Tuesday, October 03, 2006

Menimbang Ulang sebuah Program

Program 'Aku Oke!' di dusun Tegal Kebon Agung, Imogiri
Kerjasama YSC & Papermoon

Sebuah Evaluasi untuk Crash Program Bencana Gempa
di Yayasan Seni Cemeti
Oleh Nunuk Ambarwati

Bencana gempa bumi berskala 5,9 skala Richter, 27 Mei 2006 yang lalu memang menjadi milik bersama di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya. Melihat dampak yang terjadi yang meluluhlantakkan sebagian besar rumah penduduk, banyaknya korban yang berjatuhan dan sekaligus sebagai individu yang juga mengalaminya saat itu; keinginan untuk berbuat lebih dan membantu para korban menjadi skala prioritas pada masa tiga bulan pertama paska bencana. Status sosial, jabatan, definisi instansi mau pun pengkotakan profesi sepertinya sudah sekian tipis batasnya. Pada fokusnya, semua orang ingin membantu, semua orang melakukan penggalangan dana bahkan hingga menciptakan program-program guna pemulihan secepatnya kondisi sosial, ekonomi, psikologis paska bencana tersebut. Situasi demikian kemudian menjadi sebuah hal yang secara inheren, spontan, simultan dan menjadi tanggung jawab kita bersama untuk dilakukan.


Menanggapi bencana gempa yang dialami Yogyakarta dan sekitarnya tersebut, tak kurang-kurang aliran donor berbentuk nominal uang mau pun logistik terus datang dengan derasnya. Dihadapkan pada hal situasi demikian, berbagai lembaga, baik LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) mau pun non LSM dihadapkan pada sikap tanggap darurat, bagaimana mendistribusikan semua bantuan para donor tersebut hingga ke tangan yang tepat. Bagaimana menyikapi situasi paska bencana, bantuan apa yang cocok bagi para korban hingga masalah laporan pertanggungjawaban kemana saja larinya uang sumbangan tersebut dan untuk apa saja. Bagi lembaga semacam Yayasan Seni Cemeti (YSC) yang telah bergerak di bidang seni visual selama kurang lebih 11 tahun (berdiri tahun 1995), sebuah lembaga dengan reputasi kerja sedemikian solid dan dikenal hingga ke skala internasional, YSC pada akhirnya juga banyak mendapat kepercayaan berbagai kalangan untuk menitipkan donasi mereka guna didistribusikan.

Hal semacam itu, baik terlibat langsung mau pun tidak langsung pada usaha pemulihan paska bencana, merupakan satu pengalaman tersendiri bagi YSC. Dimana selama 11 tahun tersebut, YSC selalu terkondisi dengan adanya funding tetap, dengan besarnya dana dari funding tersebut yang juga teratur, program-program yang telah dirancang matang sesuai misi dan visi YSC sendiri. Sebuah lembaga yang mencoba membawa misinya untuk melakukan pemberdayaan infrastruktur seni visual melalui kegiatan utamanya yakni dokumentasi dan riset, serta kegiatan pendukungnya antara lain penerbitan buku, pameran seni visual, workshop, diskusi dan pendidikan alternatif.

Meskipun batasan pemberdayaan infrastruktur seni visual itu sendiri kemudian bisa dijabarkan sedemikian luas, tetapi jelas di sini bahwa YSC bukanlah lembaga yang memang difokuskan untuk melakukan program menghadapi bencana mau pun pemulihan paska bencana. Toh YSC juga kemudian tetap peduli pada situasi bencana tersebut, dimana YSC, baik lembaga mau pun para staf yang bekerja disana, juga merupakan bagian dari Yogyakarta. Maka selain program penyaluran logistik secara langsung kepada para korban, YSC bekerja sama dengan komunitas Papermoon, mengemas sebuah program bertajuk ‘Aku Oke!’, sebuah program pemulihan paska bencana yang difokuskan untuk anak-anak di dua dusun binaan, yakni di dusun Tegal Kebon Agung, Imogiri dan di dusun Wirokerten, Sampangan, Bantul. Program ini telah berlangsung sejak 2 minggu setelah gempa, sekitar awal Juni dan direncanakan akan berakhir awal November 2006. Tujuan dari program ini mengajak anak-anak korban bencana gempa untuk tidak berlarut-larut dalam kesedihan atas bencana yang telah terjadi dengan mengajak mereka melakukan berbagai aktifitas bermain dan belajar.

Semula ‘Aku Oke!’ dihadirkan, memang direncanakan menjadi program yang ‘ringan’, bukan sebuah program dengan durasi yang panjang, intens dan berkesinambungan, bukan pula program yang mempunyai muatan untuk mencapai target tertentu bagi anak-anak mau pun YSC sendiri, bahkan indikator keberhasilannya pun belum sempat terpikirkan. Yang terlintas di benak kami waktu itu adalah sebuah kunjungan singkat (berkemah di lokasi gempa selama 3 hari), bersifat menghibur dengan berbagai kegiatan bermain dan belajar (menyanyi, menggambar, berjalan-jalan, pentas boneka dan sebagainya). Alasan pemilihan kedua dusun tersebut di atas pun, bukan berdasarkan riset yang terlalu berat, terlebih karena unsur kedekatan, dimana YSC dan komunitas Papermoon bisa mengenali peta penduduk, tingkat kerusakan dan kebutuhan 2 dusun terlebih dahulu tersebut melalui staf YSC yang kebetulan menjadi penduduk di 2 dusun tersebut.

