Wednesday, May 23, 2007

200 Tahun Raden Saleh


UNDANGAN TERBUKA BERKARYA
Pameran Lukisan - 200 Tahun Raden Saleh
ILUSI-ILUSI NASIONALISME
Jogja Gallery, Jalan Pekapalan No 7, Alun-alun Utara Yogyakarta
18 Agustus - 9 September 2007
Jogja Gallery, sejak di launching di Yogyakarta, 19 September 2006, telah menggelar pameran seni visual secara berkala. Pada penyelenggaraan pameran yang ke-14 kali ini, Jogja Gallery akan menggelar sebuah pameran lukisan sebagai sebuah penanda eksistensi 200 Tahun Raden Saleh dalam dunia seni, terutama seni rupa Indonesia. Jogja Gallery mengundang seluruh perupa di Indonesia yang tertarik untuk turut berpartisipasi dan merespon tema tersebut di atas. Berikut keterangan lebih detail.
Hal teknis yang perlu diperhatikan:
a. Pameran rencananya akan digelar tanggal 18 Agustus – 9 September 2007, di Jogja Gallery, Jalan
Pekapalan No 7, Alun-alun Utara Yogyakarta. Dengan kurator: Mikke Susanto.
b. Jogja Gallery telah mengundang khusus sejumlah perupa [ada sekitar 40 orang perupa] untuk
merespon tema ini. Namun demikian Jogja Gallery juga membuka undangan berkarya [proposal]
kepada semua perupa yang ingin terlibat dalam pameran ini.
c. Calon peserta pameran harap mempelajari abstraksi kuratorial yang kami lampirkan di bawah ini.
Data-data teks penunjang lainnya, seperti hasil riset dsb, bisa Anda dapatkan fotokopinya dengan
menghubungi langsung bagian pameran [Nunuk Ambarwati atau Puji Rahayu] di Jogja Gallery.
d. Proposal karya yang masuk, akan diseleksi oleh kurator [Mikke Susanto] dan manajemen Jogja
Gallery.
e. Media karya adalah 2 dimensi atau lukisan, maksimal ukuran 200 x 200 cm.
f. Bisa mengajukan lebih dari satu karya.
g. Proposal karya paling lambat diterima hari Senin, 25 Juni 2007. Dilengkapi dengan foto
karya yang hendak diajukan, konsep karya, data diri/biodata/CV terbaru, alamat/no kontak lengkap.
h. Keputusan hasil seleksi akan diumumkan Jogja Gallery melalui kontak langsung dengan perupa,
email, milis mau pun website, paling lambat tanggal 1 Agustus 2007.
i. Keputusan hasil seleksi tidak dapat diganggu gugat.
Informasi yang belum jelas, dapat ditanyakan pada pihak penyelenggara
(c.p. Nunuk Ambarwati 081 827 7073 atau Puji Rahayu 081 5787 60619).
Abstraksi Kuratorial
Meski pun masih terdapat polemik mengenai tahun kelahiran Raden Saleh itu sendiri; dari sebagian besar data yang ada, Raden Saleh dipercaya— lahir tahun 1807, tepat dua ratus tahun lalu. Ia tercatat lahir di Semarang Jawa Tengah dan kemudian melegenda menjadi pelukis perdana sekaligus pelopor seni lukis Indonesia. Jalan hidupnya sangat menarik, sebagai masyarakat biasa, pelukis istana Kerajaan Belanda dengan melakukan perjalanan ke beberapa negara selama bertahun-tahun, dan menjadi pelukis yang saat ini namanya tetap harum. Lukisan-lukisannya banyak menggambarkan suasana pemandangan, pertarungan binatang, potret para pembesar beberapa negara di Eropa dan di Indonesia, serta lukisan tentang perjuangan/ nasionalisme bangsa ini.
Perjalanan hidupnya yang sangat menarik tersebut, banyak mengilhami para perupa Indonesia. Selain dihormati karena kecerdasannya yang luar biasa, ia juga menjadi ikon seni Indonesia pertama yang berhasil mempengaruhi dan memperkenalkan bangsa ini kepada dunia luar. Wajar bila pada saat ini Raden Saleh kemudian dianggap menjadi kebanggaan bangsa. Ia, menurut peneliti Claire Holt, dianggap sebagai “ayah” bagi gerakan seni modern di Indonesia.
Salah satu lukisan yang hingga saat ini menjadi perbincangan dan sangat penting adalah Penangkapan Pangeran Diponegoro (1857). Lukisan ini sampai saat ini dipajang di Istana Presiden Republik Indonesia. Lukisan ini banyak memberi inspirasi bagi banyak pengamat, karena berbagai alasan. Alasan tersebut misalnya mempertentangkan sikap dan nasionalisme Raden Saleh terhadap bangsa Indonesia yang sedang terjajah. Mengapa sosok Diponegoro digambarkan sama tinggi dengan orang Belanda? Alasan lain adalah bahwa dalam lukisan ini selain secara tematik mengarah pada tema nasionalisme, tetapi juga memberi petunjuk bahwa segala keterampilan yang dimiliki Raden Saleh ditumpahkan dalam karya tersebut. Lihat saja tema lukisan pemandangan, binatang, potret para pembesar serta lukisan potret dirinya masuk dalam karya ini. Sehingga sangat layak seandainya lukisan ini kemudian dapat melahirkan berbagai gagasan mutakhir sampai saat ini.
Dalam pameran ini kami mengajak para perupa ternama Indonesia untuk secara khusus mencermati lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro, bukan yang lain. Karena dengan lukisan ini semangat nasionalisme (oleh sebab itu pameran ini diselenggarakan pada bulan Agustus yang sakral bagi bangsa Indonesia), hendak diuji kembali, dikaji kembali dalam bentuk apa saat ini nasionalisme tersebut berjalan. Dalam beberapa hal, lukisan Raden Saleh ini juga memuat misteri yang tidak saja visual, namun juga dapat melahirkan lagi misteri dan ilusi-ilusi tentang berhagai hal yang lain. Para perupa berhak mengajukan berbagai ilustrasinya mengenai lukisan ini.
Di samping itu, dalam pameran ini direncanakan tampil beberapa lukisan Raden Saleh koleksi Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. [Mikke Susanto]
Informasi ini dipublikasikan oleh:
Jogja Gallery [JG]
Jalan Pekapalan No 7, Alun-alun Utara, Yogyakarta
Telp. +62 274 419999, 412021, 7161188
Telp/Fax +62 274 412023
Email jogjagallery@yahoo.co.id
www.jogja-gallery.com



