Tuesday, December 18, 2012


‘OMNIVORA’
Pameran tunggal Anton Subiyanto
20 Desember 2012 – 20 Januari 2013
Tirana Artspace | Jalan Suryodiningratan 55 Yogyakarta 55141
Buka setiap hari, pukul 9 pagi – 9 malam
Tidak ada acara pembukaan
Gratis untuk umum

IRONI SI OMNIVORA
Tulisan Pengantar Pameran tunggal Anton Subiyanto
Saat saya mengenal Anton Subiyanto sekitar tahun 2002, dia tidak melabeli dirinya sebagai seniman. Anton menempuh studi jurusan Seni Grafis di ISI, Yogyakarta tahun 2000-2004 (tidak selesai). Pada waktu itu ia tidak kemudian langsung memutuskan menjadi seniman secara total. Anton lebih banyak bergerak sebagai aktivis sosial bahkan cenderung politis.  Selama aktif di Sanggar Anak Wayang (komunitas yang aktif fokus pada anak-anak) tahun 2004 sd 2009 banyak melibatkannya pada kegiatan yang lebih bersifat project atau pun workshop bersama komunitas-komunitas anak atau kampung. Hal ini pula yang membentuknya menjadi seorang individu yang tidak bisa berlama-lama dengan gagasan yang muncul di kepala. Gagasan itu harus segera dieksekusi. Gagasan tersebut akhirnya banyak ia tuangkan dalam ruang alternatif yang ia kelola di rumahnya, ia namai ‘Kedai Belakang’. Sebuah tempat beraktivitas, bertukar gagasan, ruang pamer  dan juga warung makan masakan istri tercintanya.

Meski pun sejak tahun 2001 dia sudah mengikuti berbagai pameran & workshop, sekitar tahun 2010, Anton memutuskan untuk menekuni kembali dunia seni rupa, menjadi seniman yang sesungguhnya. Ia mulai aktif berkarya, mengikuti berbagai event seni rupa dan memberikan kontribusi sebisa dia. Ternyata kemampuannya tidak main-main, dan ia tak perlu berlama-lama untuk bisa masuk dalam konstelasi seni rupa Yogyakarta bahkan Indonesia. Karya-karya Anton berhasil menembus event sekelas ART JOG tiga kali berturut-turut (2010, 2011 dan 2012), menjadi finalis BaCAA (Bandung Contemporary Art Award) tahun 2011 dan terbaru ini, karyanya menjadi finalis pada Triennale Grafis 2012. Karya-karyanya pun memiliki karakter yang kuat mewakili personifikasi dan ketrampilan melukis yang dia punyai.  Banyak tawaran pameran tunggal mampir kepadanya. Hingga di tahun 2012 ini pun, Anton berhasil menggelar pameran tunggal pertamanya, karya lukisan di atas kanvas, di salah satu galeri komersial di Jakarta.  

Di penghujung tahun 2012 ini, Anton ingin menutupnya dengan gelaran pameran tunggal melalui karya-karya drawingnya. Ada 20 karya drawing tersaji dalam kemasan tajuk ‘Omnivora’. Ketrampilan drawing Anton sangat bagus, arsiran dan gradasinya menunjukkan keseriusan dan detail. Pada karya-karyanya ini, Anton terinspirasi atas sosok manusia. Manusia sebagai mahluk omnivora (spesies yang memakan tumbuhan dan hewan sebagai sumber makanan pokoknya).  Manusia digolongkan sebagai mahluk omnivora, tetapi ia memiliki satu kelebihan yakni ‘roso’, dimana akal yang ia memiliki mampu membangun yang namanya ‘rumongso’. Yang tidak lain kemudian adalah penggalian diri dalam apapun itu kondisinya dimana ‘roso rumongso’ itu selalu melekat. ‘Roso rumongso’ artinya ‘rasa yang utama menjadi manusia’, yang memang tidak bisa dijabarkan secara harafiah melainkan harus dirasakan sendiri.

