Monday, June 18, 2007

Borobudur Impasto-nya Anthony




Oleh Nunuk Ambarwati dan Puji Rahayu
Borobudur Agung
Menemui sosok Anthony David Lee, perupa kelahiran Manado, 2 Juni 1964 merupakan seseorang yang lebih dikenal sebagai jagoan masak. Mengaku memiliki keahlian melukis yang dia peroleh secara otodidak. Anthony yang saat ini tinggal di Denpasar, Bali ini sempat menggelar aksi melukis dalam sebuah jamuan makan malam, di lapangan Gunadharma, kompleks wisata Candi Borobudur, pada hari Rabu, 30 Mei 2007 lalu menjelang peringatan Hari Raya Trisuci Waisak 2551 BE/2007. Aksinya ini merupakan prakarsa Muncul Art and Culture Center yang digawangi oleh Soekeno [direktur UD Muncul, Yogyakarta] bekerja sama dengan Jogja Gallery [JG], Yogyakarta. Menampilkan corak impresionistik dengan teknik impasto [menumpuk cat di atas kanvas]-nya, Anthony melukis Candi Borobudur secara langsung, dengan media cat minyak di atas kanvas ukuran 980 x 280 cm. Lukisan sebesar itu, yang kemudian bertajuk ‘Borobudur Agung’ berhasil dia selesaikan hanya dalam rentang waktu 1 jam 40 menit saja.
Sebelum menggelar aksinya tersebut, Anthony sempat melukis bersama dengan Kartika Affandi di Museum Affandi, Yogyakarta. Hal tersebut dia lakukan sebagai bentuk partisipasi memeriahkan 100 Tahun Affandi yang bertepatan di tahun ini. Dua karya berhasil diselesaikannya, masing-masing tak lebih dari setengah jam saja. Dengan tema Affandi sebagai Barong dan Affandi sebagai Rangda. Dua lukisan tersebut rencananya akan turut dipamerkan di akhir Juni 2007 ini dalam sebuah pameran menandai eksistensi sang maestro.
Matahari sebagai ikon lukisan yang melekat pada Affandi menginspirasi sangat kuat pada diri dan lukisan-lukisan yang dihasilkan Anthony. Disamping warna, semangat dan goresan Affandi yang menginspirasinya, nuansa mistis biru tua pada karya seri Borobudur-nya Srihadi Soedarsono ternyata juga turut mengilhami karya Anthony. Untuk lebih menyiapkan penguasaan materi, tema dan keahliannya guna aksi pada malam 30 Mei 2007 yang lalu, hampir tiap malam dia menggoreskan banyak tube cat minyak dalam beberapa kanvas dengan tema Borobudur di kediaman Soekeno, sebagai studionya di Soragan, Yogyakarta.
Dengan latar belakang Candi Borobudur yang mistis malam itu, dihadiri kurang lebih 50 tamu undangan, terdiri dari para kolega dan para jurnalis. Jamuan makan malam diselingi musik mengantar Anthony menyelesaikan karya besarnya. Segera setelah Anthony merampungkan aksi melukisnya, dia menyempatkan untuk mendeskripsikan maksud lukisannya kepada para undangan. Lukisan yang dia hasilnya menurutnya belum selesai, dia mengundang semua orang yang melihat karyanya kemudian menyelesaikannya dalam hati dan pikiran masing-masing. Dia ingin mengajak masyarakat Yogyakarta untuk merenungkan berbagai peristiwa yang terjadi, misalnya bencana alam gempa bumi [dimana tahun ini merupakan peringatan 1 tahun gempa bumi di Yogyakarta dan sekitarnya]. Dengan adanya peristiwa itu, jangan selalu menyalahkan Tuhan. Seharusnya berpikir lebih cerdas, dan harus banyak belajar, segala sesuatu itu bisa terjadi mungkin kebanyakan karena dari kelalaian kita sendiri, seperti kurang peduli terhadap alam yang ada di sekitar kita, yang sebenarnya telah memberi kita kehidupan, keindahan, kekayaan yang melimpah. Saatnya kita untuk sadar dengan hal itu.
Yang menjadi keprihatinan Anthony lainnya adalah banyak orang yang tidak tahu, tidak sadar bahwa kita punya peninggalan yang amat luar biasa, seperti Candi Borobudur. Keberadaanya belum begitu diperhatikan, padahal ini adalah peninggalan yang amat luar biasa. Banyak orang yang tidak tahu tentang sejarah maupun maknanya. Ini menunjukkan bahwa orang-orang banyak yang belum bisa menghargainya. Sejak melihat Candi Borobudur, Anthony sangat kagum, dia terus membaca dan mencari tahu dari berbagai sumber sebelum dia tertarik untuk melukiskannya.
Borobudur bagi Anthony adalah sebuah bangunan yang sangat indah, cantik dan sangat kokoh. Sesuatu yang luar biasa, mempunyai nilai spiritualitas yang tinggi dan baik dari ukuran, bentuk mau pun keberadaanya. Dia mengatakan kekagumannya tersebut ketika melihat sendiri peristiwa yang terjadi dihadapannya. Seperti manusia yang selalu berubah, peradaban yang berubah bencana yang membuat semua kehidupa dan alam berubah, tapi Borobudur tetap kokoh. Kekaguman ini sangat kuat dirasakan oleh Anthony, semua direkam dalam memorinya dan diwujudkan dalam bentuk lukisan yang dikerjakan hanya dalam beberapa saat.
“Karya ini universal, dimana disana ada matahari dan bulan. Matahari terinspirasi oleh Affandi yang bersinar, mempunyai kekuatan yang luar biasa sebagai maestro. Bulan terinspirasi oleh perupa Srihadi Soedarsono. Terdeskripsikan orang sedang berdo’a artinya kita harus bersyukur kepada Tuhan. Tidak terus meminta kepada Tuhan, tapi harus lebih banyak belajar dan terus belajar serta waspada. Bencana yang digambarkan merupakan peringatan bagi kita”, jelas Anthony.
Meski batal tercatat masuk di Museum Rekor Indonesia [MURI] sebagai lukisan paling banyak [berat] menggunakan cat minyak, para tamu undangan merasa kagum dengan karya yang dihasilkan Anthony. Banyak komentar atas karya spektakulernya, terasa luar biasa dan indah. Bahkan KGPH Hadiwinoto, yang hadir pada malam itu, mengatakan karya ini mengandung nilai spiritual yang tinggi dan agung. Karya Anthony bisa memberi peringatan pada manusia, dimana manusia sebenarnya adalah makhluk yang lemah dan perlu menjalankan hidup dengan terus mendekatkan diri kepada Tuhan. Manusia harus terus menuju jalan kebenaran dan terus rendah hati dihadapan-Nya, meminjam pepatah orang Jawa yang mengatakan dalam hidup perlu memayu hayuning bawana, jelas Gusti Hadi.
Karya tersebut kini menjadi koleksi pribadi Soekeno dimana saat ini terpajang dan bisa dinikmati dalam pameran yang dikuratori Mikke Susanto, ‘Transposisi: Lukisan-lukisan Koleksi Kolektor Jateng-DIY’, digelar Jogja Gallery [JG], Yogyakarta, 22 Mei – 26 Juni 2007.

Si Misterius Anthony
Selama masa tinggalnya di Yogyakarta kala itu [kurang lebih 2 minggu], Anthony sangat aktif melukis setiap harinya. Dalam aktifitasnya melukis, Anthony lebih mengedepankan sisi entertainmen. Dengan senang hati dia persilakan kita melihat proses menyelesaikan lukisannya. Dia juga tak keberatan kita ‘mendikte’-nya untuk melukiskan satu obyek dalam kanvas kosongnya. Selama proses melukis, dia banyak menyertakan guyonan-guyonan yang menyegarkan, entah berhubungan dengan obyek lukisan mau pun kadang tidak sama sekali. Dia pun selalu akan mengakhiri lukisannya dengan mendeskripsikan setiap detail apa yang dia goreskan di kanvas tersebut. Mengapa ada burung, mengapa ada matahari, mengapa warnanya kuning atau biru dan seterusnya. Hal tersebut sangat jarang bisa kita temui dari perupa-perupa lain. Bagaimana seorang perupa menutup diri, menemukan momen yang tepat, mengisolasi diri guna berkonsentrasi menyelesaikan karya dan seterusnya. Situasi langka yang bisa dihadirkan Anthony tersebut di atas, memberikan kejutan-kejutan yang menarik bagi publik awam akan dunia seni lukis.
Maka tak mengherankan ketika pengamat seni sekaligus kolektor ternama, Dr. Oei Hong Djien mengomentari karya-karya Anthony yang lebih tepat sebagai pengisi ruang, dekoratif yang bersifat mengindahkan. Tak lebih dari itu.
Bagi Anthony sendiri, situasi berkarya dengan dilihat banyak orang tak menganggunya menyelesaikan karya. Meski konsekuensi atas situasi tersebut jelas terbaca pada lukisan yang dia hasilkan. Ketika banyak komentar yang ‘mengintimidasi’ otaknya, dimana situasi yang selalu berbeda mengurangi kenyamanannya dalam berkarya, atau bahkan dikte-dikte yang memberi masukannya, jelas terbaca pada kualitas karya.
Buat Anthony, kegiatan melukis juga merupakan salah satu terapi baginya. Dimana menurut pengakuannya pada malam peringatan hari ulang tahunnya yang ke-43, dia merupakan sosok yang hiperaktif, dimana ide dan gagasannya selalu berkembang. Dokter yang menanganinya menyarankan untuk sedikit mengurangi sisi hiperaktifnya apabila dia ingin hidupnya menjadi lebih baik.
Satu hal lain yang menarik darinya adalah gaya melukisnya. Dibantu dua orang asistennya, Putu dan Kadek, bertube-tube cat bisa dia habisnya dalam satu kali melukis. Biasanya Putu yang akan memplototkan tube cat di atas kaca dan Kadek yang terus mendokumentasikan tahap-tahap Anthony melukis, mulai dari goresan pertama hingga tanda tangan sebagai tanda akhir dia melukis. Tak heran dokumentasi aksi-aksi melukisnya dimana pun, bahkan di rumah orang-orang penting di Republik ini, sangat detail dan lengkap, bisa kita lihat di laptop yang selalu dibawanya.
Anthony juga sangat mengedepankan kebersihan dalam aksi melukisnya. Disamping bertube cat yang dia habisnya, berlembar-lembar tisu juga wajib tersedia ketika dia melukis. Setiap kali selesai menggoreskan satu warna dengan ‘spatula’-nya, dia seka spatula tersebut dengan tisu hingga bersih. Anthony mengaku, warna-warna murni dari tube cat lebih dia sukai daripada mencampur warna. Meski pun kadang memang ada sedikit warna-warna campuran yang dia hasilkan untuk memberi aksen tertentu pada lukisannya.
Meski penulis sempat mengikuti aksi-aksi melukis Anthony, kemisteriusan background-nya masih selalu menjadi tanda tanya. Siapa sih Anthony? Masih merupakan pertanyaan besar yang selalu membayangi. Dia tak pernah bisa serius mengatakan siapa dirinya sebenarnya, bagaimana dia mendapatkan keahlian melukis, atau kronologi pameran dan prestasi berkaryanya. Meski tak pernah serius menjawabnya, tidak demikian ketika dia menjelaskan setiap detail karyanya. Untuk hal yang satu ini, dia selalu menjawab dengan ‘tak penting perupanya, yang penting adalah karyanya'.

