Monday, April 08, 2013

'Playing with Mind' | pameran boneka & lukisan karya Tina Wahyuningsih





PERGILAH BERMAIN

Saya merasa sangat beruntung, mengikuti perjalanan berkesenian seorang Tina Wahyuningsih (lahir di Purwokerto, 11 Agustus 1977). Pada Desember 2011, saya berkesempatan mengorganisir pameran perdana Tina di Via Via Café Traveller, Yogyakarta. Dan sejak saat itu, berkembanglah karya-karya Tina seiring banyaknya undangan pameran baik di Indonesia hingga manca negara. Berbagai undangan pameran ini sebagai bukti diakuinya eksistensi Tina sebagai seorang seniman. Hingga sejauh pengamatan saya, karya Tina semakin lebih matang dalam konsep namun tetap konsisten bernuansakan dunia dongeng. Itu yang mencari cirikhas ibu berparas manis berputri satu ini.

Pada kesempatan pameran tunggal Tina yang kedua, saya pun berkesempatan mengorganisirnya. Meski temanya tak jauh berbeda dengan pameran tunggalnya yang pertama waktu itu, yakni ‘Mimpi Dunia Empuk/Dream of Pillowy World’; saat ini Tina mengambil tema ‘Playing with Mind’, di Tirana Artspace, Yogyakarta 23 Maret hingga 20 April 2013. Tina tidak hanya memamerkan karya-karya bonekanya saja, tetapi juga akan hadir karya lukisan Tina diatas kanvas juga diatas kayu.  Bila diamati perkembangan karyanya, pada karya boneka-bonekanya, Tina tidak lagi mengandalkan kain produksi pabrikan yang dijual di pasaran. Dulu Tina dengan serta merta mengambil motif dan warna dari kain pabrikan yang ada. Tetapi sekarang Tina mengaku lebih puas ketika ia melukis sendiri pakaian, raut wajah, rambut dan seluruhan figur boneka tersebut. Pemilihan warna-warnanya pun sangat retro, klasik dan kalem. Hal ini diakui Tina karena ia pribadi sangat menyukai produk-produk bernuansa vintage dan ternyata sangat mempengaruhinya dalam pengolahan campuran cat pewarnaan karya-karya dia.

Boneka-boneka karya Tina ini tampil dalam berbagai figur, seperti rubah, rusa putih, beruang, pohon hingga pesawat. Berukuran rata-rata tinggi 20 cm (boneka paling tinggi berukuran 50cm), berbahan dasar kain blacu, dilukis dengan cat acrylic dan dakron sebagai isinya. Hampir semua boneka yang Tina produksi kali ini, memiliki wajah. Menurutnya, ia ingin mempersonifikasikan figur-figur tersebut sehingga bisa bercerita lebih banyak dan membongkar imajinasi si penikmat karya.

Meski pun ia mengaku, baginya media boneka atau soft toys lebih menantangnya dalam berkarya, membuat tangan dan pikirannya tak pernah diam memproduksi. Tina tidak hanya ingin berhenti mengeksplorasi satu media saja. Maka ia mencoba menuangkan gagasan-gagasannya dalam lukisan diatas kanvas juga kayu, yang ia mulai di tahun ini. Bisa kita nikmati ada 8 judul karya lukisan Tina dalam pameran kali ini, berukuran masing-masing 25 x 25 cm. Karya lukisnya tidak hanya menggunakan cat acrylic, tetapi berbahan campuran seperti dengan kain dan campuran teknik jahit/semacam sulam sederhana.

Dalam presentasinya, Tina juga menyertakan deskripsi-deskripsi masing-masing karya yang penuh imajinasi dunia khayal. Deskripsi-deskripsi ini sangat penting dalam proses berkaryanya, kadang deskripsi ini muncul lebih dahulu, baru Tina melukisnya diatas kanvas dan bahkan sebaliknya. Sebagai misal, karya lukisnya berjudul ‘Rombongan Kelinci Perdu’ yang bercerita tentang pertemuan imajiner dengan rombongan kelinci yang nyaris seragam melintas sambil mendendangkan lagu pujian tentang hutan. Sosok kelinci dalam mitologi China melambangkan umur panjang. Kelinci adalah lambang sifat keanggunan, kesopanan, kebijaksanaan, keramahan, dan keindahan.