Pada perkembangannya, ketika donasi masih terus mengalir, ketika YSC masih merasa harus turut arus masa pemulihan paska bencana tersebut dan bertanggungjawab untuk menyalurkan donasi tersebut; program ‘Aku Oke!’ menjadi sebuah program yang bukan ‘ringan’ lagi. Program ‘Aku Oke!’ kemudian’dibedah’, diseriusi dan dibuat lebih terstruktur. Program yang muncul secara spontan, berdurasi singkat dan akhirnya menjadi bagian dari program lembaga sejalan dengan program utama seperti itu yang kemudian kami sebut dengan crash program.

Yang kemudian menarik untuk dibahas selanjutnya adalah bagaimana kemudian lembaga semacam YSC yang notabene bukan lembaga yang memfokuskan kegiatannya pada masalah bencana juga harus bergerak pada wilayah ini? Bagaimana sebuah crash program seperti ‘Aku Oke!’ harus diciptakan dan dikemas guna mendistribusikan donasi dengan lebih elegan. Pada titik mana, lembaga tersebut harus tegas dan kembali kepada misi kegiatan utamanya semula? Berkaitan dengan hal tersebut, bagaimana pula efek teknis, psikologis dan kebutuhan lembaga itu sendiri dengan adanya sebuah crash program?

Ketika potensi konflik, baik itu internal maupun eksternal, akhirnya muncul pada tataran wacana mau pun teknis di lapangan. Konflik eksternal yang sempat terbaca antara lain tarik-menarik kepentingan antar lembaga, yaitu terhadap lembaga yang lebih dulu dan memang bergerak di bidang pemulihan paska bencana mau pun pada bidang pendidikan untuk anak-anak, sehingga lembaga seperti YSC dianggap sebagai ‘pemain baru’ di bidang tersebut, dianggap ‘belum layak’ untuk menangani masalah-masalah seperti itu.

Kaitannya pula terhadap komunitas/lembaga/individu yang diajak kerja sama, dalam hal ini sebagai misal, YSC dengan komunitas Papermoon; tarik-menarik kepentingan dalam kaitannya dengan prestise sebuah lembaga melalui programnya. Siapa yang lebih diuntungkan melalui program ini, siapa yang lebih meningkat prestisenya, atau siapa yang lebih dilihat nantinya. Hal tersebut juga satu hal yang menarik bagi kami di YSC untuk diperhatikan.

Apalagi ketika dana yang digunakan untuk membiayai sebuah program merupakan hasil dari penggalangan dana dari berbagai pihak yang mungkin satu diantaranya juga ingin menonjolkan kepentingan lembaganya sendiri. Atau dihadapkan pada situasi yang sebaliknya, ketika donor tidak menekankan syarat khusus sehingga lembaga bisa dengan leluasa menciptakan program sehingga tidak dibebani dengan target.

Pun ketika YSC kemudian merasa tidak berkompeten atas program semacam itu, sehingga harus lebih banyak menimba pengalaman dan terus mengoreksi kekurangan, kepada lembaga mau pun individu yang lebih ahli di bidang tersebut.

Demikian halnya dengan konflik internal yang terjadi di tubuh lembaga itu sendiri, seperti mengenai kesiapan sumber daya manusianya, daya tahan tiap individu yang terlibat di dalamnya ketika durasi program tersebut diperpanjang, ketika kemudian program utama lembaga itu sendiri menjadi ‘sedikit’ terbengkalai ketika intensitas waktu, tenaga dan pikiran terfokus para stafnya pada sebuah crash program. Hal-hal tersebut juga menjadi bahan pemikiran yang patut diperhatikan dan dipertimbangkan.

Berbagai kegelisahan yang muncul seperti tersebut pada beberapa paragraf terakhir menjadi sebentuk pelajaran tersendiri bagi YSC. Perlu kejelian manajemen lembaga tersebut untuk ‘memanfaatkan’ bagian mana sebuah crash program tersebut mendukung program utama yang tetap harus menjadi fokus dan dijalankan oleh sebuah lembaga. Juga diperlukan kebijakan yang tepat kapan dan apakah memang diperlukan sebuah crash program dan sebatas mana sebuah lembaga bisa mengorganisir program tersebut sesuai kapabilitasnya. Ketika respon-respon positif dan berbagai follow up menarik terus bermunculan menanggapi sebuah crash program, sehingga timbul godan untuk lebih memerhatikan crash program daripada program utama yang telah disepakati dari awal. Pada hal mana lembaga mengambil bagian untuk turut berpartisipasi dalam keadaan seperti penanggulangan mau pun pemulihan paska bencana tersebut dan seterusnya. Program seperti ‘Aku Oke!’ menjadi hal baru dan menarik bagi sarana belajar, evaluasi, introspeksi terus-menerus sebuah lembaga seperti YSC.

Atas nama YSC, kami dedikasikan ucapan terima kasih tak terhingga kepada para donor, rekan, sahabat, kolega baik di dalam mau pun luar negeri, yang telah menyumbangkan dana, materi mau pun berbagi pengetahuan, pengalaman dan semangatnya selama bekerja bersama menangani paska bencana gempa di Yogyakarta dan sekitarnya.
Post a Comment