Saturday, November 11, 2006

Video Fresnoy!

NOTULENSI PRESENTASI KARYA DAN DISKUSI
“Perubahan Estetika, Budaya dan

Relasi Sosial dalam Era Konvergensi Elektronis”

Video Fresnoy!-
Yogyakarta International Videowork Festival (YIVF) #02, 2006

Organizer: The House of Natural Fiber (HoNF) dan

Lembaga Indonesia Perancis (LIP)

Tempat: V-Art Gallery, Yogyakarta, Senin, 06 November 2006


Pengantar:
Pada tanggal 1-15 November 2006 diselenggarakan festival karya-karya video dari 11 orang asal Indonesia dan 11 seniman asal Fresnoy (baca: frenoi), Perancis, sebuah studio nasional seni kontemporer; dengan title “Video Fresnoy! – Yogyakarta International Videowork Festival (YIVF) #02, 2006”. Kegiatan ini diselenggarakan dan diorganisir oleh Lembaga Indonesia Perancis (LIP) dan The House of Natural Fiber (HoNF) yang digawangi antara lain oleh Vincensius ‘Venzha’ Christiawan dan Irine ‘Ira’ Agrivina. Presentasi karya-karyanya sendiri dibagi dalam dua tempat, yaitu di Lembaga Indonesia Perancis (LIP) dan di V-Art Gallery. Berbagai acara pendukung digelar dalam rangkaian presentasi karya ini seperti diskusi yang diselenggarakan pada tanggal 6 November 2006 lalu di V-Art Gallery. Berikut notulensi diskusi yang berhasil digarap. Karena keterbatasan pemahaman mau pun penulisan pada saat proses notulensi, maka ada beberapa kalimat yang tidak utuh. Apabila ingin mengutipnya sebagai materi tulisan mau pun publikasi Anda, mohon gunakan secara bijaksana dan mencantumkan sumber dengan jelas, demi kenyamanan dan kepentingan semua pihak. Terima kasih.


Program video dan sinema karya 11 seniman yang hidup di Perancis dan diproduksi oleh Le Fresnoy, studio nasional seni kontemporer. Apakah seni kontemporer yang terbukti digarap secara mendalam melalui bahasa sinematografis atau sinemalah yang mencari dari sisi seni kontemporer suatu cara lain untuk mengolah gambar, suatu durasi lain yang sesuai untuk menampilkan gambar? Dengan demikian, karya-karya yang terpilih untuk program ini sekaligus mengungkapkan hubungan antar seni, batas-batas teritori video serta praktek-praktek relasional seni kontemporer dan sinema. Seleksi ini tampil dari satu paradoks, sama sekali tidak merefleksikan keseluruhan koleksi. Karya-karya ini mempunyai keindividualitasannya sendiri. Untuk menemukan koherensi karya-karya yang terpilih ini kita harus mencarinya di tempat lain. [dikutip dari buletin Voila, terbitan LIP, Yogyakarta, edisi #14, September, November, Desember 2006, halaman 7].
Seniman yang terlibat:vjnumberone tommy surya, electrocore! project istasius vincensius, dj wza stereowek-nulab, mario tagambe+errin citra, soundboutiqueforum, pito+terra, disko project, wok the rock, dj endo, wimo a. bayang, reddoor community, marie-laurie cazin, laura erber, maider fortune, laurent grasso, valerie mrejen, eric oriot, eric pellet, anri sala, carolina saquel, gregg smith, jerome thomas
Presentasi:
Marie Le Sourd
Direktur Lembaga Indonesia Perancis (LIP), Koordinator YIVF #02, Yogyakarta
Irene Agrivina
Head of Cultural Program the House of Natural Fiber (HoNF), Yogyakarta.
Pembicara Diskusi:
St. Sunardi, Ketua Program Pasca Sarjana Kajian Religi dan Budaya, Universitas Sanata Dharma (USD), Yogyakarta.
Budi Irawanto, staf pengajar FISIPOL Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta.
Nicolas Warouw, pengajar di Pasca Sarjana UGM dan USD, Yogyakarta.
Zamzam Fauzanafi, Antropolog Visual dari Rumah Sinema, Yogyakarta.
Christopher Chong, praktisi film eksperimental.
Venzha, pengelola YIVF #02, direktur HONF, Yogyakarta.
Moderator:
Ferdi Thajib, peneliti.
