Thursday, August 23, 2018

Abad to Outerspace

Abad to Outerspace
Abad Tristan Sihgit, saya biasa memanggil anak laki-laki ini dengan nama Abad. Usianya baru 14 tahun. Menurut ayahnya, anak pertamanya ini sudah lancar membaca sejak usianya 4 tahun. Sejak itu, ia mulai dibelikan komik, cergam dan juga puzzle. Orang tuanya sangat memperhatikan perkembangan anak pertamanya ini. Seiring waktu, Abad semakin menyukai mainan puzzle, sehingga ayahnya bertambah sering membelikannya. Abad sangat sering bersentuhan dengan komik, cergam, dan juga puzzle, lalu menuangkan ekspresinya kedalam gambar. Ia kemudian mulai menggambar komik, bahkan lengkap dengan pengenalan karakter-karakternya. Figur-figur karakter imajinatif pun mulai muncul dari buah pikirannya. Figur-figur yang menyerupai hewan maupun manusia makin muncul dalam coretan-coretannya. Lama kelamaan, figur-figur tersebut ia isi dengan macam-macam bentuk bidang geometris. Ayahnya terus saja membiarkan anaknya ini untuk meng-eksplorasi gagasan-gagasannya selama beberapa tahun. Pada usia 13 tahun, Abad mulai berkarya di kanvas menggunakan cat akrilik dan karya-karyanya dipamerkan di Jogja Contemporary (pameran tunggal). Sejak saat itu, Abad semakin sering mengajak maupun diajak orang tuanya melihat acara-acara pameran seni di Yogyakarta, tujuannya adalah agar dapat terus mengembangkan gagasan dan karyanya.



Di pertengahan tahun 2018 ini, Abad kembali berpameran tunggal dengan karya-karya kanvasnya. Akhir-akhir ini, Abad sangat menyukai film-film bertemakan luar angkasa. Pada pameran kali ini, Abad ingin menuangkan ketertarikannya dengan benda/makhluk luar angkasa. Abad memilih OUTERSPACE sebagai judul pameran tunggalnya ini. Istilah outerspace ini tidak muncul begitu saja, awalnya secara tidak sengaja, ia menonton salah satu video musik beatbox di channel youtube, ia melihat judul beatbox itu, disana tertulis “beatbox to outerspace” (https://www.youtube.com/watch?v=TIwdANwJY28). Maka diputuskanlah istilah ini menjadi judul pamerannya. Tirana Arthouse and Kitchen menjadi tempat pilihan diselenggarakannya pameran ini.
Outerspace dirasakan Abad bisa mewakili imaji-imajinya tentang luar angkasa tanpa adanya kepentingan lain yang mempengaruhinya. Dengan lugu (khas anak-anak pada umumnya) , ia mengolah gagasan-gagasannya, misalnya saja ketika ia sedang keramas, ia melihat brand shampo yang ia pakai. Dengan polosnya, dituangkanlah nama brand tersebut kedalam karyanya. Atau ketika ia mendapatkan kata plankton dalam pelajaran IPA di sekolah, lalu menuangkan gagasanya kedalam visual karya.
Abad punya pandangan sendiri terhadap sebuah benda maupun makhluk hidup. Menyusun dan menggabungkan (sifat dari permainan puzzle) juga dilakukan dalam proses berkaryanya. Ia menggabungkan beberapa visual objek menjadi satu, dan penggabungan itu pun berlanjut menjadi judul karya. Dalam pemilihan judul, ia punya istilah-istilah sendiri yang berasal dari penggabungan tersebut. Dapat dilihat pada karya yang berjudul “foctacle 30” karya ini berukuran 60x60cm, Abad mengimajinasikan sebuah pesawat ufo dan tentakel dari gurita. Pesawat ufo menghadap ke kanan dan kaki-kakinya merupakan tentakel, ufo itu dilukiskannya sedang terbang menjauh dari sebuah planet. Karya selanjutnya ia beri Judul “splankto 8” (ship dan plankton), sebuah pesawat yang menghadap keatas. Ketika Abad membuat visual pesawat ini, serta merta ia teringat akan pesawat besar (eng : ship) milik S.H.I.E.L.D yang ada di film The Avenger. Kata “plankton” ia dapatkan di sekolahnya, ketika guru IPA sedang menjelaskan salah satu mata pelajarannya tersebut, sontak Abad tertarik dengan kata itu kemudian mencari referensinya di internet. Ia memutuskan untuk menggabungkannya dengan pesawat. Selain dua gabungan kata, ada juga karya yang menggunakan tiga kata sekaligus, seperti pada karya yang di imajinasikan Abad adalah sebuah roket berbentuk dasar segilima yang menghadap keatas dengan dorongan pengapian dari bawah dan mempunyai sistem kendali ditengah. Menurut Abad, bentuk roket tersebut terinspirasi dari bentuk bintang (eng: star) yang selama ini kita kenal, lalu jilatan api yang keluar dianggapnya menyerupai kaki kodok (eng: toad), sistem kendali berbentuk antena menyerupai mata kodok. Dari ketiga hal (eng: rocket-star-toad) tersebut, akhirnya Abad menggabungkannya menjadi “Rockstoad” sebagai judul karya ini. Ketiga hal ini sangatlah berbeda jika disandingkan menjadi satu, namun Abad dapat menggabungkan beberapa hal tersebut menjadi satu objek, satu frame, dan satu judul.
Bagi saya, metode yang dipakai oleh Abad ini sangatlah menarik, berawal dari kesukaannya terhadap komik, cergam, dan puzzle di masa kanak-kanaknya, hingga sekarang ia mempunyai metode tersendiri untuk menuangkan ide-ide khasnya dalam usia saat ini. Dari menggabungkan puzzle hingga mem-puzzle-kan gagasan, visual, dan istilah dalam judul-judul karyanya. Dalam pameran ini, Abad mempresentasikan 10 karya baru yang sangat menarik untuk dilihat, dinikmati, dan juga dicermati/diulik. Selamat berpameran kembali teruntuk Abad. Selamat datang bagi masyarakat, pemerhati, maupun pecinta seni. Mari bermain “puzzle” bersama seniman muda kita, Abad Tristan Sihgit.
Yogyakarta, Agustus 2018
Arif Hanung TS