Bersama Tina, kita bisa diajak untuk keluar dari dunia nyata, memasuki negeri dongeng yang penuh warna dan imajinasi. Banyak hal bisa menginspirasi Tina untuk membentuk figur-figur dalam karyanya, mulai dari film, buku bacaan dongeng yang penuh ilustrasi didalamnya, saat bermain dengan Kaysha (putrinya) dan aktivitas lain yang menyertainya sebagai seorang ibu rumah tangga. Namun baginya, dunia sirkus mau pun karnaval ala Eropa betul-betul sangat ia sukai dan kemudian seolah-olah menjadi kiblat dalam karya-karyanya. Maka bisa kita temukan sosok berjubah merah, atau si rubah manis, kelinci –kelinci dengan dasi kupu-kupu dan sebagainya yang cenderung mengesankan negeri barat. Melalui pameran ini, Tina ingin mengajak kita untuk melepaskan diri dari pikiran-pikiran yang membebani dan sebaliknya memancing imajinasi yang mungkin terlanjur beku dalam kepala kita masing-masing. Selamat menikmati dan selamat bermain-main.

Nunuk Ambarwati
Tirana Artspace

Info, reservasi & minat karya, silakan hubungi:
Tirana Artspace (kontak: Nunuk Ambarwati)
Jl Suryodiningratan 55 Yogyakarta 55141
ph. 0274 411615, 0818277073
e. tiranahouse@yahoo.com, qnansha@gmail.com
PIN 21197ECB | 211C48DA
http://q-nansha.blogspot.com
www.facebook.com/TIRANAHOUSE

Friday, March 08, 2013

UFORIA Pameran Hasil Workshop Custom Toys & Stop Motion Tirana Artspace, Yogyakarta | 7 – 20 Maret 2013

UFORIA
Pameran Hasil Workshop Custom Toys & Stop Motion
Tirana Artspace, Yogyakarta | 7 – 20 Maret 2013

Tanggal 2 & 3 Maret 2013 lalu diadakan workshop ‘Custom Toys’ dan ‘Stop Motion’ di Tirana House, Jl Suryodiningratan 55 Yogyakarta. Workshop ini diinisiasi oleh duo thedeoMIXBLOOD, Otong dan Dila, dan difasilitasi oleh Tirana House. Otong bernamalengkap R. Bonar Diat Senan Putro merupakan lulusan jurusan Seni Rupa ISI Solo dan Fahla Fadhila Lotan (Dila) masih menempuh studi di jurusan fotografi, ISI Yogyakarta.

Tak ingin hanya sekadar workshop, maka mereka member tajuk ‘UFORIA’ untuk project kali ini. Diambil tajuk ‘UFORIA’ karena Otong dan Dila terinspirasi oleh pesawat UFO (Unidentified
Flying Object) yang sampai saat ini masih penuh misteri.UFORIA juga bisa diadaptasi dari kata euphoria yang kurang lebih berarti kondisi mental dan emosional di mana seseorang mengalami perasaan kesejahteraan, kegembiraan, kebahagiaan, kegembiraan, dan sukacita yang sangat. Sehingga melalui workshop ini, thedeoMIXBLOOD ingin mengajak publik bermain-main, bersenang-senang dan meliarkan imajinasi mereka. Dengan mengkonstruksi ulang barang diharapkan kita juga bisa memanfaatkan setiap potongan-potongan benda tersebut menjadi barang yang bisa digunakan kembali, bermanfaat dan mengurangi tumpukan sampah di lingkungan kita sendiri.

