Wednesday, October 25, 2006

Q n A about Residency Program

Photo courtesy
Nindityo Adipurnomo,
"Who Wants Take Me Around",
Residency in Cardiff, England

Wawancara antara saya dengan 4 orang seniman Indonesia, Nindityo Adipurnomo, Iwan Wijono, Angki Purbandono dan Arie Dyanto. Wawancara ini dilakukan untuk mengetahui seberapa penting program residensi (pertukaran seniman) bagi seniman itu sendiri dan bagaimana program residensi yang diinginkan. Hasil wawancara ini memang sengaja tidak diedit, apa adanya. Pemilihan seniman yang menjadi responden pun cukup bervariatif, Nindityo Adipurnomo, perupa dan pengelola Cemeti Art House, jelas mempunyai banyak pengalaman melakukan program residensi baik di negara Asia mau pun Eropa. Sementara Iwan Wijono seorang performer artist, meski pun telah beberapa kali melakukan kunjungan ke luar negeri tetapi ternyata belum dapat dikatakan program residensi. Ada Angki Purbandono, seniman yang fokus di bidang fotografi, salah satu motor penggerak ruang alternatif MES 56 yang baru saja menyelesaikan program residensinya selama 1 tahun di Korea, dan merupakan pengalaman pertama baginya. Dan terakhir Arie Dyanto, salah satu personil kelompok Apotik Komik yang banyak bekerja di ruang publik mempunyai beberapa pengalaman menarik pula seputar program residensi yang bekerja di ruang publik. Apabila Anda ingin mengambilnya sebagai materi penulisan dan publikasi lainnya, mohon menyebutkan sumber dengan benar dan jelas. Terima kasih.



Wawancara melalui email:
Iwan Wijono, 11 Agustus 2005
Nindityo Adipurnomo, 11 Agustus 2005
Angki Purbandono, 5 Februari 2006
Arie Dyanto, 7 Februari 2006
(1) Apakah kamu pernah melakukan program residensi?
Kalau iya, tolong jelaskan dimana, kapan, berapa lama?

Nindityo Adipurnomo:

Residensi artist yang pertama di RIJKSAKADEMIE VAN BEELDENDE KUNSTEN, tahun 1986-1987, Amsterdam, Belanda. Tahun 1999, residensi selama 3 bulan di Bute Town Studio, Cardiff Wales, Sponsornya The Visiting Arts dan British Art Council London, Inggris.
Tahun 2002, residensi selama 3 minggu di Fukuoka Asian Art Museum, Fukuoka. Disponsori oleh Fukuoka Triennale II, Jepang. Residensi tahun 2004 selama satu bulan di Studio Joo Chiat Road 106, Lassale College of the Arts Siangapore. Disponsori oleh Post Graduate Programme dari Lassale, Singapore. Yang terakhir adalah paket residensi dan workshop kilat di Hong Kong International Artist Workshop. Disponsori oleh Art Trust and Triangle tahun 2005 di Hong Kong.

Iwan Wijono:

Aku tidak pernah ikut program residency, pernah coba yg UNESCO dll tapi selalu ditolak, nggak tahu kenapa, mungkin karyaku kurang standard kontemporer kali buat mereka, tapi aku ampe kecapekan untuk diundang langsung festival performance internasional di luar negeri, bahkan mereka sering tidak tanya aku mau ngapain,tidak minta proposal, mungkin kencing sambil minum Coca Cola pun diterima sebagai performance art yang bagus :) Walau aku tidak pernah punya program residency, namun sering sesudah festival aku tinggal lebih lama di rumah-rumah seniman, buat project baru, bahkan terlama pernah 3 bulan di Mexico City termasuk kota-kota lain sekitarnya. Arie Dyanto: Rimbun Dahan , Malaysia November 2005 sampai Maret 2006.
(2) Apa yang memotivasi kamu untuk ikut program residensi?
Nindityo Adipurnomo:
Sejujurnya, sebenarnya setiap tempat dan kesempatan selalu memiliki atau akan memunculkan motivasi yang berbeda-beda. Kadang bisa berupa : semacam upaya untuk mengurung diri dengan atmosphere budaya yang berbeda, yang berharap bisa menyuntik semangat dan pola pikir baru! Terkadang juga sepele; mau mencari lawan konversasi sehari-hari secara beda, dengan bahasa dan ungkapan yang beda, semacam melatih berbahasa saja. Terkadang juga karena mau secara politis mempertahankan dan memperluas jaringan yang sudah secara pribadi maupun kelembagaan dibentuk. Yang paling sering adalah jalan-jalan rekreasi buang pikiran-pikiran sebal, pariwisata, introspeksi dan sebagainya. Tetapi juga sering menjadi semacam cara untuk mengatur diri supaya tetap pada jalur bekerja sebagai seniman dengan input-input yang jauh lebih besar dan luas, karena pertemuan dan konfrontasi dengan karya-karya seni maupun teman-teman seniman dari banyak negara selalu membantu memperjelas pemetaan saya pribadi. Pendek kata saya tidak mau seperti katak dalam tempurung saja, tapi mungkin seperti katak di atas gunung salju kalau perlu! Yang terakhir ialah yang masih menjadi bagian kepariwisataan itu adalah selalu adanya kehausan untuk memenuhi tantangan-tantangan baru (ini manusiawi sekali ya)!
Angki Purbandono: Seperti masuk ke sebuah restoran Cina. Hari pertama aku pilih menu babi kecap. Hari kedua aku akan coba nasi goreng udang. Dan begitupula dengan hari lainnya aku akan memilih dan mencoba menu yang lainnya. Program residensi adalah salah satu menu aktivitas seni yang aku harus coba pilih untuk bisa melihat seberapa jauh aku bisa berinteraksi diantara perbedaan dan persamaan yang aku tidak tahu sebelumnya.
Arie Dyanto: Pertama sebagai seniman, menjadi semacam kebutuhan untuk sebisa mungkin mendapatkan kesempatan untuk melakukan proses kreatif yang beragam, aku masih percaya program residensi bisa menawarkan hal yang seperti itu.

(3) Di negara mana kamu ingin melakukan program residensi? Dan mengapa?