A. Sudjud Dartanto, staf pengajar Institut Seni Indonesia (ISI), Yogyakarta.
Notulen: Nunuk Ambarwati
Marie: Ini merupakan proyek pertama sejak saya tiba di sini. Bagaimana situasi video art di Perancis. Satu pertanyaan yang cukup bisa dijawab, 2 tahun yang lalu ada proyek di LIP juga mengenai video art. Video art mempunyai arti penting di Indonesia mau pun di Eropa. Pada dasarnya Fresnoy adalah sekolah video kontemporer di Perancis yang berdiri sejak 1997. Fokus pada video, film etc. Ada 5 atau 6 video, dikurasi oleh seorang kurator. Dia memilih video tersebut... Banyak sekolah video art di sana. Fresnoy merupakan sekolah terbaik dan cukup mahal, senimannya cukup terkenal, mempunyai fasilitas yang bagus. Ada video art movement di Perancis, situasinya sangat militan di sana. Ketika video mulai di Perancis awal tahun ’60-an, yang menyuarakan kebebasan, mempunyai pesan politik... Ketika kita melihat di sini... video art, banyak repetisi, banyak menggunakan images yang lama, menggunakan konsep recycling dan memasukkannya ke konteks lokal. Ide dari me-recylce images tersebut, banyak seniman memasukkan main subjects di video mereka. Dan terakhir, video art yang bersifat dokumenter, banyak menangkap situasi sehari-hari, banyak menceritakan tentang refugees di Perancis. Tidak banyak kata, banyak aspek dokumenternya. Sedikit mendeskripsikan situasi perkembangan video art di Perancis, sejarah film. Pada awalnya video banyak melawan pesan-pesan politik yang disampaikan pemerintah. Tapi sekarang video art banyak masuk ke wilayah seni visual kontemporer. Di Perancis banyak seniman/organizer untuk lebih membuat video art lebih familiar.
Irine/Ira: Proses pencarian à seniman yang tergabung untuk merespon Fresnoy à 11 seniman yang ikut menceritakan mengenai situasi keseharian. Untuk beberapa komunitas itu cukup awam. Sebagai contoh salah satu seniman yang berangkat dari background distro, mereka agak bingung dengan tema yang disampaikan organizer. Malah hasil yang didapatkan dari komunitas ini adalah video-video yang cukup fresh. Ketika digabungkan dengan video hasil dari seniman Perancis, seniman lokal cukup minder dengan itu. Penilaian tetap diserahkan kepada publik. Ke-11 seniman tersebut antara lain à bisa baca di brosur. Background mereka cukup bervariasi seperti dari DJ, distro, memang seniman video art dsb.
Ferdi: Video yang dihasilkan banyak bermain dengan teknologi dan bentuk dan menampilkan gagasan-gagasan keseharian. Bagaimana pola-pola new media art yang berlangsung di luar konteks Indonesia?
Christoper: Di Canada, background saya adalah sutradara eksperimental. Dan saya bekerja dengan menggunakan bantuan teknologi seperti kamera dan lighting. Pertanyaan selanjutnya adalah kenapa seseorang berkarya? Apakah untuk kepentingan atau didasari atas kepentingan sosial, politik dsb. Saya akan berbicara lebih banyak mengenai proses berkarya. Kenapa seseorang mulai membuat sesuatu? Yang pertama adalah saya menggunakan, filosofi yang pakai adalah... yang kedua adalah teknis apa yang akan saya pakai. Bagaimana korelasi karya saya dengan situasi di Malaysia. Pengalaman saya di Malaysia, saya masih terbatas untuk menyampaikan apa yang ingin saya sampaikan dalam video tersebut, seperti images apa yang akan saya pakai.
Ferdi: Presentasi selanjutnya oleh Venzha, mengenai upaya identifikasinya dikomparasikan antara di Indonesia dengan di luar negeri.
Venzha: Kenapa memakai kata ‘work’ – ‘internasional’. HoNF berinisiatif untuk menampilkan banyak video yang datang dari banyak tempat. Sangat sayang ketika video tersebut hanya di-screening saja. Tahun lalu dipresentasikan di beberapa klub di Yogyakarta. Disamping itu banyak side events, seperti workshop. Begitu banyak video yang datang dan harus melalui proses seleksi. Kenapa memakai kata ‘Yogyakarta’ à pelaku video art banyak datang dari luar Yogyakarta tetapi mereka banyak berkarya di Yogyakarta. Yogyakarta di sini tidak menginisialkan asal dari pelaku tetapi lebih pada wilayah berkarya. Kenapa ‘internasional’ à lebih familiar. ‘Videoworks’ ? Tidak bisa mengklaim mana yang video art dan mana yang bukan. Karena banyak macam dan tema.
