Monday, February 08, 2016

Tips Merawat Bra

Ladies, berikut ini sedikit tips untuk merawat underwear khususnya bra. Tips berikut ini mengenai teknik penyimpanan yang kadang disepelekan. Menyimpan bra sebaiknya tidak dilipat (seperti contoh foto B), tapi dibentangkan (foto A). Hal ini supaya bentuknya tetap bagus dan bila memakai kawat, tidak mengubah bentuk kawat itu sendiri. Maka bra akan lebih awet dan bentuknya tetap terjaga sehingga nyaman dipakai. Bahkan ada tas khusus untuk menyimpan bra saat Ladies sedang traveling lho :) Lucu ya...
Ini yang benar ya Ladies...
Nah jangan dilipat seperti ini ya...
Bra Bag ini muat 5 pcs bra. Cocok dipakai saat traveling. Ayo pilih yang mana?

Dapatkan koleksi underwear dari berbagai brand ternama, high quality hanya di Tirana House: Branded Stocklot Boutique, Jl Suryodiningratan 55 Yogyakarta.



Saturday, January 30, 2016

30 Tahun LUPUS


30 TAHUN LUPUS
Nulis Lupus Bareng
Masih ingat LUPUS dengan rambut jambul dan permen karetnya? 
Lupus adalah milik generasi muda Indonesia 
Lupus bukan sekedar karakter yang muncul dalam novel.
Lupus adalah “trend setter” dan aset bagi dunia fiksi pop Indonesia.
Lupus itu penting.
Berapa banyak saat ini, karakter seperti Lupus yang begitu kuat menginspirasi generasi muda?
Tertantang menghidupkan LUPUS kembali?
Rumah Kreatif LUPUS, Tirana Art Management (TAM) Yayasa SAHaLA & KOMPAS mengundang kamu yang kreatif, suka menulis atau bikin komik, untuk Nulis Lupus Bareng

Launch your idea! 
Bagaimana seharusnya Lupus muncul kembali?
Jangan ragu, bangun imajinasimu seliar mungkin.
Tuangkan dalam 1 halaman A4.

Kirim ke email: klasikajogja@kompas.com dilengkapi dengan data-data: Nama lengkap, Usia, Alamat domisili lengkap, No handphone.
Paling lambat tanggal 25 Februari 2016.

Karya terbaik akan mendapat:
Workshop penulisan yang dilanjutkan dengan coaching, dibimbing langsung oleh Hilman Hariwijaya, Gusur, dan Boim
Karya diterbitkan dalam bentuk Novel, Komik, dan online series
Honor atas karya yang diterbitkan

Tirana Art Management | TAM

Jl Suryodiningratan 53-55 Yogyakarta 55141
Jl Abu Bakar Ali 22, Kotabaru, Yogyakarta
e. tiranayogya@gmail.com
ph. 0274 411615 | 081 827 7073

________________________________________________


PRESS RELEASE

SAVE LUPUS! The Project
LUPUS BARU untuk Indonesia
Yogyakarta, 26 Februari 2016

Rumah Kreatif Lupus bekerjasama dengan Tirana Art Management, didukung oleh Yayasan SAHaLA (Sahabat Asia Bianglala) mempersembahkan:  LUPUS BARU. Lupus adalah tokoh fiksi pop dalam serial novel berjudul sama karangan Hilman Hariwijaya. Novel Lupus pertama diterbitkan pada tahun 1986. Melalui LUPUS BARU, Hilman Hariwijaya, Gusur dan Boim melakukan seleksi atas ide-ide kreatif dari generasi sekarang untuk menghadirkan  LUPUS kembali sesuai dengan kondisi terkini. Apakah LUPUS masih mengunyah permen karet? Atau masih dengan model rambutnya yang berjambul. Masih bersekolah di SMA Merah Putih?. LUPUS BARU Tidak hanya diselenggarakan di Yogyakarta, tetapi juga akan menyusul di Jakarta dan Bandung .

Mengapa ingin menghadirkan LUPUS kembali?
1. Karena ia bukan sekedar sebuah karakter yang muncul dalam novel. Lupus menciptakan tren pada masanya. Artinya, Lupus adalah aset. Karena trend setter mampu mempengaruhi banyak aspek dalam kehidupan; sosial, ekonomi, gaya hidup, dll. Lupus juga aset bagi dunia fiksi pop Indonesia.

