Thursday, April 16, 2009

Kisah di Balik Koleksi



70 Tahun OHD
‘Kisah di Balik Koleksi’
Pameran seni visual yang mengetengahkan sebagian koleksi dari dr. Oei Hong Djien OHD
Jogja Gallery, Yogyakarta 12 April – 3 Mei 2009

Orang bilang, kalau kamu tidak pernah dapat lukisan palsu, lukisan keliru, kamu belum bisa disebut kolektor. Karena belum membayar uang kuliah!

Koleksi yang akan ditampilkan dalam pameran ini merupakan karya-karya dari para perupa berikut ini:
Abas Alibasyah, Affandi, Agus Kamal, Ahmad Sadali, Amrus Natalsya, Arlan Kamil, Andrew Kenneth Jack, Bambang Soegeng, Djoko Pekik, Donald Friend, Earl Lu, Edi Sunaryo, Entang Wiharsa, G. Sidharta Soegijo, H. Widayat, Hendra Gunawan, I Made Wiradana, I Nyoman Gunarsa, I Nyoman Masriadi, Ivan Sagito, Kartika Affandi, Koentjoro, Kwee Ing Tjiong, Mochtar Apin, Nasirun, Pletser, Pupuk Daru Purnomo, Picasso [poster], Raden ‘Salah’, Rudi Mantofani, S. Sudjojono, Santoso, Sidik W. Martowidjojo, Srihadi Soedarsono, Suraji, Sutopo, Syahrizal Koto, Trubus Soedarsono, Ugo Untoro, Yunizar, Yuswantoro Adi.

Pameran ini sebagai penanda kecintaan dr. Oei Hong Djien/ OHD mengoleksi karya-karya perupa Indonesia, juga sebagai upaya sosialisasi akan dibangunnya museum koleksi OHD dan memperingati usia beliau yang ke 70 di tahun ini, Jogja Gallery bersama dr. Oei Hong Djien dan Museum OHD akan menggelar pameran koleksi dr. Oei Hong Djien, di Jogja Gallery, Yogyakarta, 12 April – 3 Mei 2009 dengan tajuk ‘Kisah di Balik Koleksi’. Untuk itu pembukaan pameran akan dibuka bersama-sama oleh beberapa perupa antara lain Djoko Pekik, Nasirun, Heri Dono, Putu Sutawijaya dan Yuswantoro Adi, Samuel Indratma dan Bambang Herras.

Hal ini merupakan kebanggaan dan kesempatan luar biasa bagi Jogja Gallery, dimana untuk kali pertamanya di Indonesia, pameran yang mengkhususkan koleksi dr. Oei Hong Djien. Pameran koleksi ini nantinya akan lebih mengedepankan perihal kisah-kisah di balik proses mengoleksi dan karya itu sendiri. Kisahnya tentu beragam, publik akan mendapati kisah-kisah unik, kisah sedih, kisah lucu, bahkan tragis atas upaya pengkoleksian, merawat karya, bertransaksi dan seterusnya. Sehingga pemilihan karya untuk pameran ini berdasarkan keunikan-keunikan masing-masing karya, tidak semata berdasarkan kualitas, penanda jaman [dekade] atau aliran seni. Publik akan disuguhi 47 karya yang terdiri dari 6 karya patung dan 41 karya lukis. Ke-47 karya tersebut dipilih sendiri oleh OHD khusus untuk pameran ini.

Dari pameran ini diharapkan publik akan lebih memahami bagaimana sebuah hubungan sosial, psikologis hingga ekonomi terjalin antara seorang kolektor dengan koleksi mau pun dengan perupanya sendiri; dengan mengambil contoh kasus-kasus/kisah-kisah unik yang berhubungan dengan proses mengoleksi karya. Publik juga bisa membaca dan mengambil hal positif perihal bagaimana mengoleksi karya seni. Dan terlebih adalah kecintaan yang sesungguhnya dari seorang yang disebut kolektor seni rupa.

Berikut salah satu petikan kisah uniknya, dimana OHD saat itu ingin sekali mendapatkan karya Affandi berjudul ‘Adu Ayam, oil on canvas, 100 x 160 cm tahun 1982.

Mencicil 1 tahunKala itu OHD sudah memiliki cukup uang untuk bisa membeli karya. OHD pun ingin memiliki karya Affandi. Bersama Kwee Ing Tjiong, OHD dan istri, bertandang ke rumah Affandi yang saat itu hendak pameran tunggal. Pada akhirnya ada 3 lukisan Affandi yang hendak dibeli, namun OHD tidak cukup uang. Affandi menyarankan OHD untuk mencicil pembayaran. ‘Berapa lama?’, tanya OHD. ‘Sakgeleme [semaumu, red.]’, timpal Affandi. ‘Kalau mau mencicil, malah saya kasih korting [diskon, red.] 10 persen’, tambah Affandi. Karena dengan cara mencicil tersebut, Affandi sudah tidak pusing memikirkan biaya kebutuhan rumah per bulannya. Dan akhirnya ketiga lukisan tersebut, merupakan lukisan Affandi yang pertama kali dibeli OHD di tahun 1982 dengan cara mencicil pembayaran selama 1 tahun.

Profil dr. Oei Hong Djien
Dr. Oei Hong Djien/OHD lahir di Magelang, Jawa Tengah 5 April 1939, adalah seorang pensiunan dokter. Ia lulus dari Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia tahun 1964 dan, menempuh pendidikan magister Pathological Anatomy di Universitas Katholik Nijmegen, Netherlands [1966-1968]. Menikah dengan Wilowati Soerjanto di tahun 1977 dan dikaruniai 2 putra, yakni Igor [lahir tahun 1978] dan Omar [1980]. Istrinya telah meninggal dunia di tahun 1992. OHD pernah bekerja sebagai dokter sukarelawan di Magelang dan Temanggung, Jawa Tengah, Indonesia [1964-1966, 1968-1991]. Ia juga seorang ahli tembakau dan sebagai mitra bisnisnya sejak tahun 1979, Djarum, salah satu perusahaan rokok kretek terkemuka di Indonesia. Dalam mengkoleksi karya seni sesungguhnya lebih banyak dibiayai dari bisnisnya tembakau dibandingkan dari profesinya sebagai dokter. Ia mulai mengkoleksi lukisan lebih dari dua puluh tahun lalu, dan baru kemudian meluaskan minatnya pada patung. Dr. Oei pernah menjalankan perannya sebagai kurator Museum H. Widayat dalam peresmiannya tahun 1994 meski pun sekarang telah resmi mengundurkan diri. Hingga saat ini masih tercatat sebagai honorary adviser di Singapore Art Museum, Singapura dan anggota dewan penasehat Jogja Gallery, Yogyakarta sejak 2006. Ia juga banyak menulis pengantar dan esai untuk katalog pameran dan buku-buku seni rupa, menjadi juri dalam berbagai kompetisi seni visual dan sering diminta untuk membuka pameran di berbagai tempat. Pada tahun 1997, Dr. Oei membuka sebuah museum milik pribadi di Magelang yang digunakan untuk memajang koleksi-koleksi karya seninya.

Sumber:
- Wawancara dengan dr. Oei Hong Djien, di kediaman beliau, Magelang, Jawa Tengah, tanggal 10 Maret 2009.
- Exploring Modern Indonesian Art: The Collection of dr. Oei Hong Djien, penulis Dr. Helena Spanjaard, penerbit dr. Oei Hong Djien, terbit tahun 2004.
- www.ohd-artmuseum.blogspot.com

In Memoriam Andrew Kenneth Jack

Berbarengan dengan digelarnya pameran koleksi OHD, Jogja Gallery bersama Arwinda Hurip bermaksud memperkenalkan kembali sosok Andrew Kenneth Jack, yang selanjutnya lebih sering dipanggil Andrew Jack atau AJ saja. AJ merupakan perupa kelahiran New Zealand [1963] dan lebih banyak berkarya di Australia. Memang baru pertama kali menggelar beberapa karyanya di pameran bersama Jogja Gallery bulan Januari lalu dengan tema ‘Fresh 4 U’. AJ bahkan tertantang untuk menggelar pameran tunggal di ruang pamer Jogja Gallery suatu hari nanti. Di saat rencana sedang ditata dan pameran ‘Fresh 4 U’ masih berlangsung, kami mendengar kabar meninggalnya AJ di Byron Bay, Australia, tepatnya tanggal 17 Februari 2009. Kabar itu tentu membuat kaget banyak pihak, terutama Arwinda Hurip sebagai istri. Untuk itu, tak ada salahnya kiranya, sebuah gelar sederhana kami hadirkan, untuk mengenang sosok AJ. Berikut petikan kenangan salah satu rekan AJ yang sempat dikirimkan melalui email kepada Arwinda Hurip.


