Saturday, November 01, 2014

Ternyata kita punya WACINWA!



Wacinwa adalah kependekan dari Wayang Cina Jawa. Nah baru tahu kan ya ternyata kita punya wayang Cina Jawa. Seperti apa tokoh, cerita dan sejarahnya? Buku atau katalog ‘Wacinwa: Silang Budaya Cina-Jawa’ ini mengurai banyak hal perihal topik tersebut. Dan buku ini saya pilih untuk menjadi hadiah bagi komentar terinspiratif di artikel mana saja di halaman blog saya durasi Oktober-November 2014. Saya lebih pas menyebut ini sebagai buku karena materinya cukup lengkap setara buku. Beberapa hal menarik dan langka pada sejarah Wacinwa tersebut yang membuat saya ingin memberikan 1 eksemplar buku ini sebagai hadiah. 

Buku dengan tebal 72 halaman, berukuran 21 x 27 cm ini merupakan terbitan Museum Negeri Sonobudoyo, Dinas Kebudayaan DIY. Bersampul warna merah menyala, buku ini makin aksesibel karena dilengkapi dengan bahasa Inggris pula. Terdiri dari tulisan pengantar pameran dari Drs GBPH Yudaningrat, MM selaku Kepala Dinas Kebudayaan DIY, disambung sambutan dari Dra Riharyani sebagai Kepala Museum Negeri Sonobudoyo, tulisan kuratorial oleh Hanggar Budi Prasetya (Pengajar Jurusan Pedalangan ISI Yogyakarta), kemudian catatan budaya oleh Ons Untoro (pengiat budaya dan bekerja di Tembi Rumah Budaya), sinopsis tentang cerita wayang Sie Jin Kui Ngumbara, sinopsis Sudira Tandhing, 57 foto tokoh wayang di Wacinwa, dan beberapa halaman terakhir mengenai dokumentasi yang menyertai perjalanan Wacinwa. Terbitnya buku ini merupakan suplemen pameran ‘Wacinwa: Silang Budaya Cina – Jawa’ yang digelar di Jogja Gallery, Yogyakarta tanggal 3-10 Oktober 2014. 

Salah satu halaman di buku Wacinwa.
Sejauh ini hanya ada 2 set Wacinwa di dunia.
Pameran berdurasi 8 hari tersebut rasa-rasanya tak cukup untuk memamerkan Wacinwa yang sangat menarik ini. Bahkan selama pameran berlangsung, digelar pula pagelaran Wacinwa. Dimana notabene pagelaran Wacinwa sudah langka dikarenakan tidak ada generasi penerus sejak sang dalang telah meninggal dunia satu demi satu. Mengutip keterangan kurator pameran, sejauh ini satu set lengkap Wacinwa hanya ada dua di dunia. Satu set wayang Wacinwa yang berjumlah 200 tokoh menjadi koleksi Museum Sonobodoyo dan set lainnya merupakan koleksi Dr. Walter Angst di Uberlingen, Jerman (halaman 9). Beruntunglah kita masih memilikinya meskipun set yang lain dimiliki oleh orang asing. Semoga koleksi tersebut terjaga utuh dan dipelihara dengan baik demi keberlangsungan kebudayaan warisan leluhur.

Keunikan Wacinwa.
Senang sekali saya berkesempatan melihat pameran yang menarik ini. Karena saya pribadi, seumur-umur belum pernah melihat koleksi wayang jenis ini. Bahkan seorang pengunjung pameran berkewarganegaraan asing sangat antusias dan mengucapkan terima kasih tak terhingga karena mendapatkan 1 buku Wacinwa dan berkesempatan menyaksikan pagelaran wayang secara langsung. 

Halaman 24 “Wayang kulit Cina Jawa umurnya tidak panjang, sejak dibuat Gan Thawn Sing tahun 1925, pada tahun 1967 tidak lagi dipergelarkan. Selain karena tidak mempunyai dalang, meski pun Gan Thawn Sing telah mengkader 4 orang dalang seperti Kho Thian Siang yang dikenal sebagai mbah Menang, Raden Mas Pardon atau Raden Mas Gondosuli, Mergasemu dan Pawiro Buwang, tetapi semua dalang yang dididik Gan Thawn Sing meninggal lebih dulu dan tidak memiliki penerus.”

Apa saja keunikan Wacinwa? Ternyata Wacinwa ukurannya lebih kecil daripada wayang yang biasa kita lihat. Paling tinggi berukuran 68 cm atau sebesar wayang Kidangkencanan (wayang untuk dimainkan anak-anak).  Kepala tiap wayangnya bisa diganti-ganti sehingga menyesuaikan alur cerita dan ketokohan, wah keren ya! Ketika pergelaran berlangsung bahasa yang dipakai ada dua yakni bahasa Jawa dan Indonesia. Wacinwa ini merupakan persilangan budaya antara Cina dan Jawa. Persilangan budaya ini dilihat dari beberapa aspek, antara lain bentuk boneka wayang, sarana pertunjukan dan bentuk pertunjukan. Boneka Wacinwa terbuat dari kulit kerbau merupakan pengaruh kebudayaan Jawa, sementara itu bentuk wayang dengan kepala yang diganti-ganti merupakan pengaruh wayang Potehi (halaman 12). 
Photo courtesy Museum Sonobudoyo.
Cerita Wacinwa bukan tentang Ramayana atau Mahabarata, tetapi cerita-cerita Cina. Figur wayangnya juga ala Cina, baik pakaian maupun adat istiadatnya. Selain sosok-sosok tokoh yang biasa ditampilkan dalam wayang, pada Wacinwa juga dibuat tokoh tentara dengan banyak orang dalam satu gapit atau kereta kencana lengkap dengan orang yang mengendalikan berikut kudanya dengan satu gapit pula. Kemudian sosok-sosok binatang seperti kuda, macan, naga, kura-kura dan burung. Karena Wacinwa jarang dipergelarkan, tetapi spiritnya masih ada dengan diproduksi komik dan kaset audio (masih dengan pita) pertunjukan wayang.

Nah, banyak hal menarik tentang Wacinwa ya. Karena saya mendapat 2 buku Wacinwa, maka saya ingin membagi 1 buku sebagai hadiah untuk Anda plus 1 buah postcard bergambar salah satu tokoh wayang. Semoga hadiah buku ini menjadi hal yang istimewa bagi yang menerimanya seistimewa warisan leluhur kita. Maturnuwun…
Post a Comment