Thursday, October 22, 2015

Sudah kenal Tapestri?


Baca juga http://nunukambarwati.blogspot.co.id/2015/10/the-art-of-tapestry.html

Seni serat atau tapestri mungkin tidak cukup dikenal seperti seni tenun yang ada di hampir berbagai daerah di Indonesia. Meskipun pengertian tapestri adalah sebuah bentuk seni tekstil berupa tenun tradisional yang biasa dilakukan pada alat tenun vertikal. Namun demikian sejarah dan perkembangan tapestri banyak kita dapati di negara-negara Eropa. Di negara-negara yang memiliki musim dingin, karya tapestri berfungsi untuk penghangat ruangan, korden, permadani atau karpet, dan keset. Bahkan tapestri juga bisa berfungsi sebagai peredam suara di studio musik. Keindahan dari karya tapestri dapat dilihat dari penggunaan unsur-unsur garis, warna dan bidang pada pola-pola gambar dan bahan-bahan pendukung lainnya seperti manik-manik dari kayu atau logam dan tebal tipisnya benang. Keindahan dan keunikan dari karya tapestri perlu juga diperhatikan faktor komposisi, proporsi, keseimbangan, irama dan kesatuan dari masing-masing bagian karya tapestri.


Tidaklah mudah mencari seniman atau seseorang yang konsisten berkarya dengan tapestri di Indonesia. Dengan hitungan jari, bisa disebutkan siapa saja seniman Indonesia yang mengerjakan karya dengan teknik tapestri. Biranul Anas adalah seniman senior tapestri kontemporer yang menorehkan catatan penting dalam perjalanan seni serat Indonesia. Penerusnya, yang juga pernah berguru kepada Biranul Anas, yakni Abdul Syukur mengembangkan tapestri hingga kini. 


Karya Ve, 'Tetris'
Baru-baru ini (September-Oktober 2015) Abdul Syukur bersama Koni Herawati (staf pengajar desain produk dan juga seniman berbasis kriya keramik) memberikan pelatihan tapestri kepada 13 orang mahasiswa angkatan 2014, jurusan Desain Produk, Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW), Yogyakarta. Ada 13 karya yang dihasilnya dari setiap mahasiswa, berukuran masing-masing 40 x 120 cm. Hasil karya ke 13 mahasiswa ini saat ini dipamerkan di Tirana House, sebuah butik fashion berlokasi di Jl Suryodiningratan No 55 Yogyakarta. Mereka baru pertama kali membuat tapestri dan menjadi pengalaman luar biasa dalam proses berkreasi. Dari ke 13 mahasiswa tersebut, 7 diantaranya perempuan, sisanya laki-laki. Tapestri cenderung indentik dengan pekerjaan ketrampilan kaum hawa; maka sebagian besar mahasiswa laki-laki mengeluh kerepotan ketika mengerjakan karya tapestri mereka. Tetapi hal ini tidak berlaku bagi Dommy. Ia sangat menikmati dan ingin membuat karya tapestri berikutnya. Karya Dommy kali ini mengangkat tema tokoh virtual Mario Bross. Bagi dia pola-pola tapestri cenderung sama dengan pola-pola pixel (kotak-kotak). Sama halnya dengan Ve, salah satu mahasiswi yang membuat tapestri dengan tema Tetris. Bagi Dommy dan Ve, untuk karya berukuran 40 x 120cm tersebut bisa mereka selesaikan dalam waktu kurang lebih 3-4 hari. (Lihat foto 9 untuk karya Ve dan foto 11 Dommy dengan karyanya).


Dommy dan karyanya, 'Mario Bross'
Photo courtesy Abdul Syukur

Cara kerja tapestri sebenarnya seperti menenun kain. Tetapi tapestri sepenuhnya dikerjakan dengan tangan, menyusun benang helai demi helai. Cara kerjanya kurang lebih demikian: pertama yang dilakukan adalah membuat desain/konsep gambar yang akan dianyam dengan kain. Kemudian mulai membuat gawangan/spanraam atau rangka kayu dengan ukuran yang dikehendaki, misalnya 1 meter x 1 meter. Rangka kayu kemudian diberi paku-paku kecil di bagian atas dan bawah. Jarak antar paku-paku 1 cm bagi pemula. Bila sudah mahir, jarak antar paku 1,5 cm. Jarak antar paku ini akan menentukan kerapatan anyaman benang. Setelah paku-paku sudah terpasang, kemudian menyusun benang lungsi sama rata ke atas dengan susunan paku. Benang lungsi adalah benang dasar untuk membantu membentuk anyaman. Benang lungsi adalah benang yang disusun secara vertikal. Benang lungsi biasanya memakai benang kenur berwarna putih. Jenis benang kenur inipun bermacam-macam, ada yang kasar dan ada yang halus. Dalam tapestri memakai benang kenur yang halus, kehalusannya setara dengan kain. 




