Thursday, May 26, 2016

TUBABA CERDAS


Tuesday, April 26, 2016

Designer Corner @TiranaHouse Kotabaru

DESIGNER CORNER @TiranaHouse Kotabaru
Judul Koleksi: Nyonyah Pitut Erickson
Koleksi Spring-Summer 2016 by BTSY (Betsy Swastikowati)
Konsep: Pakaian siap pakai (ready to wear)
Untuk Designer Corner di Tirana House: Branded Stocklot Boutique
Jl Abu Bakar Ali No 22 Kotabaru Yogyakarta



Designer Corner @TiranaHouse Kotabaru
Mulai April 2016, outlet Tirana House di Jalan Abu Bakar Ali 22 Kotabaru Yogyakarta membuka ruang apresiasi untuk desainer lokal Indonesia. Tirana House menyediakan ruang khusus bernama “Designer Corner” untuk mendisplay desain karya terbaik para desainer berbakat. Tirana House tentunya melakukan kurasi untuk Designer Corner ini dimana karya harus memiliki karakter kuat, kualitas bagus dan hanya bisa dijumpai di Tirana House. Tujuan dibukanya ruang ini untuk mengakomodasi kreatifitas desainer yang potensial dan menstimulasi tren-tren fashion baru.

Karya desainer asal kota Solo, Jawa Tengah; Betsy Swastikowati dengan label ‘BTSY’ mengawali perjumpaan Sahabat Tirana di Designer Corner. Koleksi yang dikemas dalam tajuk ‘Nyonyah Pitut Erickson’ sangat pas dan hangat serta modern.

Inspirasi
Terinspirasi oleh seorang kerabat, Tante dari Betsy bernama Pitut, yang menikah dengan seorang warga negara Amerika dan kemudian menetap disana. Beliau adalah sosok yang dihormati dan dikagumi oleh Betsy. Beliau sangat mencintai kebudayaan Indonesia meskipun saat ini beliau hidup dalam kultur yang berbeda setelah menetap di Amerika. Setiap liburan musim panas beliau selalu pulang ke Solo bersama suaminya. Tante Pitut sangat menyukai batik terutama motif-motif tradisional. Setiap kepulangannya ke Solo, beliau selalu berburu batik. Betsy selalu mendapati tantenya berbusana stylist dan chic, yang menginspirasi Betsy dalam karyanya kali ini. Dalam setiap perjalanan liburan, beliau selalu mengejutkan Betsy dengan gaya berpakaiannya. Salah satu gaya berpakaian yang menjadi favorit Betsy adalah beach wear ala Tante Pitut. Terkesan seksi, chic, glamour dan sangat stunning! Seri koleksi Betsy kali ini didedikasikan untuk beliau dan merupakan satu interpretasi gaya seorang Nyonya Pitut Erickson, chic, seksi dan sophisticated spring-summer vacation wear dengan sentuhan motif batik tradisi, yakni kawung.



Proses Kreatif
Bisa dikatakan, motif kawung adalah salah satu motif tradisional Jawa yang “di-international-kan”. Motif yang satu ini sudah tidak jarang ditemukan dalam berbagai desain terapan. Dan oleh karena itu sangat sesuai dengan tema resort dan fusion yg dibawakan Betsy bawa dalam koleksi SS2016 (Spring-Summer 2016) ini. Menyasar Middle up class women, usia awal 20 tahun hingga 45 tahun sebagai target, ada 15 desain dalam seri “Nyonya Pitut Erickson” yang saat ini terus menerus diproduksi ulang sesuai dengan pesanan klien dan kebutuhan stock.

Spesialisasi BTSY adalah printed motif fabrics ready to wear outfit. Proses kreatif diawali dengan proses pembuatan desain motif kain, pembuatan desain outfit, pemilihan jenis kain disesuaikan dengan desain outfit, pencetakan desain motif pada kain, pembuatan pola outfit, dan pembuatan outfit. Bahan putfit yang digunakan bervariasi, seperti chiffon, satin silk, satin velvet, silk, soft doll fabric dan canvas linen. Semua pemilihan kain berdasarkan desain potongan outfit, misalnya harus jatuh flowy atau kaku.

Profil Betsy Swastikowati
Menjadi seorang designer adalah impian dari seorang Betsy Swastikowati semenjak masa kanak-kanak. Oleh karenanya, semenjak resign dari salah satu televisi swasta Indonesia sebagai stylist, Betsy memutuskan untuk mengeluarkan fashion line dengan label SAE by. Betsy Swastikowati yang mengkhususkan produknya pada batik tulis dan kebaya. Aktif mengikuti serangkai pameran dan ajang fashion show di Solo dan Jogja, seperti Jogja Fashion Week 2014.



