Tuesday, June 12, 2012

Mimpi Dunia Empuk / Dream of Pillowy World


Mimpi Dunia Empuk / Dream of Pillowy World
Solo Exhibition by Agustina Tri Wahyuningsih
Via Via Café Traveller
Jalan Prawirotaman No 30, Yogyakarta, Indonesia
22 December 2011 – 12 January 2012


Pillowy Fairytale World

Agustina Tri Wahyuningsih, intimately called Tina, is a person who cannot stand idle. Although she is very calm in nature, a typical Javanese woman, she has many activities and ideas. She creates Japanese dolls, bags and t-shirts, paintings on wooden boards. Her latest works are hand-sewed dolls. According to her, the inspiration for these works actually had long existed in her mind, but she just could realize it in the beginning of this year. Now she has more spare time to continue the work while taking care of her daughter, Kaysha (16 months).      

Having Kaysha now has inspired her much more to keep working with her dolls. With artist Edo Pillu, her husband on her side and working experiences and networking in the art circles of Yogyakarta, she can have more fresh ideas for her dolls. She is found of things related to decoration, cotton fabric, fairy tale and illustration. These aspects have shaped the character of her works.

Maria Carmelia, her friend and customer, in her testimony depicts the propensity of Tina’s works; the taste, type and color. Although outside there are similar products, which perhaps have appeared earlier, Tina’s products with the label “jahitangan” have Tina’s distinctiveness. The motif and type of fabric that she chooses, and the figures of dolls she makes are so typically Tina. For her, though what she does seems like a domestic work, it is a means of realizing her distinctive and creative ideas. In addition, it is a place and time where she can play and make explorations, producing tales and contemporary figures in the shape of dolls. Why doll? Doll is a toy that usually looks so cute.  People of all ages, from children to adults, like dolls.  

Maria Carmelia is very impressed with the thickness of her pillow dolls. It fits what customers want. The dolls are really cottony. The exhibition titled “Mimpi Dunia Empuk” (Dream of Pillowy World) is trying to lead us to wander deep into imaginations, making us feel so cozy with the tales created. “And one thing for sure is that I want my dolls not just to be used as pillows. They can be part of something anywhere, anyone can enjoy. I want to invite all my customers to play in the pillowy world”, she said.

Enjoy and let us have beautiful dreams.

Nunuk Ambarwati


Testimonies
I think Tina’s works are unique. I never saw works like them in other place. She is really able to transform buyers’ requests into beautiful pillows. Animal series is done, when will she make vegetable and fruit series? I am waiting for pillows made of batik fabrics. Meida Rosa Delima Tanlain (Teacher of a Kindergarten in Newmont, Sumbawa) 

I really love Tina’s doll works. They are so cute, and the shapes can be customized in accordance with our requests. Miu Kyung (staff of Sangkring Art Space, Yogyakarta)

Nothing is impossible. In her dexterous hands anything can turn to be unique. She always has fresh ideas. I don’t know what is in her mind. Perhaps her world is so colorful and full of dreams. She materializes them into beautiful things. Her drawings are so unique with childhood character. Perhaps that is the way she is. Despite a grown-up woman and even a mother, she still has an imagination about a little girl in a fairy tale. Tovic Raharja (Creative & Marketing Grand Pacific Hall, Yogyakarta).

Previously I didn’t pay much attention to the term: “Jahitangan”. For me, her works are always unique. She really knows her friends; their inclinations, tastes, types, etc. Though borrowing her hands, I feel like it is indeed my own hand-sewing. And uniquely it is so Tina (or so Jahitangan), isn’t it? One reason that I choose her hand-sewing product is the appropriate thickness of her pillow dolls. They are very much suitable to what we want; they are huggable. They are so warm, very nice to be hugged. The thickness is appropriate to prop parts of our body as we order; to prop our back, buttock, head, etc. They are so versatile like my owl doll, which can be a little travelling pillow. It is child friendly. She chooses materials that cannot injure children’s skin or harm them. So, once it fits me, I won’t go anywhere. J. Maria Carmelia S (Teacher at Sunsmile Kids).

“There are power of love and compassion in your hand-sewed dolls. I want to keep hugging them”.  Nur Cahyati W (Librarian at American Corner, UGM).

They are so cute; they are creatively and nicely made. I give them to my friends and nieces. And they do love them.  Rismilliana Wijayanti (Manager of VWFA).

 “Aunty, thank you for the Dino dolls. I call them Tito and Tato. They’re so cute and adorable. They always accompany my sleep if my mother and father haven’t got home”. Emmanuel Devanand Onduko (5 years old, kindergarten in Salatiga)

A brief profile
She was born in Purwokerto, in August 11st, 1977. She was graduated from Psychology Department of Sanata Dharma University in Yogyakarta. Since 1997 until present, she has worked for various activities of both performing and visual arts. Her exhibition debut took place in 2003 in Sanata Dharma University. On that occasion she was awarded as the winner of painting competition. “Mimpi Dunia Empuk” will be her first solo exhibition after for years working behind the scene, helping artists in many art events. 

BAHASA INDONESIA
‘Mimpi Dunia Empuk / Dream of Pillowy World’
Pameran tunggal karya Agustina Tri Wahyuningsih
Via Via Café Traveller
Jalan Prawirotaman No 30, Yogyakarta, Indonesia
22 Desember 2011 – 12 Januari 2012

Negeri Dongeng yang Empuk

Mengenal Agustina Tri Wahyuningsih atau lebih akrab dipanggil Tina (perempuan kelahiran Purwokerto, 34 tahun) adalah sosok yang tidak pernah bisa diam. Pembawaannya yang kalem, khas perempuan Jawa, namun aktivitas dan ide-idenya terus bermunculan. Mulai dari membuat boneka ala Jepang, membuat tas dan kaos, lukisan diatas papan kayu dan yang terbaru saat ini adalah karya-karya bonekanya. Menurut Tina, inspirasi untuk karya-karya ini sebenarnya sudah jauh terpendam dalam pikirannya, namun baru bisa terrealisasikan di awal tahun ini; dimana sekarang ia lebih punya waktu senggang sambil merawat putri cantik pertamanya, Kaysha (18 bulan).

Memiliki Kaysha saat ini semakin menginspirasi Tina bertekun di dunia bonekanya. Dan mendampingi Edo Pillu, sang suami yang dikenal sebagai perupa, juga pengalaman kerja dan pergaulannya di lingkaran seni rupa Yogyakarta, sedikit banyak memberinya ide-ide segar untuk karyanya. Tina memang hobi dengan hal-hal yang berkenaan dengan dekorasi, kain katun, dunia dongeng dan ilustrasi didalamnya. Kombinasi dari latar belakang dan hobinya tersebut, jadilah karya-karya karakter Tina ini.

Mengutip testimoni dari seorang sahabat sekaligus konsumennya , Maria Carmelia, yang menggambarkan bagaimana kecenderungan karya Tina mulai dari soal selera, tipe dan warna. Maka, meskipun di luar sana, mungkin ada produk-produk yang mirip dan sudah lebih dulu muncul, tetapi karya Tina yang kemudian dilabeli ‘jahitangan’ memiliki kekhasan ala Tina. Cek saja dari pilihan karakter motif kain, jenis kain dan figur boneka yang ia buat, itu khas Tina. Bagi Tina, pekerjaan yang terkonotasi domestik ini merupakan pelampiasan dari ide-ide unik dan kreatif, disamping itu ia bisa bermain dan bereksplorasi di dalamnya. Menumpahkan sebuah dongeng dan figur-figur bermotif kontemporer dalam sebuah boneka. Kenapa boneka? Boneka adalah benda mengantarkan kita bermain, berkesan lucu, imut dan hampir semua kalangan umur  menikmatinya, mulai dari kanak-kanak hingga orang dewasa.
Kembali mengutip testimoni Maria Carmelia, ia sangat terkesan dengan ketepatan tebal boneka bantalnya, amat sangat pas dengan apa yang kita inginkan, empuk. Pameran ‘Mimpi Dunia Empuk’ ini mencoba mengantarkan kita pada imajinasi-imajinasi yang melanglang jauh, membuat kita lebih nyaman dengan dongeng-dongeng yang diciptakan. ‘Dan yang jelas aku ingin boneka karyaku tidak hanya sebagai bantal, tapi dia mampu menjadi bagian dari karya yang bisa berada dimana saja, dinikmati siapa saja. Aku ingin mengajak semua penikmat bermain-main di dunia empuk’, demikian angan-angan Tina.

