Sunday, December 14, 2014

Do You Feel Green?

GreenHost Boutique Hotel: Perpaduan Eco & Art Hotel
 
Restoran @ GreenHost Boutique Hotel dipenuhi karya-karya seni rupa berkelas.
Selama ini sering muncul kata-kata atau pernyataan feeling blue ya. Biasanya dipakai untuk mengkonotasikan perasaan seseorang yang sedang ambigu, sedih, melow dan sejenisnya. Nah sekarang, saya ingin memunculkan pertanyaan do you feeling green ? Mengapa muncul pertanyaan ini? Segera Anda dapatkan jawabannya di artikel ini.

Saya cukup beruntung ketika mengunjungi GreenHost Boutique Hotel (berlokasi di Prawirotaman gang II Yogyakarta) sekitar bulan Agustus 2014, saat mereka masih proses pembangunan. Saat itu dengan tujuan survey lokasi untuk menyelenggarakan event bersama SCP Switch Asia Project, membawa kami ke sana. GreenHost Boutique Hotel merupakan hotel baru, berlokasi di belakang pasar tradisional Prawirotaman, Yogyakarta. Hotel ini merupakan kepemilikan dari 4 orang yang dikelola oleh Ayom Grup. Saat menjelang hari  survey hari sudah menjelang gelap. Waktu itu bangunan masih setengah jadi dan penuh tukang. Bersama Bapak Arbiter Gerhard M. Sarumaha, General Manager (GM) hotel, kami menengok satu kamar yang menjadi sample untuk dipresentasikan kepada calon tamu. Hotel ini dipilih sebagai venue event kami karena mendapat sertifikasi berstandar internasional sebagai gedung ramah lingkungan (green building). Sang GM pun menguraikan panjang lebar perihal konsep dan misi pembangunan hotel ini yang berdasarkan kepada konsumsi dan produksi berkelanjutan.

Entri depan GreenHost Boutique Hotel.
Maka, di bulan Desember 2014, kami dari tim SCP, kembali datang untuk menggelar dua event di hari yang sama. Pertama, di pagi hari, acara konferensi pers bersama rekan-rekan jurnalis. Disusul siang hingga sore, acara workshop dan kompetisi bersama teman-teman blogger dan fotografi dengan tema ‘Green Building’. Kunjungan kedua saya saat itu berhasil merasakan 80% atmosfer hotel tersebut. Selama kurang lebih setengah hari berada disana, merasakan kamar, merasakan sarapan dan makan siang, merasakan ruang meeting di lantai bawah dan di roof top (lantai paling atas), dua atmosfer yang berbeda, bertemu dengan pemilik hotel, ngobrol dengan para staf. Hmm, ada satu hal yang belum dilakukan yakni berenang. Mengapa? Temukan jawabannya di paragraph selanjutnya. 

Inilah keberutungan saya mendapat dua atmosfer kunjungan berbeda di hotel ini, pertama saat belum jadi dan kedua sesaat setelah hotel ini melaunching restorannya. Dalam beberapa kali kurang dari sebulan, karena urusan pekerjaan, membuat saya tanpa sengaja memasuki hotel demi hotel di Yogyakarta. Mulai dari hotel yang hanya terkesan ‘kotak’, sangat biasa hingga hotel bintang lima bernuasana heritage atau hotel berkelas yang terkesan sangat berjarak. Biasanya hotel juga berlomba-lomba menawarkan suasana elegan, mewah, berkelas, interior yang unik dan berbeda dengan yang lain. GreenHost Boutique Hotel juga demikian, memberi warna lain sebagai sebuah hotel yang ramah lingkungan. Di tengah gencarnya statement sebagai eco hotel, sepanjang pengamatan saya, GreenHost Boutique Hotel adalah satu-satunya eco hotel di Yogyakarta yang telah bersertifikasi. Pengalaman singkat itu cukup membuat saya untuk bisa mendapatkan perbandingan dan menuliskan artikel ini. 
Open kitchen @greenhosthotel
Nulis menu aja pakai daun nih...lucu ya :)
Open kitchen @greenhosthotel
Memasuki GreenHost terasa tak seperti di hotel yang kinclong seperti biasanya. Terkesan tak angkuh karena bangunannya bersahaja, bersahaja dari warna dan penampakannya. GreenHost Boutique Hotel memang mengusung konsep eco hotel. Mulai dari awal mereka membangun, memikirkan mengenai pembuangan tanah galian. Penggunaan material bangunan, mereka menggunakan kayu bekas peti kemas dan besi bekas. Meski pun bekas terkesan usang, tidak demikian dengan yang terlihat. Karena kayu-kayu dan besi diolah sedemikian rupa oleh para desainer interior menjadikan hotel ini tampak artsy. Roof top nya masih terbuka langsung ke langit ketika saya di bulan Desember, jadi saat hujan turun, kolam renang akan langsung terpapar air hujan. Dan saat hujan selesai tercurah, genangan air sisa hujan akan terasa di pijakan kaki sekitar area antara lobby dan kolam renang. Ke depannya, akan disediakan bar dan lounge di areal roof top. Roof top memang dibiarkan terbuka sepertinya, karena hujan akan langsung menyiram tanaman-tanaman yang sengaja di-setting sebagai semacam ‘barrier’ di depan kamar-kamar. Bila hujan tak turun, dan siang terasa terik, akan terbuka beberapa titik kran air di roof top. Air akan memercik halus dari kran-kran kecil itu untuk menyejukkan sebagian gedung. Nah karena roof top nya terbuka, maka sirkulasi angin dan cahaya yang masuk menjadi maksimal. Inilah sebagian dari kriteria standarisasi gedung ramah lingkungan.