Pada tahun 2015 Betsy mengeluarkan produk ready to wear yang diberi label ’BTSY’. Bulan Agustus 2015, di ajang Jogja Fashion Week 2015, BTSY mengeluarkan koleksi Spring Summer 2016 dengan judul “Nyonyah Pitut Erickson”.

Melalui koleksi Spring Summer 2016 ini, misi BTSY adalah membawa motif tradisional indonesia khususnya batik menjadi motif internasional seperti motif houndstoot. Sehingga semua orang mengerti bahwa motif batik adalah motif yang sangat menarik dan sangat bisa lebih digali. Tentunya dapat dikenakan di banyak kesempatan dan tetap tampil stunning. Betsy ingin menghilangkan pendapat sebagian orang “saya tidak suka pakai batik, karena membuat saya tampil kurang maksimal”. Betsy juga memiliki fashion line kebaya dan batik tradisional yang dikerjakan secara made to order.




Tirana House: Branded Stocklot Boutique
Jl Abu Bakar Ali No 22 Kotabaru Yogyakarta | ph 0274 2923560
email:
tiranayogya@gmail.com | IG/TW @tiranahouse
FB Tirana House








Monday, March 07, 2016

Workshop SHUFA (Kaligrafi Cina)


WORKSHOP "Shufa" atau kaligrafi Cina dengan HONG YU-WANG

Hong Yu-Wang adalah traveler asal Taiwan yang mempunyai passion tentang pendidikan . Dia mengunjungi Indonesia khususnya Yogyakarta untuk mempelajari budaya disini dan juga memperkenalkan budayanya.

Apa itu "Shufa" 
Shufa atau yang lebih dikenal dengan kaligrafi Cina adalah seni menulis karakter tradisional Cina, dengan shufa ini kita dapat mengenal kebijaksanaan orang-orang hebat di masa lalu.

Apa yg kita lakukan di workshop ini ? 
- Mengenal budaya Taiwan
- Percakapan dasar bahasa Mandarin
- Membuat shufa

Minggu, 13 Maret 2016
17.00 - 20.00 WIB
@Tirana House
Jl. Abu Bakar Ali No.22 Kotabaru,Yogyakarta

Fee : Rp 20.000,-
Fasilitas : Hadiah kecil + snack
*Kuas untuk shufa sudah di sediakan

Daftar segera sebelum tanggal 13 Maret 2016
CP : SMS ( 08974820245)
Whatsapp ( 085726000478) 
Drifani

________________________________

Minggu. 13/3/16 
Serunya workshop Shufa (kaligrafi Cina) weekend ini bersama Zack (Hong Yu Wang), pemuda 24 tahun ini di @TiranaHouse Kotabaru. Workshop ini diselenggarakan oleh komunitas Teaching Travelling @ShufaWorkshop dengan slogan to teach = to share.
Target 20 peserta sepertinya kelebihan deh. Banyak peminat. Beberapa jurnalis juga meliput (ADITV, RBTV, Harian Jogja, Global FM). Meskipunsempat mati listrik di awal workshop, tapi kemudian nyala dan suasana kembali hangat.

Zack mengawali dengan presentasi tentang sejarah & budaya di Taiwan. Kesibukan pasar & kota disana, agama, bahasa hingga kuliner yang ada di negara tempat ia tinggal tsb. Sesi ketiga baru dimulai praktek workshop membuat shufa.

Shufa adalah tulisan indah bahasa Mandarin berisi harapan-harapan baik dan bisa dipasang dimana saja. Saat mengerjakan shufa seperti meditasi, kita diharapkan selalu fokus, posisi duduk tegak dan tenang (release). Shufa ditulis sekali gores (one stroke), dari atas ke bawah dan dari kiri ke kanan. Bisa ditulis diatas kertas atau kayu.

Hasil karya workshop shufa dipamerkan di Tirana House Jl Abu Bakar Ali 22 Kotabaru Yogyakarta selama 3 hari.

Thank you untuk semua peserta . Have fun with shufa :)

















Monday, February 29, 2016

Pameran kristik & sulam COLORFUL by Seven Needles


THE COLORS OF COLORFUL

“Duh, tangan dah mulai keringetan. Sumuuk...! Istirahat dulu, ah.”
“Jariku nan lentik dah ancur ketusuk-tusuk, nih.”
“Masih lembuuur...!”
“Kopi, kopiii...!”
“Bantaaaalll ... hahaha.”
“Selamat pagiii....”
“Cemunguuuds!”