Sesuai judulnya ‘custom toys’, maka workshop ini mengajak pesertanya untuk mendaur ulang mainan-mainan baru yang sudah terbentuk, atau mainan usang/lama, mainan rusak dan menjadi mainan baru versi mereka sendiri. Setelah mainan tersebut jadi, kemudian dibuat video pendek dengan teknik stop motion. Teknik ini adalah mengedit potongan-potongan foto menjadi suatu gambar yang bergerak. Untuk membuat video stop motion, pada workshop ini, thedeoMIXBLOOD menggunakan 146 frame foto saja. Hasil penggabungan tersebut menjadi sebuah video yang bisa bercerita dengan durasi 03 menit 54 detik.

Evaluasi workshop
Workshop ini menuntut peserta minimal berusia 10 tahun, karena diasumsikan anak seusia ini sudah trampil memotong, menggunting dan menempelkan potongan-potongan benda dengan baik. Namun dan mungkin karena informasinya kurang terpahami dengan seutuhnya, sehingga banyak publik menganggap bahwa workshop ini terkonotasi dengan dunia anak-anak saja. Padahal kami, sebagai penyelenggara, sangat membuka peluang untuk usia dewasa ikut dalam kegiatan ini. Merunut pada judul workshopnya sendiri, ‘custom toys’ dan ‘stop motion’, istilah ini mungkin dianggap kurang familiar dengan publik dan perlu detail informasi lebih banyak. Dua hal yang saya sebutkan diatas, perihal kategori umur dan kedekatan istilah, diasumsikan menjadikan workshop ini sepi peminat.

Meski tak banyak peserta, satu peserta yakni Enggar Bujana, mahasiswa UST (Universitas Sarjana WiyataTamansiswa), Yogyakarta, jurusan Seni Rupa; sangat intens menekuni dan menikmati workshop ini selama 2 hari berturut-turut. Menurut Enggar dan juga Dila, teknik stop motion tidak masuk dalam kurikulum di kampus mereka masing-masing. Enggar sangat tertarik dengan teknik ini. Bahkan dari mengikuti kegiatan ini, dia ingin agar pelatihan ini bisa dibawa kekampusnya dan memberi referensi  tambahan untuk para mahasiswa disana.

Bagi thedeoMIXBLOOD, ini bukan kali pertama mereka memberikan pelatihan sejenis ini. Dari berbagai pengalaman pelatihan yang pernah mereka lakukan dan bekerjasama dengan instansi lain, workshop di Tirana House ini sangat berbeda dan berkualitas. Workshop kali ini memberikan penyadaran tentang kualitas, intensitas dan kesungguhan seseorang untuk belajar sesuatu. Bukan perkara banyak atau sedikitnya peserta yang ikut. Bagi thedeoMIXBLOOD, hasil workshop ini lebih dari yang mereka harapkan. Termediasi oleh media massa dengan intens, terfasilitasi dengan baik oleh Tirana House dan hasilnya bisa dikembalikan kepadapublik, bisa dinikmati dalam bentuk pameran. Diharapkan hasil dari workshop ini menjadi semacam modul untuk dikembangkan di tempat-tempat lain berikutnya.

Deskripsi karya
Hasil workshop ini dipamerkan di Tirana Artspace, Jl Suryodiningratan 55 Yogyakarta, mulai tgl 7-20 Maret 2013. Ada
4 buah mainan berbentuk semacam UFO. Keempat mainan ini dirakit dari mainan bekas mau pun mainan baru. UFO dari potongan separuh bola plastik dikombinasikan dengan sosok boneka, senapan, roda, ekor pesawat, manik-manik, pemutar kaset dan kaca pembesar yang mengelilinginya.