Selamat menikmati dan mari sama-sama bermimpi indah.

Nunuk Ambarwati

Testimoni
Menurut aku, karyanya Tina unik dan aku belum pernah menjumpainya di tempat lain. Tina dapat menuangkan permintaan pemesan dalam kreasi bantalnya dengan cantik. Edisi binatang sudah, kapan ya edisi sayur dan buah muncul? Aku juga sedang menanti kreasi bantal dari kain batik hehehehe… Meida Rosa Delima Tanlain (Pengajar Taman Kanak-kanak di Newmont, Sumbawa).

Saia sangat suka dengan karya-karya bonekanya mbak Tina... Lucu-lucu dan bisa dibuat berbagai macam bentuk sesuai dengan keinginan...Salam, Miu Kyung (bekerja di Sangkring Art Space, Yogyakarta).

Tidak ada yang tidak mungkin. Di tangan Tina, melalui kepiawaiannya mengolah sesuatu yang biasa menjadi unik. Selalu ada ide segar yang muncul. Entah apa yang ada dalam otak dia, mungkin dunianya yang penuh mimpi dan warna, lalu dia wujudkan dalam pernik-pernik cantik dan karya gambar yang mempunyai ciri khas kanak-kanak. Mungkin itulah Tina, di dalam tubuhnya yang tumbuh dewasa dan bahkan sudah menjadi ibu. Dia masih punya khayalan tentang gadis kecil di negeri dongeng. Tovic Raharja (Creative & Marketing Grand Pacific Hall, Yogyakarta).

Tadinya saya tidak terlalu memperhatikan namanya: ‘jahitangan’. Karena bagi saya, ini karya Tina yang selalu khas. Seperti kekhasannya yang mengenal teman-temannya; kecenderungan selera, tipe, warna dan seterusnya…rasanya memang ini ‘jahitangan’ku – tapi pinjem tangan Tina. Dan uniknya, justru Tina-Sekali (atau harusnya: ‘jahitangan’-sekali ya?) J Salah satu yang bikin ‘jahitangan’ jadi pilihanku adalah ketepatan tebal boneka bantalnya. Amat sangat pas dengan apa yang kita inginkan: pelukable (tebalnya pas buat dipeluk-peluk), ganjelable (ketebalan pas buat mengganjal bagian-bagian tubuh sesuai yang kita pesan peruntukkannya: ganjel punggung, ganjel pantat, ganjel kepala, atau serbaguna seperti owl pesanan saya yang memang untuk bantal mungil travelling, dan children friendly. Bahan-bahannya memang dipilih yang tidak akan melukai kulit anak atau membahayakan anak. Jadi, ya gimana ya…kalau sudah cocok itu kan ya nggak kemana-mana J. Maria Carmelia S (Pengajar di Sunsmile Kids).

“Ada kekuatan dan kelembutan cinta di jahitan tangan bonekamu. Jadi pengen meluk terussss…”. Nur Cahyati W (Librarian di American Corner, UGM).

Bentuknya lucu, kreatif dan rapi. Saya bagi ke teman-teman dan keponakan. Semua suka! Rismilliana Wijayanti (Manajer Jogja Contemporary).

"Tante, terima kasih boneka dinonya. Tak kasih nama Tito sama Tato. Luccuuu banget gemesiinn, sekarang mereka teman bobokku loh kalo mama dan papa belum pulang". Emmanuel Devanand Onduko (umur 5th, TK besar di Salatiga).

Profil singkat Agustina Tri Wahyuningsih
Lahir di Purwokerto, 11 Agustus 1977. Tina merupakan lulusan sarjana jurusan Psikologi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Sejak tahun 1997 hingga saat ini, Tina aktif di berbagai kegiatan kesenian sebagai seorang pekerja seni, baik seni pertunjukan hingga seni rupa. Debut pameran pertamanya di tahun 2003, dimana ia sekaligus mendapat penghargaan sebagai juara pertama lomba lukis di kampus Sanata Darma. ‘Mimpi Dunia Empuk’ menjadi gelaran perdana pameran tunggalnya setelah sekian lama bekerja di balik layar membantu para seniman dan sebagai pekerja seni dalam sebuah event.

Ucapan Terima Kasih
Tuhan YME, para malaikat yang baik hati, orangtuaku, suamiku, malaikat kecilku “Kay”, kakak-kakakku | Nunuk Ambarwati & MAM-nya | Farah Wardani | Meida Rosa Delima Tanlain | Miu Kyung | Tovic Raharja | Maria Carmelia S | Nur Cahyati W | Rismilliana Wijayanti | Emmanuel Devanand Onduko & Ruth Onduko | Mie Cornodeus, Putri Santoso dan segenap staf Via Via Café Traveller

Diterbitkan di koran Tribun Jogja, rubrik Art & Culture, halaman 12, Minggu, 30 September 2012





Wednesday, April 11, 2012

Kinci's Imagination

IMAJINASI
Solo exhibition by Roby Dwi Antono
21 April - 30 May 2012
Tirana House - Boutique & Artspace
Jalan Suryodiningratan No 55 Yogyakarta 

KINCI’S IMAGINATIONS
 
One afternoon, a friend of mine, Iwan Effendy recommended me to see Roby Dwi Antono’s artworks. I was so excited, feeling like just finding an oasis in the middle of a dessert (art scene). Then I thought I had found a new idol. He was born in 1990 in Ambarawa, Central Java. He lives in Yogyakarta and has been working as illustrator and graphic designer since 2010. Despites his young age, his artworks are really refreshing. From the very first time we met, I knew he is a down-to-earth person. He admitted that he started drawing since kindergarten. He never studied art in art school. He developed his painting skill in Vocational High School of Engineering. He took class of graphic design. He used pencil first when he started drawing, then he used color pencil, pastel and poster paint. He also had tried using paper, canvas and wood. He explored the media during his learning. His curiosity to use other types of media than pencil always drives him to create works. At present he is learning to use acrylic applied on canvas. He admitted that he has not had chance to use oil paint.
His artworks are influenced by those of world artists like Mark Ryden, Marion Peck, Nicoletta Ceccoli, Ray Caesar, Jana Brike and Dilka Bear. His family, friends, daily things including his childhood also have important role in influencing his works. He said that Mark Ryden is one of his favorite artists. Rayden is American artist. He is the king of Pop Surrealism movement. For him, the artist is very amazing, not only because of his fine and beautiful visualization but also of the mystery enclosed deeply within his works. “Watching his, artworks, I feel like I am falling into them and able to feel what he paints”, Roby said. Likewise, when we look at Roby’s works, it feels like we are inside them, closely feeling their attractiveness, happiness, sadness and even tragedy. It is like we are entering a dream world. Every mystery is made to make everyone freely contemplate and draw their own conclusions from what they see. 
The theme “Imagination” has appeared out of Roby’s conversation with a friend about their childhood dreams. According to him, we cannot limit whatever we will do in the future, we are never afraid to have dreams. Within an imagination surely lies a strong ambition to make it come true. Such spirit could be felt in his debut exhibition. As quoted from Walt Disney - If you can dream it, you can do it.
In accordance with this headline, Roby would like to share the beauty of children imaginations so that we will always keep our dreams alive. Because usually as we gets older and older, our ambition to accomplish our childhood dream collide with fear of failure. A great idea sometimes comes from impossible imagination. “So, free you imagination,” Roby advised. He has made some researches with his friends as the subjects to find out their childhood dreams. He randomly did the research with friends of the same, younger and much older age. He sort and chose dreams that were considered interesting and imaginative enough. Then he put them into his artworks, combining them with his own imaginations. So, here they are 15 new artworks being exhibited now, along with 5 old artworks as references for comparison.  
Although his artworks belong to surrealism, daily realities are of his inspirations in the process of creations. For this exhibition Roby is presenting artworks of pencil drawing on paper. According to him, drawing is the mother of the beauty of visual art. Every attractive works of art comes from a simple drawing/sketch. Concerning drawing technique with pencil, he prefers shading to blending one. He uses mechanical pencils because with them he can make small objects in detail. His reason of using pencil than other instruments is that for him with pencil it is easier to communicate his ideas. With pencil he also enjoys every stroke and sketch. An attractive subject on drawing medium can be created with different intensity of thickness made with pencil strokes. His skill of using acrylic paint can also be seen in one of the works being exhibited, namely the work titled “Pilu Lalu”.
If we observe especially his drawing works more deeply, we can see that he always have empty space in each of his work. He said that empty space can make his subject get correct focus. Therefore, it is easier for his audience to understand what he tries to communicate through his works although in nature surrealism is hard to understand. For him empty space in an artworks is like air with what the subject of the artworks “breaths”. His reasons above are based on his experiences and education background with graphic design.
            About the rabbit, here is Kinci. It is the character all this time Roby uses in his works. He said that Kinci the rabbit symbolizes the sensitivity to beauty, coziness and mystery like art itself. Although sometimes it looks dumb, it is indeed a cute animal. It hates violence, criticism, untidiness and filthiness. He admitted that it is like him. The rabbits in his works are actually himself, his alter ego. For him, he wants everyone to know him from these rabbits.   
 