Friday, May 11, 2007

The Transposition of Artworks, Taste, and Reference


Mikke Susanto & Nunuk Ambarwati
Transposition: the shifting of position; the process or the change of function and category without the change in shape 1
Since artworks are regarded having trade values, so they have become luxurious items, as well as “miraculous”. It happens because of certain reason. First, it is rare. Second, it implies certain values. Third, it rings specific bell that satisfies someone’s taste and desire. Those are why these “miraculous” things then give impacts – direct or indirect – to someone’s biography.
On the other hand, paintings are also able to manifest so many human needs, especially for the social-cultural-political relation with other human beings. The luxurious items named paintings, for the possessor, seems to be the media for the forming of another capital. Hobby, self fulfilling, mind therapy, or kinds of “cultural ecstasy” have become the reasons or another function that enforce art’s position as the luxurious items. In short, paintings or artworks and other collectibles, possess the power to break through the unexpected borderlines of functions.
Reading the Desire
Quoting Garin Nugroho’s opinion at a seminar in ISI Yogyakarta, two years ago, that there exist two kinds of continuous art in the contemporary world: painting and pop art. Painting has its own running system, either in the marketing area or in its research area. Whereas pop art is understood more as the packaging or characteristic, meaning any arts, as long as they are under popular nuance or situation, will be accepted by many social groups. And so, we are really sure that artworks, in this case painting, have their stable history and condition. Moreover, compared to any other arts, painting possesses the ability to be accepted by many social groups.
Through this argument, we would like to emphasize that the market stability or the situation under the painting art came from the long research and history. One important point in this phenomenon is the existence of painting lovers’ desire that contributes in giving ‘life’ to the painting art. Since the beginning of the art history, painting lovers have attracted historian’s attention. The emerging of the art supporter from the noble class, rulers, governors, religious institutions, or even person in every era had given the enormous contributions.
Speaking about desire, we should also talk about the needs. The desire to have or collect can come from the needs to create the image of one’s power or position. Not less important is the desire to differentiate from others, for example, it is quite normal for people to collect things related to them. This can be seen from the existence of self-portrait, through painting as the media. The most interesting example is King Napoleon in war area in Eyland, when painted by Jean Antoine Gros in 1808, or when he wants his coronation beautifully painted by Jaques Louis David in 1804.
Desire, is also giving interesting impression to mark certain era. We can see the taste of Rococo’s painting lovers around 1700-1750s. The painting lovers “sunk” was very low, as the popular paintings at that time were naked women and the model that portrayed the free lifestyle. This was the era where the painting lover (mostly the nobles and rich men in France and Italy) loves to let loose of their lust and glamorous lifestyle, without even care of their surroundings. That is the reason why Rococo is often considered as a drawback of Renaissance. Once again, collector’s taste and desire seemed important to mark the upheaval of certain era or community. Everything is summed up through the painting collection.
About the Exhibition and the Invited Collectors
Regarding with this exhibition, if we are speaking about market and art research in Indonesia, collectors assume the important roles in the art community’s system and infrastructure. Indonesian Historian, M. Agus Burhan stated that there is no single art, wherever and whenever, that can stand still without any supporting system2. Arts is the integrated part in the era of collective-traditional society, or commonly referred as communal support, whereas in the feudal era, arts got its supports from the institutions, rulers, or often referred as the government support. In the present times, where capitalism is everywhere, the supporters of arts come from the business world or commonly referred as commercial support. Those are the collectors, gallery, and tourism.
Then, ‘what about the existence of the collectors in Indonesia? Who are they? How are they?’ Those questions then become the starting point of this work. In processing the exhibition, we asked the exhibitor candidates to answer the question, “Do you have the artworks that you really loved?” This question emphasizes the fact that when one loves his own artworks, one will not easily give that up but for collection. Thus, all the works here more or less is the private things that are regarded to imply the imaging function and also represent the owner’s taste. The acquisitions of those artworks were based on the reason of personal interest, whether representing the aesthetic taste of the owner or others. Hence, they can be considered assuming the roles as collectors, and the exhibited artworks will grant them another special meaning and status.
By putting the basis on the reason of love, personality, and artworks propinquity, this exhibition tries to be a small map of the supporting realms for arts, which consist of many different professions. Then some names are proposed. Specifically, they were invited from DIY and Central Java, for this exhibition intends to portray their efforts as the collectors living near the artists, or even closer to the centre of arts development: Yogyakarta. They came from different professional and educational background. Some of them are dr. Oei Hong Djien, Dedi Irianto, Alexander Ming, Deddy PAW, Nasirun, Butet Kertaredjasa, Bambang Soekmonohadi, Soekeno, Sugiharto Soeleman, Rahadi Saptata Abra, Simon Tan, Harsono and Siswanto HS/Hasan Berlian.
Nullifying “Seclusion”
This exhibition rolls over the attraction with two purpose. The first one is to nullify the problem of artworks seclusion. This seclusion here means the placement of artworks in the collection rooms. The terms seclusion itself came from the discourse delivered by Sanento Yuliman3 as the impact of the phenomenon of the booming of painting purchasing in the end of 80’s to 90’s. Thus, this exhibition will specifically show the artworks that have become private collections. Why private collections? As Sanento Yuliman proposed, one of the reasons that seclusion happened is the personal collector, not gallery or museum that are considerably more open.
According to Sanento, the moment after the purchasing, paintings are transformed into rich man’s secluded properties. Far from the society and the world. However, the seclusion process itself is urgent to be brought up in the forum, for it even against the slogan of “Artworks as the nation’s treasure” or the motto of “Arts for wider Society” or “Arts for People”. In the end, our minds are directed to the occurrence of the polemic of “cultural privatization through paintings”. There is no way that culture, as the right of society, will be privatized, whether done by person or corporate collectors4. And so the problem of collectors with all the efforts in the background will be interesting to research. How far has the collectors’ realized and understand these kinds of “seclusion”?
Responding to this problem, one of the exhibition participants, Butet Kertaredjasa5 argues that this is not about the “seclusion”, but the problem occurred when the artworks are put into private house. Surely the accessibility level will not be similar to those in gallery or museum. The access will be quite limited, though in one hand they can be very open and proud when their collections are borrowed by the famous museum, or to be included in the exhibition abroad, or become the cover of the books. This is also the reason serves as the underlying basis of the choosing of those works to be shown by their collectors in this exhibition. They are so responsive and respectful in accepting the suggestion, even show their collection openly.
Because of the characteristic, personal collection sometimes make the attitude towards the artworks themselves not or not yet maximal. Considering the importance of self satisfaction, most of the collectors do not employ special staff to inventory or take care of the collection. Hence, most of the time the collectors themselves are taking care and arranging their own collection. So don’t be surprised when once we find the fact that they can’t list their own collection, don’t have the time to count them yet, to another fact that the arrangement and care is so very simple.
Back to the topic, surely we cannot deny the existence of seclusion as the collectors also confess that some of their collection is so “sacred”, great, and precious, or even those they admire most, should stay at their home. Though this may not be significant, for all of the collection imply their own speciality.
Collectors’ Struggle
The second aim is to get the portrait of the collectors’ struggle in collecting every single piece of artworks. In dealing with this second purpose, the emphasis will be put over the taste, comments, and efforts as well as the collecting concept done by the collectors.
Through this small research, some purpose in collecting artworks can be unveiled. Mostly, it serves as a mere investment, then appreciation or psychological satisfaction – because of the pure interest towards arts - , or probably both. Some collectors said that they also collect other forms of arts other than 2 dimensional works (paintings), such as statue, photograph, antiques, jewelleries, etc. Though this exhibition focus only on 2 dimensional artworks, this fact gives insight that 2 dimensional works are still dominating the development of the discourse or even the market of visual arts.
Those reasons are almost mostly taken into consideration by the collector in choosing which artworks to add the collection. Besides, other considerations – if not to mention them as the absolute considerations - also involves many aspects, such as good technique / skill, aesthetic aspects, creativity, and interesting concept the artist try to convey through the works.
Those collectors also said that their collection is economically advantageous when use in the business. It means, they afford the works with the cheap way, under the normal price, in the auction, or can be resold when the price from both party is satisfying.
When asked for further reason of collecting, many arguments were proposed, starting from the close feeling to the artist, intention to economically helping certain artists, and other idealistic reasons such as family and self-appreciation as well as starting a private collection museum. The personal relationship between the collectors and the artists turns out to be one of the important considerations in owning certain works, like what Nasirun did. He is so admiring his lecturer, that he bought the works that are considered as the important points in the artist’s career.
We can also note that these collectors have already had their own favourite artists. And the impact is the privilege for the first preview of the works, in the studio, just before the works are marketed or exhibited. This is just one integrated part of the effort of building the closeness and relationship.
Differentiation of Taste
Problem about taste is also presented in this exhibition. The taste of each collector is quite represented through the artworks that they propose for this exhibition. Clearly, we have no normative reference in collecting the works, which is the best way of collecting woks, or the most profitable way to collect artworks, etc. However, we can also infer the ‘red-line’ of this taste thing when two collectors propose the artworks from the same artist, even though with different reason.
The representation of the taste is supported by one’s social background, as well as the reference and the background knowledge. Speaking about reference and the background knowledge, we can find something interesting about the development of art collectors in Indonesia. Indonesian collectors are quite aware that their role in the art infrastructure is often acknowledged. Some reviews from the art critics, articles in the media, gossips, or even the direct progress of the artists become the additional references for those collectors. They also have the awareness to help the progress of Indonesian young artists to improve their quality with their own way.
Even though we can still face some art people, whether they are collector, kolekdol [= collector but act as art dealer too], or even the artists which gives the bad image towards the system, market infrastructure, and the Indonesian art discourse, we can still put our hope to the appreciation level, study ethic, integrity, and the awareness of building a better system that most present collectors have in mind. At least, it is proven through by this exhibition.
As quoted from one young collector’s statement, Simon Tan Kian Bing6, that nevertheless the collectors should have the awareness to keep learning and trying to improve the appreciation quality, for it will bring about a great impact as well. Contrasted to the product, then the collectors are the final checks. Like the institution that will rate the worthiness of certain works to collect. If the final check is bad, then the passed artworks will also be bad. But if the final check is good, the quality of the passed works will be good instead.
Then we agree with Butet Kertaredjasa to show one of his personal collections, the work of Vincent van Gogh. This painting portrays a woman and a man, with the background of people harvesting wheat. Butet said that the work is not the original one, or only the reproduction. He deliberately bought one of the 5000 reproductions that are spread around the world with high price in 2002. Besides the interest towards the theme, he also takes the high reproduction skill presented in the works into the consideration. The skill makes every artist’s works can be copied with the scale 1:1 in the colour similarity level, line, and texture up to 90%. From this Butet’s collection, at least it will serve as the learning media of the artists regarded the classic polemic in collecting, originality.
So, if you can conclude many things from the exhibited collection, it is not impossible that our world of art will attract more discussion. Then, who is the real creator of “festivity” in our artworld? +++
Yogyakarta, May 3rd, 2007
End Notes
[1] JS. Badudu, Kamus Kata-Kata Serapan Asing dalam Bahasa Indonesia, Penerbit Kompas, Jakarta, 2003.
2 M. Agus Burhan, “Seni Rupa Modern Indonesia: Tinjauan Sosiohistoris”, dalam Adi Wicaksono dkk (ed.), Aspek-aspek Seni Visual Indonesia: Politik & Gender, Yogyakarta, Yayasan Seni Cemeti, 2003.
3 Sanento Yuliman, Boom! Kemana Seni Lukis Kita?, Makalah Sarasehan Pelukis Jawa Timur, Surabaya, 24 Agustus 1990.
4 Chin-tao Wu, Privatising Culture, Corporate Art Interention since the 1980s, London-New York, Verso, 2002.
5 Wawancara dengan Butet Kertaredjasa, 27 April 2007 di kediamannya, Yogyakarta.
6 Dialog Seni Kita/ DSK, Radio UNISI dan YSC, Yogyakarta, 8 Februari 2002.


Thursday, March 15, 2007

Ingin Terbang Lebih Tinggi

Kemampuan me-manage pameran, dan berkecimpung dalam pengelolaan galeri seni membawanya melanglang ke sejumlah negeri. Pengalaman pun dikecap, dari sebuah profesi yang menurutnya masih langka, menawarkan tantangan tinggi dan kemampuan yang tak cukup diraih sekejap mata.
Nunuk Ambarwati. Sosok wanita satu ini cukup dikenal di tengah pasang surutnya arus berkesenian di Jogja. Memang lebih karib di belakang layer, mengurus tetek bengek manajerial berkesenian, khususnya seni rupa. Coba saja tanyakan pada Nunuk, nilai sebuah lukisan yang bagi awam terlihat serupa corat-coret dan goresan abstrak yang rumit ditafsirkan. Dia tahu persis, bagaimana sebuah karya seni layak mendapat penilaian.

Sekadar menafsir sebuah karya ternyata memang tidak ringan. Butuh pembelajaraan panjang. Teori-teori seni rupa dari buku-buku tebal berbahasa asing pun menjadi santapan keseharian. Senyatanya proses untuk memiliki kemampuan serupa itu sungguh tak singkat.
“Makanya profesi seperti ini masih jarang. Padahal prospeknya sangat bagus. Makin bertumbuhnya seni-seni kontemporer dan galeri-galeri di tanah air membutuhkan peran seorang manajer program dan seni. Setiap galeri butuh sosok manajer yang mampu menggerakkan arah kerja galeri itu. Kehadirannya pun harus membawa brand tertentu, menciptakan brand positioning, laiknya sebuah konsep produk yang membawa citra perusahaan”, kata Nunuk yang kini bergiat di Jogja Gallery sebagai Manajer Program di celah perbincangan dengan Bernas Jogja, pekan lalu.
Nunuk bergabung dengan Jogja Gallery sejak awal berdirinya, September silam. Sebelumnya enam tahun lebih Nunuk bergabung dengan Yayasan Seni Cemeti di bidang pendokumentasian. Dari pergulatannya di dunia seni selama bertahun-tahun itu Nunuk telah mendapatkan eksperimentasi yang tak kecil. Banyak ilmu dan pengalaman didapatnya, saat bersinggungan dengan pelaku-pelaku seni berbagai negeri, juga pengalamannya memintas berbagai Negara. Diantaranya Hong Kong, Taiwan, Korea dan Singapura.
Sudah barang pasti kemampuan berbahasa asing dan kepiawaian lobi menjadi modal utama menekuni profesi itu. Ditunjang pendidikan formal Ilmu Komunikasi Fisipol UGM, dan minat menekuni seni, klop sudah bidang itu menjadi pilihan hidupnya.
Namun meski pengalaman yang diraih telah cukup banyak, wanita kelahiran 18 November 1976 yang masih melajang itu merasa belum ‘apa-apa’. Masih bertebar sederet obsesi yang ingin diraih. Sayap pun terus dikepakkan untuk terbang lebih tinggi. Tak hanya terbang di Asia untuk mengecap pengalaman, namun pula terbang ke berbagai benua.
“Inginnya bisa mempelajari seni dan manajemen galeri ke berbagai benua. Target jangka pendek, magang di sebuah galeri di Australia, saat ini sedang dijajaki”, kata Nunuk yang aktif dalam berbagai kegiatan seni pertunjukan semasa SMP hingga kuliah itu.
Itu untuk urusan kerja. Namun soal target dalam kehidupan pribadi, menurutnya tak perlu dibagi-bagi. Toh inspirasi sosok wanita atas kaumnya lebih ‘prestige’ dikaitkan urusan pencapaian karya, bukan perkara-perkara personal yang kini rajin membayang di layar kaca serupa melekati para pesohor.
Oleh: Shanty Hapsari
Dimuat di Surat Kabar Harian Bernas, Minggu Pahing, 11 Maret 2007, halaman 1