Rekomendasi #6

Magelang, 26 February, 2007
Pengelola Program Magang Internasional periode 2007-2008
Yayasan Kelola, Jakarta in cooperation with
Asialink, Centre, Australia
The Asian Cultural Council, United States of America
Ref: Letter of recommendation
Dear Sirs and Madams,
I have known Ms Nunuk Ambarwati for several years. From the first time I met her, she already showed high appreciation for art. Besides, her social intercourse with the art world (collectors, galleries, curators, writers, event organizers) in general and artists in particular has always been very good.
Knowing her better, I observed that she was always carving for more knowledge and experience in art, particularly contemporary art. In this respect Ms Nunuk Ambarwati had been involved in the activities of Cemeti Art Foundation for some period.
Last year she joint our team in organizing a wedding art event where 80 prominent artists were participating; an art event never happened before. It was to a significant part due to her contribution that this art event became a great success. In this collaboration I noticed that she has great responsibility for her work.
Since the end of 2006 Ms Nunuk is employed as program manager of the new established Jogja Gallery where I am appointed as one of the advisers. In a short period she has proven her capability to execute her job very well. Since the opening of this Gallery there have been continuous activities. After an exhibition is terminated a new exhibition follows immediately, besides other activities like art talks.
Nationally she has built a significant knowledge and experience in programming and organizing art events. If she could get the opportunity to broaden her knowledge and experience internationally, it definitely would be a great benefit for the Indonesian art world since Ms Nunuk Ambarwati’s dedication to art is beyond doubt.
Yours sincerely,
Oei Hong Djien
Art Collector
Owner and curator of OHD Art Museum
Board member of Singapore Art Museum
Board member of Art Retreat Museum, Singapore
Curator of Museum H. Widayat
Adviser of Jogja Gallery

Rekomendasi #5

Jakarta, February 3, 2007
Pengelola Program Magang Internasional periode 2007-2008
Yayasan Kelola, Jakarta
I have known Nunuk Ambarwati prior to the opening of Jogja Gallery on September 19, 2007. Nunuk Ambarwati has been assigned as the Program Manager of Jogja Gallery. Prior to joining Jogja Gallery, Nunuk Ambarwati had been working for Cemeti Art House in Yogyakarta.
Yogyakarta is the birthplace of many famous artists in Indonesia, but, ironically, Yogyakarta didn’t have a common facility that can satisfactorily showcase the talents of the artists. To bring a great contribution to the preservation and strengthening of Yogyakarta’s identity as the cultural hub of Indonesia, Jogja Gallery was founded and is pleased to appoint Nunuk Ambarwati as our Program Manager.
Not like other galleries that either mostly funded by the government or individual artists, Jogja Gallery was fully funded individuals (including myself) to support the preservation and development of culture, art, and social life. The challenge arises when the executives of Jogja Gallery are requested to prepare a program that balances the quality of arts and the survival of the gallery. I was initially pessimist about the capability of the executives who are all with virtually no background in business. Surprisingly, Nunuk Ambarwati has been demonstrated her capability and talent to set a one year program in very short time period that satisfiying the business approach without sacrificing the quality of the arts. Among other programs, the “Icon: Retrospective”, “Young Arrows”, the “Art from Tunisia” (join exhibition with the Government of Tunisia), the “Thousand Mysteries of Borobudur” (join exhibition with UNESCO), Indonesian Student Art, etc, are considered as monumental exhibitions that can only be prepared by a talented person such as Nunuk Ambarwati.
As the President Director of Jogja Gallery, I have no doubt concerning the quality and talent of Nunuk Ambarwati, and consider her as the key persons at Jogja Gallery.
Sugiharto Soeleman
President Director



Rekomendasi #4

Saya, Suwarno Wisetrotomo, kritikus seni rupa dan dosen di Fakultas Seni Rupa dan Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, bertempat tinggal di: Jalan Bangau 577B, RT/RW 13 / 26, Wonocatur, Banguntapan, Yogyakarta 55198 Indonesia (email: sangkrit@yahoo.com), menulis Surat Rekomendasi untuk Saudara Nunuk Ambarwati (dokumentator seni visual; perancang/manajer program kesenian/seni rupa), alamat: Jalan Gamelan Kidul 22 Yogyakarta, Indonesia (email: qnansha@yahoo.com).
Saya mengenal Nunuk Ambarwati (selanjutnya ditulis Nunuk), lebih dari sepuluh (10) tahun yang lalu, melalui berbagai aktifitas kesenian – khususnya seni rupa – di Yogyakarta, Indonesia. Nunuk banyak terlibat aktif dalam berbagai kegiatan seni rupa, baik sebagai dokumentator, publikasi kegiatan, mau pun sebagai perancang dan pelaksana program. Saya semakin mengenal dan banyak berkomunikasi ketika Nunuk bekerja penuh pada Yayasan Seni Cemeti (Cemeti Art Foundation), sebagai dokumentator dan pengarsipan seni visual, serta ikut mengerjakan SURAT YSC yakni media publikasi Yayasan Seni Cemeti. Diantara pekerjaan itu, Nunuk masih bisa membagi waktu dengan terlibat pada beberapa proyek seni rupa, antara lain Biennale Seni Rupa Yogyakarta. Kemudian saya tahu, Nunuk akhirnya menjabat sebagai Manajer Program di Jogja Gallery, sebuah galeri baru di Yogyakarta.
Karier profesinya itu menunjukkan bahwa Nunuk seorang yang serius dan professional dalam bidang yang diminatinya, yakni sebagai perancang dan manajer (pengelola) program pada sebuah institusi kesenian/kebudayaan. Di samping itu, luasnya pergaulan, serta pengalamannya mendokumentasi berbagai kegiatan kesenian/seni rupa, pasti akan sangat menunjang dalam mengelola suatu program,. Manajer program merupakan salah satu pemegang kunci hidup atau matinya kegiatan yang menarik dan bermutu pada institusi kebudayan/kesenian. Sementara kita tahu, posisi manajer program itulah yang justru mengalami krisis, atau dengan kata lain, masih terlalu sedikit yang professional. Nunuk, dalam pengamatan saya, dan sejauh yang saya ketahui, berada di jalur yang tepat dan sungguh-sungguh ia pahami, sekaligus dapat mengisi celah kekosongan ikhwal manajer program yang professional.
Aktivitas dan partisipasinya dalam berbagai peristiwa dan berbagai skala, menunjukkan bahwa Nunuk adalah seorang yang tahu persis tentang apa yang akan dikerjakan, juga tahu manfaat pekerjaan itu bagi masyarakat luas, khususnya bagi dunia kesenian/seni rupa.
Atas potensi, kesungguhan, dan pengalamannya dalam berpartisipasi di berbagai peristiwa kesenian (seni rupa), saya yakin, Nunuk Ambarwati dapat melakukan program-program yang diagendakan oleh Pengelola Program Magang Internasional periode 2007-2008 – Yayasan Kelola Jakarta, bekerjasama dengan Asialink, Centre, Australia, Asian Cultural Council, dan United States of America. Dengan kata lain, Nunuk Ambarwati merupakan kandidat yang pantas dipertimbangkan untuk diterima dalam Program Magang Internasional tersebut. Saya berharap, catatan dalam rekomendasi saya ini, dapat membantu pemahaman siapa saja tentang sosok dan profesi Nunuk Ambarwati, dan pada akhirnya dapat membantu dalam membuat keputusan yang tepat baginya.
Salam,
Yang membuat rekomendasi