Enjoy the works. Keep imagining and hopefully get inspired!
 
Nunuk Ambarwati
 
Sources:
Interview via email with Roby Dwi Antono, 4 April 2012.
http://nylonindonesia.com/article/read/64757/ARTIST-ROBY-DWI-ANTONO (downloaded on 7 April 2012).

Sunday, October 16, 2011

Alif & Sosrokartono


Membaca buku ini, menginspirasi saya untuk menulis. Disamping memang sudah lama tidak menulis, entah kenapa…buku ini membuatku tergerak untuk menulis, mengomentarinya dan mencoba membaginya ke publik. Mungkin juga karena berjarak dengan orang yang ditulis atau penulis di dalamnya. Atau mungkin juga terlalu dekat dengan sosok yang ditulis mau pun penulisnya. Sebuah buku bersampul depan hitam polos, kebetulan warna yang saya sukai, dengan huruf Alif warna perak di tengahnya. Sederhana…, tak ada sebaris kata apa pun di sampul depannya, kecuali Alif. Tebal 163 halaman, tersedia dalam bahasa Indonesia dan Inggris, dan judul buku tersebut adalah RISALAH RAJAH SOSROKARTONO – Lukisan Profetik K.H. M. Fuad Riyadi di Era Pascamodern. Ada 3 penulis utama dalam buku tersebut, yakni dibuka oleh tulisan Joni Ariadinata, kemudian inti dari buku ini ditulis oleh Mikke Susanto dan ditutup sangat arif dengan tulisan Bambang Sugiharto. Buku ini memang diterbitkan dalam rangka pameran ALIF: Pameran Tunggal Lukisan K.H. M. Fuad Riyadi, di Bandung, September 2011. Diterbitkan oleh Lukisan Sang Kyai Management, Yogyakarta, 2011.
Saya beruntung bisa mendapatkan buku ini sekitar bulan September 2011 dan baru sempat membacanya sekitar sebulan setelahnya. Sebelumnya, memang hanya saya pajang dalam rak buku koleksi saya. Tak ada niatan ingin membacanya, ah paling-paling hanya itu-itu saja isinya. Karena kebetulan, 3 bulan sebelumnya, saya mengorginisir pameran tunggal lukisan karya K.H. M. Fuad Riyadi. Sehingga, sedikit banyak sudah paham, cukup mengetahui seluk beluk, hingar bingar hingga kontroversi perihal sosok K.H. M. Fuad Riyadi khususnya, karya-karya lukisannya hingga kehidupan pondok pesantren yang dipimpinnya.
Ketika pada suatu hari kemudian, saya tergerak untuk serius membaca kata demi kata di dalamnya. Menarik, mengalir, puitis, penuh informasi dan cukup komprehensif. Meski di akhir bacaan, saya masih terasa haus informasi dari apa yang saya harapkan dari isi buku tersebut. Seharusnya bisa lebih banyak, seharusnya bisa lebih panjang, seharus bisa lebih tebal dan seterusnya. Sekilas melihat dan menyentuh buku ini, sepertinya kita akan mendapat banyak hal, hmm…namun, mungkin terkesan tebal karena kemudian masih ada halaman bahasa Inggris di dalamnya.
Meski dalam tulisannya, Mikke Susanto menjabarkan panjang lebar dan membantu pembaca memasuki siapa itu K.H. M. Fuad Riyadi, apa relasi seni dan religi dan posisi karya K.H. M. Fuad Riyadi – namun sayangnya hanya satu karya lukisan yang berjudul Rajah Sosrokartono saja yang diulas. Dari ratusan karya K.H. M. Fuad Riyadi yang sempat saya lihat dan dipamerkan kala itu, memang saya juga setuju ketika kemudian karya Rajah Sosrokartono menjadi begitu kuat untuk diperbincangkan dan kemudian dibukukan. Semata menurut pendapat saya pribadi, tokoh Sosrokartono sendiri sudah sungguh menarik dikedepankan. Juga karena entah kenapa, karya tersebut membawa magnet begitu dahsyat untuk diapresiasi. Dari buku tersebut, saya baru tahu betul bagaimana proses lukisan tersebut dihasilkan, apa yang melatarbelakanginya hingga detail kata per kata yang ada dalam kanvas tersebut. Saya menjadi semakin ingin tahu perihal siapa Sosrokartono yang bersahaja itu. Lukisan tersebut menjadi sarat makna, magis dan terkesan benar rajah. Siapa pun kolektor dari lukisan ini nantinya, akan sangat beruntung dengan diterbitkannya buku ini.

Friday, September 30, 2011

Artist Statement 'Jowo Adoh Papan'


JOWO ADOH PAPANPius Sigit Kuncoro
Di kota Jogja, saya dapat mendengar tembang-tembang Hiphop berbahasa Jawa. Dan jika berkeliling kota, saya pun menjumpai grafiti-mural dengan aksara-aksara Jawa. Semua tampil seadanya, walau terlihat compang-camping, tapi lucu menggemaskan.
Bahasa dan aksara Jawa kini telah muncul sebagai ekspresi jalanan. Saya tidak tahu persis kapan ini bermula. Yang jelas telah membuat saya bertanya, “apakah Jowo wis adoh soko papan, mulo podo urip neng ndalanan?”.
Adoh soko papan dapat diartikan sebagai jauh dari rumah, atau tidak berumah lagi. Secara politis dapat dikatakan telah kehilangan badan keorganisasiannya dan tidak lagi terikat pada aturan baku. Jika dikaitkan dengan status keistimewaan Jogja yang sedang tersandera saat ini, mungkin ada benarnya. Tanpa kedaton dan ratu yang wenang, Jowo menjadi adoh soko papan.
Jowo yang adoh soko papan adalah Jowo yang secara material telah kehilangan nilai tawarnya. Jowo demikian, menjadi Jowo yang compang-camping, dan hidup hanya pada posisi bertahan. Dalam posisi ini Jowo hanya menjadi spirit yang keno lorone ora keno patine, seperti punokawan yang babak belur tapi tidak pernah mati.
Dalam karya cat air yang saya pamerkan kali ini secara visual saya menempat orang-orang Jowo yang adoh soko papan, sedang semangat yang saya tampilkan adalah keno lorone ora keno patine. Harapan saya, karya-karya ini dapat menghibur, menggelitik, lucu, dan menggemaskan.
Tambahan:Tentang Norman RockwellSeorang Maestro Amerika yang dikagumi oleh hampir seluruh mahasiswa DISKOM-ISI Jogja saat saya kuliah dulu. Karya-karyanya menjadi standar capaian tertinggi, dan referensi penting untuk meraih nilai tertinggi dalam tugas-tugas ilustrasi.
Pameran ini terselenggara berkat kerjasama Mixed Art Management | MAM dan Via Via Café Traveller.