Saya bertemu dengan Andrew Jack dua kali sewaktu ia berkunjung ke Solo sekitar tahun 2006. Sebelumnya saya hanya mengenal dia lewat lukisan, ceritera konyol dan penyakit yang dideritanya. Ketika bertemu, saya punya kesan bahwa ia adalah orang yang rendah hati, peka terhadap keadaan sekitar dan amat mudah memberi apa yang dimilikinya. Kesadaran akan penyakit yang dideritanya, membuat ia menjadi disiplin dalam mengatur ritme hidup. Ia dengan ketat mentaati aturan kapan harus minum obat, makan maupun istirahat.


Tentang lukisannya, saya tidak bisa bicara banyak. Pengetahuan saya hanya sebatas lukisan yang dipasang di kamar tamu Arwinda, album dan lukisan yang dipamerkan di Balai Sujatmaka. Dari apa yang saya lihat, saya mengagumi keberanian dan kehebatannya dalam memilih warna, gaya ke"kanak-kanak"annya dalam menuangkan ide.


Meski baru bertemu dua kali, saya merasa seperti telah bersahabat lama. Saya begitu terkejut dan merasa sangat kehilangan sewaktu Arwinda memberi tahu bahwa Andrew K Jack meninggal. Semoga arwahnya beristirahat dalam damai setelah ia menderita sakit yang cukup lama di muka bumi ini. Semoga karya-karya yang tersebar di berbagai tempat di muka bumi terus memancarkan sumbangannya dalam dalam dunia seni.


Andrew, selamat jalan.
Cambodia, 2 April 2009
J. Mardiwidayat SJ

Profil Andrew Kenneth Jack
Lahir: New Zealand, 25 Maret 1963
Pendidikan: 1978 – School of Certificate Art. 1979 – University Entrance, Art, New Zealand
Aktifitas pameran: 2009 – ‘Fresh 4U’, Jogja Gallery, Yogyakarta. 2007 – Pameran tetap, 4/15 Grevillea St. Arts and Industry Estate, Byron Bay, Australia 2006 – Mendirikan Andrew K. Jack Fine Art Gallery 2005 – Melbourne Art Show Sydney Art Show Singapore Art Show
Pameran tunggal : 2006 – Art Gallery Collections, Gold Coast Melbourne Art Show. 2005 – Galleries Dauphin / Om Goddess


Terima kasih kami sampaikan kepada:
- Bapak dr. Oei Hong Djien dan keluarga besar.
- Museum Oei Hong Djien, Bapak Aryo Pinandoyo beserta seluruh staf.
- Ibu Arwinda Hurip dan keluarga besar.
- Mr. Sean Flakelar [General Manager Amanjiwo].
- Ibu Andonowati
- Bapak Soekeno
- Perupa yang membuka pameran
- Rekan-rekan jurnalis dan media massa.

Release ini dipublikasikan oleh:Jogja Gallery [JG]
Jalan Pekapalan No 7, Alun-alun Utara Yogyakarta 55000
Phone +62 274 419999, 412021
Phone/Fax +62 274 412023
Email jogjagallery@yahoo.co.id / info@jogja-gallery.com
http://jogja-gallery.com




Wednesday, March 25, 2009

up:DATE 2009

PERS RELEASE
up:DATE 2009
ACARA : up:DATE 2009, HONF Europe tour 2009
TANGGAL : 1 April – 8 Mei 2009
PERUPA : HONF artist
1. Venzha
2. Irene ‘Ira’ Agrivina
3. Tommy Surya
4. Jullian ‘Togar’ Abraham
5. Andreas Siagian
Up:DATE merupakan sebuah proyek seni yang diprakarsai oleh HONF , the house of natural fiber, Yogyakarta Media Art Laboratory. Dalam rangka kiprah 10 tahun HONF berdiri dan berkarya di bidang new media art, HONF membuat serangkaian program dan acara baik scara lokal maupun internasional.
HONF sendiri sebuah bentuk lembaga non profit yang bekerja dengan berbasis komunitas. Pada awal didirikan pada tahun 1999, HONF memulai mencoba menggabungkan seni dan teknologi, yang disebut juga sebagai new media art.
Setelah malang melintang, keberadaannya diterima dengan baik, secara lokal maupun internasional. HONF telah mengikuti beberapa festival bergengsi yang diadakan di seluruh dunia, sedangkan HONF sendiri juga memiliki dua buah festival yang bertaraf Internasional yang diadakan secara berkala setiap tahunnya di Indonesia.
Pada tahun 2009 HONF menerima berbagai undangan dan dukungan untuk melakukan serangkaian festival dan kegiatan di sejumlah negara. Dan HONF juga akan melakukan serangkaian kegiatan yang tercakup dalam CELLSBUTTON #3 Yogyakarta International Media Art Festival yang akan diikuti sejumlah artis berskala internasional.
Up:DATE sendiri adalah sebuah proyek yang merupakan perpanjangan dari Education Focus Program ( EFP), yaitu sebuah program yang dicanangkan oleh HONF sebagai program utama untuk menyikapi situasi yang terjadi di Indonesia sebagai salah satu negara berkembang. Tujuan utama dari EFP adalah untuk membangun sebuah pola pikir moderen akan masa depan teknologi yang berbasis pada kegunaan, kebutuhan dan pengetahuan. EFP melewati berbagai batasan, strata ataupun golongan untuk mendapatkan hasil yang maksimal di bidang pengetahuan, dengan latar belakang berbagai macam lintas disipliner.
Selaras dengan EFP maka proyek up:DATE ini mengambil moto dan pepatah dari Kerajaan Majapahit untuk diteruskan pada masa kini :
up:DATE obyektif adalah untuk memperkuat kolaborasi antara institusi independen. Mengacu pada hal ini, kolaborasi yang kuat dalam praktisi edukasi di bidang New Media Art antara Eropa dan Asia, Indonesia pada khususnya akan dapat diraih dan memperkaya perkembangan jaringan kerja dalam bidang New Media Art.
Pertukaran pengetahuan dan budaya yang mendasari kerjasama ini sebagai satu komunitas antar seniman di up:DATE, akan membuat sebuah pemahaman yang saling menguntungkan dan perasaan saling memiliki, baik antar personal maupun tingkat institusi.

HONF akan terlibat dan memprakarsai sejumlah kegiatan di beberapa institusi dan festival, yaitu :
  1. Pixelache Festival of Electronic Arts and Subculture – Helsinki (Finland)
Pixel Ache merupakan sebuah festival berskala Internasional .Disini HONF akan melakukan sejumlah performance dan pameran sound instalasi
  1. HONF-Son:da / Slovenia Universities Tour – Maribor, Lljuabna (Slovenia)
HONF bersama sama dengan Son:da akan melakukan workshop dan presentasi pada beberapa universitas
  1. HONF – Avmotional – Bucharest (Romania)
HONF akan melakukan residesi dan open studio, serta melakukan workshop dan performance, dimana warga Romania dapat melakukan interaksi secara langsung terhadap karya dan perupa HONF
  1. HONF – Kitchen BudapestBudapest (Hungary)
HONF akan melakukan artist talk, presentasi dan research selama kunjungan di Budapest yang akan dilakukan di Kitchen Budapest.
  1. Enter Festival - Ciant – Prague ( Czech Republic)
HONF akan melakukan presentasi dan performance selama mengikuti festival ini. Enter Festival adalah salah satu festival bergengsi di Eropa.
  1. HONF-Upgrade Paris – Paris ( France)
Di Paris HONF akan menjadi salah satu pembicara pada acara diskusi yang diadakan oleh Upgrade Paris. Upgrade adalah sebuah open platform yang keberadaannya tersebar di beberapa negara.
  1. HONF – Fablab Amsterdam –Amsterdam ( Netherland)
HONF akan melakukan research dan workshop bekerjasama dengan Fablab Amsterdam. Research ini akan mencoba untuk membuat sebuah inovasi pada kaki palsu, yang nantinya akan diterapkan di YAKKUM rehabilitation centre Yogyakarta.
Untuk kali ini HONF mendapat dukungan dan support dari ASEF Asean Europe Fondation, British Council dan Slovenian Ministry of Culture.
Para perupa yang terlibat pada proyek up:Date ini akan berkolaborasi dengan beberapa perupa dari masing – masing negara yang dituju untuk memaksimalkan kerja kolaborasi dan lebih membuka hubungan mutualisme di masa mendatang.
Adapun perupa-perupa yang terlibat dari HONF adalah :
  1. Venzha, sound dan installation artist, salah satu founder dari HONF .
  2. Irene Agrivina, Artist and independent curator, salah satu fonder dari HONF
  3. Tommy Surya, Video Artist, salah satu founder dari HONF
  4. Jullian’Togar’ Abraham, Artist and Media Activist
  5. Andreas Siagian, Artist dan Environment Activist
Demikian pers release kami,, semoga program ini dapat berkelanjutan dan berjalan dengan baik. Diharapkan proyek ini dapat membawa hasil yang berguna bagi kemajuan bangsa dan negara Indonesia, dan menempatkan bangsa kita pada kedudukan yang terhormat di mata dunia. Kami mengucapkan terimakasih atas dukungan dan kerjasama rekan –rekan pers dan wartawan.
Untuk keterangan lebih lanjut dapat menghubungi saudara/I
  1. Tommy Surya R.
    +62 818469445

    timotius.one@gmail.com
  1. Irene Agrivina
    +62 81915561921

    agrivine@yahoo.com
Untuk keterangan lebih lanjut dapat mengunjungi situs kami
http://www.natural-fiber.com/
Salam
HONF the house of natural fiber

