada 1300-1600 M, seperti "Monalisa" karya Leonardo da Vinci, atau nama besar lainnya seperti Raphael, Fragonard, dan Diego Velazquez). Ada pula lukisan beraliran Realisme (Gustave Courbet), Surealisme (Dali), Kubisme (Picasso), hingga kartun Disney (yang bersifat kontemporer). Selebihnya seni rupa tradisi klasik seperti dari Jepang dan Tiongkok juga tersaji. Sedangkan dari Indonesia, tersaji lukisan Raden Saleh, Basoeki Abdullah, Popo Iskandar, Srihadi Soedarsono, dan lainya.

Agenda ini juga ingin memberi konsep pameran prangko agar lebih modern dan dinamis, khususnya bagi penggemar dan peminat filateli. Inilah salah satu cara untuk melihat gabungan displin bidang seni yang melahirkan sejumlah asumsi dan opini. Di luar hal tersebut prangko juga menjadi benda koleksi berharga yang bernilai tinggi: penanda zaman, sejarah, dan nilai artistik yang bisa dipelajari lebih jauh. Untuk itu semua perlu disajikan pada masyarakat.

Pameran ini menampilkan sebagian saja dari koleksi Dicti Art Laboratory, Yogyakarta. Materi pameran adalah prangko orisinal yang terdiri dari 2 (dua) jenis lembaran. Pertama, lembaran kecil seperti perangko pada umumnya yang telah dipakai pada amplop. Kedua, lembaran utuh yang belum terpakai dan dari berbagai ukuran, mulai separuh A5 hingga A5. Materi lainnya adalah prangko yang di-reproduksi untuk membantu penonton melihat detil di dalamnya. Prangko yang disajikan kali ini diterbitkan kisaran dekade 1950an hingga 2000an.

Jika dilihat dari elemen-elemen prangko seperti teks nama negara, teks hari peringatan, dan objek visual agaknya menjadi hal menarik. Dalam sejumlah besar prangko, konsep demografi atau batas teritorial negara, telah diabaikan. Misalnya, prangko bergambar lukisan Raden Saleh (seniman asal Indonesia), dicetak oleh Singapura, lukisan Rubens dicetak oleh Jerman, atau lukisan "Monalisa" dipakai oleh negara di luar Prancis (tempat dimana lukisan tersebut di displai). Hal ini menandai sifat global karya seni, sekaligus telah menjadikan prangko sebagai arena penghargaan masing-masing negara atas karya-karya masterpiece dunia.

Mari berkeliling dunia melalui lembar gambar miniatur bangsa-bangsa di dunia. 

Mikke Susanto
(Dicti Art Laboratory)
____________________________________________

DICTI ART LABORATORY


Mitra budaya yang bergerak menjadi bagian kerja kesenian, utamanya sebagai laboratorium kajian seni rupa. Visi yang diemban adalah mendukung dan menggerakkan berbagai program seni sebagai bagian dari kehidupan bermasyarakat. Program-program yang terkait seperti penelitian, pelestarian, kurasi, manajemen seni, kearsipan, dan penerbitan buku adalah bagian dari agenda di dalamnya. Lembaga ini didirikan oleh Mikke Susanto dan Rina Kurniyati pada 2010 sebagai bentuk kepedulian akan kurangnya infrastruktur seni yang ada di Indonesia.


Tirana Art Management
Tirana Art House and Kitchen
Jl Suryodiningratan 55 Yogyakarta
Buka setiap hari pk 09.00-24.00 WIB
Kontak 081-827-7073

Fine Art in Stamps


Tirana Art House and Kitchen
14 April - 6 May 2018


Welcome to the “Assembly” of Nations.

This exhibition is a cultural encounter through small pieces of stamp, the evidence of payment of postage. Although recently the use of postage stamp has significantly decreased in number due to the existence of new technologies that make paperless correspondence possible and make telecommunication be done digitally and virtually, the appeal of stamps do not fade out. From a piece of stamp, people can learn something. Apart from being a romantic past, this exhibition can also be recollection of history of nations, interpretation of aesthetic taste (and politics) of a country through its government or institution publishing the stamps, and discussion about the copy rights of the country’s treasure.   

In particular it presents fine art-themed stamps ever released by 31 countries i.e. the Netherland, Rwanda, Germany, United States of America, United Emirate Arab, China, Singapore, Romania, Yemen, Moçambique, Hungary, some France’s colonies, etc. The fine art refers to the images on the stamps, for example, the portraits of artists and their works. There are stamps with the legendary artist portraits of Rembrandt, Rubens, S. Sudjojono, etc, and stamps with images of masterpiece paintings. More than 150 pieces of stamps have been selected for this exhibition. 