Untuk tahun ini, LIP dan HoNF kita melihat kemungkinan2 apa yang bisa dilakukan. Untuk kali ini kita cukup mempresentasikan seniman Perancis dan Indonesia. Khusus di Yogyakarta kita mengadakan side events seperti ini, ada diskusi, workshop, screening, VJ gathering, kolaborasi dengan seniman lokal (Yogyakarta). Total ada 22 karya. Kami membaginya 50:50 antara di V-Art Gallery dan di LIP. Kenapa membuat ‘videoworks’ workshop, banyak yang mengasumsikan bahwa art itu ‘tinggi’ untuk mereka. Untuk itu tujuan workshop ini adalah berusaha ‘mencairkan’ mindset tersebut, seperti bagaimana menganalogikan effects dan sebagainya dengan teknik yang sebenarnya bersifat sangat dasar. Digitalisasi proses membuat karya video banyak berdekatan dengan musik elektronik dan tidak bisa dipisahkan. Kami berusaha memperkenalkan peranan perkembangan teknologi yang sangat cepat dan aksesibel.
New media art? Apakah video sudah layak dianggap sebagai new media art? Kita jangan terpancang dengan kata art di situ. Banyak sekali makna/arti dimana hingga saat ini kita masih sulit mendefinisikannya. Video sebenarnya hanya salah satu medium. Dan masih banyak medium yang masih banyak yang bisa kita explore. Jadi dalam new media art banyak sekali cabang seperti game, script art dsb. Dimana perkembangan new media art itu sendiri hingga kini belum selesai. Hubungannya dengan festival ini, video art merupakan bagian kecil dari new media art. Kita harus sadar dengan kondisi di Indonesia mau pun di Asia Tenggara, dimana selalu dikatakan bahwa digitalisasi adalah cerminan dari generasi seni media baru. Menurut kami, setelah 2 kali melakukan video festival, kami tidak melulu setuju dengan pendapat tersebut.
Sudjud: Memberikan referensi bacaan à tulisan dari Krisna Murti. Diharapkan ini merupakan forum untuk membicarakan mengenai new media art.
Ferdi: Kenapa kami mengundang banyak pembicara, ini merupakan gagasan dasar dari festival itu sendiri mengenai banyaknya ragam penafsiran mengenai new media art yang ada.
Sudjud: Bila kita membayangkan sama-sama ketika media video ini dikelola tahun ’70-an, ada seniman video bernama Nam June Paik. Artinya di Indonesia, sudah lebih dari 30 tahun perbedaan jarak antara perkembangan video di Indonesia dengan di luar. Seperti dikatakan oleh Marie, perbedaan situasi lokal di negara masing-masing, juga kekhasan yang dimiliki para pelaku video tersebut menjadi hal yang membedakan pula. Budi Irawanto seorang pengamat budaya visual akan mulai di termin kedua.
Budi Irawanto: Saya akan mulai dari statement terakhir dari Venzha. Saya akan sedikit bicara tentang medium video. Medium video tidak banyak diperbincangkan yang menjadi ekspresi seni/artistik seniman. Video baru dikembangkan di tahun ’50-an. Popularitasnya tahun 1965. Bagaimana video mulai dilirik oleh kalangan seniman untuk mengekspresikan gagasan mereka. Bagaimana video ini disebut sebagai militan. Potensi yang dimiliki oleh video, pada awalnya dianggap sebagai bagian menempel dari bagian perkembangan televisi seperti program berita. Tapi pelan-pelan menjadi suatu yang independen. Ada sejumlah nama yang sudah disebut tadi, seperti ada kelompok performance yang menggunakan video yaitu Fluxus. Pada mulanya video hanya digunakan sebagai media mendokumentasikan event. Tapi kalangan seniman melihat potensi media ini untuk dikembangkan lebih seperti yang digunakan oleh Heri Dono dan Krisna Murti sebagai medium ekspresi dan eksplorasi artistik. Kemudian muncul banyak perdebatan, apakah video ini dikategorikan sebagai seni atau tidak, banyak perdebatan yang menyertainya. Marie mengatakan jangan-jangan ini adalah gejala psikologis à narciss. Sebagai contoh karya video Wimo Ambala Bayang. Di satu sisi mengatakan sebagai gejala psikologis, sementara yang lain melihat sebagai gejala teknis. Isu tentang medium pada pusat perdebatan, bukan pada isinya. Dan video, ini medium yang sangat luar biasa karena sifatnya yang fleksibel, aksesibel. Video sendiri punya kemampuan untuk diaplikasikan dengan banyak hal, bisa bersinergi dengan komputer, handphone dsb. Di satu sisi ini menimbulkan ketidakjelasan sifat video ini kemudian. Maka tidak mengherankan new media art jantung utamanya adalah video itu sendiri disamping suara.
