Tuesday, June 12, 2012

Tirana House : Fashion, Art & Creativity







TIRANA HOUSE
Paduan segar Art, Fashion & Creativity
 
Soft Opening: Sabtu, 21 April 2012

Grand Launching: Sabtu, 9 Juni 2012
 
Fashion adalah bagian dari seni.  Orang membeli produk fashion bukan hanya karena fungsinya, namun juga karena keindahan desainnya, warnanya dan juga karena desainer/perancang nya. Tidak ada bedanya dengan pertimbangan orang dalam membeli karya seni.
 
Di Tirana House, kami menggabungkan semua karya seni itu dalam sebuah butik yang terintegrasi dengan Art Space. Tirana House, seperti arti harfiahnya adalah sebuah rumah. Kenyamanan dan keserasian interior menjadi perhatian kami, sehingga dapat memberikan pengalaman yang berbeda dengan berbelanja di mall atau pasar. Kami menyebutnya, “Senyaman belanja di rumah”. Selain butik dan art space yang berada dibagian depan dan siap dibuka untuk umum, di bagian teras Tirana House akan hadir coffee shop serta dibagian belakang akan menjadi rest area yang dilengkapi dengan mini library dan kids’ corner yang saat ini sedang tahap penyelesaian.
 
Tentu saja kualitas produk adalah hal yang mutlak harus kami berikan pada pelanggan. Cara termudah mendapatkan kualitas yang diinginkan adalah dengan memilih produk yang dikeluarkan oleh merk-merk yang sudah terjamin kualitasnya. Kami menghadirkan koleksi Victoria’s Secret, LaSenza, Bonprix, George, Next, Guess, DKNY, Zara, H&M, Mango, Esprit, Ralph Laurent, Nike, Adidas dan masih banyak merk lainnya, mulai dari pakaian dalam (underwear) hingga busana anak, dewasa pria dan wanita. Selain itu kami juga menyediakan produk perawatan kulit merek Eveline dan Perfecta yang merupakan merk asal Eropa. Seluruh koleksi kami dijamin originalitasnya. Harga produk di butik kami cukup bersahabat, bila dibandingkan dengan harga yang dipatok bandroll di mall.
 
Di Tirana House, kami juga bermitra dengan wirausaha-wirausaha muda Jogjakarta . Melalui unit usaha Mitra Tirana, kami menghadirkan karya-karya wirausaha muda Jogjakarta . Saat ini, yang sudah bermitra adalah produk coklat dari dapur “Kakaoku” dan boneka-boneka unik dari workshop “Jahit Tangan”. Selanjutnya akan ada banyak lagi wirausaha muda Jogjakarta yang akan bergabung sebagai Mitra Tirana.
 
Unit kami yang lain adalah Rumah Tirana, yang akan memproduksi produk-produk fashion merk kami sendiri, “Tirana”. Mitra Tirana dan Rumah Tirana merupakan wadah kami untuk dapat berpartisipasi lebih banyak dalam memutar roda perekonomian kota Jogjakarta yang kami cintai.
 
“Little Act for Greener Jogja”, adalah inisiatif-inisiatif kecil kami dalam usaha mengambil peran dalam membangun Jogjakarta menjadi kota yang lebih ramah lingkungan. Melalui konsep “Sustainability Consumption & Production”, kami mencoba mengurangi pemakaian plastik, menghindari pemakaian energi yang tidak perlu serta melakukan kampanye-kampanye kecil dalam kegiatan promosi kami.
 
Jelas, Tirana House bukan sekedar butik tempat berbelanja. Tirana House adalah rumah, butik, ruang seni, wadah kreatifitas dan aktualisasi, tempat bersosialisasi, sarana belajar dan berbagi, yang semuanya harus dapat memberikan keuntungan bukan hanya bagi pemiliknya namun juga masyarakat dan lingkungan Jogjakarta . Tirana House melayani masyarakat Jogjakarta sekaligus menjadi alternatif kunjungan bagi pengunjung kota Jogja.
 
Sebagai penghuni baru Kota Jogja, Tirana House berharap dapat diterima dengan baik oleh masyarakat Kota Jogjakarta serta berperan serta membangun perekonomian kota Jogja dan sekitarnya. Mohon doa restu dan dukungan nya.
 
 
Salam hangat,
Nunuk Ambarwati
Manajer Operasional

 

Kado Malaikatku untuk Tuhan


Introduction
Solo drawing exhibition by R. Bonar Diat Senan Putro
A gift From My Angel to God’.
Tirana Artspace
Jalan Suryodiningratan 55 Yogyakarta
June 9th – July 9th, 2012


For having a chance to meet R. Bonar Diat Senan Putro or also known as Otong (30 years), was like bring our memory back to our childhood. The world full of fantasy, playing all around and liberate our imagination. Those were my first impression when I looked at Otong’s drawing. Otong was born in Surakarta November 22nd, 1982. He had studied at Art Institute of Solo (ISI), in a year of 2003, but only last for 5 semesters. After that he studied through his experiences, starting as an art worker at Bali until stayed and worked in Yogyakarta. He was also assisted one of the artist in Yogyakarta, Bob ‘Sick’ Yudhita for 5 months. Today with his close friend, Fahla F. Lotan, also known as Dila, both are collaborated to make art toys in thedeoMIXBLOOD. Child characters in his works, also realized in his activities along with the children. As I quoted in Otong’s biographical, together with his close friend in 2010 and 2011, he did a variety of workshops with the children.

With introduction by Bob ‘Sick’ Yudhita, Ugo Untoro and S.Teddy D. (in a year of 2008), he admitted that he has been given a little influences at the beginning of his creative works. He also admires some figures like, Nirvana, Basquiat, Andy Warhol and the genre of Cobra painting. Until today he fell comfortable with his character in a figure of octopus. An animal that lives in the sea, has four pairs of hands, adaptable, can be camouflaged and claimed to be the most intelligent animals in the ocean for the class of invertebrates (animals without backbones). He has been made figures of octopus for 4 years since 2009. So, look at his artworks, although it appears to be the drawing of Batman, but Batman with tentacles. Or the human figure, still with tentacles.

Not only figures of octopus that I found interesting from Otong’s drawing, but also the texts that we can observe in his works. Most of the texts are written backwards. We can read it by reversing the texts, for example ‘otiuqsam namtab isamiofsnart atatirug’, read as ‘mosquito batman transformasi guritata’. And usually those texts are the titles of his drawing. For otong, reversing texts is his play zone during the process of drawing. Even for Otong it can be confusing, puzzling through words/texts. However from his ‘text game’ he can found reversed words to have its own meaning. Such as, ‘Ibu’ reversed to be ‘ubi’, and still be legible. Unique. Moreover, he wants the audiences to be paused for a moment while ‘reading’ his texts. And hopefully there’ll be questions or feedback for Otong’s works.