Thursday, July 19, 2018

BUNTARI KERAMIK: Menjaga tradisi dari tanah sendiri

Buntari dari bahasa Jawa yang artinya semangat pemuda. Adalah seorang pemuda, Sidik Purnomo asal Dusun Pager Jurang, Klaten. Sidik telah menggagas Buntari Keramik sejak tahun 2014. Sidik terlahir dari dusun Trucuk, dusun yang berdekatan dengan dusun Pager Jurang, Bayat, Klaten. Di dusun Pager Jurang, daerah tersebut sebagai sentra industri keramik secara turun temurun. Kerajinan keramik di dusun Pager Jurang menjadi sentra industri di dusun tersebut dengan teknik putaran miring. 

Membuat keramik mempunyai beberapa teknik yang dipakai, seperti teknik pilin, teknik pinch, cetakan dan teknik putaran. Teknik putar ada 3 jenis: handlingwheel (putaran tangan), kickwheel (putaran kaki) dan machinewheel (putaran mesin). Putaran miring termasuk golongan putaran kaki. Secara teknik, dalam pembuatan pottery tidak jauh berbeda satu sama lain. Akan tetapi kalau dilihat dari nilai historisnya, putaran miring memiliki konsep yang menarik.  Yaitu, disamping ide konstruksinya putaran miring didesain untuk para perajin perempuan yang tidak boleh duduk dengan kaki terbuka, tetapi selonjor dan tertutup karena memakai kain panjang (jarik). Teknik putaran miring digunakan untuk memfasilitasi para perempuan yang mayoritas bekerja pada industri ini.

Pada dasarnya, Buntari berdiri dengan tujuan untuk melestarikan budaya putaran miring dusun Pager Jurang di Klaten. Dan juga ingin mengembangkan potensi sumber daya alam dan manusia dari Bayat itu sendiri. Karena tujuan untuk melestarikan alat putar tersebut, tentu kebanyakan produk yang diproduksi adalah pottery (diproduksi dengan teknik putar) bukan cetakan. Bahan baku keramik di dusun Pager Jurang menggunakan tanah liat jenis earthenware (gerabah atau tanah merah) yang diambil dari bukit di daerah tersebut. Proses pembuatan keramik diawali dari pengambilan tanah lihat, persiapan tanah liat, proses pembentukan, penjemuran, dan terakhir pembakaran. Tanah liat asal Bayat tergolong jenis tanah earthenware (tanah merah) yang memiliki kualitas cukup baik apabila disandingkan dengan tanah liat sejenis dari beberapa daerah lain. Tanah ini dapat dibakar mencapai suhu 1.180 derajat Celcius. Itu artinya tanah tersebut dapat diproduksi layaknya keramik yang menggunakan bahan tanah jenis stoneware. Eksplorasi desain dan terus melakukan ujicoba bahan dapat mengembangkan nilainya.


 Kelebihan karya-karya keramik yang dihasilkan oleh Buntari Keramik adalah justru dari orisinalitas dan kesederhanaannya. Buntari sengaja menonjolkan karya dengan warna-warna asli tanah dan natural. Karya-karyanya simple, baik dari proses hingga pewarnaan, tetapi justru dari kesederhanaan ini, Buntari ingin menunjukkan bagaimana teknik dan ketrampilan yang dikedepankan. Kita bisa belajar bagaimana mengolah tanah sekelas gerabah menjadi tanah yang potensial, menghasilkan karya yang tak biasa namun indah dan bermakna dalam. Upayanya tak sia-sia, Sidik pernah mendapat penghargaan untuk menjalani residensi dan mendalami keramik di Jepang. Dan baru-baru ini, tepatnya Februari 2018 lalu, Buntari terpilih sebagai bagian dari 10 terbaik Youth Creative Award yang diselenggarakan UNESCO dan Citi Foundation. Hasil dari penghargaan tersebut, Sidik dengan Buntarinya telah berhasil membuat tungku pembakaran sendiri. Tungku pembakaran yang baik sangat penting untuk hasil maksimal pottery yang diinginkan. Dari proses perancangan desain dan material, Sidik membuat sendiri melalui penelitian kecil-keilan dari tungku-tungku yang ada. Setelah itu, Sidik membuat kerangkanya ke tukang las, membeli berbagai material kemudian merakitnya. Meskipun saat ini masih ada trial and error, hasilnya cukup baik untuk produksi.

Tak berhenti disitu, banyak hal masih ingin dicapai Buntari adalah menjadi trendsetter atau dapat mengangkat pottery dari Bayat memiliki kualitas dan nilai estetis dan material yang tinggi. Tidak hanya itu, dalam perkembangannya, Buntari terus melakukan berbagai eksperimen yang berkaitan dengan perkembangan keramik. Pada akhirnya. Buntari ingin menjadi ceramic center di Bayat yang dapat memfasilitasi berbagai macam kebutuhan para perajin; antara lain bisa jadi konsultan bagi mereka, membuka kelas-kelas workshop keramik, mempromosikan Bayat sebagai sentra usaha keramik yang maju dan tetap menjaga tradisi dengan membuka program residensi bagi para keramikus dari seluruh dunia.