In the field of philately, one of important subjects to be studied is the adoption of works of fine art as themes printed on stamps. These themes can be found on the stamps produced by almost every country in the world. In this exhibition are presented stamps with images of paintings selected from the list of the history of modern fine art, especially the European modern paintings. For that reason, this exhibition uses the term “Fine Art”. Some of the paintings used as the stamps’ images are those from the era of Renaissance (1300-1600), such as Leonardo da Vinci’s _“Monalisa”_ and other works by great names like Raphael, Fragonard, and Diego Velazquez.  There are stamps with paintings of realism (by Gustave Courbet), surrealism (by Dali), cubism (by Picasso), and contemporary ones like the images of Disney cartoon. The rest are of traditional visual art works from Japan and China. Regarding the arts from Indonesia, the stamps feature the works of Raden Saleh, Basoeki Abdullah, Popo Iskandar, Srihadi Soedarsono, etc. 

This agenda wants to make a stamp exhibition to be more modern and dynamic, especially for stamp enthusiasts and philatelists. It is one of the ways to see the convergence of art disciplines that generates different assumptions and opinions. In addition, stamps are also treated as objects of collection that are very highly priced. A stamp becomes the sign of time, evidence of history, and object of art that can be further studied. Accordingly, these stamps need to be presented to public. 

This exhibition presents only some of the collection of Dicti Art Laboratory, Yogyakarta. The stamps currently on display are those published from the 1950s to 2000s. Each stamp is represented by two types; one being the tiny piece of paper that has been used on an envelope, and the other one being which has not been used, printed on papers sized from A6 to A5. The stamps are reproduced to help viewers see the details of them. 

Examining the features of every piece of stamp such as the text of country name, the text of celebration day and the image, these stamps are interestingly unique. In most of them, the concept of demography and territorial border are ignored. For example, a stamp with the image of Raden Saleh’s painting was printed by Singapore, a stamp with Rubens’ painting by Germany and the image of the famous painting _“Monalisa”_ was put on stamps by countries other than France (where the original painting is displayed). It certainly marks the global nature of artwork and at the same time also makes stamp as every country’s means to appreciate world masterpiece works.

Let’s travel around the world through these miniature of the nations.  

Mikke Susanto
(Dicti Art Laboratory)

_______________________________________________

DICTI ART LABORATORY The cultural partners who engaged in the work of art, mainly as a laboratory of art studies. The vision is to support and mobilize various arts programs as part of social life. Related programs such as research, preservation, curation, art management, filing, and book publishing are part of the agenda. This institute was founded by Mikke Susanto and Rina Kurniyati in 2010 as a form of their concern for the lack of existing art infrastructure in Indonesia.

Tirana Art Management
Tirana Art House and Kitchen
Jl Suryodiningratan 55 Yogyakarta
Open daily 09.00-24.00 WIB
Contact 01-827-7073

Thursday, April 05, 2018

Mengenal Kopi

Mengenal Kopi
Single Origin @TiranaKitchen

·       

       Arabika Bali KintamaniKopi bali kintamani dihasilkan dari tanaman kopi arabika yang ditanam didataran tinggi Kintamani dengan ketinggian diatas 900 mdpl. Kawasan Kintamani berada dilereng Gunung Berapi Batur. Dengan jenis tanah Entisel dan Inceptisol (Regusol). Kawasan ini memiliki udara yang dingin dan kering dengan curah hujan yang banyak selama 6-7 bulan musim hujan. Tanaman-tanaman kopi arabika terbentuk dari varietas-varietas terseleksi. Pohon kopi ditanam dibawah pohon penaung dan dikombinasikan dengan tanaman lain dan dikelola serta diberi pupuk organik. Kopi ini memiliki citarasa yang khas yakni aroma citrus dengan tingkat keasaman yang rendah, sehingga banyak diminati oleh konsumen Internasional. Kopi bali kintamani memiliki tingkat keasaman yang mencukupi dengan aroma fruity (jeruk) yang kuat dan tidak terlalu pahit (bitter).
·       

       Arabika TorajaKopi Toraja yang terletak di Kabupaten Sulawesi Selatan tumbuh di lereng gunung sesean dengan memiliki ketinggian 1400-2100 mdpl. Kopi Toraja memiliki cita rasa notes herbal dan cinnamon, body yang full, keasaman ringan yang segar seperti apel hijau, anggur atau strawberry. Plus after taste seperti cokelat.


·       Arabika Java ArjunoKopi Arabika Arjuno di tanam di lereng Gunung Arjuno Malang, Jawa Timur dengan rata rata ketinggian 1200-1300 mdpl. Proses pasca panen natural. Dengan proses roasting medium kopi arjuno memiliki notes sweaty, fruity, sedikit asam, body kental dan sedikit nutty.


