Sunday, October 26, 2014

Kayu Nafas Hidup


Tulisan pengantar pameran seni visual 'PLUS MINUS' karya Nugroho
Oleh Nunuk Ambarwati


Pengalamannya selama 14 tahun diranah kerajinan kayu, membuatnya mengenal betul karakter media ini. Nugroho, seniman kelahiran Klaten (14 September 1975) memang memiliki latar belakang sejarah keluarga yang berkutat dengan kayu, khususnya furniture. Ia juga banyak menjadi artisan beberapa seniman ternama di republik ini, antara lain Heri Dono, Budi Ubrux, Lugas Sylabuss, Robert Kan, Mestoria Ve dsb. Baginya kayu merupakan nafas hidup. Pilihannya jatuh pada kayu jati karena lebih mudah didapat, kualitas teruji dan tidak perlu banyak treatment. Meski ia hanya menempuh 2 semester di jurusan seni patung, Insitut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta (tahun 2011-2012), tak berarti menyurutkan semangatnya untuk bekerja dan bekarya. 


Dalam pameran tunggalnya kali ini, Nugroho menampilkan karya yang menggabungkan teknik seni grafis dan patung. Akhir tahun 2013, Nugroho banyak terlibat dalam event Jogja Miniprint Biennale. Ia diminta membuat logo JIMPF (Jogja International Miniprint Festival) di sebuah media kayu besar berukuran kurang lebih 1 x 2 meter. Lalu ia buat logo tersebut dengan teknik cukil dalam. Melalui event tersebut, Nugroho memiliki pengetahuan tentang teknik cetak tinggi atau rendah di dunia seni grafis. Maka saat mempresentasikan pameran ini, ia beri tajuk ‘Plus Minus’. Dimana karya-karyanya memang menggambarkan bagian cekungan dan bagian yang timbul, atau positif dan negatif pada karya master seni grafis. Maka terciptalah karya patung relief atau patung 2 dimensi. Yang unik dari karya-karyanya ini adalah, Nugroho mengecek apakah relief yang dihasilkan sudah sesuai yang ia maui dengan memotretnya. Ketika hasil jepretannya sudah menimbulkan efek 3 dimensi sesuai kriteria, maka karya sudah selesai. Bila belum, maka ia akan membuat cekungan atau merevisinya. Pada pameran ini, Nugroho juga tak ingin kehilangan jati dirinya kepada publik seni rupa yang mengenalnya sebagai seorang seniman patung. Maka karya-karyanya tetap memiliki teknik khas pengerjaan patung, seperti ukiran pada detailnya. Dan bahkan Nugroho tetap menampilkan karya 3 dimensi, patung-patung berukuran 30 cm dengan judul seri ‘Selembar’. 


Bagi Nugroho, mendapatkan media kayu tak sulit baginya. Sembilan karya yang rencananya akan ditampilkan pada pameran ini, semuanya merupakan limbah kayu, eks rumah-rumah yang dibongkar. Ia merasa miris ketika limbah-limbah kayu hanya berakhir sebagai kayu bakar di rumahnya. Maka Ia kumpulkan, olah, cutting, assembling dan seterusnya. Salah satu upayanya mengolah sampah menjadi karya seni yang menakjubkan di tangannya. Semua karya-karya tersebut juga ia kerjakan dengan mesin rakitannya sendiri. Ya mesin rakitan! Karena ia tak mampu membeli mesin pemotong kayu standar pabrik atau made in luar negeri. Ia rakit sendiri mesin pemotong sesuai apa yang ia kehendaki. Dan berhasil! Mesin buatan luar negeri seharga Rp 15Juta yang hanya bisa dibeli di Singapore, mampu ia buat sendiri sesuai kegunaannya. Meski tampilannya tak sekeren mesin seharga Rp 15 Juta, ia berhasil membuatnya hanya dengan seharga Rp 400rb.


Meski hanya 9 karya, bagi Nugroho, semua karya yang ia tampilkan saat ini sudah mewakili semua teknik dalam pengerjaan sebuah kayu. Antara lain seperti teknik pemotongan kayu, pewarnaan, penyambungan (assembling) hingga finishing. Mari simak detail keterangan Nugroho perihal teknik pada karyanya.


