Tuesday, August 29, 2017

Legenda Dusun Druwo

Gerbang masuk Pedukuhan Druwo
Tepatnya 19 November 2009, sehari setelah menikah, saya pindah rumah ke Dusun Druwo, Sewon, Bantul. Rumah tersebut sudah saya beli sekitar 9 bulan sebelum saya menikah. Tetapi karena masih disewa orang dan harus direnovasi, maka saya baru bisa menghuni 9 bulan setelahnya. Artinya, saya sudah tinggal di dusun tersebut kurang lebih 8 tahun ketika menulis tulisan ini. Druwo adalah sebuah dusun yang asri menurut saya. Berada di pinggiran kota Yogyakarta, sudah masuk Kabupaten Bantul. Meskipun sudah mendekati kota dan sudah banyak bermunculan perumahan modern, tetapi kehidupan masyarakatnya masih berkultur desa. Mengutamakan sosialisasi, guyub, sumbangan di sana sini, dan gotong royong. Bila tak ikut arisan atau kegiatan kampung, akan dicibir atau menjadi bahan omongan. Demikianlah kehidupan di desa.

Depan dan belakang rumah saya masih banyak lahan persawahan membentang sejauh mata memandang. Suasana dusun cenderung tenang karena tetangga masih sedikit. Bila cuaca bagus, Gunung Merapi dan Merbabu terlihat biru menjulang dengan gagahnya. Udaranya bersih, sejuk dan dingin. Jauh dari polusi, kecuali ketika ada warga yang membakar sampah. Sumber mata air juga mudah didapat hanya dengan kedalaman 2 meter, bersih dan jernih, walaupun kandungan zat besinya sedikit lebih tinggi. Bahkan saking mudahnya mendapatkan air, konon katanya, warga sulit menguburkan jenazah di dusun ini, karena menggali tanah 2 meter sudah ketemu air.

Malam pertama saya tidur di rumah Druwo, sudah mendapati hal yang janggal. Ini nanti akan menjadi awal perjalanan perkenalan saya dengan “dunia lain” di sekitar rumah dan Dusun Druwo. Saat itu, saya sulit tidur nyenyak, yah mungkin karena suasana baru pikir saya. Malam mulai merambat mendekati dini hari, antara tertidur atau bangun entahlah, saya merasa melihat sesosok besar tinggi se kusen pintu. Sosok tersebut berbulu dan belang-belang seperti macan. Tetapi dia hanya diam saja berdiri pas di pintu kamar. Saya pun diam saja. Tidak ada dialog atau perlawanan. Dan seingat saya, saya baru bisa tertidur lelap pukul 03.00 dinihari. Esok paginya saya sudah hampir lupa kejadian semalam karena tuntutan konsentrasi pekerjaan sangat tinggi waktu itu.

Dua malam berturut-turut berikutnya, ternyata saya mimpi lagi. Dalam mimpi tersebut, saya diajak jalan-jalan mengitari dusun Druwo dan diberitahu tempat-tempat mana saja yang dihuni oleh mahluk ghaib. Ternyata tidak hanya satu lokasi, tapi ada beberapa spot yang menjadi “rumah” makhluk ghaib, dan ternyata salah satunya adalah persis di depan kamar tidur saya, jarak sekitar 3 meter saja. Hmm… oke. Esok harinya, sama seperti hari berikutnya, saya kembali hectic bekerja dan tidak mempedulikan mimpi tersebut. Saya baru akan menyadarinya beberapa bulan bahkan beberapa tahun setelahnya. Intinya, 3 malam tersebut saya seperti diberi tahu dan dikenalkan siapa saja yang ada di wilayah tersebut.