·       
      Arabika Flores BajawaDi dataran tinggi Ngadha Kecamatan Bajawa, kopi ditanam pada ketiggian antara 1000 – 1550 mdpl. pada tanah vulkanik jenis Andosol yang subur dengan suhu udara rata-rata 15 – 25 ºC dan pada saat-saat tertentu suhu udara bisa mencapai (< 10 ºC). Kopi arabika Flores Bajawa mempunyai cita rasa notes secara umum memiliki komponen-komponen citarasa utama sebagai berikut: bau kopi bubuk kering (fragrance) dan bau kopi seduhan (aroma) kuat bernuansa bau bunga (floral), perisa (flavor) enak dan kuat, kekentalan (body) sedang sampai kental, keasaman (acidity) sedang, serta kesan rasa manis (sweety) kuat.


·       
       Arabika Ijen RaungDitanam di lereng Gunung Ijen Desa Sukorejo Kecamatan Sumber Wringin Bondowoso. Dengan ketinggian 900-1500 mdpl. Proses pasca panen natural, semi wash, full wash dan honey. Varietas kopi: linie S bourbon dan catura, dengan level roasting medium to bold memiliki notes sweetness, floral dan sedikit acidity.


·       Arabika Papua Lemba BaliemDi tanam di lembah Baliem dengan ketinggian 1400-2000 mdpl dengan proses pasca panen wet dan dry. Level roasting medium dengan notes mocca, saltty tipis, manis body bold.


·      \
           Arabika Aceh GayoDitanam di lereng Gunung Gerdong dengan ketinggian 1300-1500 mdpl. Varietas kopi bourbon, proses pasca panen wash. Level roasting medium to bold dengan notes spicy, nutty, sedikit fruity dan floral.
·       Robusta TemanggungTumbuh di lereng Gunung Sumbing Sindoro dengan ketinggian dibawah 800 mdpl dan memiliki suhu 21-24 derajat celcius. Bercita rasa lebih seperti cokelat dan memiliki bau khas yang cenderung manis.
·       Robusta DampitDitanam di dataran Gunung Semeru tepatnya kecamatan dampit dengan ketinggian kurang lebih 900mdpl. Kopi robusta dampit umumnya dry proses. aroma yang dapat tercium terutama dalam proses penggilingan adalah wangi karamel serta milk chocolate dan full body (kekentalan yang penuh) ditambahkan acidity yang rendah  dengan sensasi akhir rasa karamel dan sedikit aroma earthy yang terasa dan tercium cukup lama.
More coffee stories at
Tirana Art House and Kitchen
Jl Suryodiningratan 55 Yogyakarta
Open daily 09.00-24.00 WIB
IG @TiranaKitchen

Monday, March 05, 2018

Kopi Borobudur

Minggu Pagi, Sunrise time, 4.3.2018 
Inilah cerita pagi & seteguk kopi
Pagi menjelang sunrise, kami sudah di Punthuk Setumbu. Punthuk Setumbu memang dikenal sebagai wisata nirwana sunrise. Sudah banyak rombongan "sunrise hunter" di atas, seakan berebut view paling mantap. Karena pada view tertentu akan terlihat barisan bukit mengitari Candi Borobudur, kemudian kami akan menanti detik-detik munculnya matahari di belakangnya. Pemandangan seperti ini sangat berarti dan "mahal" bagi wisatawan asing yang negaranya jarang melihat matahari. Katanya, semalam hujan deras dan cukup lama, maka kabut putih tebal melingkupi sekitaran bukit. Jadwal sunrise kurang lebih pk 05.25, tapi pagi tadi kami belum beruntung melihat matahari terbit karena awan masih tebal sisa hujan semalam. Kami melihat kabut tebal menyelimuti perbukitan dengan sejuknya, fenomena ini disebut "tsunami" (serasa berada diatas awan). Mooi...

Usai menanti sunrise, kami diajak mencicipi kopi Borobudur. Ada event Edukasi Kopi disana. Kopi lokal yang disajikan kali ini berjenis Robusta. Disajikan oleh anak-anak muda "relawan" yang nyantrik dari proses penanaman kopi hingga penyajian. Kopi Borobudur rasanya earthy saat diteguk dalam kondisi panas. Rekomendasi nya dinikmati saat agak dingin, rasa nya lebih enak. Kami membawa oleh-oleh kopi bean Borobudur, bila ingin mencicipi bisa singgah ke Tirana Art House & Kitchen untuk cupping bareng.
Meski Kopi Borobudur belum mendunia, tapi jangan salah soal rasa pasti tidak ada duanya. Kopi Borobudur bisa ditemui di Kampung Kopi Borobudur, Dusun Kerug Batur Desa Majaksingi. Kawasan ini memiliki tanaman kopi sekitar 15.000 batang pohon dengan varietas Arabica dan Robusta. Begitulah teks dalam brosur promosi kopi Borobudur. Menurut Pak Ismoyo (petani kopi), pohon kopi disana sudah berusia puluhan tahun (hmm....). Dusun Majaksingi tak jauh dari kawasan wisata Candi Borobudur, Magelang.
Terimakasih Dands Khudhori untuk perkenalan dengan Kopi Borobudur pagi ini. Kita lanjutkan trip berikutnya ya. Semoga rejeki dan kesempatan, berpihak pada kita. Can't wait :)