Otong’s drawing that is shown in Tirana Artspace this time, was only a small part of hundreds works/drawing that are stored neatly in his narrow boarding house, located in the south of Jogja. Even honestly, I didn’t have enough time to select all the entire works for this exhibition. It is too many! Otong has compiled his works based on its year. From there, we could see his process of making the artworks, started from water color, pencil, crayon, ballpoint, markers, etc. Presentation of his works in this exhibition represents his process of making artworks since 2009 until now, 2012.
The maturity of his ideas appears from the chronology of his drawings. When Otong start to draw, he always draws simultaneously by minimum 10 blank papers. His ideas flow wildly, messy but impressive and honest. For each paper that he draw have its own fantasy like fairy tale. Because basically he likes narratives fairy tales, such as Narnia, Harry Potter, Pirates of the Caribbean, etc.

And later, piles of hundreds of Otong’s drawing become ‘A gift From My Angel to God’. Every time he draw, for him is like playing, for him is a contemplation, for him is some kind of therapy. And also worshipping, according in his own way. Every time he draw, he fell there’s ‘an angel’ with him. When I get the chance to meet Otong and having interviewed with him for few times, he showed that he is a serious person in searching for God. Although for the moment, status of religion doesn’t important for him, but his religiosity is quite strong through religious journey that he had since childhood until now. Each work that he made is returned-back to God. And furthermore we’ll wait for your feedback.


Enjoy the artworks and get inspired!
Regards, Nunuk Ambarwati

Short Biography
R. Bonar Diat Senan Putro ( Otong )
Was born at Surakarta, 22 November 1982
Education: Fine Art department, Indonesian Institute of Art, Solo (ISI, Solo)

Solo Exhibition
2012 – ‘Kado Malaikatku untuk Tuhan/A Gift from My Angel to God’, Tirana Artspace, Yogyakarta
2011 -  “INTROVERTASY PHOBIA”, thedeoMIXBLOOD’s Solo Exhibition, Kedai Kebun Forum, Yogyakarta

Group Exhibition (selection)
2012 : Pameran JANEFO #1 – Jogja New Emerging Forces, Langgeng Art Foundation, Yogyakarta
2011 : Performance, Istvan Kantor’s Neoist Project from Canada, “NEOIST DISASTER”, collaborator Iwan Wijono, JNM Jogjakarta / Performance, “BoredDay” Doger Panorsa’s Solo Exhibition, at Via-Via Café, Jogjakarta. / Workshop boneka, “Pameran Boneka Jogja Istimewa”, Bentara Budaya, Yogyakarta / Pameran Kelompok Six Needlle Six, “Sew And Share”, Via-via Café Yogyakarta / Pameran Terseleksi, “Imaji Ornamen”, Galeri Nasional Jakarta / Pameran kolaborasi residensi bersama kelompok eksperimental Six A (Hobart, Tazmania), “Machine No.6”, Sangkring Art Space, Yogyakarta / Kids Programme dalam CellsKid rangkaian acara Cellsbutton, International New Media Art Festival, “Institutional Cells”, Bersama HONF / Group Exhibition, “AYO MIX FUN”, Survive ! Garage and Friends,  at Disco Beans, 238 High St, Northcote, Melbourne,Australia / Workshop dan pameran, “DIS” , bersama Metropolelightberry dan Difable SLB Negeri 1 Bantul, Rangkaian Program Biennale 2011.

Award: 5 Finalist at Bazzart Art Award, by Vanessa Art Link and Harpers Bazzar, Vanessa Art Link Jakarta and Ritz Carlton Hotel Jakarta, 2010

Activities:
Recycle workshop for children, by thedeoMIXBLOOD at Bienalle Anak Jogjakarta, 2010
Workshop and performance with collaborator by Iwan Wijono at Istvan Kantor .aka. Monty Cantsin’s Neoist Project from Toronto (Canada), 2011
Clay Workshop and Simple Animation at CellsKid Programme with HONF, 2011
Flour a Sense, Workshop for Difable, SLB Negeri 1 Bantul, Yogyakarta, with Metropolelightberry, Biennale 2011.


Exhibition periode Juni 9th – July 9th 2012.
Open daily, 9am – 9 pm.
Open for public and free.

Information and reservation of artworks, please feel free to contact:
Nunuk Ambarwati
Tirana Artspace
Jalan Suryodiningratan No 55 Yogyakarta
Ph/ +62 81 827 7073
e/ tiranahouse@yahoo.com, qnansha@yahoo.com


TEKS BAHASA INDONESIA

Tulisan Pengantar
Pameran Tunggal Drawing karya R. Bonar Diat Senan Putro
Kado Malaikatku untuk Tuhan
Tirana Artspace
Jalan Suryodiningratan 55 Yogyakarta
9 Juni – 9 Juli 2012

Bertemu dengan seorang R. Bonar Diat Senan Putro atau lebih dikenal dengan Otong (30 tahun), seperti kembali pada masa kanak-kanak kita. Dunia anak-anak yang penuh fantasi, bermain sesuka hati, membebaskan dan meliarkan imajinasi, demikianlah pandangan pertama pada karya-karya drawing Otong. Otong, lahir di Surakarta, 22 November 1982. Pernah menempuh studi di Institut Seni Indonesia (ISI), Solo, angkatan 2003 namun hanya bertahan hingga semester 5 saja. Selebihnya, ia menimba studi langsung dalam perjalanan pengalamannya, mulai dari jadi pekerja seni di Bali hingga akhirnya berlama-lama tinggal dan berkarya di Yogya, dan pernah selama kurang lebih 5 bulan tinggal bersama Bob ‘Sick’ Yudhita dan membantu proses berkaryanya. Saat ini bersama teman dekatnya, Fahla F. Lotan atau akrab dipanggil Dila, mereka berdua berkolaborasi meng-custom mainan dengan bendera thedeoMIXBLOOD. Karakter kanak-kanak dalam karya-karyanya, juga terrealisasi dalam berbagai aktivitasnya yang berhubungan dengan anak-anak. Seperti saya kutip dalam biodata Otong, bersama teman dekatnya Dila, di tahun 2010 dan 2011, berbagai kegiatan workshop ia lakukan bersama anak-anak.

Perkenalannya dengan Bob ‘Sick’ Yudhita, Ugo Untoro dan S.Teddy D (di sekitar tahun 2008) diakuinya memberi sedikit banyak pengaruh di awal proses kreatifnya. Dia juga mengagumi figur-figur seperti Nirvana, Basquiat, Andy Warhol dan aliran Cobra Painting.
Hingga kemudian, saat ini, Otong mengaku merasa nyaman dengan karakter karyanya di sesosok figur Octopus. Sebuah hewan yang hidup di laut, memiliki 4 pasang tangan, mudah beradaptasi, bisa berkamuflase dan diklaim sebagai hewan paling cerdas di laut untuk golongan invertebrata (hewan yang tidak memiliki tulang belakang). Bersama figur Octopus ini, Otong sudah menggeluti selama kurun waktu 4 tahun terakhir (awal 2009). Maka, cermati saja, karya-karyanya, meski pun itu muncul gambar Batman, maka Batman dengan tentakel. Atau figur manusia, tetap dengan tentakelnya.

