Tuesday, August 11, 2015

Buku Sketsa Solichin


Baca juga: Solichin si Pelukis Realis - http://nunukambarwati.blogspot.co.id/2015/10/solichin-si-pelukis-realis.html

Tampilan buku The Sketchbook Solichin.

Ini merupakan gagasan yang menarik. Mengkombinasikan paket yang komprehensif dan menonjolkan keunikan. Saya menyebutnya sebagai sebuah gabungan berbagai seni yang dikemas cerdas, elegan dan cantik, terbit dari passion yang keluar dari hati. Bila kita mendapatkan buku ini, kita bisa mengurai bahwa disana ada seni penerbitan buku, seni rupa berupa sketsa/lukisan, seni menjual, seni arsitektur dan nilai historis heritage yang kental. Idenya adalah residensi seorang seniman otodidak, bernama Solichin, asal Semarang. Ia melakukan residensi di Losari Resort & Spa di kawasan nan sejuk, Magelang. Losari merupakan kawasan perkebunan kopi masa kolonial yang dilengkapi dengan tempat pengolahan kopi. Perkebunan kopi (plantation) di Losari masih dikembangkan, namun bangunan kolonial di sekitarnya, kemudian difungsikan sebagai resort yang telah dikembangkan berikut paket wisata yang berhubungan dengan kopi dan tradisi. 

Seniman melakukan residensi di Losari selama waktu yang disepakati. Membuat studi sketsa tempat atau sudut tertentu di resort tersebut yang memiliki nilai historis atau keunikan yang terdeskripsikan menarik. Kemudian kumpulan sketsa tersebut dibukukan. Diberi pengantar di setiap sketsa yang digambarnya. Bukunya dicetak hardcover, sampul sederhana warna coklat tua polos dengan teks judul buku warna emas. Dicetak dengan kualitas tinggi dan berbahasa Inggris. Sangat recommended menjadi souvenir yang elok bagi kolega atau tamu khusus pengunjung Losari Resort & Spa tersebut. Buku ini terasa intim dan hangat saat diterima, serasa mendapatkan karya-karya sketsa Solichin dengan spesial meskipun bukan karya aslinya.

Tak hanya itu tentunya, kala itu saya berkesempatan menghadiri acara pembukaan pameran di Losari, disertai dengan pameran sketsa original karya Solichin dan mengundang tamu-tamu untuk makan siang, santai menikmati suasana resort yang dingin, ngobrol ringan hingga lobbying dan juga melakukan charity. Buku ini menjadi sebuah artefak berharga dari sebuah proses. Yang lebih menarik adalah sebuah kombinasi marketing yang terpaket elegan, indah dan multi segmen bukan. Bagaimana tidak? Buku ini kemudian jelas bermanfaat bagi para pecinta traveller, perhotelan dan pariwisata, penggiat heritage dan seni rupa itu sendiri.

Salah satu karya Solichin dalam buku tersebut.
Solichin yang saya kenal memang bukan lulusan sebuah perguruan tinggi seni. Solichin seorang otodidak dalam berkarya. Tetapi karya realisnya memang kuat, meski ia perlu memiliki pengayaan lebih dalam pada detail saat menggambar figur saat saya kenal dia tahun 2008 itu. Gaya lukisan Solichin berupa sketsa dengan pensil dan realis. Sayangnya saya belum mendapat informasi, kenapa Solichin yang dipilih dalam proyek ini. Dalam buku tersebut, Solichin berhasil mendokumentasikan Losari Resort & Spa berupa 26 karya sketsa plus 2 sketsa wajah (dirinya sendiri dan Grabiella Teggia), bertitimangsa antara 2003 hingga 2007, semua berukuran sama. Semuanya menggunakan media pensil di atas kertas. Kertas yang digunakan dalam buku tersebut pun, sejenis kertas untuk membuat karya sketsa tapi berbahan tebal. Sehingga meskipun buku ini hanya berisi 46 halaman, tetapi tebalnya 1,5 cm karena kertas yang digunakan tiap halamannya sudah tebal. 

Solichin menggambarkan beberapa ruangan, mulai dari ruang resepsi (menerima tamu), villa, taman dan restoran di tempat itu. Bahkan hingga sebuah pohon klengkeng atau monumen kecil di kawasan tersebut. Salah satu yang menarik, ada sketsa berjudul ‘The Unfinished Elephant’, pencil on paper, ukuran 49,5 x 34,5 cm, 2003. Di sebelah halaman sketsa tersebut diberikan deskripsi pendek mengenai gambar yang ada dalam sketsa itu, dalam bahasa Inggris: ‘The Unfinished Elephant. At Muntilan Village, there was an artist, famous stone carver, descendant from the ancestors who carved the Borobudur Temple. When I stopped, he was carving three small stone elephants. “Stop… stop”, I said. “ I want them unfinished”. He did not understand why'. Setiap deskripsi yang menyertai sketsa Solichin disusun oleh Gabriella Teggia, ia dikenal sebagai konseptor hotel bernuansa butik, Amanjiwo dan Losari, keduanya berlokasi di Magelang, Jawa Tengah. 
Profil Gabriella Teggia & Solichin berikut sketsa wajah mereka yang termuat dalam buku.
Solichin lahir di Semarang, tepatnya 23 Desember 1968. Orang tuanya memberi nama Ahmad Solichin. Segera setelah dia lulus tahun 1995, dia mencoba peruntungan di bisnis Stock dan menjadi stock broker di Semarang. Kemudian dia menyadari bahwa itu bukan dunianya dan dia memutuskan untuk berubah tujuannya. Memilih Yogya sebagai kota tempat tinggalnya, Solichin kemudian memulai hidup barunya sebagai seniman di tahun 2002. Disamping sketsa, dimana itu merupakan keahliannya, Solichin juga merupakan pelukis yang berbakat. Ia memilih aliran realis untuk gayanya. Ia percaya bahwa realisme merupakan cara terbaik untuk menggambarkan dunia dalam sebuah kanvas.


Buku berdimensi 15 x 22 x 1,5 cm, dengan judul lengkap ‘The Sketchbook Solichin. Losari Coffee Plantation Resort & Spa’, merupakan terbitan Losari Coffee Plantation & Spa, Magelang. Diproduksi oleh Naturatama, yang berbasis di Jl Kaliurang, Yogyakarta. Naturatama digawangi oleh pasangan suami istri Ratna Amatsari T & Nanok Tunarno yang memang dikenal handal dalam hal mendesain sebuah terbitan mulai dari konseptor hingga sebuah buku/majalah terbit. Ditengok dari karya-karya sketsa yang dihasilkan Solichin antara tahun 2003-2007, buku ini toh akhirnya terbit di tahun 2007. Betul-betul sebuah proses. Maka menurut saya, hal ini layak dicopi oleh seniman-seniman yang berniat melakukan residensi. Agar bisa berpikir multiside, multibisnis, multisegmen, berkarakter serta long lasting. Sehingga apa yang dihasilkan dari residensi tidak sekadar hanya berkarya di tempat lain dalam waktu tertentu, pameran dan selesai. Tetapi tentu saja, ini memerlukan sinergi berbagai pihak. Seperti penyandang dana untuk penerbitan buku, penulis, kurator, venue, publikasi dan marketing buku itu sendiri ketika telah terbit dan sebagainya; tentu bukan perkara murah. Tapi setidaknya patut dicoba bukan, banyak hal bisa dieksplorasi !
Greeting dari Mbak Ratna Amatsari :)
Post a Comment