Lebih ekstrimnya, Anton ingin menyampaikan bahwa manusia itu ‘pemakan segalanya’. Anton juga ingin menunjukkan kerakusan manusia. Setidaknya itu yang ia alami kurun waktu 3 bulan terakhir ini. Posisinya yang terbelenggu, tidak mendapatkan kebebasan secara fisik maupun psikologis. Sejak penahanan dirinya dan hingga tulisan ini saya tulis, dia masih merasakan dinginnya sel penjara karena kasus non kriminal yang menjeratnya. Di sana Anton banyak melihat perilaku-perilaku manusia yang memiliki kekuasaan dan bagaimana mereka menyikapi kekuasaan yang mereka miliki tersebut. Anton juga menemui berbagai karakter manusia yang menurutnya cukup ekstrim atau memunculkan kesan ironi. Dari sana pula, ia kemudian tahu siapa sebenarnya kawan sejati dan yang bukan.

Apa yang  dilakoninya saat ini, memunculkan sifat garang, amarah, depresi, kecewa dalam dirinya Kondisi yang ia alami saat ini, secara tidak sadar memunculkan kesan-kesan seperti yang saya sebutkan didalam karya-karyanya. Meski ia ingin meredamnya melalui proses berkaryanya ini. Karya-karya yang dipamerkan ini tak pelak mewakili dirinya yang sesungguhnya. Dan Anton berupaya melawannya dengan ‘roso rumongso’ yang ia sendiri miliki, mencoba melawan sekaligus bertahan dalam kondisi mental seperti apa pun itu. Maka Anton tak pernah sesungguhnya diam. Salah satu cara ‘perlawanan’ Anton adalah fokus dan serius berkarya pada setiap hitungan hari yang ia habiskan selama di sel. Berkarya kemudian menjadi terapi baginya menghadapi situasi yang tak mudah bagi siapapun ini, termasuk keluarga kecilnya.
Sementara dalam karya-karyanya, Anton masih melekatkan simbol manusia berkepala burung. Simbol kepala burung baginya adalah sebuah  kebebasan yang mutlak itu tidak pernah ada, selama kehidupan itu ada. Mengutip referensi yang dipakai Anton, mahluk berkepala burung dalam mitologi Mesir Kuno, yakni Dewa Horus. Dewa Horus adalah dewa yang memiliki badan manusia berkepala burung. Horus menjadi referensi untuk kemudian menambah ikon atas kehendak berkuasa seluas-luasnya terhadap dunia. Pada karya-karya Anton, sosok-sosok manusia berkepala burung ini sering ia gambarkan dengan berbagai gesture tubuh mulai dari gerakan akrobatik hingga pose diam.

Salah satu karya yang ia coba deskripsikan, berjudul ‘Apple Moon’, gambaran atas panen apel, buah yang diibaratkan sebagai buah yang nikmat. Karya ini berkisah tentang konsep buah kehidupan. Seperti kata ulama, siapa menabur, ia yang menunai.  Siapa menanam nikmat dialah yang akan memanen nikmat itu. Sebaliknya, siapa menanam keburukan, ia sendiri yang akan mendapatkan akibatnya. Dan Anton sungguh memaknai hal itu untuk dirinya sendiri saat ini.

Yogyakarta, Desember 2012
Nunuk Ambarwati

Informasi, reservasi dan minat karya, silakan hubungi:
Nunuk Ambarwati
Tirana Artspace
Jalan Suryodiningratan 55 Yogyakarta 55141
Ph. 0274 411615, 081 827 7073
e:
tiranahouse@yahoo.com | qnansha@yahoo.com
http://q-nansha.blogspot.com | www.facebook.com/TIRANAHOUSE
follow @tiranahouse | @nunukambarwati
PIN BB by request


CURRICULUM VITAE
Anton Subiyanto
Born in Yogyakarta, Indonesia, in September 29th 1980
Education
2005 – 2008         Universitas Terbuka, Majoring Communication, Indonesia
2000 – 2004         Indonesia Institute of the Arts (ISI), Yogyakarta, Indonesia (not graduated)
Solo Exhibition
2012
‘Secret Garden and My Bird’, Galeri Canna, Jakarta
‘Omnivora’, Tirana Artspace, Yogyakarta

Selected Group Exhibitions
2012
‘ART | JOG|12 – Looking East: A Gaze upon Indonesian Contemporary Art’, Taman Budaya Yogyakarta, Indonesia
Performance art ‘Wed Action’, Indonesia Performance Klub, Kedai Belakang, Yogyakarta
Art Gathering ‘Kota Plastic’, Malang, East Java
Survive Attack-SURVIVE!garage, Newsagency Gallery, Sydney, Australia
‘Freekick’, convention hall Royal Residence, Surabaya
‘Melukis Jarak’, drawing show from a 3 cities in Southeast Asia (Kuala Lumpur, Yogyakarta, Manila), Gallery Ampang-House of Mata Hati, Kuala Lumpur, Malaysia