Tak hanya sosok figur Octopus yang menarik dari deretan drawing Otong. Teks-teks yang termuat didalamnya menarik untuk kita cermati. Hampir sebagian besar teks yang tercantum di dalam karya drawingnya ditulis terbalik. Kita bisa membacanya dengan membalik, misal ada teks ‘otiuqsam namtab isamiofsnart atatirug’ maka dibaca ‘mosqiuto batman transformasi guritata’. Dan biasanya teks-teks itu pula yang akan menjadi judul karya drawing Otong. Bagi Otong, membalik tulisan tersebut merupakan zona bermainnya ketika menggambar. Mengkutak katik teks, bahkan Otong mengaku pernah kesulitan sendiri membaca kembali teks-teks tersebut. Dari permainan teks tersebut, Otong juga menemukan kadang sebuah teks yang dibalikpun, akhirnya mempunyai arti sendiri. Misalnya, kata ‘ibu’ dibalik menjadi ‘ubi’ dan tetap bisa terbaca. Unik. Selebihnya, dia ingin supaya setiap penikmat karyanya bisa terdiam sejenak ‘membaca’ teks sambil memandang karya dan berharap ada selebih pertanyaan atau feedback untuk karya-karya Otong.
 
Karya-karya drawing Otong yang ditampilkan di Tirana Artspace kali ini, hanya sebagian kecil saja dari ratusan karyanya yang tersimpan rapi di rumah kos sempitnya di wilayah Yogya selatan. Bahkan sejujurnya, saya tidak cukup waktu untuk bisa menyeleksi keseluruhan karyanya untuk rencana pameran ini. Terlampau banyaknya! Otong menyusun karya-karya drawingnya berdasar tahun pembuatan. Dari sana, kita bisa melihat proses berkaryanya. Mulai dari media cat air, pensil, crayon, ballpoint, spidol dan seterusnya. Presentasi karyanya dalam pameran ini pun cukup mewakili proses berkaryanya mulai dari tahun 2009 hingga saat ini, 2012. Kematangan gagasannya nampak dari kronologi deretan drawingnya tersebut. Ketika Otong mulai menggambar, dia akan selalu mulai menggambar secara simultan dengan minimal sepuluh kertas kosong. Ide-idenya mengalir begitu saja, liar tak bisa ditahan, berantakan tapi keren dan jujur. Setiap kertas yang dia gambar selalu mempunyai cerita fantasi layaknya dongeng. Hal ini pun didasari karena kesukaannya dengan narasi-narasi dongeng seperti Narnia, Harry Potter, Pirates the Carribean dan sejenisnya.

Dan kemudian, setumpuk ratusan karya drawing Otong menjadi ‘Kado Malaikatku untuk Tuhan’. Setiap kali menggambar, baginya adalah bermain, baginya adalah kontemplasi, baginya adalah terapi. Dan juga bentuk ibadah menurut cara dia sendiri. Setiap kali menggambar, ia merasa ada ‘malaikat’ yang mendampinginya. Ketika bertemu Otong dan sempat interview dengannya beberapa kali, Otong menunjukkan orang yang serius dalam pencariannya akan Tuhan. Meski pun saat ini, status agama tidaklah penting baginya, religiusitasnya cukup tinggi melalui perjalanan keagamaan yang dilewatinya dari kecil hingga saat ini. Setiap karya yang ia hasilkan, pertama kali dikembalikan kepada Tuhannya. Selanjutnya, kami tunggu feedback dari Anda.

Selamat berapresiasi dan semoga terinspirasi.
Salam, Nunuk Ambarwati

Biodata singkat
R. Bonar Diat Senan Putro ( Otong )
Lahir di Surakarta, 22 November 1982
Pendidikan Institut Seni Indonesia (ISI) Solo

Pameran tunggal
2012
– ‘Kado Malaikatku untuk Tuhan’, Tirana Artspace, Yogyakarta
2011 -  “INTROVERTASY PHOBIA”, thedeoMIXBLOOD’s Solo Exhibition, Kedai Kebun Forum, Yogyakarta

Pameran bersama (seleksi)
2012 : Pameran JANEFO #1 – Jogja New Emerging Forces, Langgeng Art Foundation, Yogyakarta
2011 : Performance, Istvan Kantor’s Neoist Project from Canada, “NEOIST DISASTER”, collaborator Iwan Wijono, JNM Jogjakarta / Performance, “BoredDay” Doger Panorsa’s Solo Exhibition, at Via-Via Café, Jogjakarta. / Workshop boneka, “Pameran Boneka Jogja Istimewa”, Bentara Budaya, Yogyakarta / Pameran Kelompok Six Needlle Six, “Sew And Share”, Via-via Café Yogyakarta / Pameran Terseleksi, “Imaji Ornamen”, Galeri Nasional Jakarta / Pameran kolaborasi residensi bersama kelompok eksperimental Six A (Hobart, Tazmania), “Machine No.6”, Sangkring Art Space, Yogyakarta / Kids Programme dalam CellsKid rangkaian acara Cellsbutton, International New Media Art Festival, “Institutional Cells”, Bersama HONF / Group Exhibition, “AYO MIX FUN”, Survive ! Garage and Friends,  at Disco Beans, 238 High St, Northcote, Melbourne,Australia / Workshop dan pameran, “DIS” , bersama Metropolelightberry dan Difable SLB Negeri 1 Bantul, Rangkaian Program Biennale 2011.

Penghargaan:
5 Finalis dalam Bazzart Art Award, Oleh Vanessa Art Link dan Harpers Bazzar, Vanessa Art Link Jakarta dan Ritz Carlton Hotel Jakarta, 2010

Aktivitas:
Recycle workshop for children, by thedeoMIXBLOOD at Bienalle Anak Jogjakarta, 2010
Workshop and performance with collaborator by Iwan Wijono at Istvan Kantor .aka. Monty Cantsin’s Neoist Project from Toronto (Canada), 2011
Clay Workshop and Simple Animation at CellsKid Programme with HONF, 2011
Flour a Sense, Workshop for Difable, SLB Negeri 1 Bantul, Yogyakarta, with Metropolelightberry, Biennale 2011.


Pameran berlangsung mulai 9 Juni – 9 Juli 2012.
Buka setiap hari, pk. 9 pagi – 9 malam.
Terbuka untuk umum dan gratis.