Selanjutnya, mulai mengayam sehelai demi sehelai benang sesuai desain/konsep gambar. Bila ingin membuat motif atau gambar dalam anyaman tersebut, maka benang lungsi diwarnai dulu sebagai bantuan mengayam benang supaya membentuk gambar yang diinginkan. Atau menuangkan sketsa yang ada di kertas ke benang lungsi yang sudah disusun (lihat foto 3). 


Jenis karya dimana benang lungsinya diekspos.
Tetapi benang lungsinya sudah dililit benang lagi supaya warna asli lungsi yang putih tidak terlihat & lebih estetis.
Warna yang mau dipakai dan jenis benang yang digunakan juga menjadi pertimbangan dalam karya ini. Sebagai misal, karya Dommy menggunakan 4 jenis serat dalam satu frame. Ia menggunakan dacron, benang rajut, benang wol dan kain perca. Pemilihan serat/benang yang mau dipakai berpengaruh pada kesesuaian desain yang digagas. Misalnya warna merah yang diinginkan, lebih pas bila menggunakan warna merah dari benang rajut. Dan seterusnya. Karakter serat atau benang yang dipakai dalam tapestri memiliki keunikan sendiri dan bisa memperkaya karya itu sendiri. Contohnya penggunaan kain perca. Karena bentuknya kain dan cenderung tebal, maka ia harus dipilin lebih dulu supaya rapi dan lebih rapat anyamannya. Berbeda dengan benang rajut, yang mungkin lebih tipis, maka ia harus dipilin 7 atau 10 benang sekaligus untuk memberikan ketebalan yang diinginkan. 


Dalam satu frame karya tapestri memang dibebaskan untuk berkreasi menggunakan berbagai material seperti misalnya akar, batang dan sebagainya, asal basis utamanya serat. Ditilik dari bahannya terdapat dua jenis serat: serat alam dan serat sintentik. Serat alam berasal dari unsur alam seperti tumbuhan, hewan dan mineral. Serat berbahan dasar hewan biasanya berasal dari bulu hewan. Serat tumbuhan berasal dari seluruh bahan tanaman seperti akar, batang, pelepah, daun dan buah.  Bila sempat melihat karya-karya Biranul Anas, biasanya karya beliau kaya akan material/medium dalam satu tajuk.


Dalam teknik tapestri, konsistensi, kerapian menjadi penting. Kita harus konsisten menarik tiap helai benang ketika mengayam, supaya tidak terjadi distorsi. Distorsi akan terjadi bila kita menarik terlalu kencang, sehingga hasil jadinya akan tertarik ke dalam (Bahasa Jawa: mengkeret). Atau bila terlalu kendor menariknya, karya akan terdistorsi melebar. Meskipun hal ini bisa dibantu dengan memberikan tali bantuan di sebelah kanan dan kiri frame untuk menjaga tarikan anyaman. Sehingga terjaga lurus tidak tertarik ketengah/mengkeret (distorsi).


Display pameran Tapestri, 13 mahasiswa Desain Produk UKDW
Menurut buku DIKSI RUPA (Mikke Susanto, 2011)
Tapestri merupakan salah satu teknik yang dipakai dalam seni serat. Namun pada perkembangannya tapestri sendiri merupakan seni yang berdiri sendiri atau dengan kata lain tapestri sendiri adalah sebutan dari seni serat itu sendiri. (halaman 392).


Fiber art (Ing) atau seni serat, karya seni yang memakai bahan-bahan berserat, seperti serat kain (benang), sabut kelapa, senar, dan lain-lain. Seni ini berkembang dari unsur kekriyaan yang sangat tinggi, sehingga kadang dihubungkan dengan seni kriya. Unsur yang paling besar dalam pembuatannya adalah mengayam dan merangkai berbagai bahan yang dipakainya. Seni serat kontemporer, khususnya di Indonesia belum lama muncul namun telah berkembang pesat, mungkin karena terdapat tradisi seni tekstil di masyarakat kita. Salah satu hasil terkuat seni serat adalah tapestri. Seni serat telah meninggalkan fungsinya sebagai benda pakai (misalnya untuk karpet dan pakaian) dan diolah serta dipakai untuk medium berekspresi. Akhir-akhir ini muncul pula seni serat tiga dimensional, bahkan karya ruang dan instalasi. (halaman 135).


Display pameran Tapestri, 13 Mahasiswa Desain Produk, UKDW
Sumber:
* Interview dengan Dommy & Ve, di Tirana House, 21 Oktober 2010.
* Foto 1-4 courtesy Abdul Syukur.
* Foto 5-14 courtesy Nunuk Ambarwati.
* Buku DIKSI RUPA: Kumpulan Istilah & Gerakan Seni Rupa (edisi revisi), disusun Mikke Susanto, terbitan DictiArt Lab, Yogyakarta & Jagad Art Space, Bali, cetakan I, April 2011.
* http://www.mikirbae.com/2015/01/penerapan-ragam-hias-teknik-tapestri.html

Post a Comment