Monday, November 20, 2006

6 Jam Di Gampingan

Oleh Nunuk Ambarwati
Pengantar
Meski pun acara ‘Melukis Lagi di Gampingan’ telah dimulai pukul 08.00 di hari Minggu, 19 November 2006 yang terik; saya baru bisa menghadirinya pukul 12.00 hingga 06.00 petang. ‘Melukis Lagi di Gampingan’ merupakan acara yang dirancang untuk mempertemukan seniman/perupa dengan Yayasan Yogyakarta Seni Nusantara sebagai pihak yang dipercaya akan membangun dan mengelola Jogja National Museum kelak. Event ini pun sebagai upaya fundrising dukungan terlebih kapital atas rencana berdirinya Jogja National Museum, yang akan menempati eks gedung kampus Institut Seni Indonesia (ISI) atau ASRI dulu. Menurut catatan penyelenggara, ada sekitar 500-an orang yang mendaftar, tidak melulu berasal dari Yogyakarta, berpartisipasi dalam event ini, baik menggunakan media cat acrylic, cat minyak, sketsa di atas kertas dan kanvas mau pun performance art. Bagi penikmat event yang berlangsung sejak pagi hingga petang tersebut disuguhi bervariasi acara seperti tari, musik, teater, melukis bersama, performance art hingga diskusi (ngobrol ringan) sekali pun. Berikut ini notulensi hasil diskusi yang sempat digelar selama kurang lebih satu jam.

Public Hearing atas Rencana Pembangunan Jogja National Museum
Kawasan Gampingan (eks ISI, Yogyakarta)
Minggu, 19 November 2006
www.gampingan-site.blogspot.com

KGPH Wironegoro a.k.a Mas Nico (ketua Yayasan Yogyakarta Seni Nusantara): Memberi gambaran dasar bagaimana Yayasan Yogyakarta Seni Nusantara/YYSN sebenarnya membentuk apa yang sudah terbentuk. YYSN saat ini masih tahap pembentukan siapa saja yang akan in charge untuk mengelola yayasan mau pun museum ini nantinya. YYSN berangkat dari masukan/bisikan dari teman-teman seniman. Karena lokasi mau pun gedung bekas kampus ISI (selanjutnya disebut kawasan Gampingan) tersebut banyak dilirik investor untuk menjadikan bangunan tersebut sebagai areal bisnis (mall, perkantoran dsb). Dan apabila hal itu terjadi, dunia seni akan kehilangan jejak sejarahnya. Ada visi, misi dan blue print yang dipresentasikan di sini mengenai rencana pembangunan museum yang bisa dilihat. Tetapi Mas Nico akan membuat forum yang lebih kecil dan intens untuk mendiskusikan arah museum seperti apa. Bisa terjadi forum seperti ini pun (event ‘Melukis Lagi di Gampingan’) dia sangat senang sekali.
Yustoni Volunteero (forum): Menceritakan kronologis bagaimana situasi bangunan setelah pihak kampus menyerahkan kepada Pemerintah Daerah. Dimana Yustoni Volunteero bersama komunitas Taring Padi-nya telah menduduki sekaligus menjaga fasilitas (listrik, air dan bangunan itu sendiri) di kawasan tersebut selama kurang lebih 4-5 tahun. Maka sangat disayangkan ketika kawasan Gampingan ketika berpindah hak kuasa ke pihak pemerintah daerah dan sempat terkatung-katung nasibnya, tidak jelas akan dipergunakan untuk apa. Apabila melihat blue print yang dipresentasikan, sepertinya akan banyak perubahan secara physically gedung itu sendiri. Museum seperti apa yang akan dibangun? Apakah museum an sich, yaitu bangunan dibiarkan tetap apa adanya. Atau museum sebagai tempat tampungan dengan visi misi yang jelas; bisa mengidentifikasi, mengkurasi dan menyimpan karya seni?