2. Namun berapa banyak generasi millennium yang kenal Lupus? Berapa banyak generasi 80-90 an yang menceritakan tentang Lupus kepada generasi berikutnya? Seberapa sering Lupus jadi topik perbincangan? Seberapa produktif Hilman Hariwijaya, sang penulis, menulis Lupus? Berapa banyak saat ini, karakter seperti Lupus yang begitu kuat menginspirasi generasi muda?

3. Rumah Kreatif Lupus, bekerjasama dengan Tirana Art Manajemen didukung oleh Yayasan SAHaLA memberikan ilmu tentang bagaimana menulis Fiksi Pop.  Tujuan diadakannya acara ini untuk menghidupkan Lupus kembali sebagai “trend setter” yang membawa isu-isu publik dengan gaya dan karakter yang khas dan ringan juga untuk menggerakkan penulis-penulis muda potensial sebagai penulis“LUPUS BARU”.

LUPUS BARU dan Penulis-penulis baru
LUPUS BARU akan muncul dalam berbagai format; novel, komik, musik, online series, komik strip online, cerita anak, dll. Bukan Hilman Hariwijaya lagi yang menulis, namun penulis-penulis baru yang ditangkap dari hasil seleksi, kemudian dibimbing melalui serangkaian kegiatan workshop. Proses kreatif menghadirkan LUPUS BARU akan disupervisi oleh Hilman Hariwijaya, sang penulis awal Lupus, bersama dua sahabatnya; Gusur Adhikarya dan Boim Lebon.

Mengapa Hilman merelakan Lupus muncul kembali dalam cerita baru dan bukan lagi ditulis olehnya sendiri? “Saat Lupus diterima publik dan menjadi trend setter, saat itulah saya sadar bahwa Lupus adalah milik generasi mudah Indonesia. Bukan eksklusif milik saya. Saya ingin Lupus tetap hadir, menjadi inspirasi dan ikut berperan membangun bangsa. Karena itu, saya kembalikan Lupus kepada generasi muda Indonesia, untuk dihidupkan kembali sesuai dengan jamannya”, Hilman menjelaskan.
Kandidat penulis LUPUS BARU dijaring melalui ajang pencarian bakat. Peminat mengirimkan ide-idenya dalam bentuk tulisan pendek tentang Lupus yang menjadi imajinasinya. Sejak pendaftaran dibuka 1 bulan lalu, ada ratusan karya yang masuk. Menggembirakan, karena banyak ide-ide unik dan menarik. Mulai dari Lupus sebagai pengusaha muda, Lupus sebagai penjelajah waktu, sampai Lupus sebagai motivator. Ada juga yang ingin mempertahankan posisi Lupus sebagai wartawan, lengkap dengan situasi Lupus pada awalnya, yaitu dengan sahabat-sahabatnya yang unik.

Dari ratusan karya yang masuk, akan dipilih 80 orang untuk mempresentasikan ide-idenya secara langsung dihadapan tim juri. Penjurian terbuka untuk umum, diadakan di di Student Hall, Universitas Sanata Dharma, Kampus I Mrican pada Sabtu, 27 Februari 2016 mulai Pk. 09.00 pagi. Selain acara penjurian akan ada acara “Meet and Greet” Trio Lupus (Hilman, Boim, Gusur) serta acara-acara hiburan lainnya.

Acara penjurian bertujuan untuk menyeleksi 40-50 orang kandidat penulis Lupus. Kandidat inilah yang akan menerima bimbingan-bimbingan teknis dari Trio Lupus melalui coaching clinic, workshop, mentoring, dan diskusi-diskusi. Workshop pertama akan diadakan langsung keesokan harinya, yaitu Minggu 28 Februari 2016 di Kebun Binatang Gembira Loka.

Juga akan ada “Writing Camp” selama tiga hari yang akan memperdalam proses kreatif secara lebih intensif. Keseluruhan bimbingan teknis ini akan dibimbing langsung oleh Trio Lupus. Mereka juga akan bergabung dalam komunitas penulis Lupus yang setiap saat akan dilibatkan dalam acara-acara Lupus.

Profil singkat LUPUS
Lupus
 adalah tokoh fiksi dalam serial novel berjudul sama karangan Hilman Hariwijaya. Novel Lupus pertama diterbitkan pada 1986 berjudul Lupus I: Tangkaplah Daku Kau Kujitak. Walaupun judulnya adalah plesetan dari film Kejarlah Daku, Kau Kutangkap, ceritanya tak berhubungan.
Lupus memiliki teman-teman seperti Boim, Gusur, Anto, Aji, Fifi Alone, Adi Darwis, Gito(teman massa dewasanya). Iko-iko, Pepno, Happy, Uwi dan masih banyak lagi(teman masa kanak-kanak dan remajanya). Ia memiliki seorang adik bernama Lulu dan mereka berdua kini tinggal bersama sang Mami yang bernama Anita.