Anis Negara (organizer): Acara ini diselenggarakan oleh wisata alam Punthuk Setumbu bekerja sama dengan beberapa kedai kopi & juga penikmat kopi hitam tanpa gula. Tapi disini kita akan tetap menyediakan gula kok hehehe. Dan di acara ini baik pengunjung maupun warga bisa belajar bagaimana mengenali kopi dan juga bagaimana caranya membuat kopi yang baik dan benar. Disamping itu di acara ini juga akan mengangkat potensi kopi di Magelang khususnya kopi Menoreh.Kontak Kopi Borobudur, Bapak Ismoyo 0852-9188-4166



Monday, February 12, 2018

Workshop Bikin Lip Balm


Waktunya Workshop!
@this.is.ktsc kali ini bekerja sama dengan Tirana Art Management mengadakan workshop untuk anak-anak usia 7-12 tahun. Dalam workshop ini, anak akan belajar membuat lip balm dan mewarnainya dengan lipstick. Anak juga akan belajar tentang bahan-bahan pembuat lip balm dan lipstik, serta diperkenalkan pada pengetahuan dasar tentang kulit manusia. 

Waktu dan Tempat
Sabtu, 17 Februari 2018
Pukul 10.00 - 12.00 WIB
di Tirana Art House and Kitchen 
Jalan Suryodiningratan 55 Yogyakarta

Kontribusi
IDR 125K / anak (termasuk voucher drink and snack)
Terbatas untuk 6 anak
* Tidak boleh menggunakan gadget selama workshop berlangsung

Pendaftaran (WhatsApp only)
Nunuk Ambarwati - 081-827-7073
Asa Rahmana - 0818-0268-0823

Workshop Seni Menyulam, Antara Hobi dan Passion



PRESS RELEASE
Workshop seni menyulam, antara hobi dan passion
YOGYAKARTA – February 2018. Serangkaian kegiatan memperingati 100 tahun, bangunan (gedung) The Phoenix Hotel Yogyakarta mengadakan beberapa kegiatan workshop dan pameran. Sebelumnya hotel ini memang sangat dikenal dengan pameran fashion, dan untuk tahun ini kembali mengahdirkan serangkaian kegiatan pameran dan workshop mulai dari pameran sulam tangan, pameran sulam ala Jepang, pameran batik lawasan, pembuatan coklat, dan lain sebagai. Semua pameran mempunyai pesan untuk kembali mengapreasikan hal hal yang sebenarnya sudah ada pada masa lalu dan dihadirkan kembali agar lebih dikenal oleh masyarakat yang lebih modern seperti saat ini.

Pada 23 Februari ini, The Phoenix Hotel Yogyakarta bersama dengan Tirana Art Management dan Seven Needles mengadakan Workshop dan Pameran menyulam. Hasil sulaman tangan luar biasa mempunyai nilai seni dan apresiasi yang tinggi dimana saat ini orang tidak lagi mengenal ataupun melakukannya. Dengan program ini, kami mengenalkan kembali seni menyulam. Workshop dan pameran akan dibuka oleh Ibu Bernie Liem, beliau adalah mantan pemilik hotel dan memiliki hobi menyulam juga. Beliau akan bercerita seni menyulam yang juga berfungsi sebagai “ healing “. Karena dengan menyulam, bisa membantu menenangkan otak dan pikiran kita dari kesibukan sehari hari. Tema Workshop dan pameran kali ini adalah : IN BETWEEN juga bisa dimaknai pekerjaan menyulam adalah antara hobi, passion dan profesionalisme. Antara wanita pekerja tapi juga mengerjakan pekerjaan kristik dan sulam disela-sela pekerjaan utamanya. Namun demikian, semua karya yang lahir adalah kecintaan pada sulam & kristik.

Hiasan menyulam memiliki proses perjalanan cukup panjang sejak dahulu kala. Kini, seni hiasan sulam dapat ditemukan di mana-mana dan setiap daerah memiliki ciri khas tersendiri. Pada dasarnya, hampir tiap-tiap negara di dunia ini memiliki sejarah dan cerita unik mengenai seni hiasan sulam. Dan ketika dikeluarkan pertama barang tersebut pun merupakan sesuatu yang mewah. Hanya bisa dimiliki oleh orang-orang tertentu saja. Hal ini terjadi di Byzantium pada tahun 330 sesudah Masehi sampai abad ke-15. Pada zaman tersebut hiasan dipadukan dengan ornamen dari emas. Menyulam adalah sebuah seni yang memadukan dekorasi sulaman pada kain. Alat bantunya jarum dan benang.