Suwarno Wisetrotomo

Rekomendasi #3

Yang bertanda tangan di bawah ini adalah saya: Aloysius Nindityo Adipurnomo; seniman perupa; salah satu Direktur Rumah Seni Cemeti Yogyakarta dan Pendiri serta mantan Pengurus aktif Yayasan Seni Cemeti Yogyakarta.
Saya mengenal saudari Nunuk Ambarwati seiring bersama berkembangnya karier dan komitmen saudari Nunuk pada bidang manajemen kesenian, secara khusus seni rupa. Pada tahun 1999 saudari Nunuk bergabung pada Rumah Seni Cemeti Yogyakarta, dimulai sebagai staf pengelolaan galeri.
Tahun 2002, Nunuk meneruskan komitmen pengelolaan kegiatan seni rupa dengan membenahi dan mengembangkan bidang dokumentasi seni rupa, yang menjadi core utama kegiatan Yayasan Seni Cemeti Yogyakarta.
Tahun 2006 saudari Nunuk mendapatkan tawaran posisi menjalankan manajemen/pengelolaan Jogja Gallery di Yogyakarta hingga sekarang.
Sebagai narasumber dan kolega, maka dengan ini saya secara pribadi mendukung segala macam bentuk upaya yang diperhitungkan mengarah pada stimulant bagi berkembangnya fokus keahlian dan kariernya, terutama di dalam manajemen pengelolaan kesenian, khususnya seni rupa secara nasional dan internasional.
Saya berharap surat referensi ini bisa dipergunakan oleh berbagai pihak sebaik-baiknya dan proporsional.
Yogyakarta, 7 Februari 2007
Nindityo Adipurnomo


Rekomendasi #2

Yogyakarta, 5 January 2007
To whom it may concern,
I have known Nunuk Ambarwati since the 1990s in various activities of art and culture in general. Nunuk used to work for the Cemeti Art Foundation, and now works for the Jogja Gallery based in Yogyakarta. As far as I know she has well managed not only in handling art exhibitions, but also in organizing art events which included many people from different backgrounds, local and expatriate artists, as well as institutions.
From my observation on her achievements and attitudes I would say that she is indeed a professionally hard worker, who always pursue excellent goals. She works efficiently, effectively, and punctually. In dealing with documents and information she handles systematically. Another good aspect of Nunuk’s competency is that she is patient enough in organizing or coordinating works that deal with artists many of who are very individualistic and eccentric. I have seen in many occasions that Nunuk has managed to implement solutions that come from heart.
Other credible points of Nunuk are the facts that she has skills required for a modern professional manager / organizer, those are mastering digitally recording equipment as well as taking advantes of recent electronic media. Nunuk has useful and good documentations of art events, and of and ethnic and contemporary works of art.
Nunuk studied Communication at a significant university in her home city, that is the University of Gadjah Mada. She was born of a family who respect Javanese culture, namely Javanese dance, and lives in an area where live dwellers having traditional cultural relationship with the Sultanate Palace of Yogyakarta. She happens to be a Javanese dancer, therefore she has developed empathetic sense in approaching artists.
Based from what I know I highly recommend Nunuk Ambarwati to receive a chance for international internship organized by Yayasan Kelola.
I can be connected any time to give more explanation or details about Nunuk Ambarwati should Yayasan Kelola need more.
Yours Sincerely,
M. Dwi Marianto



Rekomendasi #1

Yogyakarta, February 14, 2001
Letter of Recommendation
Since November 2000 Nunuk Ambarwati supports me with her assistance in conducting the ongoing empirical study “Journalism in Indonesia”, which is based on a cooperation between Atmajaya University Yogyakarta, Indonesia, and Technical University of Ilmenau, Germany.
Graduated from the Communication Department of the Gadjah Mada University Yogyakarta, Ms.Ambarwati is working with full commitment, always on-time and well organized.
Along with this formal aspect, in her work she deals with many organizations and mass media. Ms. Ambarwati is conscious, hardworking, communicative and intelligent young person. Given the change to work in your company, she will enhance her skills and enrich her vision, and this is extremely useful for her future career.
I strongly recommend for this job. I’am certainly sure that Ms. Ambarwati is heading to a successful career.

Thomas Hanitzsch


Wednesday, May 23, 2007

200 Tahun Raden Saleh


UNDANGAN TERBUKA BERKARYA
Pameran Lukisan - 200 Tahun Raden Saleh
ILUSI-ILUSI NASIONALISME
Jogja Gallery, Jalan Pekapalan No 7, Alun-alun Utara Yogyakarta
18 Agustus - 9 September 2007
Jogja Gallery, sejak di launching di Yogyakarta, 19 September 2006, telah menggelar pameran seni visual secara berkala. Pada penyelenggaraan pameran yang ke-14 kali ini, Jogja Gallery akan menggelar sebuah pameran lukisan sebagai sebuah penanda eksistensi 200 Tahun Raden Saleh dalam dunia seni, terutama seni rupa Indonesia. Jogja Gallery mengundang seluruh perupa di Indonesia yang tertarik untuk turut berpartisipasi dan merespon tema tersebut di atas. Berikut keterangan lebih detail.
Hal teknis yang perlu diperhatikan:
a. Pameran rencananya akan digelar tanggal 18 Agustus – 9 September 2007, di Jogja Gallery, Jalan
Pekapalan No 7, Alun-alun Utara Yogyakarta. Dengan kurator: Mikke Susanto.
b. Jogja Gallery telah mengundang khusus sejumlah perupa [ada sekitar 40 orang perupa] untuk
merespon tema ini. Namun demikian Jogja Gallery juga membuka undangan berkarya [proposal]
kepada semua perupa yang ingin terlibat dalam pameran ini.
c. Calon peserta pameran harap mempelajari abstraksi kuratorial yang kami lampirkan di bawah ini.
Data-data teks penunjang lainnya, seperti hasil riset dsb, bisa Anda dapatkan fotokopinya dengan
menghubungi langsung bagian pameran [Nunuk Ambarwati atau Puji Rahayu] di Jogja Gallery.
d. Proposal karya yang masuk, akan diseleksi oleh kurator [Mikke Susanto] dan manajemen Jogja
Gallery.
e. Media karya adalah 2 dimensi atau lukisan, maksimal ukuran 200 x 200 cm.
f. Bisa mengajukan lebih dari satu karya.
g. Proposal karya paling lambat diterima hari Senin, 25 Juni 2007. Dilengkapi dengan foto
karya yang hendak diajukan, konsep karya, data diri/biodata/CV terbaru, alamat/no kontak lengkap.
h. Keputusan hasil seleksi akan diumumkan Jogja Gallery melalui kontak langsung dengan perupa,
email, milis mau pun website, paling lambat tanggal 1 Agustus 2007.
i. Keputusan hasil seleksi tidak dapat diganggu gugat.
Informasi yang belum jelas, dapat ditanyakan pada pihak penyelenggara
(c.p. Nunuk Ambarwati 081 827 7073 atau Puji Rahayu 081 5787 60619).
Abstraksi Kuratorial
Meski pun masih terdapat polemik mengenai tahun kelahiran Raden Saleh itu sendiri; dari sebagian besar data yang ada, Raden Saleh dipercaya— lahir tahun 1807, tepat dua ratus tahun lalu. Ia tercatat lahir di Semarang Jawa Tengah dan kemudian melegenda menjadi pelukis perdana sekaligus pelopor seni lukis Indonesia. Jalan hidupnya sangat menarik, sebagai masyarakat biasa, pelukis istana Kerajaan Belanda dengan melakukan perjalanan ke beberapa negara selama bertahun-tahun, dan menjadi pelukis yang saat ini namanya tetap harum. Lukisan-lukisannya banyak menggambarkan suasana pemandangan, pertarungan binatang, potret para pembesar beberapa negara di Eropa dan di Indonesia, serta lukisan tentang perjuangan/ nasionalisme bangsa ini.
Perjalanan hidupnya yang sangat menarik tersebut, banyak mengilhami para perupa Indonesia. Selain dihormati karena kecerdasannya yang luar biasa, ia juga menjadi ikon seni Indonesia pertama yang berhasil mempengaruhi dan memperkenalkan bangsa ini kepada dunia luar. Wajar bila pada saat ini Raden Saleh kemudian dianggap menjadi kebanggaan bangsa. Ia, menurut peneliti Claire Holt, dianggap sebagai “ayah” bagi gerakan seni modern di Indonesia.
Salah satu lukisan yang hingga saat ini menjadi perbincangan dan sangat penting adalah Penangkapan Pangeran Diponegoro (1857). Lukisan ini sampai saat ini dipajang di Istana Presiden Republik Indonesia. Lukisan ini banyak memberi inspirasi bagi banyak pengamat, karena berbagai alasan. Alasan tersebut misalnya mempertentangkan sikap dan nasionalisme Raden Saleh terhadap bangsa Indonesia yang sedang terjajah. Mengapa sosok Diponegoro digambarkan sama tinggi dengan orang Belanda? Alasan lain adalah bahwa dalam lukisan ini selain secara tematik mengarah pada tema nasionalisme, tetapi juga memberi petunjuk bahwa segala keterampilan yang dimiliki Raden Saleh ditumpahkan dalam karya tersebut. Lihat saja tema lukisan pemandangan, binatang, potret para pembesar serta lukisan potret dirinya masuk dalam karya ini. Sehingga sangat layak seandainya lukisan ini kemudian dapat melahirkan berbagai gagasan mutakhir sampai saat ini.
Dalam pameran ini kami mengajak para perupa ternama Indonesia untuk secara khusus mencermati lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro, bukan yang lain. Karena dengan lukisan ini semangat nasionalisme (oleh sebab itu pameran ini diselenggarakan pada bulan Agustus yang sakral bagi bangsa Indonesia), hendak diuji kembali, dikaji kembali dalam bentuk apa saat ini nasionalisme tersebut berjalan. Dalam beberapa hal, lukisan Raden Saleh ini juga memuat misteri yang tidak saja visual, namun juga dapat melahirkan lagi misteri dan ilusi-ilusi tentang berhagai hal yang lain. Para perupa berhak mengajukan berbagai ilustrasinya mengenai lukisan ini.
Di samping itu, dalam pameran ini direncanakan tampil beberapa lukisan Raden Saleh koleksi Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. [Mikke Susanto]
Informasi ini dipublikasikan oleh:
Jogja Gallery [JG]
Jalan Pekapalan No 7, Alun-alun Utara, Yogyakarta
Telp. +62 274 419999, 412021, 7161188
Telp/Fax +62 274 412023
Email jogjagallery@yahoo.co.id
www.jogja-gallery.com



