Wednesday, January 03, 2018

Village and Heritage Tour

Hari pertama di tahun ini, serunya bisa nemenin nge-trip di seputar kawasan Borobudur. Program trip dimulai pukul 08.00 pagi, berangkat dari Yogyakarta menuju Borobudur. Jalanan masih sepi di pagi hari, maka perjalanan kami tempuh dalam waktu 1,5 jam.

Vihara Mendut
Destinasi pertama ke Candi Mendut. Tetapi, sebelum menuju ke loket tiket, ada sebuah Vihara cantik yang membuat kami ingin melihat dan masuk. Vihara Mendut namanya. Sebelumnya memang tertutup untuk umum, namun sekarang membuka diri untuk pengunjung. Kami melihat ada seorang Biksu yang sedang membersihkan lingkungan Vihara. Tentu saja bisa berfoto-foto bebas disana, tetapi ingat, harus mengindahkan etika karena vihara adalah rumah ibadah. Misalnya, ada larangan untuk tidak memasuki kompleks tertentu atau tidak menaiki bangunan, melepas alas kaki dan sebagainya.
Banyak kolam-kolam dipenuhi ikan dan bunga teratai yang sungguh cantik. Di beberapa sudut, patung-patung dilengkapi dengan bunga segar. Detail arsitektur dan landscape taman nya sangat indah. Ambiencenya sangat homy dan peaceful.










 


Vihara Mendut

Puas di Vihara Mendut, kami melanjutkan langkah ke Candi Mendut, hanya berjarak kurang lebih 20 meter. Tiket masuk hanya Rp 3500,- per orang. Di candi Mendut banyak cerita relief yang disimbolkan dengan binatang (angsa, kura-kura, gajah, singa dll). Menariknya disini, ada sebuah pohon Bodhi yang sudah tua dan cukup besar. Pohon Bodhi menyerupai pohon Beringin. Berukuran besar dan akarnya menjulur-julur dari atas. Daun pohon Bodhi berukuran lebih besar daripada pohon Beringin dan bisa dibuat karya kerajinan. Bagi penganut agama Budha, pohon Bodhi mendapat tempat tersendiri karena Sidharta Gautama lahir dibawah pohon Bodhi. Yang menarik lainnya, masih dalam halaman Candi Mendut, ternyata ditemukan candi-candi baru yang masih dalam tahap konservasi dan penataan.
Candi Mendut

Pohon Bodhi di Candi Mendut











Destinasi selanjutnya, Candi Pawon. Candinya berukuran lebih kecil. Tiket masuk sama dengan Candi Mendut Rp 3.500,-/orang. Karena  lokasinya agak nyempil dan candinya kecil, mungkin banyak wisatawan akan melewatkan candi ini.

Diseberang candi, di ujung jalan ternyata ada warung kopi Luwak. Di depan warung, biji-biji kopi dijemur. Biji kopi yang baru saja keluar dari kotoran Luwak atau biji kopi yang sudah bersih. Staf warung menyapa dengan ramah dan menjelaskan tentang asal kopi. "Katanya ada Luwaknya beneran mbak?", tanyaku penasaran. "Iya ada, di dalam," sahutnya.

Lalu kami menuju belakang warung. Disana ada beberapa binatang Luwak baru tidur (karena pada malam hari mereka bangun) dan ada beberapa pohon kopi. Lucunya, nama-nama Luwak dinamai dengan nama Ijem, Minah, Popo dan sejenisnya hahaha. Luwak-luwak disitu dipelihara hanya sebagai gimmick buat pengunjung warung. Karena banyak orang yang belum mengetahui binatang Luwak seperti apa. Sehari-hari mereka makan buah-buahan.

Saya belum sempat ngerasain kopinya, ada arabica dan robusta. Pas dicium bau kopinya, saya lebih suka yang arabica. Kopi Luwak yang didapatkan di warung ini dari binatang Luwak liar di Wonosobo. Sebagai informasi, kopi Luwak (biji atau bubuk) disini dijual Rp 400rb/1 ons. Wow!

Yuk lanjut trip kita, menuju ke showroom workshop batik tulis Borobudur. Disini motif batik yang digambarkan diambil dari motif relief Candi Mendut dan Pawon. Disini diajari membatik hingga pewarnaan, kurang lebih 1 jam. Sambil membatik, kita bisa dengerin cerita-cerita penduduk setempat tentang potensi wisata di kawasan Borobudur. Asik kan!

Hmm jam sudah menunjukkan pukul 12.15 siang. Saatnya makan siang. Salah satu wisata kuliner tujuan kami di Balai Ekonomi Desa (Balkondes) Borobudur. Dan akan ada 20 Balkondes di seputaran Borobudur, yang memiliki karakter kuliner juga dipadukan wisata alam masing-masing. Waaahh, bisa panjang nih next trip kita hehe. Ide Balkondes ini tercetus dari RI 1, Bapak Jokowi. Ke 20 Balkondes tersebut masing-masing dibiayai oleh BUMN, menyewa tanah kas desa selama 20 tahun. Keberadaan Balkondes ini adalah upaya pemberdayaan ekonomi setempat. Dan baru ada di kawasan Borobudur saja. Hebat! Di Balkondes Borobudur disajikan menu lokal, pertunjukan karawitan (kita juga bisa ikutan main lho), wisata andong, juga toko souvenir. Di depan Balkondes Borobudur, tersedia homestay dengan arsitektur yang nyaman bila kita ingin bermalam.

So sudah kenyang,  mari lanjut ke destinasi terakhir, di dusun Klipoh. Kurang lebih 5 menit dari Balkondes Borobudur. Dusun ini dikenal karena sebagian besar penduduknya yang membuat gerabah atau keramik. Namun kita tidak bisa bawa pulang langsung keramik buatan kita, karena harus menunggu kering dan melalui proses pembakaran (kurang lebih makan waktu 3 hari). Tapi jangan khawatir, hasil karya kita bisa dikirim ke alamat kok.

Sudah di akhir trip hari ini (pukul 14.00 WIB), rasanya belum puas ya. Ternyata kawasan Borobudur menyimpan banyak aset wisata yang asik dan menarik! Sebaiknya kita lanjutkan di trip berikutnya. Setuju?!
Post a Comment