2011
‘Independent Art’, Pengosekan, Ubud, Bali, Indonesia
‘BaCAA’, Bandung, West Java, Indonesia
‘Hang Out 1#, 2#, 3#’, Kedai Belakang, Yogyakarta, Indonesia
‘ART | JOG | 11’, Taman Budaya Yogyakarta, Yogyakarta, Indonesia
‘In Absentia’, Taman Budaya Yogyakarta, Yogyakarta, Indonesia

2010
‘Komik-kolase: Biennale Anak’, Yogyakarta, Indonesia
‘Arsitektural (di) Kakilima Alun-alun Utara’, Kedai Kebun Forum, Yogyakarta, Indonesia
‘Pameran Senirupa: Main Kayu’, Survive!Garage, Yogyakarta, Indonesia
‘ART|JOG|10 – Indonesia Art Now: The Strategies of Being’, Taman Budaya Yogyakarta, Yogyakarta, Indonesia
‘FKY 2010’, Benteng Vredeburg, Yogyakarta, Indonesia
‘Pameran Kelompok ALS: Tanah Jawa’, Taman Budaya Yogyakarta, Yogyakarta, Indonesia
‘Rolli ‘n Contact’, Nine on Seven Artspace, Melbourne, Australia

2009
‘Family Komik Kolase’, Workshop Komik Bersama Anak-anak Seniman Yogyakarta – Biennale Anak Yogyakarta
‘Seni Kaki Lima – Alun-alun Utara’, Biennale X, Yogyakarta
‘Emerging Artist’, Darma Wangsa Square, Jakarta
‘Hangout #1’, Printmaking exhibition, Kedai Belakang, Yogyakarta
‘Hangout #2’, Printmaking exhibition, Kedai Belakang, Yogyakarta
‘Pesta Gagasan’, Galeri Arslonga, Yogyakarta

2008
‘Pentagram’, performance art at Tee Pot, Bandung, West Java, Indonesia
‘Rumour of Tatang’s’, at Indonesia Visual Art Archive, Yogyakarta, Indonesia
‘Seni Rupa Mendidik’, Dies Natalis Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, Indonesia

2007
‘Masa Lalu Masa Lupa : Sejarah Kampung Juminahan’, with KUNCI Cultural Studies and Anak Wayang Indonesia, at Cemeti Art House, Yogyakarta, Indonesia

2006
Workshop hardboardcut, kampong Juminahan, Yogyakarta, Indonesia
‘Juminahan’, Printmaking exhibition, Karta Pustaka, Yogyakarta

2005
Workshop ‘art as medium for understanding civil society’ with kids community kampong Badran – bantaran sungai Winongo Yogyakarta, kampong Juminahan – bantaran sungai Code, Yogyakarta, kampong Gunung Brintik, Semarang, kampong Ponten-Surabaya, desa Kedung Ombo-Sragen.

2004
‘Budaya Cinta Api’, mural at Pumyang, Wijilan Yogyakarta
‘No Fun to Hang Around’, Sanggar Mime, Minggiran, Yogyakarta

2003
‘Obat Mujarab’, Printmaking Exhibition at Taman Siswo 1253, Yogyakarta
’12 Tahun Refleksi Sanggar Suwung, Yogyakarta’, Benteng Vredeburg, Yogyakarta
‘Senirupa Kampung Juminahan’, essay at SURAT Cemeti

2002
Pameran Diesnatalis, Indonesia Institute of Arts (ISI), Yogyakarta
‘Untitle’, pengurus bulletin Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta
‘Printmaking on the Road’ part II, Yogyakarta
‘Membaca Komik lewat Komik’, SURAT Cemeti

2001
‘Lorong Isi’, Printmaking Exhibition, Angkatan 2000, Gedung FSR ISI, Yogyakarta
‘Beber Seni Yogyakarta IV’, Benteng Vredeburg, Yogyakarta
‘Ruwatan Garong’, Printmaking Exhibition, Gedung FSR, ISI Yogyakarta
Printmaking Exhibition, Dosomuko Group, Ambarrukmo Hotel, Yogyakarta

Residency
2012
NAFA’S Residency, Yogyakarta (3 months)
Post a Comment