Apabila tertarik dan ingin mengikuti Workshop ini dapat mendaftarkan segera ke Ibu Nunuk Ambarwati – Tirana Art Management  ( 081 227 073 ) atau ke The Phoenix Hotel Yogyakarta 0274 566 617 .

Best Regards,

The Phoenix Hotel & Tirana Art Management

__________________________

Sambutan Pembukaan Pameran Seven Needles IN BEETWEN
Jumat, 23 Februari 2018 | Hotel Phoenix Yogyakarta
Oleh Ibu Bernie Liem

Salam sejahtera bagi kita semua dan selamat datang pada para hadirin!
Beberapa waktu yang lalu, Ibu Christie (maksudnya Kristi Harjoseputro red.), Ketua Seven Needles Club bersama Mbak Lieke, putrinya dan Ibu Wiwid, PR Hotel Phoenix, berkunjung ke rumah dengan permintaan untuk memberi kata sambutan pada pembukaan pameran border tangan karya para anggota Seven Needles.
Saya menyambut dengan gembira dan mengapresiasi inisiatif atau prakarsa ini, yang juga didukung oleh Pimpinan dan Manajemen Hotel Phoenix.

Dalam rangkaian acara Peringatan 100 tahun Bangunan Heritage Hotel Phoenix, fokus atau titik beratnya adalah keberhasilan, ya lebih tepat prestasi pelestarian bangunan cagar budaya, maka pameran karya bordir Seven Needles amatlah cocok, pas untuk event ini, dimana kita, khususnya kaum muda di era milenial, kita harapkan untuk tergugah, untuk peduli dan sekaligus juga punya inisiatif untuk melestarikan karya seni bordir, yang sudah dirintis oleh kaum perempuan di era generasi sebelumnya, entah itu ibu atau eyang kita.

Saya punya pengalaman pribadi. Inilah kisahnya:
Kira-kira 5 dekade yang lalu, kebanyakan kita kaum wanita muda, termasuk saya sendiri, seni bordir tangan menjadi hobby yang benar-benar mengasyikkan, yang bertumbuh menjadi semacam “passion” atau gairah. Itu tentu berkat ketekunan para ibu kami yang dengan sabar senantiasa membimbing kami, mungkin juga untuk mempersiapkan putra-putrinya agar menjadi wanita trampil-komplit ketika beranjak dewasa dan harus berumah tangga. Dan pada jaman itu ketrampilan menjahit dan menyulam tangan adalah salah satu kriteria dari seorang wanita yang sudah siap berumah tangga.

Disamping bordir tangan membangkitkan “passion”, elemen lainnya adalah relaksasi, atau “healing” yang menenangkan kalbu dan pikiran setelah seharian beraktivitas baik di rumah maupun di lingkungan kerja atau kantor.

Harapan kami semua, dengan terselenggaranya pameran Seven Needles ini, khususnya kaum muda milenial bisa ikut menikmati karya seni bordir. Namun tak hanya menikmati dengan memandang karya-karya ini, tetapi akhirnya tergugahlah hati setiap pemirsa pameran ini untuk ikut melestarikan seni bordir tangan, yang sungguh amat positif karena didalamnya terkandung elemen relaksasi, healing sekaligus passion atau gairah tertentu untuk menghasilkan suatu karya yang indah, yang “abadi” karena bisa dinikmati atau lebih tepat dibanggakan oleh anak cucu kita kelak.

Hal yang sama pula dengan menikmati bangunan heritage dengan “saujana” indah lestari hingga saat ini. Kami sungguh menghargai dan menyambut hangat prakarsa Seven Needles untuk menggelar karya mereka bertempat di Hotel Phoenix, bangunan yang mempunyai karakter heritage kuat.


Terima kasih. Selamat berpameran dan sukses selalu!

When Coffee Meets Dessert



Nama: RA Marini Putri Ayu Habibie
Tempat, Tanggal Lahir: Jakarta, 18 December 1991
Pendidikan: Sarjana Seni (Binus International University), Magister Manajemen (Candidate, Binus Business School

Memiliki keterampilan memasak bisa membawa manfaat besar bagi kesehatan jangka panjang seseorang. Dengan memahami keterampilan dasar dan pengetahuan tentang bahan masakan, seseorang dapat memiliki penilaian yang lebih baik terhadap pilihan makanan yang mereka konsumsi. Fakta itu merupakan hasil penelitian gelar master yang dilakukan oleh Putri Habibie, pemilik kelas memasak privat, LadyBake Cooking Class.

Menjunjung tinggi pentingnya kecukupan gizi dan kebersihan makanan yang dikonsumsi masyarakat Indonesia, Putri sangat mendukung kegiatan memasak dirumah. Menurutnya, dengan memasak dirumah, kecukupan gizi dan kebersihan makanan yang dikonsumsim akan lebih terjamin. Dasar itu lah yang mendorong seorang Putri Habibie membangun sebuah jasa kursus memasak privat di Jakarta yang akhirnya menjadi titik awal Putri di bidang kuliner.