JOWO ADOH PAPAN (Away from Home)

In Jogja I can hear Hip Hop songs using Javanese language. If I go around town, I can also see graffiti and murals that use Java letters. They appear as they are. Although they look in tatters, they are very cute and adorable.
Javanese language and letters have now emerged as part of street expression. I do not know exactly when this started. Obviously this has made me ask, "Have Javanese people been far from home so that they have to live on the streets?
"Adoh soko papan” means "away from home" or even "no longer having home". Politically, this can be understood as a form of loss of the parent organization or a condition of being separated from traditions. If we have to link it to the specialty of Yogyakarta, perhaps this is true. Without powerful palace and king, the Javanese people will be displaced from their homes.
Javanese people who are away from home are those who materially have lost their bargaining power. They become ragged and their lives are stagnant. Thus, Javanese people, like the saying "Keno Lorone ora keno patine", feel the pain but death will never come to them. They are like the battered Punokawan who never die.
In my watercolor works I am exhibiting now, visually I put Javanese people who are away from home. They are the ones implied by the proverb "Keno lorone ora keno patine". I hope that these works can be entertaining, intriguing, funny and adorable.
AdditionalNorman Rockwell is an American maestro who had amazed me and my fellow students in Communication Design Department of the Indonesian Institute of Arts-Yogyakarta. His works. His works became our highest standard of achievement. They were important references for us to get good scores for our illustration assignments.

JOWO ADOH PAPAN


Pameran tunggal lukisan cat air karya Pius Sigit KuncoroVia Via Cafe Traveller, Yogyakarta | 6-25 Juni 2011
JAWA ALA PIUS SIGIT

Berawal dari pesanan untuk mengisi ilustrasi pada sebuah buku, Pius Sigit Kuncoro [kelahiran Jember, 17 April 1974] akhirnya kembali menekuni teknik cat air di atas kertas. Bagi seorang Pius Sigit, lulusan Desain Komunikasi Visual ISI Yogyakarta ini, bukan hal baru berkarya dengan cat air. Mengaku sudah lama meninggalkan media ini, namun, sekitar 2 tahun belakangan, dia kembali bekerja dengan media tersebut. Kita paham bahwa melukis dengan cat air memiliki tingkat kesulitan tersendiri, sekali gores tidak boleh salah. Beberapa pendapat pun sepakat bahwa Pius Sigit lebih maksimal karyanya dengan cat air ini. Keahliannya melukis dengan cat air betul-betul bisa diandalkan. Mengapa saat ini sedang bereksplorasi dengan cat air pun, lebih karena merespon situasi studio yang dipakainya kini. Studio tempatnya bekerja saat ini di daerah Dongkelan, Bantul, lebih akomodatif ketika Pius Sigit bekerja dengan media cat air.
Pada kesempatan pameran tunggalnya yang ke 3 kali ini, Pius Sigit membawa kita kepada tema-tema Jawa modern yang mistis melalui karya-karya yang dihadirkannya. Tema pamerannya pun tak jauh dari figur-figur yang ditampilkan dalam karyanya, yakni JAWA ADOH PAPAN. Dipilihnya tema ini karena tergelitik oleh karakter kekinian orang Jawa, yang tidak luput dari pengaruh perkembangan teknologi dan modernitas, sehingga tinggal spirit Jawa-nya saja yang masih bisa kita rasakan. Pius Sigit, penulis mengenalnya memang sesosok orang yang menyukai dan memahami dunia Jawa. Dimana ia juga pernah ‘berguru’ bahkan menjadi ‘anak kesayangan’ dari almarhum Sigit Sukasman, seorang seniman wayang di Yogyakarta. Disamping itu, Pius Sigit juga pernah bergabung dalam kelompok GEBER ModusOperandi [1999-2001], yang menampilkan karya-karya performance instalasi futuristik di kala itu. Maka tak heran buat penulis, dengan latar belakang hidupnya tersebut, Pius Sigit menampilkan tema Jawa dan modernitas pada karya-karyanya.
Pada serinya terdahulu, karya-karyanya kelihatan sangat terinsipirasi oleh seniman Norman Rockwell, seorang pelukis dan illustrator asal Amerika di era abad ke-20. Pius Sigit pun mengakui bahwa dia berkiblat dari karya-karya Rockwell. Bisa kita lihat dari karakter atau figur-figur yang dia gambar hingga pemilihan warna yang cenderung ke warna pastel. Meski terlihat kentara pengaruh Rockwell, Pius Sigit tetap memasukkan unsur Jawa ke dalam karyanya. Sehingga pada seri karya terdahulunya, kita seperti berada dalam sebuah narasi yang berlatar Eropa dan Jawa. Sedikit aneh, tetapi sangat menggelitik.
Saat presentasi seri karya terdahulunya, kami [Mixed Art Management | MAM] dibuatnya terkesima karena kemampuannya mengolah cat air dan tema pada karya yang ia hadirkan. Hal itu pula yang membuat kami terbersit niat untuk menghadirkan karya-karya dalam sebuah pameran agar bisa direspon publik lebih luas di Via Via Café, 6 hingga 25 Juni 2011.
Kini, Pius Sigit menampilkan seri karya terbarunya. Seri karya terbarunya ini pun hadir tidak dengan sendirinya. Pius Sigit mengaku sempat stagnan dengan seri karya terdahulunya. Tentu hal yang sulit ketika seorang seniman harus kembali memunculkan mood berkarya. Seiring perjalanan waktu, akhirnya ia menemukan seri tema karya terbarunya ini. Pada seri karya terbarunya ini, Pius Sigit menggunakan peribahasa-peribahasa Jawa untuk judul, tema mau pun figur untuk karyanya lengkap dengan huruf Jawa kuno. Misal, Anak Polah Bapa Kepradah, dimana kurang lebih artinya jika si anak bertingkah laku nakal atau menyimpang, orang tua terkena getahnya juga dan ikut bertanggung jawab juga repot. Peribahasa-peribahasa Jawa tersebut oleh Pius Sigit dijabarkan artinya ke dalam karya-karya yang ditampilkannya. Sedikit banyak kita menjadi mengerti perihal arti dari peribahasa Jawa yang tersebut lewat sebuah gambar yang menggelitik. Unik sekali. Selamat menikmati….
Yogyakarta, Mei 2011Nunuk AmbarwatiMixed Art Management | MAM

