Friday, December 07, 2012

Sekadar Mendokumentasikan | Lukisan/karya koleksi Nunuk Ambarwati

Tiba-tiba saya ingin menulis, mendokumentasikan lukisan-lukisan/karya koleksi saya sendiri. Keburu dihapus ingatan, jadilah saya mulai menulis latar belakang saya mendapatkan karya-karya ini :-)

Lukisan ini merupakan lukisan pertama yang saya peroleh, dimana kemudian tanpa disadari koleksi lukisan/karya saya bertambah satu demi satu hingga sekarang. Lukisan cat air di atas kertas, karya Nindityo Adipurnomo, judul  ‘Studi Pola Lantai Srimpi’, 31,5 x 25 cm, tahun 1990; diberikan langsung oleh Mas Ndit saat saya masih bekerja sebagai staf di Cemeti Art House antara tahun 1999 – 2001. Sayang, saya tidak mencatat atau ingat pasti kapan itu diberikan.  Seperti termakna pada judul karyanya, karya ini seperti sebuah seri project tentang studi pola lantai tari Srimpi, sebuah tari tradisional asal Yogya.

Saat itu, Mas Ndit sedang menata ulang karya-karyanya yang akan dia masukkan dalam arsip/dokumentasi. Saya dan Mbak Titin Setyaningsih (partner kerja saya waktu itu), membantu Mas Ndit untuk membereskan. Seperti biasa, Mas Ndit akan panjang lebar menceritakan bagaimana proses kreatif dan proses berkarya dia. Saya mendengarkan saja sambil manggut-manggut. Karir kerja seni saya diawali dari Cemeti  Art House di tahun 1999. Begitu lulus kuliah D3 jurusan Public Relations, Komunikasi UGM, saya langsung bekerja di Cemeti Art House. Dunia seni rupa masih awam bagi saya waktu itu. Karena sebelumnya, saya banyak bergerak di seni pertunjukkan (musik dan teater).

Sambil berbincang soal karya dan membereskan arsip, tiba-tiba Mas Ndit menawarkan pada saya untuk memiliki salah satu dari karya-karya yang sedang digelar diatas lantai tersebut. Saya disuruh milih sendiri, wow senangnya, tidak terduga, sungguh! Mbak Titin juga disuruh pilih salah satu. Ketika sudah jatuh pada pilihan kami masing-masing, Mas Ndit dan Mbak Titin mengomentari pilihan karya yang saya tunjuk, mereka bertanya kenapa memilih itu? Terus terang saya lupa percakapan selanjutnya. Tapi yang jelas, bahkan sampai sekarang, saya suka sekali karya ini. Sempat berjamur karena masalah penyimpanan karya, kemudian saya bersihkan dan pajang kembali. Saya simpan sebagai kenangan berharga, bagaimana saya mengenal dunia seni rupa pada mulanya, mengenal Nindityo dan art scene di Yogya, mengenal seni kontemporer dan seterusnya dan hiruk pikuknya. Karya ini juga yang kemudian memicu saya untuk melanjutkan mengoleksi karya-karya yang lainnya.

Karya berikutnya, masih karya Nindityo Adipurnomo. Kali ini saya mendapatkan karya kanvas, oil on canvas tepatnya. Judul karya ‘Potret Lelaki Jawa’, ukuran 30 x 40 cm, tahun 2000. Waktu itu Mas Nindit mengerjakan seri tentang potret lelaki Jawa, seingat saya ada karya fotografi, 3 dimensi dan lukisan. Waktu saya mendapatkan karya ini, saya juga diminta oleh Mas Nindit untuk memilih mana yang ingin saya koleksi. Lalu saya memilih karya ini. Tetapi waktu itu, Mas Nindit bilang, untuk menunggu sementara waktu sampai karya tersebut selesai di framing. Framingnya memang beda dari biasanya.  Framingnya dari kayu, dengan tebal menjorok ke depan 7,5 cm. Agak sedikit lama menunggu proses framing selesai. Yang membuatnya lebih istimewa buat saya dari karya ini, ketika Mas Ndit menuliskan di bagian belakang ‘Buat Nunuk Ndit 2001’. 


Aduh sayang sekali, saya tidak mencatat judul dari karya ini. Karya cat air di atas kertas ini merupakan karya Iwan Effendi, ukuran 17 x 30 cm, tahun 2005. Cerita dibalik saya mendapatkan karya ini lucu sekali. Waktu itu, saya sudah berpindah pekerjaan, dari Cemeti Art House, pindah ke Yayasan Seni Cemeti/Cemeti Art Foundation, yang sekarang berganti nama menjadi IVAA (Indonesian Visual Art Archive). Posisi saya waktu itu sebagai Koordinator Bidang Dokumentasi dan Arsip. Salah satu tugas saya adalah mendokumentasikan event seni rupa, perkembangan karya seniman dll. Nah, waktu itu ada Pameran Seni Rupa di Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) di Benteng Vredeburg, Yogyakarta. Saya melihat pameran sekaligus liputan dan dokumentasi. Dari sekian banyak karya, karya Iwan Effendi yang ini sangat menarik perhatian saya. Lewat karya ini, imajinasi saya bisa berkeliaran sedemikian rupa dan mendorong saya untuk bisa memiliki karya ini. Lalu saya kontak Iwan Effendi, saya menyampaikan keinginan untuk bisa memiliki karya tersebut. Iwan berkata, ‘Tunggu sampai pameran selesai mbak. Nanti kalau tidak laku terjual, boleh buat Mbak Nunuk’. Asiiiikkk, saya kemudian berniat dalam hati, agar karya itu tidak laku terjual hahahaha. Setelah ditunggu hingga pameran selesai dan saya cek, ternyata karya tersebut tidak terjual. Saya kembali menghubungi Iwan untuk menagih janji. Lalu Iwan sampaikan kalau saya boleh memiliki karya tersebut dengan mengganti biaya framenya saja seharga Rp 50ribu. Senaaannnngggg sekali rasanya :-) 


Karya ini juga sangat istimewa. Saya dapatkan ketika saya bertugas ke Bali, tahun 2006. Waktu itu, saya sebagai bagian dokumentasi berangkat ke Bali bersama Mikke Susanto dan KRMT. Indro ‘Kimpling’ Suseno. Kami bertiga ke Bali dalam rangka melobi seniman-seniman senior untuk bisa ikut pameran di grand launching Jogja Gallery, sekaligus mendokumentasikan mereka satu per satu. Posisi saya waktu itu masih bekerja sebagai Koordinator Dokumentasi dan Arsip Yayasan Seni Cemeti (sekarang berganti nama Indonesia Visual Art Archive/IVAA). Keberangkatan saya ke Bali difasilitasi oleh Jogja Gallery, sebagai galeri baru yang akan muncul di Yogya waktu itu.

Sampailah kami ke rumah Bapak Nyoman Gunarsa. Kami disambut hangat dan dipandu melihat ruang-ruang koleksi karya-karya beliau, perjalanan beliau selama berkarya. Hingga akhirnya, Pak Nyoman Gunarsa memberikan buku biografinya untuk disumbangkan kepada Yayasan Seni Cemeti. Nah, salah satu keahlian Bapak Nyoman Gunarsa adalah sketsa wajahnya yang cepat. Sedikit karena rayuan Mikke Susanto, akhirnya Pak Nyoman Gunarsa menorehkan gambar diatas kertas dan kami mendapatkan sketsa wajah kami masing-masing. Termasuk saya J. Meski pun di awal saya sedikit ragu-ragu, akhirnya saya mau juga deh di gambar. Sketsa wajah saya ini digambar di bagian halaman muka buku biografi Nyoman Gunarsa tersebut dan ditambahkan teks ‘Untuk Yayasan Cemeti di Yogyakarta, Semoga Sukses dan Langgeng’. Bukunya masih bisa diakses di perpustakaan IVAA Yogya.