Yogyakarta
Media Art Laboratory
Jl. Wora-wari no A6/80
Baciro Yogyakarta


Saturday, March 14, 2009

Z.z..z... Photography



Pameran tunggal fotografi
‘Z.Z..Z…PHOTOGRAPHY’

Karya Soeprapto Soedjono
Jogja Gallery, Yogyakarta | 21 Maret – 5 April 2009
Pembukaan hari Sabtu, 21 Maret 2009, pkl 19.00 WIB
Pameran akan dibuka oleh Arbain Rambey [fotografer senior SKH Kompas]
Genre karya-karya fotografi ‘human interest’ biasanya menampilkan subjek dengan berbagai aspek tentang manusia dalam beragam aktifitas kehidupan sehari-harinya. Baik itu yang menyangkut kegiatan yang dilakukannya secara sadar sebagai manifestasi sikap, gerak-gerik, dan tingkah lakunya untuk tujuan tertentu maupun yang merefleksikan hal-hal yang dilakukan sebagai kegiatan yang tidak disadari atau ‘ketidaksengajaan’. Namun tidak semua yang terekam oleh kamera karena bersubjek manusia selalu dapat dikategorikan sebagai karya foto ‘human interest’. Hanya yang memiliki nilai ‘interest’ sajalah yang layak dapat dikategorikan sebagai karya foto dalam genre tersebut.
Hal ini juga mendukung pernyataan bahwa ‘manusia suka melihat manusia’ sehingga apapun yang menampilkan manusia dalam berbagai kehidupannya selalu akan menarik untuk dilihat dan diamati karena sebetulnya ‘ia sedang mengamati dirinya juga’. Apalagi bila yang dilihatnya tadi memiliki daya tarik yang unik dan tidak biasanya, ataupun juga karena sering terlihat disekitarnya sebagai sesuatu yang ‘given’ dan setelah ditampilkan kembali dalam lingkup konteks yang berbeda maka tampilannya menjadi lebih ‘appealing’.
Salah satu dari banyak karya foto yang dapat disebut dalam genre tersebut adalah yang menampilkan manusia sedang tidur, namun menampilkan manusia sedang tidur pada saat yang bukan waktunya tidur. Yaitu pada waktu dia sedang melakukan pekerjaan rutinnya dan sempat terlelap sambil berada di tempat yang bukan semestinya untuk tidur. Mereka terekam ‘sedang tidur’ dengan sikapnya yang apa adanya sebagai suatu tampilan ‘snapshot’ tanpa ada upaya rekayasa dan dengan sikap gesture yang alami. Di sinilah daya tarik atau nilai ‘appeal’ dari karya-karya foto tersebut yang menampilkan subjeknya secara alami apa adanya dengan lingkup konteks ‘human interest’. Itulah mengapa tampilan karya-karya foto manusia yang sedang tidur dengan sikap yang berbagai tersebut diberi tajuk “Z.z..z… PHOTOGRAPHY.
Informasi dan kontak selanjutnya:
Jogja Gallery [JG]
Jalan Pekapalan No 7, Alun-alun Utara Yogyakarta
Tel. +62 274 419999, 412021
Tel/fax +62 274 412023
email jogjagallery@yahoo.co.id | info@jogja-gallery.com
http://jogja-gallery.com


Thursday, March 12, 2009

Menyelami Jiwa yang Nyeni


Femina no 11/XXXVII | 14-20 Maret 2009 | halaman 53-54


Nunuk Ambarwati [32]
Profesi: Manajer Galeri
Pengalaman: 5 Tahun

Job Desk
Tugas utama manajer galeri adalah mengelola program pameran di sebuah galeri secara berkala. Program-program tersebut diharapkan bisa mendukung kelangsungan galeri. Ia juga bertanggung jawab atas pencitraan galeri di mata masyarakat luar. Salah satu caranya adalah dengan konsisten menjalankan visi dan misi galerinya.

Pendidikan
Tidak ada latar belakang khusus yang dibutuhkan untuk profesi ini. Memang ada bidang pendidikan khusus yang berkaitan, yakni manajemen seni. Sayangnya, bidang itu masih merupakan salah satu mata kuliah pilihan di jurusan seni rupa, belum menjadi sebuah jurusan tersendiri. Tapi, yang pasti, kemampuan manajerial sangat dibutuhkan dalam profesi ini agar bisa menjalankan tugas manajemen dengan baik.

Pengetahuan dan minat seni juga menjadi modal penting. Kalau pun ia tidak memiliki latar belakang pendidikan di dunia seni, minimal ia punya minat di bidang tersebut dan memiliki kemauan untuk belajar.

Tantangan
Selama ini, tidak sedikit galeri yang terpaksa tutup di tengah jalan karena kehabisan dana. Untuk itu, upaya membuat galeri bertahan dalam jangka waktu yang cukup lama, menjadi tantangan tersendiri. Agar hal itu terwujud, kombinasi antara ambisi idealisme dan bisnis harus seimbang.

Tantangan lain adalah melakukan edukasi kepada komunitas pecinta seni baru dengan cara menggelar berbagai program menarik. Selain itu, saya pribadi juga masih tertantang untuk menggelar pameran berskala besar atau bahkan internasional, dengan membawa bendera galeri tempat saya bekerja.

Hambatan
Dari internal perusahaan, saya sering ketiban pekerjaan tambahan yang cukup menyita waktu, yaitu memberi edukasi seni kepada rekan kerja baru yang umumnya tidak berlatar belakang pendidikan seni. Sebaliknya, jika rekan yang saya ajak kerja sama berasal dari dunia seni, masalah lain muncul. Saya justru kesulitan menerapkan aturan kerja, karena jiwa mereka yang terlalu nyeni. Hambatan eksternal, salah satunya menyangkut kesulitan akses ketika akan menjalin hubungan dengan pihak pemerintah. Akses yang relatif ribet dan memakan biaya, membuat kami sering merasa frustasi saat bekerja.

Peluang Karier
Terbuka cukup lebar. Banyak pemilik atau pengelola galeri yang mengaku kesulitan mencari tenaga kerja untuk mengisi posisi sebagai manajer galeri. Saya sendiri kerap kesulitan jika diminta merekomendasikan seseorang untuk mengisi posisi itu. Karena, sumber dayanya masih sangat terbatas.

PenghasilanCukup baik, meski jumlahnya biasanya memang masih lebih rendah dibandingkan penghasilan manajer sebuah perusahaan swasta. Tapi, dengan jam kerja fleksibel yang diterapkan di tempat kerja saya, saya masih bisa menambah penghasilan dari beberapa pekerjaan sampingan.

Keunggulan Wanita
Umumnya posisi manajer galeri ditempati seorang wanita. Pasalnya, sisi-sisi kewanitaan [misalnya, kesabaran, kegigihan, ketekunan hingga keluwesan] menjadi nilai lebih dalam melakukan pekerjaan ini.

Ikrima Nurfikria [Redaktur Majalah Femina].

Wednesday, March 04, 2009

Thursday, February 19, 2009

Nc Dream Mb...

Perhiasan terindah adalah kerendahan hati.
Kasih yang terpuji adalah kesetiaan.
Kekayaan terbesar adalah kejujuran.
Senjata terkuat adalah kesabaran.
Pengaman terpenting adalah iman.
Obat termanjur adalah doa.