Saturday, March 03, 2007

Fluktuasi Pendokumentasian Format Digital

Pada awal menekuni dunia pendokumentasian (archiving) di pusat dokumentasi seni visual Cemeti Art Foundation/CAF, Yogyakarta, pada kurun waktu 2002-2003, saya dihadapkan pada persoalan memanajemen arsip yang sedemikian kaya dalam bentuk analog atau printted matter. Hingga pada perkembangan selanjutnya kebutuhan untuk memperpanjang umur arsip-arsip analog / printted matter tersebut ke bentuk digital (mengkonversinya dalam bentuk cakram) menjadi hal yang mendesak. Mempertimbangkan iklim tropis di negara kita yang sangat tidak bersahabat dengan bidang kearsipan ini, ditambah niatan agar diseminasi informasi yang lebih aksesibel. Kebutuhan ini tidak saja terjadi di pusat dokumentasi CAF, tetapi juga di Pusat Dokumentasi Yayasan HB Yasin, demikian pula di Balai Konservasi Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, di Jakarta.
Ketika format digital menjadi salah satu pilihan konservasi atas arsip-arsip kita di Indonesia, dan ketika kita masih ‘terengah-engah’ baik segi waktu, energi, penyimpanan hingga pendanaannya menuju ke sana; sementara sejarah di Jerman telah mencatat, kepedulian dalam pengarsipan, terutama pada media digital, sudah dimulai satu dekade setelah seni video lahir di negara tersebut (1963) oleh berbagai individu mau pun lembaga (tulisan Krisna Murti, Beberapa Catatan “40yearsvideoart.de”). Satu hal yang ironis dan paradoks memang.
Sebuah pameran dan buku referensi sebagai output dari proyek “Interarchiv” di tahun 2002 oleh ‘Kunstraum der Universität Lüneburg’, Jerman bisa menjadi salah satu contoh sebuah kepedulian yang sangat luar biasa akan bidang pendokumentasian dalam berbagai format. Proyek ini didahului dengan berbagai seminar dan lecture oleh orang-orang profesional di bidang seni, mengenai inventarisasi arsip menggunakan berbagai media yang berbeda hingga teknik yang tidak umum untuk tidak hanya bergantung pada keunggulan teknik digital. Hal ini diikuti dengan prinsip dasar untuk mengelola karakteristik masing-masing arsip itu sendiri, seperti pendekatan personal, sementara secara bertahap membuka kesempatan kepada publik untuk bisa mengakses arsip-arsip itu sebagai sebuah pintu masuk atas pengetahuan dan jaringan yang lebih luas. Proyek ini merupakan kolaborasi antara seniman Dusseldorfer Hans-Peter Feldmann dan berdasarkan kerja kearsipan yang hingga saat ini belum selesai dari seorang kurator kearsipan Hans Ulrich Obrist pada ‘Kunstraum der Universität Lüneburg’. Bukunya sendiri terfokus pada wacana terkini mengenai praktek kearsipan. Bagaimana fungsi dan kemungkinan koleksi, museum atau arsip budaya pada situasi globalisasi dan media virtual didiskusikan sama pentingnya mengenai bagaimana pola konstitusi, pola kerja dan kekuatan akan memori.
Sementara proyek “40yearsvideoart.de, Digital Heritage: Video Art in Germany from 1963 to Present” ini lebih terfokus dan mengajak kita untuk mulai memikirkan bagaimana format konservasi yang ideal atas media video atau digital. Maka saya sependapat dengan Krisna Murti dalam tulisan yang disampaikannya mengenai bagaimana Jerman tampak mempunyai kesadaran institusi dan institusionalisasi budaya, semusykil apa pun termasuk video, sebagai tanggung jawab kelangsungan peradaban termasuk kepada generasi mendatang.
Ketika kita masih dihadapkan banyak ‘pekerjaan rumah’ atas situasi pendokumentasian seni visual Indonesia, mulai dari hal teknis hingga non teknis. Seperti persoalan mengumpulkan data, memanajemen hingga diseminasinya baik melalui media cetak, visual mau pun virtual. Ketika kita dihadapkan pada perkembangan media digital ini begitu pesat, dan kita juga dihadapkan pada pilihan format manakah yang paling tepat untuk bidang kearsipan seni visual Indonesia? Dimanakan kita harus berdasarkan diri antara material arsipnya [kuantitatif] atau lebih pada fungsi kearsipan itu sendiri [kualitatif]? Bagaimana mendokumentasikan materi yang tidak dapat terdokumentasikan [un-documentables] seperti performance dengan bau atau rasa? Ataukah dihadapkan pada pertanyaan format video ini sebagai dokumentasi atau sebuah video artwork? Ketika masalah konservasi/restorasi karya seni rupanya sendiri masih menjadi sesuatu yang sangat mewah, kompleks dan langka di dunia seni visual kita saat ini. Bagi saya proyek “40yearsvideoart.de, Digital Heritage: Video Art in Germany from 1963 to Present” ini merupakan bentuk ‘tamparan halus’ untuk membangunkan para arkhivaris Indonesia kita akan kepedulian pendokumentasian dalam bentuk dan sedetail apa pun. Maka apa yang bisa saya sarankan untuk situasi pendokumentasian seni visual Indonesia saat ini adalah:
Konservasi fisik yaitu melakukan konservasi standar dan semaksimal mungkin bisa kita lakukan. Seperti penyimpanan dengan suhu tertentu, perawatan berkala dan hal teknis lainnya. Yang kedua adalah back up atas arsip itu sendiri. Back up di sini pun tidak melulu pada satu format saja. Sebagai misal format arsip tersebut dalam bentuk audio, maka back up penting lainnya adalah dalam format transkrip dan seterusnya. Pada prinsipnya saya tidak ingin terbebani atau tergantung pada satu pilihan media teknis yang seperti apa. Pilihan media teknis itu sendiri saya serahkan kepada masing-masing konservator, mana format yang paling ideal untuk karakteristik bentuk arsip itu sendiri.
Konservasi non fisik yaitu menjadikan material arsip yang pasif sebagai sumber belajar yg aktif. Hal ini penting untuk bisa membuat arsip itu sendiri lebih bisa ‘hidup’ lebih panjang, terakses lebih luas dan mengembangkan berbagai kemungkinan dengan melibatkannya ke berbagai lintas disiplin. Dimana kita tahu arsip berperan penting dalam wacana kontemporer di bidang seni visual, museology, cultural studies dan filosofi. Konservasi ini bisa dalam bentuk pengembangan atau memproduksi kembali materi arsip tersebut dalam sebuah program seperti pameran, riset dan sebagainya. Karena arsip tidak hanya sebuah catatan, tetapi sebagai bentuk dorongan dan inisiator yang aktif untuk memproduksi sesuatu.
Disamping itu, yang lebih penting lainnya mengenai tingkat kesadaran atas pendokumentasian itu sendiri pada setiap individu. Kesadaran sebagai ‘penjaga’ dari originalitas, keaslian karakteristik dan keunikan material arsip, sebagai pelindung dari warisan budaya dan seorang manajer dari himpunan pengetahuan. Maka dengan ini bagaimana kita terus-menerus memunculkan regenerasi dokumentator-dokumentator handal mau pun pusat-pusat dokumentasi baru yang spesifik di bidangnya masing-masing.
*Nunuk Ambarwati, tinggal dan bekerja di Yogyakarta. Pernah bekerja sebagai Head of Archive and Media Relations di Cemeti Art Foundation [CAF], Yogyakarta pada kurun waktu Februari 2002 – November 2006. Saat ini bertindak sebagai Program Manager di Jogja Gallery/JG [www.jogja-gallery.com], Yogyakarta. Kontak selanjutnya melalui email: qnansha@yahoo.com



Tuesday, February 06, 2007

Eksisten di tengah Sekaten

Pameran Seni Lukis: EKSISTEN
Jogja Gallery, Yogyakarta, 27 Februari – 25 Maret 2007
Kurator Jogja Gallery: Mikke Susanto
Exhibition Advisor: Heri Pemad

Pameran ini diselenggarakan sebagai respon atas pasar malam sekaligus agenda tahunan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat: SEKATEN. Dalam pameran ini perupa diharapkan dapat memberi sumbangan kreatif berupa karya-karya yang memiliki tema untuk mengingat kembali keberadaan dan sejarah kota Yogyakarta. Hal ini menarik dilakukan agar publik merasakan kembali bagaimana kota Yogyakarta yang telah berusia 250 tahun ini berjalan.

Meski pun pameran ini pada dasarnya mendukung gebyar pasar malam SEKATEN, tetapi juga menyimpan tujuan yang sangat berarti yaitu memberi rangsangan untuk mengingat berbagai kejadian dan situasi yang telah, sedang dan mungkin akan terjadi di Yogyakarta. Gambaran-gambaran tentang berbagai aktifitas (yang menjadi perhatian banyak orang Yogyakarta), polemik (tentang berbagai kebijakan dan kejadian kota), atau ruang-ruang publik Yogyakarta dapat dikaitkan dengan isi dan tema karya yang akan dipamerkan dalam pameran ini. Ada pun secara konsep teknis dan visual, pameran ini membuka peluang terhadap berbagai gaya, pendekatan visual mau pun aliran pemikiran.


Sumber materi atau subjectmatter yang dapat diusung dalam pameran ini misalnya:
Ruang-ruang publik yang menarik seperti Kantor Pos Besar, Tamansari, Kraton Malioboro, Pasar Sapi, Jembatan Kali Code, Tugu, pemandangan alam dan ruang rekreasi keluarga seperti pantai dan aktifitasnya, dan sebagainya.
Orang-orang yang menjadi perhatian dan penting dalam sejarah dan perkembangan Yogyakarta.
Aktivitas-aktivitas yang dinilai eksotis dan menjadi daya tarik bagi visual.
Kisah, cerita, legenda atau berita yang mengetengahkan kelengkapan perkembangan di sektor kebudayaan, politik mau pun dalam seni rupa sendiri dan di sektor lainnya yang telah memberi warna dalam perkembangan kota.

Daftar calon peserta pameran:
Andy Wahono – Anggar Prasetyo – Agus Triyanto BR – Aji Yudalaga – Anang Asmara – Bambang Heras – David Armi Putra – Dedy Maryadi – Denny ‘Snod’ Susanto – Didik Nurhadi – Dyan Anggraini Hutomo – Erizal As – Galam Zulkifli – Hadi Soesanto – Hamdan – Herly Gaya – I Gusti Ngurah Udiantara – I Nyoman Darya – Iwan Sri Hartoko – Julnaidi MS – Kusmanto – Luddy Astaghis – M Andi Dwi – Nanang Warsito – Nasirun – Nico Siswanto – Niko Ricardi – Oskar Matano – Ridwan – Robby Fathoni – Saepul Bachri – Samsul Arifin – Setyo Priyo Nugroho – Stefan Buana – Slamet Suneo Santoso – Sito Pati – Syahrizal Pahlevi – Yayat Surya – Wara Anindyah – Warsitho

Jogja Gallery [JG]Jalan Pekapalan No 7, Alun-alun Utara Yogyakarta
Telepon +62 274 419999, 412021, 412023, 7161188
Fax +62 274 412023
Email jogjagallery@yahoo.co.id, info@jogja-gallery.com
www.jogja-gallery.com

Agraris Koboi!


Visual Art Show - "AGRARIS KOBOI!"
Jogja Gallery, Yogyakarta, 10 – 20 Februari 2007

Di dasawarsa terakhir, Yogyakarta dipenuhi oleh berbagai kejutan visual. Wajah kota menjadi ‘glamour’. Jalan-jalan penuh warna, entah oleh mural atau spanduk, neon box dsb. Tembok-tembok toko tak lagi kosong. Pejalan kaki menjadi ‘tamu’ atas perangai para penggagas visual. Bahkan ruang privat anak-anak muda saat ini tak lagi melompong berisi kasur, almari dan tape recorder. Kini, semua penuh dengan gambar. Gejala ini bisa jadi sebuah euforia atau mungkin juga demam visual. Berangkat dari salah satu gejala yang memanas semacam ini, kurator hendak mengajukan sebuah “manifes bersama” untuk meneguhkan semangat atas kejutan visual tersebut dan menjadi ‘visi baru’ dalam seni rupa yang berkembang di Indonesia.
Manifes ini dimulai dengan mengekspos karya-karya yang memiliki kecenderungan ‘menggambar’ dalam arti teknis. Serta unsur utama dalam karya-karya ini adalah lukisan-lukisan yang mengetengahkan keseharian dan/atau hobby anak muda yang sedang mencari tren sekarang. Pendek kata, karya-karya mengusung gejala dan budaya populer, yang bersifat liar, dimanis, imajinatif.