Keempat karya hasil workshop ini ditampilkan dalam video stop motion berjudul UFORIA yang menceritakan tentang ditemukannya spesies baru serupa UFO. UFO yang konon kabarnya berhembus di masyarakat adalah media yang dipakai oleh Alien untuk mendarat di bumi. Namun kali ini, dalam stop motion yang dibuat kolaborasi antara thedeoMIXBLOOD dan Enggar, menampilkan keempat pesawat UFO sebagai makhluk luar angkasa, yang akhirnya dijadikan objek penelitian oleh NASA. Video stop motion ini dibuat dengan tampilan menyerupai arsip rekaman dan dokumen pribadi penelitian NASA terhadap keempat objek itu, dan seperti tidak ada dialog antar tokohnya bahkan alur cerita yang biasanya ditemukan dalam karya stop motion karya thedeoMIXBLOOD sebelumnya.

Profil singkat thedeoMIXBLOOD:
thedeoMIXBLOOD - duo proyek terdiri Dila dan Otong, berdiri tahun 2008 – berdua mereka independen dan berkolaborasi membuat project-project soft toys, patung, video art, teater boneka, workshop anak-anak hingga produksi merchandise. Terinspirasi oleh Graffiti dan Pop Art dan dipengaruhi oleh peristiwa traumatis masakanak-kanak, thedeoMIXBLOOD menciptakan kolase menggunakan mainan, boneka Barbie, boneka wayang, kain, batik, majalah, dan manik-manik. Dengan mengambil bagian dari satu konteks atau media dan membentuk mereka bersama-sama satu ke yang lain. Patung-patung karya mereka memiliki sifat hybrid, cenderung aneh, memiliki karakter mitos namun fantastis yang banyak ditemukan didalam film-film fantasi. thedeoMIXBLOOD sangat berbakat dalam mewujudkan sesuatu yang taknyata menjadi sebuah karyaseni yang fantastis. Yang menjadi cirri karya-karya yang dihasilkan thedeoMIXBLOOD adalah jahitan tidak seragam, tampak sangat ekspresif, naĂŻf dan bahkan hiperbola dalam bentuk apapun. [Nunuk Ambarwati]

Thursday, January 24, 2013

Keindahan Dalam Diam


KEINDAHAN DALAM DIAM
Pameran tunggal seni rupa oleh IMAM SANTOSO

Pembukaan:
MINGGU, 27 Januari 2013 | pukul 19.30 WIB
di Tirana Artspace,Jl Suryodiningratan 55 Yogyakarta
Pameran akan dibuka oleh Mikke Susanto
Teks pengantar pameran oleh
Shahrul Hisham Ahmad Tarmizi
(seniman asal Malaysia & staf pengajar di UiTM,Malaysia)

Dimeriahkan oleh acoustic music performance Agus (biola) & Cahyo (gitar)

Keindahan dalam diam adalah bagian dari proses saya untuk menghasilkan pencapaian karya yang lebih baik.Lebih banyak perenungan, mengkaji dan menyadari secara lebih dalam ke dalam sebuah jiwa yang penuh akan harapan,keinginan, cita-cita,pergolakan, kegelisahan sekalipun penyesalan dan rasa putus asa yang dangkal. Bertanya kepada diri sendiri akan sebuah arti, mempersoalkan persoalan yang sedang terjadi bukan dari luar sekali pun isu-isu besar, namun lebih ke dalam, karena setiap orang berhak mempunyai cerita dan bercerita secara subyektif.

Diam adalah bagian dari proses untuk menemukan sebuah jawaban. Dan jawaban adalah langkah pertama untuk mendapati sebuah pencapaian.Sekalipun kita akan selalu disibukkan dengan pertahanan di dalam sebuah kesuksesan.Proses, yang jujur dan apa adanya... Yang akan saya jadikan pijakan untuk melangkah, proses yang mengerti dan menyadari akan seberapa kapasitas kita untuk berjalan... Dan kenyamanan menjadi hal yang saya anggap penting, sebagai sebuah jalan untuk menemukan jawaban.