Friday, May 11, 2007

The Transposition of Artworks, Taste, and Reference


Mikke Susanto & Nunuk Ambarwati
Transposition: the shifting of position; the process or the change of function and category without the change in shape 1
Since artworks are regarded having trade values, so they have become luxurious items, as well as “miraculous”. It happens because of certain reason. First, it is rare. Second, it implies certain values. Third, it rings specific bell that satisfies someone’s taste and desire. Those are why these “miraculous” things then give impacts – direct or indirect – to someone’s biography.
On the other hand, paintings are also able to manifest so many human needs, especially for the social-cultural-political relation with other human beings. The luxurious items named paintings, for the possessor, seems to be the media for the forming of another capital. Hobby, self fulfilling, mind therapy, or kinds of “cultural ecstasy” have become the reasons or another function that enforce art’s position as the luxurious items. In short, paintings or artworks and other collectibles, possess the power to break through the unexpected borderlines of functions.
Reading the Desire
Quoting Garin Nugroho’s opinion at a seminar in ISI Yogyakarta, two years ago, that there exist two kinds of continuous art in the contemporary world: painting and pop art. Painting has its own running system, either in the marketing area or in its research area. Whereas pop art is understood more as the packaging or characteristic, meaning any arts, as long as they are under popular nuance or situation, will be accepted by many social groups. And so, we are really sure that artworks, in this case painting, have their stable history and condition. Moreover, compared to any other arts, painting possesses the ability to be accepted by many social groups.
Through this argument, we would like to emphasize that the market stability or the situation under the painting art came from the long research and history. One important point in this phenomenon is the existence of painting lovers’ desire that contributes in giving ‘life’ to the painting art. Since the beginning of the art history, painting lovers have attracted historian’s attention. The emerging of the art supporter from the noble class, rulers, governors, religious institutions, or even person in every era had given the enormous contributions.
Speaking about desire, we should also talk about the needs. The desire to have or collect can come from the needs to create the image of one’s power or position. Not less important is the desire to differentiate from others, for example, it is quite normal for people to collect things related to them. This can be seen from the existence of self-portrait, through painting as the media. The most interesting example is King Napoleon in war area in Eyland, when painted by Jean Antoine Gros in 1808, or when he wants his coronation beautifully painted by Jaques Louis David in 1804.
Desire, is also giving interesting impression to mark certain era. We can see the taste of Rococo’s painting lovers around 1700-1750s. The painting lovers “sunk” was very low, as the popular paintings at that time were naked women and the model that portrayed the free lifestyle. This was the era where the painting lover (mostly the nobles and rich men in France and Italy) loves to let loose of their lust and glamorous lifestyle, without even care of their surroundings. That is the reason why Rococo is often considered as a drawback of Renaissance. Once again, collector’s taste and desire seemed important to mark the upheaval of certain era or community. Everything is summed up through the painting collection.
About the Exhibition and the Invited Collectors
Regarding with this exhibition, if we are speaking about market and art research in Indonesia, collectors assume the important roles in the art community’s system and infrastructure. Indonesian Historian, M. Agus Burhan stated that there is no single art, wherever and whenever, that can stand still without any supporting system2. Arts is the integrated part in the era of collective-traditional society, or commonly referred as communal support, whereas in the feudal era, arts got its supports from the institutions, rulers, or often referred as the government support. In the present times, where capitalism is everywhere, the supporters of arts come from the business world or commonly referred as commercial support. Those are the collectors, gallery, and tourism.
Then, ‘what about the existence of the collectors in Indonesia? Who are they? How are they?’ Those questions then become the starting point of this work. In processing the exhibition, we asked the exhibitor candidates to answer the question, “Do you have the artworks that you really loved?” This question emphasizes the fact that when one loves his own artworks, one will not easily give that up but for collection. Thus, all the works here more or less is the private things that are regarded to imply the imaging function and also represent the owner’s taste. The acquisitions of those artworks were based on the reason of personal interest, whether representing the aesthetic taste of the owner or others. Hence, they can be considered assuming the roles as collectors, and the exhibited artworks will grant them another special meaning and status.
By putting the basis on the reason of love, personality, and artworks propinquity, this exhibition tries to be a small map of the supporting realms for arts, which consist of many different professions. Then some names are proposed. Specifically, they were invited from DIY and Central Java, for this exhibition intends to portray their efforts as the collectors living near the artists, or even closer to the centre of arts development: Yogyakarta. They came from different professional and educational background. Some of them are dr. Oei Hong Djien, Dedi Irianto, Alexander Ming, Deddy PAW, Nasirun, Butet Kertaredjasa, Bambang Soekmonohadi, Soekeno, Sugiharto Soeleman, Rahadi Saptata Abra, Simon Tan, Harsono and Siswanto HS/Hasan Berlian.
Nullifying “Seclusion”
This exhibition rolls over the attraction with two purpose. The first one is to nullify the problem of artworks seclusion. This seclusion here means the placement of artworks in the collection rooms. The terms seclusion itself came from the discourse delivered by Sanento Yuliman3 as the impact of the phenomenon of the booming of painting purchasing in the end of 80’s to 90’s. Thus, this exhibition will specifically show the artworks that have become private collections. Why private collections? As Sanento Yuliman proposed, one of the reasons that seclusion happened is the personal collector, not gallery or museum that are considerably more open.
According to Sanento, the moment after the purchasing, paintings are transformed into rich man’s secluded properties. Far from the society and the world. However, the seclusion process itself is urgent to be brought up in the forum, for it even against the slogan of “Artworks as the nation’s treasure” or the motto of “Arts for wider Society” or “Arts for People”. In the end, our minds are directed to the occurrence of the polemic of “cultural privatization through paintings”. There is no way that culture, as the right of society, will be privatized, whether done by person or corporate collectors4. And so the problem of collectors with all the efforts in the background will be interesting to research. How far has the collectors’ realized and understand these kinds of “seclusion”?
Responding to this problem, one of the exhibition participants, Butet Kertaredjasa5 argues that this is not about the “seclusion”, but the problem occurred when the artworks are put into private house. Surely the accessibility level will not be similar to those in gallery or museum. The access will be quite limited, though in one hand they can be very open and proud when their collections are borrowed by the famous museum, or to be included in the exhibition abroad, or become the cover of the books. This is also the reason serves as the underlying basis of the choosing of those works to be shown by their collectors in this exhibition. They are so responsive and respectful in accepting the suggestion, even show their collection openly.
Because of the characteristic, personal collection sometimes make the attitude towards the artworks themselves not or not yet maximal. Considering the importance of self satisfaction, most of the collectors do not employ special staff to inventory or take care of the collection. Hence, most of the time the collectors themselves are taking care and arranging their own collection. So don’t be surprised when once we find the fact that they can’t list their own collection, don’t have the time to count them yet, to another fact that the arrangement and care is so very simple.
Back to the topic, surely we cannot deny the existence of seclusion as the collectors also confess that some of their collection is so “sacred”, great, and precious, or even those they admire most, should stay at their home. Though this may not be significant, for all of the collection imply their own speciality.
Collectors’ Struggle
The second aim is to get the portrait of the collectors’ struggle in collecting every single piece of artworks. In dealing with this second purpose, the emphasis will be put over the taste, comments, and efforts as well as the collecting concept done by the collectors.
Through this small research, some purpose in collecting artworks can be unveiled. Mostly, it serves as a mere investment, then appreciation or psychological satisfaction – because of the pure interest towards arts - , or probably both. Some collectors said that they also collect other forms of arts other than 2 dimensional works (paintings), such as statue, photograph, antiques, jewelleries, etc. Though this exhibition focus only on 2 dimensional artworks, this fact gives insight that 2 dimensional works are still dominating the development of the discourse or even the market of visual arts.
Those reasons are almost mostly taken into consideration by the collector in choosing which artworks to add the collection. Besides, other considerations – if not to mention them as the absolute considerations - also involves many aspects, such as good technique / skill, aesthetic aspects, creativity, and interesting concept the artist try to convey through the works.
Those collectors also said that their collection is economically advantageous when use in the business. It means, they afford the works with the cheap way, under the normal price, in the auction, or can be resold when the price from both party is satisfying.
When asked for further reason of collecting, many arguments were proposed, starting from the close feeling to the artist, intention to economically helping certain artists, and other idealistic reasons such as family and self-appreciation as well as starting a private collection museum. The personal relationship between the collectors and the artists turns out to be one of the important considerations in owning certain works, like what Nasirun did. He is so admiring his lecturer, that he bought the works that are considered as the important points in the artist’s career.
We can also note that these collectors have already had their own favourite artists. And the impact is the privilege for the first preview of the works, in the studio, just before the works are marketed or exhibited. This is just one integrated part of the effort of building the closeness and relationship.
Differentiation of Taste
Problem about taste is also presented in this exhibition. The taste of each collector is quite represented through the artworks that they propose for this exhibition. Clearly, we have no normative reference in collecting the works, which is the best way of collecting woks, or the most profitable way to collect artworks, etc. However, we can also infer the ‘red-line’ of this taste thing when two collectors propose the artworks from the same artist, even though with different reason.
The representation of the taste is supported by one’s social background, as well as the reference and the background knowledge. Speaking about reference and the background knowledge, we can find something interesting about the development of art collectors in Indonesia. Indonesian collectors are quite aware that their role in the art infrastructure is often acknowledged. Some reviews from the art critics, articles in the media, gossips, or even the direct progress of the artists become the additional references for those collectors. They also have the awareness to help the progress of Indonesian young artists to improve their quality with their own way.
Even though we can still face some art people, whether they are collector, kolekdol [= collector but act as art dealer too], or even the artists which gives the bad image towards the system, market infrastructure, and the Indonesian art discourse, we can still put our hope to the appreciation level, study ethic, integrity, and the awareness of building a better system that most present collectors have in mind. At least, it is proven through by this exhibition.
As quoted from one young collector’s statement, Simon Tan Kian Bing6, that nevertheless the collectors should have the awareness to keep learning and trying to improve the appreciation quality, for it will bring about a great impact as well. Contrasted to the product, then the collectors are the final checks. Like the institution that will rate the worthiness of certain works to collect. If the final check is bad, then the passed artworks will also be bad. But if the final check is good, the quality of the passed works will be good instead.
Then we agree with Butet Kertaredjasa to show one of his personal collections, the work of Vincent van Gogh. This painting portrays a woman and a man, with the background of people harvesting wheat. Butet said that the work is not the original one, or only the reproduction. He deliberately bought one of the 5000 reproductions that are spread around the world with high price in 2002. Besides the interest towards the theme, he also takes the high reproduction skill presented in the works into the consideration. The skill makes every artist’s works can be copied with the scale 1:1 in the colour similarity level, line, and texture up to 90%. From this Butet’s collection, at least it will serve as the learning media of the artists regarded the classic polemic in collecting, originality.
So, if you can conclude many things from the exhibited collection, it is not impossible that our world of art will attract more discussion. Then, who is the real creator of “festivity” in our artworld? +++
Yogyakarta, May 3rd, 2007
End Notes
[1] JS. Badudu, Kamus Kata-Kata Serapan Asing dalam Bahasa Indonesia, Penerbit Kompas, Jakarta, 2003.
2 M. Agus Burhan, “Seni Rupa Modern Indonesia: Tinjauan Sosiohistoris”, dalam Adi Wicaksono dkk (ed.), Aspek-aspek Seni Visual Indonesia: Politik & Gender, Yogyakarta, Yayasan Seni Cemeti, 2003.
3 Sanento Yuliman, Boom! Kemana Seni Lukis Kita?, Makalah Sarasehan Pelukis Jawa Timur, Surabaya, 24 Agustus 1990.
4 Chin-tao Wu, Privatising Culture, Corporate Art Interention since the 1980s, London-New York, Verso, 2002.
5 Wawancara dengan Butet Kertaredjasa, 27 April 2007 di kediamannya, Yogyakarta.
6 Dialog Seni Kita/ DSK, Radio UNISI dan YSC, Yogyakarta, 8 Februari 2002.


