Monday, August 28, 2017

ArtSwitch: Si BOSS yang Artsy

Petang itu, saya dan keluarga mengunjungi sebuah pameran seni rupa di kawasan Alun-alun Utara Yogyakarta. Sebuah ruang pamer yang tergolong besar untuk sebuah kota berjuluk seni dan budaya ini. Galeri seni yang juga menyandang nama kota, Jogja Gallery. Tajuk pameran ini “International ArtSwitch”. Saat menerima undangan pameran ini, yang ada dalam pikiran saya, sebuah pameran pertukaran karya seni antar negara, sudah itu saja! Tetapi hmm… setelah masuk ruang pamernya, ternyata kata “switch” disini artinya light switch/switch socket/socket button atau saklar. Karya dengan media saklar. Ditegaskan dengan instalasi welcome gate pameran yang terdiri dari susunan saklar dominan warna merah putih. Dipercantik dengan permainan lighting sehingga berubah efek warna seturut setting waktu. Sebelum mendapati karya seni, berbagai jenis saklar terkini menjadi pembuka saat pengunjung membuka pintu ruang pamer. Teknologi saklar sendiri memiliki perkembangan desain dan kecanggihan sesuai perkembangan jaman dan kebutuhan konsumen. Sebagai misal, kunci kamar hotel atau sign system dalam saklar yang semakin multifungsi dan memiliki desain modern, bahkan bisa custom. Pameran ini disponsori dan dibranding utama oleh perusahaan penyedia assesoris elektrik BOSS (www.boss.co.id). Pameran ini juga menjadi penanda hari lahir ke 60, Bapak Hironemus, Presiden Director perusahaan tersebut.


Sementara tajuk “International” yang menyertai karena memang melibatkan 208 seniman yang terdiri dari 105 seniman lokal (Indonesia) dan 103 seniman internasional; dari Singapore, Malaysia, Thailand, Myanmar, Phillippines, Laos, Japan, Taiwan, Republic of Korea, India, China, Bangladesh, Nepal, Vietnam, USA, Canada, Russia, Polandia, Turkey, Serbia, Australia, Germany, Sweden, Finlandia, Egypt, Northern Ireland, Moldova, France, Slovakia, Netherlands. Apresiasi tinggi untuk penggagas pameran ini, seorang seniman juga asal Yogyakarta, Hadi Soesanto dan timnya.  Tentu bukan perkara mudah, mengorganisasi pameran, mencari sponsor, ceremony pembukaan, negosiasi dan mengundang ratusan seniman untuk mau terlibat dan mengirim karya mereka. Apalagi sederet perupa senior hingga perupa muda terlibat dalam pameran tersebut. Baik perupa dua dimensi (lukisan), pematung maupun pegrafis juga tercatat mengikuti event ini. Ada juga beberapa perupa yang berasal dari negara-negara yang tidak diperbincangkan di peta seni rupa dunia mengikuti ajang ini. Tentu ini akan sangat menarik melihat dan menjadri referensi bagaimana karya-karya dari negara-negara di luar peta tersebut.

Setelah mengisi buku tamu, saya mulai memasuki ruang pamer. Tak terlalu banyak pengunjung, hanya ada sekelompok anak-anak muda di sisi lain. Ah, suasana begini paling nyaman untuk menikmati karya seni. Saya mulai menyusuri jajaran karya yang terpajang. Karyanya kecil-kecil, sangat kontras dengan ruang galeri yang besar. Tapi karena banyaknya karya dan didukung display yang bagus, maka display pameran tidak terkesan kosong dan datar. Untuk mengakali display, maka beberapa blok tembok dicat warna-warna kontemporer seperti abu-abu dan kuning untuk membuat dimensi display ruang pamer.

Ukuran masing-masing karya hanya 5 x 7 cm. Karya-karyanya digambar di saklar. Kreatif dan unik! Saya paham sekali, banyak seniman pasti memiliki tingkat kesulitan yang berbeda bagi yang biasa berkarya dengan ukuran besar. Karena permukaan saklar licin, maka seniman perlu mensiasatinya agar bisa menyatu dengan cat acrylic, cat minyak atau media lainnya. Bagi seniman dengan basic dua dimensi, saklar mungkin perlu diamplas dulu permukaannya sehingga cat bisa menempel. Sementara itu bagi seniman dengan basic tiga dimensi, mereka menambahkan toys hingga bahkan mengganti komponen saklar dengan karya patung mini berbahan kayu, resin atau perunggu.