Maka, sendiri itu menjadi hal yang perlu dilakukan, monolog dan berpikir, berkompromi dan bersahabat dengan jiwa yang selaras dan seimbang untuk membawa dan membagi kehidupan kita di dalam dunia idealis dan kehidupan yang realistis. Sebuah harapan besar bagi saya untuk tidak segera mengakhiri proses ini dengan cepat, dan menjadi keinginan bagi saya untuk tidak berhenti mempunyai kegelisahan, semoga.
[Imam Santoso]

Pameran berlangsung hingga 25 Februari 2013
Buka setiap hari pk. 9 pagi - 9 malam
Gratis dan terbuka untuk umum.

Informasi selanjutnya silakan kontak:
TIRANA ARTSPACE
Jalan Suryodiningratan 55 Yogyakarta 55141
ph.0274 411615,081 827 7073
e. tiranahouse@yahoo.com atau qnansha@yahoo.com
www.facebook.com/TIRANAHOUSE
http://q-nansha.blogspot.com

Pengantar pameran

‘Keindahan dalam Diam'

Imam Santoso (lahir di Yogyakarta, Juni, 1986), lulusan jurusan Seni Murni ISI Yogyakarta tahun 2011. Imam hadir untuk penikmat seni di Tirana Artspace untuk memaknai 11 karya drawing (ballpoint di atas kertas) dan 2 karya diatas kanvas, yang ia kemas dalam satu tajuk ‘Keindahan dalam Diam’. Tema ini sangat lekat dengan karakter seorang Imam Santoso. Dia mudah berbaur, tak suka banyak komentar soal apa pun, lebih memilih diam mengamati dan menyimpulkan sesuatu. Imam dikenal sebagai pribadi yang baik dan sangat akomodatif juga menghargai sahabat-sahabatnya. Karakter Imam yang bersahaja juga terbentuk karena kecintaan menyusuri gunung dan alam kala banyak waktu senggang.

Hal tersebut kemudian banyak terdeskripsikan pada karya-karyanya. Misal karya dengan judul ‘You are a sign to Find Me’ tergambarkan seseorang yang sedang berdiri di depan sebuah cermin. Melalui karya itu, Imam menyampaikan setiap kita bertemu dengan seseorang, pribadi tersebut kemudian bagaikan sebuah cermin untuk berkaca dan melihat diri kita sendiri. Tak jauh berbeda dengan karya ‘Mencari Tempat Sembunyi #1’ dan #2, disini Imam berbicara mengenai pencarian jati diri, siapa kita dan bagaimana kita seharusnya. Kadang pencarian tersebut harus dilakoni dengan sebuah renungan, menyepi dan menyendiri, untuk bagaimana kita bertindak selanjutnya. Tulisan Shahrul Hisham Ahmad Tarmizi kemudian sangat tepat ketika ia memberi judul ‘Pencarian Primitif yang Surealis di dalam Keberadaan Imam Santoso’. Imam seolah-olah terus gelisah atas pencarian atas dirinya sendiri. Membuatnya terus belajar dari banyak hal dan banyak pribadi yang ia temui. Eksplorasi-eksplorasi emosi atas dirinya yang masih muda, tergambar juga lewat karyanya berjudul ‘Amuk Asmara’ dan ‘Bagaimana Cara Mengalahkan Api’. Dua karya tersebut menggambarkan bagaimana kita mengemas emosi, mengalahkan ego diri sendiri dan mensiasatinya untuk dijadikan energi yang positif.

Bagi Imam, kenyamanan adalah faktor utama. Kali ini Imam banyak hadir dengan media ballpoint di atas kertas. Tidak ada alasan lain yang melatarbelakangi pemilihan medianya, kecuali faktor nyaman tersebut. ‘Saya lebih nyaman dengan ballpoint’, tegasnya waktu itu. Ketika saya tanya kenapa memilih tema ‘Keindahan dalam Diam’ pun, jawaban yang dilontarkan sama, nyaman dengan judul itu. Begitulah karakter Imam, sederhana, lebih memilih di belakang layar, lebih suka mengamati dari kejauhan.