Cucu dari mantan presiden Indonesia, Bacharuddin Jusuf Habibie ini mulai mengajar memasak pada tahun 2014. Kecintaannya terhadap dunia kuliner menghantar Ia mempelajari berbagai jenis menu makanan mulai dari makanan khas Indonesia sampai resep-resep khas mancanegara.

Keunggulannya dalam mendapatkan ilmu memasak secara otodidak memberikan Putri kemudahan dalam menyalurkan ilmunya kepada murid-muridnya yang mayoritas adalah pemula.
  Metode belajar Putri yang mudah dan praktis khas rumahan menjadi daya Tarik tersendiri bagi market ‘homecook’ lainnya yang baru ingin memulai melajar memasak. Hal itu terbukti bahwa muridnya bukan hanya datang dari area Jakarta, namun juga dari luar pulau seperti Pekanbaru, Pontianak, Medan, Samarinda, Makassar, Kepualauan Riau, dan lain-lain.

Dalam karirnya sebagai pengajar masak, Putri telah mengajar lebih dari 500 murid mulai dari para ibu rumah tangga, remaja, anak-anak, hingga para selebritis Indonesia. Adapun sejumlah nama selebritis yang menjadi murid Putri yaitu Raisa, Ashanty, Tina Toon, Aurel Hermansyah, Nina Zatulini, Alice Norin, Natasha Rizky, Citra Kirana, Jevier Justin, Kevin Hendrawan, Rini Yulianti, Rachel Vennya, Tamara Tyasmara, dan lain-lainnya.


Kini dalam kesehariannya, Putri sedang mempersiapkan peluncuran buku perdananya yang bertema Parenting and Cooking Activity Book. Lewat bukunya, Putri ingin mengkomunikasikan kepada para ibu maupun calon ibu seluruh Indonesia mengenai pentingnya memberikan edukasi keterampilan memasak kepada anak-anak dimulai sejak dini, dikarenakan hal tersebut dapat menumbuhkan kesadaran para anak untuk lebih memperhatikan kualitas makanan yang dikonsumsi hingga mereka dewasa kelak.


Menjelang penerbitan buku tersebut, Putri giat menjadi pembicara talkshow-talkshow bertema ‘
Home Cooking’ diberbagai sekolah, universitas dan beberapa area pusat perbelanjaan. Putri memiliki keyakinan bahwa ketika seseorang belajar memasak, ilmu yang mereka dapatkan tidak hanya memberikan kebaikan untuk dirinya sendiri namun juga untuk orang sekitarnya.  






Tuesday, January 30, 2018

Tirana Coffee Act

Gitar dan Gadget Berkolaborasi di Jari Gitaris Mr. D


Doddy Hernanto, yang kini lebih dikenal sebagai Mr. D, akan tampil eksklusif untuk “Tirana Coffee Act” di Tirana Art House & Kitchen pada Sabtu, 3 Februari 2018 mulai pk. 20.00 WIB. Mr. D akan menampilkan kreatifitas bermusiknya bersama para barista kopi dan seniman yang berpuisi. Tentu saja, dengan inovasi “Gitar dan Gawai” yang membuatnya semakin unik.

Dijuluki gitaris satu jari, musisi asal Surabaya Jawa Timur ini telah berkarya bersama gitarnya selama lebih dari dua puluh tahun. Karya-karyanya inovatif dan berkelas dunia. Gitar dan Gadget (gawai) adalah karya besar pertama yang langsung melejitkan namanya. Gitar Gadget mengkolaborasikan gitar akustik dengan gadget yang dapat menghasilkan berbagai suara dengan cara memasukkan pada aplikasi yang tertempel pada gitar dan gadget.

Memadukan seni dan teknologi adalah obsesi Mr. D yang berharap karyanya menginspirasi terutama generasi muda agar dapat memanfaatkan teknologi untuk inovasi yang positif. Selain gitar, Mr. D juga mengeksplorasi alat music lain. Karyanya Rebana Bergawai sering dimainkan dalam konser-konser musik religi seperti dalam konser Kiai Kanjeng atau Cak Nun. Eksplorasinya merupakan bentuk dedikasinya pada pelestarian alat musik tradisional. Tak hanya di dalam negeri, Mr. D rajin mengkampanyekan musik dan teknologi di luar negeri. Gitar Bluberry G2 miliknya tampil bersama alat musik angklung di ajang World Intellectual Property Organization (WIPO) di Geneva, Swiss.