[SMS dari H. Oktya Dewi, 18 Februari 2009, 22:48 WIB]

AYI 2: Asian Youth Imagination



Pameran Seni Visual Berbasis Performance Art
Jogja Gallery, Yogyakarta | 28 Februari – 11 Maret 2009
Peserta Menampilkan 15 orang performer yang berasal dari negara di Asia, yaitu
Korea : Kim Ji Hee
Sri Lanka : Janani Coornay
Myanmar : Moe Satt
Taiwan : Che Shih Sun a.k.a REDCAT
India : Sapna H.S, Mangala Anobermath
Jepang : Kana Fukushima, Sohei Nomoto
Indonesia : Arif Darmawan, kelompok Harmoni Kota, Angga Wedaswhara, Citra Pratiwi,
Rennie “emonk” Agustine, M. Lugas Sylabus, I Made Suryadarma

PENGANTAR PAMERAN ASIAN YOUTH IMAGINATION 2
[AYI 2]
Asian Youth Imagination 2 (AYI 2), adalah lanjutan dari even performance art serupa yang diadakan Desember 2008 lalu di Jepang. Pada even kedua ini, sifat acara dibedakan dari sebelumnya meskipun mempertahankan elemen utama, penyajian karya-karya performer muda usia yang tinggal di Asia. Muda disini dibatasi dengan rentang umur 33-19 tahun. AYI 2 diinisiasi oleh tim produksi yang anggotanya juga berusia muda, bernama “We Are Imagining”.
AYI 2 menampilkan semua elemen yang ada dalam wacana performance art, kemudian mengumpulkannya menjadi suatu kesatuan yang sama kuat untuk diapresiasi. Yakni, video performance, dokumentasi performance, penampilan langsung (live performance), dan segala kemungkinan ekstensi dari bentuk performance art dalam bentuk bekunya. Seluruh elemen tersebut akan disajikan layaknya pameran visual yang sering diadakan di Yogyakarta dan Indonesia.
Istilah Performance Art dalam kajian seni rupa dicatat sebagai seni penampilan atau seni performa, dimana tubuh menjadi media utama dalam menampilkan pesan atau konsep ingin disampaikan oleh perupa. Performance art dalam pameran ini adalah aksi yang dilakukan seseorang atau kelompok dengan berbagai aspek yang dipersiapkan, direkayasa, kemudian dimanfaatkan. Aspek-aspek ini mencakup pemosisian tubuh performer sebagai subyek yang menghubungkan dirinya dengan sekitar, dalam jangkauan ruang dan kurun waktu tertentu.
Dengan diselenggarakannya pameran ini diharapkan dapat membangun dan memperluas jaringan antar seniman muda Asia, melihat evolusi para performer muda, forum untuk berbagi pengalaman proses kekaryaan, sekaligus sosialisasi penyajian performance art selain melalui format festival.
Tanpa mengurangi rasa hormat kami, ini sekaligus menjadi undangan bagi Anda untuk dapat hadir pada acara pembukaan Sabtu, 28 Februari 2009, pukul.14.00 WIB (2 siang).
KETERANGAN :
Tim Produksi pameran adalah “WE ARE IMAGINING"
Pameran berlangsung hingga 11 Maret 2009
Jam buka Jogja Gallery Selasa-Minggu, 09.00 – 21.00 WIB
1) 6 pendukung acara:
performer dan penyelenggara AYI 1, Jogja Gallery, Indonesian Visual Art Archive (IVAA),
kotakhitam, YORC, Majalah GONG
2) 8 Partner :
Mall Galeria, Toko Buku Togamas, Novotel Hotel, Grand Mercure, PT Dakota Cargo,
Royal Garden Restaurant, Mall Ambarrukmo Plaza dan Jogja Plaza Hotel.
3) 7 Media Partner :
Radio RRI Pro 2 102.5 FM, Jogja TV 48 UHF, Truly Jogja, Kabare Magazine, Kompas, Kedaulatan Rakyat
dan Bernas.

PAMERAN SELANJUTNYA DI JOGJA GALLERY :
Pameran Tunggal Fotografi Karya Soeprapto Soedjono (Rektor Institut Seni Indonesia |ISI Yogyakarta)
“Z..Z…Z….Z….PHOTOGRAPHY”
(21 Maret – 5 April 2009)
Genre karya-karya fotografi ‘human interest’ biasanya menampilkan subjek dengan berbagai aspek tentang manusia dalam beragam aktifitas kehidupan sehari-harinya. Baik itu yang menyangkut kegiatan yang dilakukannya secara sadar sebagai manifestasi sikap, gerak-gerik, dan tingkah lakunya untuk tujuan tertentu maupun yang merefleksikan hal-hal yang dilakukan sebagai kegiatan yang tidak disadari atau ‘ketidaksengajaan’. Namun tidak semua yang terekam oleh kamera karena bersubjek manusia selalu dapat dikategorikan sebagai karya foto ‘human interest’. Hanya yang memiliki nilai ‘interest’ sajalah yang layak dapat dikategorikan sebagai karya foto dalam genre tersebut.

Informasi & kontak, silakan hubungi :
JOGJA GALLERY [JG]
Jalan Pekapalan No. 7, Alun-alun Utara 55000 Yogyakarta
Telp. +62 274 419999, 412023
Telp/Fax. +62 274 412023
Telp/SMS. +62 274 7161188, +62 888 696 7227
Email jogjagallery@yahoo.co.id / info@jogja-gallery.com
http://jogja-gallery.com

WE ARE IMAGINING
Email :we.are.imagining@gmail.com
Telp/SMS : +62 888 682 1414 [Cp. Agni]

Sunday, February 15, 2009

Thank you Noris...

Hal yang paling penting dalam hidup ini adalah belajar mencintai
dan membiarkan cinta itu datang.
[Morris 'Morrie' Schwartz | pendidik asal AS | 1916 - 1995]

Wednesday, February 11, 2009

Fresh Equals to Honest



Happy New Year 2009!
New Year is always identified with reflection, contemplation and introspection on what we have achieved during the previous year. It always begins with new hope, dream and spirit, and so does the 39th visual art exhibition in Jogja Gallery. As a mark of our step to enter the beginning of 2009, this exhibition will raise a simple theme and free every artist to explore themselves on their works. What is going on today? Things concerning ourselves, our dreams and hopes, our closest neighborhood, our fine art issues up to the issues about the latest global discourses color the theme of every work that will be exhibited from 23 January to 22 February 2009.
This exhibition wants to start this New Year by exhibiting our artists’ new works, new ideas, new way of exposition and new technique. Theme that seems to be simple is seriously responded by the participating artists. Talking in term of technique, AT Sitompul presents his work that constitutes a revival of his painting work after for a long time he focused on printmaking technique. In his biodata, the last time he made painting exhibition was in 2003. According to him, one of ways to make our minds and souls refreshed is by doing something that is beyond our habits and works.
It is different with Daniel ‘Timbul’ Cahya Krisna who still sticks to printmaking art and expects to be able to bring something new amid the affluence of painting works. Due to his consistence, recently he has been awarded as a young artist who is very dedicated to printmaking (Academic Art Award #2, 2008). It is also important to record the existence of Kelompok Simponi, which was formed in 2007, consisting of 4 female artists who were born in 1980s, and have set off from different backgrounds of art major interests. Simponi, which stands for Sindikat Monster Poni (Syndicate of Monsters with Bangs), explore media of textiles and fibers to create interesting and amusing works that seem not to have distance with the audience.
Similarly, the works of Antoni Eka Putra, Andrew K. Jack, Dedy Sufriadi, I Ketut Teja Astawa, Pramono Pinunggul and Yusron Mudhakir put forward the main elements of artworks, namely color, line, texture, shape, space and composition. Antoni Eka Putra for this occasion is simpler in playing with line and color. Yet his work still looks impressive. Routine at times can imprison us; existence shall live without monotone but with mobility. That is Antoni’s statement. Almost similar, as far as I know, Yusron Mudhakir is consistent in emphasizing and discussing the quality of colors. However, he seems to put softer colors in his work titled Risalah Warna #2. Meanwhile, Dedy Sufriadi and Agus ‘Baqul’ Purnomo put texts as main element in their works. Andrew K. Jack, the only foreign artist, from New Zealand, wants to appear again and enrich the dynamics of Indonesian fine art after his last solo exhibition in the end of 2002 in Jakarta. For those knowing Andrew, theme related to fish is not a new thing for his works, but the way he finishes his works with resin is something that we rarely see in works of painting.
The presence of surrealism work belonging to Gusmen Heriadi and two abstract works belonging to two Balinese artists, I Made Supena and I Made Mahendra Mangku, shows a similar theme. It is about reflection and time. Request to retrospect on the significance of the values of opportunity, space and time is well described in their modest and harmonious works.
Take a look at the works of Agus Yulianto, Ahmad Sobirin, Asmualiawan, Erica Hestu Wahyuni, Heri Purwanto, Ida Bagus Komang Sindu Putra, I Nyoman Triarta, Niko Siswanto, RM Soni Irawan, Solichin, Komroden Haro and “Otje”. They have found and taken their inspirations from what is happening within them and in their closest neighborhoods. They are not boasting and talking about things that are so complicated. They just stick to the daily problems, rotation of the wheel of life, state of when one sustaining the other, and struggle to survive. These are symbolized by one of vehicle parts. Despites its little shape, it is very important because it can move and stop the other parts. See the work of Fransgupita, Engine Stop.
However, some of our artists still have idea to create works departing from political issues that are heating lately like the global economic recession and conflict in Middle East region which has become the world concern. The works of Abdul Fattah, Agus ‘Baqul’ Purnomo, Farhansiki, Khusna Hardiyanto and Robi Fathoni tell about the domination of United States of America, which has impacts on most countries.
This exhibition wants to bring new surprises following the abundance events during 2008 up to the beginning of this year. Surprise or freshness is certainly relative and subjective. My being fresh must be different with yours, and so must be with the freshness of the 31 artists participating in this visual art exhibition, FRESH 4 U. Hence, this exhibition indeed gives us new artworks with new significance. Although most of the artists and I agree that a fresh work is a work that is inspiring for its audience, what is more important is that the work must be honest.
We try to present this FRESH 4 U exhibition due to our anxiety of the situation and development of Indonesian fine art today. We would like to challenge the artists to be able to produce and exhibit artworks that are really different and refreshing. Is it right that our fine art is experiencing stagnancy? Is it right that our art market is depressing following the profusion of transactions in every corner of exhibition space in this country? An installation work of Tisna Sanjaya entitled Mobile Seniman (Mobile Artist) satirizes this assumption. Are we honest when creating work? Are we honest when talking? And, are we honest when doing transaction?
Nunuk Ambarwati
Program Manager of Jogja Gallery