Untuk minat karya dan informasi selanjutnya, silakan hubungi:
Nunuk Ambarwati
Tirana Artspace
Jalan Suryodiningratan No 55 Yogyakarta
Ph/ +62 81 827 7073
e/ tiranahouse@yahoo.com, qnansha@yahoo.com



Mimpi Dunia Empuk / Dream of Pillowy World


Mimpi Dunia Empuk / Dream of Pillowy World
Solo Exhibition by Agustina Tri Wahyuningsih
Via Via Café Traveller
Jalan Prawirotaman No 30, Yogyakarta, Indonesia
22 December 2011 – 12 January 2012


Pillowy Fairytale World

Agustina Tri Wahyuningsih, intimately called Tina, is a person who cannot stand idle. Although she is very calm in nature, a typical Javanese woman, she has many activities and ideas. She creates Japanese dolls, bags and t-shirts, paintings on wooden boards. Her latest works are hand-sewed dolls. According to her, the inspiration for these works actually had long existed in her mind, but she just could realize it in the beginning of this year. Now she has more spare time to continue the work while taking care of her daughter, Kaysha (16 months).      

Having Kaysha now has inspired her much more to keep working with her dolls. With artist Edo Pillu, her husband on her side and working experiences and networking in the art circles of Yogyakarta, she can have more fresh ideas for her dolls. She is found of things related to decoration, cotton fabric, fairy tale and illustration. These aspects have shaped the character of her works.

Maria Carmelia, her friend and customer, in her testimony depicts the propensity of Tina’s works; the taste, type and color. Although outside there are similar products, which perhaps have appeared earlier, Tina’s products with the label “jahitangan” have Tina’s distinctiveness. The motif and type of fabric that she chooses, and the figures of dolls she makes are so typically Tina. For her, though what she does seems like a domestic work, it is a means of realizing her distinctive and creative ideas. In addition, it is a place and time where she can play and make explorations, producing tales and contemporary figures in the shape of dolls. Why doll? Doll is a toy that usually looks so cute.  People of all ages, from children to adults, like dolls.  

Maria Carmelia is very impressed with the thickness of her pillow dolls. It fits what customers want. The dolls are really cottony. The exhibition titled “Mimpi Dunia Empuk” (Dream of Pillowy World) is trying to lead us to wander deep into imaginations, making us feel so cozy with the tales created. “And one thing for sure is that I want my dolls not just to be used as pillows. They can be part of something anywhere, anyone can enjoy. I want to invite all my customers to play in the pillowy world”, she said.

Enjoy and let us have beautiful dreams.

Nunuk Ambarwati


Testimonies
I think Tina’s works are unique. I never saw works like them in other place. She is really able to transform buyers’ requests into beautiful pillows. Animal series is done, when will she make vegetable and fruit series? I am waiting for pillows made of batik fabrics. Meida Rosa Delima Tanlain (Teacher of a Kindergarten in Newmont, Sumbawa) 

I really love Tina’s doll works. They are so cute, and the shapes can be customized in accordance with our requests. Miu Kyung (staff of Sangkring Art Space, Yogyakarta)

Nothing is impossible. In her dexterous hands anything can turn to be unique. She always has fresh ideas. I don’t know what is in her mind. Perhaps her world is so colorful and full of dreams. She materializes them into beautiful things. Her drawings are so unique with childhood character. Perhaps that is the way she is. Despite a grown-up woman and even a mother, she still has an imagination about a little girl in a fairy tale. Tovic Raharja (Creative & Marketing Grand Pacific Hall, Yogyakarta).

Previously I didn’t pay much attention to the term: “Jahitangan”. For me, her works are always unique. She really knows her friends; their inclinations, tastes, types, etc. Though borrowing her hands, I feel like it is indeed my own hand-sewing. And uniquely it is so Tina (or so Jahitangan), isn’t it? One reason that I choose her hand-sewing product is the appropriate thickness of her pillow dolls. They are very much suitable to what we want; they are huggable. They are so warm, very nice to be hugged. The thickness is appropriate to prop parts of our body as we order; to prop our back, buttock, head, etc. They are so versatile like my owl doll, which can be a little travelling pillow. It is child friendly. She chooses materials that cannot injure children’s skin or harm them. So, once it fits me, I won’t go anywhere. J. Maria Carmelia S (Teacher at Sunsmile Kids).

“There are power of love and compassion in your hand-sewed dolls. I want to keep hugging them”.  Nur Cahyati W (Librarian at American Corner, UGM).

They are so cute; they are creatively and nicely made. I give them to my friends and nieces. And they do love them.  Rismilliana Wijayanti (Manager of VWFA).

 “Aunty, thank you for the Dino dolls. I call them Tito and Tato. They’re so cute and adorable. They always accompany my sleep if my mother and father haven’t got home”. Emmanuel Devanand Onduko (5 years old, kindergarten in Salatiga)

A brief profile
She was born in Purwokerto, in August 11st, 1977. She was graduated from Psychology Department of Sanata Dharma University in Yogyakarta. Since 1997 until present, she has worked for various activities of both performing and visual arts. Her exhibition debut took place in 2003 in Sanata Dharma University. On that occasion she was awarded as the winner of painting competition. “Mimpi Dunia Empuk” will be her first solo exhibition after for years working behind the scene, helping artists in many art events. 

BAHASA INDONESIA
‘Mimpi Dunia Empuk / Dream of Pillowy World’
Pameran tunggal karya Agustina Tri Wahyuningsih
Via Via Café Traveller
Jalan Prawirotaman No 30, Yogyakarta, Indonesia
22 Desember 2011 – 12 Januari 2012

Negeri Dongeng yang Empuk

Mengenal Agustina Tri Wahyuningsih atau lebih akrab dipanggil Tina (perempuan kelahiran Purwokerto, 34 tahun) adalah sosok yang tidak pernah bisa diam. Pembawaannya yang kalem, khas perempuan Jawa, namun aktivitas dan ide-idenya terus bermunculan. Mulai dari membuat boneka ala Jepang, membuat tas dan kaos, lukisan diatas papan kayu dan yang terbaru saat ini adalah karya-karya bonekanya. Menurut Tina, inspirasi untuk karya-karya ini sebenarnya sudah jauh terpendam dalam pikirannya, namun baru bisa terrealisasikan di awal tahun ini; dimana sekarang ia lebih punya waktu senggang sambil merawat putri cantik pertamanya, Kaysha (18 bulan).

Memiliki Kaysha saat ini semakin menginspirasi Tina bertekun di dunia bonekanya. Dan mendampingi Edo Pillu, sang suami yang dikenal sebagai perupa, juga pengalaman kerja dan pergaulannya di lingkaran seni rupa Yogyakarta, sedikit banyak memberinya ide-ide segar untuk karyanya. Tina memang hobi dengan hal-hal yang berkenaan dengan dekorasi, kain katun, dunia dongeng dan ilustrasi didalamnya. Kombinasi dari latar belakang dan hobinya tersebut, jadilah karya-karya karakter Tina ini.