Sementara karya sketsa wajah saya yang satu ini, digambar oleh seniman senior Totok BS. Bapak Totok BS memang lebih dikenal di daerah Bandung atau Jakarta. Beliau sangat terkenal melukis wajah cepat. Gambar wajah saya ini pun dia kerjakan dengan pensil tidak lebih dari 5 menit, 3 menit mungkin. Saat itu, tanggal 5 Juli 2008, saya menjadi salah satu panitia yang mengorganisir acara resepsi pernikahan putra kedua dr. Oei Hong Djien di Magelang, Jawa Tengah. Acara resepsi pernikahan putra dr . Oei Hong Djien ini menyediakan hal yang beragam dan sangat menarik, ada aksi ramalan, potong rambut, dansa, aksi graffiti, roller skate dll. Salah satu bentuk acara resepsi itu adalah menyediakan seniman untuk melukis wajah para tamu. Diundanglah Bapak Totok BS. Meja Pak Totok bersebelahan dengan meja saya. Waktu itu, saya diharuskan stand by di meja panitia sebagai meja informasi. Sambil menunggu acara dimulai kami berbincang-bincang. Pak Totok bilang, nanti kamu akan saya gambar kalau acara sudah mau selesai. Asyiiikkkk. Acara berjalan ramai sekali, sampai-sampai meja Pak Totok juga antri banyak tamu yang ingin di sket wajahnya. Pak Totok sampai kewahalan dan terlihat sedikit capek. Sampai akhirnya tiba giliran saya. Saya tidak berani menagih  janji Pak Totok untuk melukis wajah saya, karena saya lihat Pak Totok sudah kecapekan. Tapi ternyata dia menepati janjinya. Digambarnya saya dengan sangat cepat dan bagus. Saya senang sekali dan ditulisnya nama saya didalam gambar tersebut ‘Tuk Nunuk’. 


Senangnya dapat koleksi satu lagi khusus sketsa wajahku. Kali ini dibuat oleh Angga Yuniar Santoso, seorang seniman muda. Menekuni bisnis sketsa wajah dengan brand product Mimpinglukis. Bertemu Angga saat ia menjadi pengisi acara pembukaan pameran di Tirana. Kemudian berlanjut hingga mengisi event reguler KAMIS SERU di Tirana juga. Ide-ide kreatifnya dalam mengembangkan bisnis oke juga. Produk sketsa wajah atau karikatur ia kembangkan dan sesuaikan dengan kebutuhan klien. Saya diberinya gratis lukisan ini, ukuran 20 x 30 cm, media cat air di atas kertas. Begitu selesai mengerjakan karikatur, kertas kemudian ia cutting sedemikian rupa menjadi makin menarik. Saya sendiri mengirim 4 foto diri ke Angga, disamping karena saya grogi kalau dilukis langsung di depan seniman, buat Angga juga lebih nyaman, dia bisa mengerjakan sesuai zona nyamannya. Angga tidak lupa mencantumkan logo N yang menjadi ciri khas pencitraan saya, sebagai liontin kalung dan disisi kanan bawah. Biasanya ia bisa mengerjakan sketsa wajah dalam waktu sekitar 5-30 menit, tapi waktu  saya pesan, antrinya banyak. Sehingga sekitar 2 hari sejak saya pesan, lukisannya sudah selesai dan diantar ke butik.Terima kasih Angga :)


Karya ini merupakan bagian dari pameran ‘September Ceria’ | Jogja Gallery, Yogyakarta 8 September – 19 Oktober 2009; sebagai peringatan tahun ke-3 berdirinya galeri tersebut. Waktu itu saya dan Noris (suami) masih bekerja di Jogja Gallery. Ada banyak perupa yang terlibat dalam pameran tersebut, 38 perupa dari 70 perupa yang diundang. Salah satunya adalah Studio Grafis Minggiran. Menariknya adalah, mereka memilih untuk melakukan interaksi langsung dengan audiensnya dalam pameran ini. Mereka menyediakan karya cukilan hardboard aslinya/master. Lalu pengunjung pameran bisa memilih karya mana yang ingin mereka miliki. Teman-teman Studio Grafis Minggiran membantu dengan proses printmakingnya. Tentu saja dengan biaya yang cukup terjangkau, pengunjung pameran bisa langsung merasakan pengalaman membuat karya seni grafis dan mendapatkan karya itu sendiri. Sehingga akan tertulis nama seniman sebagai pembuat karya dan nama kita sebagai pencetaknya, menarik sekali!

Theresia Agustina Sitompul atau Tere, merupakan satu-satunya anggota perempuan dalam Komunitas Grafis Minggiran. Tere membuat karya berjudul ‘Sembunyi’, hardboardcut on paper, 20 x 30 cm, cetakan ke 3, 2009. Noris (suami saya) memilih karya tersebut karena memang suka dan satu karya lagi milik Nawangseto berjudul ‘Siapa Menuntun Siapa’, hardboardcut on paper, 20 x 30 cm, cetakan ke 3, 2009. Karya Nawangseto sangat lekat dengan pengalaman sehari-hari saya dan suami, karena waktu itu kami masih memiliki anjing Rotweiler bernama Dora.


Dedy Sufriadi
Ada dua judul karya, semuanya UNTITLE
masing-masing ukuran 50 x 50 cm tahun 2010
media mixed media on canvas

Nah, kalau yang ini, rada pake maksa dikit dapatnya lukisan. Sudah kenal Mas Dedy sejak saya masih bekerja di Jogja Gallery sekitar tahun 2006. Sebenarnya Noris (suami saya) yang nge-fans banget sama Mas Dedy dan pengen banget dapat karyanya. Noris selalu pedekate ke Mas Dedy supaya dapat karya. Akhirnya di tahun 2011, ketika kami bertiga (saya, Noris dan Abel) ke rumah Mas Dedy karena sedang mengerjakan suatu art project; iseng-iseng Noris minta karya. Eeehhh, dikasih sama Mas Dedy, disuruh milih pula. Ada sederetan karya yang ukurannya sama 50 x 50 cm. Saya dan suami senang sekali, inilah rejekinya Abel (anak kami) hahaha. Dapat dua karya lagi, karena saya dan suami pengennya dapat sendiri-sendiri. Maafkan kami ya Mas Dedy...sedikit maksain dapat karyamu. Sekarang, karya ini dipajang di ruang tamu rumah kami.


Ronald Apriyan
'Baca, Makan dan Pulang'
oil on canvas, 140 x 200 cm, 2008

Untuk sekarang, karya Ronald Apriyan ini merupakan karya dengan ukuran terbesar di rumah mungil saya saat ini. Karya ini pernah dipamerkan dalam pameran 'Yasin: The Untranslatable', Jogja Gallery, 16 September - 12 Oktober 2008 dikuratori oleh Farah Wardani. Saat itu saya masih pada posisi Manager Program Jogja Gallery. Tapi saya tidak dapat berkesempatan melihat pameran ini karena saya sedang mengikuti residensi di Darwin, Australia.