Thursday, January 22, 2009

FRESH 4 U




PAMERAN SENI VISUAL
FRESH 4 U
Jogja Gallery, Jalan Pekapalan No 7, Alun-alun Utara Yogyaakarta
Pembukaan hari Jumat, 23 Januari 2009 | Pukul 19.00 WIB
Pameran dibuka oleh Drs. Suwarno Wisetrotomo, M.Hum
Pameran berlangsung hingga 22 Februari 2009
Seniman:
Abdul Fattah | Agus ‘Baqul’ Purnomo | Agus Yulianto | Ahmad Sobirin | Andrew Kenneth Jack | Antoni Eka Putra | Asmuliawan | AT Sitompul | Daniel ‘Timbul’ Cahya Krisna | Dedy Sufriadi | Erica Hestu Wahyuni | Farhansiki | Fransgupita | Gusmen Heriadi | Heri Purwanto | I Made Mahendra Mangku | I Made Supena | I Nyoman Triarta AP | Ida Bagus Komang Sindu Putra | Kelompok Simponi | Ketut Teja Astawa | Khusna Hardiyanto | Komroden Haro | Niko Siswanto | “Oetje” | Pramono Pinunggul | Robi Fathoni | Solichin | RM Soni Irawan | Tisna Sanjaya | Yusron Mudhakir
‘SEGAR sama dengan JUJUR’
Selamat tahun baru 2009!
Tahun baru dicatat dengan refleksi, kontemplasi dan introspeksi atas apa saja yang telah kita capai sepanjang tahun lalu dan diawali dengan harapan, cita dan semangat baru. Demikian halnya dengan gelaran pameran seni visual ke-39 di Jogja Gallery kali ini. Pameran sebagai penanda memasuki awal tahun 2009 kali ini, sengaja mengusung tema sederhana dan membebaskan perupa-perupanya untuk mengeksplorasi diri atas karya-karya mereka. Apa yang sedang terjadi saat ini? Pada diri kita sendiri, tentang mimpi dan harapan kita, lingkungan terdekat, isu seni rupa kita hingga isu perkembangan wacana global terkini, mewarnai tema karya yang digelar dari tanggal 23 Januari hingga 22 Februari 2009.
Niatnya mengawali tahun baru ini dengan menampilkan karya-karya baru dari para perupa kita, baru di gagasan, cara ungkap mau pun di teknik. Tema yang terkesan sederhana ini, disikapi kritis oleh perupa peserta pameran ini. Antara lain, ketika berbicara dari segi teknik berkarya, karya AT Sitompul menghadirkan kembali karya lukisnya setelah sekian lama berkutat pada teknik seni grafis. Dalam catatan biodatanya, AT Sitompul terakhir kali menggelar pameran lukisan di tahun 2003. Karena menurutnya, salah satu cara agar pikiran dan jiwa kita segar kembali adalah melakukan sesuatu yang di luar kebiasaan atau pekerjaan kita selama ini.
Lain halnya dengan Daniel ‘Timbul’ Cahya Krisna yang masih bertahan pada seni grafis dan berharap bisa memberikan sesuatu yang baru di tengah maraknya karya-karya lukis. Atas konsistensinya tersebut, baru saja penghargaan atas dedikasinya sebagai perupa muda bidang seni grafis berhasil diraihnya [Academic Art Award #2, 2008]. Perlu dicatat pula hadirnya kelompok Simponi [dibentuk tahun 2007], terdiri dari 4 perupa perempuan, yang lahir rata-rata di tahun ’80-an dan berangkat dari berbagai latar belakang minat utama seni. Simponi yang merupakan akronim dari Sindikat Monster Poni berolah media dengan basis kain dan serat, untuk kemudian menjadi karya-karya yang menarik, menggelitik dan terasa tak berjarak dengan audiensnya.
Demikian halnya dengan karya Antoni Eka Putra, Andrew K. Jack, Dedy Sufriadi, I Ketut Teja Astawa, Pramono Pinunggul dan Yusron Mudhakir yang mengedepankan perihal unsur-unsur utama dalam sebuah karya yakni warna, garis dan tekstur mau pun bentuk, ruang dan komposisi. Antoni Eka Putra untuk kali ini lebih simple bermain di garis mau pun warna dan terkesan impresif. Keteraturan terkadang menjadi penjara diri sendiri, eksistensi tidak dengan kemonotonan tapi dengan pergerakan, demikian pertanyaan Antoni. Hampir senada dengan karya Yusron Mudhakir di sepanjang pengetahuan saya, tetap konsisten menggulirkan penekanan dan pembahasan kualitas warna . Namun cenderung lebih soft pada karya Risalah Warna #2-nya kali ini. Sedangkan Dedy Sufriadi dan Agus ‘Baqul’ Purnomo mengetengahkan teks sebagai elemen utama karya mereka. Sementara Andrew K. Jack, satu-satunya perupa asing, kelahiran New Zealand, ingin hadir kembali mewarnai dinamika seni rupa Indonesia, setelah pameran tunggal terakhirnya tahun 2002 lalu di Jakarta. Bagi yang mengenal Andrew, tema ikan bukan hal baru untuk karyanya, namun olah finishing karya dengan media resin merupakan hal yang jarang kita temui untuk sebuah karya seni lukis.
Hadirnya karya surealis milik Gusmen Heriadi serta dua karya abstrak milik perupa asal Bali, I Made Supena dan I Made Mahendra Mangku lebih memilih tema yang sama yakni soal refleksi dan waktu. Ajakan untuk merenungi kembali akan berharganya sebuah kesempatan, ruang dan waktu sangat pas melalui karya-karya mereka yang minimalis harmonis.
Tengok juga karya-karya Agus Yulianto, Ahmad Sobirin, Asmualiawan, Erica Hestu Wahyuni, Heri Purwanto, Ida Bagus Komang Sindu Putra, I Nyoman Triarta, Niko Siswanto, RM Soni Irawan, Solichin, Komroden Haro dan “Otje”. Mereka menemukan dan mengambil inspirasi dari apa yang sedang terjadi dalam diri mau pun lingkungan terdekat guna eksplorasi karya. Tidak muluk-muluk memang dan tidak sedang berbicara makna yang terdengar sangat pelik. Berkutat masalah sehari-hari, naik turunnya roda kehidupan, satu menopang yang lain, demikian seterusnya untuk tetap bertahan. Hal tersebut disimbolkan dari salah satu bagian mesin kendaraan, meski kecil tetapi penting dan mampu menggerakkan atau menghentikan yang lainnya, lihat karya Fransgupita, Engine Stop.
Meski demikian, toh beberapa perupa kita tetap tak pelak terpercik gagasan berkarya yang berangkat dari isu-isu politis yang sedang hangat saat ini. Seperti krisis ekonomi global hingga konflik bersenjata di kawasan Timur Tengah, yang menjadi keprihatinan masyarakat dunia. Karya Abdul Fattah, Agus ‘Baqul’ Purnomo, Farhansiki, Khusna Hardiyanto dan Robi Fathoni mengungkap dominasi kuasa negara Amerika yang memiliki multi efek bagi hampir di penjuru negara.
Demikianlah, pameran ini diniatkan ingin memberikan kejutan-kejutan baru di tengah padatnya undangan perhelatan di sepanjang 2008 lalu hingga awal tahun. Kejutan atau kesegaran jelas relatif dan sangat subyektif ukurannya. Segar menurut saya pastinya berbeda dengan segar menurut Anda. Begitu pula dengan ke-31 perupa yang berpartisipasi dalam pameran seni visual FRESH 4 U kali ini. Untuk itu, pameran ini memberikan penawaran-penawaran atas makna dan karya yang segar itu sendiri. Meski saya sendiri dan hampir sebagian besar ke-31 perupa ini sepakat bahwa karya yang segar adalah karya-karya yang inspiratif bagi penikmatnya dan lebih penting adalah jujur.
Pameran FRESH 4 U ini coba dihadirkan karena berangkat dari kegelisahan atas situasi dan perkembangan seni rupa Indonesia saat ini. Menantang para perupa untuk bisa menghadirkan karya-karya yang benar-benar berbeda, benar-benar menantang, benar-benar mengajak kita berpikir kembali, dan benar-benar menyegarkan! Apakah benar seni rupa kita stagnan, apakah benar pasar seni rupa kita sedang lesu pasca riuhnya berbagai transaksi karya di tiap sudut ruang presentasi di tanah air ini. Karya instalasi Tisna Sanjaya, Mobile Seniman, satir menanggapi hal ini. Jujurkah kita berkarya, jujurkah kita berwacana dan jujurkah kita bertransaksi?
Nunuk Ambarwati
Program Manager Jogja Gallery
Terima kasih kepada
Sponsor :
Calista Photo Studio dan Mirindo Rent Car
Partner : Mall Galeria, Toko Buku Togamas, Novotel Hotel, Grand Mercure, PT Dakota Cargo, Royal Garden Restaurant, Mall Ambarrukmo Plaza dan Jogja Plaza Hotel.
Media Partner : Radio Eltira 102.1 FM, Radio Global 107.6 FM, Radio RRI Pro 2 102.5 FM, Radio Rakosa 105.3 FM, Jogja TV 48 UHF, Truly Jogja, Kabare Magazine, Kompas, Kedaulatan Rakyat dan Bernas.
Pameran selanjutnya – Asian Youth Imagination #2 [28 Februari – 11 Maret 2009]
Asian Youth Imagination #2 adalah lanjutan dari acara pertama yang sudah terlaksana di Jepang pada bulan Desember 2008 lalu. Pameran ini bertujuan untuk menyajikan karya-karya seniman muda performans se-Asia dan berbagi dalam pengalaman proses berkarya.