Nunuk Ambarwati
Tirana Artspace

Pencarian Primitif yang Surealis di dalam Keberadaan Imam Santoso.


“ I see no reason to say anything at all about any artist. Maybe only to mention the name, mention certain works, to attract the attention of the reader: that I understand. After the reader’s attention has been elicited, then the artist has to present himself: I’m no longer interested. I present my own reflection, which maybe, or maybe not, connected to the artist or to art in general”[1]
                                                                                                                (Brian Dillon, 2009)

Perkenalan saya bersama Imam Santoso telah lama berlaku, sewaktu saya ke Jogjakarta mengikuti program NAFA’S residensi. Secara jujurnya niat saya menulis sama seperti yang dikatakan oleh Brian Dillon. Walaupun pada hakikatnya penulisan saya belum pasti memenuhi kehendak kritik seni (Art Critism), tetapi saya merasakan saya harus menulis, atas dasar seorang rekan. Dari mata seorang rekan yang beribu batu jauh, dari Malaysia ke Indonesia. Walaupun realitasnya saya juga sama seperti Imam, seniman kecil yang wujud dalam kelompok seni yang besar.

Brian Dillon menyangkal pendapat neutrality dan menyatakan tiada seni yang bersifat objektif. Bagi saya pandangan beliau berlawanan dengan kesenian dan kebudayaan masyarakat timur yang sangat sophisticated. Beliau menjelaskan keberadaan seni tidak mempunyai satu sistem khusus[2]. Ini mungkin boleh disamakan dengan suatu corak pemikiran yang bersifat otomatis. Sama seperti seseorang individu yang menghasilkan seni secara Automatism. Bagi saya Automatism ada kaitannya dengan primitif. Namun perlu dilihat dari kaitan dan peranannya terhadap nilai kemanusiaan.

Saya tertarik dengan kata-kata John Berger:

“ The primitive begins alone: he inherits no practice. Because of this the term primitive may appear at first to be justified. He does not use the pictorial grammar of the tradition – hence he is ungrammatical”[3]

John Berger menyifatkan seni primitif sebagai suatu yang dianggap tidak profesional dan hasil seni naĂŻve. Namun bagi saya pandangan naĂŻve hanya untuk anak-anak kecil yang belum mengenal seni (mungkin boleh disamakan dengan Automatism).

Sewaktu saya membaca karya Iman, tumpuan saya terus kepada kewujudan intipati kemanusiaan dan spiritualitas. Ini jelas kelihatan apabila saya merujuk eksplorasi masyarakat tradisi (primitif), contohnya dalam karya lukisan gua. Seniman barat seperti Paul Klee, Constantin Brancusi, Picasso & Henry More telah merujuk dan terpengaruh dengan gaya dan pendekatan hasil seni primitif (artistic form of primitive societies).[4] Persoalannya secara sadar atau tidak, Imam bukan sekadar berbicara tentang limit pengukuran dekoratif dan nilai ekspresif yang tertumpu kepada susun atur penggayaan primitif.
Imam menyusun perihal lukisannya berdasarkan sesuatu nilai yang mungkin bercorak autobiografi dan simbolik. Apa yang menariknya karya dia agak ‘sopan’ dengan karakter yang terlindung raut wajah, bentuk subjek yang kecil dan minimal yang dilukis memenuhi ruang kertas. Seolah-olah seperti sebuah perayaan atau ‘setting’ yang disengajakan, atau plot cerita yang bersifat progresif.

Imam’s picture come across as dreamy landscapes of patterned fabrics”[5]

(Michael Vatikiotis, 2009)

Subjek disusun seakan-akan mengikuti bentuk spiral sama seperti konsep meditasi masyarakat primitif ataupun suatu ritual kebudayaan Hindu-Budism (rujuk Borobudur). Yaitu bertujuan mengelilingi suatu upacara. Bedanya Imam lebih cenderung terhadap ruang lingkup sekitarnya. Malah ia merekam persoalan kehidupan sehari-harinya sebagai seorang seniman.

