Monday, October 20, 2014

Bebek yang Bikin Ketagihan

Kaleyo cabang Rawamangun. Photo courtesy: http://bebekkaleyo.blogspot.com/2013/01/cabang-bebek-goreng-kaleyo.html
Bebek Kaleyo cabang Kalimalang, Bekasi. Photo courtesy: http://bebekkaleyo.blogspot.com
Daging bebek memang menjadi pilihan kuliner yang lezat. Berbagai jenis olahan dari daging bebek sudah banyak dihadirkan oleh para peramu masakan, baik digoreng atau bakar, dibikin rica, sate, diolah dengan aneka bumbu dan seterusnya. Tapi apakah Anda sudah mencicipi olahan bebek dari dapur rumah makan Kaleyo? Bila sudah, maka Anda pasti setuju dengan tulisan saya tentang Bebek Kaleyo di bawah ini. Nah kalau belum, hmm…Anda perlu menjaga lidah dan perut, karena olahan bebeknya bikin ketagihan! Iya, betul. Dijamin enak sejak gigitan pertama hingga terakhir. Bumbunya terasa hingga ke tulang. Dagingnya empuk dan banyak. Dimakan dengan pilihan nasi putih, nasi uduk bahkan nasi merah sama enaknya. Biasanya daging bebek pasti ditemani aneka sambal yang mantab pedasnya. Kaleyo pun demikian, tersedia pilihan sambal merah, sambal cabe ijo, sambal rica, sambal sori, sambal cetar, dll. Tapi untuk Bebek Kaleyo, dinikmati tanpa sambal pun, tak akan kehilangan kenikmatannya. Tak rela rasanya bila ternyata sudah habis di piring saji, inginnya nambah teruuusss.

Kaleyo berawal tahun 2007 dari warung makan bebek kaki lima di Jalan Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Digagas oleh sepasang suami istri asal Wonosari, Yogyakarta – Hendri Prabowo dan Fenty Puspitasari. Sebelum membuka warung makan pertamanya, mereka berdua masih berstatus sebagai karyawan. Saat libur di akhir pekan, mereka mencoba memasak 2 potong bebek dengan resep bumbu warisan keluarga sejak tahun 1976 (sesuai tagline mereka ‘Sejak tahun 1976’).  Setelah melalui beberapa kali eksperimen memasak, akhirnya mereka mantap membuka warung pertama mereka dan meluncurkannya ke masyarakat. Tak disangka apresiasi masyarakat sangat bagus. Usaha mereka meningkat pesat dan membuka cabang pertama kalinya 6 bulan setelah itu di kawasan Rawamangun. Hingga saat ini (2014) mereka telah sukses memiliki 12 cabang di Jakarta dan Bekasi. Dengan total sekitar 600 orang karyawan. 

Bebek goreng sambal ijo. Photo courtesy: http://www.kaleyo.com

Sejak saat itu, pasangan ini memutuskan untuk meneruskan wirausaha mereka tersebut dan meninggalkan pekerjaan lamanya. Kenapa pilihannya jatuh kepada bebek? Fenty menjelaskan, saat itu (tahun 2007) belum banyak restoran atau warung makan yang mengolah daging bebek. Maka Hendri menjajal peluang disana. Menurut Hendri, mengolah daging bebek memiliki tingkat keunikan tersendiri dan tak gampang ditiru oleh kompetitor. Maka setelah usaha Kaleyo dinilai sukses oleh berbagai kalangan, banyak wirausaha lainnya mulai meniru bisnis ini. Penulis sempat mendapati warung makan yang menggunakan nama mirip, hanya berbeda satu huruf saja, bahkan logonya pun ditiru meski diadaptasi sedikit. Warung tersebut jelas mencoba peruntungan yang sama seperti Kaleyo yang sukses. Warung tersebut berada di sebuah rest area di perbatasan Jakarta. Saat itu saya bersama keluarga melakukan perjalanan darat dari Yogyakarta ke Jakarta, kemudian singgah di rest area untuk melepas penat. Sayang, saya lupa dimana tepatnya daerah itu. 