Hari-hari berikutnya, bahkan hingga kini, gangguan-gangguan kecil saya rasakan. Seperti ada yang ketuk-ketuk jendela kaca rumah kami hingga membuat terbangun dari tidur, atau ada suara handle pintu yang dipaksa dibuka berulang-ulang, seperti ada orang mau masuk. Dua hal ini paling sering terjadi. Pernah juga ada teman yang datang ke rumah kami padahal rumah kosong tetapi seperti ada orang didalam rumah. Ketika bayi kecil kami baru lahir, juga banyak kejadian aneh. Tiba-tiba ada bapak tua duduk di kursi bambu depan rumah kami. Atau tiba-tiba ada ular melingkar dibawah boks bayi kami (meskipun kami meyakini ini karena rumah kami dekat sawah). Tetangga juga beberapa kali mendengar suara bising di rumah kami tengah malam, kata dia asal suara dari atas, padahal kami semua lelap tidur. Seorang pembantu rumah tangga tetangga sebelah juga bilang rumah kami ada gendruwonya. Keponakan saya juga tidak mau bertandang ke rumah tantenya ini, horor katanya. Saya sendiri juga sering melihat kelebatan-kelebatan warna hitam. Abel, anak kami, juga pernah melihat sosok hitam di tengah sawah saat pergantian hari. Kata ibu saya, mungkin karena banyak lukisan yang dipajang di rumah, jadi banyak makhluk ghaib yang mampir. Tengah malam sekitar pukul 12.00 saat pulang aktifitas, saya dan suami melihat sosok perempuan menyeberang jalan dan tiba-tiba hilang. Ini versi saya. Versi pengalaman suami ada banyak juga, tapi dia jarang mau cerita ke saya. Saya merinding lho sambil mengetik ini hehe.

Tapi semuanya itu saya tepis, toh nyatanya saya masih bertahan tinggal di rumah ini hingga 8 tahun sekarang. Tinggal bersama mereka yang tidak kelihatan itu. Saya sangat mencintai rumah mungil saya ini. Rumah ini adalah rumah pertama yang saya bisa beli dari hasil jerih payah saya sendiri. Yang penting rumah selalu kondisi bersih, rapi, terang, sinar matahari cukup masuk. Nah, sekarang tentang nama dusun Druwo. Namanya aneh ya? Kayak-kayak nyerempet Gendruwo begitu. Dan ternyata, setelah 8 tahun tinggal di dusun ini, baru sekarang dapat jawabannya. Simak cerita berikut ini.

Areal persawahan di Dusun Druwo
Dahulu kala, terdapat legenda di sebuah kampung pinggiran kota Yogyakarta. Kampung tersebut bernama Druwo. Kampung ini dihuni oleh para warga yang mayoritas bermata pencaharian bercocok tanam yaitu petani. Akan tetapi, warga selalu merasa kecewa akan hasil panen mereka.  Setiap akan panen, hasil ladang mereka selalu rusak. Hanya hasil yang cukup untuk mereka bertahan hidup.

Warga Druwo sudah mengetahui keberadaan makhlus halus disekitar mereka. Karena kampung itu juga terdapat sebuah kerajaan makhluk halus, yaitu kerajaan Gendruwo. Hanya saja pada setiap malam warga tidak bisa menjaga tanaman mereka. Karena setiap malam, warga ketakutan akan kehadiran para makhlus halus yang hidup berdampingan dengan para warga.

Suatu malam, datanglah seorang pedagang gerabah dari kampung Kasongan. Ternyata, pedagang itu kemalaman akan jalan menuju pulangnya, hingga dia memutuskan untuk menginap di salah satu rumah warga kampung Druwo. Mbah Amat adalah warga yang di tuakan di kampung setempat. Mbah Kaum warga memanggilnya.

Pedagang itu meminta ijin kepada Mbah Amat untuk menginap di singgasana nya, tapi Mbah Amat tidak punya tempat yang layak untuk pedagang itu menginap. Hanya di emperan teras rumah tempat yang tersisa. Pedagang itu pun sangat berterima kasih sudah diijinkan menginap di terasnya.

Akan tetapi,… Mbah Amat, menghimbau kepada pedagang itu, agar hati-hati dan waspada karena setiap malam di kampung itu banyak gendruwo berkeliaran. Pedagang itupun tak masalah karena dia disitu hanya menumpang istirahat dan sudah minta ijin kepada yang punya rumah.

