Tuesday, April 10, 2018

Seni Rupa dalam Prangko

Tirana Art House & Kitchen
14 April - 6 Mei 2018

Selamat datang di "pertemuan" bangsa-bangsa.

Forum ini merupakan pertemuan budaya melalui lembaran prangko, alat pembayaran dalam pengiriman surat. Meskipun saat ini peran dan pemakaian prangko sudah berkurang signifikan akibat adanya alat telekomunikasi sosial-virtual-digital-paperless yang canggih, namun daya tariknya tak pernah turut hilang. Dari selembar prangko berbagai hal dapat diambil pelajaran. Selain sebagai romantika masa lampau, pameran ini juga bisa untuk mengingat sejarah kebangsaan, tafsir selera estetika (dan politik) sebuah negara melalui pemerintah atau lembaga yang menerbitkan prangko, sampai pada pergolakan hak publikasi harta karun nasional masing-masing negara. 

Pameran ini menyajikan materi khusus berupa prangko dengan tema seni rupa dari 31 negara (antara lain: Belanda, Rwanda, Jerman, Amerika, Uni Emirat Arab, Tiongkok, Singapura, Rumania, Yaman, Mozambique, Hungaria, sejumlah koloni Prancis, dan sebagainya). Seni rupa yang dimaksud dalam sajian prangko ini misalnya potret para perupa dan karya seni rupa yang dipakai sebagai objek visual pada prangko. Potret pelukis Rembrandt, Rubens, sampai pelukis Indonesia terkenal, S. Sudjojono ada di dalamnya. Sedangkan foto karya seni rupa yang dijadikan objek visual prangko adalah lukisan, gerabah, keramik, dan kartun. Lebih dari 150 an lembar prangko terkurasi disajikan dalam pameran ini.

Dalam dunia filateli, objek seni rupa menjadi salah satu pilihan penting di dalamnya. Hampir setiap negara memiliki prangko bertema seni rupa. Dalam pameran ini tersaji objek seni dengan pilihan lukisan dari kajian sejarah seni rupa modern, utamanya seni lukis modern Eropa. Oleh sebab itu judul pameran ini memakai kata "Fine Art". Sebagian lukisan yang dipakai sebagai objek prangko merupakan lukisan era Renaissance (yang berkembang pada 1300-1600 M, seperti "Monalisa" karya Leonardo da Vinci, atau nama besar lainnya seperti Raphael, Fragonard, dan Diego Velazquez). Ada pula lukisan beraliran Realisme (Gustave Courbet), Surealisme (Dali), Kubisme (Picasso), hingga kartun Disney (yang bersifat kontemporer). Selebihnya seni rupa tradisi klasik seperti dari Jepang dan Tiongkok juga tersaji. Sedangkan dari Indonesia, tersaji lukisan Raden Saleh, Basoeki Abdullah, Popo Iskandar, Srihadi Soedarsono, dan lainya.

Agenda ini juga ingin memberi konsep pameran prangko agar lebih modern dan dinamis, khususnya bagi penggemar dan peminat filateli. Inilah salah satu cara untuk melihat gabungan displin bidang seni yang melahirkan sejumlah asumsi dan opini. Di luar hal tersebut prangko juga menjadi benda koleksi berharga yang bernilai tinggi: penanda zaman, sejarah, dan nilai artistik yang bisa dipelajari lebih jauh. Untuk itu semua perlu disajikan pada masyarakat.

Pameran ini menampilkan sebagian saja dari koleksi Dicti Art Laboratory, Yogyakarta. Materi pameran adalah prangko orisinal yang terdiri dari 2 (dua) jenis lembaran. Pertama, lembaran kecil seperti perangko pada umumnya yang telah dipakai pada amplop. Kedua, lembaran utuh yang belum terpakai dan dari berbagai ukuran, mulai separuh A5 hingga A5. Materi lainnya adalah prangko yang di-reproduksi untuk membantu penonton melihat detil di dalamnya. Prangko yang disajikan kali ini diterbitkan kisaran dekade 1950an hingga 2000an.

Jika dilihat dari elemen-elemen prangko seperti teks nama negara, teks hari peringatan, dan objek visual agaknya menjadi hal menarik. Dalam sejumlah besar prangko, konsep demografi atau batas teritorial negara, telah diabaikan. Misalnya, prangko bergambar lukisan Raden Saleh (seniman asal Indonesia), dicetak oleh Singapura, lukisan Rubens dicetak oleh Jerman, atau lukisan "Monalisa" dipakai oleh negara di luar Prancis (tempat dimana lukisan tersebut di displai). Hal ini menandai sifat global karya seni, sekaligus telah menjadikan prangko sebagai arena penghargaan masing-masing negara atas karya-karya masterpiece dunia.

Mari berkeliling dunia melalui lembar gambar miniatur bangsa-bangsa di dunia. 

Mikke Susanto
(Dicti Art Laboratory)
____________________________________________

DICTI ART LABORATORY


Mitra budaya yang bergerak menjadi bagian kerja kesenian, utamanya sebagai laboratorium kajian seni rupa. Visi yang diemban adalah mendukung dan menggerakkan berbagai program seni sebagai bagian dari kehidupan bermasyarakat. Program-program yang terkait seperti penelitian, pelestarian, kurasi, manajemen seni, kearsipan, dan penerbitan buku adalah bagian dari agenda di dalamnya. Lembaga ini didirikan oleh Mikke Susanto dan Rina Kurniyati pada 2010 sebagai bentuk kepedulian akan kurangnya infrastruktur seni yang ada di Indonesia.


Tirana Art Management
Tirana Art House and Kitchen
Jl Suryodiningratan 55 Yogyakarta
Buka setiap hari pk 09.00-24.00 WIB
Kontak 081-827-7073
Post a Comment