Peserta pameran terdiri dari 10 negara di Asean [India, China, Singapore, Taiwan, Philipina, Thailand, Myanmar, Vietnam, Sri Lanka, dan Jepang.


Wednesday, November 05, 2008

Jadilah Mitra Arsip IVAA!


IVAA / Indonesian Visual Art Archive adalah lembaga nirlaba yang berfokus pada usaha pemberdayaan infrastruktur seni rupa dan telah berdiri sejak 1995, sebelumnya dengan nama Yayasan Seni Cemeti [YSC]. Mulai April 2007 ini YSC berganti nama menjadi IVAA dengan pemantapan visi dan fokus kerja sebagai pusat data, riset dan dokumentasi seni rupa Indonesia, dan juga sebagai lembaga manajemen dan pengembangan infrastruktur seni rupa.

Saat ini koleksi database IVAA mencakup sekitar 13.000 item yang berisi khusus tentang seni rupa modern dan kontemporer yang mencakup mulai dari buku, majalah, jurnal, katalog, foto, slide, video, makalah, promotional item sampai ke kliping media massa yang terkumpul selama 12 tahun dengan data tertua tercatat berupa makalah-makalah seni rupa pada masa awal 1960-an. Semuanya disimpan dan diklasifikasikan dalam perpustakaan dan ruang arsip IVAA, Jalan Patehan Tengah No 37. Banyak dari item ini masih berupa hard copy.

Saat ini IVAA baru mendapat dana bantuan untuk melakukan program digitisasi database tersebut dan membuat portal Online Archive di website www.ivaa-online.org untuk membuat data digital itu di dalam jaringan internet. Hal ini merupakan satu hal yang signifikan mengingat dokumentasi dan pengarsipan seni rupa masih merupakan satu hal yang kurang diperhatikan di dunia seni rupa kita yang telah memiliki sejarah perkembangan yang begitu kaya dan panjang.

Sehubungan dengan program tersebut, kami juga bermaksud untuk memperkaya khasanah database kami dan juga menjalin kemitraan dengan berbagai lembaga seni rupa di Indonesia yang juga memiliki khasanah dokumentasi dan arsip yang penting dalam sejarah seni rupa Indonesia. Maka jadilah mitra arsip IVAA!

Dengan menjadi mitra arsip IVAA, kami berharap sekiranya Anda bersedia untuk memberikan kopi atas arsip tersebut agar dikelola oleh IVAA terutama untuk program Online Archive kami. Dengan begitu, link web dan profil serta logo institusi Anda akan dimuat secara khusus dalam portal tersebut.

Kami tunggu tanggapan Anda segera melalui fax di +62 274 372095, dan email program@ivaa-online.org [cp: Farah/Pitra/Sigit] Kami ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya.

Hormat kami,
Farah Wardani
Direktur Eksekutif Indonesian Visual Art Archive/IVAA

Dedication to The Future!

SELEKSI KARYA
Khusus Untuk MAHASISWA ISI Yogyakarta

ACADEMIC ART AWARD #2
'Dedication to The Future'


Program Hibah Kompetisi A2 Jurusan Seni Murni
FSR ISI Yogyakarta & Jogja Gallery, Yogyakarta

Dunia pemikiran dan praktik seni rupa di Indonesia, kini telah mengalami perkembangan pesat, melampaui batas-batas konvensi. Saat ini terjadi eksplorasi pemikiran dan praktik seni. Akibatnya terdapat beragam cara dan pendekatan pembacaan hingga pemaknaan terhadap karya seni rupa. Namun kenyataan lain berbicara, bahwa pendidikan seni rupa di Indonesia, masih ebrada dalam bentuk yang konvensional, yakni masih berada dalam paradigma seni rupa yang terbagi dalam bidang-bidang minat utama seni lukis, seni grafis, seni patung, desain dan kriya seni. Sebagai suatu model pendidikan, tentu saja hal ini tidak ada salahnya, dan justru harus memperoleh dukungan yang memadai dari berbagai pihak.

Dalam kerangka itulah Jurusan Seni Murni - Fakultas Seni Rupa, ISI Yogyakarta yang memperoleh dana Hibah Kompetisi A-2, bekerja sama dengan Jogja Gallery, dalam kesempatan ini berkeinginan mengundang Anda untuk mengambil bagian dalam pameran Academic Art Awards / AAA #2 ini dengan tema 'Dedication to the Future' yang akan diselenggarakan di dua kota yakni,

JOGJA GALLERY, Yogya, 17 Des 2008 - 11 Jan 2009.
MUSEUM NEKA, Bali, 23 Des 2008 - 7 Jan 2009.

Guna keperluan tersebut panitia mengundang segenap mahasiswa aktif mau pun non-aktif yang terdaftar sebagai mahasiswa Jurusan Seni Murni FSR ISI Yogyakarta untuk mengikuti seleksi karya pada:

Jumat, 21 November 2008
Tim seleksi: Suwarno Wisetrotomo, Mikke Susanto & Ketua Minat Utama [Lukis, Patung, Grafis, ISI Yogyakarta]
Karya ditunggu mulai 17 - 20 November 2008.
Paling lambat pukul 09.00 WIB di Galeri Katamsi.
Dan telah didaftarkan kepada Bapak Subardi [staf administrasi Minat Utama Seni Lukis].
Catatan: karya-karya yang akan diajukan untuk seleksi, disesuaikan dengan minat utama yang bersangkutan.

Kami tunggu karya-karya terbaik Anda!!!

Jogja Gallery [JG]
Jalan Pekapalan No 7, Alun-alun Utara Yogyakarta 55000 Indonesia
Phone +62 274 419999, 412021
Phone/Fax +62 274 412023
Phone/SMS +62 274 7161188, +62 888 696 7227
email jogjagallery@yahoo.co.id / info@jogja-gallery.com

http://jogja-gallery.com/

Sunday, November 02, 2008

Self Portrait, Portraits Ourselves


A portrait can really talk much regardless the medium, whether painting, sculpture or photography. At present photography has become a popular medium for people to disseminate their self-expression. People can independently share and get feedbacks concerning their self-portraits through online media. These are the faces and discourse of self-portrait of today. Private domains become so thin that public can easily access them. Therefore, we can find out at least how the “faces”, identities, social issues and development of people’s mindsets really are.