Salah satu sudut kamar @greenhosthotel di lantai pertama.
Penggunaan energi listrik yang mengajak penghuninya mengelola dengan bijak. Karena per kamar hanya dibatasi penggunaan 6 ampere, biasanya 10 ampere. Sehingga penghuni harus efektif dan efisien menggunakan listrik. Penghuni diajak memilah secara prioritas penggunaan energi listrik. Tidak disarankan menggunakan listrik tidak sesuai penggunaan, misalnya televisi menyala, mengisi baterai handphone, penggunaan hairdyer secara bersamaan. Hampir seluruh gedung ini juga menggunakan lampu hemat energi (LED), kecuali di bagian kitchen masih menggunakan beberapa lampu non LED untuk kepentingan dapur. Suhu AC pun disesuaikan standar eco hotel, di-setting antara 22-27 derajat celcius saja. 
Hotel ini juga mengelola air buangan/limbah. Tidak terlalu banyak membuang air tetapi mengolahnya kembali. Mereka juga menanam tanaman secara hidropronik hampir di setiap sudut ruang hingga di roof top. Pengunjung akan menemukan instalasi paralon-paralon yang akan dipenuhi tanaman-tanaman segar. Gedungnya tidak banyak menggunakan cat, sehingga terkesan monokrom dengan warna-warna dominan natural coklat kayu, putih dan abu-abu semen. Meskipun sebenarnya tetap bisa lebih colorfull dengan cat berbahan dasar air. Water based paint adalah cat yang direkomendasikan karena ramah lingkungan.
Soal menu makanan pun disesuaikan dengan pola hidup konsumsi hijau. Saat sarapan, saya diberi pilihan menu set. Seperti menu set Indonesian food atau mau sarapan ala Eropa, roti, telur, jus buah segar dan teman-temannya. Semua roti di hotel ini terbuat dari gandum. Meskipun saat ini tanaman-tanaman masih berproses untuk tumbuh, tetapi nantinya penghuni hotel juga bisa makan sayuran pilihan yang ditanam secara hidroponik disini. Nah sampai disini, sudahkah Anda feeling green ? (smile).

Sudut unik hasil rancangan desain interior di salah satu kamar 

Masih ada bonus menarik nih. Bukan basa basi ketika hotel ini mengeluarkan statement sebagai ‘boutique hotel’; paduan eco dan art tampak nyata bahkan ketika kita memasuki lobby. Pilihan furniture seperti meja, kursi jelas menunjukkan sense of art-nya. Mereka juga menggandeng 4 desainer interior untuk menyulap kamar menjadi detail-detail yang membuat kita takjub (artist designed room). Sebagai informasi, semua kamar di hotel ini kelas dan ukurannya sama, tak berlevel seperti layaknya hotel lainnya. Belum cukup hanya itu, di beberapa sudut, pengunjung hotel disuguhi karya-karya seni berkelas yang satu misi dengan hotel ini, yakni peduli soal pola hidup ramah lingkungan. Saat di lobby, restoran atau kolam renang, Anda akan ditemani karya seni seperti patung, instalasi, mural, video art atau karya dua dimensi lainnya dari para seniman ternama di tanah air seni rupa. Tak hanya itu, agenda fashion show pun bisa Anda nikmati di hotel ini di waktu-waktu tertentu. 

Sayangnya hotel ini tidak saya rekomendasikan untuk family. Saya bayangkan ketika harus membawa satu orang anak balita saat trip dan harus menginap di hotel ini. Selain kamarnya kecil, sebenarnya lebih nyaman untuk sendiri atau berdua saja; hotel ini juga tidak menyediakan paket untuk family. Tentu saja tidak ada kids corner. Program channel televisinya pun tidak ada yang dikhususkan untuk anak-anak. Lebih tepatnya hotel ini lebih tepat untuk tamu-tamu dengan business trip. Kolam renangnya juga kurang terprivasi. Bagi Anda yang tak terbiasa bermuka tebal, suka terekspos atau eksis dengan body tak atletis, mungkin Anda cukup memandangi kolam renang saja. Menurut saya kolam renangnya tak nyaman untuk membuat kita bersantai berenang; karena di pinggir-pinggir kolam renang langsung bersinggungan dengan ruang meeting (di sisi timur), lobby (di sisi utara) dan restoran ( di sisi barat). Hmm…harus berpikir lebih banyak ketika mau berenang di tengah lalu lalang orang, entah itu tamu atau para staf hotel. Mungkin hotel bisa tambahkan partisi vertical garden sebagai alternatif sekat antar ruang. 

Swimming pool @ GreenHost Boutique Hotel
Mungkin saya harus datang kembali enam bulan ke depan, ketika tanaman-tanaman sudah lebih tumbuh memenuhi hampir 40 persen bangunan ini. Mungkin akan ditemukan tambahan detail-detail aksen artsy di sudut-sudut lain di hotel ini, sambil menikmati aktifitas seni yang sudah berturut-turut terjadwal ingin bersinergi dengan misi sebuah eco hotel. 

GreenHost Boutique Hotel
Jl Gerilya atau Prawirotaman II No 629 Brontokusuman
Yogyakarta Indonesia 55153
ph. +62 274 389 777 | f. +62 274 3888 77
e. info@greenhosthotel.com
http://www.greenhosthotel.com/
FB Greenhost Hotel
@greenhosthotel
Post a Comment