Tuesday, June 12, 2012

Mimpi Dunia Empuk / Dream of Pillowy World


Mimpi Dunia Empuk / Dream of Pillowy World
Solo Exhibition by Agustina Tri Wahyuningsih
Via Via Café Traveller
Jalan Prawirotaman No 30, Yogyakarta, Indonesia
22 December 2011 – 12 January 2012


Pillowy Fairytale World

Agustina Tri Wahyuningsih, intimately called Tina, is a person who cannot stand idle. Although she is very calm in nature, a typical Javanese woman, she has many activities and ideas. She creates Japanese dolls, bags and t-shirts, paintings on wooden boards. Her latest works are hand-sewed dolls. According to her, the inspiration for these works actually had long existed in her mind, but she just could realize it in the beginning of this year. Now she has more spare time to continue the work while taking care of her daughter, Kaysha (16 months).      

Having Kaysha now has inspired her much more to keep working with her dolls. With artist Edo Pillu, her husband on her side and working experiences and networking in the art circles of Yogyakarta, she can have more fresh ideas for her dolls. She is found of things related to decoration, cotton fabric, fairy tale and illustration. These aspects have shaped the character of her works.

Maria Carmelia, her friend and customer, in her testimony depicts the propensity of Tina’s works; the taste, type and color. Although outside there are similar products, which perhaps have appeared earlier, Tina’s products with the label “jahitangan” have Tina’s distinctiveness. The motif and type of fabric that she chooses, and the figures of dolls she makes are so typically Tina. For her, though what she does seems like a domestic work, it is a means of realizing her distinctive and creative ideas. In addition, it is a place and time where she can play and make explorations, producing tales and contemporary figures in the shape of dolls. Why doll? Doll is a toy that usually looks so cute.  People of all ages, from children to adults, like dolls.  

Maria Carmelia is very impressed with the thickness of her pillow dolls. It fits what customers want. The dolls are really cottony. The exhibition titled “Mimpi Dunia Empuk” (Dream of Pillowy World) is trying to lead us to wander deep into imaginations, making us feel so cozy with the tales created. “And one thing for sure is that I want my dolls not just to be used as pillows. They can be part of something anywhere, anyone can enjoy. I want to invite all my customers to play in the pillowy world”, she said.

Enjoy and let us have beautiful dreams.

Nunuk Ambarwati


Testimonies
I think Tina’s works are unique. I never saw works like them in other place. She is really able to transform buyers’ requests into beautiful pillows. Animal series is done, when will she make vegetable and fruit series? I am waiting for pillows made of batik fabrics. Meida Rosa Delima Tanlain (Teacher of a Kindergarten in Newmont, Sumbawa) 

I really love Tina’s doll works. They are so cute, and the shapes can be customized in accordance with our requests. Miu Kyung (staff of Sangkring Art Space, Yogyakarta)

Nothing is impossible. In her dexterous hands anything can turn to be unique. She always has fresh ideas. I don’t know what is in her mind. Perhaps her world is so colorful and full of dreams. She materializes them into beautiful things. Her drawings are so unique with childhood character. Perhaps that is the way she is. Despite a grown-up woman and even a mother, she still has an imagination about a little girl in a fairy tale. Tovic Raharja (Creative & Marketing Grand Pacific Hall, Yogyakarta).

Previously I didn’t pay much attention to the term: “Jahitangan”. For me, her works are always unique. She really knows her friends; their inclinations, tastes, types, etc. Though borrowing her hands, I feel like it is indeed my own hand-sewing. And uniquely it is so Tina (or so Jahitangan), isn’t it? One reason that I choose her hand-sewing product is the appropriate thickness of her pillow dolls. They are very much suitable to what we want; they are huggable. They are so warm, very nice to be hugged. The thickness is appropriate to prop parts of our body as we order; to prop our back, buttock, head, etc. They are so versatile like my owl doll, which can be a little travelling pillow. It is child friendly. She chooses materials that cannot injure children’s skin or harm them. So, once it fits me, I won’t go anywhere. J. Maria Carmelia S (Teacher at Sunsmile Kids).

“There are power of love and compassion in your hand-sewed dolls. I want to keep hugging them”.  Nur Cahyati W (Librarian at American Corner, UGM).

They are so cute; they are creatively and nicely made. I give them to my friends and nieces. And they do love them.  Rismilliana Wijayanti (Manager of VWFA).