Nindityo Adipurnomo: Maksudnya kalau saya sekarang dapat tawaran untuk milih gitu? Di hampir semua Negara di Eropa, saya merasa masih banyak yang akan menarik dan bisa menyuntik dan menghidupkan saya kembali, terutama Negara-negara yang baru saja maupun sedang masuk dan bergabung dengan Uni Eropa misalnya! Kalau harus milih misalnya Turki, saya ingin sekali ke sana, seandainya menerima kesempatan untuk undangan Istanmbul Biennale, misalnya!
Di Asia saya masih saja senang dengan Jepang dan Korea, India, Vietnam, Thailand. New Zealand, Australia bagian utara (Darwin, Adelaide), Meksiko, Gana, dan beberapa kota romantis di Amerika seperti San Francisco. Wuaah buanyak tempat yang pasti masih akan menyegarkan dan menghidupi fantasi hidup saya. Harapan untuk akan mengalami itu semua juga masih sangat buanyak. Dan saya sadari bahwa hal itu pula yang membuat saya masih terus punya semangat. Buat saya realitas di dunia maya (lewat internet dan teknologi canggih komunikasi lainnya), sangat berbeda dengan kalau saya berada dalam realitas kehidupan, kebudayaan tiap-tiap negara itu sendiri; karena realitas dunia maya kan hanya sebagian kecil aspek dari kehidupan dan kebudayaan yang sesungguhnya.
Salah satu contoh misalnya, pengalaman saya terkurung di dalam kamar hotel yg sempit dari lantai 14, di sebuah kota urban metropolitan yang orientasi kependudukannya biasa vertical, bukan horizontal. Suatu malam saya terjepit dengan keadaan harus mengejar kereta api cepat ke bandara internasionalnya, dan sialan mekanisme lift bangunan hotel itu ngadat. Semua penghuni hotel malam itu terpaksa naik turun tangga biasa, bawa tas, koper dan tetek bengek lain, dengan pemandangan melalui jendela kanan kiri anak tangga adalah sampah-sampah menumpuk dari setiap penghuni hotel yang pernah menginap sepanjang sejarahnya hotel tersebut. Rasanya tidak akan mudah disederhanakan begitu saja melalui download sebuah situs!
Iwan Wijono: Aku suka residency pada negara-negara yg hampir punya problem yg sama dg Indonesia: korupsi, dikuasai pasar Amerika, banyak pemberontakan di hutan-hutan, banyak orang anarki (bukan kekerasan menurut pemerintah kita itu lho) & underground (yg bener-bener underground bukan punk fashion misalnya he... he...).
Angki Purbandono: Kalau kamu tidak keberatan semua negara aku bisa! cihuuuyyyy... jelas say!... melakukan sebuah perjalanan keliling dunia... menetap disana untuk beberapa waktu... mempunyai teman baru, berbaur dengan budaya mereka... makan dan minum minuman lokal mereka.... waaaahhh itu baru mukjizat utk para yang berbakat tentunya mwaahh.
Arie Dyanto: Sebenarnya buat aku di negara mana saja tidak menjadi masalah, yang menjadi tekanan mungkin adalah persoalan fasilitas dan kesempatan dimana aku bisa mengembangkan
kerja yang aku rencanakan atau yang sudah aku kerjakan sebelumnya. Jujur program residensi tidaklah mudah ada banyak tekanan yang harus dialami karena meninggalkan tanah air misalnya berarti juga meninggalkan pekerjaan dan kesempatan jadi berhitung untung rugi aku lebih memilih kalo keluar negeri, negara-negara yang tidak menawarkan ekstra konflik diluar proses kreatif, misalnya bahasa, politik, atau fasilitas yang kurang, ini bisa diartikan bayar tiket sendiri, allowance yang mepet atau tempat-tempat yang terpencil, trus nggak ada internet. Kalo mau susah mending di negeri sendiri ajalah daripada kelihatan nggaya diluar negeri tapi
pas pulang sibuk mbayar utang sana-sini.
(3) Apa yang kamu bayangkan ketika kamu akan melakukan program residensi di negara yang kamu maksud tersebut?
Nindityo Adipurnomo:
Yang saya bayangkan adalah kejutan-kejuatan macam apa, surprise yang bagaimana dan konfrontasi seperti apalagi yang nanti akan saya hadapi? lantas betulkah saya nanti bisa membuat kompromi, adaptasi dan atau malah sebaliknya saya akan pulang dengan penuh kekecewaan, kekalahan atau ekstase seperti apalagi?. Sebenarnya memang benar untuk kasus saya pribadi; kadang yang namanya harapan-harapan itu, niatan dan rencana itu selalu lebih besar dari pada realitas setelah menjalani residensi. Jadi periode-periode untuk merenung, mengevaluasi dan menilai kembali pengalaman-pengalaman itu yang justru bagi saya penting, dan seakan-akan panjang sekali habisnya, berkesan terus deh! Hampir dipastikan membuahkan beberapa konsep menarik untuk bikin karya. Secara tidak langsung, pemikiran-pemikiran yang bermunculan saat itu, sering menjadi bekal inspirasi buat model-model penyelenggaraan pameran dan atau penyelenggaraan proyek seni rupa di galeri, maupun buat saya sendiri.