PIUS SIGIT’S STYLE OF JAVANESE CONCEPTION
Due to an order of creating illustrations for a book, Pius Sigit Kuncoro [Born: Jember, 17 April 1974] finally works again with watercolor on paper. For Pius, who was an alumnus of Visual Communication Design Department of the Indonesian Institute of Arts – Yogyakarta, it is not a new thing. He used to work a lot with these media. About two years recently he has worked again with watercolor and paper. We realize that painting with watercolor has its own degree of difficulty. Once a stroke is put, it cannot be mistaken. Some critics agree that Pius Sigit can work more optimal with watercolor. His capacity in painting with watercolor is not questionable. The reason why he does explorations with watercolor is that he tries to make response to the situations of the studio where he works at present. It is situated in Dongkelan, Bantul. It is more accommodating for him to work with watercolor.
In his third solo exhibition, Pius Sigit takes us to themes concerning the mystical modern Java through his works. The exhibition’s theme, “Jawa Adoh Papan”, is also not far from the figures appearing in his paintings. This theme is raised because he is tickled by the contemporary Javanese people, who cannot escape from the influences of technological progress and modernity. However, the Javanese spirit still remains. The writer knows him indeed as a person who is interested in Javanese culture. He somewhat understands much about it. This certainly is not apart from his time when he became a student, and event the “favorite son” of the late Sigit Sukasman, an artist of Javanese wayang tradition, living in Yogyakarta. In addition, Pius Sigit also joined a group called GEBER ModusOperandi (1999-2001), which created works of futuristic performing installations. Therefore, it is not so surprising for the writer that he brings themes of Javanese culture and modernity in his works.
In his previous series of works, it is obvious that he is inspired so much by Norman Rockwell, a painter and illustrator from United Stated. Pius Sigit admits that he does look up to Rockwell’s works. The influences can be found in the characters or figures becoming the subjects of his paintings and the tendency of using pastel colors. Although Rockwell’s characteristics are quite noticeable, he always puts into his works Javanese elements. Therefore, observing his old works, as if we entered into a narration with European and Javanese backgrounds. It is a bit weird but very witty.
When through his previous series of works, his ability of cultivating watercolor and themes have made us (Mixed Art Management | MAM) amazed. Hence, we intend to present his works to wider public in an exhibition at Via Via Café from 6 to 25 June 2011.
Now Pius Sigit is presenting his new series of works. He admitted that after the era of his previous works, he happened to go through stagnancy. It is certainly difficult for an artist to resume his mood to create the same artworks again. However, he finally has found this theme for his new works. Now he uses Javanese proverbs for the titles and themes. He also makes appear the Javanese figures and Javanese old letters. For example, he entitles one of his works with the proverb “Anak Polah Bapa Kepradah”. It means more or less that if a child behaves badly, the parents also take the responsibility. He describes the meanings of the proverbs with his paintings. To some extent we becomes more aware of the meanings of the Javanese proverbs through his amusing paintings. They are really unique.
Enjoy the show.
Yogyakarta, May 2011

Nunuk Ambarwati
Mixed Art Management | MAM

Thursday, September 29, 2011

Mixed Art Management


MIXED ART MANAGEMENT | MAM
Kebutuhan akan manajemen seni rupa yang terorganisir rapi, terbuka, praktis, cepat dan sesuai dengan anggaran yang tersedia, merupakan hal penting guna mendukung suksesnya sebuah kegiatan kesenian mau pun perkembangan positif karir seorang seniman.
Mixed Art Management | MAM bediri sejak tahun 2009 dan berbasis di Yogyakarta, Indonesia. Kami terdiri dari individu-individu yang berpengalaman dalam mengelola kegiatan kesenian dan profesional di bidangnya masing-masing. Kami bekerja dengan efektif, tepat waktu dan efisien. Dan kami siap membantu kebutuhan seniman untuk menyelenggarakan dan mengorganisir event-event kesenian, khususnya seni rupa dengan mengutamakan dialog yang terbuka dan mencari solusi bersama.
Salah satu tujuan MAM yaitu, berharap seniman dapat bekerja dan fokus pada wilayah penciptaan karya dan membangun perkembangan karir seniman dengan menyelenggarakan kegiatan-kegiatan kesenian di dalam ataupun di luar negeri. MAM melakukan kerjasama profesional bagi para seniman perseorangan mau pun bekerja dengan tim dan tidak membedakan seniman secara usia, etnis atau level kesenimannya. Namun demikian, MAM tetap melakukan seleksi atas permintaan jasa manajemen dalam penyelenggarakan kegiatan kesenian, semata-mata demi kualitas kerja yang maksimal.
MAM selalu berusaha menjadi salah satu manajemen seni yang baik dan ideal bagi seniman dan dunia seni di Indonesia dan Yogyakarta khususnya, serta menciptakan pembaharuan strategi yang dinamis dengan presentasi penyelenggaraan dan manajemen profesional. MAM memiliki kemampuan untuk menjadi partner dalam membangun karir seniman dan bekerjasama bersama dengan jujur dan mengedepankan etika profesionalisme yang tinggi dalam penyelenggaraannya.
MAM menawarkan spesifikasi pekerjaan meliputi; Event Organizing [penyelenggaraan event kesenian], Media Relation [mengorganisir konferensi pers dan bekerjasama dengan media massa cetak, online dan elektronik untuk promosi dan publikasi event], Promosi Karya [memasarkan karya] dan Artist Management [bekerja bersama seniman untuk mengatur manajemen dalam karir berkesenian].

Kontak person:
Nunuk Ambarwati +62 81 827 7073 dan atauDevie Triasari +62 817 548 7538
Alamat surat :Jl. Gamelan Kidul No 22, Yogyakarta 55131. Indonesiae/ mixedart.management@gmail.com, info@mixedartmanagement.comqnansha@yahoo.com, devdiet@yahoo.comweb/ www.mixedartmanagement.com
MIXED ART MANAGEMENT | MAM
‘Small But Sharp’
The need of a well-organized management for supporting the development of the career of an artist and the success of every activity related to art is very important. It must be open, practical, quick and pro-budget.
MAM was founded in 2009 in Yogyakarta. It consists of individuals who are experienced in managing art activities and professional in their respective fields. We hold the principle of effective, punctual and efficient working. We are ready to assist artists to organize and carry out their art activities, especially related to visual art. In doing so, we put forward open dialog for reaching mutual solution.
One of our goals is to make artists able to focus on their process of creating artworks and to develop their career by carrying out art activities both in home and abroad. We make professional collaboration with artists both as individual and team. We do not discriminate artists based on age, ethnicity or artistic level. However, we do selection at the requests for service of organizing art activities to achieve optimal quality of work.
We always try to be the best art management ideal for artists and art world in Indonesia and especially in Yogyakarta through implementing new dynamic strategy of professional art management. We put forward integrity, transparency and professionalism as partner for artists in organizing their activities and in developing their career.
The specification of our works consist of Event Organizer [organizing art activities], Media Relation [organizing press conference and collaborating with mass media both print and electronic to promote and publicize an event], Artwork Promotion [offering artworks to public] and Artist Management [working together with artists to manage their career].
Contact persons:Nunuk Ambarwati +62 81 827 7073Devie Triasari +62 817 548 7538
Postal address: Jl. Gamelan Kidul no 22, Yogyakarta 55131. Indonesia
e-mail : mixedart.management@gmail.com,
qnansha@yahoo.com, devdiet@yahoo.comwebsite : www.mixedartmanagement.com


Tuesday, September 08, 2009

September Ceria




PENGANTAR PAMERAN

‘SEPTEMBER CERIA’
Pameran seni visual yang mengedepankan karya patung, instalasi dan toys
Dalam rangka memperingati tahun ke-3 eksisnya Jogja Gallery
Jogja Gallery, Yogyakarta | 8 September – 18 Oktober 2009

Sekilas tentang Jogja Gallery
Di bulan September, tepatnya tanggal 19, Jogja Gallery [JG] telah memasuki usia 3 tahun. Usia yang terbilang muda. Meski demikian, sebagai sebuah representasi ruang pamer dan promosi seniman-seniman Indonesia, kami telah menyelenggarakan 48 event pameran seni sejak kami berdiri. Tentunya bukan perkara yang mudah, di saat menggagas hingga tetap eksisnya galeri ini dengan berbagai pasang surutnya masalah internal dan eksternal yang menyertainya. Mengingat awal galeri ini diresmikan banjir kritik hingga respon sebelah mata menyambut berdirinya Jogja Gallery kala itu. Mulai dari untuk apa sebuah galeri baru berdiri di tengah kondisi stagnannya seni visual Indonesia dari pengaruh pasar atas gencarnya karya-karya seniman China kala itu. Juga perihal tanda tanya publik mengenai siapa saja ‘oknum’ di balik berdirinya Jogja Gallery, akankah menjadi jaminan sebuah galeri bisa diandalkan dan dibanggakan, apalagi menggunakan nama kota sebagai brand-nya. Jogja Gallery merupakan Galeri swasta murni yang dibangun atas dukungan para investor. Seperti sudah jamak kita diketahui, dimana rata-rata pendiri galeri di Indonesia adalah orang asing, tetapi tidak dengan Jogja Gallery. Para pendiri Jogja Gallery yang kesemuanya berasal dari Yogyakarta tersebut adalah KGPH Hadiwinoto, Sugiharto Soeleman, Bambang Sukmonohadi, Soekeno dan KRMT Indro ‘Kimpling’ Suseno. Mereka hadir ditengah-tengah masyarakat Jogyakarta tentunya dengan kepedulian tinggi terhadap seni, khususnya seni rupa. Terwujudnya Jogja Gallery ini selain dari kepedulian mereka juga dukungan dari berbagai pihak yang secara langsung mau pun tidak langsung ikut andil dan support di berbagai event yang diprogramkan hingga saat ini.