HASTAG MAGER


Ketiga seniman yang akan mempresentasikan karya mereka ini rata-rata kelahiran ’90-an. Arif Hanung TS lahir tahun 1990, Cahaya Novan lahir tahun 1987 dan Erza Q-Pop lahir di tahun 1989. Maka rata-rata mereka masih berumur kurang lebih 30 tahun. Mereka yang lahir di tahun 90’an dikategorikan sebagai kaum millenials. Millennials atau kadang juga disebut dengan generasi Y adalah sekelompok orang yang lahir setelah Generasi X, yaitu orang yang lahir pada kisaran tahun 1980- 2000an. Maka millenials adalah generasi muda yang berumur 17- 37 pada tahun ini. Millennials sendiri dianggap spesial karena generasi ini sangat berbeda dengan generasi sebelumnya, apalagi dalam hal yang berkaitan dengan teknologi. Sehingga generasi ini sangat mahir dalam teknologi (sumber: https://rumahmillennials.com/siapa-itu-generasi-millenials/). Karakteristik millenial berbeda-beda berdasarkan wilayah dan kondisi sosial-ekonomi. Namun, generasi ini umumnya ditandai oleh peningkatan penggunaan dan keakraban dengan komunikasi, media, dan teknologi digital (https://id.wikipedia.org/wiki/Milenial).
Ketiga seniman yang akan berpameran ini juga sangat dekat dengan dunia teknologi, televisi berwarna dan juga gadget. Pada pameran mereka sebelumnya (pameran bersama) tahun 2016, di Bentara Budaya Yogyakarta, mereka mengusung tema HASTAG KZL. Pameran bersama mereka di tahun 2018 ini tidak lepas dari perjalanan berkarya di HASTAG KZL tersebut. Pada pameran sebelumnya, HASTAG KZL, mereka berupaya menampilkan karya dan ambience sesuai tajuk yang mereka usung. KZL diartikan sebagai perasaan kesal, bete, murung akan kondisi tertentu. Pameran kali ini mereka klaim sebagai rangkaian kekaryaan pameran sebelumnya. Penikmat karya diajak untuk merefleksikan kembali dan membaca benang merah karya dari pameran HASTAG KZL ke HASTAG MAGER ini.

Meskipun konsep karya bicara tentang hal kekinian dan dikerjakan oleh mereka yang lahir di era milenials; namun karyanya tidak melulu tampak digitalized atau futuristik. Seperti disampaikan di paragraf awal bahwa karakteristik millenial berbeda-beda berdasarkan wilayah dan kondisi sosial-ekonomi. Demikian pula mereka. Karakter sosial dan berkebudayaan kaum millenials kental terasa pada karya masing-masing mereka bertiga. Disamping menggunakan tajuk yang sangat familiar dengan istilah kaum mereka, karya-karya mereka juga berdasarkan keahlian, profesi, hobi yang melatarbelakangi mereka. Pada pameran kali ini dibagi 3 ruang, ruang pertama akan kita temui karya-karya personal mereka sesuai konteks tema Mager. Ruang kedua, karya masing-masing seniman sebagai referensi tambahan proses berkarya. Dan ruang terakhir (bawah), adalah karya kolaborasi mereka bertiga dan mengundang Noris Subagyo untuk merespon karya tersebut. Noris lebih dikenal sebagai pekerja seni otodidak, kelahiran Ambarawa.





KARYA
Karya Arif TS Hanung sangat terinspirasi dari pekerjaan yang pernah ia tekuni, yaitu matte painting (teknik layering) di dunia perfilman. Latar belakang Hanung lahir dan tumbuh di daerah agraris dengan landscape pegunungan dan masih sangat kental kekerabatannya. Dua hal ini membuatnya sangat menonjol menampilkan studi landscape pada karya-karyanya. Sementara dunia digital, pengalaman memakai aplikasi untuk move ke aplikasi selanjutnya (misalnya dari FB ke IG), kadang sulit untuk memakai aplikasi baru, tapi kenyatannya setelah install merasakan kenyamanan. Kenyamanan ini yang membuat mager (malas bergerak), terkesan harus melompat pagar, padahal “pagarnya” justru dibikin dari pikiran sendiri.  Kolaborasi latar belakang inilah menghasilkan karya yang berjudul “Among the Comforts and Challenges”. Pagar kawat berduri dipilih sebagai simbol mager, pagar ini terkesan ambigu, antara diam didalam pagar tapi masih ada celah untuk keluar pagar.

Statement Hanung tentang gadget:
Fungsi lain smartphone bagi saya adalah hiburan selain televisi. “Hiburan” disini bagi saya adalah koneksi internet. Terkadang jika saya dalam keadaan sedang tidak banyak aktivitas, saya sering membukanya dan browsing. Jika memang tidak ada sesuatu yang saya cari, saya sekedar buka sosmed dan hanya melihat-lihat gambar maupun video yang ada disitu. Ya tak lebih sebagai pengantar tidur. Sering saya kebablasan tanpa sadar sudah berjam-jam mantengin smart phone dan merasa kelelahan sendiri.

Sementara karya Cahaya Novan sangat terkesan kontemporer menampilkan karya instalasi yang menggunakan media die cast dan kawat berduri. Die cast yang dipakai adalah mobil impiannya. Die cast disini menyimbolkan dirinya sendiri. Novan mengekspresikan pengalaman dirinya sendiri, ketika belakangan sering menggunakan aplikasi whatsapp; membuat story atau status, cek berapa orang yang like atau berapa yang melihat demikian seterusnya hingga berjam-jam. Dirasakan kemudian, whatsapp seperti candu. Kawat yang membentang terlilit menggambarkan bagaimana candu begitu ingin membelenggu. Lihat bagaimana perbandingan die cast dengan bentangan juga lilitan kawat, sungguh tak berimbang dan seakan menggurita.

Statement Novan tentang gadget:
Bagi saya adalah media berkomunikasi, promosi berbisnis, dan untuk hiburan.

Lain halnya dengan Erza Q-Pop, masih konsisten menggunakan media kayu dengan gaya pop nya. Kesadaran diri tentang mager (malas bergerak) muncul ketika status hubungan berubah. Kaktus, sukulen sedang menjadi hobi yang sedang dekat dengannya saat ini, tanaman seperti kayu tanpa daun. Dalam karya ini, kaktus mewakili diri seniman akan kesadaran membuang waktu saat mager. Erza bisa berlama-lama menikmati hobi barunya ini.