Dalam konteks festival ini, selama ini ada semacam anggapan bahwa seolah-olah ada 2 kubu (Yogyakartaà tradisional vs Bandung à modern). Penting untuk dicatat bahwa seolah-olah Yogyakarta gaptek untuk medium video dan teknologi. Sebagai contoh ke-11 karya di sini sangat luar biasa, dasarnya berangkat dari VJ, seni tradisional seperti wayang, desain dll. Festival ini menunjukkan bahwa medium video sudah sangat akrab dengan anak muda, bila dibandingkan dengan situasi 10 tahun yang lalu dimana chanel TV masih terbatas. Ini merupakan refleksi perkembangan teknologi itu sendiri.
Ada persoalan mengenai keterbatasan mengenai video itu sendiri. Seperti bagaimana harus ‘disimpan’, bagaimana ketika video tersebut masuk pada tataran mainstream yang bersinggungan dengan soal copyright. Disamping potensi-potensi yang dimiliki sifat video ini, tentunya ada hal yang harus kita perhatikan mengenai keterbatasan sifat video tersebut. Video meleburkan batas artistik dengan komersial, sebagai contoh program-program yang ditayangkan oleh MTV.
Nicolas Warouw: Presentasi dengan powerpoint.
Judul : “Kehidupan Sosial Teknologi (the social life of technology)”
Pengantar:
Teknologi-teknologi media tidak netral karena sesungguhnya setiap medium menghasilkan relasi-relasi sosial baru terhadap manusia dalam berbagai tingkatan.
Dengan demikian, pemahaman terhadap aspek fisik teknologi dan bentuk-bentuk mediasinya menjadi lebih utama daripada informasi atau pesan yang dibawa oleh teknologi media tersebut.
Masyarakat Indonesia, beberapa konteks:
Kontrol sosial oleh negara dan institusi kebudayaannya demi sebuah kohesi sosial.
Merebaknya konsumerisme akibat menguatnya ideologi pasar à budaya pop.
Teknologi dalam Masyarakat Indonesia:
Teknologi sebagai instrumen untuk memproduksi manusia ‘ideal’ dalam konstruksi negara à keseragaman tentang sains, rasionalitas, kekuasaan, (kajian Spitulnik dan Mrazek tentang ‘modern colonial space’).
Eksklusivitas teknologi media dekade 1980-90an à terasingnya (alienasi) manusia dari modernitas.
Konteks Kontemporer tentang Teknologi:
Aksesibilitas publik terhadap teknologi media.
Seni Video (dan Seni Media) yang sebagai bentuk pembalikan kondisi sebelumnya dimana kontrol diambilalih dari negara/masyarakat ke diri manusia (self) sebagai sebuah pleasure.
Pembalikan terhadap posisi subordinasi dan ketidakberdayaan untuk menghasilkan makna oposisional.
Penutup:
Seni Media merupakan media bagi seniman untuk mengapropriasi budaya pop yang dikendalikan oleh pasar.
Penegasan identitas generasi (yang modern dan melek teknologi).
Budaya pop menjadi medan pembajakan makna yang diciptakan oleh kekuatan dominan ke dalam konteks yang dimiliki oleh mereka tersubordinasi.
Menjadi sebuah gerakan kultural sebagai penegasan bahwa dominasi tidak pernah total.