Begitulah celotehan kami via grup whatsapp “Seven Needles” menjelang pameran. Paling riuh malam-malam atau dini hari atau pagi-pagi sekali. Jeda barang sebentar melepaskan diri dari kesuntukan berkutat dengan kain dan jarum dan benang atau pita dengan guyon, curhat, saling menyemangati dan berbagi energi kegembiraan. Ya, tidak ada kesuntukan tanpa kegembiraan. Tiada letoy tanpa enjoy!

Rupanya diperlukan energi yang memadai untuk berimajinasi dan berkreasi; agar jari-jari tetap bergerak dengan teliti, agar kejelian mata tetap terjaga, agar tubuh tahan duduk berkonsentrasi, serta hati senantiasa penuh intensi dan terus menikmati sulam-menyulam dan kebersamaan hingga sulaman berhasil diselesaikan. Sebuah saat ini, dan sebuah lagi nanti, lagi, dan lagi. Boleh Embroidery, boleh cross-stitch, bebas, boleh pakai benang, boleh pita.

Ya, pada pameran yang ke-9 ini, kami, delapan perempuan “Seven Needles” memilih tema sulaman: “COLORFUL”. Tema yang mengacu pada warna. Warna yang berwarna. Tentang sulaman yang berwarna-warni. Sebuah tema yang memberi ruang yang seluas-luasnya untuk berkreasi dan mengeksplorasi warna dengan mengambil bentuk gambar apa saja.

Dan meskipun nama komunitas kami bernama “Seven Needles”, bukan berarti kami selalu ber-tujuh, atau harus ber-tujuh. Lantas mengapa dinamakan “Seven Needles”? Menurut cerita Kristi Harjoseputra yang biasa dipanggil Tante Kristi atau Bu Kristi, yang adalah penggagas terbentuknya “Seven Needles”, nama itu terinspirasi dari kebiasaan praktisnya menyiapkan beberapa jarum sekaligus di bantalan jarum, yaitu jarum-jarum berbenang yang siap untuk menyulam. Diambil bilangan seven untuk mewakili jumlah beberapa needles karena ketika “seven” dipadu dengan “needles”, rimanya “dapet”. Jadilah komunitas menyulam ini diberi nama “Seven Needles”.

Selamat menikmati warna-warni sulaman kami!

Rina Widyawati

* sevenneedles.wordpress.com

Friday, February 19, 2016

Profil Tirana Artspace

TIRANA ARTSPACE
Tagline: Fashion, Art, Creativity & Dedication
Jl Suryodiningratan 53-55 Yogyakarta
Jl Abu Bakar Ali 22 Kotabaru Yogyakarta
Buka setiap hari, pk 9 pagi - 9 malam
Tirana House adalah sebuah butik branded stocklot. Berdiri sejak April 2012 di Yogyakarta. Saat ini Tirana House memiliki dua butik di Yogyakarta, di Suryodiningratan (sejak 2012) dan di Kotabaru (sejak 2015). Disamping sebuah butik, Tirana House juga didesain dan difungsikan sebagai artspace (ruang pamer). Biasanya kemudian disebut Tirana Artspace.
Ruang pamer bersinergi, menyatu dengan display produk yang dijual dalam butik tersebut. Sehingga, menjadi tantangan sendiri bagi perupa yang ingin memamerkan karyanya, supaya karyanya tetap bisa menonjol diantara produk-produk lain yang didisplay dalam butik tersebut. Ruang pamer di Tirana House diperuntukkan untuk berbagai karya seni: seni rupa (seni lukis, seni grafis), fotografi, 3 dimensi (patung/instalasi/kriya), seni tekstil, sastra, seni pertunjukan dan sebagainya. Dengan kurasi khusus dari pengelola Tirana House supaya pameran sesuai dengan atmosfer Tirana House sebagai sebuah butik.
Periode pameran di Tirana House rata-rata selama 1 bulan. Hal ini dimaksudkan agar publik seni/penikmat/pemirsa dan juga para jurnalis memiliki waktu lebih untuk mengapresiasi dan meliput pameran. Ruang yang bisa digunakan di Tirana House (khususnya di Suryodiningratan) terbagi menjadi 3 space. Ruang halaman luar (outdoor 1): biasanya untuk acara pembukaan pameran. Ruang dalam: untuk display. Ruang tengah (outdoor 2): biasanya dipergunakan untuk ruang antara/transisi, untuk pemutaran film/video dan tempat workshop/diskusi. Ruang-ruang tersebut bisa direspon oleh perupa. Perupa bisa mendisplay karya di halaman depan, ruang dalam maupun ruang tengah dengan tetap memperhatikan aksesibilitas penggunaan ruang itu sendiri.
Mari bekerja sama dengan Tirana House, karena ada beberapa benefit yang bisa didapat, antara lain:
* Buka 12 jam per hari, pk 9 pagi - 9 malam dan jarang libur. Hari Minggu dan libur nasional biasanya kami tetap buka. Sehingga tersedia kemungkinan waktu lebih leluasa bagi penikmat karya seni yang ingin melihat pameran.
* Shopkeeper, kami menyebutnya Among Tamu yang bertugas jaga di Tirana House, sudah sekaligus menjadi penjaga pameran yang bisa diberikan training/pengetahuan tentang materi pameran yang sedang berlangsung. Sehingga tak perlu ekstra biaya dan bingung memikirkan siapa yang akan jaga pameran smile emotikon
* Pengunjung butik (yang notabene awam karya seni) sekaligus bisa menyaksikan pameran dan demikian sebaliknya.
* Lokasi Tirana House berada di area wisata dan masuk di peta Yogyakarta Contemporary Art Map. Sehingga tak hanya pengunjung lokal (domestik) tapi juga wisatawan asing.
* Harga sewa ruang pamer terjangkau dengan durasi pameran 1 bulan.
* Sepanjang durasi pameran 1 bulan, bisa diusulkan beberapa side event seperti workshop, menerima kunjungan dari beberapa sekolah/kampus, pemutaran film/video, diskusi dan sebagainya.
* Memiliki media relation yang cukup kuat.
KONTAK:
Nunuk Ambarwati (Managing Director)
ph. 0274 411615 | WA 081 827 7073
e. tiranayogya@gmail.com | qnansha@yahoo.com
IG @tiranahouse | @nunukambarwati
TW @tiranahouse | @nunukambarwati
Blog nunukambarwati.blogspot.co.id
FB https://www.facebook.com/tirana.house.9?fref=ts