Ketika banyak perubahan diri dan status hubungan terjadi, kesadaran seniman muncul. Erza juga mengalami kerenggangan dengan dunia nyata, seperti halnya simbol-simbol angka adalah kode dimana setiap perubahan lock di gelombang sinyal gadget terjadi. Erza coba mengkritisi fenomena Mujahid Keyboard yang juga menjadi tajuk karyanya. Mujahid Keyboard dikenakan bagi seseorang yang sering mengirim pesan berupa nasehat kebaikan, quote atau kalimat-kalimat penyemangat yang mereka copy paste dari beberapa sumber. Teks-teks tersebut mereka kirim kepada seseorang yang baru saja hijrah mendalami keyakinan tertentu, dikirim secara simultan terus menerus, terkesan menggurui atau bahkan menghakimi. Hal tersebut membuat kadang membuat ketidaknyamanan orang yang menerima pesan.

Erza juga menambahkan dua jam dengan putaran yang berbeda pada karyanya. Jam pertama, putaran normal dan jam satunya putaran lebih cepat. Dua jam ini menyimbolkan refleksi atas waktu. Ketika seseorang terhipnotis dan autis menggunakan sosial media, tak peduli dengan waktu. Tak terasa telah habis berjam-jam hanya memandang layar smartphone.

Statement Erza tentang gadget:
Untuk smartphone saya lebih pada sosial media. Untuk berkomunikasi, berkenalan, sampai hanya untuk melihat aktifitas semua orang, untuk narsis, share statement, melihat trend fashion masa kini atau  istilah istilah baru. Dan dari fungsinya saya mendapatkan hiburan tersendiri dan terkadang membuat baper (emosional) sendiri. Dengan smartphone saya banyak mendapat banyak hal baru dalam dunia kekinian. Saya dengan smartphone sudah menjadi kebutuhan yang selalu lengket ditangan dan menggoyangkan jempol tangan. Hampir 24 jam smartphone ini selalu lengket ditangan dan mata sering tak lepas memandangnya untuk beraktifitas di dunia maya atau sekedar stalking.
Melihat dari presentasi ketiga seniman dengan karya mereka ini, sepakat bahwa mager mereka maknai sebagai candu dan keinginan untuk bisa keluar dari kelekatan tersebut.

KARYA KOLABORASI
Pada bagian terakhir rangkaian pameran ini adalah karya kolaborasi, yang berada di ruang bawah Kiniko Art Space. Karya kolaborasi ini menjadi rangkaian penutup dari karya di Pameran HASTAG MAGER ini. Karya kolaborasi berangkat dari karya personal yang sudah dijelaskan di paragraph di atas. Karya kolaborasi ini lebih kearah harapan. Mereka berharap supaya lebih efektif soal penggunaan waktu dan sosial media. Harapan-harapan tersebut disimbolkan dengan karakter origami. Sementara warna-warna yang muncul adalah simbolisasi warna aplikasi, seperti biru untuk facebook, hijau untuk whatsapp atau line dan seterusnya.
Sementara keyboard sebagai simbol power atas gagasan yang ingin dituangkan.

Karya kolaborasi ini sifatnya working on progress, selama pameran berlangsung, seniman mengerjakan bagian ini. Dengan harapan, setiap pengunjung pameran yang datang bisa berinteraksi langsung dengan seniman, sharing, bertanya, mengungkapkan impresi mereka dan lebih intim. Pengunjung bisa mengikuti proses karya kolaborasi ini dari awal hingga akhir yang akan diposting di sosial media. Di akhir pameran, karya kolaborasi ini akan sepenuhnya utuh selesai. Sifat working on progress ini juga menjadi salah satu bagian promosi supaya penikmat seni mengikuti proses dari hari ke hari, menyaksikan pamerannya dan menunggu hasil jadi karya ini ketika selesai.

Thursday, May 10, 2018

Keep Calm and...

Pameran seni rupa
KEEP CALM AND...karya Arif Hanung T @555hanung | Erza QPop @erzaqpop | Cahaya Novan @cahaya_novan  Di Tirana Art House & Kitchen, Jl Suryodiningratan 55 Yogyakarta8-31 Mei 2018



KARYA
Ketiga seniman yang akan mempresentasikan karya mereka ini rata-rata kelahiran ’90-an. Arif Hanung TS lahir tahun 1990, Cahaya Novan lahir tahun 1987 dan Erza Q-Pop lahir di tahun 1989. Maka rata-rata mereka masih berumur kurang lebih 30 tahun. Menurut saya, ketiga seniman muda ini memiliki benang merah yang sama yakni kecenderungan karya 'abstrak' dengan ciri masing-masing. Abstraknya Hanung yang dua dimensi, abstraknya Erza mixed media dan abstraknya Novan found objects. Benang merah yang lain adalah ‘bermain-main’. Hanung dengan nyaman bermain menggoreskan cat minyak; Erza bermain dengan media kayu yang ia distorsi; demikian juga Novan yang bermain-main mengolah kembali mainan hot wheels. Dalam pameran ini, masing-masing seniman mempresentasikan 15 karya, sehingga total ada 45 karya. Produksi antara tahun 20017-2018.




Arif Hanung T, sangat eksplisit mengajak penikmat seni memberi makna yang dalam pada karya abstraknya. Tahun 2008-2009 pertama kali Hanung menggunakan media kanvas dan cat akrilik. Hanung memiliki background fotografi, aktif juga seni pertunjukan, penikmat dan pernah bekerja di dunia film. Karya-karyanya banyak terinspirasi dari latar belakangnya tersebut. Teknik-teknik fotografi tentang landscape sering ia pakai dalam teknik berkarya. Karya-karyanya yang saat ini dipamerkan adalah sebuah studi tentang bentuk. Hanung lebih menyukai tema-tema alam dan dia lebih sering mengeksplorasi tema tersebut. Tak ada tendensi ingin menyuarakan sesuatu melalui karya-karya yang ia tampilkan saat ini. Murni bermain-main dengan bentuk lewat memori yang ia tuangkan dalam kanvas. Maka penikmat seni boleh memaknai karya Hanung dengan persepsi mereka sendiri. Penikmat seni diharapkan bisa mendapatkan ‘pesan rasa’ melalui goresan kuasnya, demikianlah bagaimana menikmati karya abstrak. Hanung merupakan salah satu dari ketiga seniman ini yang konsisten berkarya abstrak dengan media kanvas akhir-akhir ini. Bila mengikuti karya-karya Hanung, maka kita bisa ‘membaca’ bagaimana ia memiliki karakter mengolah tekstur dan cat yang tebal.




