Saturday, December 17, 2016

Project Showroom #2 - Lapak Jumputan Candi Ijo

Sebuah kerja kemitraan antara UNESCO dan Tirana Art Management [TAM] di penghujung tahun 2016 (Oktober-Desember). TAM diminta untuk merancang dan mendesain interior 4 showroom kelompok dampingan UNESCO di kawasan Prambanan (2 showroom) & kawasan Borobudur (2 showroom).

Pada foto, salah satu showroom milik kelompok, yakni "Lapak Jumputan Candi Ijo". Yang sudah TAM make over dengan konsep "Youth & Colorfull".

Mengingat para anggota kelompok Lapak Jumputan ini didominasi oleh anak muda dan produk mereka penuh variasi warna; menarik dengan berbagai pilihan warna, ada banyak diversifikasi produk (kaos, pashmina, kain dll); maka konsep penataan display mengikuti karakter tersebut. Penataan display di showroom ini lebih berani menggunakan warna-warna solid seperti merah, kuning dan biru. Beberapa penataan produk juga akan mengikuti semangat kemudaan, antara lain dengan membuat gantungan untuk produk langsung dari plafon dan menggunakan material unik. Dikarenakan lokasi showroom ini berada diantara jalan kearah lokasi pariwisata Tebing Breksi dan Candi Ijo, maka showroom ini wajib memiliki banyak petunjuk arah.

Baca juga 
http://nunukambarwati.blogspot.co.id/2016/12/project-showroom-1-omah-batik-sojiwan.html

http://nunukambarwati.blogspot.co.id/2016/12/project-showroom-3-rumah-batik-borobudur.html

_______________________________________

LAPAK JUMPUTAN CANDI IJO
Tie-Dye, secara lokal disebut sebagai Jumputan, adalah salah satu metode tradisional yang digunakan untuk membuat motif pada kain. Untuk mencapai metode ini, pertama kain harus diisi, dibungkus, dan diikat dengan cara tertentu. Kain tersebut kemudian dicelup dengan cara mencelupkannya ke dalam larutan berwarna, menciptakan reaksi antara serat tekstil dan solusi warna. Pakaian dengan motif jumputan biasa ditemukan di wilayah Solo dan Yogyakarta.

Sebagai bagian dari program pemberdayaan masyarakat, yang berfokus pada dua dari Situs Warisan Dunia UNESCO di Indonesia (Kompleks Candi Borobudur dan Kompleks Candi Prambanan), UNESCO Jakarta telah memberikan bantuan teknis kepada masyarakat lokal Sambirejo Desa di wilayah sekitarnya Candi Prambanan.

Di bawah bantuan dari UNESCO, komunitas-komunitas lokal menerima bantuan mata pencaharian dengan pengembangan jumputan / tie-dye menggunakan motif dari relief Candi Ijo - candi Hindu yang berada di daerah Prambanan yang sangat terkenal dengan lingkungan yang indah, yang terletak di lereng barat bukit jauh dari daerah yang sibuk.

Dukungan yang diberikan melibatkan fasilitasi pelatihan teknis ketrampilan, pelatihan pengembangan bisnis, pemasaran dan pelatihan promosi, serta penyiapan showroom. Pada 2015, sebuah komunitas bisnis-kelompok baru didirikan dengan nama LAPAK JUMPUTAN CANDI IJO yang terdiri dari 15 desa Sambirejo dengan basis mayoritas perempuan.

LAPAK JUMPUTAN CANDI IJO
Nomor 26, Rt.003 Rw.018
Groyokan, Sambirejo
Prambanan, Sleman
Hp. 0819-2286-293 / 0812-2748-887

______________________________________

LAPAK JUMPUTAN CANDI IJO


Tie-Dye, locally referred to as Jumputan, is one of the traditional methods used to create motifs on a cloth. To accomplish this method, the cloth must first be filled, wrapped, and strapped in a certain way. The cloth is then dyed by way of dipping it into a coloured solution, creating a reaction between the textile fibers and the coloured solution. Cloths with jumputan motifs are common to Solo and Yogyakarta.



As a part of the community empowerment program, which focuses on two of UNESCO’s World Heritage Sites in Indonesia (Borobudur Temple Compounds and Prambanan Temple Compounds), UNESCO Jakarta has been providing technical assistance to the local communities of Sambirejo Village in the surrounding region of Prambanan Temple. 

Under the assistance of UNESCO, these local communities receive livelihood assistance with the development of jumputan/tie-dye using motifs from the reliefs of Ijo Temple – a Hindu temple located in the Prambanan area that is very famous for its beautiful surroundings, as it is located on the west slope of a hill far from busy areas. 

The provided support involves the facilitation of technical skill training, business development training, marketing and promotion training, as well as showroom setup. In 2015, a new community-business-group was established under the name of Rumah Jumputan Candi Ijo, consisting of 15 Sambirejo villagers with a female majority base.

Lapak Jumputan Candi Ijo
Nomor 26, Rt.003 Rw.018
Groyokan, Sambirejo
Prambana, Sleman
Hp. 0819-2286-293/ 0812-2748-887


Showroom Lapak Jumputan Candi Ijo sebelum di make over.

Showroom Lapak Jumputan Candi Ijo sebelum di make over.



Sektsa awal dibuat oleh Nunuk Ambarwati (Tirana Art Management)

Sketsa yang disempurnakan, digambar oleh Fitria Prawitasari, staf pengajar ATA YKPN

Showroom Lapak Jumputan Candi Ijo tampak depan.

Lapak Jumputan Candi Ijo tampak luar. Lapak ini berupa ruangan kecil berukuran sekitar 3 × 3 meter saja. Berada di Jl Candi Ijo. Bila hendak wisata ke Candi Ijo, Anda akan melewati lapak mungil ini.

Showroom Lapak Jumputan Candi Ijo tampak depan.


Pemilihan dekorasi yang warna warni sesuai konsep 'Youth & Colorfull'

Lapak Jumputan Candi Ijo memiliki konsep "Youth & Colorfull". Maka ketika Anda akan memasuki lapak mungil ini akan disambut kemeriahan warna warni produk jumputan atau dekorasinya. 😊

Detail salah satu sudut di showroom LAPAK JUMPUTAN CANDI IJO. Karena konsepnya "Youth & Colorfull" maka kami pilihkan material yang memiliki ragam warna & menarik dipadu padan.

Memakai tali tambang warna warni, kemudian disimpulkan pada sebuah corong air mini. Mix warna penting, misalnya tali warna hijau ketemu corong warna pink. Dan seterusnya.

Cara mendisplay kain yang digantung pun perlu diperhatikan; supaya jatuhnya meruang dan kain tetap terlihat motif jumputannya.



Interior yang colorfull.

Interior yang colorfull.

Detail interior desain, keranjang dari bahan enceng gondok.

Kunjungan Programme Specialist for Culture UNESCO, Bapak Bernards Alen Zako dan tim.

Kunjungan Programme Specialist for Culture UNESCO, Bapak Bernards Alen Zako dan tim.

Post a Comment