Selain itu, pameran ini hendak mengetengahkan fenomena seni rupa kontemporer di Yogyakarta tersebut yang konon masih dianggap sebagai bagian dari kultur besar (sub-kultur). Pameran ini hendak memberi ketegasan untuk menandai mereka dalam satu gaya/fenomena yang terjadi di sela berbagai kecenderungan gaya yang berkembang di Yogyakarta. Karena sementara ini banyak sekali anggapan bahwa karya-karya mereka masih dianggap ‘bukan lukisan’ atau ‘bukan karya seni’ (lebih parah lagi itu ada yang menyebutnya ‘polusi visual’), dan dianggap sekadar permainan visual yang menjamur di beberapa tempat (ruang publik maupun ruang privat mereka).


Dalam hal ini Jogja Gallery hendak memperjelas posisi mereka. Mereka adalah juga bagian dari perkembangan seni visual di Yogyakarta pada khususnya, dan Indonesia pada umumnya. Mereka bukan lagi sebagai sub-gaya dari aliran besar bernama Pop art atau sub-kultur dari aliran Pop Culture yang berkembang. Mereka terlihat sangat serius, dalam upaya menggeluti konsep seninya. Keseriusan itu terlihat ketika mengelaborasikan kehidupan seharian dengan pola berpikir tentang kajian sejarah, politik dan kebudayaan secara umum, yang notabene telah menjadi bagian dari napas hidup mereka.

Lokalitas yang membedakanDalam hal ini, terdapat hal yang membedakan antara perupa peserta pameran ini dengan mereka dengan yang ada di Bandung, Jakarta dan Bali. Jika kesamaan adalah ekspos kebudayaan populer lewat munculnya elemen-elemen kebudayaan misalnya televisi, majalah, telepon seluler dan sebagainya, maka mereka, peserta pameran ini, mendapatkan inspirasi dari aktivitas kebudayaan yang muncul di kota Yogyakarta. Tepatnya adalah kehidupan yang terjadi di seputaran masyarakat seni rupanya.


Mereka berkembang bersama dengan seniman-seniman ‘aliran’ lain. Mereka bergumul dengan perhitungan-perhitungan visual. Mereka juga masih menekankan unsur-unsur artistik, kemampuan teknik, dan memadukan desain & komposisi yang energik. Sehingga kebersamaan mereka dengan seniman-seniman lain tersebut memberi warna terhadap karya-karya yang dihasilkan. Dimensi pemikiran yang melatari ragam karya mau tak mau juga diinspirasi oleh beberapa hal, diantaranya ilmu sejarah (rata-rata mereka kuliah di ISI Yogyakarta), hubungan pertemanan antar perupa (terutama dengan perupa-perupa senior: imajiner maupun diskusi langsung) dan budaya lokal Jogja yang melingkupi mereka. Tak pelak banyak muncul berbagai elemen visual yang memandai itu semua.


Sekarang yang menjadi perhatian kita (penonton) sanggupkah mereka yang secara pemikiran banyak dipengaruhi dimensi dan sejarah hidup yang “ke-Barat-barat-an”, menangkap gejala lokalitas (ke-Yogya-annya yang konon masih dianggap masih dalam kehidupan agraris itu) dalam karya seni?

Seniman peserta: Agus Yulianto – Arie Dyanto – Eko Dydik ‘Codit’ Sukowati – Decky ‘Leos’ Firmansyah – Uji ‘Hahan’ Handoko – ‘Iyok’ Prayogo – Krisna Widyathama – Iwan ‘Pandir’ Effendi – Nano Warsono – Riono Tanggul a.k.a Tatang – Wedhar Riyadi

Mikke SusantoKurator

Seni Lukis Tunisia, Tidak Melulu Kaligrafi

DESKRIPSI : SENI LUKIS DI TUNISIAJogja Gallery, Yogyakarta, 10-20 Februari 2007Kerjasama antara Kedutaan dan Konsul Kehormatan Republik Tunisia dengan Jogja Gallery, Yogyakarta

Generasi pertama perupa Tunisia mengenal seni modern melalui pendidikan yang mereka terima dari Sekolah Seni Murni di Tunisia mau pun di Eropa atau bahkan secara otodidak, hal ini kemudian lebih mengeksploitasi kelebihan natural yang mereka miliki. Situasi ini berkebalikan dengan pelukis Eropa, pelukis asli asal Eropa tidak diikuti oleh berbagai arus perkembangan seni yang diakibatkan oleh perang.

Sekelompok pelukis lulusan pendidikan seni di Tunisia, terdiri dari Ammar Farhat, Yahia Turki, Jelel Ben Abdallah, Abdelaziz Gorgi, Ali Bellagha… yang kami anggap sebagai sekelompok pelukis seni modern generasi pertama, terpilih sejak mereka mulai dengan bahasa plastis membawa nilai-nilai tradisional dan keasliannya. Dalam karya lukis mereka, sebuah visi kenangan tertentu berubah menjadi penanda berkenaan dengan perkembangan dunia yang semakin modern.

Bersama generasi kedua, di tahun ’60-an terlihat perkembangan sejumlah bakat-bakat muda dan ekspresi artistik plural. Generasi baru ini lebih mempunyai keterbukaan interpretasi eklektik atas seni lukis barat dan bereaksi menentang arus seni yang sebelumnya. Hal tersebut terjadi di dalam situasi yang sedikit antusias baik secara individu mau pun dalam sebuah kelompok. Di era ini dimana kami menemukan berbagai gambaran ekspresi seperti seni abstrak, figur-figur baru dan berbagai variannya.

Inovasi membawa mereka ke dalam “gelombang baru” untuk membentuk kelompok-kelompok yang lebih kecil berawal di tahun 1963. Generasi ini ditandai dengan tendensi atas seni abstrak dan kaligrafi. Kelompok ini tidak keluar dari patronnya yang mana mereka pakai sebagai sumber inspirasi, bahkan di dalam dunia fashion seperti tanda dan simbol tradisional, atau dengan mengadaptasi kemungkinan yang tidak terbatas dari seni kaligrafi dan arsitektur Arab.

Memasuki generasi berikutnya, pelukis tahun ’70-an mengeksplorasi bidang mereka dimana dimungkinkan untuk menggunakan ekspresi spiritualnya. Perupa muda terdidik di Sekolah Seni Murni di Tunisia dan menghabiskan kurang atau lebih waktunya untuk tinggal di Perancis (untuk studi atau tinggal di kota pusat seni dunia yakni Paris), mereka mengolah misteri seni surealis atau bahkan berbagai hal di dunia yang mereka temui, berkaitan dengan pengembangan sisi personal dan pengalaman mereka masing-masing…

Mereka tak bukan adalah Rafik El Kamel, Abderazak Sahli, Guider Triki, Noureddine El Hani… Sepanjang tahun ’80-an, seni lukis di Tunisia menjadi saksi kemunculan berbagai eksperimen sementara menghindari abstraksi tertentu.

Generasi berikutnya, pada tahun 1987-1997, dimana pameran ini didedikasikan kepada mereka, memperluas ketertarikan atas bidang-bidang baru. Dari 20 perupa, kami telah menyeleksi sejumlah perupa laki-laki mau pun perempuan dimana kami anggap bisa merepresentasikan perupa muda dalam kurun waktu 10 tahun terakhir.

Berikut nama perupa yang berhasil kami konfirmasi keikutsertaannya, yakni:

Ahmed Hajjeri Rachid Fakhfakh Lamine Sassi
Raouf Karray Meryem Bouderbala Feryal Lakhdhar

Bersama ini, kami juga hendak memperkenalkan bakat-bakat muda yang menjanjikan, khususnya perupa perempuan seperti Rym Karoui, Sonia Drij, Insaf Saada, Asma Mnaouer, Najoua Abdelmaksoud. Kita diminta mempelajari secara kronologis karya-karya dari para perupa yang berpartisipasi dalam pameran ini berdasarkan gaya mereka masing-masing.

Dalam sebuah perhelatan Universal Exhibition “Aichi 2005”, negara Tunisia mengikutsertakan 6 perupanya yang memiliki kesamaan umum dalam interpretasi personal mereka di segala aspek.

Kekayaan dan keragaman lukisan karya Abderrazak Sahli membawa kita ke dalam bentuk-bentuk dan warna labirin. Karyanya tidak berhenti memberi kejutan dan mengherankan kita dengan tema dan komposisinya melalui berbagai kekayaan warnanya, seperti yang termanifestasikan dalam dua karya yang diajukan untuk pameran ini dimana masing-masing merefleksikan kesatuan antara unsur air dan alam.

Rachid Fakhfakh dengan judul karyanya Homage to Earth – Fertile Land I dan II merepresentasikan kombinasi lengkap yang menggunakan bidang magis sebagai model untuk mengorganisasi dan bidang modul sebagai bentuk ekspresi. Sebenarnya ini dua variasi dari tema yang sama dimana menggunakan sebuah frame berdasar urutannya, yang terdiri dari 25 gambar, warna dari pasir dan beragam tekstur di atas bidang berukuran lebih dari satu meter.

Sementara Raouf Karray, karya lukisnya dikenal dari tanda, simbol dan terkadang kaligrafi yang saling bertabrakan satu dengan yang lainnya melalui tekanan dan warna yang kuat , dimana menarik perhatian mata kita untuk tidak meninggalkan setiap detail dalam sebuah ruang inspirasi yang diwariskan dari leluhurnya. Dalam karya yang dipamerkan kita menemukan perbedaan gaya, sebagai sebuah komunikasi atas pesan yang berkaitan dengan energi dan proteksi atas alam.

Elemen arsitektural merupakan titik pijak perjalanan artistik dari perupa Hatem Gharbi. Tujuannya adalah meniru secara alamiah dengan men-setting benda-benda yang berkaitan secara esensial dengan batu dan relief yang diekspos secara puitis dan sunyi. Kepekaan yang lebih baik bisa dilakukan melalui sebuah komunikasi. Di dalam karyanya, gelombang merupakan elemen komunikasi dimana lingkaran konsentris akhirnya adalah bunga matahari. Namun ketika bumi ingin menyampaikan pesannya kepada kita, apakah kira-kira yang akan dia sampaikan?

Didalam karya abstraknya yang selalu menampilkan alam sebagai elemen terkini, Asma M’Naouar mengembangkannya melalui penempatan intens atas materi dan warna terutama merah dan echre. Karya-karya yang dia ajukan membuka keterpesonaan kita atas alam dengan lampu yang didampingi dengan teknik kikisan, memperlihatkan kepekaan kita atas landsekap melalui sentuhan semangat warna-warnanya.


Lukisan karya Najoua Abdelmaksoud adalah transposisi personalnya dari berbagai elemen seperti karakter, pemandangan dari jalan, arsitektur dimana merupakan turunan dari sebuah perencanaan dan deformasi dari sebentuk proporsi yang tepat untuk sebuah gaya dari seorang seniman. Karya yang dipamerkan dalam pameran ini adalah gambaran ucapan terima kasih alam atas intervasi manusia dalam usahanya menciptakan alam yang bersih dan sehat.


Terjemahan bebas diambil dari sinopsis “Painting in Tunisia” yang dipublikasikan oleh the Embassy of Tunisia, Jakarta. Image karya Hajjeri Ahmed, She's surprising me, 120x122 cm, acrylic on canvas.