Erza QPop (Erza Budi Faisal)
Erza menampilkan karya dengan media acrylic dan potongan kayu jati belanda yang asimetris. Potongan kayu ini awalnya adalah bentuk utuh dari perahu, rumah, pesawat atau mobil. Kemudian oleh Erza diobrak-abrik, dibongkar sedemikian rupa hingga menjadi bentuk yang sekarang (asimetris). Pemilihan media kayu ini bukan tanpa alasan. Erza memiliki latar belakang ilmu robotik. Erza mengambil teknik-teknik assembling dalam robotik ia prakteknya dalam karya kayunya. 


Ini merupakan karya pertama Erza dengan media kayu. Pameran ini juga menjadi penanda penting bagi Erza sebagai pribadi. Dimana ini adalah masa-masa hijrah untuk menjadi personaliti yang ia yakini sekarang. Perubahan personaliti ini turut mempengaruhi karya-karyanya. Dari segi karakter maupun bentuk berubah. Namun demikian tetap ada benang merah yang menjadi jembatan pembacaan karya Erza sejak awal ia berkarir sebagai seniman. Benang merah itu adalah modifikasi motif batik khas Yogya yang tetap ia pakai hingga kini. 



Sementara Cahaya Novan  karyanya cukup mengejutkan. Ia 'bermain-main' dengan mobil hot wheels yang ia olah lagi. Hot wheels, miniatur mobil yang muncul sejak tahun 1968 ini memang dikoleksi anak-anak hingga dewasa. Novan sendiri sudah menyukai dan mengoleksinya sejak ia di bangku menengah pertama. Sehingga bukan hal baru baginya. Ia mengkombinasikan mainan ini dengan found object lain atau juga teks. Total hot wheels yang dipakai ada 20 miniatur untuk 15 karya. Ada hot wheels yang masih utuh atau dibongkar rodanya hingga dipotong bagian bodinya. Tak seperti karya Novan sebelumnya yang berlimpah warna, karya-karyanya yang ini lebih minimalis tapi dalam makna.


Karya-karya Novan kali ini endapan dari konflik perasaan si seniman. Bila diamati satu persatu, karyanya penuh sindiran atas fenomena sosial sering kita jumpai. Lihat saja, ada satu karya dengan presentasi gambar Ka’bah dan mobil hot wheels warna perak ditepi frame. Hot wheels yang dipakai pada karya ini adalah mobil fantasi (tidak ada wujud nyatanya). Novan ingin mengkritisi fenomena orang berulang kali naik haji, atau naik haji hanya dengan tujuan peningkatan status sosial, hanya untuk gengsi dan bukan ibadah yang sesungguhnya. Jenis hot weheels mobil fantasi (tidak ada wujud nyata), fantasinya aneh-aneh bukan tujuan utama. Atau hot wheels warna putih dengan latar belakang warna yang sama; menurut Novan itu mobil sejuta umat, Avanza putih (ha ha ha). Karya ini bicara tentang mobil sebagai kebutuhan atau prestise. Bahkan kita bisa membaca status sosial seseorang dari jenis mobil yang ia miliki.

TAJUK Tajuk pameran ini bisa jadi ajakan atau nyinyiran; 'Keep Calm and...'. Sengaja, di belakang kata 'and' dikosongkan, berharap penikmat seni mengisi sendiri sesuai mau mereka. Tajuk ini cukup merepresentasikan mereka. Bukan santai sih tapi lebih tepatnya menikmati tiap proses berkarya bertiga. “Keep Calm and…” juga bisa menjadi penyikapan terhadap problematika yang terjadi pada diri keiga seniman ini agar tetap berpikiran bersih, netral dan matang.

Karya-karya mereka segar dan menarik! Ada banyak cerita & impresi yang dihadirkan. Pameran ini adalah 'jembatan' menuju pameran mereka bertiga selanjutnya di bulan Juli di Kiniko @kinikoart. Penikmat seni diajak untuk mengintip, melakukan pembacaan dan mengikuti proses bersama karya mereka melalui pameran 'Keep Calm and...' ini. Nantikan karya mereka selanjutnya!
* Nunuk Ambarwati
(081-827-7073)


__________________________________________




CURRICULUM VITAE
NAME                   : ARIF HANUNGTYAS SUKARDI

DOB                      : 26 Oktober 1990
PHONE                 : 0819 0330 3355
ADDRES                : Perum Kasongan Permai, Bantul, Yogyakarta
EMAIL                   : hanzhu@rocketmail.com
FACEBOOK/IG     : Arif Hanung TS/555hanung

Performing
Jagongan Wagen February edition (Di Batas Cahaya), Padepokan Seni Bagong Kussudiardja,Yogyakarta
Jagongan Wagen November edition(Lenggak-lenggok Suara), Padepokan Seni Bagong
Kussudiardja, Yogyakarta
Jagongan Wagen September edition (Re-kreasi), Padepokan Seni Bagong Kussudiardja, Yogyakarta
Jagongan Wagen Goes To Jakarta, Galeri Indonesia Kaya, Jakarta
Jagongan Wagen May edition (Mingset Greget), Padepokan Seni Bagong Kussudiardja, Yogyakarta Performance Art, VW anniversary, Yogyakarta

Pameran Tunggal
“REFILL”, Indische Koffie, Fort Vredeburg, Yogyakarta

Pameran 5 tahun terakhir
TETRIS, Parallel event biennale xiv, equator #4. Galleri Fadjar Sidik. Yogyakarta
Kenduren #4 (HORIZON) art jog parallel event. Perahu Art Connection. Yogyakarta
HASTAG KAZETEL, Bentara Budaya Yogyakarta.Yogyakarta
TEN GUYS IN ONE CAR (Collaboration Polish and Indonesian Artist), Sesama Gallery, Yogyakarta