Zamzam: Pameran ini hubungannya dengan penonton. Kalau kita lihat media bergerak (moving images) dalam pengalaman saya, bagaimana mengalami moving images tersebut. Riset yang coba diajukan ‘bagaimana film/sinema dialami bukan di bioskop?’ Teori/pendapat à tentang film-film pertama di Italia, bahwa membenarkan pengalaman menonton film adalah pengalaman seseorang berjalan di kota atau bergerak di kereta (deretan sinematografik). Pengalaman yang lain mengenai bagaimana menonton diorama, yang diasumsikan seolah-olah bergerak. Dalam konteks Indonesia, seperti apa pengalaman orang menonton sebelum sebuah film muncul. Semua pengalaman ini yang sebenarnya bukan pengalaman menonton film yang wajar à pengalaman yang terpenggal-penggal ini, menurut saya semakin terasa, semakin kuat saat ini dan tersebar dimana-mana. Bukan hanya menemukan film dalam situasi sinema konvensional (menonton dari awal sampai akhir dst). Pengalaman tersebut terasa ketika menonton pameran ini yang tidak bercerita apa-apa. Ini bukan lagi persoalan storytelling tapi lebih pada rangkaian-rangkaian images. Ini menjadi pertanyaan, ketika bicara multi images sebenarnya apa yang diperhatikan oleh penonton? Bahwa semata-mata bukan gerak itu sendiri, bukan obsesi terhadap gerak, ceritanya menjadi tidak penting. Tetapi biasanya dia tertarik kepada gerakan yang bertujuan, yang berkonsekuensi. Dan gerakan tersebut harus berdasarkan tindakan. Secara teknologis film itu diam, apalagi ketika film tersebut tidak menunjukkan aksi. Tetapi foto, meskipun itu sepertinya diam, tetapi ketika itu terpersepsikan ada gerakan yang berkonsekuensi akan menjadi sebaliknya. Pengalaman mengenai ‘gerak’ itu menjadi sangat subyektif.
St. Sunardi: Ada 3 hal yang ingin disampaikan mengenai fenomena new media art, dengan kerangka pertanyaan ‘sebetulnya apa yang terjadi saat ini?’ Yang pertama, kemungkinan pertama secara sosiologis, ini adalah peristiwa untuk mengelitisasi diri, terutama lewat media video. Video yang sifatnya memassifkan, pelaku (seniman video di sini) ini malah mungkin berlaku sebaliknya. Ini mungkin bagian dari pembentukan identitas.
Yang kedua, semuanya non sense. Dengan kata lain, sebetulnya kita tidak mengetahui apa-apa. Kalau dalam seni visual ada non representational painting, kalau di sini menjadi non communicated. Komunikasi macam apa yang terjadi? Mungkin ini menjadi semacam aesthetic of silent. Ketika fenomena seni video tersebut bergerak terus, mungkin kita menjadi tahu apa maksud kode-kode yang terus bergerak tersebut. Ketika dihadirkan caption yang sebegitu banyak, saran saya jangan membaca caption tersebut dan mungkin tema self narrative tersebut bisa masuk.
Tia (forum): Kalau bicara tentang new media art, sampai sekarang belum ada kesepakatan yang definitif. Hampir semua pembicara lupa, bahwa yang dibicarakan di sini ada budaya teknologi (techno culture). Kutipan (Andrew P) à ketika seniman menggunakan teknologi rekaman, jadi ekspresi media berkesenian itu diubah, dari yang bersifat performing menjadi direkam (recording). Jadi unsur otentisitas itu menjadi penting. Tia mengganggap organizer terlalu tergesa-gesa ketika meluncurkan statement mengenai representasi perkembangan new media art melalui festival ini. Hal yang baru dan perlu diperhatikan bahwa seni yang menggunakan teknologi membuka bentuk negosiasi baru. Ketika otentisitas tidak dipertanyakan lagi maka identitas menjadi tidak penting. Ruang-ruang negosiasi baru ini membentuk budaya-budaya oposisi, seperti melalui internet kita bisa melihat bagaimana komunitas yang belajar sendiri untuk mengakses pengetahuan bahkan ideologi mau pun yang bersifat iconic. Persoalannya adalah bukan seni yang estetis atau tidak, tetapi apakah muatan dari karyanya itu bisa di-share oleh seniman lain atau bisa mendorong satu bentuk kolaboratif atau pertukaran gagasan/nilai/pengalaman yang tadinya bersifat situasional menjadi milik bersama/publik. Ada derajat relativitas budaya yang absurd di sana, tetapi itu memungkinkan bagi seniman bahkan publik. Seni media baru ini menjadi satu bentuk discentring.