Thursday, March 15, 2007

Ingin Terbang Lebih Tinggi

Kemampuan me-manage pameran, dan berkecimpung dalam pengelolaan galeri seni membawanya melanglang ke sejumlah negeri. Pengalaman pun dikecap, dari sebuah profesi yang menurutnya masih langka, menawarkan tantangan tinggi dan kemampuan yang tak cukup diraih sekejap mata.
Nunuk Ambarwati. Sosok wanita satu ini cukup dikenal di tengah pasang surutnya arus berkesenian di Jogja. Memang lebih karib di belakang layer, mengurus tetek bengek manajerial berkesenian, khususnya seni rupa. Coba saja tanyakan pada Nunuk, nilai sebuah lukisan yang bagi awam terlihat serupa corat-coret dan goresan abstrak yang rumit ditafsirkan. Dia tahu persis, bagaimana sebuah karya seni layak mendapat penilaian.

Sekadar menafsir sebuah karya ternyata memang tidak ringan. Butuh pembelajaraan panjang. Teori-teori seni rupa dari buku-buku tebal berbahasa asing pun menjadi santapan keseharian. Senyatanya proses untuk memiliki kemampuan serupa itu sungguh tak singkat.
“Makanya profesi seperti ini masih jarang. Padahal prospeknya sangat bagus. Makin bertumbuhnya seni-seni kontemporer dan galeri-galeri di tanah air membutuhkan peran seorang manajer program dan seni. Setiap galeri butuh sosok manajer yang mampu menggerakkan arah kerja galeri itu. Kehadirannya pun harus membawa brand tertentu, menciptakan brand positioning, laiknya sebuah konsep produk yang membawa citra perusahaan”, kata Nunuk yang kini bergiat di Jogja Gallery sebagai Manajer Program di celah perbincangan dengan Bernas Jogja, pekan lalu.
Nunuk bergabung dengan Jogja Gallery sejak awal berdirinya, September silam. Sebelumnya enam tahun lebih Nunuk bergabung dengan Yayasan Seni Cemeti di bidang pendokumentasian. Dari pergulatannya di dunia seni selama bertahun-tahun itu Nunuk telah mendapatkan eksperimentasi yang tak kecil. Banyak ilmu dan pengalaman didapatnya, saat bersinggungan dengan pelaku-pelaku seni berbagai negeri, juga pengalamannya memintas berbagai Negara. Diantaranya Hong Kong, Taiwan, Korea dan Singapura.
Sudah barang pasti kemampuan berbahasa asing dan kepiawaian lobi menjadi modal utama menekuni profesi itu. Ditunjang pendidikan formal Ilmu Komunikasi Fisipol UGM, dan minat menekuni seni, klop sudah bidang itu menjadi pilihan hidupnya.
Namun meski pengalaman yang diraih telah cukup banyak, wanita kelahiran 18 November 1976 yang masih melajang itu merasa belum ‘apa-apa’. Masih bertebar sederet obsesi yang ingin diraih. Sayap pun terus dikepakkan untuk terbang lebih tinggi. Tak hanya terbang di Asia untuk mengecap pengalaman, namun pula terbang ke berbagai benua.
“Inginnya bisa mempelajari seni dan manajemen galeri ke berbagai benua. Target jangka pendek, magang di sebuah galeri di Australia, saat ini sedang dijajaki”, kata Nunuk yang aktif dalam berbagai kegiatan seni pertunjukan semasa SMP hingga kuliah itu.
Itu untuk urusan kerja. Namun soal target dalam kehidupan pribadi, menurutnya tak perlu dibagi-bagi. Toh inspirasi sosok wanita atas kaumnya lebih ‘prestige’ dikaitkan urusan pencapaian karya, bukan perkara-perkara personal yang kini rajin membayang di layar kaca serupa melekati para pesohor.
Oleh: Shanty Hapsari
Dimuat di Surat Kabar Harian Bernas, Minggu Pahing, 11 Maret 2007, halaman 1