Manajemen yang berbenah
Terus-menerus menciptakan inovasi merupakan salah satu bagian dari bentuk survive yang dilakukan Jogja Gallery. Untuk sekadar bisa hidup, merupakan misi awal yang tak terlalu muluk di tengah kompetisi pasar seni rupa Indonesia. Pasar yang penulis nilai sebenarnya tidak cukup sehat baik di Indonesia mau pun global. Pembenahan pada level manajerial terus dilakukan berdasarkan berbagai ‘benturan’ yang ditemui langsung di lapangan. Pujian mau pun komplain diubah menjadi siasat dan strategi yang tak henti dibenahi untuk terus bisa bertahan. Maka manajemen Jogja Gallery sepakat untuk memaknainya sebagai manajemen yang terus berbenah. Suatu kebijakan atau ketentuan bahkan bisa terus diupdate per minggu guna mendapatkan kinerja yang lebih baik.

Seiring meningkatnya aktivitas dan keberhasilan tiap penyelenggaraan pameran di Jogja Gallery, sorotan publik pun semakin kuat. Sorotan tersebut dirasakan menyeluruh, tidak melulu pada tema, muatan mau pun karya dalam tiap kali pameran yang diselenggarakan, juga kepada manajemen internal hingga tiap person yang terlibat di dalamnya. Hal tersebut jelas menyemangati manajemen Jogja Gallery untuk terus meningkatkan kualitas tiap event yang digelarnya dengan dibarengi niatan positif untuk turut memajukan infrastruktur seni rupa Indonesia. Dalam hal ini penulis lebih fokus pada sistem manajemen dan pasar yang berkembang dengan luar biasa mengejutkan dan kadang sangat sulit diprediksi. Di saat lukisan memasuki dunia bisnis yang sebenar-benarnya, maka mungkin kita harus menanggalkan ‘pesan’ dari lukisan tersebut. Siapa yang bermodal besar dia yang menguasai pasar. Modal bahkan bisa membentuk selera. Kita pun terseret berlaku dalam pasar yang sesungguhnya tersebut. Perilaku para pelaku pasar ini kadang membuat penulis gerah. Bahkan ketika seniman ikut terjun di dalam pasar itu sendiri. ‘Permainan-permainan’ dilancarkan para pelaku pasar. Jogja Gallery menyadari hal tersebut dan sebagai salah satu pelaku pasar kita harus jeli dan tidak terjebak dalam ‘permainan’ tersebut. Berani menentukan sikap dan berlaku tegas dengan ketentuan yang disepakati dalam manajemen, menjadi modal untuk menentukan arah misi dan visi galeri di tahun-tahun mendatang.

Hingga selama kurun waktu 2 tahun [sejak 2006-2008], Jogja Gallery bekerja sama dengan kurator tetap [in-house curator]; tercatat pernah bekerja sama dengan kami adalah M. Dwi Marianto [meski kurang lebih 2 bulan setelah Jogja Gallery berdiri, beliau mengundurkan diri] dan Mikke Susanto. Bersama beliau, Jogja Gallery tumbuh, berkembang dan mencatatkan diri dalam konstelasi peta seni rupa Indonesia. Berbagai event penting menjadi tanda sejarah Jogjakarta, seperti: Pada pameran perdana dan launching galeri, dipamerkan karya seniman “perekam sejarah” seni rupa Jogja mulai tahun 1970-2000 an yaitu ICON: Retrospective. Kompetisi Seni Visual The Thousand Mysteries of Borobudur dan Shadows of Prambanan kerjasama dengan UNESCO dan PT. Taman Wisata Candi Borobudur-Prambanan dan Ratu Boko. Di mana pada event ini banyak melibatkan para pelajar dan guru untuk mengikuti berbagai macam kegiatan untuk menambah wawasan dan ilmu bagi mereka, serta menambah nilai apresiasi yang tinggi khusunya dengan sekolah. Yang penting dan selalu dilakukan dalam setiap pameran yang digelar oleh Jogja Gallery adalah selalu menawarkan nilai visual kreatif dan inovatif. Untuk itu, dalam kesempatan yang berbahagia ini, kami mengucapkan terima kasih dan penghargaan atas kerja sama yang saling melengkapi, membangun dan membagi ilmu yang tak terbayarkan oleh apa pun selama bekerja dengan beliau berdua, terutama dengan Mikke Susanto.

Dalam perjalanannya, sejak awal 2009, Jogja Gallery kemudian menerapkan konsep yang lebih terbuka perihal kurasi dan kuratorial. Jogja Gallery mengundang dan membuka peluang kepada konseptor, kurator, galeri dan seniman tanah air untuk bekerja sama memajukan seni rupa kita. Sebagai sebuah penanda atas keberlangsungan cita-cita kami sebagai sebuah ikon budaya, sekaligus sebagai sebuah dedikasi kami, atas segala dukungan, kerja sama, perhatian dan kritik membangun dari rekan, kolega, sahabat dan mitra kerja kami yang turut membentuk dan membangun Jogja Gallery hingga saat ini, sebuah pameran yang berbeda kami hadirkan. Jogja Gallery dengan bangga mempersembahkan presentasi seni dengan kurasi dari tim pameran internal Jogja Gallery sendiri, yakni pameran patung, instalasi dan toys ‘September Ceria’ yang digelar sejak 8 September hingga 18 Oktober 2009.

Pameran 3 dimensi

‘September Ceria’, adalah sebuah pameran yang secara khusus mengetengahkan karya-karya 3 dimensi, berupa patung, instalasi dan toys. Tercatat di Jogja Gallery, pameran seni visual khusus karya 3 dimensi baru kami selenggarakan satu kali, yakni pameran bertajuk ‘Domestic Art Object | D.A.O [kurator: Mikke Susanto], tepatnya Februari 2007 yang lalu. Di luar itu, karya-karya 3 dimensi berbaur bersama dominasi karya 2 dimensi di setiap event pameran di Jogja Gallery. Kenapa September, jelas, karena pameran sebagai kaitan atas bulan berdirinya Jogja Gallery, disamping pameran ini juga diselenggarakan di bulan yang sama. Unsur ‘nakal’, ‘bermain-main’, bersenang-senang, dan happy ingin kami bawa dalam atmosfer pameran ini, untuk itulah kami tambahkan kata ceria pada tajuk pameran. Berharap, para seniman yang kami undang, terangsang untuk menciptakan karya-karya 3 dimensi yang menarik dan seinteraktif mungkin. Jogja Gallery tidak memberikan batasan terhadap ide karya atau pun tema. Karya-karya yang hadir diharapkan dapat memberikan rangsangan untuk terus menggulirkan ide-ide segar, belum pernah di buat karena adanya keterbatasan ruang pamer; namun tentunya tetap berkualitas dalam proses pengerjaan.

Lebih penting dari itu adalah, gagasan pameran ini juga tercetus dari masukan dari beberapa rekan seniman, ketika mereka melihat ruang pamer Jogja Gallery. Sebuah ruang yang megah dan lapang, serasa mengundang untuk direspon, juga untuk ditaklukkan. Ketika kami gulirkan gagasan ini kepada para seniman undangan, mereka dengan antusias merespon setiap sudut di ruang pamer kami mulai dari lantai, tangga hingga langit-langit. Pameran ini sekaligus memberikan ruang untuk karya-karya 3 dimensi untuk lebih bebas dan dominan tampil di ruang pamer Jogja Gallery. Besar harapan kami karya – karya yang di hasilkan dapat memberikan warna dan nuansa yang lain dari pameran-pameran kami sebelumnya. Karya-karya hadir dengan beda, segar, dan memberikan tantangan dalam ‘kecerdasannya’, ‘kenakalannya’, dan ‘sensitivitasnya’ dapat menemukan ‘bahasa dan bentuk’ yang menggugah dan memberikan pencerahan bagi banyak orang terutama untuk karya-karya 3 dimensi.