Display pameran

Display pameran

Display pameran

Display pameran

Display pameran

Kunjungan dari sekolah


Display pameran

Display pameran

Pembukaan pameran

Workshop

Workshop

Display pameran

Kunjungan dari UNESO

Space di Tirana House

Tirana House tampak depan

Pembukaan pameran

Display pameran

Wednesday, February 10, 2016

Jumpsuit H&M


Jumpsuit by H&M
Jumpsuit polos warna merah bata ini jadi salah satu outfit favorit pilihan saya. Lucu modelnya, celananya pendek tapi lengannya panjang. Kesannya seksi elegan. Bahannya jelas comfort banget, 100% viscose. 
Akhir tahun lalu sempat mampir di store H&M di salah satu mall ternama di Jakarta; iseng-iseng lihat harganya, disana dibandrol Rp 249rb. Dan di Tirana House hanya dijual seharga Rp 165.800,- saja Ladies. Produk dan kualitas sama lho, keren kan :)
Supaya tetap awet nyamannya, perhatikan cara merawatnya ya. Antara lain jumpsuit ini disetrika saat lembab, atau kalau punya setrika uap, lebih baik pakai setrika jenis itu. Lalu, saat mencuci jangan dicampur dengan baju dengan warna lain.
Pakai outfit model jumpsuit kadang repot kalau mau buang air ya Ladies, ribeeeettt hehe. Tapi bolehlah punya koleksi kayak gini di lemarimu. Di Tirana House, outfit ini juga salah satu yang best seller, stocknya tinggal sedikit. Yuk buruan miliki koleksi jumpsuit by H&M ini :)
Tirana House: Branded Stocklot Boutique
Jl Suryodiningratan 53-55 Yogyakarta 55141
Jl Abu Bakar Ali 22 Kotabaru, Yogyakarta
Open daily, 9 am - 9 pm


Monday, February 08, 2016

Tips Merawat Bra

Ladies, berikut ini sedikit tips untuk merawat underwear khususnya bra. Tips berikut ini mengenai teknik penyimpanan yang kadang disepelekan. Menyimpan bra sebaiknya tidak dilipat (seperti contoh foto B), tapi dibentangkan (foto A). Hal ini supaya bentuknya tetap bagus dan bila memakai kawat, tidak mengubah bentuk kawat itu sendiri. Maka bra akan lebih awet dan bentuknya tetap terjaga sehingga nyaman dipakai. Bahkan ada tas khusus untuk menyimpan bra saat Ladies sedang traveling lho :) Lucu ya...
Ini yang benar ya Ladies...
Nah jangan dilipat seperti ini ya...
Bra Bag ini muat 5 pcs bra. Cocok dipakai saat traveling. Ayo pilih yang mana?

Dapatkan koleksi underwear dari berbagai brand ternama, high quality hanya di Tirana House: Branded Stocklot Boutique, Jl Suryodiningratan 55 Yogyakarta.



