Friday, October 24, 2014

Plus Minus

Tulisan pengantar pameran tunggal seni visual (patung relief) karya Nugroho
MENYUSURI ENERGI SENIMAN
Oleh Syahrizal Pahlevi.

Kesan utama ketika mengamati karya-karya Nugroho adalah tingkat craftmanshipnya yang  tinggi. Di tangan seniman ini, potongan kayu sisa atau limbah dari produk furniture (seperti pembuatan meja/kursi/lemari dan berbagai perabotan lain, pen) yang tidak digunakan digubah menjadi sesuatu yang menggelitik. Menggelitik karena sekilas tampilan karyanya tampak sederhana namun jika dicermati terlihat kerumitan pengerjaan yang memerlukan jam terbang panjang dan kecakapan teknik yang baik. 
  
Kebetulan Nugroho memiliki modal tersebut. Latar belakang keluarganya yang bersinggungan dengan produksi furniture memberi kesempatan Nugroho bergaul dengan  sifat-sifat kayu dan penggunaan mesin produksi  sejak ia kecil. Bahkan sebelum memutuskan berkarir sebagai pematung profesional ia sempat memiliki sebuah usaha furniture sendiri sehingga ia paham betul bagaimana kwalitas dan standar perabotan buatannya agar dapat bersaing di pasaran.  Pengalaman mengakrabi sifat kayu dan mesin produksi inilah yang secara tidak langsung membentuk karakter seorang Nugroho yang lekat dengan patung media kayu. Ditambah pergaulannya dengan berbagai seniman dan kesempatan mengenyam bangku kuliah di jurusan seni patung ISI Yogyakarta yang hanya dijalaninya  beberapa semester turut menebalkan keyakinan diri dalam  menjalani keputusannya. Di studionya di daerah Bantul, Yogyakarta yang nampak seperti “panglong” (tempat penggergajian kayu, pen), sehari-hari ia dibantu asistennya berkutat mengerjakan karya dan benda  berbahan kayu, baik merupakan pesanan dari berbagai seniman, perorangan dan instansi maupun untuk keperluan karya pribadinya memenuhi agenda pameran. (catatan: beberapa seniman seperti Lugas Syllabus,  Budi Ubrux, Bambang Heras, Yuli Kodo dll pernah mempercayakan pengerjaan karya bermedia kayu mereka pada Nugroho). 

Nugroho menghadirkan 6 karya patung yang kesemuanya bermediakan kayu jati bekas/potongan sisa/limbah produksi furniture. Kayu seperti kita kenal adalah termasuk materi yang keras dan pejal yang untuk membentuknya hanya dapat dilakukan dengan  tindakan memotong, memahat dan mengukir baik dilakukan secara manual ataupun dengan bantuan mesin. Dengan teknologi khusus material kayu dapat juga ditekuk/dibengkokkan namun sangat  terbatas pencapaiannya. Beberapa pematung yang berbahan utama kayu telah kita kenal sebelumnya antara lain Anusapati, Ali umar, Abdi Setiawan di Yogyakarta dimana  kesemuanya banyak menggunakan kayu utuh. Kayu utuh memang lebih kokoh, kuat, berkarakter dan lebih leluasa dibentuk buat sebagian pematung. Kehadiran Nugroho dengan patung-patung berbahan kayu limbah dengan penggarapan yang memperhatikan karakter dan sifat-sifat kayu cukup menarik. Usahanya menjadikan limbah kayu  yang seringkali dibuang atau berakhir sebagai kayu bakar patut diapresiasi. Bukan sekedar persoalan bagaimana memanfaatkan barang bekas/limbah karena hal tersebut sudah kerap dilakukan banyak orang atau seniman (seperti dalam usaha kerajinan dan beberapa karya seniman) atau sekedar upaya berkarya dengan  biaya murah (karena beberapa jenis limbah justru harus dibeli dengan cukup mahal), namun tanpa ditunjang kecerdikan mensiasati keterbatasan material usaha yang dilakukan tidak akan maksimal.  Nugroho cukup cerdik memainkan potongan-potongan kayu termasuk alur alami kayu  untuk menunjang ide idenya. 

Mengambil judul  “Plus-Minus” yang diterjemahkannya lewat pertemuan efek negatif dan efek positif kebentukan, karya Nugroho didominasi teknik assembling yang cair dimana teknik-teknik lain leluasa masuk. Ia menyambung, merekatkan, merangkai, “mencetak model”, menoreh, mencukil, mengukir dan mewarnai secara transparan bagian-bagian kayunya. Dari 3 karyanya yang menggambarkan figur wanita dengan gaunnya (“Spirit”, “Dalam Lamunan” dan “Seirama” ) Nugroho tampak asik  dalam pertukaran antara bentuk yang mencuat keluar dan bentuk yang melesak kedalam lewat permainan  teknik “ala modelling” dan teknik “carving” yang diperkuat dengan pewarnaan pada bagian-bagian tertentu. Jika di karya yang satu kita menemukan bagian tubuh wanita dibuat volumetris dan bagian gaun sebagai kebalikannya maka pada karya yang lain peran tersebut dapat bertukar. Kesemuanya guna menghadirkan plastisitas,  ilusi gerak dan  massa yang ringan yang sebenarnya tidak selalu searah dengan karakter kayu yang  keras dan berat tersebut. Ia juga tidak berusaha memanipulasi atau menghilangkan asal muasal potongan-potongan kayu tersebut dengan tetap membiarkan bekas sambungan dan tekstur kayu terlihat mata. Biarlah kayu-kayu itu bercerita mengenai dirinya.  
 Selamat berpameran!
(Syahrizal Pahlevi, pegrafis, menulis dalam kaca mata pegrafis. Tulisan ini adalah pengantar pameran tunggal patung Nugroho berjudul “PLUS-MINUS” di Tirana House. Bahan bacaan: wawancara dengan seniman dan dari berbagai sumber).

Pameran tunggal seni visual (patung relief) karya Nugroho
'PLUS MINUS'
26 Oktober - 25 November 2014
di Tirana House atau Tirana Artspace
Jl Suryodiningratan 55 Yogyakarta 55141
Post a Comment