Sedangkan sang Papi yang bernama Mulyadi, telah meninggal saat Lupus kelas 1 SMA. Beberapa kisah dari novel-novel Lupus juga telah diangkat ke dalam bentuk film dan sinetron. Selain itu juga telah terbit berbagai nariasi dari cerita Lupus seperti Lupus Kecil, Lupus Milenia dan lain-lain. Terdapat pula sederetan gadis yang pernah menjadi kekasihnya. Seperti Poppy, Rina, Happy, sampai yang terbaru adalah Nessa.

Lupus identik sekali dengan permen karet yang tak pernah lepas darinya. Model rambut berjambul yang sering dihina Lulu dengan sebutan sarang Burung. Juga sifatnya yang konyol, hingga membuatnya disukai oleh seluruh teman-temannya.

Filosofi permen karet ala LUPUS
Melalui permen karet, sebenarnya LUPUS ingin mengajak generasi muda untuk tidak merokok. LUPUS lebih memilih permen karet daripada rokok. Permen karet, dikunyah ketika rasanya masih manis dan dibuang begitu saja ketika rasanya menjelang pahit; sama halnya dengan permen karet, serial novel LUPUS diharapkan renyah manis seringan mengunyah permen karet.

Rumah Kreatif LUPUS
Rumah Kreatif Lupus adalah wadah komunitas Lupus (penulis dan penggemar) yang memfasilitasi proses-proses kreatif penciptaan Lupus. Rumah ini adalah markas tempat berkumpul sekaligus berdiskusi untuk terus menghidupkan Lupus secara positif maupun kegiatan-kegiatan lain yang terkait. Rumah Kreatif Lupus diinisiasi oleh Hilman Hariwijaya bersama Gusur dan Boim, saat ini bermarkas di Jakarta. Dalam waktu dekat, Rumah Kreatif Lupus juga akan hadir Kota Yogyakarta.


Untuk informasi lebih lanjut silakan kontak:
Christine Effendy
Nunuk Ambarwati (081 827 7073)
Tirana Art Management (TAM)
Jl Suryodiningratan 55 Yogyakarta 55141

Thursday, December 17, 2015

Bersama Tanah, Mengayam Hari


Baca juga http://nunukambarwati.blogspot.co.id/2015/03/tanah-yang-dianyam.html


Hari Minggu lalu agak terburu-buru karena tak banyak waktu, mengunjungi studio Asep Maulana Hakim atau dikenal Asep Goler, Asep Jablay, Asep Lebay atau Asep Pijit di desa Kaliputih, kampung Karang di kawasan Yogya selatan. Untuk nama-nama sebutan itu, masing-masing memiliki sejarah sendiri-sendiri dan tentunya bikin geli. Asep Goler (bahasa Sunda: suka tidur), muncul karena ia sering kedapatan tidur saat orang beraktifitas kerja. Asep Jablay (jarang dibelai), karena waktu itu tinggal berjauhan dengan istrinya, pulang 2 minggu sekali. Asep Lebay (lelaki bayangan), karena tingkat mobilitasnya cukup tinggi sebagai pemijat, ia bisa diundang ke berbagai kota hanya untuk memijat. Hari ini ia bisa di Jakarta, eh lusanya ia sudah ada di Palembang atau ke Bali. Asep memang lebih dikenal sebagai tukang pijat sejak 15 tahun belakangan ini, maka Asep Pijit adalah sebutan yang lebih bertahan lama hingga sekarang. "Gitu mbak, ha ha ha", ceritanya sambil tertawa terkekeh.


Namun demikian, lelaki kelahiran Garut, 4 Juni 1983 ini sebenarnya seorang sarjana seni, lulusan Insitut Seni Indonesia/ISI (2007-2012), jurusan kriya keramik. Hmm, jadi Asep ini seorang seniman atau tukang pijat? Keduanya ia lakoni. Dan keduanya saling mendukung. Demikian penjelasannya: sebagai seorang seniman kriya keramik mengolah sebongkah tanah liat menjadi bentuk atau figur memerlukan ketrampilan menekan, memijat, menggosok, melenturkan tanah dan seterusnya. Hal ini juga berlaku sama ketika ia memijat kliennya. Jari-jari dan telapak tangan seorang Asep sudah peka kapan tanah liat siap diolah, tanah liat yang mulai kehilangan kelembaban, tanah liat ini bisa retak, hingga tanah liat mana yang harus segera masuk tungku pembakaran. 