Saya sendiri tidak menyangka akan mendapatkan hibah lukisan ini dari sang seniman. Ceritanya, ketika saya sudah mengundurkan diri dari Jogja Gallery dan ternyata karya ini belum dikembalikan ke seniman dan bahkan tidak diambil oleh seniman. Saya mengingatkan Ronald untuk segera mengambilnya, karena memang sudah lama sekali karya itu ngendon di gudang penyimpanan galeri. Entah karena males bawa pulang, atau memang sudah rejeki saya dapat karya ini, Ronald bilang, 'karya yang di Jogja Gallery itu, buat koleksi mbak Nunuk aja deh' :) Wuaaah langsung sumringah... Waktu itu memang tidak ngebayangin ukurannya sebesar 2 meter. Begitu sampai di rumah, langsung penuh lah dinding rumah dengan karya ini. Kemudian makin menghangatkan sudut ruang di rumah saya. Thanks Ronald
:)

ANJASMORO

Anjasmoro arimami
Mas mirah kula'o warto
Dasihmu tan wurung layon
Aneng kutho Probolinggo
Prang tanding lan urubismo
Kario mukti wong ayu
Pun kakang pamit palasmo

Buat Nunuk Ambarwati
Sujiwo Tejo, Mei 2008

- Tentang pamitnya Damarwulan ke Ratu Kencono Wungu (Ratu Majapahit) waktu mau perang dengan Menakjinggo

***

Hmmm apa yang saya menyebutnya untuk koleksi ini? Cuplikan lirik tembang Jawa ini, yang ternyata baru saja saya ketahui bahwa ini tembang Asmorodono. Saya dapatkan dari Mas Sujiwo Tejo ketika beliau mengadakan pameran tunggal di Jogja Gallery, 'Semar Nggambar Semar' 10-16 Mei 2008. Mas Jiwo saya panggil beliau, memberikan tulisan tangan ini ketika kemudian pameran dan segala urusan di Jogja Gallery hampir berakhir. Selesai menulis, beliau lalu mengajari saya bagaimana caranya nembang Jowo...meski pun asli kelahiran Yogya, susah mengingat jalinan nada-nada bagaimana harus nembangnya. Beliau ngajarin saya berkali-kali waktu itu. Sepeninggal beliau setelah selesai semua urusan, kadang Mas Jiwo tiba-tiba nelpon saya dan langsung nembang gitu aja; saya dibikin tersenyum olehnya, seolah-olah agar ingat satu sama lain. Perkenalan saya dengan Mas Jiwo saat itu jadi pengalaman yang unik, seunik karakter beliau sebagai seorang dalang, artis, budayawan dan juga pelukis (belakangan ini dibuktikan dengan rangkaian pamerannya kurun waktu 2008 tersebut).

Kyai Haji Muhammad Fuad Riyadi
Tarekat Kemenangan | acrylic on paper | 40 x 50 cm | 2010

Lukisan ini terasa sangat istimewa untuk saya pribadi. Istimewa karena saya mendapatkannya dari seorang Kyai. Sejak kecil hingga akhirnya memutuskan menikah, saya adalah seorang Nasrani, tak ada kenalan seorang Kyai. Istimewa karena lukisan ini sekaligus sebuah doa untuk saya dan keluarga kecil saya. Istimewa karena karya ini memang dibuat khusus untuk saya.
Waktu itu, penghujung tahun 2010, saya mendapat tawaran untuk mengorganisir event pameran seni rupa tunggal karya Kyai Haji Muhammad Fuad Riyadi. Tawaran ini datangnya dari rekan seniman, Yusron Mudhakir. Saya belum pernah dan tidak kenal sama sekali sosok KH M Fuad Riyadi, hingga kemudian saya datang untuk membicarakan rencana penyelenggaraan pameran tunggal tersebut bersama orang kepercayaan beliau. Setelah ngobrol panjang, saya pun diminta untuk datang ke Pondok Pesantren, tempat beliau mengajar dan mengasuh anak-anak didiknya. Saat itu saya datang bersama suami, anak dan partner kerja di event organizer tersebut. Intinya silaturahmi, mengenal satu sama lain sebelum memutuskan bekerja sama atau tidak. 

Lukisan KH M Fuad Riyadi dikenal oleh orang-orang terdekatnya, mengandung doa/rajah atau apapun itu yang dipercaya memberikan hal positif bagi kolektor/pemiliknya. Misal, Anda sedang sakit dan Anda ingin sembuh, dengan memajang lukisan KH M Fuad Riyadi, maka sembuh. Atau Anda ingin sukses dalam berkarir, dengan membeli dan memajang lukisan karya KH M Fuad Riyadi, maka karir Anda melambung tinggi. Demikian seterusnya. Saya pun ingin mengoleksi, tapi saya tak punya nyali untuk meminta, karena baru saja kenal dan apalagi beliau seorang Kyai. Tapi Noris, suami saya, di akhir perjumpaan pertama kali di Pondok Pesantren tersebut, mengutarakan keinginan kami untuk meminta lukisan dari sang Kyai, mohon doa agar usaha/bisnis kami sukses. Kyai hanya mengangguk-angguk dan tersenyum. Wah ndak mimpi deh bakal dapat…

Tak berselang lama dari pertemuan tersebut, 6 Desember 2010, saya mendapatkan SMS dari orang terdekat Kyai untuk mengambil lukisan yang diperuntukkan buat saya. Wooowwwww! Sumringah, girang luar biasa, semangat langsung pingin ambil, penasaran lukisannya seperti apa. Akhirnya dapatlah saya sebuah lukisan istimewa ini berjudul ‘Tarekat Kemenangan’, dilukis dengan acrylic diatas kertas, 40 x 50 cm, 2010. Kata Kyai, itu cocok dengan saya dan yang penting itu doa untuk kesuksesan dunia dan akhirat. Amin amin amin….Lukisan ini juga ikut dipamerkan dalam pameran tunggal lukisan Kyai yang kemudian saya organisir berjudul ‘Locospiritual: The Journey of Spiritual World’ di Jogja Gallery, 22-29 Juli 2011. Matursembahnuwun sanget Kyai Haji Fuad Riyadi
.

Alfin Agnuba | 'Escher Terror' | screenprint and digitalprint | cetakan 1/10 | 14 x 19 cm | 2013
Istimewa! Karya ini didapatkan saat pameran Jogja International Mini Print Festival 2013 di Galeri ISI, Yogyakarta, November 2013. Alfin seorang seniman muda, sangat giat berkarya dan aktif berkreasi hampir dimanapun ia bisa. Meskipun belum begitu kenal dekat dengannya, tetapi karya-karya dan intensitas bekerja di dunia seni rupa sudah cukup membuat saya mengenalnya dari sisi yang berbeda.


Menurutnya, karya ini tentang dunia paralelnya Mc Escher (seniman grafis perspektif). Alfin merespon atas gejala perspektif yang telah Escher ciptakan. Karakter paling depan yang seolah keluar dari batas media gambar sengaja Alfin munculkan sebagai pengacau bentuk yang telah menjadi sejarah. Bahwasanya pada masa saat ini tidak ada lagi batasan kaku yang mengharuskan seniman (grafis) harus terus intens dengan pedoman konvensional yang telah dibakukan. Bersama karya ini, masih ada 2 karya senada yang Alfin ciptakan. Saya kebetulan bisa mendapatkan (membeli dengan cara mencicil hehehe) dan sangat menyukai karya ini. Bagi Alfin, ketiga karya tersebut merupakan bentuk pelampiasan kejenuhannya di dunia akademis yang dituntut harus selalu baku akan pakem-pakem seni grafis. Beruntung saya mendapatkan cetakan pertama dari sepuluh yang Alfin buat. Melalui kegigihan, semangat dan kerja kerasnya, Alfin Agnuba akan menjadi seorang seniman hebat. Amin.






Roby Dwi Antono | pencil on paper | 22 x 27 cm | 2012

Wooowww! Amazing...Surprising bingiitss ketika Roby Dwi Antono memberikan karya ini untuk ku koleksi. Betul-betul hepi grin emotikon Karena memang suka sekali dengan karya dia. Menurutnya karya ini bercerita tentang kekecewaan seseorang ketika mengetahui orang yang istimewa baginya ternyata masih memiliki "rumah" yang berharga baginya. Whatever it is...thank you so much, sudah menjadi bagian dari koleksi di rumah mungil kami.


