Thursday, October 12, 2017

Karya-karya Filosofis sang Rocker

Dia adalah Cahaya Novan, lelaki bujang kelahiran 21 November 1987. Lahir dan besar di Sumberan Ngestiharjo Yogyakarta, sebuah kampung yang padat penduduk dan kental dengan kekerabatan. Novan tentu saja tidak bisa meninggalkan perannya sebagai pemuda kampung. Ia sangat supel bergaul dengan warga. Sementara dalam berkesenian, Novan adalah seorang otodidak. Lulusan SMA Taman Madya Yogyakarta ini terjun di bidang seni karena panggilan jiwanya. Mengawali pameran pertamanya di tahun 2012. Tercatat sudah 3 kali pameran tunggal digelarnya, dan tahun 2017 ini menjadi kali ke empat. Genap 5 tahun berkesenian, Novan tentu saja masih mengolah berbagai media, ia tidak melulu menggunakan media dua dimensi. Maka tak heran, kita akan menemukan artefak karya-karyanya melalui performance art, video, seni grafis dan instalasi. Benang merah dari semuanya itu adalah tema tentang hidup, kehidupan dan kematian yang masih konsisten hingga kini. Di pikirannya berkecamuk pemahaman dan filosofi tentang hidup dan kematian. Tentu saja topik ini akan terus menerus menjadi hal yang misterius dan menarik untuk dibahas dengan versi dan sudut pandang beragam.

Bila Anda lihat foto pencitraan dirinya, akan terasa berbeda ketika bertemu langsung dengannya. Dari sisi penampilan ia terkesan garang, memakai baju hitam, terkesan misterius, rambut disemir di bagian tertentu dan dicukur tipis (skin head) di sisi kanan kiri. Novan juga mengakui penampilannya sangat rock n roll. Namun demikian, ingat kata pepatah, “don’t judge the book by its cover”. Nah demikian juga dengan Novan, dibalik penampilannya yang demikian, Novan ini sangatlah religius. Novan cukup aktif menginovasi kegiatan positif dengan para pemuda di kampungnya. Seturut pengakuannya, Novan juga sering melakukan ritual menyepi untuk menenangkan pikiran. Bahkan, akunya, dia lebih sering mendapat ide berkarya usai menyepi tersebut. Sebagai orang Jawa, unsur-unsur ilmu kejawen juga mewarnai nafas kesehariannya. Tokoh wayang, Togog (Batara Antaga) sering menginspirasi menjadi figur utama dalam karya-karyanya.

Semua latar belakang yang saya sebutkan diatas, sadar atau tidak akan terpapar dalam setiap karya-karyanya. Lihat dalam catatan ke empat pameran tunggal Novan sebelumnya, semuanya mengacu pada filosofi tentang kehidupan: Owah (2016), Roh Kesepian (2015), Ojo Dumeh & Sumsuman (2013). Demikian juga untuk pameran tunggalnya kali ini, yang ia beri tajuk “Rumongso Rumangsanono Rumangsani” (Merasa, Rasakanlah, Merasakan). Sesuai perjalanan usianya yang menginjak kepala tiga, Novan ingin mengingatkan akan sejatinya kita sebagai manusia. Manusia hidup karena apa dan bagaimana dengan hidup kita. Janganlah menjadi manusia yang merugi, hanya mengejar urusan gemerlap duniawi. Ingat bahwa setiap manusia akan sampai pada titik kematian.

Ikon
Bila kita amati detail ikon-ikon yang digunakan Novan, ada dua hal utama yang bisa diperhatikan. Pertama penggunaan huruf T (dengan ekor/bagian bawah menyamping). T disini diartikan sebagai Togog (Batara Antaga). Seperti yang saya sampaikan pada paragraf diatas, tokoh ini memang sangat menginspirasi Novan dalam karyanya. Berikut sedikit cerita tentang tokoh Togog. Batara Antaga (Togog) bersama Batara Sarawita (Bilung) dan Batara Ismaya (Semar) diutus turun ke marcapada (dunia manusia) untuk menjadi penasihat, dan pamong pembisik makna sejati kehidupan dan kebajikan pada manusia. Pada akhirnya Semar dipilih sebagai pamong untuk para satria berwatak baik (Pandawa) dan Togog dan Bilung diutus sebagai pamong untuk para satria dengan watak buruk (sumber: Wikipedia). Masih di huruf T, di bagian tengah digambarkan satu mata. Mata sebagai pesan bahwa kita harus melihat pada satu tujuan. Tujuan tersebut adalah hidup kita sebenarnya.