 “Aunty, thank you for the Dino dolls. I call them Tito and Tato. They’re so cute and adorable. They always accompany my sleep if my mother and father haven’t got home”. Emmanuel Devanand Onduko (5 years old, kindergarten in Salatiga)

A brief profile
She was born in Purwokerto, in August 11st, 1977. She was graduated from Psychology Department of Sanata Dharma University in Yogyakarta. Since 1997 until present, she has worked for various activities of both performing and visual arts. Her exhibition debut took place in 2003 in Sanata Dharma University. On that occasion she was awarded as the winner of painting competition. “Mimpi Dunia Empuk” will be her first solo exhibition after for years working behind the scene, helping artists in many art events. 

BAHASA INDONESIA
‘Mimpi Dunia Empuk / Dream of Pillowy World’
Pameran tunggal karya Agustina Tri Wahyuningsih
Via Via Café Traveller
Jalan Prawirotaman No 30, Yogyakarta, Indonesia
22 Desember 2011 – 12 Januari 2012

Negeri Dongeng yang Empuk

Mengenal Agustina Tri Wahyuningsih atau lebih akrab dipanggil Tina (perempuan kelahiran Purwokerto, 34 tahun) adalah sosok yang tidak pernah bisa diam. Pembawaannya yang kalem, khas perempuan Jawa, namun aktivitas dan ide-idenya terus bermunculan. Mulai dari membuat boneka ala Jepang, membuat tas dan kaos, lukisan diatas papan kayu dan yang terbaru saat ini adalah karya-karya bonekanya. Menurut Tina, inspirasi untuk karya-karya ini sebenarnya sudah jauh terpendam dalam pikirannya, namun baru bisa terrealisasikan di awal tahun ini; dimana sekarang ia lebih punya waktu senggang sambil merawat putri cantik pertamanya, Kaysha (18 bulan).

Memiliki Kaysha saat ini semakin menginspirasi Tina bertekun di dunia bonekanya. Dan mendampingi Edo Pillu, sang suami yang dikenal sebagai perupa, juga pengalaman kerja dan pergaulannya di lingkaran seni rupa Yogyakarta, sedikit banyak memberinya ide-ide segar untuk karyanya. Tina memang hobi dengan hal-hal yang berkenaan dengan dekorasi, kain katun, dunia dongeng dan ilustrasi didalamnya. Kombinasi dari latar belakang dan hobinya tersebut, jadilah karya-karya karakter Tina ini.

Mengutip testimoni dari seorang sahabat sekaligus konsumennya , Maria Carmelia, yang menggambarkan bagaimana kecenderungan karya Tina mulai dari soal selera, tipe dan warna. Maka, meskipun di luar sana, mungkin ada produk-produk yang mirip dan sudah lebih dulu muncul, tetapi karya Tina yang kemudian dilabeli ‘jahitangan’ memiliki kekhasan ala Tina. Cek saja dari pilihan karakter motif kain, jenis kain dan figur boneka yang ia buat, itu khas Tina. Bagi Tina, pekerjaan yang terkonotasi domestik ini merupakan pelampiasan dari ide-ide unik dan kreatif, disamping itu ia bisa bermain dan bereksplorasi di dalamnya. Menumpahkan sebuah dongeng dan figur-figur bermotif kontemporer dalam sebuah boneka. Kenapa boneka? Boneka adalah benda mengantarkan kita bermain, berkesan lucu, imut dan hampir semua kalangan umur  menikmatinya, mulai dari kanak-kanak hingga orang dewasa.
Kembali mengutip testimoni Maria Carmelia, ia sangat terkesan dengan ketepatan tebal boneka bantalnya, amat sangat pas dengan apa yang kita inginkan, empuk. Pameran ‘Mimpi Dunia Empuk’ ini mencoba mengantarkan kita pada imajinasi-imajinasi yang melanglang jauh, membuat kita lebih nyaman dengan dongeng-dongeng yang diciptakan. ‘Dan yang jelas aku ingin boneka karyaku tidak hanya sebagai bantal, tapi dia mampu menjadi bagian dari karya yang bisa berada dimana saja, dinikmati siapa saja. Aku ingin mengajak semua penikmat bermain-main di dunia empuk’, demikian angan-angan Tina.

Selamat menikmati dan mari sama-sama bermimpi indah.

Nunuk Ambarwati

Testimoni
Menurut aku, karyanya Tina unik dan aku belum pernah menjumpainya di tempat lain. Tina dapat menuangkan permintaan pemesan dalam kreasi bantalnya dengan cantik. Edisi binatang sudah, kapan ya edisi sayur dan buah muncul? Aku juga sedang menanti kreasi bantal dari kain batik hehehehe… Meida Rosa Delima Tanlain (Pengajar Taman Kanak-kanak di Newmont, Sumbawa).