Puisi KH D. Zawawi Imron | Lagu Selatan buat Nunuk A | Buku Kelenjar Laut

Pertemuan dengan KH D Zawawi Imron saat saya bekerja di Jogja Gallery. Kebetulan beliau ikut berpartisipasi dalam sebuah pameran bersama. Beberapa hari menemani beliau untuk jumpa pers, talkshow di radio, pembukaan pameran, dan kegiatan lainnya. Saya sendiri belum bertanya langsung, alasan beliau sampai bisa menulis puisi ini untuk saya. Semoga segera ada jawabannya. Yang jelas saya sangat tersanjung :)

Dan berikut persepsi Mikke Susanto atas tafsir puisi ini: kalau dalam interpretasiku, puisi ini ingin memberikan kita rasa awas "semakin tak jelas sedang mandi atau menari", juga anggapan yang seakan-akan berlebihan "seolah selatan tak ada selatan lagi", juga ungkap nasihat seorang bijak "pelangi langit dan pelangi hati sama pentingnya, asalkan kita memandangnya sebagai rezeki... kesimpulannya puisi ini sedang mengkhayalkan dirimu di sebuah alam yang punya banyak kemungkinan, bisa jadi sebuah berkah bisa jadi kemungkinan lain.... GITU nuk? Mungkiiiiin hahahaha....

Hahahaha tengkyu  :)




Aliem Bakhtiar
| etching | 4/... | 2014

Dengan sedikit 'merampok', karya ini berhasil saya koleksi hahahaha. Maapken yo Lim...abisnya lucu sih smile emotikon Waktu itu Aliem sedang aktif ngerjain teknik seni grafis di event Jogja Miniprint Biennale 2014 di Museum Bank Indonesia. Sampai entah sudah cetakan ke berapa karya ini hehehe. Pokoke seneng, karyanya sudah menjadi bagian dari koleksi di rumah mungilku...makassiiihhh.

 


Tuesday, November 27, 2012







Pameran tunggal lukisan karya TRI SUTRISNO a.k.a PETEK SUTRISNO
‘HEAD OF SINNER’
Tirana Artspace, Jl Suryodiningratan 55 Yogyakarta 55141
ph. 0274 411615 | e: tiranahouse@yahoo.com
14 November – 10 Desember 2012
Buka setiap hari, pk 9 pagi – 9 malam.


Tri Sutrisno atau biasa dipanggil Petek - nama yang lucu ketika pertama kali saya mengenalnya, seorang pemuda 24 tahun kelahiran Yogyakarta yang low profile dan bersahabat, meskipun sedikit pemalu. Pertemuan saya dengannya pada masa kuliah dulu berawal dari tongkrongan, dan minat yang sama pada seni-seni underground. “Kenapa harus aku?“ itulah pertanyaan yang terlontar pertama kali waktu Petek meminta tolong saya untuk menulis di pamerannya. Karena sebelumnya saya hanya menulis artikel musik untuk media underground saja. Sedikit kebingungan saya pun mengiyakan, mengingat Petek adalah seorang sahabat yang banyak membantu saya dan juga teman-teman lainnya.

Melihat karya-karya Petek saya teringat diskusi kecil saya bersama teman-teman Ace House Collective beberapa waktu yang lalu : “yang terlihat dari sebuah karya seni tak bisa lepas dari kejujuran seniman yang membuatnya”. Kesederhanaan dan keluguan Petek, terlihat pada warna-warna polos dan figur-figur kartun yang digambarnya. Minatnya pada figur-figur kartun yang simple, warna-warna pastel dan pemakaian garis outline, tak lepas dari pengaruh senior-seniornya dan seniman-seniman yang ia idolakan. Nama-nama seperti Wedhar Riyadi, Uji Handoko dan seniman lowbrow ternama seperti Alex Pardee sebagai influence terlihat pada karya-karyanya. Tanpa berusaha mengada-ngada, tema yang ia pilih pada pamerannya tunggalnya yang kedua ini berdasar dari pengamatan dan pengalamannya sehari-hari, hubungannya dengan orang-orang lain, teman dan masyarakat sekitar dimana ia berinteraksi. Saya tak ingin menuliskan lebih jauh, rasanya akan lebih tepat apabila si seniman yang menjelaskan tema karyanya dengan bahasanya sendiri. Tulisan ini saya kutip dari obrolan dengan Petek melalui Facebook beberapa waktu yang lalu :
“Sebenernya tema yang ingin saya angkat dalam pameran ini mengerucut dari judul pameran ini "Head of Sinner", tentang singgungan apa yang terjadi dalam kepala tiap individu manusia. Menurutku tiap manusia mempunyai pemikiran yang kadang penuh kebohongan, kemunafikan, keserakahan, kesombongan,dan lainya. Dalam karyaku yang judulnya "Mata Duitan" aku ingin membicarakan tentang realitas pemikiran yang ada di tiap kepala manusia yang terkadang munafik. Bohong kalo manusia tidak ingin kedudukan, ketenaran, kekayaan, kenikmatan. Tapi dalam realitas kehidupan nyata kadang munafik, jadi garis besar dari tema pameran ini ingin membaca realitas apa yang terjadi di sekitar kita. Tentang apa yang terjadi di kepala kepala manusia dengan segala kebohongannya...”

Saya pikir itu sudah cukup untuk dipahami. Mari kita nikmati karya-karyanya, proses, kejujuran dan kesederhanaan Petek, seperti kalimat  yang saya kutip dari film dokumenter The Beautiful Losers (2008) : “...it was a language that you didn't have to be smart to understand... All you had to do was have a heart."

Krisna Widiathama
(teman curhat Petek, seniman dan penggemar nasi padang)


Setiap orang pasti mempunyai dua sisi Kepribadian,
Beware of your dark side guys!!!

Setiap orang mempunyai suatu sisi gelap, itulah yang sering dikatakan orang-orang disekitar kita. Bagi banyak orang, perjuangan melawan sisi gelap ini merupakan suatu pertempuran yang paling menarik dalam sebagian besar dari perjuangan kehidupan manusia. Realita menunjukkan selalu terjadi pertempuran antara sisi gelap dan sisi terang dalam diri kita hingga pada akhirnya memunculkan salah satu pemenang.

 “Everyone is a moon and has a dark side he never shown to anybody” (Setiap orang itu seperti bulan, mereka mempunyai sisi gelap yang tidak pernah ia tunjukkan kepada orang . (Mark Twain, 1835-1910)

Saya mengenal Petek Sutrisno sebagai salah seorang teman yang mempunyai rambut polem (poni lempar)  dengan level 13, ha…ha…ha…. Namun dibalik rambut polem yang hampir menutupi seluruh permukaan dahinya itu terdapat pemikiran-pemikiran kritis dan berkembang dalam lingkungan kesehariannya.

Dari konteks inilah karya Petek ditawarkan pemaknaannya. Sebuah pemikiran tentang kepala-kepala (manusia) yang kompleks dengan sejuta pemikiran-pemikirannya, entah itu pemikiran positif atau negatif, atau bahkan pemikiran maha porno sekalipun, kita takkan pernah mengetahuinya dengan pasti. Kita ambil contoh saja, mulai dari seorang atlet, artis, politikus hingga seorang pemuka agama yang punya reputasi begitu tersohor, akhirnya dirusakkan oleh sisi gelapnya sendiri. Seorang pemuka agama yang selalu memberikan khotbah yang baik kepada masyarakat tetapi ia tak menjalani hal-hal yang sesuai dengan khotbahnya tersebut ketika ia tidak lagi berada didepan orang-orang. Tak ada satupun yang mengetahuinya, dan sampai kapan pun sisi gelap ini akan terus menjadi misteri yang menarik untuk diungkap.

Pada karya Petek yang berjudul “Best Friend” (acrylic on canvas, 80 cm x 60 cm, 2 panel), Petek menggambarkan ulang dengan gayanya, visual duo karakter fiksi dari game console tahun 80-an (Nintendo), diambil dari game yang merajai perkembangan game console kala itu: Super Mario Bros; Mario dan Luigi. Kita semua tahu bahwa Mario dan Luigi adalah kakak-adik yang sangat akrab, namun Petek mencoba mengobrak-abrik statement tersebut dengan menggambarkan sosok Luigi yang secara diam-diam mengacungkan jari tengahnya didepan Mario. “Bagaimana mungkin seorang Luigi yang kerap kental sekali dengan saudara kandungnya itu mengacungkan jari tengahnya didepan Mario? Apakah ini semacam Sibling Rivalry antara Mario dan Luigi? Apakah mungkin Luigi sebenarnya mempunyai sebuah dendam & kebencian yang selama ini disembunyikan secara rapih terhadap Mario? atau mungkin dia hanya sedang bercanda saja? Damn! Pikiranku terperangkap!”.

