Tuesday, September 29, 2015

Di Balik Selubung ‘Image’ Jeans



Jeans memang menawarkan kenyamanan fisik maupun rasa percaya diri untuk konsumennya. Kainnya tahan lama, relatif murah, enak dipakai, hangat di musim penghujan dan tetap sejuk di musim panas – tidak mudah longgar dan tidak mudah terlihat kotor. Lebih dari itu, jeans memiliki warna yang sangat netral sehingga bisa dipadu dengan segala warna. Bahkan konsumen anak muda sering menggosok jeansnya sampai kusam/belel dengan alasan mode.


Pesona jeans begitu dahsyat, karena selain efektif sebagai pakaian, jeans bisa dipermak, dihias, disobek-sobek. Memang, jeans menawarkan gaya dimana setiap orang bisa tampil beda seperti apa yang diinginkannya: bisa terlihat feminine, maskulin, bersahaja, riang, demokratis, egaliter. Seorang desainer muda Paris, John Galliano mengatakan bahwa satu-satunya garmen terpenting di setiap masa adalah jeans.


Jika ditilik lebih dalam lagi, jeans merupakan ekspansi budaya “leluhurnya”, yaitu Amerika yang identik dengan citra demokrasi, menghargai hak asasi manusia dan perbedaan – berwawasan ke depan. Dan jeans memang dapat ditemui dimana saja – dari pelosok pedesaan – pertambangan emas Afrika Selatan – pegunungan Andes, Peru – hutan-hutan Kongo – sampai di catwalk Milan atau New York. Jika jeans telah dipakai oleh manusia seantero bumi bukankah ini sebuah bentuk usaha menyeragamkan manusia? Dan bukankah ini bertolak belakang dengan citra jeans yang demokratis dan menghargai perbedaan manusia.


Citra atau image bisa saja membius konsumen, tetapi praktek perluasan penjualan produk punya logika sendiri yang mensahkan pelanggaran hak asasi manusia dan lingkungan alam. David Ransom, seorang penulis mengatakan bahwa “sifat dari suatu benda bukan semata-mata citra yang ditawarkan, melainkan fakta yang ada di baliknya”. Ada baiknya untuk menyimak kembali bahan baku dan pembuatan jeans.


Jeans berbahan dasar katun yang diperoleh dari hamparan perkebunan katun yang menutupi hampir 5% permukaan bumi. Dibanding tanaman lain, pohon kapas memerlukan pestisida lebih banyak yang berarti kadar racunnya lebih tinggi. Untuk menjadi kain, kapas harus diolah dengan berbagai macam campuran zat kimia. Zat beracun dalam jumlah besar dihasilkan oleh industri tekstil untuk proses pencelupan telah menyebabkan polusi udara, tanah dan air yang sangat parah. Sebagian kota New Mexico dilaporkan telah hancur akibat ekstraksi batu apung yang digunakan untuk “stone wash”.

Industri jeans juga banyak melibatkan pekerja wanita muda yang dibayar sangat rendah, terutama di negara Guatemala, Bangladesh, atau di daerah perdagangan kain kaum imigran di kota Los Angeles, New York, Toronto, Sydney, London bahkan merambah ke Cina pada waktu itu. Harry Wu, seorang aktivis hak asasi manusia Amerika mengatakan bahwa “apa yang berkembang di Cina adalah iklim bisnis, tapi kenyataannya pelanggaran hak asasi manusia semakin parah, pekerja paksa masih dipakai, tak ada organisasi buruh independen, dan siapapun yang mencoba mengorganisasi buruh akan dijebloskan ke kamp-re edukasi”.


Tentunya ada produk jeans yang peduli terhadap hak asasi manusia salah satunya Levi Strauss & Co. Perusahaan Levi’s pernah membatalkan kontrak produksinya di Birma dan Cina karena ada pelanggaran hak asasi manusia. Juga saat perusahaan ini mengetahui kontraktornya di Bangladesh memperkerjakan anak-anak, perusahaan ini menawarkan pendidikan pada mereka. Disamping itu ada produk jeans ramah lingkungan, yang terbuat dari rami buatan Rumania, seperti misalnya produk jeans Hemp Union. Inspirasi pemakaian bahan ini berasal dari asal muasal jeans yang awalnya terbuat dari rami dan serat-serat yang tidak membutuhkan pestisida. Namun penggunaan rami untuk jeans kerap dihadang oleh kampanye anti narkotika, karena rami adalah bahan dasar marijuana. Untuk mengantisipasi hal ini, Hemp Union menulis di setiap produknya: ‘Jika Anda merokok kain ini, Anda hanya merasa pusing. SAVE THE PLANET’.