Judul: Seirama | kayu jati | 46 x 38 x 3 cm | 2014
Karya ini menggambarkan sosok ballerina. Diberi judul ‘Seirama’ karena potongan serat kayu yang menjadi backgroundnya memang seirama. Setelah kayu-kayu dipotong sesuai seratnya, kemudian ditempel juga mengikuti alur serat kayu tersebut. Lihat foto tampak depan dan tampak belakang berikut ini. Teknik pewarnaannya menggunakan cat khusus untuk kayu. 

Karya berjudul 'Seirama' tampak depan dan tampak belakang.


Judul: Nggaya | kayu jati | 67 x 37 x 3 cm | 2014
Melalui karya ini, Nugroho ingin sedikit ‘ngabstrak’ (karya dengan aliran abstrak). Abstraknya ia tampilkan pada potongan-potongan kayu yang menjadi latar belakang figur perempuan tersebut, yakni berupa potongan-potongan kubus 3 cm persegi. Kayu yang dipakai pada karya ini, semuanya kayu jati tua kecuali bagian rambutnya. Nugroho mencari perajin kayu yang masih menggunakan teknik manual serut untuk menghaluskan kayu. Sehingga ia bisa mendapatkan material untuk bagian rambut figur yang ingin digambarkan dengan rambut ikal.

Karya berjudul 'Nggaya' tampak depan dan tampak belakang.


Judul: Lamunan | kayu jati | 50 x 38 x 3 cm | 2014
Karya ini merupakan hasil eksperimen pertama menggunakan teknik penciptaan plus minus ini. Seminggu lebih Nugroho menghabiskan eksperimen untuk mendapatkan hasil sesuai yang ia mau. Pada karya ini, teknik pemotongannya menggunakan teknik seperti memotong mentimun. Yakni kayu diletakkan melintang dan dipotong bulat-bulat seperti memotong mentimun. Hasilnya, aksen serat melingkar kayu tampak terlihat. Bagi peneliti kayu, kita bisa mengidentifikasi usia kayu dari lingkaran-lingkaran tersebut. 

Karya berjudul 'Lamunan' tampak depan dan tampak belakang.

Judul: Spirit | kayu jati | 35 x 50 x 3 cm | 2014
Dari judulnya, Nugroho memang ingin membangun spirit positif. Selalu bersemangat untuk bekerja, berkarya dan hidup. Warna pilihannya pun hijau, menyimbolkan makna kesegaran. Hampir sama pada karya berjudul ‘Seirama’, karya ini menggunakan teknik pemotongan yang mengikuti arah serat kayu. Hanya bila pada karya ‘Seirama’ dipotong dan disusun mendatar, pada karya ini dipotong dan disusun menurun. 

Karya berjudul 'Spirit'.

Ada karya lain pada pameran ini yang ia susun dari potongan-potongan kayu berukuran kubus 1 cm. Wow, cukup mengejutkan ya! Teknik pemotongannya pasti rumit dan melelahkan. Pilihan figur-figurnya memang didominasi perempuan; alasannya disamping lebih menarik untuk dieksplorasi, Nugroho juga menyesuaikan dimana ia berpameran, yakni di sebuah butik fashion, Tirana House. Ia pun memang lebih sering mengeksplorasi dunia fashion dan sangat tertarik pada dunia ini. Seperti missal mengolah drapery pada lembaran kain, membuat manekin dari susunan huruf-huruf alpabeth. 


Saat ini Nugroho justru lebih banyak disibukkan menjadi perajin furniture dan artisan. Waktunya hampir 24 jam penuh berkutat di studio miliknya di kawasan Dongkelan, Bantul, Yogyakarta. Saat ditanya, kenapa masih ingin pameran? Apa makna pameran untuknya? Ini jawabnya. Pertama untuk menjawab tantangan yang pernah diberikan kepadanya, apakah bisa mencipta karya. Kedua menambah prestasi pada curriculum vitaenya. Ketiga sebagai medianya untuk ‘keluar’ dari rutinitas dan supaya tidak terjebak pada dunia craftman (kerajinan kayu) dan yang keempat, yang jauh lebih penting adalah soal kepuasan batin.


Pameran tunggal seni visual karya Nugroho
‘PLUS MINUS’

26 Oktober – 25 November 2014
Tirana Artspace | Jl Suryodiningratan 55 Yogyakarta
ph. 0274 411615 | 081 827 7073
Buka setiap hari, pk 09.00 – 21.00 WIB
Gratis. Terbuka untuk umum.
Post a Comment