Karya-karya keramik Asep Maulana Hakim identik dengan anyaman. Pertama-tama ia membuat bilah-bilah dari tanah liat dengan panjang yang diinginkan, mulai ukuran 1 sentimeter hingga 2 meter. Bahkan ia pernah membuat obyek berukuran 1 milimeter saja! Saat itu ia membuat ketupat dari janur berukuran 1 milimeter. Ia bisa khusyuk bekerja 8 jam/hari di studionya, menghasilkan 400-500 bilah pilinan dari tanah liat (rata-rata panjang 50 cm). Setelah terkumpul, satu demi satu dan ia anyam membentuk bakul atau caping dan seterusnya. Bisa bayangkan bagaimana mengayam tanah liat yang lembek? Membentuk obyek dengan anyaman dan tidak patah ditengah pengerjaan? Bagaimana menyusun anyaman tersebut dari bawah ke atas dan tidak meleyot? Resiko-resiko itu sudah khatam dipelajari Asep, hingga ia bertekun dan sering membuat penikmat seni terbelalak heran dengan hasil karyanya.


Semua ia kerjakan detail dan penuh. Ia tak mau setengah-setengah. Misalnya, ia buat bapak dengan kopiah, maka ia pun membuat detail rambut bapak di balik kopiah tersebut, meski kemudian akan tertutup kopiah. Atau seekor induk ayam yang sedang mengerami telur, maka ia pun membuat bulu penuh di sekujur ayam meski nanti akan tertutupi bakul. 'Nggak puas!', tegasnya. Menurut dia, secara estetis akan sempurna bagus bila karya keramik yang bisa dinikmati meruang, 3 dimensi utuh dari atas hingga ke bawah, bisa dilihat dari sudut manapun.


Pilinan yang dibuat Asep untuk membentuk anyaman.
Untuk pameran tunggalnya di Tirana House kali ini, ia menyiapkan 6 karya dengan obyek yang berkaitan erat di kehidupan sehari-hari. Tengok saja, ada kucing, ayam, bakul dan seorang bapak tua dengan ayam kesayangannya. Setiap obyek yang ia buat merupakan hasil ketekunan jari-jarinya. Untuk membuat sehelai bulu, sebutir tanah liat ia bentuk elips kecil, lalu ditekan-tekan dengan kuku. Dan itu ia kerjakan satu demi satu. Lalu dipasang disekujur badan ayam hingga penuh sampai ke kaki, baik untuk induk maupun anak ayam. Sementara untuk kucing, Asep menggunakan alat bantu peralatan masak yang bisa kita temui di dapur. Ia masukan tanah liat basah ke dalam alat tersebut, ditekan dan keluar dalam bentuk pilinan kecil-kecil seperti mie. Lalu ia potong lebih kecil dan ia susun sebagai bulu si kucing. Demikian kelebihan Asep. Jika kriya patung bersifat mereduksi bahan, sementara kriya keramik bersifat menambah. Jadi ia tidak mengukir bulu demi bulu tapi ia benar-benar membentuknya helai demi helai.


Namun demikian identitas Asep dengan anyaman tetap ditampilkan. Intip saja, kalung si kucing, bakul tempat induk ayam bertelur dan bakul mainan si anak kucing, ia anyam hingga mirip hampir 100% dengan aslinya. Bahkan Asep berhasil mendeskripsikan sangat realis kepada kita, penikmat seni, bagaimana sebuah bakul anyaman yang telah reyot ditindih induk ayam yang mengerami 5 telur di dalamnya. Takjub kita dibuatnya! Kenaturalan karyanya tak ingin ia tambahkan dengan teknik finishing yang neko-neko. Ia tak mau menambahkan cat warna warni pada karyanya. Ia ingin karyanya yang ‘berbicara’ sendiri bahwa ketekunan dan detail adalah yang membawa karya ini memiliki ruh kepada penikmatnya.


Asep menggunakan tanah liat asal Pacitan dan Sukabumi untuk bahan dasarnya. Tanah asal kedua wilayah ini memang diakui memiliki standar mutu stoneware yang diakui kualitasnya di dunia keramik. Bersama seorang temannya, baru saja ia berhasil membuat tungku pembakaran sendiri untuk karya-karyanya. Untuk itu dia bisa berhemat separuh biaya bila ia beli tungku yang sudah jadi. Ia sudah tak perlu lagi menitip pembakaran di kawasan Kasongan Rp 700rb/tungku/pembakaran. Dan dengan demikian ia semakin bersemangat berkarya untuk mengejar obsesi menggelar pameran tunggal selanjutnya.