Membeli produk dengan kesadaran keadilan sosial dan cinta lingkungan nampaknya belum menggejala pada konsumen Indonesia yang mungkin disebabkan kurangnya pengetahuan tentang proses pembuatan produk. Tetapi gerakan budaya macam ini mutlak diperlukan agar kesejahteraan sosial manusia dan lingkungan alam bisa terselamatkan.


Sumber: Ransom, David. “Jeans: the big stich-up Fooled by false labels, David Ransom sets off in pursuit of the politically correct pair”. New Internationalist, Issue 302, June 1998.


Artikel ini dimuat di Majalah [aikon!] edisi 96, November 1998, halaman 6.

Fakta Sejarah LEVI STRAUSS


Baca juga:
* Di Balik Selubung Image Jeans - http://nunukambarwati.blogspot.co.id/2015/09/di-balik-selubung-image-jeans_49.html
* Jeans - http://nunukambarwati.blogspot.co.id/2015/10/jeans.html


1853     Levi Strauss tiba di San Fransisco membuka bisnis tekstil dan menjualnya secara eceran di Amerika bagian barat.


1872     Jacob Davis, seorang penjahit dari Neveda menulis surat pada Levi Strauss. Ia bercerita tentang penemuannya yaitu membuat saku celana panjang pria dengan cara dipaku. Ia pun mengusulkan Levi Strauss untuk bekerjasama guna memperoleh hak paten bagi penemunya.


1873     Tanggal 20 Mei, Levi Strauss dan Jacob Davis memperoleh hak paten untuk penemuan mereka – yaitu proses memaku saku di celana panjang pria. Celana panjang ini disebut “waist overall” yang memiliki satu saku belakang. Denim sebagai pakaian kerja berasal dari Amoskeag Mill di New Hampshire. Pada pertengahan tahun 1970an dua pabrik di buka di San Fransisco untuk membuat pakaian kerja dengan paku tembaga.


1886     Simbol dua kuda yang terbuat dari kulit digunakan pertama kali untuk celana panjang kerja.


1890     Levi Strauss 501 merupakan salah satu produk paling terkenal.


1902     Levi Strauss meninggal dunia pada usia 72 tahun. Overall kini memiliki dua saku belakang.


1906     Gempa bumi yang melanda San Fransisco telah menghancurkan pabrik Levi Strauss. Lalu di tahun yang sama, dibangun pabrik baru di 250 Valencia Street San Fransisco.


1915     “Waist Overall” memenangkan penghargaan tertinggi di pameran internasional Panama-Pasifik di San Fransisco. LS & CO mulai membeli 9 oz denim dari Cone Mills di Carolina Utara.


1922     Desain overall kini ditambah ikat pinggang, tetapi kancing bretel tetap dipertahankan.


1936     Lambang Levi’s ® untuk pertama kalinya diletakkan di bagian kanan belakang saku.


1937     Saku belakang pada waist overall dijahit sehingga menutupi paku. Ide ini berdasarkan keluhan konsumen yang mengatakan paku tersebut sering menggores kursi dan meja. Pada perang dunia II, desain waist overall telah dirubah sesuai ketentuan “produksi perang” yang mengkonservasi bahan baku. Misalnya paku dihilangkan untuk menyelamatkan bahan metal.


1954     Ritsleting pada waist overall mulai diperkenalkan.


1960     Dalam iklan, kata “overall” diubah dengan kata “jeans”.


1963     Levi’s® jeans ketat mulai diperkenalkan.


1964     Jeans dikoleksi oleh Institusi Smithsonian di Washington DC.


1966     Iklan televisi Levi’s ® jeans untuk pertama kali ditayangkan.


1967     Paku dihilangkan dari saku belakang.


1981     Levi’s® 501® untuk wanita mulai diperkenalkan dengan penayangan iklan televise yang terkenal dengan sebutan “Travis”.