Meski telah dikenal sebagai musisi besar, Mr. D menolak disebut artis. Tak jarang ia terlihat bercengkerama dengan komunitas maupun berbagi pengetahuan dengan sejumlah anak muda yang berniat mempelajari seni memainkan gitar dari dirinya. Ketenaran namanya ia manfaatkan untuk berkampanye hal-hal positif. Selain musik dan teknologi, Mr. D adalah pemerhati lingkungan hidup. Ia pun kerap mengikuti berbagai kampanye yang berkaitan dengan lingkungan dan seni. Hingga kini, Mr. D masih dipercaya sebagai duta satwa langka yang dilindungi. Demi berkampanye, pada gitar gadget terbaru miliknya yang merupakan karya pengrajin gitar asal bali I Waya Tugas, tampak ukiran bergambar burung-burung dan satwa langka.

Ngopi Musik, Kolaborasi Mr. D dengan Barista
Kali ini, untuk “Tirana Coffee Act” seri Ngopi Musik, bertemakan “Kopi dan Musik”, Mr. D akan memperlihatkan kepiawaiannya bermain musik dengan merespon para barista kopi Tirana. Kolaborasi Mr. D dan Barista ini akan menjadi penampilan unik yang sangat jarang ada. Selain itu, Mr. D juga akan bermain satu panggung dengan para seniman dalam musikalisasi puisi.

Masih tetap dengan keahliannya memadukan musik dan teknologi, Mr. D akan membawa konsep yang sama namun dalam kemasan baru yang lebih segar. Musiknya akan muncul dalam beberapa genre sehingga dapat dinikmati berbagai kalangan.

Profil singkat Mr. D
Membumi, itulah kata yang tepat untuk musisi gitar Indonesia yang memiliki karya-karya berkelas dunia, Doddy Hernanto, musisi asal Surabaya Jawa Timur. Memulai karir sebagai basis pengganti pada groub band ternama di Indonesia, Doddy Hernanto yang akrab disapa Mr. D pun memilih solo karir. Tidak mengenalkan diri sebagai artis, berkarya melalui gitar lebih dari dua puluh tahun, Mr. D telah memiliki berbagai inovasi karya dalam bidang seni music dan tekhnologi aplikasi. Tak pernah bekerja sendiri, Mr. D kerap menggandeng orang-orang berbakat untuk menciptakan karya-karya luar biasa.

Karya terbesar pertamanya adalah gitar gadget, gitar akustik yang dipadukan dengan gadget dapat menghasilkan berbagai suara, tergantung triger apa yang akan dimasuk kan pada aplikasi yang tertempel pada gitar dan gadget. Gitar gadget ini pun diklain pertama kali di dunia.

Karya kedua nya adalah sebuah aplikasi snapcard, aplikasi yang dapat membaca kode batang pada sebuah benda yang telah diformat dengan kode batang terlebih dahulu. kode batang tersebut dapat di aplikasikan pada kartu nama, lukisan, gambar, bahkan data-data penting pun dapat dibaca otomatis hanya dengan menscan aplikasi snapcard yang sudah didownload menggunakan gadget.

Ada pula rebana bergadget, meski karya satu ini belum mendapat paten. Namun, Mr. D telah berkali-kali menggunakan rebana bergadget tersebut untuk mengiringi berbagai kegiatan kegamaan seperti di pondok pesantren atau dalam konser-konser Kiai Kanjeng atau Cak Nun.

Karya nya yang lain, ada pula lukisan tiga dimensi yang dapat tersimpan pada sebuah gadget hanya dengan discan menggunakan aplikasi scaning pada gadget. Dengan lukisan tiga dimensi ini, pecinta seni lukis yang melihat lukisan pun tak hanya bisa menikmati pada dinding tapi juga dapat mengetahui detail informasi dari hasil scan lukisan.

Tak pernah berhenti berkarya, sebagai musisi besar Mr. D selalu berinovasi. Meski telah lahir sebagai musis besar, Mr. D pun menolak disebut artis. Bahkan, tak jarang ia berbagai pengetahuan dengan sejumlah anak muda yang berniat mempelajari seni memainkan gitar dari dirinya.

Ia pun kerap mengikuti berbagai kampanye yang berkaitan dengan lingkungan dan seni. Hingga kini, Mr. D masih dipercaya sebagai brandambasador satwa-satwa langka yang dilindungi. Hal tersebut diperlihatkan dari gitar gadget terbaru miliknya, gitar karya pengrajin gitar asal bali I Waya Tugas. Pada gitar tersebut tampak ukiran bergambar burung-burung dan satwa langka.

Mengabdi pada negeri, berinovasi tanpa henti, itulah moto Mr. D. Ia kerap terganggu jika ada seni asli negeri indonesia ini diusik eksistensi nya, saat ini, ia pun rajin mengkampanyekan seni-seni dalam negeri. Seperti angklung misalnya, pada ajang World Intellectual Property Organization (WIPO) di Geneva, Swiss Mr. D memadukan permainan gitar bluberry G2 miliknya dengan alat musik angklung. Ia berharap, karya nya dapat menginspirasi generasi masa kini untuk memanfaatkan kecanggihan tekhnologi sebagai media inovasi positif.