Saia sangat suka dengan karya-karya bonekanya mbak Tina... Lucu-lucu dan bisa dibuat berbagai macam bentuk sesuai dengan keinginan...Salam, Miu Kyung (bekerja di Sangkring Art Space, Yogyakarta).

Tidak ada yang tidak mungkin. Di tangan Tina, melalui kepiawaiannya mengolah sesuatu yang biasa menjadi unik. Selalu ada ide segar yang muncul. Entah apa yang ada dalam otak dia, mungkin dunianya yang penuh mimpi dan warna, lalu dia wujudkan dalam pernik-pernik cantik dan karya gambar yang mempunyai ciri khas kanak-kanak. Mungkin itulah Tina, di dalam tubuhnya yang tumbuh dewasa dan bahkan sudah menjadi ibu. Dia masih punya khayalan tentang gadis kecil di negeri dongeng. Tovic Raharja (Creative & Marketing Grand Pacific Hall, Yogyakarta).

Tadinya saya tidak terlalu memperhatikan namanya: ‘jahitangan’. Karena bagi saya, ini karya Tina yang selalu khas. Seperti kekhasannya yang mengenal teman-temannya; kecenderungan selera, tipe, warna dan seterusnya…rasanya memang ini ‘jahitangan’ku – tapi pinjem tangan Tina. Dan uniknya, justru Tina-Sekali (atau harusnya: ‘jahitangan’-sekali ya?) J Salah satu yang bikin ‘jahitangan’ jadi pilihanku adalah ketepatan tebal boneka bantalnya. Amat sangat pas dengan apa yang kita inginkan: pelukable (tebalnya pas buat dipeluk-peluk), ganjelable (ketebalan pas buat mengganjal bagian-bagian tubuh sesuai yang kita pesan peruntukkannya: ganjel punggung, ganjel pantat, ganjel kepala, atau serbaguna seperti owl pesanan saya yang memang untuk bantal mungil travelling, dan children friendly. Bahan-bahannya memang dipilih yang tidak akan melukai kulit anak atau membahayakan anak. Jadi, ya gimana ya…kalau sudah cocok itu kan ya nggak kemana-mana J. Maria Carmelia S (Pengajar di Sunsmile Kids).

“Ada kekuatan dan kelembutan cinta di jahitan tangan bonekamu. Jadi pengen meluk terussss…”. Nur Cahyati W (Librarian di American Corner, UGM).

Bentuknya lucu, kreatif dan rapi. Saya bagi ke teman-teman dan keponakan. Semua suka! Rismilliana Wijayanti (Manajer Jogja Contemporary).

"Tante, terima kasih boneka dinonya. Tak kasih nama Tito sama Tato. Luccuuu banget gemesiinn, sekarang mereka teman bobokku loh kalo mama dan papa belum pulang". Emmanuel Devanand Onduko (umur 5th, TK besar di Salatiga).

Profil singkat Agustina Tri Wahyuningsih
Lahir di Purwokerto, 11 Agustus 1977. Tina merupakan lulusan sarjana jurusan Psikologi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Sejak tahun 1997 hingga saat ini, Tina aktif di berbagai kegiatan kesenian sebagai seorang pekerja seni, baik seni pertunjukan hingga seni rupa. Debut pameran pertamanya di tahun 2003, dimana ia sekaligus mendapat penghargaan sebagai juara pertama lomba lukis di kampus Sanata Darma. ‘Mimpi Dunia Empuk’ menjadi gelaran perdana pameran tunggalnya setelah sekian lama bekerja di balik layar membantu para seniman dan sebagai pekerja seni dalam sebuah event.

Ucapan Terima Kasih
Tuhan YME, para malaikat yang baik hati, orangtuaku, suamiku, malaikat kecilku “Kay”, kakak-kakakku | Nunuk Ambarwati & MAM-nya | Farah Wardani | Meida Rosa Delima Tanlain | Miu Kyung | Tovic Raharja | Maria Carmelia S | Nur Cahyati W | Rismilliana Wijayanti | Emmanuel Devanand Onduko & Ruth Onduko | Mie Cornodeus, Putri Santoso dan segenap staf Via Via Café Traveller

Diterbitkan di koran Tribun Jogja, rubrik Art & Culture, halaman 12, Minggu, 30 September 2012





Post a Comment