Malam telah larut, apa yang dikatakan Mbah Amat ternyata benar terjadi. Pedagang itu di datangi sesosok Gendruwo. Pedagang itu tidak menyangka bahwa akan sesosok Gendruwo yang memberikan dia hadiah berupa emas picis rojobrono.

Kabar mulai tersebar dari mulut ke mulut. Warga mulai hilang akal. Warga berlomba-lomba untuk mendapatkan apa yang didapat oleh pedagang gerabah itu. Setelah sesosok Gendruwo itu muncul dan mendatangi para warga, diberikanlah seonggok bawung yang berupa emas. Warga pun gembira ria mendapatkannya. Setelah Gendruwo itu pergi, bawung yang berupa emas itu ternyata berubah menjadi Lethong Kebo (kotoran Kerbau).
Warga kembali lagi beraktifitas bercocok tanam di kemudian hari. Warga hanya berserah diri pada yang Maha Kuasa agar hasil panen mereka melimpah. Akan tetapi, para Gendruwo tidak akan membiarkan itu terjadi.

Mbah Amat atau Mbah Kaum juga menjadi korban akan keganasan para Gendruwo itu. Ladang jagung Mbah Amat telah rusak, hingga Mbah Amat tidak bisa memanennya. Mbah Amat tidak tinggal diam. Mbah Amat melakukan ritual (lelaku) untuk mengantisipasi agar para Gendruwo itu bisa ditanganinya.

Setelah itu, Mbah Amat menunggu kehadiran Gendruwo diladangnya. Para Gendruwo itu datang dan merusak ladang warga. Dengan penuh persiapan, Mbah Amat membawa tombak dan menyerang para Gendruwo itu. Di tombak lah Gendruwo itu oleh Mbah Amat dan mengenai salah satu Gendruwo itu, tak luput dia adalah pimpinan para Gendruwo.
“Yoh kowe Amat, Aku ra nrimak e banget marang kowe nganti mateni Aku. Titenono sak anak putumu bakal tak tumpas kelor”.  (Ya kamu Amat, aku tidak terima karena kamu membunuhku. Ingatlah bahwa anak cucumu akan kuhabisi). Akhirnya, matilah pimpinan Gendruwo itu.

Pesan itu terngiang hingga kini. Tidak ada keturunan keluarga Mbah Amat yang menjadi Kaum atau Dukun Bayi. Hingga kini tidak ada warga Druwo yang berprofesi seperti Mbah Amat, sebagai Kaum atau Dukun Bayi. Bila ada yang berprofesi demikian, maka selalu sakit. Maka warga Druwo akan mengundang Kaum atau Dukun Bayi dari dusun seberang.
Setelah kejadian itu, warga kampung Druwo sangat berterima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena mereka telah diberi jalan untuk memusnahkan pengganggu dalam hasil bercocok tanam. Dan hingga kini hasil panen selalu melimpah. Tak lupa warga selalu bersyukur kepada-Nya, Tuhan Yang Maha Esa.

Konon katanya, tanah tempat mayat Gendruwo dikubur selalu tinggi menggunung. Gundukan tanah sudah diambil, eh esok harinya menggunung lagi, demikian seterusnya. Akhirnya warga memutuskan untuk membangun Masjid diatas kuburan Gendruwo tersebut. Masjid itu masih aktif hingga ini dipakai untuk aktifitas ibadah dan diberi nama Masjid Al-Hidayah.




Sumber tulisan Legenda Dusun Druwo ini dari berbagai tokoh masyarakat di dusun tersebut. Tulisan ini muncul untuk kebutuhan karnaval budaya peringatan HUT Kemerdekaan RI yang ke 72, bulan Agustus lalu. Dalam karnaval tersebut, diperankan adegan saat Mbah Amat menusuk Gendruwo dengan tombak. Beberapa warga berjalan beriringan sambil membunyikan alat musik tradisional. Sambil beraksi, para warga membagikan fotokopian tulisan Legenda Dusun Druwo supaya orang yang menonton karnaval paham apa yang diperankan dalam adegan tersebut. Demikianlah Legenda Dusun Druwo, boleh percaya boleh tidak J
Post a Comment