Tuesday, November 18, 2014

'Lagu Selatan' untukku

cover buku 'Kelenjar Laut' cetakan kedua
LAGU SELATAN
untuk Nunuk A.

ini lagu selatan, katamu
seolah di selatan tak ada selatan lagi
tapi itulah anai-anai yang beterbangan di bawah bulan
berkejaran tak saling bertemu
seperti cinta yang konon tak kenal jemu

antara percaya dan tidak, engkau termangu
memasguli sabana seluas ini
barangkali air yang tak putus asa
yang terus meriak tak kenal kemarau

pelangi langit dan pelangi hati
sama pentingnya, asalkan
kita memandangnya sebagai rejeki
bisik-bisik tentu saja langkah gerimis,
yang kemudian menjadi air deras yang ritmis
bayang-bayang yang jauh itu
semakin tak jelas sedang mandi atau menari

D. Zawawi Imron
Buku 'Kelenjar Laut'
Halaman 47

Pertemuan dengan KH D Zawawi Imron saat saya bekerja di Jogja Gallery sekitar tahun 2007-2008. Kebetulan beliau ikut berpartisipasi dalam sebuah pameran bersama. Beberapa hari menemani beliau untuk jumpa pers, talkshow di radio, pembukaan pameran, dan kegiatan lainnya. Saya sendiri belum bertanya langsung, alasan beliau sampai bisa menulis puisi ini untuk saya. Semoga segera ada jawabannya. Yang jelas saya sangat tersanjung

Cover buku 'Kelenjar Laut' dan puisi 'Lagu Selatan' yang masih tertera 'buat Nunuk A'

Dan berikut persepsi Mikke Susanto atas tafsir puisi ini: kalau dalam interpretasiku, puisi ini ingin memberikan kita rasa awas "semakin tak jelas sedang mandi atau menari", juga anggapan yang seakan-akan berlebihan "seolah selatan tak ada selatan lagi", juga ungkap nasihat seorang bijak "pelangi langit dan pelangi hati sama pentingnya, asalkan kita memandangnya sebagai rezeki... kesimpulannya puisi ini sedang mengkhayalkan dirimu di sebuah alam yang punya banyak kemungkinan, bisa jadi sebuah berkah bisa jadi kemungkinan lain.... GITU nuk? Mungkiiiiin hahahaha....


Buku 'Kelenjar Laut' pertama kali cetak/terbit tahun 2007, di halaman dengan judul puisi 'Lagu Selatan' masih tertera tulisan untuk Nunuk A. Waktu itu saya belum sempat mencari dan membeli buku ini. Tak berselang lama, ternyata sudah habis, penerbit juga tidak mencetak lagi. Buku kumpulan puisi ini pun kemudian mendapat dua penghargaan yaitu The South East Asia (S.E.A) Write Award 2011 dari Kerajaan Thailand dan penghargaan MASTERA 2010 dari Kerajaan Malaysia. Waah tentu saja turut bangga, karena ada satu puisi untuk saya termuat dalam buku tersebut.



Pertengahan November 2014 lalu, tujuh tahun berselang dari buku cetakan pertama; suami saya mengantar Mikke Susanto ke Madura. Ternyata menuju kediaman KH. D. Zawawi Imron. Kesempatan itu digunakan suami untuk mendapatkan buku-buku dan tanda tangan dari beliau. Dua hari satu malam mereka di Madura. Buku tersebut masih disimpan suami hingga tiba hari ulang tahun saya. Hari ini, 18 November 2014, sebuah buku 'Kelenjar Laut' dan puisi 'Lagu Selatan' untuk berikut ucapan selamat HUT dan tanda tangan beliau diberikan spesial untuk saya. Waaah surprise dan senyum mengembang, senang sekali. Ternyata buku ini telah dicetak ulang. Sayangnya, di cetakan terbaru ini, tidak dicantumkan lagi nama saya dalam puisi tersebut, bahkan katanya, Pak Zawawi lupa puisinya yang mana yang diperuntukkan saya waktu itu :(  Ah, tak apalah Pak...saking banyaknya puisi ya. Walau bagaimanapun, terima kasih sungguh telah memberikan puisi indah untuk seorang Nunuk Ambarwati yang bukan siapa-siapa ini. Suwun.
Post a Comment