Saya pun bingung, bingung, bingung lagi hingga akhirnya saya tervonis positif mengalami gejala kebingungan tahap remaja akhir. Dan setelah saya bertanya langsung ke Petek, barulah saya mengerti. Ternyata pesan yang ingin disampaikan Petek dalam karyanya tersebut adalah tentang manusia dengan segala pemikiran dan kemunafikannya, bahwa kita semua hidup dengan pemikiran-pemikiran yang terkunci rapat di setiap kepala masing-masing individunya, kita tak akan pernah tahu sebenar-benarnya apa yang ada dibalik tulang tempurung kepala orang-orang disekitar kita, bahkan untuk seorang saudara kandung satu ibu sekalipun, positif-negatif, baik-buruk, senang-benci… We wont never know absolutely  guys!

“Head of Sinner” atau jika diartikan kedalam bahasa nasional yang kita anut berarti “Kepala para Pendosa” menguak kembali isu tentang kepala-kepala manusia dan segala isi didalamnya, isi kepala tak ada batasannya, dan takkan pernah selesai atau game over karena ini bukan program komputer ataupun sebuah game console. Meskipun begitu, saya rasa inilah yang disebut manusia dengan kemanusiawiannya.

Lain lubuk lain airnya, lain pula ikannya..
Lain orang lain kepala, lain pula hatinya..


Rendy Aditya ‘Radit’ (Ilustrator, teman sekaligus lawan main PES nya Petek)

CURRICULUM VITAE
Name                    : Petek Sutrisno
Born                      : Yogyakarta,25 April 1988
Education             : Fakultas Seni Rupa, Institut Seni Indonesia Yogyakarta
                          
Solo exhibition
2012  
New Monster Via Via, Yogyakarta
‘Head of Sinner’, Tirana Artspace, Yogyakarta

Group exhibition
2012 
“Cutting Edge”Kedai Kebun Forum Yogyakarta 
“Post Card Exhibition 2012” Viridina Art House Singapura
“Just Because I Love You” DGTMB Project,Via Via Yogyakarta
“Jogja Agro Pop feat Krisna Widiathama” Taman Budaya Yogyakarta
“Ticket to the Moon” Kedai Belakang Yogyakarta

2011 
“Disambar Desember Vol # 4” UPT Gallery ISI Yogyakarta
“Diskomfest # 4” Jogja Nasional Museum Yogyakarta
“Drawing Lovers # 3” Sangkring Art Space Yogyakarta
“Drawing Revolution” FFR Yogyakarta

 2010
‘Hi Grapher’ Jogja National Museum Yogyakarta
“Drawing Lovers # 2” UPT Gallery ISI Yogyakarta
“Disambar DesemberVol # 3” UPT Gallery ISI Yogyakarta

2009
’See The Sound’ Ars Longa Gallery Yogyakarta
‘Partisipasi dalam mural 1001 tong sampah TKMDII pemecahan rekor MURI
Pameran fotografi di lorong kampus DKV ISI Yogyakarta
Workshop komik dengan Ismail Sukribo gedung seni murni ISI Yogyakarta

2008
‘Satan festival’ Eyang Gallery Yogyakarta
“Diskomfest # 3 Jogja National Museum Yogyakarta
“Kata Holic” Unit Gawat Dagadu Yogyakarta

2007
Pameran Tugas Akhir SMSR, Taman Budaya Yogyakarta
Pameran Ulang Tahun SMSR Yogyakarta
Pameran Kelompok Lukis #2 lorong kelas SMSR Yogyakarta

Award
2006     Pratita Adhi Karya untuk karya seni grafis terbaik
2007     Karya Terbaik Seni Lukis LKS tingkat sekolah SMSR 

TESTIMONI

R Bonar Diat Senan Putra aka Otong (10/11/12)
Tirana punya tim yang mampu memperhitungkan letak-letak corak, karakter karya yang mau didisplay untuk dipamerkan, mereka mampu mengkomposisikan, menyatukan keberagaman jenis karya bercorak tertentu tanpa merusak suasana elemen ruang, warna, bentuk, pakaian yang dijual; sehingga ketika karya dan pakaian sudah terdisplay bersamaan, maka yang dihasilkan kedua  unsur ini menjadi satu kesatuan harmoni, sejuk sehingga pengunjung pun tak merasa lelah. Tumpang tindih warnanya nyaman. Memang ada benarnya juga jika ruang alternative atau galeri punya tim yang baik dan Tirana Artspace mempunyai tim itu!

Ronald Apriyan (10/11/12)
Pada suatu kesempatan berkunjung ke Tirana House, tidak pernah berencana akan membuat karya mural di tembok  belakangnya. Tapi waktu sudah ada karya perupa Imam Santoso majang disana; saya melihatnya sangat menarik, karena tidak seperti karya mural kebanyakan yang terlihat di banyak tembok-tembok kota Yogya. Bukan hanya karyanya, namun yang lebih menarik adalah kekuatan sebuah dinding yang tersedia di belakang butik. Artinya secara tempat ini kurang strategis. Tapi pikiran saya menyadari bahwa sesuatu yang menarik tidak mesti mencolok mata di gerbang atau di depan ruangan. Penikmat bisa mencarinya atau tidak sengaja menemukannya. Tergantung bagaimana karya itu mencuri perhatian sang penonton. Jadi saya memutuskan ingin mengeksplorasi ruangan ini sebagaimana mestinya dan mencari semangat baru sebuah kesenian. Semoga karya ini bisa menjadi teman yang baik dan cukup menghibur pengunjung Tirana House. Tambahkan segelas kopi pada kesempatan Anda nongkrong didepannya. Good luck
J

Imam Santoso (12/11/12)
Yang paling berkesan dalam proses pembuatan mural di Tirana adalah suasana yang nyaman dan sikap yang ramah terbuka dari pemilik hingga seluruh staf di Tirana House. Hal tersebut yang saya katakan, lebih dari cukup untuk sebuah kerja sama baik dalam hal merespon ruangan sekalipun melakukan kegiatan berpameran. Saya yakin...sudut tembok belakang Tirana ini, nantinya akan menjadi ruang favorite para perupa untuk menghadirkan karya mereka yang semakin tepat dan menarik
J

Isa Panic Monsta (12/11/12)
Pengalaman pameran tunggal pertama kali di Tirana Artspace, menurut saya sangat mengesankan sekali! Terutama dari Tirana Artspace saya mendapat beberapa jaringan pertemanan yang lebih luas dan bisa bertemu dengan beberapa seniman senior, sharing ilmu mengenai proses berkarya yang tentunya ilmu sangat berharga buat saya. Dan terima kasih kepada Mbak Nunuk karena saya dapat kesempatan untuk memamerkan karya saya ke public di Tirana Artspace
J. Salam hangat, Isa Panic Monsta.

Roby Dwi Antono (13/11/12)
‘Tirana, ruang berpintu yang memiliki pintu-pintu lain dari ruang yang lebih berhutan’.

Wednesday, October 17, 2012




Materi teks untuk profil seniman di Tribun Jogja

Membaca karya Imam Santoso (kelahiran Juni 1986), sebenarnya membaca karakter dan kepribadian dia. Karakter seorang Imam Santoso adalah seorang yang adaptif, artinya orang yang mudah menyesuaikan diri dengan kondisi dimana dia berada atau tinggal saat itu. Dan dengan demikian pun, Imam juga seorang yang mudah terinspirasi ketika ada gagasan yang menghampirinya melalui obrolan bersama teman atau dari dia melihat sesuatu.