Saturday, March 03, 2007

Fluktuasi Pendokumentasian Format Digital

Pada awal menekuni dunia pendokumentasian (archiving) di pusat dokumentasi seni visual Cemeti Art Foundation/CAF, Yogyakarta, pada kurun waktu 2002-2003, saya dihadapkan pada persoalan memanajemen arsip yang sedemikian kaya dalam bentuk analog atau printted matter. Hingga pada perkembangan selanjutnya kebutuhan untuk memperpanjang umur arsip-arsip analog / printted matter tersebut ke bentuk digital (mengkonversinya dalam bentuk cakram) menjadi hal yang mendesak. Mempertimbangkan iklim tropis di negara kita yang sangat tidak bersahabat dengan bidang kearsipan ini, ditambah niatan agar diseminasi informasi yang lebih aksesibel. Kebutuhan ini tidak saja terjadi di pusat dokumentasi CAF, tetapi juga di Pusat Dokumentasi Yayasan HB Yasin, demikian pula di Balai Konservasi Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, di Jakarta.
Ketika format digital menjadi salah satu pilihan konservasi atas arsip-arsip kita di Indonesia, dan ketika kita masih ‘terengah-engah’ baik segi waktu, energi, penyimpanan hingga pendanaannya menuju ke sana; sementara sejarah di Jerman telah mencatat, kepedulian dalam pengarsipan, terutama pada media digital, sudah dimulai satu dekade setelah seni video lahir di negara tersebut (1963) oleh berbagai individu mau pun lembaga (tulisan Krisna Murti, Beberapa Catatan “40yearsvideoart.de”). Satu hal yang ironis dan paradoks memang.
Sebuah pameran dan buku referensi sebagai output dari proyek “Interarchiv” di tahun 2002 oleh ‘Kunstraum der Universität Lüneburg’, Jerman bisa menjadi salah satu contoh sebuah kepedulian yang sangat luar biasa akan bidang pendokumentasian dalam berbagai format. Proyek ini didahului dengan berbagai seminar dan lecture oleh orang-orang profesional di bidang seni, mengenai inventarisasi arsip menggunakan berbagai media yang berbeda hingga teknik yang tidak umum untuk tidak hanya bergantung pada keunggulan teknik digital. Hal ini diikuti dengan prinsip dasar untuk mengelola karakteristik masing-masing arsip itu sendiri, seperti pendekatan personal, sementara secara bertahap membuka kesempatan kepada publik untuk bisa mengakses arsip-arsip itu sebagai sebuah pintu masuk atas pengetahuan dan jaringan yang lebih luas. Proyek ini merupakan kolaborasi antara seniman Dusseldorfer Hans-Peter Feldmann dan berdasarkan kerja kearsipan yang hingga saat ini belum selesai dari seorang kurator kearsipan Hans Ulrich Obrist pada ‘Kunstraum der Universität Lüneburg’. Bukunya sendiri terfokus pada wacana terkini mengenai praktek kearsipan. Bagaimana fungsi dan kemungkinan koleksi, museum atau arsip budaya pada situasi globalisasi dan media virtual didiskusikan sama pentingnya mengenai bagaimana pola konstitusi, pola kerja dan kekuatan akan memori.
Sementara proyek “40yearsvideoart.de, Digital Heritage: Video Art in Germany from 1963 to Present” ini lebih terfokus dan mengajak kita untuk mulai memikirkan bagaimana format konservasi yang ideal atas media video atau digital. Maka saya sependapat dengan Krisna Murti dalam tulisan yang disampaikannya mengenai bagaimana Jerman tampak mempunyai kesadaran institusi dan institusionalisasi budaya, semusykil apa pun termasuk video, sebagai tanggung jawab kelangsungan peradaban termasuk kepada generasi mendatang.
Ketika kita masih dihadapkan banyak ‘pekerjaan rumah’ atas situasi pendokumentasian seni visual Indonesia, mulai dari hal teknis hingga non teknis. Seperti persoalan mengumpulkan data, memanajemen hingga diseminasinya baik melalui media cetak, visual mau pun virtual. Ketika kita dihadapkan pada perkembangan media digital ini begitu pesat, dan kita juga dihadapkan pada pilihan format manakah yang paling tepat untuk bidang kearsipan seni visual Indonesia? Dimanakan kita harus berdasarkan diri antara material arsipnya [kuantitatif] atau lebih pada fungsi kearsipan itu sendiri [kualitatif]? Bagaimana mendokumentasikan materi yang tidak dapat terdokumentasikan [un-documentables] seperti performance dengan bau atau rasa? Ataukah dihadapkan pada pertanyaan format video ini sebagai dokumentasi atau sebuah video artwork? Ketika masalah konservasi/restorasi karya seni rupanya sendiri masih menjadi sesuatu yang sangat mewah, kompleks dan langka di dunia seni visual kita saat ini. Bagi saya proyek “40yearsvideoart.de, Digital Heritage: Video Art in Germany from 1963 to Present” ini merupakan bentuk ‘tamparan halus’ untuk membangunkan para arkhivaris Indonesia kita akan kepedulian pendokumentasian dalam bentuk dan sedetail apa pun. Maka apa yang bisa saya sarankan untuk situasi pendokumentasian seni visual Indonesia saat ini adalah:
Konservasi fisik yaitu melakukan konservasi standar dan semaksimal mungkin bisa kita lakukan. Seperti penyimpanan dengan suhu tertentu, perawatan berkala dan hal teknis lainnya. Yang kedua adalah back up atas arsip itu sendiri. Back up di sini pun tidak melulu pada satu format saja. Sebagai misal format arsip tersebut dalam bentuk audio, maka back up penting lainnya adalah dalam format transkrip dan seterusnya. Pada prinsipnya saya tidak ingin terbebani atau tergantung pada satu pilihan media teknis yang seperti apa. Pilihan media teknis itu sendiri saya serahkan kepada masing-masing konservator, mana format yang paling ideal untuk karakteristik bentuk arsip itu sendiri.
Konservasi non fisik yaitu menjadikan material arsip yang pasif sebagai sumber belajar yg aktif. Hal ini penting untuk bisa membuat arsip itu sendiri lebih bisa ‘hidup’ lebih panjang, terakses lebih luas dan mengembangkan berbagai kemungkinan dengan melibatkannya ke berbagai lintas disiplin. Dimana kita tahu arsip berperan penting dalam wacana kontemporer di bidang seni visual, museology, cultural studies dan filosofi. Konservasi ini bisa dalam bentuk pengembangan atau memproduksi kembali materi arsip tersebut dalam sebuah program seperti pameran, riset dan sebagainya. Karena arsip tidak hanya sebuah catatan, tetapi sebagai bentuk dorongan dan inisiator yang aktif untuk memproduksi sesuatu.
Disamping itu, yang lebih penting lainnya mengenai tingkat kesadaran atas pendokumentasian itu sendiri pada setiap individu. Kesadaran sebagai ‘penjaga’ dari originalitas, keaslian karakteristik dan keunikan material arsip, sebagai pelindung dari warisan budaya dan seorang manajer dari himpunan pengetahuan. Maka dengan ini bagaimana kita terus-menerus memunculkan regenerasi dokumentator-dokumentator handal mau pun pusat-pusat dokumentasi baru yang spesifik di bidangnya masing-masing.
*Nunuk Ambarwati, tinggal dan bekerja di Yogyakarta. Pernah bekerja sebagai Head of Archive and Media Relations di Cemeti Art Foundation [CAF], Yogyakarta pada kurun waktu Februari 2002 – November 2006. Saat ini bertindak sebagai Program Manager di Jogja Gallery/JG [www.jogja-gallery.com], Yogyakarta. Kontak selanjutnya melalui email: qnansha@yahoo.com



Tuesday, February 06, 2007

Eksisten di tengah Sekaten

Pameran Seni Lukis: EKSISTEN
Jogja Gallery, Yogyakarta, 27 Februari – 25 Maret 2007
Kurator Jogja Gallery: Mikke Susanto
Exhibition Advisor: Heri Pemad

Pameran ini diselenggarakan sebagai respon atas pasar malam sekaligus agenda tahunan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat: SEKATEN. Dalam pameran ini perupa diharapkan dapat memberi sumbangan kreatif berupa karya-karya yang memiliki tema untuk mengingat kembali keberadaan dan sejarah kota Yogyakarta. Hal ini menarik dilakukan agar publik merasakan kembali bagaimana kota Yogyakarta yang telah berusia 250 tahun ini berjalan.

Meski pun pameran ini pada dasarnya mendukung gebyar pasar malam SEKATEN, tetapi juga menyimpan tujuan yang sangat berarti yaitu memberi rangsangan untuk mengingat berbagai kejadian dan situasi yang telah, sedang dan mungkin akan terjadi di Yogyakarta. Gambaran-gambaran tentang berbagai aktifitas (yang menjadi perhatian banyak orang Yogyakarta), polemik (tentang berbagai kebijakan dan kejadian kota), atau ruang-ruang publik Yogyakarta dapat dikaitkan dengan isi dan tema karya yang akan dipamerkan dalam pameran ini. Ada pun secara konsep teknis dan visual, pameran ini membuka peluang terhadap berbagai gaya, pendekatan visual mau pun aliran pemikiran.


Sumber materi atau subjectmatter yang dapat diusung dalam pameran ini misalnya:
Ruang-ruang publik yang menarik seperti Kantor Pos Besar, Tamansari, Kraton Malioboro, Pasar Sapi, Jembatan Kali Code, Tugu, pemandangan alam dan ruang rekreasi keluarga seperti pantai dan aktifitasnya, dan sebagainya.
Orang-orang yang menjadi perhatian dan penting dalam sejarah dan perkembangan Yogyakarta.
Aktivitas-aktivitas yang dinilai eksotis dan menjadi daya tarik bagi visual.
Kisah, cerita, legenda atau berita yang mengetengahkan kelengkapan perkembangan di sektor kebudayaan, politik mau pun dalam seni rupa sendiri dan di sektor lainnya yang telah memberi warna dalam perkembangan kota.

Daftar calon peserta pameran:
Andy Wahono – Anggar Prasetyo – Agus Triyanto BR – Aji Yudalaga – Anang Asmara – Bambang Heras – David Armi Putra – Dedy Maryadi – Denny ‘Snod’ Susanto – Didik Nurhadi – Dyan Anggraini Hutomo – Erizal As – Galam Zulkifli – Hadi Soesanto – Hamdan – Herly Gaya – I Gusti Ngurah Udiantara – I Nyoman Darya – Iwan Sri Hartoko – Julnaidi MS – Kusmanto – Luddy Astaghis – M Andi Dwi – Nanang Warsito – Nasirun – Nico Siswanto – Niko Ricardi – Oskar Matano – Ridwan – Robby Fathoni – Saepul Bachri – Samsul Arifin – Setyo Priyo Nugroho – Stefan Buana – Slamet Suneo Santoso – Sito Pati – Syahrizal Pahlevi – Yayat Surya – Wara Anindyah – Warsitho

Jogja Gallery [JG]Jalan Pekapalan No 7, Alun-alun Utara Yogyakarta
Telepon +62 274 419999, 412021, 412023, 7161188
Fax +62 274 412023
Email jogjagallery@yahoo.co.id, info@jogja-gallery.com
www.jogja-gallery.com

Agraris Koboi!