Angki Purbandono: Jaman sekarang untuk mempersiapkan sebuah perjalanan sudah sangat mudah. Sebelumnya aku kan browsing di internet dimana negara yang akan aku tuju dan melihat semua informasi negara tersebut. Tapi biasanya pertama kali yang aku bayangkan adalah tempat atau aktivitas yang 'underground' di negara tersebut. Arie Dyanto: Yang bisa kebayang mungkin, bisa melakukan komunikasi dengan baik secara oral maupun emosi misalnya gak ada konflik ras , berada dalam situasi yang kondusif untuk memfokuskan diri pada pekerjaan atau planning, gak repot cari tool material dan transportasi juga persoalan isi perut kalo pulang gemuk oke tapi pulang kurus itu masalah, di negara sendiri mungkin kita tidak terlalu terforsir untuk mempelajari tehnik skill, ataupun bentuk kesenian yang ingin dikembangkan karena rutinitas keseharian dan fungsi sosial kita dalam komunitas, jadi berada dalam satu ruang lingkup yang tidak terikat satu rutinitas atau lepas dari bagian sosial komunitas bisa mendorong kita untuk lebih konsentrasi dan berani melakukan eksplorasi eksperimentatif, sekaligus juga mendapatkan ide-ide dari tempat dimana kita melakukan program residensi. Jadi aku nggak bisa membayangkan kalo ikut program residensi trus diangkat jadi pak RT atau Lurah repot.
(4) Konsep residensi seperti apa yang kamu idealkan? Misalnya: ada program residensi yang durasinya lama sekali terus program itu khusus hanya meningkatkan skill seniman, jadi seniman itu diberikan studio, fasilitas dan hanya berkarya saja. Atau misalnya ada program yang 1-3 bulan yang membuat proyek di negara itu, atau hanya berpindah tempat saja, berkolaborasi sama seniman lokal dan sebagainya. Nah konsep residensi menurut kamu itu yang seperti apa atau yang bagaimana?
Angki Purbandono: Program residensi dengan beasiswa penuh itu saja. Fasilitas dan waktu aku pikir menyesuaikan dengan konsep residensi itu sendiri.
Arie Dyanto: Buat aku yang paling ideal buat saat ini adalah program residensi yang nggak terlalu lama dan bersifat project, fasilitas studio bisa menarik asalkan tidak menjadi keharusan dimana seniman hanya berkutat disitu utnuk menghasilkan karya 1, 2 dan seterusnya kemudian dikalkulasi dalam bentuk presentasi pameran atau studio terbuka. Buat aku skill bisa jadi penting meskipun untuk itu bisa ditingkatkan dimana saja, kolaborasi bisa menarik walaupun aku yakin lebih memakan energi karena ada ketegangan individu bisa asik tapi juga bisa ancur, ntar waktu habis cuman buat ngurusi project trus nggak ada acara jalan-jalan cari sepatu wah jangan itu, karena pas pulang kok rasanya cuman kayak habis pulang ngantor.
Balik ke ideal menurutku lebih menarik bila seniman diundang dalam program residensi selama waktu yang tidak terlalu lama, 1-3 bulan dan di sertakan disitu dalam sebuah project yang bisa menawarkan interaksi dengan publik seni atau umum lokal, project disini bisa digagas oleh seniman itu sendiri ataupun masuk dalam project yang disiapkan oleh penyelenggara. Seniman bisa dikasih ruang kerja bisa studio benar ataupun gabung dengan tempat tinggal, tapi bukan hanya untuk nambah karya baru apalagi bikin karya yang sama seperti yang ditanah air, misalnya bawa setumpuk foto anak-anak TK dikampung sendiri trus dilukis di negara lain, dipamerkan trus pulang kaya karena laku dibayar duit euro.
(5) Pengalaman menarik apa yang kamu alami selama menjalankan program residensi?
Nindityo Adipurnomo:
Saya kira jawaban saya untuk pertanyaan no. 4 itu juga sudah cukup mencakup untuk menjawab pertanyaan no.5 ya? Satu tempat keramaian yang selalu tidak bisa saya lupakan untuk saya kunjungi adalah pasar. Pasar yang dibicarakan banyak orang, yang menjadi kebanggaan daerah setempat, baik itu kota, provinsi, prefecture atau apalah.
Iwan Wijono: Pernah lama di Canada sampai 2 kali (2002& 2004) sampai buat project dgn homeless people, dengan membuat 2 lembar leaflet, yg satu untuk publik diminta membawa koin dan makanan ke galeri, satu leaflet untuk homeless di Toronto (ada sekitar total se kota 30 ribu) diundang makan malam dan main musik. Di galeri terkumpul koin banyak, makanan dan ada alat musik, ya udah itu aja, jadi pesta rame homeless di galeri, drpd mereka kedinginan, saat itu banyak salju Nov-Dec 2002.