Lulusan ISI Yogyakarta ini sangat menikmati dunianya sebagai seorang seniman. Semasa kecil ada 15 penghargaan disabetnya dalam dunia gambar-menggambar. Latar belakang keluarganya tidak ada yang membentuknya menjadi seorang seniman, hingga suatu saat guru SMPnya mempengaruhinya untuk masuk kuliah seni. Dan jadilah sosok Imam Santoso yang seperti sekarang.

Tema berkaryanya sederhana, diambil dari kehidupan dia sehari-hari dan apa yang sedang dia rasakan. Tema-tema yang diambil bersumber dari kehidupan dia sehari-hari dan tema sosial, psikologi atau bahkan politik. Apa yang digambarnya merupakan tema-tema yang nyata, kejadian sesungguhnya yang pernah terjadi. Judul-judul karya yang dipilih Imam pun sangat lugas dan jelas. Imam tidak kesulitan menentukan tema untuk karyanya. Baginya gagasan itu selalu berloncatan dalam kepalanya, tapi saying, dia bukan tipe orang yang dokumentatif atau tidak membuat arsip atas gagasan-gagasan tersebut. Sehingga seringkali tema itu berlalu begitu saja sebelum sempat dia tuangkan dalam sebuah karya. Tema yang sedang ia geluti saat itu bisa dieksplorasinya selama kurang lebih satu tahun.

Selama masa studinya Institut Seni Indonesia (ISI), Yogya, Imam mengaku banyak terforsir ke studi bentuk kemudian baru mencari narasi. Studi bentuk seperti pengembangan karakter atau pencarian karakter personal.  Imam menyadari bahwa ia kurang bisa menguasai bentuk-bentuk realistik, tidak cukup menguasai soal pewarnaan,  tapi Imam kuat untuk studi garis. Karya seniornya, Eko Nugroho, mencari inspirasinya pada masa itu. Karya Eko Nugroho memang sederhana namun sarat makna.

Di tahun 2009, bersama seorang rekan seniman, Imam mengeksplorasi tema ‘My Favorite Sin’. Karya-karya mereka kemudian dipamerkan dengan judul yang sama di Tembi Contemporary Gallery (17 November – 5 Desember 2009). Latar belakang tema ini adalah bagaimana seseorang muda mencari jati diri.

Tahun 2010-2011, Imam mengambil tema televisi. Kenapa ambil tema televisi? Media itu yang sangat dekat dengannya, karena sehari-hari berkomunikasi dengan televisi. Televisi sebagai teman, sebagai bentuk interaksi, monolog pada diri sendiri. Di tahun yang sama, Imam banyak membuat studi tentang bayangan, menurutnya bayangan itu romantik. Dan Imam mendeformasi bayangan dalam karya-karyanya menjadi figure yang panjang-panjang.

Bila kita amati karya-karya Imam, terutama mulai tahun 2010, obyek manusia yang dilukisnya tidak memperlihatkan wajah di situ. Baginya, penggambaran wajah tidaklah penting dan tidak harus digambarkan sebagai seorang laki-laki atau perempuan, tetapi dari asesori, pakaian yang dipakai atau ikon-ikon yang menyertainya. Sehingga penikmat karya seni tetap bisa mendefinisikan jenis kelamin figur yang terdapat dalam obyek itu.

2011, ketika kemudian teknis dan karakter karya sudah ia temukan. Imam kemudian lebih mengeksplorasi judul karya. Imam membuat judul karya yang lugas dan tegas. Ia ingin agar orang bebas menginterpreasi karyanya. Dari judul tersebut, ia ingin mendapatkan feedback dari publik.

Di tahun 2012, Imam berkesempatan mengikuti sebuah program residensi di Yogyakarta selama 3 bulan. Selama menjalankan program residensi tersebut, Imam berhasil menyelesaikan lebih dari 5 karya yang kemudian dipamerkan di bulan Juli 2012 yang lalu.

Lukisan-lukisan Imam Santoso merupakan refleksi konsisten dirinya sendiri, ia berkomunikasi melalui mereka. Imam memasukkan simbol dari kehidupan sehari-harinya dan mengulangi mereka dalam berbagai lukisan. Dia adalah simbol dari kontradiksi dan ekspresif tentang hal itu. Dia melukis Sekaten (pesta rakyat tahunan) namun tanpa kerumunan dan kebisingan. Ia melukis tradisi Keraton bertanya-tanya apakah remaja hari ini akan tertarik untuk melestarikan budaya ikonik kota, atau lebih dikonsumsi oleh urbanisasi dan budaya pop. Karya-karyanya yang hidup, adaptif, nyata namun imajinatif.

Nunuk Ambarwati

Dimuat di koran Tribun Jogja, Rubrik Art & Culture, halaman 12, Minggu, 7 Oktober 2012





Materi teks untuk profil seniman halaman Art & Culture Tribun Jogja



BERAWAL DARI SENI GRAFIS

Theresia Agustina Sitompul ( 5 Agustus 1981), seorang dengan marga Batak yang dilahirkan di Pasuruan, Jawa Timur kemudian tinggal dan berkarya di Yogyakarta. Baru-baru ini, namanya menjadi buah bibir di kalangan seni rupa Indonesia, karena Tere, demikian panggilannya; berhasil menjadi terbaik III, Triennal Grafis Indonesia IV tahun 2012 yang diumumkan awal Oktober ini. Istimewanya adalah, Tere mencatatkan sejarah sebagai perupa grafis perempuan pertama yang memenangkan kompetisi 3 tahunan yang diselenggarakan oleh Bentara Budaya Jakarta tersebut. Membawa karya yang berjudul Book Prints and Memory berhasil memikat perhatian 12 juri dan mengeliminasi total 405 karya yang masuk di ajang itu.

Pada Triennal Grafis Indonesia IV ini konvensi (norma aturan) di dunia seni grafis ditegakkan. Konvensi seni grafis yang dimaksud adalah seni grafis yang masih bisa dikenali seperti teknik cukilan kayu, litografi, cetak dalam, dan cetak saring atau serigrafi/sablon. Seni Grafis (printmaking) adalah sebuah seni yang reproduktif. Dalam hal ini setiap karya grafis hendaknya dicetak lebih dari satu. Cetakan-cetakan tersebut adalah edisi yang memang harus ada untuk membedakan karya grafis dengan karya dwimatra lainnya: lukisan, yang barang tentu hanya dibuat satu. Sebagai sebuah karya cetak, setiap pencitraan, dalam hal ini berkaitan dengan setiap warna dalam karya seni grafis, dibuat dari matriks yang berbeda. Matriks adalah pelat cetakan, darimana pencitraan dalam karya grafis berasal. Banyaknya warna menunjukkan banyaknya matriks yang digunakan. Kualitas cetak ditentukan oleh ketepatan (presisi) dan keidentikan (kesamaan) satu edisi dengan edisi yang lainnya. Di Indonesia, beberapa tahun yang lalu, edisi dan matriks sempat diabaikan. Dalam usahanya untuk bersaing dengan seni lukis, sebagian besar penggrafis di Indonesia meninggalkan disiplin cetak—dan membuat karya mereka (semakin) tidak berbeda dengan lukisan. Edisi ditinggalkan sebagai laku dari pengeksklusifan karya. Karya hanya dibuat satu untuk menaikkan harga. Ukuran dibuat relatif besar. Dengan ukuran yang besar , teknik pewarnaan seringnya tidak dicetak, melainkan dilukis (handcoloring).