Visual Art Show - "AGRARIS KOBOI!"
Jogja Gallery, Yogyakarta, 10 – 20 Februari 2007

Di dasawarsa terakhir, Yogyakarta dipenuhi oleh berbagai kejutan visual. Wajah kota menjadi ‘glamour’. Jalan-jalan penuh warna, entah oleh mural atau spanduk, neon box dsb. Tembok-tembok toko tak lagi kosong. Pejalan kaki menjadi ‘tamu’ atas perangai para penggagas visual. Bahkan ruang privat anak-anak muda saat ini tak lagi melompong berisi kasur, almari dan tape recorder. Kini, semua penuh dengan gambar. Gejala ini bisa jadi sebuah euforia atau mungkin juga demam visual. Berangkat dari salah satu gejala yang memanas semacam ini, kurator hendak mengajukan sebuah “manifes bersama” untuk meneguhkan semangat atas kejutan visual tersebut dan menjadi ‘visi baru’ dalam seni rupa yang berkembang di Indonesia.
Manifes ini dimulai dengan mengekspos karya-karya yang memiliki kecenderungan ‘menggambar’ dalam arti teknis. Serta unsur utama dalam karya-karya ini adalah lukisan-lukisan yang mengetengahkan keseharian dan/atau hobby anak muda yang sedang mencari tren sekarang. Pendek kata, karya-karya mengusung gejala dan budaya populer, yang bersifat liar, dimanis, imajinatif.


Selain itu, pameran ini hendak mengetengahkan fenomena seni rupa kontemporer di Yogyakarta tersebut yang konon masih dianggap sebagai bagian dari kultur besar (sub-kultur). Pameran ini hendak memberi ketegasan untuk menandai mereka dalam satu gaya/fenomena yang terjadi di sela berbagai kecenderungan gaya yang berkembang di Yogyakarta. Karena sementara ini banyak sekali anggapan bahwa karya-karya mereka masih dianggap ‘bukan lukisan’ atau ‘bukan karya seni’ (lebih parah lagi itu ada yang menyebutnya ‘polusi visual’), dan dianggap sekadar permainan visual yang menjamur di beberapa tempat (ruang publik maupun ruang privat mereka).


Dalam hal ini Jogja Gallery hendak memperjelas posisi mereka. Mereka adalah juga bagian dari perkembangan seni visual di Yogyakarta pada khususnya, dan Indonesia pada umumnya. Mereka bukan lagi sebagai sub-gaya dari aliran besar bernama Pop art atau sub-kultur dari aliran Pop Culture yang berkembang. Mereka terlihat sangat serius, dalam upaya menggeluti konsep seninya. Keseriusan itu terlihat ketika mengelaborasikan kehidupan seharian dengan pola berpikir tentang kajian sejarah, politik dan kebudayaan secara umum, yang notabene telah menjadi bagian dari napas hidup mereka.

Lokalitas yang membedakanDalam hal ini, terdapat hal yang membedakan antara perupa peserta pameran ini dengan mereka dengan yang ada di Bandung, Jakarta dan Bali. Jika kesamaan adalah ekspos kebudayaan populer lewat munculnya elemen-elemen kebudayaan misalnya televisi, majalah, telepon seluler dan sebagainya, maka mereka, peserta pameran ini, mendapatkan inspirasi dari aktivitas kebudayaan yang muncul di kota Yogyakarta. Tepatnya adalah kehidupan yang terjadi di seputaran masyarakat seni rupanya.


Mereka berkembang bersama dengan seniman-seniman ‘aliran’ lain. Mereka bergumul dengan perhitungan-perhitungan visual. Mereka juga masih menekankan unsur-unsur artistik, kemampuan teknik, dan memadukan desain & komposisi yang energik. Sehingga kebersamaan mereka dengan seniman-seniman lain tersebut memberi warna terhadap karya-karya yang dihasilkan. Dimensi pemikiran yang melatari ragam karya mau tak mau juga diinspirasi oleh beberapa hal, diantaranya ilmu sejarah (rata-rata mereka kuliah di ISI Yogyakarta), hubungan pertemanan antar perupa (terutama dengan perupa-perupa senior: imajiner maupun diskusi langsung) dan budaya lokal Jogja yang melingkupi mereka. Tak pelak banyak muncul berbagai elemen visual yang memandai itu semua.


Sekarang yang menjadi perhatian kita (penonton) sanggupkah mereka yang secara pemikiran banyak dipengaruhi dimensi dan sejarah hidup yang “ke-Barat-barat-an”, menangkap gejala lokalitas (ke-Yogya-annya yang konon masih dianggap masih dalam kehidupan agraris itu) dalam karya seni?

Seniman peserta: Agus Yulianto – Arie Dyanto – Eko Dydik ‘Codit’ Sukowati – Decky ‘Leos’ Firmansyah – Uji ‘Hahan’ Handoko – ‘Iyok’ Prayogo – Krisna Widyathama – Iwan ‘Pandir’ Effendi – Nano Warsono – Riono Tanggul a.k.a Tatang – Wedhar Riyadi

Mikke SusantoKurator

Seni Lukis Tunisia, Tidak Melulu Kaligrafi

DESKRIPSI : SENI LUKIS DI TUNISIAJogja Gallery, Yogyakarta, 10-20 Februari 2007Kerjasama antara Kedutaan dan Konsul Kehormatan Republik Tunisia dengan Jogja Gallery, Yogyakarta

Generasi pertama perupa Tunisia mengenal seni modern melalui pendidikan yang mereka terima dari Sekolah Seni Murni di Tunisia mau pun di Eropa atau bahkan secara otodidak, hal ini kemudian lebih mengeksploitasi kelebihan natural yang mereka miliki. Situasi ini berkebalikan dengan pelukis Eropa, pelukis asli asal Eropa tidak diikuti oleh berbagai arus perkembangan seni yang diakibatkan oleh perang.

Sekelompok pelukis lulusan pendidikan seni di Tunisia, terdiri dari Ammar Farhat, Yahia Turki, Jelel Ben Abdallah, Abdelaziz Gorgi, Ali Bellagha… yang kami anggap sebagai sekelompok pelukis seni modern generasi pertama, terpilih sejak mereka mulai dengan bahasa plastis membawa nilai-nilai tradisional dan keasliannya. Dalam karya lukis mereka, sebuah visi kenangan tertentu berubah menjadi penanda berkenaan dengan perkembangan dunia yang semakin modern.

Bersama generasi kedua, di tahun ’60-an terlihat perkembangan sejumlah bakat-bakat muda dan ekspresi artistik plural. Generasi baru ini lebih mempunyai keterbukaan interpretasi eklektik atas seni lukis barat dan bereaksi menentang arus seni yang sebelumnya. Hal tersebut terjadi di dalam situasi yang sedikit antusias baik secara individu mau pun dalam sebuah kelompok. Di era ini dimana kami menemukan berbagai gambaran ekspresi seperti seni abstrak, figur-figur baru dan berbagai variannya.

Inovasi membawa mereka ke dalam “gelombang baru” untuk membentuk kelompok-kelompok yang lebih kecil berawal di tahun 1963. Generasi ini ditandai dengan tendensi atas seni abstrak dan kaligrafi. Kelompok ini tidak keluar dari patronnya yang mana mereka pakai sebagai sumber inspirasi, bahkan di dalam dunia fashion seperti tanda dan simbol tradisional, atau dengan mengadaptasi kemungkinan yang tidak terbatas dari seni kaligrafi dan arsitektur Arab.

Memasuki generasi berikutnya, pelukis tahun ’70-an mengeksplorasi bidang mereka dimana dimungkinkan untuk menggunakan ekspresi spiritualnya. Perupa muda terdidik di Sekolah Seni Murni di Tunisia dan menghabiskan kurang atau lebih waktunya untuk tinggal di Perancis (untuk studi atau tinggal di kota pusat seni dunia yakni Paris), mereka mengolah misteri seni surealis atau bahkan berbagai hal di dunia yang mereka temui, berkaitan dengan pengembangan sisi personal dan pengalaman mereka masing-masing…

Mereka tak bukan adalah Rafik El Kamel, Abderazak Sahli, Guider Triki, Noureddine El Hani… Sepanjang tahun ’80-an, seni lukis di Tunisia menjadi saksi kemunculan berbagai eksperimen sementara menghindari abstraksi tertentu.

Generasi berikutnya, pada tahun 1987-1997, dimana pameran ini didedikasikan kepada mereka, memperluas ketertarikan atas bidang-bidang baru. Dari 20 perupa, kami telah menyeleksi sejumlah perupa laki-laki mau pun perempuan dimana kami anggap bisa merepresentasikan perupa muda dalam kurun waktu 10 tahun terakhir.

Berikut nama perupa yang berhasil kami konfirmasi keikutsertaannya, yakni:

Ahmed Hajjeri Rachid Fakhfakh Lamine Sassi
Raouf Karray Meryem Bouderbala Feryal Lakhdhar

Bersama ini, kami juga hendak memperkenalkan bakat-bakat muda yang menjanjikan, khususnya perupa perempuan seperti Rym Karoui, Sonia Drij, Insaf Saada, Asma Mnaouer, Najoua Abdelmaksoud. Kita diminta mempelajari secara kronologis karya-karya dari para perupa yang berpartisipasi dalam pameran ini berdasarkan gaya mereka masing-masing.

Dalam sebuah perhelatan Universal Exhibition “Aichi 2005”, negara Tunisia mengikutsertakan 6 perupanya yang memiliki kesamaan umum dalam interpretasi personal mereka di segala aspek.