Dari ke-39 seniman yang terlibat dalam pameran ini, sebagian besar merespon dengan cerdas melalui karya-karya mereka atas inovasi dan persepsi masing-masing mengenai tajuk ‘September Ceria’. Ada yang bersifat protagonis mau pun antagonis atas bulan September itu sendiri. Meski pun demikian, karya-karya dalam pameran ini ingin kami kategorikan dalam 3 bagian media berkarya. Pertama, yakni karya-karya patung, seperti yang ditampilkan oleh Adi Gunawan, Ali Umar, Arlan Kamil, Candra Eko Winarno, Caroline Rika Winata, Dwita Anja Asmara, Eko Dydik ‘Codit’ Sukowati, Endang Lestari, Erica Hestu Wahyuni, Fransgupita, Grace Tjondronimpuno, Hariadi Nugroho, Hedi Hariyanto, Hendra 'He He' Harsono, Ismanto, I Wayan Upadana, Khusna Hardiyanto, Komroden Haro, M.Rain Rosidi, Rennie 'Emonk' Agustine, Saroni, Timbul Raharjo, Wahyu Santosa, Win Dwi Laksono. Kemudian karya instalasi, sebagai misal adalah karya Afdhal, Agustina Tri Wahyuningsih dan Edo Pillu, Eddi Prabandono, Hestu
(Setu Legi), I Made W. Valasara, I Made Widya Diputra, I Putu Aan Juniartha, Iwan Effendi, Lenny Ratnasari, Trie ‘Iien’ dan Gandhi Eka.

Dan yang terakhir adalah kategori toys, dimana dalam definisi yang kami dapatkan dari Wikipedia; mainan [toy] merupakan suatu obyek untuk dimainkan [play]. Bermain [play] sendiri dapat diartikan sebagai interaksi dengan orang, hewan, atau barang [mainan] dalam konteks pembelajaran [learning] atau rekreasi. Kategori terakhir ini, dalam karya yang dihadirkan kali ini belum cukup banyak direspon oleh seniman kita, terkecuali karya Cahyo Basuki Yopi, Samuel Indratma dan Studio Grafis Minggiran, yang bisa berinteraksi langsung dengan pengunjung dan penikmat pameran.

Tetapi apabila kita amati kembali, sebagian besar seniman ini telah mengadopsi definisi kata toys itu sendiri dan menerapkannya untuk mencipta karya, sehingga kita bisa melihat aura ‘bermain’ dalam masing-masing karya yang terpajang di sini. Seperti jelas terlihat dari karya Eddi Prabandono, ‘After Party’ yang terinspirasi hobinya mengayuh sepeda kemana-mana. Sepeda yang bisa diatur ketinggian sadel juga kemudinya hingga ke langit-langit ruang pamer, atau bisa mau diatur semau kita. Sungguh menarik! Demikian halnya dengan karya I Made Wiguna Valasara, yang mengaplikasikan detail motif pada karya lukisnya di t-shirt yang diproduksi terbatas. Ketika gagasan aplikasi ini diusulkan kepada kami, belum terbayangkan sedemikian uniknya. Setelah menikmati bahkan ‘meraba’nya, karya ini sangat terkesan ‘Valasara banget’!

Atau lihat karya Afdhal yang tampil mengesankan ‘Wake Up’, mengaku karya ini merupakan karya ke empat dari karya tiga dimensi yang pernah dikerjakannya sepanjang karier berkeseniannya. Afdhal memang sedang ‘bermain-main’ di ranah 3 dimensi untuk lebih bisa mengaplikasikan gagasannya secara lebih mantap. Karya ini mengingatkan kita tentang spirit bahwa manusia harus mempunyai peran penting dan mempunyai keyakinan hidup yang kuat, harus selalu bangkit … bangkit … dan terus bangkit. I Nyoman Agus Wijaya dengan pernyataannya ‘banyak hal yang bisa membuat senang, tergantung kita bisa mengolahnya menjadi sesuatu yang menyenangkan dan janganlah pernah melakukan sesuatu dengan terpaksa’; mampu menghadirkan karya ‘Masih Seneng Bermain’ dengan jenaka, meski menggunakan media plat besi yang terkesan ‘berat’. Tak kalah menariknya dengan karya I Made Widya Diputra atau lebih dikenal dengan panggilan Lampung. Karya ‘Bukan yang Terakhir’’, menggambarkan sebuah antrian ruang tunggu. Menunggu apa pun itu, entah… yang jelas menunggu sebuah harapan bukanlah suatu jalan mati dan terakhir. Akan selalu ada harapan dan harapan berikutnya. Maka karya ini sungguh menghenyakkan dan pantas menempatkan Lampung sebagai jajaran seniman yang berdedikasi, mampu memberikan ‘roh’ kuat pada setiap karya yang dihasilkannya.

Pemilihan seniman-seniman yang diundang kali ini, memang tidak saja ditujukan bagi seniman dengan latar belakang minat utama seni patung, seniman senior mau pun promising artist. Terlebih bagi seniman-seniman yang mencatatkan dedikasi mereka atas karya-karya 3 dimensi dalam berbagai misi, kecintaan dan imajinasi mereka. Tak salah memberi ruang dan kesempatan mereka untuk mengajak kita ikut ‘bermain’ dan berkelana dalam persepsi yang bebas. Meski sebagian besar dari sekitar 70 calon seniman yang kami undang tak sempat terlibat dalam pameran kali ini karena alasan padatnya jadual, toh ke-39 seniman yang konfirmasi saat ini bisa memberikan gambaran global perkembangan seni 3 dimensi di Indonesia. Maka kita bisa melihat bagaimana kecenderungan dan pengaruh globalisasi atas batas karya konvensional dan non konvensional, modern mau pun post-modern dalam pameran ini.

Sebagai misal seniman patung yang terbilang senior seperti Timbul Raharjo, Win Dwi Laksono dan Komroden Haro. Karya-karya yang mereka tampilkan meski terkesan karya konvensional tetapi eksistensi dan gagasannya selalu mampu menunjukkan kekiniannya.

Selanjutnya, pameran ini dihasratkan sebagai media retrospektif kami sendiri sebagai representasi ruang pamer selama 3 tahun telah berjalan dan terlebih sebagai rangsangan bagi para seniman yang diundang untuk merespon ruang pamer kami. Ini adalah tantangan baru buat mereka, selain ruang, juga media baru yang harus diolah untuk menjanjikan karya kreatif mereka yang memang layak dan patut diacungi jempol. Bagi para penikmat seni, pameran ini diharapkan bisa memberikan referensi visual, opsi koleksi dan oase di tengah dominasinya karya 2 dimensi. Penuh harap dan optimis ke depan, Jogja Gallery tetap dapat memberikan kontribusi dan warna baru dalam perkembangan seni rupa khususnya karya-karya 3 dimensi melalui pameran ini dan seterusnya. Pameran ini tidak akan berhasil tanpa ada dukungan para seniman yang terlibat di dalamnya, untuk itu kami ucapkan terima kasih tak terhingga atas kerja keras dan kerjasamanya.

Ketika diandaikan sebagai anak-anak yang sedang bertumbuh, Jogja Gallery di usia belia saat ini, menyadari bahwa mainan [toy] dan bermain [play] merupakan bagian penting dalam proses pembelajaran mengenai dunia dan tumbuh dewasa. Seperti seorang anak yang menggunakan mainan untuk menemukan identitas, membantu tubuh menjadi kuat, mempelajari sebab dan akibat, mengembangkan hubungan, dan mempraktekkan kemampuan mereka. Mainan lebih dari sekadar bersenang-senang, karena mainan dapat digunakan untuk mempengaruhi aspek kehidupan [sumber: www.plazaanak.com]. Teruslah ‘bermain’ untuk menjadi dewasa!