Untuk mengikuti kompetisi Triennale Grafis ini, karya Tere juga kembali pada konvensi seni grafis yang disebut intaglio (cetak dalam) dan relief print (cetak tinggi). Dengan kombinasi dua media tersebut dan sebuah konsep sederhana Tere menggambarkan kenangannya semasa kecil, seperti tinggal di kaki Gunung Welirang, di sekeliling rumah terdapat pohon cemara. Menggambarkan memorinya sewaktu kecil saat ia bangun pagi yang ia cari pertama kali adalah ayam-ayam di halaman belakang, pengalaman hidupnya dengan seorang adik yang difable, 3 saudara perempuan dan melewati bunga matahari yang berada di rumah tetangga saat berangkat sekolah mulai taman kanak-kanak hingga SD. Dalam detail karya itu ada narasi atau quote yang menjelaskan karya grafis itu sendiri meski tidak secara harafiah. Bentuk karya yang ia buat saat itu dikemasnya dalam bentuk buku, karena baginya ada relasi kuat antara buku dengan teknik cetak-mencetak dan buku adalah benda yang biasa kita temui sehari-hari. Jadilah sebuah buku kenangan pribadi  seorang Tere. Ia memang selalu tidak jauh dari keadaan sekitar dari mendengar, melihat dan merasakan ketika ia memunculkan tema dalam karyanya. Meski ia mengaku seniman Kiki Smith (lahir di Jerman, 1954), seorang perupa perempuan Amerika cukup berpengaruh terhadap proses karyanya.

Tere menjatuhkan pilihan basis seni grafis sebagai media dalam karyanya sejak awal studinya di Institut Seni Indonesia /ISI (1999-2007) dan dilanjutkan ke studi pasca sarjana ISI (2009-2011) tetap dengan pilihan yang sama yakni seni grafis. Tere mengaku tidak bisa berpindah ke lain hati, ia ingin terus konsisten di media ini. Karena saat mengerjakan karya grafis, banyak kejutan saat melalui proses berkarya. Proses pengerjaan karya grafis yang manual,semisal dalam pengerjaan teknik cetak dalam (intaglio) bagaimana penggunaannya dengan mesin pres, teknik penintaan, goresan, pengasaman dan kelembaban kertas; justru hal-hal tersebut yang membuat Tere sangat menikmati media ini. Tiap kali berkarya selalu ada tantangan dan kejutan; terkadang ada beberapa efek yang tidak sengaja muncul karena hubungan dari proses yang sudah berjalan tadi, entah karena tekanan mesin pres, proses pengasaman atau penintaan, dan kemudian proses mencetak akhirnya mengangkat kertas dari atas plat. Banyak teknik yang bisa dipelajari dan dengan perlakuan yang berbeda membangkitkan gagasan-gagasan atas karya-karya Tere.

Keseriusannya pada dunia seni grafis pun ia wujudkan dengan membangun sebuah kelompok dengan nama Studio Grafis Minggiran (berdiri 1 September 2001) bersama rekan-rekan kuliahnya, antara lain Alexander Nawangseto, , Danang Hadi P, Ruly Putra Adi, Deni Rahman, Luqi dan Bintang (formasi baru). Studio Grafis Minggiran adalah sebuah studio (bengkel kerja) terbuka yang memfokuskan diri dalam pengembangan teknik seni cetak grafis (printmaking). Gagasan membangun komunitas non profit ini didasarkan karena perkembangan seni grafis Indonesia sejak tahun 1940 begitu lambat dan dalam kondisi yang kekurangan. Selain itu, kebanyakan studio grafis berada dalam kampus atau milik pribadi. Kesulitan bagi para pegrafis apalagi bagi mahasiswa seni grafis untuk bereksperimen dan berkarya di luar waktu kuliah semakin terbatas. Saat ini, Studio Grafis Minggiran terus berkembang, masih aktif dan menjalankan beberapa program edukasi maupun apresiasi seni grafis dalam bentuk pameran atau workshop di berbagai tempat dengan peserta yang bervariasi baik dari kalangan seniman, mahasiswa, pelajar, maupun masyarakat umum.

Sebagai seorang yang eksploratif, Tere tidak berhenti pada media di atas kertas saja. Pengembangan gagasan banyak muncul di benaknya. Ia pun melakukan eksplorasi media hingga karya 3 dimensi seperti patung atau instalasi dari bahan resin dan aluminium. Meski pun eksplorasi karyanya kemudian tersaji dalam bentuk 3 dimensi, Tere tetap memasukkan unsur-unsur teknik seni grafis didalamnya. Eksplorasi media ini telah ia jalani semasa kuliah, namun akhirnya berhasil ia wujudkan di tahun 2008, ketika karya 3 dimensi pertamanya dipamerkan di sebuah pameran bersama galeri seni rupa di Yogyakarta. Hingga saat ini, Tere semakin berani dan percaya diri menampilkan karya-karya fenomenal dan terkadang gigantik atau berukuran besar, seperti bisa kita lihat pada pameran tunggalnya di tahun ini bertema Prints from The Book of Genesis, Seeds of Peace yang dipamerkan di Bandung. Karya-karya hebatnya tersebut semua berawal dari seni grafis.

Nunuk Ambarwati

Dimuat di koran Tribun Jogja, rubrik Art & Culture, halaman 12, Minggu, 21 Oktober 2012


Wednesday, September 05, 2012

'2nd World of Pandemonium'


THE VIRTUAL SECOND WORLD
Introduction to Isa Panic Monsta’s Solo Drawing Exhibition
Tirana Artspace, Yogyakarta | 15 September - 10 October 2012


Tirana Artspace, Yogyakarta has invited again a young talented artist Mohammad Isa Indra Permana to exhibit his best works. Among his friends he is better known as Isa Panic Monsta. He was born in Surakarta in March 14th, 1989. In 2010 he finished his study in Visual Communication Design Department, University of Sebelas Maret, Surakarta. At present he works an illustrator, bringing the name Isa Panic Monsta as his personal brand identity. For him, it is his first exhibition because previously he focused more on working in the field of graphic design. In the field of illustration, he has made good reputation both for his individual and collaborative works, including for the works he makes for sale. He has made collaborations with, among others, Sleep Party People, Sarasvati, Letter of Memories, Nudist Island, BRANDNA Magazine, Artmedium Concept Store, The Continuing Enigma, TOMCAT Playmate, and Zeec Lable.

Enjoying Isa Indra Permana’s works is like going into a children book of fairy tale, a book that is not wordy but rich of illustrations on each page.  The tales told through his works are so symbolic, classic and surrealistic pop in style. They show his perfectionism; the details of the lines are made precisely.  Based on three drawing exhibitions held in Tirana Artspace from April to September, actually we can take some unique things. Through the works exhibited we can find out the character or personality or even style of certain artist. Just observe these twelve works of Isa, they show that he is an artist who matters so much with details, mechanism and discipline. He was indeed raised in a family with such character. Despite his calmness, he is a very strong-willed and creative person.  He is interested on fashion world, novel and music.  These three things are very influential to his creativity and working.  In addition, he learns in depth psychological terms and things related to symbols.
His twelve drawing works are able to tell much about the theme of “2nd World of Pandemonium” exhibition. He indeed belongs to the global era, as other young people who are so familiar with many types of gadget, social networking and virtual world. He calls virtual world as a second world. The first one is the real world we go through every day, where we really live and socialize. His works represent this global modern phenomenon. He tries to visualize and discuss the hustle and bustle of the virtual world-based social networking onto his works. For him, this life is becoming more and more complex with too many complaints, twitters, and confusions as seen in the virtual world. We can feel the complexity as seeing his drawings with mechanic pencil on papers. 

Let us take a look at the work titled “My Mind is A Cage”; it describes a person with a symptom of “fear-drive”. According to psychology, “fear-drive” is a psychological symptom in which a person creates his/her own fear and tries to keep away from the fear. A person with this symptom is afraid of being cheated in the real world, so that he/she opts to live in virtual world. It is symbolized with the drawing of a golden cage, a safe place for one who is afraid of going to die if he/she steps out of it.