“Imam Santoso’s painting are consistent reflection of himself; he communicates through them. He include symbols from his daily life and repeat them in various painting”[6]                                                                                       
                                                                                                (Anis Azlinda Abdul Ghani, 2012)

Karya Imam ada kaitannya dengan permasalahan ‘sub-consious’. Yaitu gerak minda separa sedar (=subconsiousness) yang hangat diperkatakan oleh seniman-seniman Surrealism. Malah penggayaan yang separa abstrak dengan memberi ‘interpretating’ baru menampakkan unsur Surrealism.[7] Seniman seperti Paul Klee yang mungkin dinspirasikan dengan penggayaan primitif telah memberi satu momentum dalam pencantuman antara minda separa sedar dengan hasil kreatifnya. Dia meretas permasalahan fantasi dan metafisika yang sangat rumit untuk dipahami. Begitu juga karya Abstract Surrealism yang dihasilkan oleh Joan Miro, memusatkan ruang keterbukaan dengan mengambil kira kebarangkalian (=pertimbangan), antara imajinasi dan pengamatan audiens. Miro juga tertarik dengan kaedah Automatism yang menjadi elemen kuat dalam karyanya.

“ For me a form is never something abstract; it is always a sign of something. It is always a man, bird, or something else. For me painting is never form for form’s sake…”[8]
                                                                                                                                (Joan Miro, 1936)


                Penyataan Joan Miro ini sudah pasti memusatkan tentang penilaian tentang persoalan ‘kesamaan’ (similarities). Saya merasakan kesamaan harus dipertimbangkan dengan percantuman entiti. Contohnya saya sering melihat awan, kadang kala saya melihatnya seolah-olah menyerupai sesuatu bentuk lain, malah sering terlihat seperti hewan, daun dan sebagainya. Imam menghimpunkan nilai ‘similarities[9] yang saya maksudkan tadi.

Tidak dinafikan gaya lukisan Imam sangat kuat berbaur Surealism, namun intipati primitif dapat dikesan. Contohnya penggunaan imaji api, gunung ganang, hewan dan landskap mimpi memberi maksud personal dan simbolik. Pertembungan (=collision, conflict) antara objek harian dan  figur-figur aneh mempersoalkan jati dirinya yang seolah-olah berada dalam keadaan terapung.[10]

                Paul Gauguin juga tertarik dengan nilai spiritual dalam masyarakat Jawa yang sama sekali merujuk aktivitas ritual dan kebudayaan. Ini dapat di jelaskan dalam surat beliau yang disampaikan kepada Emile Bernard:

“You were wrong not to come the other day. There are Hindu dancer in the Javanese village. All the art of India is there, and my photographs of Cambodia literally are found there, too.”[11]
                                                                                                                                (Paul Gauguin, 1889)

Melalui ide-ide dengan suntikan gaya primitif, Gauguin meletakkan dirinya sebagai penghayat yang symbolist dan romantik[12].
Saya merujuk Gauguin dalam interpretasi lukisan Imam, dimana Imam juga mempersoalkan tentang identitas dirinya yang berkecamuk dan diambang kekeliruan. Karakter-karakter Imam merasa kesepian yang ia lontarkan. Kecantikan yang direka tidak semestinya diperkatakan secara lantang, tidak semestinya dapat dilihat menerusi pandangan mata. Seperti orang buta yang juga mampu melihat dari pandangan mata hatinya. Sepi karya Imam membicarakan perihal ‘primitif’ yang berbeda sudut pandang. Antara realitas dan mitos, antara modern dan tradisi, antara grafis dan seni murni, antara Pop dan Surreal. Semuanya bercampur antara ruang. Seperti keasyikan yang tiada penghujungnya, atau seperti tangisan terus tanpa hadirnya ketawa. Semua karakter yang dilukis mendokumentasikan perasaan dan pemikiran Imam Santoso. Dia hadir kaku di tembok ruang pameran. Namun memberi satu manifestasi besar yang merenung cita- cita seorang seniman muda.
Secara keseluruhan pameran ini memberi satu penghayatan dalam pencarian makna yang lebih cenderung kepada nilai kemasyarakatan. Walaupun soal primitif banyak menguraikan ketamadunan (=civilization). Imam Santoso memvisualkan ‘ketamadunan’ dalam konteks dirinya sendiri. Semoga terus sukses!