Kasman KS (forum): Kasman setuju akan didirikannya museum di Yogya. Tetapi jangan sampai museum berdiri dikuasai oleh orang-orang yang tidak jelas dan lebih penting harus obyektif.
Djoko Pekik (forum): Djoko Pekik sangat setuju dengan berdirinya museum, dan kalau bisa tidak hanya berskala nasional tapi bisa ke arah internasional. Tapi siapa yang akan membangun dan mengelolanya terus-menerus? Siapa yang akan menanam modal? Dia juga mengingatkan untuk memikirkan betul apa isi museum dan bagaimana langkah selanjutnya. Djoko Pekik sempat mengutarakan keberatannya ketika pada awal kegiatan ini, para seniman sudah ‘ditodong’ dengan harus menyumbangkan sekian persen (40 hingga 100%) dari hasil penjualan karya (= karya seni yang dibuat untuk event fundrising pembangunan Jogja National Museum). Keberatan ini didasarkan kepada, bahwa fungsi museum sebenarnya adalah men-support para senimannya, bukan malah minta support (dalam bentuk nilai kapital) dari senimannya.
GM Sidharta (forum): GM Sidharta senang sekali dengan niat mendirikan museum ini. Dan dia lebih banyak bicara praktis saja. Menurutnya, lebih baik langsung dibenahin saja. Mumpung ada donatur/investor yang siap membantu. Yang lebih penting dibangun dulu, mengenai isinya bisa dipikirkan dan dilaksanakan sambil berjalan.
Yuswantoro Adi (ketua umum ‘Melukis Lagi di Gampingan’): Menanggapi keberatan Djoko Pekik mengenai keterlibatan seniman untuk menyumbang prosentase hasil penjualan, menurut Yuswantoro hal tersebut diberlakukan untuk test case saja dan mengingat kondisi keuangan YYSN sendiri yang memang masih membutuhkan support. Seberapa besar seniman mau memberikan sumbangannya itu ada relevansinya dengan seberapa besar pula dukungan dan kepedulian seniman tersebut terhadap keberadaan museum nantinya. Sehingga itu menjadi alasan kenapa harus diberlakukannya sistem bagi hasil penjualan lukisan. Ditekankan pula oleh Yuswantoro bahwa hal tersebut bukan pada masalah mencari uang, toh membangun, membiayai sebuah museum itu juga tidak murah. Maka Yuswantoro sangat mengharapkan feed back dari quisioner yang telah didistribusikan.
KGPH Wironegoro/Mas Nico: Menguraikan mengenai masalah legal aspect untuk mengelola kawasan Gampingan tersebut. Pihak YYSN telah mengajukan proposal ke pemerintah provinsi (pem.prov) dan pem.prov telah memberikan ijin selama 3 tahun pada mulanya. Kemudian setelah dilobi, akhirnya mendapatkan kesempatan untuk mengelola 10 tahun pertama dan apabila disetujui kembali akan mendapatkan perpanjangan per dekadenya. Perihal fisik gedung di kawasan tersebut, beberapa bagian gedung memang segaja dibongkar/dihilangkan. Tetapi pembangunan museum itu sendiri akan lebih bersifat kosmetik, yakni tidak merusak bangunan inti. Perihal bagi hasil penjualan karya seni, YYSN lebih ingin mengajak keterlibatan para seniman. Kenapa berani mengelola tempat ini? Karena sebelumnya YYSN memiliki pengalaman mengelola Lokananta (posisi di Solo), yaitu sebuah studio musik, selama 2 tahun. Di sana banyak seniman musik besar dilahirkan, seperti Gesang dan sebagainya. Ketika pihak pemerintah daerah sudah tidak mampu mengelola Lokananta, pihak Yayasan berusaha memprovokasi pemerintah untuk mengambil alihnya. Dan ketika bisa diambil alih, selama kurun waktu 2 tahun tersebut, pihak Yayasan berhasil mengembangkannya. Untuk itu, sama halnya dengan museum yang nantinya akan didirikan, YYSN berharap ada hubungan yang harmonis berbagai pihak tanpa melihat hubungan ekonomis semata.

Kuss Indarto (Ketua Pelaksana event ‘Melukis Lagi di Gampingan’): Masih menanggapi mengenai bagi hasil yang diterapkan di event ini, lebih mengajak semuanya untuk hal artist social responsibility, sehingga museum bisa menjadi milik bersama bukan hanya menjadi milik swasta. Karena sebenarnya seniman juga sangat miskin pada akses-akses ke kekuasaan (pemerintah mau pun parlemen).

Elia (forum): Berharap agar esensinya tetap tapi cantiknya bertambah. Diperlukan referensi lebih banyak mengenai museum dan bisa menerapkannya di sini. Karena di sini belum museum minded, jadi culture tentang museum belum ada di sini.

Ali Umar (forum): Atas nama pribadi, Ali Umar memberikan acungan jempol kepada KGPH Wironegoro karena setelah kondisi kawasan Gampingan ini hancur, dimana hampir semua tidak peduli, dia malah mau membangun museum dan mengelola kawasan ini. Ali Umar mengajak untuk menghargai niat baik tersebut untuk bisa diterima terlebih dahulu, jangan hanya soal bagi hasilnya saja yang dikedepankan. Kita harus sama-sama belajar.

Basori (forum): Yang jelas ini kemampuan dan kemauan yang datang kesini. Gampingan ini mau dijadikan apa, laksanakan saja di sini. Siapapun itu enggak ada urusan. Secara hukum siapa yang memiliki Gampingan. Celotehan teman-teman seniman, bagaimana pun bahasanya tetap perlu didengarkan. Bukan hanya kalangan formal saja yang didengar. Melihat secara historis, keberadaan ASRI sebelum berubah menjadi ISI sangat luar biasa. Proses kreatif yang terjadi di kawasan ini pada kurun waktu tersebut juga sangat luar biasa. Basori sangat setuju apabila menjadi museum. Dan masalah setuju mau pun tidak setuju harus mempunyai alasan yang jelas.

KGPH Wironegoro/Mas Nico: Terakhir menekankan untuk semua pihak, termasuk seniman bisa berhubungan baik dengan semuanya.

* * *
Post a Comment