1983     Cone Mills mulai memperkenalkan xxx denim melalui penggunaan 60 perkakas tenun yang besar.


1984     Iklan televisi “Levi’s® Blues” ditayangkan pada Olimpiade di Los Angeles, Amerika.


1985     LS&CO memperoleh penghargaan iklan dan media dari “New York State Office of Advocates for the Disabled”. Penghargaan ini diberikan karena iklan “Levi’s® Blues” menghadirkan gambaran positif mengenai orang-orang cacat.


1986     Iklan televise “Levi’s® Blues” yang sangat inovatif ditayangkan di Eropa. Iklan ini berhasil meracik musik rock Amerika klasik dengan nostalgia dan romantic.


1993     Levi Strauss & Co mensponsori program “Send them home search”, yaitu sebuah lomba untuk memperoleh sepasang jeans Levi’s® tertua di Amerika. Lomba ini dimenangkan oleh orang yang berhasil memperoleh jenas Levi’s® tahun 1920.


Sumber: Majalah [aikon!] media alternatif, edisi 96, November 1998, halaman 8.

Wednesday, August 26, 2015

Kumbang Kinetik


Facebook mengantarkan perkenalan saya dengan Dedy Shofianto. Seorang seniman muda, spesialis kriya kayu. Foto profil Dedy waktu itu adalah karya dia. Foto itu membuat saya ingin tahu lebih banyak tentang Dedy. Karya dalam foto itu berupa bentuk binatang serangga yang terbuat dari potongan-potongan kayu yang dirakit. Saat lihat di foto tersebut, saya pikir karyanya statis, hanya seperti patung kayu yang diam. Tapi ternyata tidak! Karya serangga kayu rakitan itu bisa bergerak. Sayapnya naik turun, terlihat pula gear yang juga terbuat dari kayu bergerak memutar. Digerakkan dengan dinamo kecil, karya seperti ciptaan Dedy ini disebut dengan kayu kinetik. 


Karya Dedy "Seeking Indentity" yang digerakkan dengan teknik manual.
Kinetic art merupakan perpaduan antara unsur seni dan teknologi mekanis dipercaya tetap mampu memberikan nilai estetik yang inspiratif bagi para penikmatnya (sumber web Edwin Gallery). Sedangkan dikutip dari buku Diksi Rupa, yang dimaksud kinetic art atau seni kinetic atau patung bergerak (sculpture in motion) menurut R Mayer, kinetic art mengarah pada karya seni yang menkonstruksikan elemen bergerak dengan sumber tenaga, bisa artifisial (buatan) maupun ilmiah. 


Dedy memang bukan seniman pertama kali yang berkarya dengan media ini. Sebelumnya ada seniman lebih senior ketimbang dia, Rudi Hendrianto yang juga berkarya dengan kayu kinetik. Selisih hampir 1 dekade dengan Rudi, Dedy memang baru saja menyelesaikan TA (tugas akhir) dari jurusan seni kriya, Institut Seni Indonesia (ISI), Yogyakarta (2015). Dedy mengaku belajar banyak dari Rudi Hendriatno dan juga senior lainnya yang berkarya dengan media kayu, seperti Abdi Setiawan. Menurut penuturannya, ia baru mulai membuat karya kayu kinetik sejak 2 tahun terakhir. Sebelumnya dia membuat karya ukir-ukiran. Dan ia masih sangat antusias menekuni karya berteknologi ini hingga beberapa tahun ke depan. 


Saat ini Dedy sedang mengeksplorasi binatang kumbang tanduk (oryctes rhinoceros) sebagai obyek karyanya. Dikutip dari lembar intisari halaman TA-nya, Dedy mengatakan kumbang tanduk sebagai inspirasi penciptaan karya seni kinetik kriya kayu karena memiliki beberapa kelebihan, yaitu keindahan kumbang tanduk dan seni kinetik. Disamping itu, menurut penuturannya Dedy kecil sering bermain adu tarung kumbang tanduk bersama teman-temannya. Ini pula yang mendasari minatnya memilih jenis serangga berukuran rata-rata 10-15 cm ini sebagai materi utama karyanya.