Kalau di Singapore, susah situasinya, capek, akhirnya kolaborasi dgn Kai Lam ditangkap polisi di jalan dan interograsi 4 jam. Di Thailand mending lah, di Jepang susah, kita terlalu tergantung dg orang Jepang/organisernya(karena bahasa dan mahal).
Angki Purbandono: Hari pertama di Korea: Ditempeleng di jalan sama bapak-bapak... ya umurnya kira-kira 65 tahun... karena aku minum Soju-minuman keras khas Korea-langsung dari botolnya hehehehe... trus dia ambil gelas plastik-cup-disalah satu warung tenda disekitar situ... trus dia ajarkan cara minum Soju yang benar... ya akhirnya kita minum berdua! dasar kejam bapak satu itu... mau minum bareng aja harus tempeleng dulu... gak papa setelah hari itu aku jadi tau cara minum Soju yang benar hehehehe. Arie Dyanto: Pengalaman menarik buat aku lebih banyak bersifat personal lah, maksudnya.aku suka mengamati sebuah komunitas dan melihat kehidupan mereka dari sisi humanitas individu, misal persinggungan dengan personalitas individu yang aku temui disitu lengkap dengan persoalan hidup mereka, bisa dari fashion, bisa cara minum, masak atau hubungan dengan mertua mereka macam-macam pokoknya yang nggak ada hubungannya dengan seni apalagi museum seni. Misalnya di Malaysia sekarang aku bisa mengenal betapa berbedanya kita dengan mereka disitu walaupun agama, warna kulit ataupun bahasa yang hampir sama, tetapi sekaligus betapa samanya persoalan kita sebagai manusia dalam melakukan fungsi sosial sebagai bagian dari komunitas nggak peduli rasnya apa. Yang paling menarik mungkin aku dapat kesempatan melihat sisi kehidupan teman-teman Cina disini sebagai seniman dan individu yang berbeda dengan apa yang aku lihat di Indonesia.
(6) Untuk di Indonesia, kamu lebih memilih seniman Indonesia yang keluar menjalankan program residensi atau seniman asing yang ke Indonesia? Mengapa?
Nindityo Adipurnomo: Kalau saya jelas memilih dua-duanya kan? Sederhana uraiannya, pengalaman menjadi tamu dan menjadi penerima tamu harus sama-sama kita lakukan!
Iwan Wijono: Di Indonesia tentu keduanya penting untuk residency dari Indo ke luar maupun sebaliknya, namun targetnya apa dulu, kan tiap program punya view beda-beda kali, kalau aku sendiri pasti suka untuk datang dan eksplore situasi lokal dan bergerak di situ, yang jelas aku tidak suka residency yg terlalu instant, hanya bekerja di studi terus target pameran udah...,ini yang banyak dilakukan ! Go to hell ! he... eh !
Angki Purbandono: Seniman Indonesia ke luar negeri... karena kita bisa mendapatkan 'action' langsung. Dan bisa melihat peta aktivitas seni kita dari negara orang menurutku bisa memperkuat intensitas personal dari seniman tersebut.
Arie Dyanto: Jujur lebih enak didengar kalo seniman kita yang keluar, kenapa? Buat aku mungkin ini salah satu jalan untuk bisa keluar negeri sebelum mampu bayar sendiri, terus seniman di negara kita yang kebanyakan masih kayak aku perlu untuk bisa keluar melihat diri sendiri dan dunia luar ketika berada diluar, karena sering kita merasa tahu banyak tentang seni di negeri sendiri atau dunia luar pas disana kok semua meleset, bisa jadi tambah nasionalis atau malah kecewa dengan Negara sendiri, disini bonusnya. Kalo seniman asing ke Indonesia menarik juga tapi kita masih sering apriori ya, kalo menarik oke tapi kalo nggakpun tetap oke pokoknya cuek yang penting mereka datang buat karya kita tonton, diskusikan trus setelah itu hari-hari jalan seperti nggak terjadi apa-apa, yang nglukis ya nglukis yang matung-matung . tapi kalo ada di kita yang keluar pasti yang lain pada panas pengen keluar juga. Atau barangkali cuma aku yang mikir gitu ya?
Post a Comment