Wednesday, April 15, 2015

Perempuan & Mangir




'Perempuan dan Mangir'
Solo exhibition by Bagus 'Gonk' Prabowo
21 April - 21 Mei 2015
Tirana House, Jl Suryodiningratan 55 Yogyakarta.

Opening Act:
Monolog by Rizky Kates
Music Andra & Malve Music Frog Lab
Artwork collaboration with Sisir Tanah

Pameran bertajuk 'Perempuan dan Mangir' mengisahkan lakon-lakon di dalam drama Mangir karya Pramoedya Ananta Toer yang ditulis pada tahun 1976, berdasarkan cerita yang masih diingat oleh masyarakat Jawa Tengah. Pada saat pemerintahan Mataram, desa Mangir adalah wilayah Perdikan, wilayah yang bebas dari pajak. Warga Mangir mempunyai jiwa yang merdeka, suka bekerja keras, dan saling membantu, sehingga mereka bisa menjadi desa yang mandiri.

Panembahan Senapati mengirim putrinya, Roro Pembayun untuk memikat Mangir Wanabaya. pada saat tiba di Mangir, Roro Pembayun tertarik pada semangat kemerdekaan dan kemandirian desa Mangir, dan akhirnya jatuh cinta pada Wanabaya.

Pada saat pertemuan keluarga, Wanabaya dibunuh oleh Senapati di depan Roro Pembayun yang sedang mengandung. Setelah kejadian itu Roro Pembayun melarikan diri ke Pati. Di sana ia melahirkan anaknya, dan melanjutkan semangat kamardikan mangir dan menceritakan kisah perjuangan suaminya “mangir wanabaya” dan setelah anaknya besar, mereka juga ikut bertempur di Palagan Jepara 1618.


___________________________

Tulisan pengantar oleh Nunuk Ambarwati



Memperingati Kartini saat ini tak melulu dengan pakaian tradisi. Tetapi berbasic tradisi tetap bisa menghadirkan spirit Kartini. Banyak hal bisa terus kita perjuangkan untuk membawa misi dan visi Kartini meningkatkan derajat dan kesempatan kaum Perempuan. Bulan April memang bulan spesial bagi kaum Hawa. Tapi… siapa Mangir? Bagus ‘Bagonk’ Prabowo mengajak kita untuk mengapresiasi pameran tunggalnya bertajuk ‘Perempuan & Mangir’. Menurut pemaparan Bagus kepada saya, pameran ini melalui riset independen yang ia jalani bersama tim. Melakukan kerja historis dan artistik yang tak singkat dan harus dipikirkan dalam satu waktu. Hingga lahirnya presentasi karya rupa ini, ‘Perempuan & Mangir’.

Mangir atau dikenal dengan Ki Ageng Mangir Wanabaya, seorang pangeran, cucu dari Raden Brawijaya V. Legenda dan sejarahnya tak henti-hentinya diceritakan berulang kali dan sangat menarik dikisahkan kembali. Memang, kisah Mangir sendiri muncul dalam berbagai versi. Namun demikian, berbagai versi tersebut, kesemuanya memiliki data pendukung historis yang layak dipertimbangkan kebenarannya. Pameran ini membawa publik kepada pemahaman historis versi Bagus ‘Bagonk’ Prabowo dengan temuan-temuannya. Bagus mengaku memiliki temuan kisah versi lain, apa itu? Sebaiknya kita simak bersama melalui pameran ini. Pembenaran akan temuan tentunya bukan hal utama kali ini, tapi kerja keras, usaha, niat dan passion lebih saya hargai sebagai sebuah kecintaan terhadap sejarah bangsa.

Di balik sosok seorang Mangir, ada Sekar Pembayun, yang menjadi tokoh utama kedua di masa itu. Sekar Pembayun, seorang putri raja Panembahan Senopati. Melalui keelokan, ketrampilannya menari, kecerdasan juga kekuatannya tergambar sosok perempuan Jawa saat itu. Dimana ia harus patuh kepada ayah dan kepada suami, yang notabene suaminya adalah ‘musuh’ ayahnya, menjadi dilema yang sungguh tak mudah. Maka pameran ini diharapkan membantu meredefisinikan kekuatan seorang perempuan dalam kiprahnya dimana pun ia berada.

Mengemas cerita sejarah dalam bentuk presentasi karya rupa, memang bukan hal baru. Tetapi hal ini pantas diapresiasi sebaik dan selayak mungkin. Karena melalui presentasi semacam ini, kepedulian publik dan pemahaman akan wacana yang diusung, diharapkan menjadi lebih mudah. Bagi saya, pilihan menggunakan media keramik juga merupakan upaya menjunjung nilai tradisi dan kearifan lokal. Sejarah gerabah, tanah liat dan seni terakota Indonesia kembali diingatkan melalui pameran ini, sebagai salah satu kekuatan karya rupa kita.

Demikianlah, pameran ini mencoba mendekripsikan banyak hal, banyak faktor dan banyak sudut pandang. Semoga mampu menginspirasi penikmatnya. Selamat!

Foto-foto koleksi Dwi Rahmanto.







Post a Comment