Dodo (forum): Yang menarik adalah sejauh mana ketika proyek ini dibaca sebagai kebudayaan? Bagaimana kebudayaan ini dinarasikan? Bagaimana hubungan antara seniman dengan intelektual? Bagaimana seni yang kontekstual ini mampu dibaca sebagai teks/dinarasikan oleh publik?
Ridwan (forum): Ingin menanyakan beberapa statement dari pembicara. Event semacam ini menjadi semacam gerakan kultural baru yang diharapkan bisa menandingi hegemoni kebudayan tertentu. Ketika St.Sunardi mengatakan peristiwa semacam ini tidak bisa menimbulkan satu pencerahan, bagaimana ketika publik awam yang tidak memiliki background apa pun mengenai media ini?
Budi Irawanto: Saya setuju dengan pendapat Tia. Selain techno culture bagaimana perkembangan budaya sosial (image), ketika kita dikepung oleh budaya visual dimana-mana. Bagaimana posisi kita, doing atau playing with technology. Yang saya tangkap dari festival ini, elemen bermain nya menjadi sedikit terlalu serius. Ruang itu tidak cukup diambil oleh para pelaku (seniman video di sini), tidak harus konseptual.
Zamzam: Tulisan saya sebenarnya mengupas mengenai bukan sekadar gerakan. Apa sebab munculnya ini dan apa konsekuensinya? Ini yang harus dibicarakan. Dan itu tercermin dari beberapa karya di sini. Banyak yang mengeksplorasi gerak dalam karya-karya yang dipresentasikan di sini.
Nico: Tentu saja kita tidak bisa menghindari bahwa ada kecenderungan elitisme. Hal yang lain juga kita tidak bisa menghindar dari bahwa ini tidak lebih dari perayaan gaya hidup yang ujung2nya menjebak kita dalam budaya konsumerisme. Yang saya garis bawahi adalah bagaimana seniman video di sini mencoba berekspresi untuk memindahkan pusat makna dari agen-agen negara untuk dikembalikan, memberikan ruang kepada siapa pun, dengan bahasa dan rasionalitasnya sendiri. Ini sebagai proses pemberdayaan, proses resistensi. Apakah itu bisa menghadirkan sesuatu yang radikal, itu bisa kita lihat nanti. Tapi terlebih yang bisa kita lihat adalah pada upayanya itu sendiri, bahwa kita tidak sepenuhnya bisa dihegemoni oleh pusat.
Sudjud: Kesimpulan sementara mengenai dua sisi yang bisa dihadirkan bagaimana persepsi yang optimis atau pesimis.
Krisna Murti (forum): Sebetulnya ada banyak hal yang didapat dari pameran ini. Yang penting adalah budaya media baru, dimana sebenarnya kita sudah berada dalam situasi budaya media baru itu sendiri. Bagaimana kita menjelaskan media baru sebagai budaya itu? Media baru itu ternyata ada urusan dengan perilaku baru, hukum-hukum baru, norma-norma baru, realitas baru yang muncul di sana. Ketika new media art ada medium video seperti muncul dalam pameran ini, sebenarnya kemunculannya sudah cukup lama, bagaimana perkembangan video game berkembang hingga saat ini. Video sering diartikan sebagai another film atau end product, yang menurut Krisna itu tidak benar. Padahal dalam kehidupan sehari-hari kita sudah mengenal media video dalam berbagai formatnya (video game, video calls, video interactive dsb). Penjelasannya adalah perbedaan peran kamera yang sangat berbeda ketika kamera jaman dulu, dimana saat ini fungsi kamera lebih dari sekadar merekam, tapi juga bisa menampilkan. Digital art itu berbicara mengenai interaktif, video itu tidak ditonton, tetapi bagaimana penonton dilibatkan di sana. Generasi sekarang ini tidak bisa melawan 100%, kadang-kadang pleasure, entertainment, kadang-kadang statement.
Alia (forum): Tertarik dengan isu yang dimunculkan Dodo. Setuju dengan pernyataan St.Sunardi. Ada proses komunikasi yang tersendat, kalau tidak bisa dibilang nggak nyambung. Dari diskusi ini saja, ada bahasa/cara berkomunikasi yang berbeda antara seniman, intelektual dengan awam. Di satu sisi setuju dengan Nico mengenai perayaan mengenai pluralitas. Persoalannya adalah juga tidak bisa dibiarkan ketika perbedaan ini didiamkan terus-menerus. Maka perlu dibangun ‘jembatan’ untuk berbagai bahasa/proses komunikasi yang berbeda ini. Yang perlu dikembangkan juga adalah sikap terbuka menerima perbedaan ini juga.