Light of Hope, Artotel, Surabaya
25 x 25, Pawitra Artspace, Sidoarjo
LAA #4 (Lempuyangan Art Award), Lempuyangan Elementary School, Yogyakarta
BREAKAWAY, Indiecology Café , Yogyakarta
KENDUREN #3, Perahu Art Connection, Yogyakarta

Ruang Seni Rupa “MERAMAL MAS(S)A”, Padepokan Seni Bagong Kussudiarja, Yogyakarta
Ilustrasi merah bercerita “NARASI ILUSI ZAMAN”, UNS, Solo
ARTLANTIS, Ludens ArtSpace, Yogyakarta
why not to (be) honest, Jogja Gallery, Yogyakarta


ARTIST IN RESIDENCE

SENIMAN PASCA TERAMPIL.Padepokan Seni Bagong Kussudiarja, Yogyakarta.
ART PROJECT
COMMON, Educity complex. Johorbahru. Malaysia
DISPOSISI, Pendhapa ArtSpace. Yogyakarta
NOT ONE LESS with Am+Dg Jason Dy, makam seniman Imogiri. Yogyakarta

_________________________________

NAME                                  : CAHAYA NOVAN

DATE OF BIRTH                    : Yogyakarta, 21 November 1987
ADDRESS                             : Sumberan RT.04, DS II, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul 
                                            Yogyakarta
Email                                  : ovan.cahaya@gmail.com
HP/WA                                : 085 643 663 956

SOLO EXHIBITION
2017
Rumongso Rumangsanono Rumangsani, Tirana Art House and Kitchen, Yogyakarta
2016
OWAH,Indische Koffie,Yogyakarta

2015
ROH KESEPIAN, Rumah Seni Sidoarum. Yogyakarta
2013

OJO DUMEH, Miracle Art Space.Yogyakarta SUMSUMAN, Asdrafi Art Space.Yogyakarta

SELECTEDEXHIBITION
Art Volks JVWF 2017, Jogja Expo Centre, Yogyakarta
Art Charity for Pidie Aceh, Langit Art Space, Yogyakarta
LAA #4 (Lempuyangan Art Award), SD Lempuyangan , Yogyakarta
BREAKAWAY, Indiecology Café, Yogyakarta
Borobudur Today Art And Emotion, Gallery SMSR.Yogyakarta

 “ARTLANTIS”, Ludens ArtSpace, Yogyakarta
Apeman “Ruwatan Sampah Cokro Manggilingan”. Malioboro
“Rambut Putih”, Tahun Mas, Yogyakarta


TAK MEMBIDIK TITIK,Gendis resto,Yogyakarta. TATTO MERDEKA, Jogja Nasional Museum.Yogyakarta. SAY PEACE WITH COLOUR, Lempuyangan. Yogyakarta.
BERSAMA SANGGAR KALPIKA.Taman Sari.Yogyakarta.
OCTOBER ART PAPER, Rumah Seni Sidoarum.Yogyakarta.
ART INTOSPECTION, Pawon Art Space.Borobudur.Magelang.
”BABARAN”, Asdrafi Art Space,Yogyakarta.
LEMPUYANGAN ART AWARD, Yogyakarta.
ANDEROCK “21-21”Asdrafi Art Space,Yogyakarta.
ULTAH ASDRAFI 58th, Asdrafi Art Space.Yogyakarta.

APEMAN “Dari Malioboro Untuk Indonesia” on Street Malioboro, Yogyakarta.

MENGEJA DOA-DOA, Kersan Studio.Yogyakarta.


NAME                                : ERZA Q-POP

DATE OF BIRTH                  : Bantul, 12 Oktober 1989
ADRESS                             : Bregan, Mulyodadi, Bambanglipuro, Bantul, Yogyakarta
EDUCATION                       : UMY Electrical Engineering
PHONE                              : 081226927884
EMAIL                               : erzaqpop@gmail.com

SOLO EXHIBITION
2016
Solo Exhibition “#JogjaHits” Indische Koffie, (Beteng Vredeburg Yogyakarta)
2012
Solo Exhibition “Dreaming” Tujuh Bintang Art Space, Yogyakarta.

SELECTED EXHIBITION

2016

“Orangutan menolak punah”, JNM, Yogyakarta
“Art Charity for Pidie Aceh”, Langit Art Space, Yogyakarta
“BREAKAWAY”, Indiecology Café, Yogyakarta
“Bianglala” Jogja Nasional Museum, Yogyakarata. (Perwakilan Komunitas KUMBANG MEKAR UMY)
“Move ART#2” Tahunmas Art Room, Yogyakarta.

“Mini Exhibition” Fisipol UMY, Yogyakarta.
“Narasi Ilusi Zaman” Gedung Innovation Center UNS, Solo.
“Anniversary Motor Antique Club” Gedung Graha Wanabhaktiyasa, Yogyakarta.
“Artlantis” Ludens Art Space, Yogyakarta.

“Milad Fisipol UMY ke 46” Sportorium UMY, Yogyakarta.
“Kumbang Mekar” Fisipol UMY, Yogyakarta.
“Why Not To (be) Honest” Jogja Gallery, Yogyakarta.

Thursday, April 19, 2018

Hari Warisan Dunia

#Heritage4Generations17-18 April 2018

Mungkin bukan hanya saya yang belum tahu, bahwa tanggal 18 April 2018 diperingati Hari Internasional untuk Monumen dan Situs atau secara informal dikenal sebagai Hari Warisan Dunia. Ditetapkan oleh ICOMOS pada tanggal 18 April 1982 dan disetujui pada Konferensi umum UNESCO ke 22 pada tahun 1983. Sementara itu, kita (Indonesia) memiliki 8 situs warisan dunia (apa aja hayo?). Maka bersama sekitar 40 anak muda dengan berbagai komunitas, UNESCO & Kementrian Pendidikan & Kebudayaan RI merayakan bersama dalam bentuk workshop "Borobudur dalam Potret Lanskap Budaya".