Saturday, January 30, 2016

30 Tahun LUPUS


30 TAHUN LUPUS
Nulis Lupus Bareng
Masih ingat LUPUS dengan rambut jambul dan permen karetnya? 
Lupus adalah milik generasi muda Indonesia 
Lupus bukan sekedar karakter yang muncul dalam novel.
Lupus adalah “trend setter” dan aset bagi dunia fiksi pop Indonesia.
Lupus itu penting.
Berapa banyak saat ini, karakter seperti Lupus yang begitu kuat menginspirasi generasi muda?
Tertantang menghidupkan LUPUS kembali?
Rumah Kreatif LUPUS, Tirana Art Management (TAM) Yayasa SAHaLA & KOMPAS mengundang kamu yang kreatif, suka menulis atau bikin komik, untuk Nulis Lupus Bareng

Launch your idea! 
Bagaimana seharusnya Lupus muncul kembali?
Jangan ragu, bangun imajinasimu seliar mungkin.
Tuangkan dalam 1 halaman A4.

Kirim ke email: klasikajogja@kompas.com dilengkapi dengan data-data: Nama lengkap, Usia, Alamat domisili lengkap, No handphone.
Paling lambat tanggal 25 Februari 2016.

Karya terbaik akan mendapat:
Workshop penulisan yang dilanjutkan dengan coaching, dibimbing langsung oleh Hilman Hariwijaya, Gusur, dan Boim
Karya diterbitkan dalam bentuk Novel, Komik, dan online series
Honor atas karya yang diterbitkan

Tirana Art Management | TAM

Jl Suryodiningratan 53-55 Yogyakarta 55141
Jl Abu Bakar Ali 22, Kotabaru, Yogyakarta
e. tiranayogya@gmail.com
ph. 0274 411615 | 081 827 7073

________________________________________________


PRESS RELEASE

SAVE LUPUS! The Project
LUPUS BARU untuk Indonesia
Yogyakarta, 26 Februari 2016

Rumah Kreatif Lupus bekerjasama dengan Tirana Art Management, didukung oleh Yayasan SAHaLA (Sahabat Asia Bianglala) mempersembahkan:  LUPUS BARU. Lupus adalah tokoh fiksi pop dalam serial novel berjudul sama karangan Hilman Hariwijaya. Novel Lupus pertama diterbitkan pada tahun 1986. Melalui LUPUS BARU, Hilman Hariwijaya, Gusur dan Boim melakukan seleksi atas ide-ide kreatif dari generasi sekarang untuk menghadirkan  LUPUS kembali sesuai dengan kondisi terkini. Apakah LUPUS masih mengunyah permen karet? Atau masih dengan model rambutnya yang berjambul. Masih bersekolah di SMA Merah Putih?. LUPUS BARU Tidak hanya diselenggarakan di Yogyakarta, tetapi juga akan menyusul di Jakarta dan Bandung .

Mengapa ingin menghadirkan LUPUS kembali?
1. Karena ia bukan sekedar sebuah karakter yang muncul dalam novel. Lupus menciptakan tren pada masanya. Artinya, Lupus adalah aset. Karena trend setter mampu mempengaruhi banyak aspek dalam kehidupan; sosial, ekonomi, gaya hidup, dll. Lupus juga aset bagi dunia fiksi pop Indonesia.

2. Namun berapa banyak generasi millennium yang kenal Lupus? Berapa banyak generasi 80-90 an yang menceritakan tentang Lupus kepada generasi berikutnya? Seberapa sering Lupus jadi topik perbincangan? Seberapa produktif Hilman Hariwijaya, sang penulis, menulis Lupus? Berapa banyak saat ini, karakter seperti Lupus yang begitu kuat menginspirasi generasi muda?

3. Rumah Kreatif Lupus, bekerjasama dengan Tirana Art Manajemen didukung oleh Yayasan SAHaLA memberikan ilmu tentang bagaimana menulis Fiksi Pop.  Tujuan diadakannya acara ini untuk menghidupkan Lupus kembali sebagai “trend setter” yang membawa isu-isu publik dengan gaya dan karakter yang khas dan ringan juga untuk menggerakkan penulis-penulis muda potensial sebagai penulis“LUPUS BARU”.

LUPUS BARU dan Penulis-penulis baru
LUPUS BARU akan muncul dalam berbagai format; novel, komik, musik, online series, komik strip online, cerita anak, dll. Bukan Hilman Hariwijaya lagi yang menulis, namun penulis-penulis baru yang ditangkap dari hasil seleksi, kemudian dibimbing melalui serangkaian kegiatan workshop. Proses kreatif menghadirkan LUPUS BARU akan disupervisi oleh Hilman Hariwijaya, sang penulis awal Lupus, bersama dua sahabatnya; Gusur Adhikarya dan Boim Lebon.

