Friday, October 23, 2015

The Art of Tapestry


Press release pameran Tapestry Despro UKDW di Tirana House, Yogyakarta.  


Istilah “tapestry” berasal dari bahasa Yunani “rams” dan bahasa Latin “tapestum” yang berarti sejenis sulaman yang memiliki banyak teknik yang berbeda. Produk tapestry yang banyak kita jumpai berupa hiasa rumah seperti gorden, karpet, dan hiasan dinding. Tapestry merupakan  bentuk seni tekstil berupa tenun tradisional yang biasa dilakukan pada alat tenun vertikal. Proses tenun ini terdiri dari dua arah benang yang bersilangan, yang memanjang vertikal disebut “warp” (lungsi) dan horisontal disebut “weft” (pakan). Kebanyakan penenun tapestry menggunakan benang lungsi berbahan alami (serat alam) seperti benang linen atau benang katun. Benang pakan yang dipakai berupa benang wol atau benang katun, namun bisa pula benang sutra, benang emas, benang perak, atau alternatif media lain yang berwarna-warni. Tapestry telah diproduksi dan digunakan sejak zaman Helenis. Contoh kerajinan tapestry Yunani yang pernah ditemukan berasal dari abad ke-3 SM dalam kondisi terawetkan di gurun Tarim Basin. Kerajinan tapestry mencapai tahap baru produksi massal di Eropa pada awal abad ke-14 Masehi. Gelombang pertama produksi berasal dari Jerman dan Swiss. Seiring waktu, kerajinan diperluas ke Prancis dan Belanda. Pada awalnya sulaman tapestry dikenal untuk memberikan efek atau tekstur. 

Sebagai program studi Desain Produk UKDW (Univ.Kristen Duta Wacana) ikut mengenalkan teknik dan bahan Tapestry dalam perkuliahan kepada mahasiswanya dibawah bimbingan dosen: Dra.Koniherawati, S.Sn.,M.A dan Abdul Syukur, M.A. Pengenalan teknik tradisional seni tekstil dirasa perlu untuk mahasiswa calon desainer produk yang berbarengan dengan tema kuliah Desain Produk 1 semester ini, yaitu tentang “serat”. Gayung bersambut, mahasiswa sangat antusias sehingga dalam prosesnya mereka menemukan dan megembangkan pola-pola (desain) serta bereksplorasi bahan: macam” benang dan kain perca (bekas sprei atau baju) yang beragam sesuai ekspresi diri masing-masing. Hasil karya mereka dipresentasikan dalam pameran di Tirana House, fashion butik, Yogyakarta. Gayung bersambut saat Nunuk Ambarwati, pemilik butik melihat karya tapestry mahasiswa Despro UKDW, dikatakan bahwa teknik Tapestry ini sangat cocok/tepat untuk ditampilkan di fashion butiknya, karena dinilai sebagai “the history of textile”



Praktek partisipasi dalam pameran di luar kampus merupakan kegiatan rutin yang diarahkan dan dibimbing dosen, selain pengalaman teknis dan eksplorasi bahan, hal penting juga sebagai calon desainer produk dibekali pengalaman lapangan dalam menampilkan (display) produk-produk agar menarik pengunjung, sekaligus berinteraksi dengan audience (publik). Dengan demikian proses belajar di jurusan Desain Produk UKDW yang berpedoman pada pedagogi: kognitif (pengetahuan/teori), afektif (membangun rasa) dan psikomotorik (skill/ketrampilan) benar-benar tercapai atau terpenuhi.

Ditulis oleh: Dra.Koniherawati, S.Sn., M.A. (staff  pengajar Desain Produk, FAD-UKDW)
Post a Comment