Tungku pembakaran buatan sendiri.

CURRICULUM VITAE 
Asep Maulana Hakim Ssn (Asep Jablay)

PERFORMANCE ART
2009: membuat ketupat 1 mili meter, pada pameran Fiber Space II, Taman Budaya Yogyakarta

AKTIFITAS PAMERAN
TUNGGAL
2015 : "Bersama Tanah, Mengayam Hari", Tirana Art Space, Yogyakarta
GRUP
2007 : ''Geliat Nasional Ceramik Exibition", Sangkring art Space, Yogyakarta
2008 : "Surprise II", Benteng Vrendenburg, Yogyakarta
2009 : ''Fiber Space II", Taman Budaya, Yogyakarta
             "Dies Natalis 2009", Galeri Institut Seni Indonesia Yogyakarta
2010 : "Gerakan Seni Abstrak Indonesia III", Taman Budaya Yogyakarta
2011 : "Jogja Bangkit"Jogja Nasional Museum, Yogyakarta
2012 :  "Reposisi: Pameran Kriya Kontemporer'', Galeri Nasional, Jakarta 
           -"Meet Up: titik Lenyap & Friend", Galeri Biasa Yogyakarta
2013 : ''Vacuum Learning'', Bentara Budaya Yogyakarta
2014 : "The Thrid Jakarta Contemporary Ceramic Biennale: Coefficience of expansion" 
             Galeri Nasional Indonesia, Jakarta
             "Membaca Bayat", (PKKH) Universitas Gajah Mada Yogyakarta
2015 :  ''Inauguration", UMA Art Space, Tangerang
             "Dies Natalies ISI 31", galeri Rj. Katamsi, ISI Yogyakarta 
             "Nandur Srawung", Taman Budaya Yogyakarta





Friday, December 04, 2015

Manajemen Seni

Membuat event yang bagus itu tidak mudah, sama sekali tidak mudah. Yang saya bicarakan disini adalah event seni rupa. Penuh kerja keras, content, quality atau wacananya harus kuat, juga harus memakai rasa & hati, jangan hanya sensasi, supaya eventnya lebih memorable, dibicarakan hingga kurun waktu yang lama. Tulisan saya ini belum sepenuhnya selesai, tulisannya akan berkembang, jadi silakan ikuti selalu perkembangannya.


Perhelatan akbar sebuah event bisa diukur antara lain dari: skala cakupan (regional, nasional, internasional), besarnya anggaran yang digunakan, banyaknya peserta yang dilibatkan atau siapa person yang dilibatkan (misalnya pesertanya cuma 1 tapi dia seorang bintang ternama atau banyak peserta tapi yang dihitung adalah kuantitasnya). Tulisan saya kali ini mencoba menganalisis manajemen sebuah event seni rupa yang diikuti oleh banyak seniman. Banyak disini ukurannya adalah mulai dari 100 orang. Saya mengambil 4 contoh event sebagai sample-nya. Dimana kebetulan saya terlibat didalamnya pada posisi yang berbeda-beda.  Setelah Anda baca nanti, mungkin akan lebih banyak persoalan manajemen teknis dan koordinasi. Tapi begitulah pengalaman mengajarkan saya di lapangan, yang mungkin sangat berbeda dengan teori.


Ke 4 event tersebut adalah:
Biennale Jogja VIII 2005 ‘Di Sini & Kini’ (2005)
Wedding putra pertama dr.Oei Hong Djien: ‘Wedding, Art, Tobacco’ (2006) *
Exposign: 25th Insitut Seni Indonesia (2009)
Nandur Srawung 1 (2014)*
* menyusul


Biennale Jogja VIII 2005 ‘Di Sini & Kini’
Nama eventnya Biennale, maka ini adalah event dua tahunan. Dikelola oleh Taman Budaya Yogyakarta (TBY). Posisi saya waktu itu adalah Divisi Pameran. Event ini banyak dinaungi nama-nama besar sebagai penasehat, pelindung, kurator dan penyelenggara itu sendiri. Disamping itu, Biennale Jogja VIII 2005 ini juga pertama kali diikuti perupa dari beberapa kota di Indonesia dan juga diikuti perupa 6 negara yaitu Belanda, Canada, Malaysia, Liechtenstein, Jepang dan Australia. Biennale Jogja VIII 2005 ini tercatat sebagai biennale dengan penyelenggaraan di luar TBY untuk pertama kali. Bahkan, biennale saat itu memakai ruang-ruang non mainstream untuk pameran, 17 titik lokasi dijadikan ruang pameran yang dibagi menjadi 8 kawasan, itu pun masih ditambah moving space (karya yang dipamerkan di luar ruangan, bersifat performance art). Total karya yang dihadirkan adalah 110 judul karya. 