Reading Mikke Susanto’s curatorial note for the exhibition entitled ‘Self Portrait : Famous Living Artists of Indonesia’ at Jogja Gallery can give a depiction of the long journey of the history of self-portrait art, from the civilization of ancient Egypt, ancient Rome, Renaissance era to modern era as what is happening in Indonesia and what will end in this exhibition. It is a visual art exhibition that puts forward self-portraits of the famous artists of this country. We can enjoy this exhibition from 7 to 30 November 2008.

Jogja Gallery as a space for displaying and appreciating contemporary artworks of our artists tries to accommodate the issues as mentions above. With the artworks of 32 participating artists, this exhibition shows their explorations of discourses and media in relation to themselves as the objects. The emphasized word ‘famous’ reminds us of the comparison of the fluctuating polemics developing between self-portraits of well-known and not well-known persons.

Approaching the end of 2008, through this exhibition Jogja Gallery would like to invite public to do self-introspection with their own portraits. We are about to enter the gate into national culture of 2009 with fresher and more challenging hope, dream, spirit and struggle.

We would like to express our appreciation and gratitude to all artists participating in this exhibition with their inspiring works. Also we would like to thank to everyone, our partners, sponsors and print and electronic media who have been supporting Jogja Gallery all this time.

Have a nice exploration!

Bambang Soekmonohadi
Member of Supervisors Board of Jogja Gallery

Sunday, October 26, 2008

Scorpio & Scorpio


When two Scorpions make a love match, it is a fierce tempest of intense passion. Both are obsessed with one another, and they move forward in love, sex and romance at an accelerated -- some would say foolish -- way. Personal relations are positively steamy but, to the equal and opposite extreme, disputes will also be frenetically powerful. This relationship could go either way: It will either be the most wonderful thing in the world or a destruction of both involved.

The romantic merger of two sexy Scorpions can bring out the best in both love mates; each will use their intense emotional and intuitive natures to love their partner very deeply. Resolve and passion will keep these two together. The most powerful and threatening external forces will have a difficult time intruding on the happiness of a truly committed Scorpio couple. If they can wrangle their ardent energies, this power pair can set off fireworks.


The Planets Mars and Pluto rule Scorpio. Mars is the ancient God of War, always charging forward -- passionate, aggressive and courageous. Pluto is the higher octave of Mars and controls the power, destruction and rebirthing elements of the Scorpio-Scorpio relationship. These two planets together allow the Scorpion to bounce back after disappointments or tragic losses. Fortunately for the Scorpion, intense passions inflate the importance and loss of everything.


Scorpio is a Water Sign, so their first instinct in love is to respond deeply, passionately, fervently, and if they decide to express themselves, its never done halfway. Scorpios should commit themselves to this goal: Tame the vengeful or vindictive side of their intuitive personalities, and to celebrate the extreme ups and quickly forget the downs. A Scorpio must let go and really say what they want, what they feel, what they need, to their love mates. Pent-up emotions can become toxic, frustrating the one feeling them and confusing the one wondering about them. Because both are so devoted, jealousy may become an issue. Be strong, brave Scorpios, and overcome this hurdle together!

Scorpio is a Fixed Sign. Idea shortages are never an issue with this pair. No couch potato couple this one -- they like to stay active, and they'll accomplish much together. They share a knack for investments and risks -- calculated ones, that is. A Scorpio couple will thoroughly research and investigate an idea if that's what it requires. Once Scorpio love mates set their eyes on the prize, that's it -- it's theirs.

What's the best thing about a Scorpio-Scorpio love match? The intensity of love that this couple can feel. They're very goal-oriented, and their shared power makes them an incomparable, unconquerable duo! Utter devotion ensures that this relationship will continue for a long time.


Self Portrait : Famous Living Artists of Indonesia


Abstrak Kuratorial

Pameran Seni Visual
SELF-PORTRAIT Famous Living Artists of Indonesia
(POTRET DIRI Seniman Ternama Indonesia)

Jogja Gallery, Yogyakarta, 7 – 30 November 2008

I have a face, but a face is not what I am.
(Julian Bell, Five Hundred Self-Portraits, Phaidon, New York, 2000)

Setiap potret adalah duel—antara perwujudan dan peleburan diri; antara obsesi mengintip jiwa yang telanjang dan naluri untuk menyembunyikannya.
(Yudhi Soerjoatmodjo, “Kolam Narsisus Poriaman”, Tempo, 27 Februari 1993)

Hampir dipastikan, dalam sejarah hidup dan karir perupa, ia pernah menggambar dan memotret dirinya. Potret diri (atau “diri” yang lain) berbentuk foto, patung, lukisan, atau seni lainnya menyimpan segudang masalah. Hidup di antara problem mimetik, kesenangan, seni pesanan, atau pada waktu yang sama dibuat untuk sekadar mengejar nilai estetik. Problem tersebut biasanya lahir ketika persilangan antara kesempatan dan konfrontasi diri seniman, antara sifat romantisme dan kecenderungan sentimentalisme (lebih kasar mungkin disebut Narsisme) berbaur.


Potret di sini bukanlah sebuah gambar mengenai aktivitas kehidupan. Potret lebih banyak bergerak pada tataran sebuah catatan peringatan, buah pikir serta akhirnya berfungsi sebagai “korban” atas dirinya sendiri. Sang seniman lebih banyak berujar mengenai banyak hal dalam karyanya dengan memakai tubuh, wajah, imaji tentang dirinya sendiri. Ia tidak menggambarkan realitas dengan sebuah citra atau sekumpulan tanda-tanda di luar dirinya, tetapi lebih pada “mendera” diri untuk mencapai situasi yang kadang tampak ekstrem.


Perkara lukisan potret diri, dalam sejarah seni rupa telah berkembang pesat. Seni potret telah muncul sejak era seni Timur Jauh (1500 SM.) dan Mesir Kuno yang hidup selama 4000-an tahun. Terbukti dengan adanya bentuk potret diri pada lukisan dinding piramid, selain pada bentuk-bentuk seni patung lainnya. Kala itu perkembangan potret memang bukan mengejar penampakan volume dan kepersisan wajah, namun hanyalah sekadar simbolisasi dari raja-raja yang mereka hormati. Seniman pada masa ini belum tampak mengekplorasi dirinya sendiri.
Di era Romawi kuno potret diri mulai terasa naturalistik, setengah bervolume, namun masih nampak dekoratif. Selain pada lukisan, mereka juga mengembangkan pada patung batu, logam dan lilin dengan kecermatan yang lebih berkembang dari masa sebelumnya. Barulah pada abad ke-15 dan 16 di era Kristen kuno di Eropa, potret diri semakin berkembang pada fungsi agama. Di sela penggambaran Maria dan Jesus (atau sering pula disebut ikon) banyak diproduksi untuk gereja, wajah-wajah seniman muncul sebagai bagian dari representasi physiognomy (ilmu firasat) individu, pelukis itu adalah Pisanello dan van Eyck. Pisanello mengembangkan potret dirinya sebagai profil pada medali (logam), sedang van Eyck melukis dirinya sebagai orang lain pada karya Giovanni Arnolfini and his Wife.

Di era Renaissans, potret diri berkembang sebagai bentuk seni pesanan sangat kuat. Para patron, penguasa, pemimpin gereja menjadi pemesan yang sangat dihargai oleh seniman. Ukuran dan gaya lukisannya tampak sedemikian menarik, berkembang lebih bervolume, realistik, dan cenderung dilebih-lebihkan sekaligus romantis: yang jelek nampak cantik, yang cacat dimanipulasi, dan yang biasa dibuat berwibawa. Di masa ini potret diri selain sebagai wujud visual, namun kadang juga dicampuri dengan suasana mitos dan pesan religi. Di sini muncul nama-nama pelukis seperti Veronese, Titian, Tintoretto, Botticelli, dan Velasquez.
Pada era modern seni potret berkembang menjadi aktivitas utama hampir pada setiap seniman. Selain memotret orang lain, sang perupa selalu menyediakan waktu untuk mendokumentasi dirinya pada karya-karyanya sendiri, baik dengan sketsa, lukisan, patung maupun seni grafis. Potret diri seolah telah menjadi satu kajian tersendiri bagi seniman. Ia memiliki fungsi membawa ego seniman-yang merasa telah dikenal oleh publik-sebagai manusia yang patut untuk dilihat, dicatat, sekaligus dihormati.

Tak kurang seperti Rembrandt dengan amat jeli menampilkan perkembangan dirinya sendiri sejak muda hingga tua: berjenggot dan hampir mati. Puluhan potret dirinya lahir sebagai catatan perkembangan seni yang menandakan upaya seniman bahwa sesungguhnya potret diri telah menjadi satu peruntungan dan tanda perjalanan. Paul Cezanne dan van Gogh melukis dengan gaya Impresionismenya, Picasso memunculkan abstraksi potret dirinya dengan gaya kubis, hingga kemunculan seni potret wajah milik Warhol pada pop art yang dibuatnya dengan warna-warna cerah tahun ‘60-an. Di tahun ‘70-an muncul lukisan megapotret hiperrealis milik Chuck Close.