Monday, February 05, 2007

The Thousand Mysteries of Borobudur


Kompetisi Seni Visual 2007
THE THOUSAND MYSTERIES OF BOROBUDUR
UNESCO Office Jakarta – Jogja Gallery - Dept. Pariwisata & Budaya RI - UGM - PT. Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan & Ratu Boko

Bagi sebagian besar orang awam, tidaklah mudah menerjemahkan eksistensi Borobudur. Apalagi jika hal itu dikaitkan dengan kehidupan personalnya, baik sebagai bagian dari profesi, status maupun hobinya. Sejarah hidup seseorang yang berbeda-beda, tentu saja takkan bisa dengan mudah tersambung dengan sejarah Borobudur. Harus ada upaya untuk ”menggerakkan” Borobudur dan masyarakatnya untuk bersama-sama menghubungkannya.
Borobudur, sebagian besar diketahui masyarakat sebagai bangunan besar buatan manusia. Seluruh sejarah yang terjadi padanya juga tidaklah dengan cepat dan kuat menarik perhatian sebagian orang untuk memeliharanya. Mencermati berbagai cerita dari relief di badan Borobudur yang indah itu saja misalnya, terasa benar bahwa Borobudur sudah selayaknya ”menjadi bagian” dari diri kita semua. Kita tahu Borobudur bukanlah benda eksklusif. Ia tak membutuhkan perhatian berlebih. Ia hanya membutuhkan hidup dan perawatan dengan kesadaran masyarakatnya. Tentu saja lewat perupa dengan karya seninya.


Kompetisi ini bersifat terbuka dan akan menjadi bagian dari pameran besar bertajuk ”The Thousands Mysteries of Borobudur” yang akan digelar di Jogja Gallery pada 20 April-9 Mei 2007. Kompetisi ini adalah bagian dari kerjasama UNESCO, Jogja Gallery, UGM, dan PT. Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan & Ratu Boko bersama mitra-mitra yang lain. Kompetisi ini tidak dibatasi oleh ideologi yang condong pada situasi tertentu atas Borobudur, namun lebih banyak diidentifikasi sebagai bentuk kritis perupa terhadap eksistensi Borobudur secara jujur dan dalam bentuk karya seni.

Karya-karya seni yang dipamerkan atau dikompetisikan diharapkan lebih mencerminkan bentuk, sikap, dan jawaban atas pertanyaan perihal pengingatan kembali pada semangat menjaga peradaban manusia secara arif, terutama kepada bangun kreatif bernama Borobudur yang penuh misteri. Agenda ini, sekali lagi mencoba mengingatkan kembali peran, kelakuan, kerangka pikiran kita semua dan mencoba mengisi Borobudur dengan berbagai bentuk pergerakan pikiran kreatif.

1. Pemenang
· Kompetisi ini akan mengambil 20 finalis yang akan diikutsertakan dalam pameran. Dari 20 (dua puluh nominator) akan diambil 5 ( lima ) terbaik yang akan diumumkan pada saat pembukaan pameran.
· Kelima pemenang tersebut akan mendapat hadiah masing-masing Rp. 3.000.000,- (tiga juta rupiah) dan mendapatkan sertifikat pemenang dari UNESCO.

2. Sifat dan spesifikasi
· Tema karya disesuaikan dengan pengantar di atas.
· Kompetisi ini bersifat terbuka-nasional dan tidak dibatasi usia. Peserta adalah mereka yang tinggal dan beralamat di Indonesia , dan tidak dibatasi oleh kewarganegaraan.
· Media karya yang digunakan bebas (dwimatra atau trimatra: lukisan, patung, grafis, batik, keramik, instalasi, fotografi, dan sebagainya), sedangkan ukuran salah satu sisinya tidak lebih dari 200 cm.
· Setiap peserta diperkenankan mengajukan 2 judul karyanya.

3. Ketentuan Teknis
· Penjurian dilakukan dengan seleksi foto karya. Untuk itu setiap peserta dipersilakan mengirim foto karya (10 R Glosy) yang diajukan dan dikirim paling lambat 5 Maret 2007) disertai konsep karya dan biodata peserta terbaru.
· Untuk informasi lebih lanjut dan pengiriman foto karya dialamatkan ke:

Panitia Kompetisi THE THOUSAND MYSTERIES OF BOROBUDUR
d.a. JOGJA GALLERY
Contact person: Nunuk Ambarwati [+62 81 827 7073]
R. Daru Artono [+62 85 643 898 779]
Jl. Pekapalan 7 Alun-alun Utara Yogyakarta.
T: 0274 419999, 412021, 412023, 7161188
Email jogjagallery@yahoo.co.id

· Pengumuman 20 nominator (finalis) akan diberitahukan via surat ke peserta yang karyanya terseleksi atau mengakses alamat website: www.jogja-gallery.com
· Karya yang sudah terseleksi diharapkan masuk paling lambat tanggal 5 April 2007.
· Pengiriman karya ke Jogja Gallery ditanggung oleh perupa, sedang pengembaliannya tanggungjawab Jogja Gallery.
· Pihak penyelenggara berhak memakai image karya sebagai bagian dari publikasi dan semua aktivitas yang terkait dengan pameran ini.
· Setelah melalui tahap seleksi, karya diharuskan siap pamer dengan menyertakan keterangan karya secara lengkap.
· Karya diharapkan dapat dijual, dengan ketentuan yang disepakati oleh pihak perupa dan penyelenggara. (Catatan: 60% untuk seniman, 20% untuk perawatan Borobudur, 20% untuk biaya packing dan pengiriman karya kembali ke perupa dan atau ke pembeli karya).

4. Juri
dr. Oei Hong Djien (pengamat seni dan kolektor)
DR. M. Agus Burhan, M.Hum. (ISI Yogyakarta )
Mikke Susanto, S.Sn. (Jogja Gallery)
Ir. Guntur Purnomo Adi (PT. Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko)
DR. Ir. Laretna T. Adhisakti, M.Arch. (Univ. Gadjah Mada)

Program ini terselenggara berkat kerjasama
UNESCO Office Jakarta, Jogja Gallery, Dep. Pariwisata & Kebudayaan RI, Universitas Gadjah Mada, PT. Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko, Center Heritage Center [CHC].



Saturday, January 06, 2007

Artcare Indonesia


PRESENTASI KARYA-KARYA DONASI SENIMAN ARTCARE INDONESIA

Sabtu, 13 Januari 2007
Pukul 15.00 wib – selesai
Soboman 219, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul, Jogjakarta

Art Care adalah sebuah proyek kepedulian sosial dan kemanusiaan yang digagas lewat kemampuan seni rupa. Kegiatan ini ditujukan untuk membantu mereka yang tertimpa bencana, keterbatasan berkembang, atau berada dalam bentuk kesulitan lainnya di muka bumi ini. Banyak sekali bentuk bencana yang terjadi di bumi ini, baik itu bencana alam seperti Tsunami yang baru-baru ini terjadi di belahan benua Asia, gempa bumi yang meluluh lantakkan tidak hanya terjadi di Jogjakarta tapi juga sebagian wilayah di Jawa Tengah, serta bencana banjir yang terjadi setiap musim hujan tiba. Permasalahan sosial di negara seperti Indonesia tidak saja bersumber pada bencana alam, tetapi juga berupa lemahnya proses pendidikan dasar sebuah bangsa yang bermuara pada bencana moral dan spiritual yang tidak kalah besarnya. Untuk itu, Artcare juga memberikan perhatian yang lebih pada pembangunan infra struktur pendidikan dasar.

Artcare merupakan jaringan seniman trans-nasional, yang telah menunjukkan daya tariknya di Austria, Switzerland, Jerman dan telah berjalan dengan baik di Liechtenstein. Sebagai kegiatan perdana, Artcare Liechtenstein meyelenggarakan acara pengumpulan dana dengan menjual paket edisi karya seni lukis yang berisi 11 buah karya di Liechtenstein. Keseluruhan dana yang terkumpul didistribusikan oleh Artcare Indonesia kepada masyarakat yang tertimpa bencana gempa bumi di wilayah Daerah Istimewa Jogjakarta dan Jawa Tengah beberapa bulan yang lalu.

Pengumpulan donasi dilakukan dengan cara masing-masing seniman menyumbangkan 10 buah karya dengan ukuran 20 x 15 cm. Cara ini merupakan bentuk komitmen seniman dalam menyatakan kesediaannya pada proyek kepedulian tersebut. Karya-karya tersebut akan dirangkum dalam bentuk edisi dengan jumlah tertentu dan dicairkan pada siapa saja yang berminat untuk dipergunakan sebagai dana awal taktis kegiatan. Pola seperti ini akan dilakukan pada Artcare di setiap negara.

Artcare Indonesia telah mulai berkiprah dengan launching pertamanya pada tanggal 9 Juli 2006 di Kamar Seni yang dikelola oleh Antena Projects, di Kalasan, Yogyakarta. Acara tersebut berupa presentasi dan peresmian lembaga Artcare Indonesia, yang dihadiri oleh para pelaku dan pecinta seni di Jogjakarta antara lain Fauzie As'ad (Perwakilan Artcare Liechtenstein), Entang Wiharso (seniman dan pemilik Antena Projects), Dyan Anggraini (Kepala Taman Budaya D.I.J), Dr. M. Dwi Marianto (Direktur Paska Sarjana ISI Jogjakarta) serta Suwarno Wisetrotomo (Dosen ISI Jogjakarta, penulis serta kurator seni), dan beberapa seniman lainnya.

Acara "Presentasi Karya Donasi Seniman Artcare Indonesia" ini akan memajang karya-karya seniman-seniman dari Yogyakarta dan sekitarnya, dan sekaligus media untuk presentasi program-program yang telah dan akan dilakukan Artcare Indonesia. Acara ini terbuka untuk siapa saja yang mempunyai keperdulian sosial dan kemanusiaan sekaligus mempunyai citarasa seni.

Contact Person:
Heri Pemad +628121561659


ART CARE INDONESIA
LATAR BELAKANG
Art Care adalah sebuah proyek kepedulian sosial dan kemanusiaan yang digagas lewat kemampuan seni rupa. Kegiatan ini ditujukan untuk membantu saudara-saudara kita yang tertimpa bencana, keterbatasan berkembang, atau berada dalam bentuk kesulitan lainnya di muka bumi ini. Banyak sekali bentuk bencana yang terjadi di bumi ini, baik itu bencana alam seperti Tsunami yang baru-baru ini terjadi di belahan benua Asia, gempa bumi yang meluluh lantakkan tidak hanya terjadi di Jogjakarta tapi juga sebagian wilayah di Jawa Tengah, serta bencana banjir yang terjadi setiap musim hujan tiba. Permasalahan sosial di negara seperti Indonesia tidak saja bersumber pada bencana alam, tetapi juga berupa lemahnya proses pendidikan dasar sebuah bangsa yang bermuara pada bencana moral dan spiritual yang tidak kalah besarnya. Untuk itu, Artcare juga memberikan perhatian yang lebih pada pembangunan infra struktur pendidikan dasar.

POLA PENGGALANGAN DANA
Art Care digagas sebagai bentuk kepedulian seniman lewat produk seni rupa sebagai alat picu utama untuk menggalang kekuatan materiil guna mengawali kegiatan-kegiatan yang bersifat sosial dan kemanusiaan selanjutnya. Pengumpulan donasi dilakukan dengan cara masing-masing seniman diharapkan bisa menyumbangkan 10 buah karya dengan ukuran 20 x 15 cm. Cara ini merupakan bentuk komitmen seniman dalam menyatakan kesediaannya pada proyek kepedulian tersebut. Karya-karya tersebut akan dirangkum dalam bentuk edisi dengan jumlah tertentu dan dicairkan pada siapa saja yang berminat untuk dipergunakan sebagai dana awal taktis kegiatan. Pola seperti ini akan dilakukan pada Artcare di setiap negara.

Art Care merupakan sebuah badan kegiatan seni rupa bersifat karitatif yang dikembangkan baik dalam skala regional, nasional, maupun internasional. Badan ini telah menunjukkan daya tariknya di Austria, Switzerland, Jerman dan telah berjalan dengan baik di Liechtenstein. Sebagai kegiatan perdana, Artcare Liechtenstein meyelenggarakan acara pengumpulan dana dengan menjual paket edisi karya seni lukis yang berisi 11 buah karya di Liechtenstein. Keseluruhan dana yang terkumpul didistribusikan oleh Artcare Indonesia kepada masyarakat yang tertimpa bencana gempa bumi di wilayah Daerah Istimewa Jogjakarta dan Jawa Tengah.