Mengapa Hilman merelakan Lupus muncul kembali dalam cerita baru dan bukan lagi ditulis olehnya sendiri? “Saat Lupus diterima publik dan menjadi trend setter, saat itulah saya sadar bahwa Lupus adalah milik generasi mudah Indonesia. Bukan eksklusif milik saya. Saya ingin Lupus tetap hadir, menjadi inspirasi dan ikut berperan membangun bangsa. Karena itu, saya kembalikan Lupus kepada generasi muda Indonesia, untuk dihidupkan kembali sesuai dengan jamannya”, Hilman menjelaskan.
Kandidat penulis LUPUS BARU dijaring melalui ajang pencarian bakat. Peminat mengirimkan ide-idenya dalam bentuk tulisan pendek tentang Lupus yang menjadi imajinasinya. Sejak pendaftaran dibuka 1 bulan lalu, ada ratusan karya yang masuk. Menggembirakan, karena banyak ide-ide unik dan menarik. Mulai dari Lupus sebagai pengusaha muda, Lupus sebagai penjelajah waktu, sampai Lupus sebagai motivator. Ada juga yang ingin mempertahankan posisi Lupus sebagai wartawan, lengkap dengan situasi Lupus pada awalnya, yaitu dengan sahabat-sahabatnya yang unik.

Dari ratusan karya yang masuk, akan dipilih 80 orang untuk mempresentasikan ide-idenya secara langsung dihadapan tim juri. Penjurian terbuka untuk umum, diadakan di di Student Hall, Universitas Sanata Dharma, Kampus I Mrican pada Sabtu, 27 Februari 2016 mulai Pk. 09.00 pagi. Selain acara penjurian akan ada acara “Meet and Greet” Trio Lupus (Hilman, Boim, Gusur) serta acara-acara hiburan lainnya.

Acara penjurian bertujuan untuk menyeleksi 40-50 orang kandidat penulis Lupus. Kandidat inilah yang akan menerima bimbingan-bimbingan teknis dari Trio Lupus melalui coaching clinic, workshop, mentoring, dan diskusi-diskusi. Workshop pertama akan diadakan langsung keesokan harinya, yaitu Minggu 28 Februari 2016 di Kebun Binatang Gembira Loka.

Juga akan ada “Writing Camp” selama tiga hari yang akan memperdalam proses kreatif secara lebih intensif. Keseluruhan bimbingan teknis ini akan dibimbing langsung oleh Trio Lupus. Mereka juga akan bergabung dalam komunitas penulis Lupus yang setiap saat akan dilibatkan dalam acara-acara Lupus.

Profil singkat LUPUS
Lupus
 adalah tokoh fiksi dalam serial novel berjudul sama karangan Hilman Hariwijaya. Novel Lupus pertama diterbitkan pada 1986 berjudul Lupus I: Tangkaplah Daku Kau Kujitak. Walaupun judulnya adalah plesetan dari film Kejarlah Daku, Kau Kutangkap, ceritanya tak berhubungan.
Lupus memiliki teman-teman seperti Boim, Gusur, Anto, Aji, Fifi Alone, Adi Darwis, Gito(teman massa dewasanya). Iko-iko, Pepno, Happy, Uwi dan masih banyak lagi(teman masa kanak-kanak dan remajanya). Ia memiliki seorang adik bernama Lulu dan mereka berdua kini tinggal bersama sang Mami yang bernama Anita.

Sedangkan sang Papi yang bernama Mulyadi, telah meninggal saat Lupus kelas 1 SMA. Beberapa kisah dari novel-novel Lupus juga telah diangkat ke dalam bentuk film dan sinetron. Selain itu juga telah terbit berbagai nariasi dari cerita Lupus seperti Lupus Kecil, Lupus Milenia dan lain-lain. Terdapat pula sederetan gadis yang pernah menjadi kekasihnya. Seperti Poppy, Rina, Happy, sampai yang terbaru adalah Nessa.

Lupus identik sekali dengan permen karet yang tak pernah lepas darinya. Model rambut berjambul yang sering dihina Lulu dengan sebutan sarang Burung. Juga sifatnya yang konyol, hingga membuatnya disukai oleh seluruh teman-temannya.

Filosofi permen karet ala LUPUS
Melalui permen karet, sebenarnya LUPUS ingin mengajak generasi muda untuk tidak merokok. LUPUS lebih memilih permen karet daripada rokok. Permen karet, dikunyah ketika rasanya masih manis dan dibuang begitu saja ketika rasanya menjelang pahit; sama halnya dengan permen karet, serial novel LUPUS diharapkan renyah manis seringan mengunyah permen karet.