Seni modern Indonesia memunculkan seni potret dengan cerita yang menarik. Raden Saleh memulai dengan kesadaran Romantikisme yang didapatkan dari tempat gaya itu lahir. Ia berhasil mendokumentasi sekian puluh wajah para pesohor Jawa dan beberapa lainnya dengan teknik yang sangat sempurna. Munculnya seni potret Affandi yang berhasil mengeksploitasi dirinya sendiri pada tingkat yang paling ekstrem; menggambar pose telanjang sebagai sarana mengenal dirinya sendiri dengan cara berdiri pada sebuah cermin.

Namun di tangan Basoeki Abdullah seni potret tampil dengan kesadaran mimetik dan kesenangan (pleasure). Dibuat dengan keterampilan yang tinggi dan dalam tempo tak lama. Dari tangannya muncul ratusan karya potret orang lain dan beberapa tentang dirinya sendiri. Bila tangan Affandi menggenggam pisau, tangan Basoeki menghadirkan bunga. Sejak itu seni potret di Indonesia berkembang diantara ribuan ide.


Namun jika melacak berbagai kecenderungan yang lebih umum dalam konteks seni rupa dunia, karya ‘potret diri’ selama ini memiliki kecenderungan:

1. IDENTITAS: Memperlihatkan isu tentang identitas diri di seniman secara utuh, tanpa dibebani oleh isu dan konteks yang lain atau menjadi catatan dan sejarah pribadi dengan kompleksitas psikologi si seniman. (Rembrant van Rijn melukis dirinya sendiri sebagai catatan wajah di setiap usia, bisa lihat van Gogh)
2. TESIS & EKSPERIMENTASI: Memperlihatkan kecenderungan eksperimentasi dan kreativitas media atau teknik dalam visualisasi potret diri. Bahkan dapat pula sebagai bagian dari sarana pengajuan tesis baru dalam kreativitas seni. (Gustave Courbet ketika memproklamasikan Realisme, Egon Schiele dengan memanfaatkan fotografi untuk mengeksplorasi lukisan cat airnya, Salvador Dali dengan gaya surealistik, Dubuffet dengan Art Brut, Yoshimasa Morimura dengan gaya objek buah-nya, Yue Ming Jun atau Fang Li Jun dengan karakter kepalanya yang khasnya)
3. KONTEKS SOSIAL & SEJARAH: Memperlihatkan hubungan antara berbagai hal, situasi dan kondisi yang sedang berlangsung pada saat ini maupun dengan konteks sejarah (masa lalu) peradaban dengan diri si perupa. Dalam hal ini dapat dilihat pula bahwa posisi seniman sebagai makhluk sosial yang berada di tengah-tengah masyarakat. (Leonardo da Vinci pada Monalisa atau Shirin Neshat dalam karya Seeking Martyrdom, 1955)
4. Kecenderungan yang mengarah pada percampuran ide-ide baru yang mungkin belum tercatat dalam sejarah.

Dalam pameran ini diharapkan perupa melukiskan dirinya sendiri (dalam hal ini ekplorasi wajah sangat dan lebih diharapkan), sesuai dan secara jujur diakui sebagai bagian dari karakter yang dimilikinya saat ini. Adapun perihal media, dibebaskan: lukis, patung, grafis, sesuai dengan kebiasaan dalam berkarya seni. Dalam hal ini kurator akan membaca berbagai peragai yang muncul dalam setiap karya potret diri yang dihasilkan perupa. Sampai sejauh manakah wacana ‘potret diri’ di tangan perupa pada masa kini? Perupa dapat melakukan eksplorasi wacana atau disesuaikan dengan gaya karyanya, atau dapat pula memilih kecenderungan (klasifikasi) yang telah diungkap di atas.


Pameran ini mencoba memetakan ‘peristiwa’ melalui wajah para perupa.

Selamat berkarya & salam budaya.

Mikke Susanto [Kurator]

Bicara Asia Tenggara Lewat Seni Rupa



Berbicara mengenai Asia Tenggara, menjadi mahfum ketika saat ini banyak menjadi sorotan karena beberapa negara-negara di bagian ini menunjukkan kepesatan tingkat perekonomian mereka. Dalam dunia politik dan kebudayaan, kita mengenal jargon ”hubungan government to government” dan ”people to people”. Ketegangan-ketegangan yang terjadi antar pemerintah dari dua negara, misalnya, tak selamanya identik dengan yang terjadi pada hubungan antar masyarakatnya, khususnya para senimannya. Dan ketika berbicara pada kotak kesenian dan kebudayaan, sepertinya akan sepakat, bahwa seni dan budaya menjadi salah satu perekat hubungan bilateral maupun multilateral masing-masing negara. Dimana terkadang, seni dan budaya seperti tidak terpengaruh akan fluktuasi suhu politik mau pun ekonomi. Malah selama ini nyaris tak pernah terdengar ketegangan yang serius di antara para seniman dari negara-negara Asia Tenggara. Seni juga bisa menjadi obrolan yang panas pada forum formal mau pun unformal kita di era lintas batas saat ini.

Menjadi bagian dari negara yang berposisi di Asia Tenggara, Indonesia memiliki peranan penting memeriahkan peta seni rupa global. Di tengah gencarnya promosi karya-karya perupa-perupa Indonesia di luar negeri, serta persaingan wacana pasar dan pasar wacana seni rupa Asia saat ini. Maka, sangat tepat ketika gagasan pameran seni visual perupa-perupa Asia Tenggara ’T.V-I.M’ di Jogja Gallery, Yogyakarta, 17 Oktober – 2 November 2008 ini diselenggarakan. Tepat diselenggarakan di Indonesia, khususnya di Yogyakarta, dimana di kota inilah pergerakan seni rupa muncul dan menguat. Tepat, di saat fokus seni rupa global saat ini mengarah pada karya-karya perupa asal Asia Tenggara. Saya gembira Jogja Gallery dapat menyelenggarakan pameran ini. Sebab dengan begitu para seniman dapat saling bertukar informasi, memperluas wawasan, membanding-bandingkan, dan lebih dari itu adalah memahami apa yang ingin disampaikan oleh para seniman yang ikut terlibat dalam pameran ini.

Bersama dengan perupa-perupa asal Thailand, Vietnam dan Malaysia mari kita saksikan bersama bagaimana tema-tema indigenous muncul dalam kemasan kontemporer. Karya-karya dari negara-negara tetangga kita, yang kadang terasa jauh padahal dekat, kadang tak masuk dalam perhitungan padahal tetap eksis. Bagaimana keunikan, orisinalitas dan rasa kebangsaan mungkin masih terasa kental dimunculkan lewat karya-karya yang tersajikan kali ini.

Kita tahu, yang diungkapkan dalam seni adalah campuran dari macam-macam perasaan, imajinasi, khayalan, impian, dorongan, naluri, ide-ide, pendapat, yang semuanya berpusat pada nilai estetis karyanya. Sebab seniman pertama-tama didorong oleh nilai keindahan, meskipun bukan keindahan dalam pengertian dangkal.

Meski penyelenggara sadar, belum sepenuhnya bisa menampilkan representasi karya semua negara di Asia Tenggara, setidaknya dan semoga pameran kali ini menambah kerekatan hubungan antar infrastruktur seni kita dengan banyaknya agenda acara pendukung yang menyertai digelarnya perhelatan ini. Menjadi mata rantai yang tak berujung antara perupa, kolektor dan pecinta seni. Juga mengingatkan kembali akan posisi penting perkembangan seni rupa kita di peta Asia Tenggara khususnya dan internasional pada umumnya.

Seni yang baik bisa mengungkapkan keluhuran, keindahan, keanehan, kelucuan, kegembiraan, dan bahkan kekejaman manusia. Seni yang baik juga bisa mengagetkan, menimbulkan kontroversi, dan terkesan provokatif. Sebab melalui karya-karyanya, seniman memprovokasi kita untuk bisa membuka dimensi yang lebih mendalam dari realitas dunia, realitas manusia.

Selamat berpameran kepada para perupa, selamat menikmati karya-karya yang tersajikan kepada para penikmat seni. Tak lupa, Jogja Gallery, Kelompok Seringgit dan Art Societes mengucapkan terima kasih atas apresiasi seluruh mitra kerja, rekan-rekan media, sponsor dan pendukung pameran ini. Kami tak pupus berharap, melalui pameran ini, semoga kita tak pernah lelah berkompromi untuk terus memajukan seni rupa kita.

Salam hangat,
Moetaryanto
Anggota Dewan Penasehat Jogja Gallery