KEGIATAN ARTCARE INDONESIA
Artcare mendokumentasikan setiap kegiatannya dan memberikan laporan secara kontinyu melalui website kami di www.artcare-liechtenstein.org Semua bentuk donasi baik dari seniman maupun pecinta seni, akan kami laporkan kepada masyarakat melalui media tersebut. Website tersebut juga akan melaporkan pendsitribusian bantuan kepada masyarakat.

Artcare Indonesia telah mulai berkiprah dengan launching pertamanya pada tanggal 9 Juli 2006 di Kamar Seni yang dikelola oleh Antena Projects, di Kalasan, Yogyakarta. Acara tersebut berupa presentasi dan peresmian lembaga Artcare Indonesia, yang dihadiri oleh para pelaku dan pecinta seni di Jogjakarta antara lain Fauzie As'ad (Perwakilan Artcare Liechtenstein), Entang Wiharso (seniman dan pemilik Antena Projects), Dyan Anggraini (Kepala Taman Budaya D.I.J), Dr. M. Dwi Marianto (Direktur Paska Sarjana ISI Jogjakarta) serta Suwarno Wisetrotomo (Dosen ISI Jogjakarta, penulis serta kurator seni), dan beberapa seniman lainnya.

Artcare Indonesia yang dipimpin oleh sdr. Heri Pemad telah mengawali kegiatannya di Indonesia dengan mengadakan pendistribusian dana bantuan hasil dari acara pengumpulan dana yang diselenggarakan oleh Artcare Liechtenstein di Liechtenstein pada bulan Juni 2006.

Pada tanggal 13 Januari 2007, Artcare Indonesia akan mengadakan presentasi karya-karya seniman Indonesia yang telah didonasikan melalui Artcare. Acara tersebut sekaligus sebagai media untuk mengkomunikasikan program-program yang telah dan akan dilakukan oleh Artcare Internasional, kepada para seniman, donatur, maupun para calon donatur di Indonesia. Bertempat di Kantor Artcare Indonesia, di Jalan Soboman nomer 219, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul, Yogyakarta, karya-karya tersebut akan dipajang dan siap untuk dicairkan dalam bentuk dana. Acara dimulai pada pukul 15.00 dengan memajang karya-karya untuk dipresentasikan.

Saturday, December 16, 2006

Homage to Rico Tattoo


Pameran Desain Tattoo:
Homage to Rico Tattoo
16-31 Desember 2006
Tempat: Parkir Space ruang alternatif
Jalan Prawirotaman II Utara Pasar (0274 7427929)
Opening: Sabtu, 16 Desember 2006, 19.30 WIB oleh Athonk
Opening act: The ARYA dan ABCD Rock Band
Tattoo, sebagaimana kita ketahui adalah seni yang menggunakan kulit manusia sebagai media ekspresi. Beberapa suku di belahan penjuru dunia bahkan memaknai tattoo sebagai bagian dari struktur kehidupan sosial mereka.
Seiring perkembangan jaman, tattoo kemudian menjadi seni tersendiri yang penggarapannya makin terpola, dengan tahap-tahap pengerjeaan yang runut, seperti halnya pengerjaan sebuah media fungsional mulai dari desain, pemindahan desain ke kulit yang akan ditattoo, penintaan dan pengisian warna, sampai perawatan setelah tattoo selesai dibuat. Selama ini, kita hanya melihat hasil tattoo yang sudah jadi, yang sudah tertera di kulit seseorang, namun jarang sekali melihat prosesnya, apalagi melihat desain tattoo, yang masih harus dikompromikan dengan orang yang memesannya, orang yang akan ditattoo tersebut.
Pameran ini memamerkan sejumlah desain tattoo karya Enrico yang sampai sekarang masih tersimpan dengan baik setelah Enrico meninggal dunia tahun 2000 yang lalu. Enrico dikenal luas oleh komunitas tattoo Yogya juga di Bandung dan Jakarta pada waktu itu karena desainnya yang khas dan juga hasil akhirnya yang memuaskan walau pun dia lebih suka menggunakan alat sederhana yaitu jarum jahit yang dihubungkan dengan dinamo mainan daripada alat tattoo sesungguhnya yang ia miliki.
Enrico Siadari
lahir di Yogyakarta, 19 Oktober 1975, meninggal 3 Januari 2000
Pernah kuliah di Desain Interior AKSERI dan Seni Lukis ISI Yogyakarta (angkatan 1995)
Tahun 1993-1994 mulai belajar men-tattoo
Tahun 1996-1997 mulai dikenal sebagai seniman tattoo
Contact persons:
Nunuk Ambarwati 081 827 7073
Bambang Toko Witjaksono 081 5165 2096