Kekayaan dan keragaman lukisan karya Abderrazak Sahli membawa kita ke dalam bentuk-bentuk dan warna labirin. Karyanya tidak berhenti memberi kejutan dan mengherankan kita dengan tema dan komposisinya melalui berbagai kekayaan warnanya, seperti yang termanifestasikan dalam dua karya yang diajukan untuk pameran ini dimana masing-masing merefleksikan kesatuan antara unsur air dan alam.

Rachid Fakhfakh dengan judul karyanya Homage to Earth – Fertile Land I dan II merepresentasikan kombinasi lengkap yang menggunakan bidang magis sebagai model untuk mengorganisasi dan bidang modul sebagai bentuk ekspresi. Sebenarnya ini dua variasi dari tema yang sama dimana menggunakan sebuah frame berdasar urutannya, yang terdiri dari 25 gambar, warna dari pasir dan beragam tekstur di atas bidang berukuran lebih dari satu meter.

Sementara Raouf Karray, karya lukisnya dikenal dari tanda, simbol dan terkadang kaligrafi yang saling bertabrakan satu dengan yang lainnya melalui tekanan dan warna yang kuat , dimana menarik perhatian mata kita untuk tidak meninggalkan setiap detail dalam sebuah ruang inspirasi yang diwariskan dari leluhurnya. Dalam karya yang dipamerkan kita menemukan perbedaan gaya, sebagai sebuah komunikasi atas pesan yang berkaitan dengan energi dan proteksi atas alam.

Elemen arsitektural merupakan titik pijak perjalanan artistik dari perupa Hatem Gharbi. Tujuannya adalah meniru secara alamiah dengan men-setting benda-benda yang berkaitan secara esensial dengan batu dan relief yang diekspos secara puitis dan sunyi. Kepekaan yang lebih baik bisa dilakukan melalui sebuah komunikasi. Di dalam karyanya, gelombang merupakan elemen komunikasi dimana lingkaran konsentris akhirnya adalah bunga matahari. Namun ketika bumi ingin menyampaikan pesannya kepada kita, apakah kira-kira yang akan dia sampaikan?

Didalam karya abstraknya yang selalu menampilkan alam sebagai elemen terkini, Asma M’Naouar mengembangkannya melalui penempatan intens atas materi dan warna terutama merah dan echre. Karya-karya yang dia ajukan membuka keterpesonaan kita atas alam dengan lampu yang didampingi dengan teknik kikisan, memperlihatkan kepekaan kita atas landsekap melalui sentuhan semangat warna-warnanya.


Lukisan karya Najoua Abdelmaksoud adalah transposisi personalnya dari berbagai elemen seperti karakter, pemandangan dari jalan, arsitektur dimana merupakan turunan dari sebuah perencanaan dan deformasi dari sebentuk proporsi yang tepat untuk sebuah gaya dari seorang seniman. Karya yang dipamerkan dalam pameran ini adalah gambaran ucapan terima kasih alam atas intervasi manusia dalam usahanya menciptakan alam yang bersih dan sehat.


Terjemahan bebas diambil dari sinopsis “Painting in Tunisia” yang dipublikasikan oleh the Embassy of Tunisia, Jakarta. Image karya Hajjeri Ahmed, She's surprising me, 120x122 cm, acrylic on canvas.

Monday, February 05, 2007

The Thousand Mysteries of Borobudur


Kompetisi Seni Visual 2007
THE THOUSAND MYSTERIES OF BOROBUDUR
UNESCO Office Jakarta – Jogja Gallery - Dept. Pariwisata & Budaya RI - UGM - PT. Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan & Ratu Boko

Bagi sebagian besar orang awam, tidaklah mudah menerjemahkan eksistensi Borobudur. Apalagi jika hal itu dikaitkan dengan kehidupan personalnya, baik sebagai bagian dari profesi, status maupun hobinya. Sejarah hidup seseorang yang berbeda-beda, tentu saja takkan bisa dengan mudah tersambung dengan sejarah Borobudur. Harus ada upaya untuk ”menggerakkan” Borobudur dan masyarakatnya untuk bersama-sama menghubungkannya.
Borobudur, sebagian besar diketahui masyarakat sebagai bangunan besar buatan manusia. Seluruh sejarah yang terjadi padanya juga tidaklah dengan cepat dan kuat menarik perhatian sebagian orang untuk memeliharanya. Mencermati berbagai cerita dari relief di badan Borobudur yang indah itu saja misalnya, terasa benar bahwa Borobudur sudah selayaknya ”menjadi bagian” dari diri kita semua. Kita tahu Borobudur bukanlah benda eksklusif. Ia tak membutuhkan perhatian berlebih. Ia hanya membutuhkan hidup dan perawatan dengan kesadaran masyarakatnya. Tentu saja lewat perupa dengan karya seninya.


Kompetisi ini bersifat terbuka dan akan menjadi bagian dari pameran besar bertajuk ”The Thousands Mysteries of Borobudur” yang akan digelar di Jogja Gallery pada 20 April-9 Mei 2007. Kompetisi ini adalah bagian dari kerjasama UNESCO, Jogja Gallery, UGM, dan PT. Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan & Ratu Boko bersama mitra-mitra yang lain. Kompetisi ini tidak dibatasi oleh ideologi yang condong pada situasi tertentu atas Borobudur, namun lebih banyak diidentifikasi sebagai bentuk kritis perupa terhadap eksistensi Borobudur secara jujur dan dalam bentuk karya seni.

Karya-karya seni yang dipamerkan atau dikompetisikan diharapkan lebih mencerminkan bentuk, sikap, dan jawaban atas pertanyaan perihal pengingatan kembali pada semangat menjaga peradaban manusia secara arif, terutama kepada bangun kreatif bernama Borobudur yang penuh misteri. Agenda ini, sekali lagi mencoba mengingatkan kembali peran, kelakuan, kerangka pikiran kita semua dan mencoba mengisi Borobudur dengan berbagai bentuk pergerakan pikiran kreatif.

1. Pemenang
· Kompetisi ini akan mengambil 20 finalis yang akan diikutsertakan dalam pameran. Dari 20 (dua puluh nominator) akan diambil 5 ( lima ) terbaik yang akan diumumkan pada saat pembukaan pameran.
· Kelima pemenang tersebut akan mendapat hadiah masing-masing Rp. 3.000.000,- (tiga juta rupiah) dan mendapatkan sertifikat pemenang dari UNESCO.

2. Sifat dan spesifikasi
· Tema karya disesuaikan dengan pengantar di atas.
· Kompetisi ini bersifat terbuka-nasional dan tidak dibatasi usia. Peserta adalah mereka yang tinggal dan beralamat di Indonesia , dan tidak dibatasi oleh kewarganegaraan.
· Media karya yang digunakan bebas (dwimatra atau trimatra: lukisan, patung, grafis, batik, keramik, instalasi, fotografi, dan sebagainya), sedangkan ukuran salah satu sisinya tidak lebih dari 200 cm.
· Setiap peserta diperkenankan mengajukan 2 judul karyanya.

3. Ketentuan Teknis
· Penjurian dilakukan dengan seleksi foto karya. Untuk itu setiap peserta dipersilakan mengirim foto karya (10 R Glosy) yang diajukan dan dikirim paling lambat 5 Maret 2007) disertai konsep karya dan biodata peserta terbaru.
· Untuk informasi lebih lanjut dan pengiriman foto karya dialamatkan ke:

Panitia Kompetisi THE THOUSAND MYSTERIES OF BOROBUDUR
d.a. JOGJA GALLERY
Contact person: Nunuk Ambarwati [+62 81 827 7073]
R. Daru Artono [+62 85 643 898 779]
Jl. Pekapalan 7 Alun-alun Utara Yogyakarta.
T: 0274 419999, 412021, 412023, 7161188
Email jogjagallery@yahoo.co.id

· Pengumuman 20 nominator (finalis) akan diberitahukan via surat ke peserta yang karyanya terseleksi atau mengakses alamat website: www.jogja-gallery.com
· Karya yang sudah terseleksi diharapkan masuk paling lambat tanggal 5 April 2007.
· Pengiriman karya ke Jogja Gallery ditanggung oleh perupa, sedang pengembaliannya tanggungjawab Jogja Gallery.
· Pihak penyelenggara berhak memakai image karya sebagai bagian dari publikasi dan semua aktivitas yang terkait dengan pameran ini.
· Setelah melalui tahap seleksi, karya diharuskan siap pamer dengan menyertakan keterangan karya secara lengkap.
· Karya diharapkan dapat dijual, dengan ketentuan yang disepakati oleh pihak perupa dan penyelenggara. (Catatan: 60% untuk seniman, 20% untuk perawatan Borobudur, 20% untuk biaya packing dan pengiriman karya kembali ke perupa dan atau ke pembeli karya).

4. Juri
dr. Oei Hong Djien (pengamat seni dan kolektor)
DR. M. Agus Burhan, M.Hum. (ISI Yogyakarta )
Mikke Susanto, S.Sn. (Jogja Gallery)
Ir. Guntur Purnomo Adi (PT. Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko)
DR. Ir. Laretna T. Adhisakti, M.Arch. (Univ. Gadjah Mada)

Program ini terselenggara berkat kerjasama
UNESCO Office Jakarta, Jogja Gallery, Dep. Pariwisata & Kebudayaan RI, Universitas Gadjah Mada, PT. Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko, Center Heritage Center [CHC].