Mungkin juga bukan hanya saya yang belum tahu bahwa Borobudur itu nama Kecamatan, nama Kelurahan (Desa). Maka Borobudur tidak hanya sekadar candi, Borobudur adalah lanskap. Selama dua hari mereka melakukan cultural mapping (dibagi dalam 5 kelompok) di seputaran kawasan Borobudur. Dan hari berikutnya memaparkan hasil mapping dan mendiskusikan upaya nyata membuat Borobudur sebagai sebuah wisata kawasan. Bahwa di kawasan Borobudur bisa kita temui wisata kuliner, wisata budaya, kearifan lokal, handicraft khas tiap desa, seni pertunjukan dan masih banyak yang lain.
Inilah bentuk perayaan kami, semoga memberi kontribusi positif bagi perkembangan wisata kawasan Borobudur 

Foto-foto oleh
Hairus Salim
Akbar Muhibar
Nisya
Nunuk Ambarwati


PERAYAAN HARI WARISAN DUNIA 2018
Workshop “Borobudur dalam Potret Lansekap Budaya”
Borobudur, Magelang, Jawa Tengah
18 April, 2018 

Hari Internasional untuk Monumen dan Situs (secara informal dikenal sebagai Hari Warisan Dunia) ditetapkan pada tanggal 18 April 1982 oleh ICOMOS dan kemudian disetujui pada Konferensi Umum UNESCO ke-22 pada tahun 1983. Dengan adanya hari yang diistimewakan ini akan memberi kesempatan untuk meningkatkan kesadaran publik tentang keragaman warisan dunia dan upaya yang diperlukan untuk melindungi dan melestarikannya, serta untuk menarik perhatian publik terhadap kerentanan yang ada pada setiap warisan dunia.

Di Indonesia, yang menjadi tuan rumah delapan Situs Warisan Dunia yang telah ditetapkan oleh UNESCO, perayaan Hari Warisan Dunia telah dilakukan sejak bertahun-tahun di berbagai daerah di Indonesia. Dalam hal ini, selama bertahun-tahun, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah melakukan kegiatan kesadaran publik dengan komunitas lokal, kelompok pemuda, masyarakat sipil, media dan kantor pelestarian warisan di seluruh Indonesia. Untuk 2018, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan akan mengadopsi tema global Hari Warisan Dunia 2018 yang diluncurkan oleh ICOMOS, yaitu Warisan Untuk Generasi.

Untuk itu, Kementerian Pendidikan & Kebudayaan Republik Indonesia  menyelenggarakan serangkaian kegiatan selama 17-18 April 2018 di daerah Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. Acara ini dilakukan untuk menciptakan lebih banyak kesadaran serta memfasilitasi transfer pengetahuan antar generasi dalam memahami Borobudur sebagai salah satu Warisan Dunia di Indonesia, dan bagaimana cara kerjanya dengan lansekap budaya dan dinamika perkembangan modern yang melingkupinya. Acara yang dikemas dalam bentuk workshop ini mengambil tema“Borobudur dalam Potret Lansekap Budaya”. Pada hari pertama, sekitar 40 peserta workshop diterjunkan ke lapangan di sekitar delapan belas  titik di kawasan Borobudur termasuk didalamnya Candi Borobudur, Candi Pawon, Candi Mendut, Balkondes Borobudur, Balkondes Bumiharjo, Balkondes Ringinputih, Balkondes Kenalan, Sanggar Saking Ndene – Giritengah, Arum Art, Nglipoh, Batik Borobudur,  Punthuk Setumbu, Gereja Ayam, Rafting, Candirejo,  Pengelola Homestay di Ngaran,  Kelurahan Karanganyar, Kecamatan Borobudur, Dinas Pariwisata Magelang, Bappeda Magelang. Para peserta melakukan pengamatan dengan mendengar dan melihat kondisi yang ada di lokasi masing-masing, serta juga melakukan wawancara dengan pengelola situs serta perwakilan pemerintah dan masyarakat. 




Di hari kedua, pada tanggal 18 April 2018, para peserta berkumpul bersama para pemangku kepentingan dari Balai Konservasi Borobudur, PT. Taman Wisata Candi Borobudur, BPCB DIY, BPCB Jawa Tengah, Camat Borobudur, Forum Rembug Klaster dan perwakilan masyarakat Borobudur. Dalam sambutannya, Kepala Sub-Direktorat Warisan Budaya Benda Dunia, Kementerian Pendidikan & Kebudayaan, Yunus Arbi, menyampaikan,” Yang ingin ditekankan dalam perayaan Hari Warisan Dunia ini sekarang adalah bukan lagi hanya mengenalkan apa itu warisan dunia, tetapi lebih kepada bagaimana kita menransfer pengetahuan kita kepada generasi yang lebih muda  sehingga mereka bisa terus melestarikan Situs Warisan Dunia kita dengan pendekatan dan inovasi yang kekinian ala generasi muda sekarang. Mereka juga perlu mengidentifikasi titik titik kerawanan dalam upaya pelestarian sehingga mereka kemudian bisa memberikan kontribusi solutif di masa mendatang.

Perayaan Hari Warisan Dunia ini juga diisi dengen pemotongan tumpeng bersama oleh para peserta workshop bersama para pemangku kepentingan dari Balai Konservasi Borobudur, BPCB DIY, BPCB Jawa Tengah, Perwakilan Kemdikbud, Camat Borobudur, PT. Taman Wisata Candi Borobudur, staff UNESCO di Borobudur serta perwakilan masyarakat Borobudur. 

Setelah dilakukan pemotongan tumpeng, peserta kemudian menikmati penampilan tari Kubro Siswo dari rup tari komunitas Borobudur serta kemudian melanjutkan dengan diskusi hasil pemetaan dipandu oleh pengamat budaya dari LIKE Indonesia Yogyakarta, Hairus Salim. Menurut Hairus Salim, dengan mengubah perspektif memandang Borobudur tidak semata-mata candinya saja, tetapi juga sebagai kawasan, akan membuat kegiatan wisata menjadi sebuah dialog dan pertemuan antartradisi, antarkelompok masyarakat, antarkota dan desa, singkatnya antar mereka yang berbeda. 