Friday, November 24, 2006

Yogyakarta: Ibukota Komik

Oleh Nunuk Ambarwati
Catatan dari hasil diskusi, Kamis, 23 November 2006 (atau rapat = Samuel Indratma menyebutnya demikian) dari event pameran (19-24 November 2006) dan launching buku ‘Jogja in Comic’ di Taman Budaya Yogyakarta. Bukunya sendiri dijual seharga Rp 10.000,- berisi komik-komik hasil dari kompetisi komik yang diselenggarakan oleh Taman Budaya Yogyakarta dengan tema yang sama, ‘Jogja in Comic’. Untuk lebih jelasnya, baca juga tulisan pengantar dari St. Sunardi, yang saya sertakan pula dalam tulisan ini.
Dyan Anggraini: Kita bersyukur punya temen-temen seperti Samuel Indratma dan Wahyudin. Ternyata ide-ide kreatifnya sangat memperkaya dan bisa dilakukan dengan Taman Budaya Yogyakarta (TBY). Bagaimana Yogyakarta dibaca melalui komik adalah program komik TBY sejak tahun lalu. Ide awal yang tidak hanya berhenti pada satu kegiatan, karena rupanya dengan komik kita bisa membaca apa saja dan lebih mengena. Respon positif banyak muncul, bahwa memaknai komik selama ini banyak lapisan masyarakat merupakan satu hal strategis sebagai media publikasi. Bagaimana komik tidak hanya dimaknai sebagai media hiburan. Dan komik perlu diapresiasi. Mudah-mudahan bisa berkelanjutan dan tidak boleh berhenti sampai di sini saja. Adalah Nursyam, Wahyudin dan Samuel Indratma yang merupakan satu tim di ‘Nendang dan Kena’.
Samuel Indratma: Harapannya sebenarnya enaknya rapat, karena kalo diskusi menjadi tidak efektif, mungkin perlu dibuat kebudayaan rapat kebudayaan berkala J Peristiwa ini menjadi salah satu trigger saja dan bisa melompat menjadi banyak hal.
Wahyudin: Beberapa hal yang berhubungan dengan keberadaan dan keberlangsungan ‘Jogja in Comic’ yang sedang dipamerkan di TBY. Lima (5) karya yang dipamerkan di tempat ini merupakan hasil dari kompetisi ‘Jogja in Comic’ yang digagas TBY dan di-back up secara kolaboratif bersama Urban Piktorial (UP). Kebetulan UP punya perhatian yang sama mengenai perubahan dan perkembangan di Yogya dengan perspektif komik. Kenapa komik? Dimana komik juga merupakan budaya visual. Menimbang keberadaan komik sebagai bahasa komunikasi dan bahasa rupa, yg selama ini dianggap sebagai karya kelas kedua, marjinal, atau karya kelas kambing seperti ikon yang dipakai untuk event ini, khususnya dengan konteks di Yogya. Menimbang hal itu kita bersama-sama mencoba menggagas satu event yang nantinya kita harapkan bisa berkembang dengan respon dari temen-temen, tidak hanya komik, tapi juga temen-temen sastra, ilmu sosial. Dengan pengertian ketika kita ingin membicarakan tema kota dengan komik, bisa menjadi dokumentasi visual tentang perubahan dan perkembangan mengenai tema tersebut, sehingga tidak saja menjadi bacaan ringan, yang kemudian disingkirkan dari arsip pribadi, tapi bisa menjadi referensi selanjutnya. Itu kemudian kita meminta pendapat dari orang-orang yang berkecimpung di sastra, sosial dan komik sendiri. Dan responnya sangat menggembirakan. Walau pun dari tampilannya sangat konvensional. Meskipun demikian kita berharap ini sebagai project awal bisa paling tidak memantik semangat teman-teman yang bergerak di bidang komik untuk punya keyakinan bahwa komik bisa dipresentasikan layaknya pameran seni rupa. Dan ini upaya mensosialisasikan teman-teman komikus lewat pameran. Dan TBY bisa memamerkan secara periodik dan memfasilitasi hal tersebut. Dari sini kita berharap perkembangan menjadi menarik, kita punya bayangan besar untuk membuat biennale komik. Saat ini ada teman-teman yang kebetulan karyanya dipamerkan yaitu Mario dengan Studio Urek-urek-nya, Ma’il dsb. Kita bisa mendengar sedikit pengalaman mereka dalam membikin komik melihat Yogya dengan komik.
Samuel Indratma: Banyak hal yang bisa disampaikan, agenda yang menarik adalah misalnya ada komik asing dan kita terbingung-bingung, atau kurangnya apresiasi dari pembaca. Bagaimana komik bisa menjembatani berbagai persoalan yang bisa dimasuki. Seperti teman-teman NGO menggunakan media komik untuk menyampaikan isu yang rumit menjadi lebih terserap, advokasi. Ini adalah satu bentuk advokasi untuk banyak hal, inginnya. Harapannya, misalnya salah satu contoh terdekat, banyak hal dari Yogya yang bisa dibongkar, membaca dengan kritis kembali, misalnya soal trotoar, lalu lintas kota atau bahkan polisi tidur, maka komik bisa membaca ulang hal tersebut. Nah persoalan itu menarik untuk diangkat, diulik dan diceritakan kembali melalui komik. Apakah mempunyai bayangan dengan media komik?
Dani: Saya putranya Pak Teguh Santosa. Saya sedang sibuk mengurusi karya-karya komik terdahulu (komik heritage). Ada pula indonesiakomik.com yang berposisi di Jakarta. Masalah komik memang satu yang luar biasa, jangan sampai hanya menjadi masalah diskusi. Ketika ada undangan diskusi komik, komikus tidak datang karena takut dengan tim akademis, jaman dulu komik Indonesia itu gambarnya sendirian, tidak tim misalnya. Padahal proses kreatif Bapak itu, komik menjadi media penyambung hidup, kalau tidak nggambar nggak hidup. Ternyata komik sudah menjadi pusaka di Indonesia, bisa disejajarkan dengan karya sastra yang lain. Kebetulan saya, Mas Seno, Mas Iwan Gunawan sudah sampai bab 3 untuk menyelesaikan kajian komik-komik karya lama. Mengupas tentang Pak Wid dan tentang Gundala, bagaimana bisa membuat karakter Gundala, padahal wacana buku pada saat itu masih terbatas. Bagaimana komik dulu itu dirancang dengan proses kreatif sedemikian rupa. Jaman itu posisi komik kan sama dengan VCD jaman sekarang (dari segi hiburan). Sebagai contoh proses menciptakan komik dengan tokoh Sandora, beberapa adegan ini diilhami dari soundtrack film apa. Jaman segitu proses komunikasi antar komikus dekat sekali. Misalnya perang tokoh, Om Ganes TH mengeluarkan si Buta dari Gua Hantu, dan bapak menciptakan ‘Loncatan..’, dua-duanya bawa kera. Ciri khas bapak tiap mau menggambar disiapkan soundtrack film. Komik jaman saat itu dibuat dengan meditasi, mengatur mood, seperti membuat karya lukis. Keluarga komikus kumpul semua, saya ikut memasarkan karya bapak, kita tawarkan di KR, mulai dari harga Rp 5000,- karena penghargaan atas karya-karya komik belum ada. Semoga dari sini dari Yogya bisa menjadi ibukota komik Indonesia. Banyak masalah tragis, jaman dulu komik juga mempengaruhi era politis, gimana komik dibumihanguskan, komik sebagai media menularkan virus kebodohan. Nanti di buku Komik Heritage Indonesia akan dijelaskan. Sebenarnya jaman dulu, dana untuk membuat komik ada, pemberdayaan komik itu ada, tapi uang itu dipakai untuk proyek asal membuang dana, komiknya selesai tapi tidak didistribusikan. Waktu itu komikus dijanjiin honor yang besar, ternyata honornya tidak diberikan. Hingga pernah suatu kali Pak Hasmi diancam dalam pistol segala. Kenapa kita harus membuat komik tentang Yogya? Menurut saya tantangannya terlalu kecil. Mungkin bikin komik tentang kraton, tapi tidak melulu tentang tema kebesaran raja, komik kraton alternatif. Jadi hal-hal tabu yang ditutupi di kraton selama ini bisa ditampilkan di komik. Membuat komik memang sulit. Nah bagaimana kita sekarang memupus mitos tersebut. Insyaallah Januari saya akan membuat komik trilogi Sandora, proses kreatifnya gimana dan sebagainya dan seterusnya. Kebetulan Sandora menggunakan wajahnya Ibu Wied Sendja, seorang penari yang tinggal di Solo. Kita menggali semangat-semangat komikus lama dan semoga almarhum bisa tenang. Di Malang juga ada komik nabi-nabi, penggiatnya antara lain Samsuri, Eros, Ema Wardana dll. Saya pingin mengundang mereka tapi takut, karena nanti sampai di Yogya dan ketemu dalam forum diskusi seperti ini, mereka menjadi minder. Karena walau bagaimana pun, kualitas seperti komik nabi-nabi pun,untuk di Malang industri komik masih berjalan. Walau pun dengan komik nabi, mereka bisa umroh dari bikin komik. Mereka handal dalam membuat ilustrasi, anatomi, cuman perbendaharan di cerita mereka lemah. Mungkin bisa ada tim penggodok cerita dan mereka yang menggambar. Kenapa karya sastra selalu ada launching tiap terbit, karya komik juga bisa seperti itu (intinya adalah perlu memikirkan sisi pemasarannya). Kasus lain, tragisnya komik di Indonesia contohnya Jawa Pos sempat memuat komik Sandora, tiba-tiba dihentikan baru sampai episode tertentu sama Jawa Pos tanpa ada pemberitahuan dan diisi dengan iklan. Seandainya saya jadi komikusnya saya pasti sakit hati. Bapak Teguh sempat demo dan tidak sempat terdokumentasi, karena Jawa Timur lebih memperhatikan olahraga sepakbolanya. Kita bisa bikin bursa komikus, kartunis biar hidup, pekerja komik biar bisa kumpul semua. Kita buktikan bahwa Yogya sebagai ibukota komik. Karena saya yakin event ini hanya milik kita dan bagaimana caranya bisa menjadi milik masyarakat Yogya, milik semua.
Yuswantoro Adi: Saya inget suasana kayak gini ketika jaman masih muda, OSR (Obrolan Seni Rupa), bisa ngobrol apa pun tentang seni, berhenti tahun ’91. Dihidupkan lagi oleh Yustoni Volunteero (aktivis Taring Padi), dengan forum adu goblok. Mungkin Samuel bisa mulai menghidupkan forum seperti ini kembali. Ingin berbagi informasi saja, bahwa represi pemerintah sampai saat ini pun masih ada. Sebagai contoh lukisan saya pernah di tawar oleh Gramedia untuk buku pelajaran sosial untuk kelas 10. Sudah deal, sudah tanda tangan, tiba-tiba nggak jadi, saya rugi 2 kali, rugi nggak dimuat dan rugi nggak dibayar. Sesungguhnya komik menjadi mahluk asing ketika tidak ada saling menyapa. Di Yogya kan kotanya kecil, dekat dan bisa saling berinteraksi. Saya harap Yogyakarta bisa menjadi ibukota seni rupa, tidak hanya ibukota komik. Untuk itu kita tidak menunggunya, tapi harus merebutnya. Kadang temen-teman lebih ekspresif di komik daripada di lukisannya. Contoh pamerannya Abdi Setiawan di LIP tentang penggunaan kondom, itu efektif dan kena sekali. Di bekas Gampingan tidak hanya museum, jadi temen-temen komik bisa mengajukan proposal untuk bisa berkantor di sana, banyak ruang yang bisa dipakai. Jadi untuk menjadi museum itu masih jangka panjang, jangka pendeknya adalah Gampingan menjadi ruang kebudayaan kembali. Komik Indonesia sekarang itu nggak se-nggetih (mendalami profesinya dengan intens sekali) jaman dulu, nanti kalau tidak laku bagaimana dan arahnya masih ke kartun, padahal komik tidak selalu kartun kan. Kalo soal ide saya percaya, banyak komikus yang jenius. Saya kurang tahu istilah kurang nggetih ini tepat atau tidak.
Samuel Indratma:Persoalan yang selalu muncul terus-menerus, bagaimana logika bertutur komik Indonesia di tengah halaman. Bagaimana naskah-naskah yang perlu dibangun kembali? Bagaimana merancang sebuah logika, kalau pun bertutur secara naratif, apakah perlu ada perkawinan (senirupa dengan sastra/teks)?
Afrizal Malna: Komik sangat progresif untuk hubungan antara seni rupa dan sastra, salah satunya. Komik tidak punya beban sebagai karya seni atau tidak, karena kalau punya beban menjadi lucu. Dia bisa menjadi sangat luwes bergerak dimana. Komik bisa dibangun dari materi-materi lain, dia bisa mengejar ketidakmungkinannya, kemustahilannya sendiri, tidak saja berhenti seperti yang kita definisikan sekarang. Untuk bahan-bahan di Indonesia banyak sekali, karena sejarah kita masih diadposi sejarah kolonial, untuk itu, komik saya harap bisa mengatasi ini. Komik bisa mondar-mandir tidak ada masa depan atau masa belakang. Enak sekali main-main seperti itu dengan media komik. Asyik ya komik itu. Banyak pengalaman soal provokasi visual. Untuk komik-komik etnis bahannya banyak. Komik ini kan dia kan keluar dari bahasa Indonesia yang baik, keluar dari seni rupa yang baik juga, dia memang anti mainstream, tidak ada standarisasi. Saya kira perlu ada perkawinan, bagaimana seni rupa bisa menaklukkan teks dan sebaliknya. Bahasa komik perlulah bahasa komik. Bagaimana sebuah karya sastra diangkat dalam bahasa komik.
Ma’il: Banyak sekali saya ingin menanggapi sampai saya lupa. Tapi saya setuju sekali kalau diadakan kayak bursa komikus. Karena sering saya dengar, teman mengeluh ‘wah aku nggak dapat partner’, nggak dapat naskah bagus, atau colourist yang keren. Penekanannya bukan pada masalah mempertemukan komikus dengan penerbit, itu nantilah kalau produknya sudah banyak, nggak mungkin penerbit tidak memperhatikan komikus, karena ada uang di sana. Urusan penerbit sebenarnya sangat sepele, gampanglah cari penerbit. Jadi temen-temen komikus tidak perlu ngeri dengan masa depan komikus. Yang seperti tadi Mas Yus bilang, komikus sekarang kurang nggetih, saya setuju. Setiap kali saya evaluasi diri saya sendiri, saya kok masih males-malesan. Kalau punya ide mau bikin untuk satu karya, atau mau bikin riset itu kok males banget. Nah itu saya akui. Saya berharap dari kumpul sebentar ini, saya pikir sudah banyak ide. Dulu sempat anak komikus takut ketemu sama anak ISI.