"Evolution" | kayu jati, jati Belanda/pinus, elektrik motor | 120 x 100 x 114 cm | 2015


Untuk memperjelas anatomi kumbang jenis ini, Dedy membeli kumbang yang diawetkan dari seorang penjual koleksi binatang serangga di kawasan Kotagede. Harga kumbang yang diawetkan itu sekitar Rp 100ribu. Semakin besar kumbangnya, semakin mahal. Atau darimana kumbang itu berasal, misalnya kumbang import, maka biayanya juga semakin mahal. Si penjual sempat heran, karena Dedy baru pertama kalinya anak ISI yang datang ke tempatnya untuk membeli koleksi serangga. Karena biasanya, mahasiswa-mahasiswa jurusan ilmu science seperti biologi dari UNY atau perguruan tinggi lainnya yang sering request berbagai serangga untuk kepentingan studi.

Dedy kemudian ‘membongkar’ kumbang yang sudah diawetkan itu untuk dipelajari anatomi tubuhnya. Sehingga ia sangat paham struktur bentuk tubuh kumbang tanduk. Dengan demikian, ia bisa sangat percaya diri medeformasi sedemikian rupa karya-karya kumbangnya berdasar anatomi yang sudah ia pelajari sebelumnya. Bisa saja ia mengubah sayap, tanduk depan atau kaki kumbang di karyanya lebih terkesan ekstrim hingga lebih mirip monster atau binatang hybrid. Sehingga si kumbang memiliki rumah di badannya atau bahkan lebih mirip kalajengking. 


Dedy juga memperhatikan porsi ukuran karyanya. Karya Dedy rata-rata berukuran 100 x 100 x 100 cm. Maka ia harus memperbesar ukuran asli kumbang tanduk koleksinya. Kumbang asli yang berukuran panjang 10 cm misalnya, akan ia buat 10 kali lipat lebih besar; maka ia mengukur skala yang tepat untuk memperbesarnya. 

Karya Dedy yang ditempel di tembok. Judul 'Mekanik Kepala Kumbang Tanduk' | 2015

Menariknya karya Dedy adalah dia menggunakan potongan-potongan kayu jati, jati belanda/pinus bekas yang ia ambil dari pembuat furniture. Bahan kayu jati ini dipilih dengan pertimbangan kualitas karakter kayu jati yang memiliki serat bagus. Biasanya ia beli sekarung, isinya macam-macam ukuran potongan kayu. Semakin besar ukuran potongan kayu itu, semakin mahal juga ongkos penggantinya. Di samping itu, Dedy memilih untuk tidak memakai zat kimia untuk membuat kayu lebih mengkilat. Tapi dia memakai teknik sangkling, yakni menggosok kayu dengan kayu hingga mendapatkan warna mengkilat dan kesan alami pada kayu tersebut. Apakah awet? Iya kata Dedy. Kayu dijamin tidak akan dimakan rayap. Meskipun tidak dilapis zat kimia, kayu tetap awet dengan teknik sangkling karena kayu yang dipakai adalah kayu jati. Karena ia menggunakan teknik sangkling ini, ia harus dua kali kerja. Pertama ia rakit dulu potongan-potongan kayu hingga membentuk karya, kemudian ia bongkar untuk dilakukan teknik sangkling, setelah itu baru dirakit kembali. Keistimewaan lainnya adalah Deny termasuk seniman yang bisa dihitung dengan jari, yakni seniman yang menggunakan karya kinetik (menggabungkan sains, teknologi dan seni) dan menggunakan hampir 100% media kayu pada karyanya.



Detail
Karya Dedy semuanya serba kayu, Kecuali dinamo dan kabel-kabelnya.  Untuk bodi karya ia gunakan kayu jati, untuk pusteknya ia gunakan kayu jati Belanda (kayu packing). Pustek penyangga karya menjadi satu kesatuan dengan karya tersebut. Gear untuk membentuk putaran pun ia bikin dari kayu, sehingga harus sangat presisi sehingga bisa berputar dengan sempurna dan tidak retak. Persoalan presisi merupakan salah satu kesulitan dalam membuat karya ini. Bila tak presisi karya tidak bisa bergerak sempurna. Ia juga harus memperhatikan serat kayu, bila tidak kayu bisa patah atau pecah. Satu karya berukuran 100 x 100 x 150 cm bisa dia selesaikan dalam waktu kurang lebih 1 bulan. Untuk mempersiapkan karya TA, ia membuat 6 karya dalam waktu 4 bulan. Saat ini ia masih berkarya di rumah kontrakannya dekat kampus ISI Yogyakarta. Rumah kontrakan ini ia gunakan juga sebagai studio kerja. Ia juga sudah memiliki sendiri alat potong kayu sehingga ia leluasa berkarya. 