St.Sunardi: Tujuan statement saya, supaya kita menjadi honest ketika melihat karya-karya video di sini. Saya setuju dengan Budi. Teknologi dulu muncul sebagai ekstensi kebutuhan kita. Ini ada pembalikan di sini. Jadi teknologi dipakai untuk menjadi ‘saya’, tidak menjadi ekstensi. Seperti statement Warhol, I want to be a machine, tetapi begitu menelan teknologi tersebut mentah-mentah, malah tidak menjadi apa-apa, merasakan menjadi mesin itu menjadi tidak bisa kita rasakan lagi. Soal meaning, saya setuju dengan Zamzam. Kita mulai lagi dengan mengumpulkan kode-kode itu. Misalnya salah satu karya di sini yang bercerita tentang muncul dan tenggelamnya desire (bahasa verbalnya), apakah itu bisa berhasil disubversi oleh pengalaman visual kita atau tidak, atau malah sebaliknya? Itu kesulitan kita membuat kodifikasi.
Teguh (peserta festival): Saya lebih electronic musician. Pertanyaannya adalah seberapa wanted masyarakat lokal di sini mengenai festival ini? Seberapa apresiatif masyarakat menghargai teknologi? Karena saat ini, kebanyakan sekarang adalah bukan pemenuhan kebutuhan tapi lebih pada penyalahgunaan teknologi. Pengalaman membuat karya visual, ini merupakan karya pertama.
Sudjud: Aliaà bahwa budaya media adalah khas generasi yang melek teknologi.
Taufik (forum): Tertarik dengan kata gerakan, apakah yang menjadi, yang bisa membangun ke arah sana? Apakah memang ada satu bentuk komitmen? Adakah satu bentuk solidaritas menghadapi kemungkinan gerakan video art ini? Karena masyarakat sekarang seperti tanpa solidaritas.
Sudjud: Basis produksi generasi sekarang, apakah kalau itu memang pleasure bisa membangun semangat resistensi? Dimana perkembangan teknologi di sini belum maksimal.
Nico: Soal gerakan, mencoba memaksakan satu makna tersendiri sesuai subyektifitas saya sendiri. Kita harus bicara juga soal pengalaman yang terbagi. Kita masih sulit melihat ini sebagai suatu gerakan kultural. Bagaimana merayakan perbedaan tersebut dan menemukan satu platform. Suatu saat mungkin kita akan mempunyai sasaran kritik yang sama, hanya ketika kita menyadari bahwa ada persoalan tertentu dengan bahasa yang berbeda mungkin bisa menjadi suatu gerakan.
Zamzam: Hubungannya dengan penonton, apakah ini worthed atau tidak. Kenapa tidak ada workshop khusus untuk penonton? Apa gunanya festival ini buat penonton? Dimana sebenarnya ada kebutuhan untuk itu.
St. Sunardi: Kalau kita mau serius, kita harus mengetahui aesthetic of culture in the noise of culture. Dalam situasi yang bising ini pun kita tetap harus ngomong. Jadi kita harus mengelaborasi kediaman itu sendiri.
Budi Irawanto: Video sebenarnya adalah of the means of transendence... festival ini mampu melibatkan berbagai kalangan muda dengan macam latar belakang, dimana sangat berbeda situasinya dengan seniman video asal Fresnoy yang memang mempunyai background khusus tentang itu. Seberapa besar festival ini menemukan ciri khasnya/identitasnya.
Christoper: Dua hal, saya juga tidak mengetahui apa pun dalam karya-karya tersebut. Idenya adalah melihat apa saja dengan mencoba mengetahui apa saja. Kita tidak harus pada level yang sama untuk mengetahui satu sama lain. Kita berbicara dalam bahasa yang berbeda.
Marie: Kita menghadapi isu yang sama di Perancis. Bahwa event ini bagaimana peran kurator untuk membuat event ini lebih bisa dimengerti, aksesibel dan dipahami. Kita membutuhkan event untuk anak muda terutama yang bekerja dengan video, bagaimana media ini sangat familiar dan bisa dilakukan oleh siapa saja. Kita perlu mengambil jarak sedikit untuk bisa mengetahui apa yang dibutuhkan publik sebenarnya.


Post a Comment