While the work titled “Don’t Trust Anyone” describes a person who becomes skeptical due to his/her distrust in his/her surrounding neighborhood. It is symbolized in the drawing with a body language of crossing arms. It shows an attitude of dismissal or introversion. The skeptical attitude especially is due to news from electronic media (symbolized by a mouth-headed bird) that often obscure the facts.  Individual with skeptical mind may become subject to brainwashing and propaganda other people make using media. Hence, he/she determines not to trust anyone in virtual world but God.     

The visualization of the work titled “Sign Out” more or less tells about the fury of person who has been tired and bored of the hustle and bustle of the virtual world and he is trying to get out of the situation. For him, virtual world is just a world that looks so real with rooms full of artificial pleasure only.

When asked what the difference between manual drawing and digital drawing/painting is, Isa explained that drawing manually is a way of training sensibility to and mastery of the media being used. It is considered the basic technique. Manual drawing also has bigger challenge compared to digital drawing that makes possible repetitions following mistakes.  In digital painting, it is easier to visualize ideas, because there are many supporting tools provided for us.  Drawing as mother of arts in his works is able to appear and prove itself as an essential and independent form of art. Accordingly, the works being exhibited have successfully expressed the wholeness of the artist’s statements.  

Nunuk Ambarwati

DUNIA KEDUA YANG MAYA

Tulisan Pengantar Pameran Tunggal Drawing karya Isa Panic Monsta
Tirana Artspace, Yogyakarta | 15 September – 10 Oktober 2012


Tirana Artspace, Yogyakarta kembali mengundang seorang yang muda dan bertalenta, Mohammad Isa Indra Permana untuk menggelar karya-karya terbaiknya. Bagi teman-temannya M. Isa Indra Permana lebih dikenal dengan panggilan Isa Panic Monsta.  Laki-laki kelahiran Surakarta tepatnya 14 Maret 1989. Tahun 2010, Isa menyelesaikan studi Diplomanya di jurusan Desain Komunikasi Visual, Universitas Sebelas Maret, Surakarta. Saat ini Isa lebih dikenal sebagai seorang illustrator; Isa Panic Monsta pun menjadi brand identity untuk karya-karya ilustrasinya selama ini. Bagi Isa, pameran kali ini merupakan pameran perdananya, karena selama ini Isa lebih banyak malang melintang di dunia desain grafis. Di ranah ilustrasi, Isa cukup banyak menorehkan catatan baik karya komersial, individual maupun kolaborasinya dengan beberapa rekan seperti Sleep Party People, Sarasvati, Letter of Memories, Nudist Island, BRANDNA Magazine, Artmedium Concept Store, The Continuing Enigma, TOMCAT Playmate, & Zeec Lable.

Menikmati karya Isa Indra Permana seperti masuk ke sebuah buku dongeng. Buku dongeng yang minim kata tapi kaya dengan ilustrasi fantasi lembar demi lembarnya. Dongeng yang penuh simbol, vintage dan beraliran pop surelias.  Hasil karyanya rapi, tebal tipisnya garis ia perhatikan dengan detail. Dari ketiga pameran drawing yang pernah dipamerkan di Tirana Artspace sepanjang April-September ini, sebenarnya kita bisa mengambil hal unik dari sana. Melalui karya-karya mereka tersebut, kita bisa mengetahui karakter atau kepribadian bahkan relevan dengan style atau penampilan seseorang. Perhatikan saja kedua belas karya Isa ini, menunjukkan bahwa ia adalah seorang yang memperhatikan hal-hal yang rinci, mekanisme dan disiplin. Demikianlah Isa dilahirkan dalam sebuah  latar belakang lingkungan keluarga yang demikian. Meski terkesan sebagai pribadi yang kalem, namun dibalik itu, Isa juga seorang yang sangat bergejolak dan kreatif . Ia sangat tertarik dengan dunia fashion, buku atau novel dan juga musik. Ketiga hal ini sangat mempengaruhi dalam proses kreatif mau pun proses berkaryanya. Disamping itu, Isa juga menekuni kosakata psikologi dan hal-hal yang berkaitan dengan pembacaan simbol-simbol.

Keduabelas karya drawingnya mampu bercerita banyak tentang tema pameran ‘2nd World of Pandemonium’. Isa memang dilahirkan pada era global, sebagaimana anak-anak muda sekarang sangat familiar dengan gadget, jejaring sosial dan perilaku di dunia maya. Isa menyebutkan dunia maya itu sebagai dunia kedua. Dunia pertama adalah dunia nyata yang kita alami bersama sehari-hari, dimana kita sebenarnya hidup dan bersosialiasi.  Melalui karya-karyanya ini, Isa mencermati hal tersebut. Baginya, hiruk pikuk dan berbagai gesekan di jejaring sosial sangat banyak pembahasan untuk dia visualisasikan dalam karya-karyanya ini. Terlalu banyak keluhan, kicauan, kekacauan yang sesak; menurut Isa, bukannya menjadi lebih baik tapi semakin kompleks. Kompleksitas itu bisa kita rasakan dengan apik pada goresan-goresan pensil mekanik Isa di atas kertas.

Mari kita cermati karya yang bertajuk 'My Mind is A Cage',  yang menggambarkan seseorang dengan gejala 'fear-drive' . Dalam istilah psikologi, ‘fear drive’ adalah gejala psikis dimana individu menciptakan ketakutannya sendiri di dalam pikirannya dan berusaha menjaga diri dari rasa takut  tersebut. Bentuknya bisa bermacam-macam, mungkin dia takut dibohongi atau takut dicurangi ketika dia berada di dunia nyata, kemudian dunia maya adalah pilihan sebagai tempat tinggalnya. Hal ini disimbolkan dengan gambar sangkar emas pada karya Isa. Sangkar emas itu dia ciptakan sebagai ruang aman bagi dirinya dan sebaik mungkin jangan pernah berpikir untuk sekali-sekali melangkah keluar dari zona aman itu atau dia akan mati oleh rasa takutnya.

Sementara pada karya 'Don’t Trust Anyone' menggambarkan tentang individu yang memiliki sikap skeptis yang terbentuk karena rasa ketidakpercayaan akan lingkungan sekitar. Sikap ini digambarkan dengan bahasa tubuh seperti menyilangkan tangan dan memasukan tangan lainnya ke dalam. Hal ini memiliki kesan sebuah penolakan atau kesan tertutup. Sikap skeptis terutama oleh berita dari media elektronik (disimbolkan burung dengan mulut sebagai kepalanya) yang kini kadang mengaburkan fakta sebenarnya. Di dalam pikiran skeptik si sosok tersebut "mungkin segolongan tertentu bisa saja menggunakan media untuk mencuci otak ribuan publik dengan propaganda dan kata-kata mereka" . Dia lebih mengambil sikap untuk tidak percaya siapapun di dunia maya terkecuali Tuhan.

Visualisasi karya yang berjudul ' Sign Out' kurang lebih menceritakan gejolak seorang individu yang  sudah penat dan bosan dengan hiruk pikuk dunia maya dan ia mencoba keluar dari situasi tersebut. Baginya dunia maya hanyalah tempat semu yang tampak begitu nyata dan deretan ruang sebagai tempat untuk  mencari kesenangan fana saja.

Ketika ditanya apa yang membuat berbeda ketika menggambar media manual dengan media digital, Isa menjelaskan ketika menggambar manual sama halnya melatih kepekaan dan penguasaan terhadap media yang sedang digambar sebagai teknik dasar. Menggambar media manual juga memiliki tantangan yang lebih besar dibanding digital painting yang memungkinkan pengulangan bila terjadi kesalahan sewaktu eksekusi karya. Di samping itu  digital painting dengan berbagai macam piranti bantu yang tersedia lebih memudahkan untuk memvisualkan gagasan. Drawing sebagai mother of arts  (dasar bagi segala hal dalam seni rupa) pada karya-karya Isa mampu hadir dan membuktikan dirinya sebagai karya seni yang utuh dan berdiri sendiri. Pada fungsi ini karya-karya Isa Panic Monsta ini telah memperlihatkan kelengkapan pernyataan seniman.

Nunuk Ambarwati