Dedy Shofianto lahir di Sungai Bulian, Jambi 15 Desember 1991. Namun demikian sejak kecil ia sudah sering bolak balik Jambi Yogya. Sekolah dasar hingga SMP ia sekolah di Yogya. SMP hingga SMA kembali ke Jambi. Dan akhirnya kembali lagi ke Yogya untuk kuliah di ISI. Berbagai prestasi pernah ia raih antara lain juara pertama lomba prototype kriya FKY ke 25 & 26 (2013 & 2014), karya terbaik pameran Dies Natalis ISI Yogyakarta ke 28 & 29 (2012 & 2013). Dedy tercatat aktif mengikuti berbagai pameran bersama sejak 2010. 

Foto-foto diambil dari facebook Dedy Shofianto  https://www.facebook.com/shofiantodedy?fref=ts 

Koran Sindo, Kamis 10 September 2015, hal 9-10.
 
Tribun Jogja | Minggu 20 September 2015 | Halaman 18.

Tuesday, August 11, 2015

Buku Sketsa Solichin


Baca juga: Solichin si Pelukis Realis - http://nunukambarwati.blogspot.co.id/2015/10/solichin-si-pelukis-realis.html

Tampilan buku The Sketchbook Solichin.

Ini merupakan gagasan yang menarik. Mengkombinasikan paket yang komprehensif dan menonjolkan keunikan. Saya menyebutnya sebagai sebuah gabungan berbagai seni yang dikemas cerdas, elegan dan cantik, terbit dari passion yang keluar dari hati. Bila kita mendapatkan buku ini, kita bisa mengurai bahwa disana ada seni penerbitan buku, seni rupa berupa sketsa/lukisan, seni menjual, seni arsitektur dan nilai historis heritage yang kental. Idenya adalah residensi seorang seniman otodidak, bernama Solichin, asal Semarang. Ia melakukan residensi di Losari Resort & Spa di kawasan nan sejuk, Magelang. Losari merupakan kawasan perkebunan kopi masa kolonial yang dilengkapi dengan tempat pengolahan kopi. Perkebunan kopi (plantation) di Losari masih dikembangkan, namun bangunan kolonial di sekitarnya, kemudian difungsikan sebagai resort yang telah dikembangkan berikut paket wisata yang berhubungan dengan kopi dan tradisi. 

Seniman melakukan residensi di Losari selama waktu yang disepakati. Membuat studi sketsa tempat atau sudut tertentu di resort tersebut yang memiliki nilai historis atau keunikan yang terdeskripsikan menarik. Kemudian kumpulan sketsa tersebut dibukukan. Diberi pengantar di setiap sketsa yang digambarnya. Bukunya dicetak hardcover, sampul sederhana warna coklat tua polos dengan teks judul buku warna emas. Dicetak dengan kualitas tinggi dan berbahasa Inggris. Sangat recommended menjadi souvenir yang elok bagi kolega atau tamu khusus pengunjung Losari Resort & Spa tersebut. Buku ini terasa intim dan hangat saat diterima, serasa mendapatkan karya-karya sketsa Solichin dengan spesial meskipun bukan karya aslinya.

Tak hanya itu tentunya, kala itu saya berkesempatan menghadiri acara pembukaan pameran di Losari, disertai dengan pameran sketsa original karya Solichin dan mengundang tamu-tamu untuk makan siang, santai menikmati suasana resort yang dingin, ngobrol ringan hingga lobbying dan juga melakukan charity. Buku ini menjadi sebuah artefak berharga dari sebuah proses. Yang lebih menarik adalah sebuah kombinasi marketing yang terpaket elegan, indah dan multi segmen bukan. Bagaimana tidak? Buku ini kemudian jelas bermanfaat bagi para pecinta traveller, perhotelan dan pariwisata, penggiat heritage dan seni rupa itu sendiri.