Sebagai koordinator Divisi Pameran saya harus  mengelola 110 karya (indoor dan outdoor) yang terbagi di 17 titik lokasi yang berbeda dalam waktu yang bersamaan. 17 titik lokasi tersebut adalah Taman Budaya Yogyakarta (55 karya), Gedung Societet Militer (2 karya), Benteng Vredeburg (4 karya), Pasca Sarjana ISI (5 karya), Galeri Biasa (2 karya), Karta Pustaka Bintaran (7 karya), Gereja Santo Yusuf Bintaran (3 karya), Museum Sasmita Loka, Jendral Sudirman (1 karya), SMU N 3 (1 karya), Jogja Studi Center/JSC Kotabaru (1 karya), Gabah Resto Sagan (2 karya), KOA Boutique Café Sagan (4 karya), SMKN 2 (5 karya), PD Tarumartani (6 karya), Kandhang Menjangan (1 karya), Omah Dhuwur Kotagede (6 karya), Masjid Besar Kotagede (1 karya), Nitiprayan (4 karya), Padepokan Bagong Kussudiarjo (4 karya), moving space (3 karya public art).


Dari 17 titik tersebut yang sudah terbiasa sebagai ruang pamer hanya Taman Budaya Yogyakarta (TBY) dan memang yang paling banyak memajang karya, selain itu ada Galeri Biasa dan Pasca Sarjana ISI Yogyakarta. Kesulitan mengelola pameran dan karya dalam event ini, terutama saya pribadi, adalah:
1. Baru pertama kalinya event Biennale berada di luar pakem penyelenggaraan, yakni di luar Taman Budaya Yogyakarta (TBY). Sehingga diperlukan sosialisasi kepada venue-venue di luar TBY sebagai ruang pamer dan etika non tertulis bagaimana menikmati karya seni, antara lain: tidak boleh menyentuh karya, cara mendokumentasikan karya, menjaga karya tetap aman sepanjang pameran, karya tidak bergeser atau rusak displaynya sepanjang pameran berlangsung dan sebagainya. 


2. Banyaknya karya yang harus dikelola dan menyebar (massif) di 17 titik. Meskipun tiap titik ada koordinator masing-masing, tapi tetap sistem kontrol yang ketat belum bisa dijalankan saat event ini berlangsung kala itu. Sistem kontrol yang saya maksud misalnya menempatkan kamera-kamera CCTV dimana ada karya yang dipajang di venue tertentu tersebut. Kamera CCTV tidak harus disediakan oleh penyelenggara, tapi bisa nebeng dari pemilik venue. Saya sebagai koordinator tidak memiliki banyak waktu untuk cek satu per satu karya setiap harinya sepanjang pameran berlangsung. Waktu itu cara terefisien adalah absen by phone atau SMS satu per satu koordinator yang stand by disana. Bila ada masalah baru meluncur ke lokasi untuk solve the problem. 


Fungsi koordinator per venue ini juga sebagai guide, sehingga koordinator dibekali product knowledge tentang karya yang ada di venue mereka masing-masing. Koordinator harus bisa menjelaskan tentang event Biennale itu sendiri dan karya yang dipajang. Karena waktu itu katalog dicetak pasca event, sehingga hanya caption karya yang menjelaskan tentang karya tersebut.


3. Mengakomodir kepentingan, kebutuhan masing-masing seniman dengan karyanya. Kebutuhan ruang, kebutuhan material tambahan, kebutuhan untuk terekspos dan mudah diakses publik. Karena setiap seniman dan setiap karya ingin diekspos semaksimal mungkin. Kecenderungan yang terjadi, seniman senior memiliki daftar panjang kriteria yang harus difasilitasi oleh penyelenggara demi supaya karyanya tampil maksimal dari sekian banyaknya karya yang dipamerkan. Tidak mudah lho mengelola ego dan kepentingan 100 orang.