Tingkat kesulitan yang berbeda dengan media mini ini terlihat pada beberapa karya yang dipamerkan. Ada yang bisa menguasai media saklar dengan baik, sehingga bisa menyatu sesuai ukuran dan tampil apik maksimal meskipun karyanya kecil. Tetapi ada juga yang terkesan sekadar ikut meramaikan event ini atau mungkin terburu-buru mengerjakan, akhirnya karya tampil kurang maksimal. Bahkan karena kurang rapi pengerjaan, ada satu karya yang saya lihat sedikit mengelupas. Dari situ, terlihat bahwa seniman membuat karya diatas kanvas dulu. Kemudian dipotong baru ditempelkan ke saklar. Sementara pada caption tetap tertulis, acrylic on switch button. Nah!



Tema-tema yang menjadi obyek utama karya bervariasi, flora, fauna, landscape kehidupan sehari-hari, figur manusia atau detail dari bagian tubuh (mata, puting susu), obyek dan sebagainya. Karyanya pun mewakili berbagai aliran, dari hiper realis hingga abstrak. Dari sini kita bisa lihat bahwa ukuran bidang tidak menjadi halangan seorang seniman menuangkan gagasan karyanya. Meskipun sedikit letih juga melihat pameran ini, karena karyanya kecil-kecil sehingga harus mendekat untuk melihat dan cukup banyak. Sehingga harus jeda sejenak dan atau mengulang beberapa kali putaran untuk tidak melewatkan karya-karya yang menarik dan bagus-bagus tersebut. Saya memotret karya-karya yang saya sukai sebagai inpirasi hati :). Pesan saya, karya aslinya jauh lebih bagus dari foto yang saya ambil. 

Karya dengan ukuran kecil bukan hal baru di dunia seni rupa. Bahkan di Yogyakarta sudah terselenggara dua kali event berskala internasional juga dengan media karya kecil (ukuran maksimal 20 x 20 cm) yakni Jogja Miniprint Biennale (http://jogjaminiprints.weebly.com/syarat--ketentuan-2nd-jimb-2016.html ). Pegrafis dari berbagai negara antusias mengikuti event ini, mereka mengirimkan karya sesuai prosedur dan tema. Karena miniprint, maka karya berbasis seni grafis. Beberapa kompetisi karya berukuran kecil juga banyak diselenggarakan di berbagai belahan dunia. Karya ukuran kecil disatu sisi memang memudahkan dari segi prosedur pengiriman antar negara. Disamping lebih murah, juga tidak memerlukan dimensi packing yang besar. Bagi kolektor, karya berukuran kecil lebih terjangkau untuk dibeli.

Di lantai kedua, seniman yang sama (meskipun tak semua) membuat dua karya, pertama dengan media saklar dan kedua di media yang mereka sering gunakan, kanvas. Dari lantai satu ke lantai kedua, kita sebagai penikmat seni bisa melihat perbandingan bagaimana seniman yang sama dengan bidang yang berbeda. Apakah mempunyai konsistensi ketrampilan yang sama atau justru sebaliknya. Ini menjadi pembelajaran kita mengapresiasi karya seni. Pameran ini juga menginspirasi para desainer lintas bidang untuk saling mengembangkan kreatifitas di dunia bisnis. Desainer pembuat saklar bisa lebih mengembangkan inovasi dengan memberikan sentuhan seni pada produk mereka, demikian sebaliknya.



Oh ya, di luar ruang pamer, disediakan meja dengan beberapa cat acrylic warna dasar. Ternyata pengunjung pameran juga bisa merasakan sensasi melukis di saklar, menarik ya :) Maka, suami dan anak saya pun ambil bagian menggambar. Kami menanyakan prosedur dan meminta saklar kepada petugas buku tamu. Petugas terlebih dahulu mengamplas permukaan saklar supaya mudah dilukis. Mulailah menggambar J Tetapi ternyata hasil karya kami tidak boleh dibawa pulang, sebagai gantinya kami dihadiahi pulpen cantik dengan branding BOSS. Konon katanya juga (menurut petugas penjaga pameran di dalam ruang pamer), semua karya seniman dengan saklar ini tidak dikembalikan ke masing-masing perupa, tetapi menjadi hak milik BOSS.




Jogja Gallery
Jl Pekapalan No 7, Alun-alun Utara Yogyakarta
                                                                                                                                                               
Post a Comment