Rumah Kreatif LUPUS
Rumah Kreatif Lupus adalah wadah komunitas Lupus (penulis dan penggemar) yang memfasilitasi proses-proses kreatif penciptaan Lupus. Rumah ini adalah markas tempat berkumpul sekaligus berdiskusi untuk terus menghidupkan Lupus secara positif maupun kegiatan-kegiatan lain yang terkait. Rumah Kreatif Lupus diinisiasi oleh Hilman Hariwijaya bersama Gusur dan Boim, saat ini bermarkas di Jakarta. Dalam waktu dekat, Rumah Kreatif Lupus juga akan hadir Kota Yogyakarta.


Untuk informasi lebih lanjut silakan kontak:
Christine Effendy
Nunuk Ambarwati (081 827 7073)
Tirana Art Management (TAM)
Jl Suryodiningratan 55 Yogyakarta 55141

Thursday, December 17, 2015

Bersama Tanah, Mengayam Hari


Baca juga http://nunukambarwati.blogspot.co.id/2015/03/tanah-yang-dianyam.html


Hari Minggu lalu agak terburu-buru karena tak banyak waktu, mengunjungi studio Asep Maulana Hakim atau dikenal Asep Goler, Asep Jablay, Asep Lebay atau Asep Pijit di desa Kaliputih, kampung Karang di kawasan Yogya selatan. Untuk nama-nama sebutan itu, masing-masing memiliki sejarah sendiri-sendiri dan tentunya bikin geli. Asep Goler (bahasa Sunda: suka tidur), muncul karena ia sering kedapatan tidur saat orang beraktifitas kerja. Asep Jablay (jarang dibelai), karena waktu itu tinggal berjauhan dengan istrinya, pulang 2 minggu sekali. Asep Lebay (lelaki bayangan), karena tingkat mobilitasnya cukup tinggi sebagai pemijat, ia bisa diundang ke berbagai kota hanya untuk memijat. Hari ini ia bisa di Jakarta, eh lusanya ia sudah ada di Palembang atau ke Bali. Asep memang lebih dikenal sebagai tukang pijat sejak 15 tahun belakangan ini, maka Asep Pijit adalah sebutan yang lebih bertahan lama hingga sekarang. "Gitu mbak, ha ha ha", ceritanya sambil tertawa terkekeh.


Namun demikian, lelaki kelahiran Garut, 4 Juni 1983 ini sebenarnya seorang sarjana seni, lulusan Insitut Seni Indonesia/ISI (2007-2012), jurusan kriya keramik. Hmm, jadi Asep ini seorang seniman atau tukang pijat? Keduanya ia lakoni. Dan keduanya saling mendukung. Demikian penjelasannya: sebagai seorang seniman kriya keramik mengolah sebongkah tanah liat menjadi bentuk atau figur memerlukan ketrampilan menekan, memijat, menggosok, melenturkan tanah dan seterusnya. Hal ini juga berlaku sama ketika ia memijat kliennya. Jari-jari dan telapak tangan seorang Asep sudah peka kapan tanah liat siap diolah, tanah liat yang mulai kehilangan kelembaban, tanah liat ini bisa retak, hingga tanah liat mana yang harus segera masuk tungku pembakaran. 


Karya-karya keramik Asep Maulana Hakim identik dengan anyaman. Pertama-tama ia membuat bilah-bilah dari tanah liat dengan panjang yang diinginkan, mulai ukuran 1 sentimeter hingga 2 meter. Bahkan ia pernah membuat obyek berukuran 1 milimeter saja! Saat itu ia membuat ketupat dari janur berukuran 1 milimeter. Ia bisa khusyuk bekerja 8 jam/hari di studionya, menghasilkan 400-500 bilah pilinan dari tanah liat (rata-rata panjang 50 cm). Setelah terkumpul, satu demi satu dan ia anyam membentuk bakul atau caping dan seterusnya. Bisa bayangkan bagaimana mengayam tanah liat yang lembek? Membentuk obyek dengan anyaman dan tidak patah ditengah pengerjaan? Bagaimana menyusun anyaman tersebut dari bawah ke atas dan tidak meleyot? Resiko-resiko itu sudah khatam dipelajari Asep, hingga ia bertekun dan sering membuat penikmat seni terbelalak heran dengan hasil karyanya.


Semua ia kerjakan detail dan penuh. Ia tak mau setengah-setengah. Misalnya, ia buat bapak dengan kopiah, maka ia pun membuat detail rambut bapak di balik kopiah tersebut, meski kemudian akan tertutup kopiah. Atau seekor induk ayam yang sedang mengerami telur, maka ia pun membuat bulu penuh di sekujur ayam meski nanti akan tertutupi bakul. 'Nggak puas!', tegasnya. Menurut dia, secara estetis akan sempurna bagus bila karya keramik yang bisa dinikmati meruang, 3 dimensi utuh dari atas hingga ke bawah, bisa dilihat dari sudut manapun.