Kedua, ikon berikutnya adalah detail motif batik mega mendung ala Cirebon. Kekhasan motif mega mendung tidak saja pada motifnya yang berupa gambar menyerupai awan dengan warna-warna tegas, tetapi juga nilai-nilai filosofi  yang terkandung dan sejarah munculnya motif tersebut sebagai hasil akulturasi budaya China dan Cirebon (sumber: Wikipedia). Setelah ditelusuri saat obrolan ringan bersama Novan, orang tua Novan ternyata seorang pembatik. Saat saya bertandang ke studionya, sisa-sisa kejayaan toko batik motif Cirebon-an ini masih bisa kita jumpai di sekitar kampung tempat Novan tinggal. Maka tanpa disadari, Novan sering corat-coret, menggambar sketsa diatas kertas motif khas dan bersejarah ini.
Manequin
Pada pameran bersama sebelumnya, “Hastag Kazet’El” (2017, Bentara Budaya Yogyakarta) Novan telah menggunakan manekin. Maka di pameran ini, Novan mengolah media ini sebagai fokus utama di ruang pamer dan mengeksplorasi lebih kuat. Pemilihan penggunaan manekin ini juga merupakan respon terhadap ruang pamer yang Novan gunakan dalam pameran tunggalnya kali ini. Novan memilih Tirana House sebagai ruang presentasinya (diajukan sekitar bulan Mei 2017), dimana Tirana House dikenal sebagai butik fashion dengan beberapa brand label didalamnya. Manekin memang sangat dekat dengan kosakata fashion. Manekin juga sering kita jumpai sebagai alat peraga pakaian yang sedang ditawarkan. Meskipun saat ini ruang pamer di Tirana House mengalami diversifikasi konsep menjadi art house & kitchen (mulai November 2017), namun demikian brand image Tirana House sebagai butik branded stocklot masih lekat di publik. Pameran tunggal Cahaya Novan akan menjadi penanda perdana dimana store Tirana House sebagai butik, ditambah art house & kitchen mulai menyapa publik Yogyakarta.



Novan menyiapkan 7 buah manekin setengah badan. Pemilihan media ini  lebih sebagai simbol, tidakkah tubuh kita (manusia) hanyalah seperti manekin di mata Sang Pencipta? Tubuh kita hanyalah alat peraga, sejatinya kita itu roh. Ketujuh manekin ini merupakan representasi dari manusia sejak lahir hingga mati. Kita bisa melihat bagaimana pemilihan warna dan distorsi atas manekin tersebut menggambarkan siklus hidup manusia di dunia. Saat kanak-kanak dan remaja, Novan memilih warna cerah menyergap mata, sesuai semangat dan jiwa kemudaan. Sementara menjelang menua, ditandai distorsi pada bagian tubuh manekin dan warna yang memudar. Dari ketujuh manekin tersebut, hanya ada satu manekin berkarakter laki-laki. Menurut Novan, dimunculkannya manekin laki-laki disini sebagai penyeimbang. Karena hidup ada laki-laki dan perempuan, suka dan duka, senang dan susah. Mengapa hanya satu diantara tujuh? Karena realitas saat ini populasi laki-laki lebih sedikit daripada perempuan. Apakah Novan juga sedang mengkritisi perihal poligami? Entahlah.

Selamat menikmati karya-karya Cahaya Novan. Selamat datang di Tirana House dengan konsep art house & kitchen. Semoga saling menginspirasi.

Nunuk Ambarwati
Post a Comment