Mengutip testimoni dari seorang sahabat sekaligus konsumennya , Maria Carmelia, yang menggambarkan bagaimana kecenderungan karya Tina mulai dari soal selera, tipe dan warna. Maka, meskipun di luar sana, mungkin ada produk-produk yang mirip dan sudah lebih dulu muncul, tetapi karya Tina yang kemudian dilabeli ‘jahitangan’ memiliki kekhasan ala Tina. Cek saja dari pilihan karakter motif kain, jenis kain dan figur boneka yang ia buat, itu khas Tina. Bagi Tina, pekerjaan yang terkonotasi domestik ini merupakan pelampiasan dari ide-ide unik dan kreatif, disamping itu ia bisa bermain dan bereksplorasi di dalamnya. Menumpahkan sebuah dongeng dan figur-figur bermotif kontemporer dalam sebuah boneka. Kenapa boneka? Boneka adalah benda mengantarkan kita bermain, berkesan lucu, imut dan hampir semua kalangan umur  menikmatinya, mulai dari kanak-kanak hingga orang dewasa.
Kembali mengutip testimoni Maria Carmelia, ia sangat terkesan dengan ketepatan tebal boneka bantalnya, amat sangat pas dengan apa yang kita inginkan, empuk. Pameran ‘Mimpi Dunia Empuk’ ini mencoba mengantarkan kita pada imajinasi-imajinasi yang melanglang jauh, membuat kita lebih nyaman dengan dongeng-dongeng yang diciptakan. ‘Dan yang jelas aku ingin boneka karyaku tidak hanya sebagai bantal, tapi dia mampu menjadi bagian dari karya yang bisa berada dimana saja, dinikmati siapa saja. Aku ingin mengajak semua penikmat bermain-main di dunia empuk’, demikian angan-angan Tina.

Selamat menikmati dan mari sama-sama bermimpi indah.

Nunuk Ambarwati

Testimoni
Menurut aku, karyanya Tina unik dan aku belum pernah menjumpainya di tempat lain. Tina dapat menuangkan permintaan pemesan dalam kreasi bantalnya dengan cantik. Edisi binatang sudah, kapan ya edisi sayur dan buah muncul? Aku juga sedang menanti kreasi bantal dari kain batik hehehehe… Meida Rosa Delima Tanlain (Pengajar Taman Kanak-kanak di Newmont, Sumbawa).

Saia sangat suka dengan karya-karya bonekanya mbak Tina... Lucu-lucu dan bisa dibuat berbagai macam bentuk sesuai dengan keinginan...Salam, Miu Kyung (bekerja di Sangkring Art Space, Yogyakarta).

Tidak ada yang tidak mungkin. Di tangan Tina, melalui kepiawaiannya mengolah sesuatu yang biasa menjadi unik. Selalu ada ide segar yang muncul. Entah apa yang ada dalam otak dia, mungkin dunianya yang penuh mimpi dan warna, lalu dia wujudkan dalam pernik-pernik cantik dan karya gambar yang mempunyai ciri khas kanak-kanak. Mungkin itulah Tina, di dalam tubuhnya yang tumbuh dewasa dan bahkan sudah menjadi ibu. Dia masih punya khayalan tentang gadis kecil di negeri dongeng. Tovic Raharja (Creative & Marketing Grand Pacific Hall, Yogyakarta).

Tadinya saya tidak terlalu memperhatikan namanya: ‘jahitangan’. Karena bagi saya, ini karya Tina yang selalu khas. Seperti kekhasannya yang mengenal teman-temannya; kecenderungan selera, tipe, warna dan seterusnya…rasanya memang ini ‘jahitangan’ku – tapi pinjem tangan Tina. Dan uniknya, justru Tina-Sekali (atau harusnya: ‘jahitangan’-sekali ya?) J Salah satu yang bikin ‘jahitangan’ jadi pilihanku adalah ketepatan tebal boneka bantalnya. Amat sangat pas dengan apa yang kita inginkan: pelukable (tebalnya pas buat dipeluk-peluk), ganjelable (ketebalan pas buat mengganjal bagian-bagian tubuh sesuai yang kita pesan peruntukkannya: ganjel punggung, ganjel pantat, ganjel kepala, atau serbaguna seperti owl pesanan saya yang memang untuk bantal mungil travelling, dan children friendly. Bahan-bahannya memang dipilih yang tidak akan melukai kulit anak atau membahayakan anak. Jadi, ya gimana ya…kalau sudah cocok itu kan ya nggak kemana-mana J. Maria Carmelia S (Pengajar di Sunsmile Kids).

“Ada kekuatan dan kelembutan cinta di jahitan tangan bonekamu. Jadi pengen meluk terussss…”. Nur Cahyati W (Librarian di American Corner, UGM).

Bentuknya lucu, kreatif dan rapi. Saya bagi ke teman-teman dan keponakan. Semua suka! Rismilliana Wijayanti (Manajer Jogja Contemporary).

"Tante, terima kasih boneka dinonya. Tak kasih nama Tito sama Tato. Luccuuu banget gemesiinn, sekarang mereka teman bobokku loh kalo mama dan papa belum pulang". Emmanuel Devanand Onduko (umur 5th, TK besar di Salatiga).

Profil singkat Agustina Tri Wahyuningsih
Lahir di Purwokerto, 11 Agustus 1977. Tina merupakan lulusan sarjana jurusan Psikologi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Sejak tahun 1997 hingga saat ini, Tina aktif di berbagai kegiatan kesenian sebagai seorang pekerja seni, baik seni pertunjukan hingga seni rupa. Debut pameran pertamanya di tahun 2003, dimana ia sekaligus mendapat penghargaan sebagai juara pertama lomba lukis di kampus Sanata Darma. ‘Mimpi Dunia Empuk’ menjadi gelaran perdana pameran tunggalnya setelah sekian lama bekerja di balik layar membantu para seniman dan sebagai pekerja seni dalam sebuah event.