Salah satu karya Solichin dalam buku tersebut.
Solichin yang saya kenal memang bukan lulusan sebuah perguruan tinggi seni. Solichin seorang otodidak dalam berkarya. Tetapi karya realisnya memang kuat, meski ia perlu memiliki pengayaan lebih dalam pada detail saat menggambar figur saat saya kenal dia tahun 2008 itu. Gaya lukisan Solichin berupa sketsa dengan pensil dan realis. Sayangnya saya belum mendapat informasi, kenapa Solichin yang dipilih dalam proyek ini. Dalam buku tersebut, Solichin berhasil mendokumentasikan Losari Resort & Spa berupa 26 karya sketsa plus 2 sketsa wajah (dirinya sendiri dan Grabiella Teggia), bertitimangsa antara 2003 hingga 2007, semua berukuran sama. Semuanya menggunakan media pensil di atas kertas. Kertas yang digunakan dalam buku tersebut pun, sejenis kertas untuk membuat karya sketsa tapi berbahan tebal. Sehingga meskipun buku ini hanya berisi 46 halaman, tetapi tebalnya 1,5 cm karena kertas yang digunakan tiap halamannya sudah tebal. 

Solichin menggambarkan beberapa ruangan, mulai dari ruang resepsi (menerima tamu), villa, taman dan restoran di tempat itu. Bahkan hingga sebuah pohon klengkeng atau monumen kecil di kawasan tersebut. Salah satu yang menarik, ada sketsa berjudul ‘The Unfinished Elephant’, pencil on paper, ukuran 49,5 x 34,5 cm, 2003. Di sebelah halaman sketsa tersebut diberikan deskripsi pendek mengenai gambar yang ada dalam sketsa itu, dalam bahasa Inggris: ‘The Unfinished Elephant. At Muntilan Village, there was an artist, famous stone carver, descendant from the ancestors who carved the Borobudur Temple. When I stopped, he was carving three small stone elephants. “Stop… stop”, I said. “ I want them unfinished”. He did not understand why'. Setiap deskripsi yang menyertai sketsa Solichin disusun oleh Gabriella Teggia, ia dikenal sebagai konseptor hotel bernuansa butik, Amanjiwo dan Losari, keduanya berlokasi di Magelang, Jawa Tengah. 
Profil Gabriella Teggia & Solichin berikut sketsa wajah mereka yang termuat dalam buku.
Solichin lahir di Semarang, tepatnya 23 Desember 1968. Orang tuanya memberi nama Ahmad Solichin. Segera setelah dia lulus tahun 1995, dia mencoba peruntungan di bisnis Stock dan menjadi stock broker di Semarang. Kemudian dia menyadari bahwa itu bukan dunianya dan dia memutuskan untuk berubah tujuannya. Memilih Yogya sebagai kota tempat tinggalnya, Solichin kemudian memulai hidup barunya sebagai seniman di tahun 2002. Disamping sketsa, dimana itu merupakan keahliannya, Solichin juga merupakan pelukis yang berbakat. Ia memilih aliran realis untuk gayanya. Ia percaya bahwa realisme merupakan cara terbaik untuk menggambarkan dunia dalam sebuah kanvas.


Buku berdimensi 15 x 22 x 1,5 cm, dengan judul lengkap ‘The Sketchbook Solichin. Losari Coffee Plantation Resort & Spa’, merupakan terbitan Losari Coffee Plantation & Spa, Magelang. Diproduksi oleh Naturatama, yang berbasis di Jl Kaliurang, Yogyakarta. Naturatama digawangi oleh pasangan suami istri Ratna Amatsari T & Nanok Tunarno yang memang dikenal handal dalam hal mendesain sebuah terbitan mulai dari konseptor hingga sebuah buku/majalah terbit. Ditengok dari karya-karya sketsa yang dihasilkan Solichin antara tahun 2003-2007, buku ini toh akhirnya terbit di tahun 2007. Betul-betul sebuah proses. Maka menurut saya, hal ini layak dicopi oleh seniman-seniman yang berniat melakukan residensi. Agar bisa berpikir multiside, multibisnis, multisegmen, berkarakter serta long lasting. Sehingga apa yang dihasilkan dari residensi tidak sekadar hanya berkarya di tempat lain dalam waktu tertentu, pameran dan selesai. Tetapi tentu saja, ini memerlukan sinergi berbagai pihak. Seperti penyandang dana untuk penerbitan buku, penulis, kurator, venue, publikasi dan marketing buku itu sendiri ketika telah terbit dan sebagainya; tentu bukan perkara murah. Tapi setidaknya patut dicoba bukan, banyak hal bisa dieksplorasi !
Greeting dari Mbak Ratna Amatsari :)