Thursday, May 23, 2013

FOLLOW THE NEEDLES | pameran kristik & sulam


 Pameran ini terbilang sederhana, mulai dari persiapan hingga penyelenggaraannya. Konsep pamerannya ringan, temanya juga ringan, karya-karyanya mudah dicerna & dipahami. Simple lah pokoknya. Tetapi...suprise sekali. Pameran ini mendapat banyak respon dari publik. Baik respon di dunia maya maupun yang datang berkunjung melihat pameran. Ngobrol tentang hobi kristik, sulam atau ada beberapa orang yang kemudian mengkonsinyasikan buku teknik sulam hingga karya kristik & sulam mereka. Karya-karya juga banyak terjual. Pokoknya pameran ini punya sisi menarik tak terlupakan untuk saya pribadi sebagai penyelenggara pameran. Personil dari orang-orang dalam kelompok ini, yakni kelompok Seven Needles juga sangat low profile. Mereka sangat mencintai karya mereka masing-masing. Sangat menghargai proses setiap jarum yang mereka tarik demi membuat sebuah karya. Mereka juga tak peduli apakah karyanya akan terjual atau tidak. Bahkan mereka sangat mafhum ketika yang datang saat pembukaan pameran hanya sedikit orang. Demikianlah, sekali lagi saya dibukakan, bahwa karya yang jujur, karya yang datang dari hati yang dalam lah yang benar-benar bisa diterima oleh publik.

FOLLOW THE NEEDLES
Pameran kristik & sulam
Grup Seven Needles
Tirana Artspace | Jl Suryodiningratan 55 Yogyakarta 55141
1 – 27 Mei 2013




Workshop kristik dan sulam, Sabtu, 18 Mei 2013

FOLLOW THE NEEDLES…
Menjadi tema pameran grup Seven needles kali ini. FOLLOW THE NEEDLES memberi cerita atas proses dan karya 6 perempuan yang gemar bergulat dengan jarum dan benang, yang memiliki hobi menusuk-nusuk dan menarik-narik jarum dengan ekor benang warna-warni. Tentu saja bukan untuk menyakiti
J, namun menjadikan jarum dan benang sebagai medium bergelut dengan diri, dengan kesadaran, dengan kesetiaan, dengan kesabaran, dan cinta untuk menghasilkan sesuatu yang indah.

Embroidery, cross-stitch, sulaman bebas, apa pun needle works adalah proses keintiman diri kami. Adalah proses kolaborasi yang intim antara visi, mata, tangan, jari, perasaan, dan perhitungan/logika/pikir. Jarum ibarat kemudian karena sekali dia menusuk lalu menarik, dia akan membawa serta benang yang akan menorehkan pola yang sudah dirancang dan terukur. Kesadaran atas setiap tarik nafas berbarengan dengan kesadaran atas setiap tusukan dan tarikan jarum. Lalu senyum mengembang bersamaan dengan pola dan warna yang mulai menunjukkan cerita. Sesederhana ini kebahagiaan kami.


Lets enjoy follow the needles!
Mari kita alami dan rayakan proses intimasi bersama jarum-jarum, bersama buah cinta dari Tante Kristi Harjoseputro, Ani Himawati, Nur Cahyati Wahyuni, Rennie Emonk, Lusia Neti Cahyani, dan Titis Lailaningtyas. Semoga kebahagiaan dan kedamaian kecil yang kami rasakan beresonansi di sekitar kami dan menjalar... dan menular…
J


Peace &



Love,
Disusun oleh Ani Himawati.



TENTANG SEVEN NEEDLES
Waktu pertama kali saya mengangkat nama Seven Needles, banyak yang bertanya, mengapa seven, kok bukan five atau ten needles misalnya?

So, this is the story behind The Seven Needles
Berangkat dari kumpul-kumpul bersama teman-teman ( yang nota-bene mereka kebanyakan adalah teman-teman anak perempuan saya, yang menjadi teman saya juga); ngobrol punya ngobrol akhirnya terbentuk kelas menyulam yang sifatnya terbuka dan bebas. Setelah kelas pertama di Kinoki , workshop di LIP dan kelas kedua di Lakibini Resto, dari omongan iseng timbul niatan untuk memamerkan kemampuan para murid saya lengkap dengan hasil karya mereka. Dari berbagai latar belakang aktivitas murid-murid kelas menyulam yang beragam dan jauh dari kegiatan menyulam itu sendiri, terkumpullah tujuh peserta yang ikut pameran.

Kenapa Seven Needles? Yah… memang bukan karena pesertanya tujuh orang, walaupun memang ternyata peserta pameran pertama ini tujuh orang, tapi berdasar dari lamanya saya beraktivitas menyulam ini, saya menyimpulkan bahwa untuk menyulam, apapun, entah cross stitch, atau embroidery misalnya, tidak cukup hanya dengan satu jarum saja. Di bantalan jarum saya selalu tersedia sekurang-kurangnya tujuh jarum, kadang bahkan lebih, dengan berbagai warna benang yang terurai di ujungnya. Ternyata menyiapkan banyak jarum, tujuh misalnya , atau lebih, sangat mempermudah dan mempercepat pekerjaan saya, jadi saya nggak harus selalu bolak-balik melepas dan mengganti benang lain di jarum saya.

Terinspirasi dari “rasa” itu tadi, maka terciptalah nama Seven Needles, semoga nantinya dapat menjadi sebuah komunitas menyulam di Jogja.

Happy Stitching Everyone
Kristi Harjoseputro


Post a Comment