Dalam diskusi lanjutan ini potensi kawasan Borobudur menjadi bahan diskusi yang cukup hangat. Para peserta menyampaikan masukan dan pemikiran yang cukup segar tentang bagaimana Borobudur bisa dikembangkan sebagai kawasan, berikut tantangan dinamika sosial di dalamnya.



Tuesday, April 10, 2018

Seni Rupa dalam Prangko

Tirana Art House & Kitchen
14 April - 6 Mei 2018

Selamat datang di "pertemuan" bangsa-bangsa.

Forum ini merupakan pertemuan budaya melalui lembaran prangko, alat pembayaran dalam pengiriman surat. Meskipun saat ini peran dan pemakaian prangko sudah berkurang signifikan akibat adanya alat telekomunikasi sosial-virtual-digital-paperless yang canggih, namun daya tariknya tak pernah turut hilang. Dari selembar prangko berbagai hal dapat diambil pelajaran. Selain sebagai romantika masa lampau, pameran ini juga bisa untuk mengingat sejarah kebangsaan, tafsir selera estetika (dan politik) sebuah negara melalui pemerintah atau lembaga yang menerbitkan prangko, sampai pada pergolakan hak publikasi harta karun nasional masing-masing negara. 

Pameran ini menyajikan materi khusus berupa prangko dengan tema seni rupa dari 31 negara (antara lain: Belanda, Rwanda, Jerman, Amerika, Uni Emirat Arab, Tiongkok, Singapura, Rumania, Yaman, Mozambique, Hungaria, sejumlah koloni Prancis, dan sebagainya). Seni rupa yang dimaksud dalam sajian prangko ini misalnya potret para perupa dan karya seni rupa yang dipakai sebagai objek visual pada prangko. Potret pelukis Rembrandt, Rubens, sampai pelukis Indonesia terkenal, S. Sudjojono ada di dalamnya. Sedangkan foto karya seni rupa yang dijadikan objek visual prangko adalah lukisan, gerabah, keramik, dan kartun. Lebih dari 150 an lembar prangko terkurasi disajikan dalam pameran ini.

Dalam dunia filateli, objek seni rupa menjadi salah satu pilihan penting di dalamnya. Hampir setiap negara memiliki prangko bertema seni rupa. Dalam pameran ini tersaji objek seni dengan pilihan lukisan dari kajian sejarah seni rupa modern, utamanya seni lukis modern Eropa. Oleh sebab itu judul pameran ini memakai kata "Fine Art". Sebagian lukisan yang dipakai sebagai objek prangko merupakan lukisan era Renaissance (yang berkembang pada 1300-1600 M, seperti "Monalisa" karya Leonardo da Vinci, atau nama besar lainnya seperti Raphael, Fragonard, dan Diego Velazquez). Ada pula lukisan beraliran Realisme (Gustave Courbet), Surealisme (Dali), Kubisme (Picasso), hingga kartun Disney (yang bersifat kontemporer). Selebihnya seni rupa tradisi klasik seperti dari Jepang dan Tiongkok juga tersaji. Sedangkan dari Indonesia, tersaji lukisan Raden Saleh, Basoeki Abdullah, Popo Iskandar, Srihadi Soedarsono, dan lainya.

Agenda ini juga ingin memberi konsep pameran prangko agar lebih modern dan dinamis, khususnya bagi penggemar dan peminat filateli. Inilah salah satu cara untuk melihat gabungan displin bidang seni yang melahirkan sejumlah asumsi dan opini. Di luar hal tersebut prangko juga menjadi benda koleksi berharga yang bernilai tinggi: penanda zaman, sejarah, dan nilai artistik yang bisa dipelajari lebih jauh. Untuk itu semua perlu disajikan pada masyarakat.

Pameran ini menampilkan sebagian saja dari koleksi Dicti Art Laboratory, Yogyakarta. Materi pameran adalah prangko orisinal yang terdiri dari 2 (dua) jenis lembaran. Pertama, lembaran kecil seperti perangko pada umumnya yang telah dipakai pada amplop. Kedua, lembaran utuh yang belum terpakai dan dari berbagai ukuran, mulai separuh A5 hingga A5. Materi lainnya adalah prangko yang di-reproduksi untuk membantu penonton melihat detil di dalamnya. Prangko yang disajikan kali ini diterbitkan kisaran dekade 1950an hingga 2000an.

Jika dilihat dari elemen-elemen prangko seperti teks nama negara, teks hari peringatan, dan objek visual agaknya menjadi hal menarik. Dalam sejumlah besar prangko, konsep demografi atau batas teritorial negara, telah diabaikan. Misalnya, prangko bergambar lukisan Raden Saleh (seniman asal Indonesia), dicetak oleh Singapura, lukisan Rubens dicetak oleh Jerman, atau lukisan "Monalisa" dipakai oleh negara di luar Prancis (tempat dimana lukisan tersebut di displai). Hal ini menandai sifat global karya seni, sekaligus telah menjadikan prangko sebagai arena penghargaan masing-masing negara atas karya-karya masterpiece dunia.

Mari berkeliling dunia melalui lembar gambar miniatur bangsa-bangsa di dunia. 

Mikke Susanto
(Dicti Art Laboratory)
____________________________________________

DICTI ART LABORATORY


Mitra budaya yang bergerak menjadi bagian kerja kesenian, utamanya sebagai laboratorium kajian seni rupa. Visi yang diemban adalah mendukung dan menggerakkan berbagai program seni sebagai bagian dari kehidupan bermasyarakat. Program-program yang terkait seperti penelitian, pelestarian, kurasi, manajemen seni, kearsipan, dan penerbitan buku adalah bagian dari agenda di dalamnya. Lembaga ini didirikan oleh Mikke Susanto dan Rina Kurniyati pada 2010 sebagai bentuk kepedulian akan kurangnya infrastruktur seni yang ada di Indonesia.


Tirana Art Management
Tirana Art House and Kitchen
Jl Suryodiningratan 55 Yogyakarta
Buka setiap hari pk 09.00-24.00 WIB
Kontak 081-827-7073