Pilinan yang dibuat Asep untuk membentuk anyaman.
Untuk pameran tunggalnya di Tirana House kali ini, ia menyiapkan 6 karya dengan obyek yang berkaitan erat di kehidupan sehari-hari. Tengok saja, ada kucing, ayam, bakul dan seorang bapak tua dengan ayam kesayangannya. Setiap obyek yang ia buat merupakan hasil ketekunan jari-jarinya. Untuk membuat sehelai bulu, sebutir tanah liat ia bentuk elips kecil, lalu ditekan-tekan dengan kuku. Dan itu ia kerjakan satu demi satu. Lalu dipasang disekujur badan ayam hingga penuh sampai ke kaki, baik untuk induk maupun anak ayam. Sementara untuk kucing, Asep menggunakan alat bantu peralatan masak yang bisa kita temui di dapur. Ia masukan tanah liat basah ke dalam alat tersebut, ditekan dan keluar dalam bentuk pilinan kecil-kecil seperti mie. Lalu ia potong lebih kecil dan ia susun sebagai bulu si kucing. Demikian kelebihan Asep. Jika kriya patung bersifat mereduksi bahan, sementara kriya keramik bersifat menambah. Jadi ia tidak mengukir bulu demi bulu tapi ia benar-benar membentuknya helai demi helai.


Namun demikian identitas Asep dengan anyaman tetap ditampilkan. Intip saja, kalung si kucing, bakul tempat induk ayam bertelur dan bakul mainan si anak kucing, ia anyam hingga mirip hampir 100% dengan aslinya. Bahkan Asep berhasil mendeskripsikan sangat realis kepada kita, penikmat seni, bagaimana sebuah bakul anyaman yang telah reyot ditindih induk ayam yang mengerami 5 telur di dalamnya. Takjub kita dibuatnya! Kenaturalan karyanya tak ingin ia tambahkan dengan teknik finishing yang neko-neko. Ia tak mau menambahkan cat warna warni pada karyanya. Ia ingin karyanya yang ‘berbicara’ sendiri bahwa ketekunan dan detail adalah yang membawa karya ini memiliki ruh kepada penikmatnya.


Asep menggunakan tanah liat asal Pacitan dan Sukabumi untuk bahan dasarnya. Tanah asal kedua wilayah ini memang diakui memiliki standar mutu stoneware yang diakui kualitasnya di dunia keramik. Bersama seorang temannya, baru saja ia berhasil membuat tungku pembakaran sendiri untuk karya-karyanya. Untuk itu dia bisa berhemat separuh biaya bila ia beli tungku yang sudah jadi. Ia sudah tak perlu lagi menitip pembakaran di kawasan Kasongan Rp 700rb/tungku/pembakaran. Dan dengan demikian ia semakin bersemangat berkarya untuk mengejar obsesi menggelar pameran tunggal selanjutnya.


Tungku pembakaran buatan sendiri.

CURRICULUM VITAE 
Asep Maulana Hakim Ssn (Asep Jablay)

PERFORMANCE ART
2009: membuat ketupat 1 mili meter, pada pameran Fiber Space II, Taman Budaya Yogyakarta

AKTIFITAS PAMERAN
TUNGGAL
2015 : "Bersama Tanah, Mengayam Hari", Tirana Art Space, Yogyakarta
GRUP
2007 : ''Geliat Nasional Ceramik Exibition", Sangkring art Space, Yogyakarta
2008 : "Surprise II", Benteng Vrendenburg, Yogyakarta
2009 : ''Fiber Space II", Taman Budaya, Yogyakarta
             "Dies Natalis 2009", Galeri Institut Seni Indonesia Yogyakarta
2010 : "Gerakan Seni Abstrak Indonesia III", Taman Budaya Yogyakarta
2011 : "Jogja Bangkit"Jogja Nasional Museum, Yogyakarta
2012 :  "Reposisi: Pameran Kriya Kontemporer'', Galeri Nasional, Jakarta 
           -"Meet Up: titik Lenyap & Friend", Galeri Biasa Yogyakarta
2013 : ''Vacuum Learning'', Bentara Budaya Yogyakarta
2014 : "The Thrid Jakarta Contemporary Ceramic Biennale: Coefficience of expansion" 
             Galeri Nasional Indonesia, Jakarta
             "Membaca Bayat", (PKKH) Universitas Gajah Mada Yogyakarta
2015 :  ''Inauguration", UMA Art Space, Tangerang
             "Dies Natalies ISI 31", galeri Rj. Katamsi, ISI Yogyakarta 
             "Nandur Srawung", Taman Budaya Yogyakarta