Ucapan Terima Kasih
Tuhan YME, para malaikat yang baik hati, orangtuaku, suamiku, malaikat kecilku “Kay”, kakak-kakakku | Nunuk Ambarwati & MAM-nya | Farah Wardani | Meida Rosa Delima Tanlain | Miu Kyung | Tovic Raharja | Maria Carmelia S | Nur Cahyati W | Rismilliana Wijayanti | Emmanuel Devanand Onduko & Ruth Onduko | Mie Cornodeus, Putri Santoso dan segenap staf Via Via Café Traveller

Diterbitkan di koran Tribun Jogja, rubrik Art & Culture, halaman 12, Minggu, 30 September 2012





Wednesday, April 11, 2012

Kinci's Imagination

IMAJINASI
Solo exhibition by Roby Dwi Antono
21 April - 30 May 2012
Tirana House - Boutique & Artspace
Jalan Suryodiningratan No 55 Yogyakarta 

KINCI’S IMAGINATIONS
 
One afternoon, a friend of mine, Iwan Effendy recommended me to see Roby Dwi Antono’s artworks. I was so excited, feeling like just finding an oasis in the middle of a dessert (art scene). Then I thought I had found a new idol. He was born in 1990 in Ambarawa, Central Java. He lives in Yogyakarta and has been working as illustrator and graphic designer since 2010. Despites his young age, his artworks are really refreshing. From the very first time we met, I knew he is a down-to-earth person. He admitted that he started drawing since kindergarten. He never studied art in art school. He developed his painting skill in Vocational High School of Engineering. He took class of graphic design. He used pencil first when he started drawing, then he used color pencil, pastel and poster paint. He also had tried using paper, canvas and wood. He explored the media during his learning. His curiosity to use other types of media than pencil always drives him to create works. At present he is learning to use acrylic applied on canvas. He admitted that he has not had chance to use oil paint.
His artworks are influenced by those of world artists like Mark Ryden, Marion Peck, Nicoletta Ceccoli, Ray Caesar, Jana Brike and Dilka Bear. His family, friends, daily things including his childhood also have important role in influencing his works. He said that Mark Ryden is one of his favorite artists. Rayden is American artist. He is the king of Pop Surrealism movement. For him, the artist is very amazing, not only because of his fine and beautiful visualization but also of the mystery enclosed deeply within his works. “Watching his, artworks, I feel like I am falling into them and able to feel what he paints”, Roby said. Likewise, when we look at Roby’s works, it feels like we are inside them, closely feeling their attractiveness, happiness, sadness and even tragedy. It is like we are entering a dream world. Every mystery is made to make everyone freely contemplate and draw their own conclusions from what they see. 
The theme “Imagination” has appeared out of Roby’s conversation with a friend about their childhood dreams. According to him, we cannot limit whatever we will do in the future, we are never afraid to have dreams. Within an imagination surely lies a strong ambition to make it come true. Such spirit could be felt in his debut exhibition. As quoted from Walt Disney - If you can dream it, you can do it.
In accordance with this headline, Roby would like to share the beauty of children imaginations so that we will always keep our dreams alive. Because usually as we gets older and older, our ambition to accomplish our childhood dream collide with fear of failure. A great idea sometimes comes from impossible imagination. “So, free you imagination,” Roby advised. He has made some researches with his friends as the subjects to find out their childhood dreams. He randomly did the research with friends of the same, younger and much older age. He sort and chose dreams that were considered interesting and imaginative enough. Then he put them into his artworks, combining them with his own imaginations. So, here they are 15 new artworks being exhibited now, along with 5 old artworks as references for comparison.  
Although his artworks belong to surrealism, daily realities are of his inspirations in the process of creations. For this exhibition Roby is presenting artworks of pencil drawing on paper. According to him, drawing is the mother of the beauty of visual art. Every attractive works of art comes from a simple drawing/sketch. Concerning drawing technique with pencil, he prefers shading to blending one. He uses mechanical pencils because with them he can make small objects in detail. His reason of using pencil than other instruments is that for him with pencil it is easier to communicate his ideas. With pencil he also enjoys every stroke and sketch. An attractive subject on drawing medium can be created with different intensity of thickness made with pencil strokes. His skill of using acrylic paint can also be seen in one of the works being exhibited, namely the work titled “Pilu Lalu”.
If we observe especially his drawing works more deeply, we can see that he always have empty space in each of his work. He said that empty space can make his subject get correct focus. Therefore, it is easier for his audience to understand what he tries to communicate through his works although in nature surrealism is hard to understand. For him empty space in an artworks is like air with what the subject of the artworks “breaths”. His reasons above are based on his experiences and education background with graphic design.
            About the rabbit, here is Kinci. It is the character all this time Roby uses in his works. He said that Kinci the rabbit symbolizes the sensitivity to beauty, coziness and mystery like art itself. Although sometimes it looks dumb, it is indeed a cute animal. It hates violence, criticism, untidiness and filthiness. He admitted that it is like him. The rabbits in his works are actually himself, his alter ego. For him, he wants everyone to know him from these rabbits.   
 
Enjoy the works. Keep imagining and hopefully get inspired!
 
Nunuk Ambarwati
 
Sources:
Interview via email with Roby Dwi Antono, 4 April 2012.
http://nylonindonesia.com/article/read/64757/ARTIST-ROBY-DWI-ANTONO (downloaded on 7 April 2012).

Sunday, October 16, 2011

Alif & Sosrokartono


Membaca buku ini, menginspirasi saya untuk menulis. Disamping memang sudah lama tidak menulis, entah kenapa…buku ini membuatku tergerak untuk menulis, mengomentarinya dan mencoba membaginya ke publik. Mungkin juga karena berjarak dengan orang yang ditulis atau penulis di dalamnya. Atau mungkin juga terlalu dekat dengan sosok yang ditulis mau pun penulisnya. Sebuah buku bersampul depan hitam polos, kebetulan warna yang saya sukai, dengan huruf Alif warna perak di tengahnya. Sederhana…, tak ada sebaris kata apa pun di sampul depannya, kecuali Alif. Tebal 163 halaman, tersedia dalam bahasa Indonesia dan Inggris, dan judul buku tersebut adalah RISALAH RAJAH SOSROKARTONO – Lukisan Profetik K.H. M. Fuad Riyadi di Era Pascamodern. Ada 3 penulis utama dalam buku tersebut, yakni dibuka oleh tulisan Joni Ariadinata, kemudian inti dari buku ini ditulis oleh Mikke Susanto dan ditutup sangat arif dengan tulisan Bambang Sugiharto. Buku ini memang diterbitkan dalam rangka pameran ALIF: Pameran Tunggal Lukisan K.H. M. Fuad Riyadi, di Bandung, September 2011. Diterbitkan oleh Lukisan Sang Kyai Management, Yogyakarta, 2011.
Saya beruntung bisa mendapatkan buku ini sekitar bulan September 2011 dan baru sempat membacanya sekitar sebulan setelahnya. Sebelumnya, memang hanya saya pajang dalam rak buku koleksi saya. Tak ada niatan ingin membacanya, ah paling-paling hanya itu-itu saja isinya. Karena kebetulan, 3 bulan sebelumnya, saya mengorginisir pameran tunggal lukisan karya K.H. M. Fuad Riyadi. Sehingga, sedikit banyak sudah paham, cukup mengetahui seluk beluk, hingar bingar hingga kontroversi perihal sosok K.H. M. Fuad Riyadi khususnya, karya-karya lukisannya hingga kehidupan pondok pesantren yang dipimpinnya.
Ketika pada suatu hari kemudian, saya tergerak untuk serius membaca kata demi kata di dalamnya. Menarik, mengalir, puitis, penuh informasi dan cukup komprehensif. Meski di akhir bacaan, saya masih terasa haus informasi dari apa yang saya harapkan dari isi buku tersebut. Seharusnya bisa lebih banyak, seharusnya bisa lebih panjang, seharus bisa lebih tebal dan seterusnya. Sekilas melihat dan menyentuh buku ini, sepertinya kita akan mendapat banyak hal, hmm…namun, mungkin terkesan tebal karena kemudian masih ada halaman bahasa Inggris di dalamnya.
Meski dalam tulisannya, Mikke Susanto menjabarkan panjang lebar dan membantu pembaca memasuki siapa itu K.H. M. Fuad Riyadi, apa relasi seni dan religi dan posisi karya K.H. M. Fuad Riyadi – namun sayangnya hanya satu karya lukisan yang berjudul Rajah Sosrokartono saja yang diulas. Dari ratusan karya K.H. M. Fuad Riyadi yang sempat saya lihat dan dipamerkan kala itu, memang saya juga setuju ketika kemudian karya Rajah Sosrokartono menjadi begitu kuat untuk diperbincangkan dan kemudian dibukukan. Semata menurut pendapat saya pribadi, tokoh Sosrokartono sendiri sudah sungguh menarik dikedepankan. Juga karena entah kenapa, karya tersebut membawa magnet begitu dahsyat untuk diapresiasi. Dari buku tersebut, saya baru tahu betul bagaimana proses lukisan tersebut dihasilkan, apa yang melatarbelakanginya hingga detail kata per kata yang ada dalam kanvas tersebut. Saya menjadi semakin ingin tahu perihal siapa Sosrokartono yang bersahaja itu. Lukisan tersebut menjadi sarat makna, magis dan terkesan benar rajah. Siapa pun kolektor dari lukisan ini nantinya, akan sangat beruntung dengan diterbitkannya buku ini.