Rain Rosidi: Kalau saya lihat mulai dari jaman beberapa tahun lalu komik di sini mulai ramai. Komikus yang sifatnya sangat individual, indie dan spontan. Yah itu cukup bagus. Keinginnan saya sebagai seorang akademisi dimana situasi komik jangan seperti sinteron, kekurangan naskah sehingga diulang-ulang, hal-hal tabu bisa diangkat sedemikian rupa dan tidak eksplisit, mungkin bisa kolaborasi atau kawin antar komikus, jangan takut ketemuan antara komikus dengan akademisi, itu saya pikir bisa dilakukan dan tidak berat. Jadi ada pengayaan naskah yang sifatnya memperluas komik. Atau juga bisa mengadaptasi film, wayang dan sebagainya. Jadi saya kira naskah dan ide itu banyak, banyak cara bisa dilakukan juga, tinggal bagaimana program apa yang ingin dilakukan.
Samuel Indratma: Saya pikir adalah persoalan yang bisa digarap bersama. Komik kan ada ilmu interior juga kan, bagaimana memikirkan ruang di sana. Itu juga menarik di sana. Bagaimana membentuk dan mengembangbiakkan masyarakat kritikus, kurator, editor komik itu sendiri juga. Pengalaman komunitas Urek-urek bisa menjadi menarik untuk diceritakan, walau pun hasil akhirnya bukan komik tetapi animasi.
Urek-urek_1: Komikus itu menjadi kritikus sastra yang baik. Artinya dia akan menguji visual dalam karya sastra. Bagaimana divisualkan dalam story board sebelum menjadi film, misalnya seperti itu. Jadi komikus punya peran. Sedikit-sedikit saya mengamati tentang perkembangan komik. Komik kita pernah dipukul habis, setelah itu mulai muncul kembali, artinya waktu itu komikus belum sampai tahap industri. Nah sekarang masih di dalam inkubator kerja kebudayaan itu, yang seharusnya bisa menelurkan reposisi sebelum masuk ke wilayah industri, dia punya bargaining. Dalam kesempatan masa inkubasi (yaitu di dalam event Urban Piktoral+TBY) ini saya pikir kesempatannya akan lebih kuat, sehingga tidak ada overlap antara bahasa komik dengan bahasa sastra. Bagaimana satu visual tidak bercerita dua kali (sisi visual dengan sisi teksnya), tetapi saling mendukung. Jadi efektifitas gambar memang diperlukan dalam industri, ketika prinsip-prinsip ekonomi dijalankan, nah itu berbeda antara kita yang lebih mengedepankan ekspresi visual dengan prinsip ekonomi tersebut.
Bambang Shankuntala: (Pertanyaan dari Samuel: apa yang bisa dikerjakan bersama?) Masih memperhatikan masalah represi dari pemerintah. Komik bisa bermain dalam permasalahan yang cukup kompleks, misalnya politik makro. Nah agak susah bagi para komikus ketika bekerja sendirian. Jamannya Pak Teguh itu eksplorasi dan riset dikerjakan sendiri dan memahami betul situasinya. Dan biasanya ketika saya membuat komik akan saya baca kembali dengan posisi seandainya saya aparat pemerintah. Sehingga sampai pada firasat saja, kira-kira ini lolos atau enggak. Mungkin perlu mengkondisikan membuat komik sebagai suatu kebutuhan. Kalau bisa sampai pada tahap itu, orang akan bisa hidup dari komik.
Samuel Indratma: Strateginya apa dan bagaimana?
Bambang Shankuntala: Komikus sebenarnya harus mempunyai kemampuan yang lengkap seperti seorang sutradara, dia harus punya referensi yang cukup banyak. Sehingga dalam kebutuhan karyanya nanti akan menyentuh kebutuhan dasar penikmatnya. Terutama dalam hal kemampuan untuk membentuk opini publik.
Samuel Indratma: Misalnya diajukan adanya workshop reguler? Apakah menarik? Ada ide yang lain?
Wawan: Saya ini tepatnya bukan komikus atau pengamat komik, tetapi tetangga komikus. Saya datang ke sini supaya lebih tertarik akan komik.
Ma’il: Budaya kritik di Indonesia itu tidak hidup, karena sempat ada forum diskusi dan kritik komik tetapi teman-teman komikus menjadi marah. Sehingga terkesan teman-teman Yogya itu kebanyakan komentar. Mengharap bisa menghidupkan forum kritik mengenai komik. Mungkin ini bisa mendukung bursa, teman-teman di Jogja Komik Society ada ide untuk bikin kalender (mulai Maret 2007-Maret 2008), nanti rencananya teman-teman komikus diharapkan bisa ikut bursanya di situ, jadi mereka bikin satu lembar, dibanyakin visualnya. Nah ini dibutuhkan 367 komikus. Kira-kira ada tidak yah komikus sebanyak itu di Yogya? Kalau tidak ada apakah memungkinkan penulis naskah tampil di situ? Kira-kira bagaimana forum?
Selanjutnya obrolan teknis pelaksanaan.
Urek-urek: Energinya kan sudah tinggi di sini. Mungkin bagaimana komik ini bisa menjadi satu bidang ilmu, didorong supaya komik bisa menjadi ilmu. Persoalannya di seni rupa, di Indonesia itu selesai di metode, itu belum ilmu.
Rain Rosidi: Untuk menjadi ilmu tidak harus tugas seorang akademisi, bisa dibangun dari bermacam sisi, akademisi bisa berperan karena memang dia di bidang itu, tapi di luar kampus, itu juga bisa membangun konstruksi ilmu itu.
Dani: Saya sering mengamati gini, kenapa hanya ketemu di ruang seni, komik itu hanya menjadi bahan diskusi. Kita ingin komik ke arah diskusi, kita harus action, kita harus keluar dari habitat seni rupa. Jangan bikin pameran komik di kampus ISI lagi misalnya. Agar kita nanti kebagian job-job komik. Mungkin banyak orang yang pingin tahu tentang komik, mencari komikus, tetapi mereka tidak tahu dimana.
Urek-urek: Kesiapan memang tidak ada di kita.
Dani: Saya punya ide begini, mbok kita awali bikin komik-komik cerita rakyat, saya siap pasarkan. Kemudian yang lain adalah untuk menikmati Sandora, tidak lagi dalam bentuk buku komik, tapi bisa berbentuk CD (komik CD) dilengkapi dengan backsound, mungkin ini nanti bisa menjadi komik alternatif baru.
Samuel Indratma: Kita bisa merancang negosiasi dan strategi.
Diskusi diakhiri karena sudah menjelang maghrib, belum ada kesimpulan dan aksi seperti apa selanjutnya. Hanya ada catatan-catatan apa saja yang harus dilakukan untuk lebih mengembangkan media komik menjadi lebih baik ke depan.
Ruang Publik Boleh Langka, Asal Jangan Ruang Komik
(Pengantar Buku Jogja in Comic) oleh St Sunardi
Buku Jogja in Comic merupakan kumpulan lima karya komik terbaik dari kompetisi komik yang diselenggarakan oleh Taman Budaya pada awal 2006. Komik pertama “Gobak Sodor Swaijining Komik” menggambarkan rasa frustasi anak-anak karena ruang-ruang bermainnya semakin menyempit, kalau bukan lenyap. Dalam “Kota Seni”, komik kedua dilukiskan seorang tukang bakso yang ternyata lebih melek seni daripada seorang mahasiswa yang tidak tahu apa yang dilakukan untuk mengisi waktu kosongnya kecuali sibuk membaca buku porno. Komik ketiga, “Marini, Masih Ada Jathilan yang Lewat”, berisi cerita tentang orang yang sudah terasing dengan seni-seni tradisional. “Selamat Datang di Kota Revolusi”, komik keempat, melukiskan sejarah heroisme kota Jogja sambil menunjukkan seakan-akan orang-orang Jogja sudah bebas dari penjajah padahal belum. Komik terakhir yang berjudul “Brondoyudo Manyun Binangun” (Plesetan dari Barata Yuda Jaya Binangun) memperlihatkan sisi lain dari Yogyakarta. Konflik antar ‘gang’ di Malioboro untuk memperebutkan lahan.
Persoalan ruang bermain anak, kedudukan Jogja yang merana sebagai kota seni keterasingan orang jaman sekarang dengan seni-seni tradisional, krisis herorisme jaman sekarang, dan keruwetan Malioboro semuanya bukanlah isu baru, semuanya sudah banyak dibicarakan entah di media, di ruang-ruang seminar, dalam kampanye pilkada, mau pun di obrolan ringan di berbagai tempat. Kalau tema-tema itu muncul lagi dalam kumpulan komik ini, hal itu menunjukkan bahwa persoalan-persoalan tersebut memang menjadi persoalan nyata. Isu-isu diangkat kembali lewat medium komik. Hasilnya? Ada nuansa baru. Suasana gemas sangat dominan. Suasana ini pertama-tama kita rasakan lewat ilustrasi daripada pesan tekstual. Trotoar untuk pejalan kaki sudah diserobot untuk kendaraan bermotor, hiruk pikuk biennale dan events kesenian lainnya ternyata belum berhasil menggugah warga untuk melek seni, Malioboro yang disediakan sebagai wilayah untuk rileks ternyata dikotak-kotak oleh kekuatan-kekuatan invisible, dan sebagainya. Dalam perasaan gemas ini para kontributor buku ini mencoba untuk bersikap comical, mengambil jarak, menghela nafas. Jenis komunikasi inilah kiranya yang bisa kita apresiasi dari kehadiran kumpulan komik tentang Yogya.
Orang bilang, budaya pada dasarnya adalah komunikasi. Kalau komunikasi sudah tidak subur lagi, bukankah kita harus mencari cara dan medium komunikasi baru? Untuk mengapresiasi komik ini sebaiknya kita juga menempatkannya dalam konteks kejenuhan medium komunikasi yang ada. Konon kemunculan komik (mungkin proto-komik) terkait dengan para ilustrasionis “nakal” Abad Pertengahan di Barat yang tugasnya hanya memberi ilustrasi (dan dekorasi) pada buku-buku sehabis disalin, entah buku-buku keilmuan mau pun buku-buku keagamaan. Akan tetapi lama-lama mereka “berani” memberikan berbagai ilustrasi yang bernada setengah mengejek. DI situlah dimulai ruang bertanya (-tanya) dengan menggunakan ilustrasi. Jadi komik rupanya lahir dari kebutuhan untuk mengomentari apa saja yang sudah mapan. Orang tidak mau lurus-luruh saja. Fungsi komik ini masih kita rasakan sampai sekarang. Dalam hidup senantiasa ada sudut-sudut yang bisa dipertanyakan walau pun getir dan tidak semata-mata untuk dijelaskan dan diperintahkan. Di situlah komik hadir. Komik bukan semata-mata cerita bergambar atau gambar bercerita namun sejenis sikap hidup tertentu. Jenis ini kita beri nama komik.
Sehubungan dengan itu saya mempunyai satu catatan panjang sekaligus komentar untuk mencari jenis komunikasi yang kita cari bersama lewat komik.
Kini komik entah disebut seni atau bukan – sudah menjadi medium komunikasi penting dan meluas. Dulu komik dianggap sebagai bacaan ringan malah tidak bermutu sehingga banyak anak dilarang oleh orang tuanya untuk membaca komik. Banyak anak terpaksa sembunyi-sembunyi membaca komik. Sekarang? Semuanya berubah. Orang semakin yakin bahwa komik memang medium komunikasi yang ringan namun persoalan yang diangkat tidak senantiasa ringan. Oleh karena itu sering kali orang memilih medium komik untuk membahas hal-hal yang serius.
Hal ini pernah saya alami pada awal tahun 1990-an ketika saya mendapatkan oleh-oleh berupa komik Nietzcshe for Beginners. “Ah kurang kerjaan kapitalisme buku ini”, pikirku. Begitu saya buka-buka sambil dibaca secara cepat, saya tidak bisa tidak mengatakan ‘Dahsyat!’ Benar-benar comical. Berbagai idiom Nietzcshean yang selama ini saya kenal muncul dalam bentul-bentuk ilustrasi di luar bayangan saya. Saya lalu mulai mencari-cari siapa gerangan penulis dan ilustratornya. Karena, pikirku, tanpa menyelami betul semangat Nietzsche, niscaya mereka tidak mungkin menghasilkan komik Nietzsche yang ekspresif, kaya dengan emosi. Malah untuk beberapa tema, komik ini jauh lebih bagus daripada buku Nietzcshe sendiri! Bagi pembaca karya ini memang for beginners (untuk pemula), namun bagi penulis dan ilustrator, ini bukan for beginners. Ini hanya mungkin dibuat setelah mengendap. Betapa persoalan-persoalan serius yang selama ini membuat kepala pening bisa dijelaskan dengan riang jenaka dan... kena! Ungkapan-ungkapan klasik yang diramu dan dikombinasikan dengan ilustrasi menarik. Komik mengajak kita untuk tidak berlama-lama bicara tentang sesuatu namun juga mengajak kita untuk cepat-cepat mengambil sikap.
Nietszche for Beginners hanyalah satu di antara seri For Beginners yang mengalir ke Indonesia dan malah sebagian besar sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Komik ternyata tidak hanya diadopsi oleh dunia akademik. Kelompok-kelompok gerakan (misalnya gerakan perempuan) juga sudah menggunakan komik sebagai medium komunikasi. Berkat komik, gerakan perempuan di Indonesia lebih mudah dipahami oleh orang-orang di Indonesia. Dalam Politik dan Gender yang diterbitkan oleh Yayasan Seni Cemeti, kita juga menemukan biografi seorang perupa Arahmaiani dalam bentuk komik. Komik rupanya sedang menjadi fashion. Komik sebagai medium komunikasi mulai dikagumi orang yang mungkin sudah mulai bisan dengan jenis-jenis medium komunikasi yang ada.
Dalam peta perkomikan seperti itulah kita bisa membaca Jogja in Comic. Kumpulan komik ini bisa kita tempatkan dalam berbagai medium komunikasi yang sudah ada di Jogja. Sebagai kota pelajar dengan ratusan perguruan tingginya, sebagai kota revolusi dengan berbagai cerita kepahlawanannya, sebagai kota pariwisata dengan berbagai kisah eksotisnya, dan sebagai pewaris kerajaan Mataram dengan status keistimewaannya, Yogya niscaya memiliki berbagai medium komunikasi untuk terus-menerus mengenal jati dirinya, merumuskan masalanya dan merancang masa depannya. Di tengah-tengah kekayaan medium komunikasi ini ternyata komik bisa menjadi salah satu medium menarik. Imaji ilmiah, imaji heorik, imaji eksotik, dan imaji struktural masih perlu dilengkapi dengan imaji comical. Imaji comical inilah yang sedang dibangun oleh Jogja in Comic. Memang di sana-sini saya masih melihat kuatnya hegemoni negara dalam komik ini (terutama lewat teks) namun tidak demikian halnya kalau kita melihat aspek visualnya.
Dari catatan panjang itu saya menjadi tidak khawatir dengan isu yang dibicarakan dalam komik itu sejauh ruang komik terus-menerus dikembangkan. Pengalaman menunjukkan kita dengan mudah bisa menambah fasilitas dan ruang (fisikal) untuk komunikasi. Akan tetapi, apalah artinya fasilitas dan ruang itu bagi kemajuan komunikasi kalau tidak melahirkan imaji baru? Bukankah itu komik baru bagi kita? Ruang publik boleh menyempit, asal jangan ruang komik.
Yogyakarta, 12 November 2006
St. Sunardi
Ketua Program Pasca Sarjana Ilmu Religi dan Budaya
Universitas Sanata Dharma Yogyakarta