4. Meskipun jabatan saya di atas kertas sebagai Divisi Pameran, toh kemudian tetap saja merangkap kerja ini itu, misalnya sebagai editor katalog, membantu marketing (penjualan karya) juga publikasi (terutama kepada rekan-rekan jurnalis). Karena memang, banyak informasi karya ada pada divisi yang saya kelola. 


5. Sumber daya manusia (SDM) penyelenggara utama Biennale Jogja, dalam hal ini Taman Budaya Yogyakarta (TBY) tidak maksimal mensupport event ini. Memang event ini sudah dikelola pihak kedua (EO) termasuk ada saya didalamnya, tetapi staf-staf TBY sendiri tidak membantu penuh, cenderung cuek, diserahkan sepenuhnya sama tim EO, padahal namanya tercantum dalam kepanitiaan, sehingga kadang koordinasi jadi tidak maksimal. 


6. Nah ini yang kadang dilupakan atau sengaja tak dihiraukan. After party atau selepas pameran berlangsung. Usai pameran, karya-karya yang menyebar itu harus segera diturunkan, dipacking rapi dan dikembalikan kepada senimannya dalam keadaan utuh, baik seperti sedia kala. Pada event ini, tidak terkoordinasi dengan baik. Semua SDM hampir semuanya telah menghilang entah kemana. Sehingga saat harus packing dan mengembalikan karya, saya seolah-olah bekerja sendirian. Ini menjadi pelajaran penting bagi penyelenggara event seperti saya.


Exposigns: 25th Institut Seni Indonesia

Exposigns digadang-gadang sebagai pameran seni rupa terbesar sepanjang tahun 2009. Bagaimana tidak? Melibatkan banyak seniman (kurang lebih 600 seniman) dari seluruh Indonesia, menggunakan ruang yang sangat luas di Jogja Expo Center (JEC) seluas lebih kurang 9000m persegi, digawangi oleh 5 kurator ternama dan dengan anggaran dana yang tak sedikit pula tentunya. JEC sendiri bukan merupakan ruang pamer mainstream, ia adalah sebuah gedung yang disewakan per hall nya guna event apapun: pameran, konser music, event olahraga, upacara wisuda hingga resepsi pernikahan.

Bedanya event Exposigns dengan Biennale Jogja VIII 2005 adalah, Exposigns mengambil satu lokasi yang luas, sementara Biennale Jogja VIII 2005 ada 17 titik (venue).

Exposigns merupakan kerjasama Jogja Gallery dan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta dalam rangka 25 tahun ISI Yogyakarta. Waktu itu ide awal digagas oleh Jogja Gallery dan ‘dilemparkan’ ke ISI Yogyakarta. Ambisi penyelenggara waktu itu memang lebih terfokus pada persoalan quantity atau banyaknya jumlah seniman yang terlibat dalam event ini. Posisi saya di event ini sebagai wakil penyelenggara, dalam hal ini saya mewakili Direktur Utama Jogja Gallery untuk kepentingan apapun dalam event ini. Durasi pameran 25 November – 30 November 2009 (5 hari saja).


Berikut ini beberapa catatan yang menjadi pembelajaran saya pribadi untuk event ini:

1.                  Venue. Venue yang dipakai, yakni JEC yang bukan ruang pamer sempat menjadi perdebatan dan konflik; misalnya bagaimana cara pajang karya 2 dimensi karena wacananya akan dipajang di panel-panel seperti pameran event biasanya, juga bagaimana dengan lighting per karya. Penyelenggara harus ekstra kerja keras supaya bisa menyulap JEC menjadi ruang pamer karya seni (fine art) yang ideal. JEC juga tidak menyediakan ruangan transit karya, sehingga kami penyelenggara tidak memiliki gudang penyimpanan. Ruang transit karya ada di Galeri ISI, Sewon, kami mengggunakan 2 lantai di sana. Waktu itu kami harus bolak-balik ISI Sewon ke JEC Janti untuk antar jemput karya dengan pick up. JEC juga hanya memberikan waktu 1 hari untuk display dan 1 hari untuk bongkar karya. Bayangkan, bagaimana kami harus mengejar waktu dengan karya sebanyak 600-an karya tersebut dan rata-rata berukuran besar, tidak hanya 2 dimensi saja tapi juga karya 3 dimensi. Waktu itu kami membagi koordinasi menjadi 3 bagian, disesuaikan dengan 3 hall JEC. Hall A, hall B dan hall C. Misalnya seniman siapa saja yang ada di hall A, hall B dan hall C. Itu pun masih ditambah karya-karya outdoor dan di teras JEC.


