Wednesday, January 02, 2013



Kasih Harus Sampai

Oleh: Yuswantoro Adi

“The colors of a rainbow.... so pretty in the sky
Are there on the faces.... of people...going by
I see friends shaking hands.... saying..how do you do
They're really sayin... (I ....love....you).

I hear babies cry.....I watch them grow
(you know their gonna learn A whole lot more than I'll never know)
And I think to myself ....what a wonderful world
Yes I think to myself .....what a wonderful world”
           
            Cuplikan lagu ‘What A Wonderful World’ barangkali cukup tepat menggambarkan lukisan buah karya Kasih Hartono. Meski yang ia lukisankan serta-merta bukanlah cantiknya pelangi atau pemandangan alam nan indah. Namun sesungguhnya ia telah sedang mengamalkan pemandangannya terhadap dunia (baca: masalah keseharian dan aneka persoalan sosial, kemasyarakatan dan hal sejenis yang ia saksikan dan alami) dengan memakai asumsi bahwa apapun di muka bumi ini adalah “wonderful”.
            Wonderful punya arti harfiah sangat bagus. Maka tak heran hampir seluruh lukisan yang tersaji di pameran ini tampil dengan visual indah atau sengaja alias dibuat dengan mementingkan soal keindahan. Sebenarnya agak paradoksal, sebab ia menggambarkan seuatu yang bersifat sosialistik, namun ia memilih menyampaikannya dengan pendekatan estetik-artistik belaka. Jadi, jangan terlalu berharap Anda akan menemukan “persoalan, masalah, keluhan, kritik, protes apalagi dendam” di dalam kanvasnya.
            Lihatlah “Peaceful” sebuah lukisan yang menceritakan betapa buruknya sistem transportasi kita. Penumpang berdesakan hingga sebagian –atau malah separuhnya— tidak tertampung di mobil angkutan itu, sehingga nampak bergelayutan di belakangnya. Uniknya semua terlihat gembira dan tersenyum. Perhatikan pula judulnya!
            Saksikanlah secara seksama; “Menggapai Bintang” sebuah keluarga sederhana, divisualkan secara sederhana; bapak, ibu dan anak menaiki sepeda tua berjalan perlahan-lahan. Sang bapak nyaris atau bahkan sudah tertidur, ibu nampak kelelahan. Sementara anak sama sekali tidak kelihatan letih, justru begitu bahagia sekaligus bangga meski cuma mendapatkan pencapaian sederhana, yakni berhasil menunjuk bintang. Setidaknya ada dua catatan sederhana untuk lukisan ini. Pertama bintangnya tidak diperlihatkan jelas atau hanya berpendar samar saja. Kedua, seragam polisi yang dikenakan anak amat sangat jelas sekali.
            “Menuju Alun Alun” sekilas seperti potret dua orang perempuan muda, salah seorang di antaranya membawa tas plastik berisi ikan hias hidup, yang satunya mendorong gerobak (wadah jualan pukis) sambil menggendong anak kecil menenteng kencrung atau gitar mainan. Mereka telah sampai di sudut beteng keraton. Artinya sebentar lagi akan sampai ke alun-alun. Hingga di sini mungkin kita tidak menemukan apapun lagi kecuali potret itu. Coba lihatlah lebih teliti atau kalau ingin lebih tegas, tanyakan langsung pada pelukisnya. Anda akan memperoleh narasi yang mengharukan.
            Dua lukisan serupa; “Take Me Home” dan “Homeland” tentunya bermaksud berbicara tentang kerinduan seorang Kasih Hartono terhadap masa lalu atau (semoga tidak terlalu kurang ajar) masa depan hidupnya. Yang menarik dari kedua karya ini adalah mereka (lukisan tersebut)terasa puitik sekali. Oleh karenanya, jika tulisan yang saya buat sebagai pengantar, namun bukan catatan kuratorial ini; terasa romantis, melodramatik dan mendayu-dayu Melayu. Salahkan pengaruh semacam itu yang ditimbulkan oleh dua lukisan di atas!
            Nah, rasa serta influences itulah yang kemungkinan besar dapat gampang ditangkap oleh mata dan mata hati kita manakala memelototi karya-karya lukisan Kasih Hartono pada pameran kali ini. Sebuah pameran dengan tema utama dimaksudkan sebagai sosialisme namun taste romantismelah yang kita nikmati kemudian.
            Adakah berarti Kasih gagal? Justru tidak!
            Kasih, sesuai namanya sudah berusaha jujur dalam menggores kuas pada setiap kanvasnya dalam balutan semangat kasih, cinta, sayang, love and peace. Maka, baginya setiap hal dan kejadian di dunia ini selalu terlihat indah di matanya. Meminjam lirik sebuah lagu populer “Kasih tidak punya hati untuk menyakiti hati siapa dan apapun”. Bahkan dalam pengamatan saya, ia cenderung memilih sikap berhati-hati.
Barangkali ia agak naif melihat persoalan dunia. Karena, sejujurnya wonderful world hanya ada dalam lagu dan fantasi, imaginasi serta idealisme saja. Dunia senyatanya bukan seperti itu. Akan tetapi kenapa tidak kita membiarkan, mempersilakan, artinya memberi ruang atau kesempatan buat Kasih menikmati dunia sebagaimana yang ia yakininya? Toh kita juga diperbolehkan untuk menikmati bersamanya. Bukankah dengan demikian kita menjadi beruntung mendapatkan pencerahan (enlightenment) sekaligus pengayaan (enrichment) dalam memandang dunia dengan prespektif baru dan berbeda.
Dan memang begitulah tugas utama seorang seniman; memberi warna pada dunia. Dan pewarnaan yang ia lakukan itulah sebaik-baiknya yang kelak akan mampu memperbaiki sesuatu. Ya, tugas seniman itu bukan sekadar pencapaian artistik belaka, apalagi cuma motif ekonomi saja, melainkan  hendaknya punya nilai moralitas dan bersifat terpuji lagi mulia. Orang sering overestimate terhadap hal-ihwal berkesenian ini. Seolah seniman mampu atau lebih celakanya, seorang seniman itu sendirian, merasa bisa memberikan solusi terbaik dan kemudian mengubah dunia. Hahahaha. . . tidak se-bombastis itu kawan. . .
Yang penting, menurut saya, adalah bagaimana ide, gagasan, fantasi, imaginasi, pikiran dan pemikiran serta apapunlah namanya itu, dari seorang seniman sebagi kreator, pencipta dapat tersampaikan dengan sempurna kepada masyarakatnya. Kemudian pesan yang telah sampai tadi sanggup mendorong, menambah motivasi, memberi inpirasi pada siapapun untuk melakukan hal terbaik lainnya. Kegiatan berupa pameran bisa jadi salah satu caranya. Tingkat keberhasilannya tentu berbanding lurus dengan kualitas, kerja keras dan atau ikhtiar pengelolaan hal lain pendukungnya. Tapi bukan kapasitas saya dan tulisan ini untuk membahas persoalaan itu secara mendalam.
Alinea terakhir, dan semoga pantas menjadi yang paling terpenting. Kasih Hartono telah mengatakan sesuatu yang tentu saja penting menggunakan bahasa visual pilihannya melalui medium berupa karya senirupa. Satu tugas telah ia selesaikan dengan baik. Tugas berikutnya merupakan tugas bersama/berjamaah agar ia (Kasih Hartono, lukisan dan pamerannya) tidak hanya berhenti sebagai sebuah acara berkesenirupaan saja dan sudah!!!

Yogyakarta, 17 Desember 2012


             
           
            
Post a Comment