Yogyakarta, Mei - September 2009

Konseptor:
Nunuk Ambarwati
Mewakili tim pameran Jogja Gallery

Thursday, June 18, 2009

Decorate the Era


Pameran tunggal lukisan karya Anang Asmara
Kurator Mikke Susanto
Jogja Gallery, Yogyakarta | 20 Juni - 5 Juli 2009

Kekuatan Batik dan Sosok Perempuan dalam Imajinasi Anang
Sejak berdiri pada bulan September 2006, ini merupakan kali ke-8 Jogja Gallery menyelenggarakan pameran tunggal, tercatat diantaranya: Hanafi, AT. Sitompul, Husin, Sujiwo Tejo, Mulyo Gunarso, Soeprapto Soedjono, Solichin dan sekarang Anang Asmara. Dengan berbagai kelebihannya mereka tampil berpameran solo. Bersama Sri Sasanti Gallery sebagai partner kerjasama dan Mikke Susanto sebagai kurator, Jogja Gallery kali ini menggelar karya-karya Anang Asmara dalam pameran tunggalnya yang menampilkan tema ‘Decorate the Era’, 20 Juni – 5 Juli 2009. Anang merupakan seniman yang konsisten dengan karya-karyanya hingga sekarang, bahkan tak jarang kami mengundangnya untuk mengikuti beberapa event pameran di Jogja Gallery.

Busana Jawa terutama batik dan sosok perempuan menjadi ciri khas karyanya. Kebaya, selendang dan aksesorisnya begitu indah melekat pada sosok yang dikaguminya. Melalui kekuatan imajinasi dan kreativitasnya Anang mengabadikannya dalam lukisan. Sebuah perjalanan dan pemikiran panjang tentunya untuk mengungkapnya ke bidang dua dimensional dengan teknik mixed media dan realisnya. Butuh waktu sekitar 2 tahun dia mempersiapkan pameran ini. Semua dilandasi atas kegelisahannya tentang perempuan desa yang hampir ditemuinya setiap saat.

Perjuangan RA. Kartini atas kesetaraan hak bagi perempuan, menurutnya jauh dari harapan mereka. Masih banyak ternyata perempuan Indonesia yang tidak mengenyam dunia pendidikan, bahkan sebagai seorang ibu rumah tangga pun masih banyak yang terabaikan. Sosok ini diungkapkan apa adanya, meski selalu ada kesan yang ditonjolkan pada setiap karya. Potongan figur dalam tampilannya memberikan pesan khusus dengan balutan kain batik khas busana Jawa. Keuletannya dalam tiap ungkap detail baik pada motif batik, draperi (lipatan kain), menjadi daya tarik karya-karyanya.

Melestarikan budaya Jawa adalah salah satu keinginan Anang. Keinginan ini dia padukan dengan keprihatinan perempuan desa yang ditemuinya. Maka terwujudlah karya kombinasi yang sebenarnya sudah awam kita lihat. Dimana biasanya perempuan Jawa yang sudah uzur selalu memakai kebaya, kain panjang [jarik], dan selendang untuk ke pasar, bepergian, bahkan dalam kesehariannya.

Kekhawatiran dan ancaman atas lestarinya budaya batik ini selalu terbias di benak Anang. Sama halnya dengan pudarnya makna dan fungsi atas sosok perempuan tua dan batik pada karyanya. Melalui karya-karyanya, Anang ingin mengusik hati dan pikiran kita, masihkah kita memiliki rasa cinta terhadap apa yang kita miliki dan kita banggakan selama ini? Tak ada kata terlambat tentunya, mari kita apresiasi karya ini dengan penuh cinta dan rasa memiliki apa yang patut kita miliki, sebelum semua pudar, sebelum semua hilang. Melalui pameran ini, semoga kehadiran karya-karya yang di pamerkan di Jogja Gallery bisa di apresiasi dengan baik oleh sesama perupa, pecinta seni, sahabat, kolega dan masyarakat pada umumnya.
Sukses dan selamat berpameran.
Yogyakarta, April 2009
Manajemen Jogja Gallery

Saturday, June 13, 2009

Ayo ke Pasar Sobo Alor!


PASAR SETIAP SABTU DI JOGJA GALLERY
Jogja Gallery [JG], sebuah galeri seni rupa terletak di lokasi strategis, yakni di nol kilometer kota Yogyakarta [tepatnya Alun-alun Utara] terinspirasi membuat pasar kaget, dimana kemudian kami juduli dengan ‘PASAR SOBO ALOR’. Pasar ini hanya berlangsung setiap Sabtu, mulai pukul 15.00 - 21.00 WIB. Rencananya kami akan menggunakan areal selasar, lobby, gazebo dan halaman depan kompleks Jogja Gallery, yang memuat 20 stand yang akan kami sediakan[baik untuk stand kuliner maupun non-kuliner] .
Nama pasar tiap Sabtu ini sendiri diilhami dari lokasi dimana kami berdiri, yakni Sobo, karena gedung yang ditempati Jogja Gallery saat ini merupakan bekas gedung bioskop Soboharsono. Gedung bioskop Soboharsono sangat familiar dengan penduduk kota Yogyakarta, berdiri dan berfungsi sejak jaman penjajahan Belanda [tahun 1929]. Arti kata 'Sobo' dalam bahasa Jawa adalah berkunjung, mengunjungi, atau bisa juga pergi ke suatu tempat. Maka diharapkan pasar ini nanti juga menjadi daya tarik dan tujuan utama masyarakat tiap akhir pekan untuk refreshing, belanja sekaligus mengapresiasi pameran di Jogja Gallery. Dengan penggunaan kata 'Sobo' itu sendiri, Jogja Gallery tidak ingin melupakan sejarah dan kenangan atas gedung bioskop Soboharsono. Sedangkan kata Alor, merupakan akronim dari Alun-alun Lor atau Alun-alun Utara, yang menjadi salah satu ikon kota Yogyakarta dan berdekatan dengan kompleks Alun-alun Utara itu pulalah pasar tersebut terselenggara.
Kami akan memulai event ini hari Sabtu, tanggal 20 Juni nanti bersamaan dengan acara pembukaan pameran tunggal seni lukis Anang Asmara, bertema 'Decorate the Era'. Sebagai penanda penyelenggaraan perdana, kami hanya akan menarik iuran Rp. 30.000,-/Stand/ Minggu.
Dengan fasilitas yang akan kami sediakan sebagai berikut:
- Air
- Listrik
- Space 2 x 3 m
- 2 Kursi dan 2 Meja
- Promosi/publikasi [brosur dan media online]
- Keamanan & Parkir
Pendaftaran Stand
Untuk itu, kami mengundang rekan dan kolega yang memiliki usaha yang unik, berbeda dari yang lainnya dan original untuk mengisi lowongan stand yang kami tawarkan. Pendaftaran lowongan stand kami buka selalu. Formulir pendaftaran dapat diambil di Jogja Gallery, Jalan Pekapalan No 7, Alun-alun Utara Yogyakarta pada hari dan jam kerja [[Selasa-Sabtu, jam 09.00 – 17.00 WIB]. Hubungi Saudara Aji atau Saudari Atik. [Apabila melebihi quota, Jogja Gallery akan menyeleksi stand untuk mendapatkan kesempatan di lain waktu].

Informasi lebih lanjut, silakan hubungi:
Jogja Gallery [JG]

Jalan Pekapalan No 7, Alun-Alun Utara, Yogyakarta 55000, Indonesia
Phone +62 274 419999, 412021, 7161188
Phone/Fax +62 274 412023
Email [1] jogjagallery@ yahoo.co. id | [2] info@jogja-gallery. com
www.jogja-gallery. com