Monday, April 13, 2015

Berkata lewat Kaca


Ivan Bestari Minar Pradipta di studio kerja, Wirobrajan, Yogyakarta.
Rabu siang, saya dan seorang teman, reporter sebuah surat kabar harian nasional, bertandang ke tempat kerja sekaligus rumah seniman yang mengolah limbah kaca.  Berada di ujung kampung Ngadimulyo, Wirobrajan, Yogyakarta; tempat kerja, atau studio itu memang tak seberapa luas. Disana kita bisa bertemu duo pemuda dengan latar belakang yang sama, yakni Desain Produk. Ada Ivan Bestari Minar Pradipta dan Yohanes Sigit, yang melabeli diri mereka sebagai komunitas Otak Atik Creative. Berdua mereka tinggal di sebuah rumah peninggalan leluhurnya, menyulap menjadi sebuah studio kerja sekaligus tempat tinggal. Di sudut meja tertentu berserakan serpihan kaca-kaca berbagai warna, sebuah tabung besar isi oksigen, tabung gas dan peralatan lainnya.  Siang itu Ivan dan Sigit meluangkan waktunya untuk berbincang tentang apa yang mereka telah lakukan selama ini.

Sunaryo saat meniup kaca labu tiga kepala. Foto diambil dari www.tempo.co
Semuanya berawal ketika Ivan melakukan KP (kerja praktek) atau magang di tempat ahli kaca tiup, Bapak H. Sunaryo di Condongcatur, Yogyakarta, di CV Glass Blower tepatnya. Bapak satu ini menggeluti secara otodidak membuat botol-botol, gelas dan peralatan lain untuk praktek di laboratorium kimia (pernah diliput http://www.tempo.co/read/beritafoto/2869/Peralatan-Laboratorium-Kualitas-Ekspor-dari-Condongcatur). Setelah kurang lebih 2 bulan magang, berawal dari sana, tercatat tahun 2011 akhir Ivan mulai menggeluti dunia kaca berlanjut hingga sekarang. Bersama rekannya, Yohanes Sigit, akrab dipanggil Sigit, mereka berdua membentuk grup/komunitas Otak Atik Creative. Masing-masing membagi ke dalam dua wilayah teknik pengerjaan yang berbeda. Ivan lebih banyak mengolah teknik kaca hot working (menggunakan api), sementara Sigit cold working (tidak menggunakan api).  Teknik hot working misalnya teknik yang menggunakan tungku, melelehkan kaca dengan api, fusing dan sejenisnya. Untuk teknik cold working contohnya seperti kaca patri (stained glass), sand blasting (teknik untuk kaca hias, emas atau membersihkan batu, logam dan lain-lain dengan mengarahkan aliran pasir), engraving, etching, cutting dan sejenisnya.

Cerita sedikit perjalanan seni kaca di Indonesia
Dari obrolan bersama mereka ini, ternyata perkembangan teknik mengolah kaca yang ada di Indonesia sangat jauh dari negara lain seperti Amerika. Sejarah seni kaca di Indonesia pun sangat jarang ditemukan; mungkin karena di Indonesia, lebih banyak mengolah batu (candi) dan tanah liat. Membaca perkembangannya di Indonesia, seniman kaca lebih banyak sebagai media untuk melukis (2 dimensi). Perkembangan di Indonesia sementara ini masih banyak berkisar pada seni lukis kaca dengan motif cerita wayang, masjid, gereja, kaligrafi dan cerita legenda. Sebut saja seniman lukis kaca senior yang kita miliki Rastika di Cirebon, Maryono di Muntilan, Waget di Magelang dan Sulasno di Yogyakarta. Saat ini, Rina Kurniyati dikenal sebagai seniman lukis kaca bergender perempuan yang mengembangkan seni lukis kaca lebih kontemporer. Baca selengkapnya di http://nunukambarwati.blogspot.com/2013/07/cinta-aksara-pameran-tunggal-lukis-kaca.html

Ada juga perajin kaca patri untuk kebutuhan memperindah rumah tinggal. 
Kerajinan kaca asal Jombang.
Atau dibuat asesoris, manik-manik kaca seperti yang sudah ditekuni para perajin kaca asal Jombang yang sudah terkenal dan mendunia. Para perajin kaca Jombang ini sudah menjadi sentra industri tersendiri, tepatnya di Desa Plumbon, Kecamatan Gudo. Menurut pengamatan Ivan, para perajin ini mengunakan alat-alat yang masih dibilang jauh dari teknologi tinggi. Mereka masih menggunakan kompor dan gas biasa saat melelehkan kaca. Para perajin juga jarang dibekali pengamanan yang memadai saat mereka sedang membentuk kaca. ‘Manik-manik Jombang ini berasal dari pecahan kaca yang kemudian didaur ulang dan diberi warna unik kemudian dibentuk menjadi aneka aksesoris’, sebuah kutipan tulisan blog. Baca selengkapnya di http://jombangcityguide.blogspot.com/2012/02/kerajinan-manik-manik-kaca-jombang.html

Perkembangan seni kaca kontemporer tanah air memang terkesan jalan di tempat. Seniman-seniman kaca sangat bisa dihitung dengan jari. Selain seniman kaca senior yang telah saya sebutkan di atas, ada juga Ign. Hening Swasono, seorang staf pengajar di ISI, Yogyakarta. Beberapa karya beliau dikenal mengolah kaca dengan teknik stained glass. Ada juga seniman Budi ‘Boleng’ Santoso, asal Yogyakarta yang sekarang menetap di Bali. Ia mengolah limbah botol kaca dengan teknik sandblasting. Bisa dibaca artikelnya di http://nunukambarwati.blogspot.com/2014/03/magic-bottle-budi-boleng-santoso.html