      2. Durasi pameran yang cuma 5 hari cukup membuat kami penyelenggara terengah-engah. Sementara masa display dan bongkar karya masing-masing cuma 1 hari, belum selesai capeknya, sudah harus bongkar dan dikasih waktu cuma 1 hari harus clear up semua. Dalam kondisi ini, kami penyelenggara harus menyiapkan SDM yang cukup. SDM waktu itu kami ambil random, ada yang mahasiswa dan memang yang sedang mencari pekerjaan. Kami juga mengambil SDM yang kira-kira sudah memiliki pengalaman di bidang display karya, supaya kami tidak banyak memberi pengarahan karena mepetnya waktu dan banyaknya hal yang harus dikerjakan. Ada juga SDM yang memang dia seorang tukang, pekerjaan sehari-harinya adalah tukang bangunan.


          3. Sumber Daya Manusia (SDM). Karena banyaknya karya yang harus ditangani, waktu itu kami merekrut banyak volunteer dan banyak yang berminat melamar. Tetapi memang dari sekian banyak SDM, tidak semua qualified. Di pertengahan jalan saat kami bekerja, tiba-tiba ada yang jatuh sakit, atau tiba-tiba mengundurkan diri karena tidak kuat dengan beban pekerjaan atau entah apa alasannya. Karena memang di event ini betul-betul tenaga, waktu dan pikiran tersita karena waktu yang mendesak. Waktu yang mendesak karena mepetnya waktu untuk display, waktu untuk bongkar karya dan selama pameran berlangsung.



Nah, seharusnya ada manajemen tersendiri mengenai SDM ini, supaya tidak terjadi doble job desk mengingat waktu. Yang terjadi adalah ada beberapa SDM yang merangkap semuanya, ya display karya, ya jaga pameran, ya bongkar karya, benar-benar menyita tenaga. Karena waktu display dan bongkar karya itu kami habiskan hampir 24 jam tanpa tidur. Bila SDM tidak dikelola dengan baik, misalnya dibagi shift kerja, maka sebenarnya tidak maksimal kerjanya dan malah mengulur waktu.


      4. Service.  Pelayanan penyelenggara kepada seniman peserta pameran terutama. Ke-600-an seniman peserta ini hampir semua pengen dipenuhi maunya apa: pengen lightingnya begini, pengen dipasang disana, pengen dilayani cepat, dan seterusnya dan sebagainya. Hal ini juga harus diperhatikan penyelenggara, karena meja pengaduan (customer service) tidak disediakan khusus dalam event ini. Mungkin sebaiknya ada meja khusus untuk menampung keluhan-keluhan dan harus ada sistem koordinasi yang baik, keluhan A seharusnya di follow up ke divisi apa dan seterusnya. Pekerjaan bagian service ini masih harus mengelola kebutuhan pengunjung (tamu) yang menikmati pameran, jurnalis juga sponsor.


      5. Pasca produksi. Sama seperti kasus yang terjadi di Biennale Jogja VIII 2005. Pasca produksi harus diperhatikan oleh penyelenggara event. Karena biasanya di pasca produksi ini semangat sudah mengendur, cenderung malas dan ingin segera selesai. Padahal pasca produksi memerlukan konsentrasi dan intensitas yang sama seperti saat menyiapkan event.



Pada kasus Exposigns, yang menjadi pembelajaran saya adalah, karya-karya yang selesai dibongkar dan harus dipindahkan di ruang transit di Sewon ada yang mengalami kerusakan saat proses bongkar karya. Kerusakan juga beberapa terjadi saat pengembalian karya ke studio/rumah seniman. Misalnya penyelenggara harus mengganti karya kanvas yang sobek atau patung yang pecah. Nah, ini harap diperhatikan! Kerusakan itu terjadi karena: pembongkaran karya yang tidak sesuai prosedur, proses penyimpanan karya yang tidak ideal, proses pengembalian karya (transportasi). Dalam hal ini kerugian yang ditimbulkan atas kerusakan karya pada masa pasca produksi tentu saja mengurangi profit/income penyelenggara, karena penyelenggara harus menukar/mengganti biaya produksi atau nilai karya yang rusak tersebut. Dan itu tidak sedikit lho. Profit yang didapatkan dari penyelenggara misalnya dari sponsor, penjualan tiket, penjualan karya dll harus dikurangi biaya mengganti karya yang rusak, sementara karya itu karya yang rusak ada yang bisa diperbaiki dan ada yang sama sekali tidak bisa diperbaiki lagi. 

Bersambung...