Friday, December 19, 2014

Dari Jago hingga Khatulistiwa


Tulisan untuk pameran tunggal karya Rd.Syarief Hidayat
'LAND.LIFE.LOVE'
Tirana Artspace, Jl Suryodiningratan 53-55 Yogyakarta
29 November - 25 Desember 2014


Rusnoto Susanto & Syarief Hidayat usai pameran dibuka.

 Memahami karya seni beraliran abstrak, memang memerlukan sense tersendiri. Bukannya sulit (menurut saya), tetapi harus lebih mengasah kepekaan rasa kita ketika melihatnya. Bukan juga perkara bagus atau tidak, tetapi suka atau sebaliknya. Seperti presentasi pameran tunggal karya Rd. Syarief Hidayat (asal Bandung) di Tirana Artspace, Yogyakarta. Bertajuk ‘Land.Life.Love’ dipamerkan 29 November – 25 Desember 2014. Lima belas karya abstrak tersaji di tengah display sebuah butik pakaian. Bukan perkara mudah juga untuk saya, menyajikan karya-karya beraliran abstrak di sebuah butik dengan pengunjung yang awam soal seni rupa. Meskipun sudah 2 tahun selalu regular menggelar pameran seni rupa, tetapi memutuskan apakah karya abstrak cocok untuk dipamerkan di Tirana Artspace tetap menjadi pertimbangan yang menyeluruh. Kesimpulan membawa saya untuk tetap memamerkan karya-karya ini ditambah pertimbangan untuk mempererat silaturahmi antara seniman Bandung dan Yogyakarta. Pameran dibuka oleh Rusnoto Susanto (seniman, dosen dan kurator) dengan jabaran sangat detail mengenai proses berkarya seorang Syarief Hidayat. Saking detailnya, membuat pengunjung di malam pembukaan pameran (29/11/14) harus bersabar berdiri mendengar ulasannya yang runut selaksa benang merah yang panjang. 

Rd. Syarief Hidayat | 'Torehan No 9' | acrylic on canvas | 90 x 140 cm | 2014
Karya 'Torehan No 9' yang didisplay di luar ruangan.
Rd. Syarief Hidayat Kartamidjaja, perupa kelahiran Bandung, 15 Mei 1968. Syarief mengaku tidak memiliki latar belakang pendidikan seni rupa secara formal. Karena ia menempuh studi di STBA (Sekolah Tinggi Bahasa Asing) Yapari-ABA Bandung. Ia banyak belajar seni rupa dari ayahnya yang notabene seorang seniman kakap, Rd. Tohny Joesoef (alm) di Sanggar Ligar Sari ’64 (SLS ’64) Bandung. Dan satu dekade lebih memiliki pengalaman eksplorasi seni rupa di Bali. Dalam akar kehidupan keluarganya, sarat bersinggungan dengan dunia seni rupa, karena keempat anak Rd.Tohny Joesoef (alm) bekerja dan berkarya sebagai perupa. Ia tercatat aktif mengelola Sanggar Olah Seni (SOS) berlokasi di hutan kota Babakan Siliwangi di Bandung. Rd. Syarief Hidayat juga lebih dikenal sebagai ‘Kikip Jago’ atau ‘Roosterman’ karena ikon karya ayam jago yang sering ia pakai dalam karya-karyanya.


Rd. Syarief Hidayat | 'Atlantis' | mixed media on canvas | 60 x 80 cm | 2014
Syarief sangat sederhana mendefinisikan tajuk pameran tunggalnya kali ini; ‘Land.Life.Love’; mencintai alam, negeri, dan kehidupan yang dianugerahkan oleh Allah SWT. Tetapi tak sesederhana itu makna tiap karya yang ia sajikan. Hampir sebagian besar karya-karyanya merupakan kolase dari berbagai media. Sembilan puluh persen karya yang dipamerkan masih membawa ikon ayam jago dalam goresan dan judul karyanya. Sementara empat karya dari 15 karya yang dipamerkan, Syarief menggunakan potongan kain batik motif Jawa Barat. Menurutnya karya-karya ini adalah sebuah perjalanan spiritual yang panjang, dalam menyelami keindahan ciptaan Allah SWT, merekam dalam sanubarinya, yang selanjutnya diterjemahkan ke dalam wujud lukisan. Goresan-goresannya merupakan harmoni. Biru adalah laut, hijau adalah lahan subur dan seterusnya. Melihat karya lukis Rd. Syarief Hidayat, berarti melihat rasa cintanya akan tanah air, dan Sang Pemberi Hidup. Rasa cinta itulah yang menjadi spirit (semangat) sang perupa untuk tetap menjalani kehidupan dengan sebaik-baiknya. 

Karya berjudul 'Torehan No 9' (acrylic on canvas, 90 x 140 cm, 2014) merupakan karya favorit saya dalam pameran tunggalnya kali ini. Syarief Hidayat sengaja meletakkan di atas sebuah kolam di Tirana House. Sungguh suatu hal yang mengejutkan buat saya. Pakemnya, karya lukisan dengan media kanvas sangat disakralkan, tidak boleh disentuh pengunjunglah dan harus diletakkan di ruang aman dari hujan dan sinar matahari secara langsung. Saat ditanya mengenai resikonya karena meletakkan lukisan di outdoor, Syarief Hidayat berujar santai, 'tidak apa-apa, nanti kalau hujannya deras saja, baru dimasukkan'. Wow! 

Rd.Syarief Hidayat | 'Khatulistiwa' | mixed media on canvas | 70 x 90 cm | 2013
Demikianlah karena latar belakang keluarganya tersebut, juga kehidupannya di sanggar; menurut pendapat pribadi saya, membuat seorang Syarief Hidayat ditempa dengan tema-tema berkisar nasionalisme dan sangat kental mewarnai karya-karya yang ia hasilkan. Rama, seorang pemuda berumur 19 tahun, sangat muda dan awam di dunia seni rupa, toh sudah langsung menemukan lukisan favoritnya berjudul ‘Khatuliswa’. Alasannya sederhana, suka. Sementara Merlin (24 tahun), memilih lukisan berjudul ‘Dialog Jago dan Pohon’. Lukisan ini langsung menyergap antusiasmenya, paling bagus diantara yang lain, ujarnya. Jadi cobalah menikmati saja karya-karya yang ada dengan ketulusan mata hati dan jiwa ketika memandangnya dan temukan luasnya kekayaan alam negeri ini.
Liputan pameran di Harian Jogja | Selasa, 9 Des 2014 | hal 8

Liputan pameran di Harian Jogja | Selasa, 9 Des 2014 | hal 8

Liputan pameran di Koran Tempo | Kamis, 4 Desember 2014, hal 16
Tribun Jogja | Minggu Legi, 28 Desember 2014 | halaman 19


Post a Comment