Friday, September 30, 2011

Artist Statement 'Jowo Adoh Papan'


JOWO ADOH PAPANPius Sigit Kuncoro
Di kota Jogja, saya dapat mendengar tembang-tembang Hiphop berbahasa Jawa. Dan jika berkeliling kota, saya pun menjumpai grafiti-mural dengan aksara-aksara Jawa. Semua tampil seadanya, walau terlihat compang-camping, tapi lucu menggemaskan.
Bahasa dan aksara Jawa kini telah muncul sebagai ekspresi jalanan. Saya tidak tahu persis kapan ini bermula. Yang jelas telah membuat saya bertanya, “apakah Jowo wis adoh soko papan, mulo podo urip neng ndalanan?”.
Adoh soko papan dapat diartikan sebagai jauh dari rumah, atau tidak berumah lagi. Secara politis dapat dikatakan telah kehilangan badan keorganisasiannya dan tidak lagi terikat pada aturan baku. Jika dikaitkan dengan status keistimewaan Jogja yang sedang tersandera saat ini, mungkin ada benarnya. Tanpa kedaton dan ratu yang wenang, Jowo menjadi adoh soko papan.
Jowo yang adoh soko papan adalah Jowo yang secara material telah kehilangan nilai tawarnya. Jowo demikian, menjadi Jowo yang compang-camping, dan hidup hanya pada posisi bertahan. Dalam posisi ini Jowo hanya menjadi spirit yang keno lorone ora keno patine, seperti punokawan yang babak belur tapi tidak pernah mati.
Dalam karya cat air yang saya pamerkan kali ini secara visual saya menempat orang-orang Jowo yang adoh soko papan, sedang semangat yang saya tampilkan adalah keno lorone ora keno patine. Harapan saya, karya-karya ini dapat menghibur, menggelitik, lucu, dan menggemaskan.
Tambahan:Tentang Norman RockwellSeorang Maestro Amerika yang dikagumi oleh hampir seluruh mahasiswa DISKOM-ISI Jogja saat saya kuliah dulu. Karya-karyanya menjadi standar capaian tertinggi, dan referensi penting untuk meraih nilai tertinggi dalam tugas-tugas ilustrasi.
Pameran ini terselenggara berkat kerjasama Mixed Art Management | MAM dan Via Via Café Traveller.

JOWO ADOH PAPAN (Away from Home)

In Jogja I can hear Hip Hop songs using Javanese language. If I go around town, I can also see graffiti and murals that use Java letters. They appear as they are. Although they look in tatters, they are very cute and adorable.
Javanese language and letters have now emerged as part of street expression. I do not know exactly when this started. Obviously this has made me ask, "Have Javanese people been far from home so that they have to live on the streets?
"Adoh soko papan” means "away from home" or even "no longer having home". Politically, this can be understood as a form of loss of the parent organization or a condition of being separated from traditions. If we have to link it to the specialty of Yogyakarta, perhaps this is true. Without powerful palace and king, the Javanese people will be displaced from their homes.
Javanese people who are away from home are those who materially have lost their bargaining power. They become ragged and their lives are stagnant. Thus, Javanese people, like the saying "Keno Lorone ora keno patine", feel the pain but death will never come to them. They are like the battered Punokawan who never die.
In my watercolor works I am exhibiting now, visually I put Javanese people who are away from home. They are the ones implied by the proverb "Keno lorone ora keno patine". I hope that these works can be entertaining, intriguing, funny and adorable.
AdditionalNorman Rockwell is an American maestro who had amazed me and my fellow students in Communication Design Department of the Indonesian Institute of Arts-Yogyakarta. His works. His works became our highest standard of achievement. They were important references for us to get good scores for our illustration assignments.

JOWO ADOH PAPAN


Pameran tunggal lukisan cat air karya Pius Sigit KuncoroVia Via Cafe Traveller, Yogyakarta | 6-25 Juni 2011
JAWA ALA PIUS SIGIT