Shahrul Hisham Ahmad Tarmizi
Kelantan, Malaysia
11 Jan 2013, 4.30 a.m


Bibliografi:

1. Anis Azlinda Abdul Ghani, (2012) A Breathing Voice of South East Asia.: Nafa’s Residensi Showcase Cycle One 2012. Nafa’s Residensi. Yogjakarta. Indonesia.
2. Brian Dillon in conversation with Boris Grays, (2009). Who Do You Think You’re Talking To?. Frieze Magazine. Issue 121.
3. Duane Preble, Sarah Preble, revised by Patrick Frank, (2004). Art Form. Prentice Hall. USA
4. Herschel B. Chipp with Contributions by: Peter Selz & Joshua C. Taylor, (1968). Theory of Modern Art A Source Book by Artist and Critics.University of California Press. USA
5. James Johnson Sweeney,(1941). Joan Miro. ‘The Museum of Modern Art’. NY.USA
6. John Berger, (1980). About Looking. Bloomsbury Publishing. London
7. Judy S. De Loache, (2005). Symbol and Similarity: You Can Get Too Much a Good Thing. A Journal of Cognition and Development. Lawrence Erlbaum Associated, Inc. USA.
8. Mark O’ Conell, Raje Airey & Richard Craze, (2007). Dream, Sign and Symbol. Anness Publishing Ltd. London.
9. Michael Vatikiotis, (2009). My Favorite Sins: Pameran Imam Santoso dan Lugas Syllabus. Tembi Contemporary. Indonesia.
10. Sylvia Tombesi-Walton, (1998). Art Book: Gauguin. A DK Publishing Book. Venice


                                        



[1] Brian Dillon in conversation with Boris Grays, (2009). Who Do You Think You’re Talking To?. Frieze Magazine. Issue 121.
[2] Brian Dillon in conversation with Boris Grays, (2009). Who Do You Think You’re Talking To?. Frieze Magazine. Issue 121.
[3] John Berger, (1980). About Looking. Bloomsbury Publishing. London.

[4] Duane Preble, Sarah Preble, revised by Patrick Frank, (2004). Art Form. Prentice Hall. USA
[5] Michael Vatikiotis, (2009). My Favorite Sins: Pameran Imam Santoso dan Lugas Syllabus. Tembi Contemporary. Yogjakarta.Indonesia.
[6] Anis Azlinda Abdul Ghani, (2012) A Breathing Voice of South East Asia.: Nafa’s Residensi Showcase Cycle One 2012. Nafa’s Residensi. Yogjakarta. Indonesia.
[7] Herschel B. Chipp with Contributions by: Peter Selz & Joshua C. Taylor, (1968). Theory of Modern Art A Source Book by Artist and Critics.University of California Press. USA.
[8] James Johnson Sweeney,(1941). Joan Miro. ‘The Museum of Modern Art’. NY.USA
[9] Judy S. De Loache, (2005). Symbol and Similarity: You Can Get Too Much a Good Thing. A Journal of Cognition and Development. Lawrence Erlbaum Associated, Inc. USA.
[10] Mark O’ Conell, Raje Airey & Richard Craze, (2007). Dream, Sign and Symbol. Anness Publishing Ltd. London.
[11] Herschel B. Chipp with Contributions by: Peter Selz & Joshua C. Taylor, (1968). Theory of Modern Art A Source Book by Artist and Critics.University of California Press. USA.
[12] Sylvia Tombesi-Walton, (1998). Art Book: Gauguin. A DK Publishing Book. Venice