Foto diambil dari http://extremecraft.typepad.com/extreme_craft/2010/01/this-is-a-pipe.html
Nah, bila kita melihat, perkembangan seni kaca di luar negeri, sungguh sangat mencengangkan. Mereka bisa membuat bentuk-bentuk 3 dimensi layaknya ukiran indah, sangat artistik, limited product, fungsional maupun tidak, bisa mencampur warna dengan sangat baik dan membuatnya dengan skala hingga 1:1. Nah barangkali kita belum memiliki infrastruktur untuk menunjang teknik mengolah kaca sedemikian rupa di Indonesia. Padahal Indonesia kaya akan materi bahan baku untuk membuat kaca itu sendiri. Di Amerika bahkan ada museum khusus tentang seni kaca (glass art) yakni Corning Museum of Glass di New York (www.cmog.org). Museum ini menjadi salah satu inspirator terkuat bagi seorang Ivan.
Ivan saat melakukan demo mengolah kaca.
Selain menengok situs di museum Corning tersebut, Ivan mengaku juga sering mengamati teknik mengolah kaca melalui you tube. Yang menarik dari karya-karya Ivan dan Sigit adalah mereka mengolah kaca dari limbah. Pecahan-pecahan kaca mereka kumpulkan dari berbagai tempat dan tak sedikit. Kemudian mereka olah menjadi sebuah karya menarik, seperti perhiasan (liontin), pajangan, wind chime, vas bunga dan sebagainya. Karena keterbatasan modal, Ivan dan Sigit membuat sendiri (do it yourself/DIY) alat-alat untuk mengolah kaca-kaca tersebut. Karena keterbatasan alat mengolah kaca ini pun, Ivan sempat menyimpan karya-karya yang dibuatnya di tahun 2012. Ia simpan selama hampir 2 tahun. Tahun 2014 baru ia keluarkan untuk dikenalkan kepada publik. Alasan menyimpan selama 2 tahun ini untuk mengetahui ketahanan karya yang ia buat. Apakah pecah, retak karena sistem pendinginan yang tidak simultan. Mengolah kaca memang rentan persoalan thermal shock. Saat mengolah kaca, melelehkan kemudian membentuknya menjadi sebuah benda lain, bila sistem pendinginan tidak sempurna atau tidak merata, akan membuatnya pecah dengan tiba-tiba. Alat untuk mendinginkan material kaca ini pun tak murah. Bahkan Ivan mengaku, baru beberapa minggu ini bisa memakai kaca mata khusus untuk menahan pijarnya api. Bila tak memakai kaca mata khusus tersebut, mata tak akan tahan bekerja terlalu lama karena silaunya pijaran api. Kaca mata itu pun karena pemberian seorang teman yang dibeli dari luar negeri. 'Harganya mahal,' kata Ivan terkekeh.
Ini adalah karya-karya eksplorasi Ivan dengan teknik hot working. Ivan memanasi kaca yang akan dipakainya dengan suhu 800-1200 derajat. Ia jepit dengan menggunakan alat tertentu, sementara tangan satunya menarik, seperti gulali, ia mengulur kaca yang sudah lentur tersebut membentuk semacam anyaman. Untuk karya berukuran kecil, bisa ia selesaikan dalam waktu kurang lebih 1 jam saja. Karya-karya yang dihasilkan Ivan ini masih menggunakan warna asli dari kaca yang ia dapatkan sejak awal. Maka jika ingin mendapatkan warna kuning bercampur hijau, Ivan akan menggunakan dua jenis kaca tersebut. Sementara untuk warna merah, menurut Ivan masih sulit digabungkan dengan kaca warna lainnya. Sehingga hingga sekarang, Ivan selalu membuat warna merah berdiri sendiri.
Ini adalah salah satu alat yang dimodifikasi oleh Ivan untuk membantunya bekerja secara portable. Dengan alat ini, Ivan bisa melakukan demo atau bekerja di luar studio. Menurut Ivan, satu tabung gas habis dalam waktu kurang lebih 1 jam saat ia membuat karya dengan kaca. Dengan alat ini pun, Ivan bisa melelehkan batangan-batangan kaca dengan suhu 800-1200 derajat celcius.







Sementara ketika di studio, Ivan menggunakan tabung oksigen ini untuk mempercepat pengapian.










   

Regenerasi
Regenerasi perajin kaca atau seniman kaca memang menjadi perhatian tersendiri para pelaku saat ini. Misalnnya seperti Bapak Sunaryo, si glass blower, anak-anaknya bahkan tak ada yang berminat meneruskan usahanya. Padahal hasil karya Sunaryo sudah dikenal hingga manca negara. Sama halnya dengan sentra kerajinan kaca di Jombang. Menurut Ivan, saat ini para perajin sudah berkurang separuhnya, dikarenakan penerusnya lebih menyukai bekerja di bidang lain. Pelukis kaca dengan tema-tema tradisional seperti Sulasno dan Rastika juga dikhawatirkan tidak ada penerus. Sementara itu Ivan dan Sigit juga mengeluhkan hal yang sama. Ivan dan Sigit kesulitan menjadi sumber daya manusia yang memiliki passion yang sama dan mau berkarya bersama. Bahkan di sekolah setingkat SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) dan Insitut Seni Indonesia (ISI), Yogyakarta pun, seni mengolah kaca seperti yang dilakukan Ivan dan Sigit tidak diajarkan. Meskipun kita memiliki keterbatasan infrastruktur dan peralatan canggih, tetapi sumber daya alam kita sangat memadai untuk karya kaca ini. Pasar pun sebenarnya cukup menjanjikan bila kita terus bereksplorasi dengan media kaca yang langka ini. 


Interview Nunuk Ambarwati di Studio Otak Atik Creative, Yogyakarta, tanggal 8 April 2015.

Post a Comment