Berawal dari pesanan untuk mengisi ilustrasi pada sebuah buku, Pius Sigit Kuncoro [kelahiran Jember, 17 April 1974] akhirnya kembali menekuni teknik cat air di atas kertas. Bagi seorang Pius Sigit, lulusan Desain Komunikasi Visual ISI Yogyakarta ini, bukan hal baru berkarya dengan cat air. Mengaku sudah lama meninggalkan media ini, namun, sekitar 2 tahun belakangan, dia kembali bekerja dengan media tersebut. Kita paham bahwa melukis dengan cat air memiliki tingkat kesulitan tersendiri, sekali gores tidak boleh salah. Beberapa pendapat pun sepakat bahwa Pius Sigit lebih maksimal karyanya dengan cat air ini. Keahliannya melukis dengan cat air betul-betul bisa diandalkan. Mengapa saat ini sedang bereksplorasi dengan cat air pun, lebih karena merespon situasi studio yang dipakainya kini. Studio tempatnya bekerja saat ini di daerah Dongkelan, Bantul, lebih akomodatif ketika Pius Sigit bekerja dengan media cat air.
Pada kesempatan pameran tunggalnya yang ke 3 kali ini, Pius Sigit membawa kita kepada tema-tema Jawa modern yang mistis melalui karya-karya yang dihadirkannya. Tema pamerannya pun tak jauh dari figur-figur yang ditampilkan dalam karyanya, yakni JAWA ADOH PAPAN. Dipilihnya tema ini karena tergelitik oleh karakter kekinian orang Jawa, yang tidak luput dari pengaruh perkembangan teknologi dan modernitas, sehingga tinggal spirit Jawa-nya saja yang masih bisa kita rasakan. Pius Sigit, penulis mengenalnya memang sesosok orang yang menyukai dan memahami dunia Jawa. Dimana ia juga pernah ‘berguru’ bahkan menjadi ‘anak kesayangan’ dari almarhum Sigit Sukasman, seorang seniman wayang di Yogyakarta. Disamping itu, Pius Sigit juga pernah bergabung dalam kelompok GEBER ModusOperandi [1999-2001], yang menampilkan karya-karya performance instalasi futuristik di kala itu. Maka tak heran buat penulis, dengan latar belakang hidupnya tersebut, Pius Sigit menampilkan tema Jawa dan modernitas pada karya-karyanya.
Pada serinya terdahulu, karya-karyanya kelihatan sangat terinsipirasi oleh seniman Norman Rockwell, seorang pelukis dan illustrator asal Amerika di era abad ke-20. Pius Sigit pun mengakui bahwa dia berkiblat dari karya-karya Rockwell. Bisa kita lihat dari karakter atau figur-figur yang dia gambar hingga pemilihan warna yang cenderung ke warna pastel. Meski terlihat kentara pengaruh Rockwell, Pius Sigit tetap memasukkan unsur Jawa ke dalam karyanya. Sehingga pada seri karya terdahulunya, kita seperti berada dalam sebuah narasi yang berlatar Eropa dan Jawa. Sedikit aneh, tetapi sangat menggelitik.
Saat presentasi seri karya terdahulunya, kami [Mixed Art Management | MAM] dibuatnya terkesima karena kemampuannya mengolah cat air dan tema pada karya yang ia hadirkan. Hal itu pula yang membuat kami terbersit niat untuk menghadirkan karya-karya dalam sebuah pameran agar bisa direspon publik lebih luas di Via Via Café, 6 hingga 25 Juni 2011.
Kini, Pius Sigit menampilkan seri karya terbarunya. Seri karya terbarunya ini pun hadir tidak dengan sendirinya. Pius Sigit mengaku sempat stagnan dengan seri karya terdahulunya. Tentu hal yang sulit ketika seorang seniman harus kembali memunculkan mood berkarya. Seiring perjalanan waktu, akhirnya ia menemukan seri tema karya terbarunya ini. Pada seri karya terbarunya ini, Pius Sigit menggunakan peribahasa-peribahasa Jawa untuk judul, tema mau pun figur untuk karyanya lengkap dengan huruf Jawa kuno. Misal, Anak Polah Bapa Kepradah, dimana kurang lebih artinya jika si anak bertingkah laku nakal atau menyimpang, orang tua terkena getahnya juga dan ikut bertanggung jawab juga repot. Peribahasa-peribahasa Jawa tersebut oleh Pius Sigit dijabarkan artinya ke dalam karya-karya yang ditampilkannya. Sedikit banyak kita menjadi mengerti perihal arti dari peribahasa Jawa yang tersebut lewat sebuah gambar yang menggelitik. Unik sekali. Selamat menikmati….
Yogyakarta, Mei 2011Nunuk AmbarwatiMixed Art Management | MAM

PIUS SIGIT’S STYLE OF JAVANESE CONCEPTION
Due to an order of creating illustrations for a book, Pius Sigit Kuncoro [Born: Jember, 17 April 1974] finally works again with watercolor on paper. For Pius, who was an alumnus of Visual Communication Design Department of the Indonesian Institute of Arts – Yogyakarta, it is not a new thing. He used to work a lot with these media. About two years recently he has worked again with watercolor and paper. We realize that painting with watercolor has its own degree of difficulty. Once a stroke is put, it cannot be mistaken. Some critics agree that Pius Sigit can work more optimal with watercolor. His capacity in painting with watercolor is not questionable. The reason why he does explorations with watercolor is that he tries to make response to the situations of the studio where he works at present. It is situated in Dongkelan, Bantul. It is more accommodating for him to work with watercolor.
In his third solo exhibition, Pius Sigit takes us to themes concerning the mystical modern Java through his works. The exhibition’s theme, “Jawa Adoh Papan”, is also not far from the figures appearing in his paintings. This theme is raised because he is tickled by the contemporary Javanese people, who cannot escape from the influences of technological progress and modernity. However, the Javanese spirit still remains. The writer knows him indeed as a person who is interested in Javanese culture. He somewhat understands much about it. This certainly is not apart from his time when he became a student, and event the “favorite son” of the late Sigit Sukasman, an artist of Javanese wayang tradition, living in Yogyakarta. In addition, Pius Sigit also joined a group called GEBER ModusOperandi (1999-2001), which created works of futuristic performing installations. Therefore, it is not so surprising for the writer that he brings themes of Javanese culture and modernity in his works.
In his previous series of works, it is obvious that he is inspired so much by Norman Rockwell, a painter and illustrator from United Stated. Pius Sigit admits that he does look up to Rockwell’s works. The influences can be found in the characters or figures becoming the subjects of his paintings and the tendency of using pastel colors. Although Rockwell’s characteristics are quite noticeable, he always puts into his works Javanese elements. Therefore, observing his old works, as if we entered into a narration with European and Javanese backgrounds. It is a bit weird but very witty.
When through his previous series of works, his ability of cultivating watercolor and themes have made us (Mixed Art Management | MAM) amazed. Hence, we intend to present his works to wider public in an exhibition at Via Via Café from 6 to 25 June 2011.
Now Pius Sigit is presenting his new series of works. He admitted that after the era of his previous works, he happened to go through stagnancy. It is certainly difficult for an artist to resume his mood to create the same artworks again. However, he finally has found this theme for his new works. Now he uses Javanese proverbs for the titles and themes. He also makes appear the Javanese figures and Javanese old letters. For example, he entitles one of his works with the proverb “Anak Polah Bapa Kepradah”. It means more or less that if a child behaves badly, the parents also take the responsibility. He describes the meanings of the proverbs with his paintings. To some extent we becomes more aware of the meanings of the Javanese proverbs through his amusing paintings. They are really unique.
Enjoy the show.
Yogyakarta, May 2011

Nunuk Ambarwati
Mixed Art Management | MAM