Setiap hari di setiap cabang, rumah makan ini selalu dipadati masyarakat hingga sering harus duduk menunggu di jalur antrian (waiting list). Meski telah memiliki puluhan cabang dengan standar rumah makan, tetapi mereka tetap mempertahankan warung makan pertama kalinya ala kaki lima di Cempaka Putih. Suasana kaki lima kental terasa di cabang yang satu ini, namun demikian manajemen tetap memperhatikan standar mutu kebersihan juga pelayanan. Standar mutu daging bebek yang dimiliki Kaleyo ini memang tak main-main. Menurut keterangan Fenty, supplier daging bebek bisa dibikin meringis karenanya. Dari banyaknya daging bebek yang disetor supplier asal Kudus misalnya, kadang hanya seperempatnya yang diambil oleh Kaleyo. Maka supplier dituntut harus ekstra teliti jika ingin mensupply daging ke manajemen Kaleyo. Setiap harinya dibutuhkan sekitar 10.000 daging bebek untuk memenuhi kebutuhan para pelanggan Kaleyo di seluruh cabangnya. Wow! Sungguh angka yang tak sedikit. Standar mutu ini pun makin lengkap karena telah mendapat sertifikasi halal dari lembaga MUI (Majelis Ulama Indonesia) yang diserahkan tanggal 5 Juni 2014 lalu.
Photo courtesy http://www.kaleyo.com
Di Kaleyo tersedia pilihan menu seperti bebek kampung, bebek muda dan bebek peking. Yang diolah dengan aneka masakan seperti bebek goreng kremes (bebek empuk yang digoreng garing dan ditaburi kremesan), bebek dengan sambal cabe ijo (menu ini menawarkan sensasi pedas luar biasa), bebek bakar (menawarkan rasa manis gurih, dibakar dengan cara unik karena dengan batok kelapa dan dilengkapi bumbu ala Jawa). Ada juga menu andalan seperti bebek rica, bebek cetar dan sate bebek. Kandungan gizi dalam daging bebek memang tak diragukan lagi. Kaleyo telah mengulasnya secara mendalam di http://bebekkaleyo.blogspot.com/2012/12/kandungan-gizi-dan-khasiat-daging-bebek.html Soal harga tidak masalah, bebek yang satu ini juga dikenal karena harganya yang sangat bersahabat. Hendri dan Fenty memang mematok harga terjangkau untuk setiap menunya. Ini juga menjadi salah satu kunci setiap meja di warung makannya selalu dipenuhi pelanggan.

Nama Kaleyo sendiri berasal dari sinonim kata ‘kalih’ (bahasa Jawa: dua) dan ‘yo’ (bahasa Jawa: ayo), dikutip dari web  http://www.kaleyo.com/about, makna dari nama ini adalah ajakan bagi pelanggan untuk tidak hanya membeli sekali atau datang hanya sekali, tetapi kedua dan seterusnya. Menurut penulis, nama ini juga sangat mengartikan bahwa bisnis rumah makan bebek ini karena digagas dan dibangun berdua oleh sepasang suami istri tersebut. Dan akhirnya nama memang menjadi sebuah doa, Kaleyo telah membuktikan bahwa olahan daging bebeknya tidak hanya cukup dinikmati sekali, tetapi kedua dan seterusnya alias nagih. Dewi Yanuar, seorang pelanggan mengutarakan ekspresinya bahwa bebek Kaleyo dagingnya empuk, kremesannya mantap, sambalnya pedeeesss, paduan yang cocok banget. Bahkan anak-anaknya pun menyukainya, terutama olahan bebek mudanya, ‘Anak-anak suka dan nggak mau berhenti makan, saking enaknya’, sambungnya. Noris, seorang pelanggan asal Yogyakarta pun mengutarakan hal senada. Meski ia hanya menikmati daging bebek Kaleyo dari oleh-oleh, artinya tidak menikmati langsung di warung makan, ‘Bebek Kaleyo bukan sembarang bebek. Rasanya berkesan di hati. Awas ketagihan!’, demikian celotehnya. Sayangnya, bebek Kaleyo belum bisa delivery sampai ke Yogyakarta. Sehingga kami disini hanya bisa menantikan kesempatan saat ke Jakarta atau ada yang bawakan oleh-oleh…rasanya seperti seorang ibu hamil yang ngidam tapi tak kesampaian :(

Penulis bersama Fenty Puspitasari di Kaleyo cabang Daan Mogot. Photo courtesy by Fenty Puspitasari.

KALEYO
Lokasi-lokasi RM Bebek Kaleyo, bisa diakses melalui situs http://bebekkaleyo.com/gerai
Senin - Sabtu 11:00 - 23:00 wib
Khusus Kaleyo Satu 18:00 - 24:00
MINGGU TUTUP
email: info@kaleyo.com
Facebook: bebekgorengkaleyo
PIN BB 316B E036


Post a Comment