Tentang Tirana
Tirana Mitra Niaga mulai beroperasi di Yogyakarta tahun 2012. Berawal dengan bisnis fashion retail (Tirana House) yang membuka gerai di Suryodiningratan, kemudian gerai kedua dibuka di Kotabaru. Konsep butik Tirana selalu terintegerasi dengan Art Space dan Co-working Space yang dikelola oleh Tirana Art Management. Tahun lalu, Tirana membuka Tirana Art House & Kitchen di Suryodiningratan 55, sebuah konsep art space yang terintegrasi dengan café.

Bukan Sekedar Ngopi
Ada banyak cerita dibalik secangkir kopi. Mulai dari dimana kopi itu tumbuh, tanaman apa yang hidup di sekitarnya, bagaimana ia diproses dan dibakar, apa metode meraciknya, sampai rasa apa yang muncul setelah diseruput. Melalui secangkir kopi kita belajar bagaimana kopi dapat menghidupi para petaninya, tantangan apa yang dihadapinya, bahkan alasan seorang petani terus-menerus bertani kopi meski sering dihargai murah oleh tengkulak. Lebih dalam lagi, ada banyak hal filosofis dan romantisme yang membuat kopi semakin menarik dinikmati.

Cerita inilah yang akan pengunjung dapatkan di Tirana Art House & Kitchen. Para barista akan meracik 10 jenis kopi organik dari seluruh Indonesia, dengan 7 metode pilihan. Ditemani makanan ringan, selain kopi hitam (single origin), juga tersedia kopi dengan campuran susu seperti cappuccino, latte, macchiato. Juga tersedia teh hitam, teh cascara (teh dari kulit kopi), dan matcha latte. Kopi dan teh ini akan menemani pengunjung menikmati karya-karya seni yang dijual di Tirana Art House & Kitchen.

Art Space, Co-Working Space, Event Management
Tirana Art House & Kitchen adalah sarana untuk mengembangkan kreatifitas. Tirana membuka kesempatan kepada para seniman untuk menawarkan karyanya kepada publik. Pameran-pameran juga rutin dilakukan untuk memperkenalkan karya seni kepada masyarakat. Konsep art management Tirana adalah memperkenalkan seni dengan bahasa yang lebih umum, kasual dan mudah dimengerti. Hal ini untuk membuat semakin banyak orang mengapresiasi karya seni, yang sebenarnya tidak serumit yang sering dipkirkan orang.

Mitra Tirana tidak terbatas pada seniman dengan jam terbang tinggi. Tirana justru sangat tertarik untuk menjadi mitra bagi seniman pemula, memberikan tempat untuk berkreasi dan memperkenalkan karyanya kepada publik.

Tirana juga aktif menyelenggarakan kegiatan-kegiatan workshop, diskusi, dan pelatihan-pelatihan. Topiknya pun bermacam-macam. Mulai dari membuat karya tangan, bercocok tanam, tumbuh kembang anak, literasi dan tulis-menulis, makanan, hingga kreatifitas memasak. Kegiatan ini berlangsung setiap minggu, biasanya di akhir pekan.

Seperti Workshop “When Coffee Meets Dessert” bersama Putri Habibie yang akan diadakan pada Sabtu, 10 Februari 2018. Putri yang cucu tokoh terkenal Indonesia B.J. Habibie ini, akan berbagi keterampilan mengolah makanan pencuci mulut (dessert) yang kreatif dan mudah diikuti di rumah.


Tirana Art House and Kitchen
Jl Suryodiningratan 55 Yogyakarta 55141
Ph 0274 411615 | WA 081-827-7073
IG @TiranaKitchen | @TiranaArtManagement | @TiranaHouse


--------------------------------------------------------------------------------


Upcoming Event @TiranaKitchen
3.02.2018 #KopidanSeni
Pk 20.00 WIB"TIRANA COFFEE ACT"Special performance by Mr D IG @mrd.onefingerTirana Art House & KitchenJl Suryodiningratan 55 Yogyakarta
Open daily 09.00-24.00 WIB

Beli Pre-paid voucher Rp 40rb untuk makanan/minuman seharga 50rb dan 1 tempat di performance Mr. D. Ambil foto penampilan Mr. D di acara ini, upload, dan dapatkan hadiah spesial dari Mr. D
Ia orang pertama di Indonesia yang mengkolaborasikan gitar dan gadget. Karya nya pernah di pamerkan di Swiss pada ajang World Intellectual Property Organization (WIPO) di Geneva, Swiss. Bahkan bisa disebut karya Mr. D ini satu-satu nya di dunia. Tak hanya gitar, ia pun telah menciptakan alat rebana bergawai.
Keahlian melukis pun ia aplikasikan dalam karya lukis digital dengan tekhnologi scanning. Tak hanya itu, pria yang berjuluk gitaris satu jari ini juga aktif sebagai Brand Ambasador satwa langka dilindungi.