Sunday, October 26, 2008

Scorpio & Scorpio


When two Scorpions make a love match, it is a fierce tempest of intense passion. Both are obsessed with one another, and they move forward in love, sex and romance at an accelerated -- some would say foolish -- way. Personal relations are positively steamy but, to the equal and opposite extreme, disputes will also be frenetically powerful. This relationship could go either way: It will either be the most wonderful thing in the world or a destruction of both involved.

The romantic merger of two sexy Scorpions can bring out the best in both love mates; each will use their intense emotional and intuitive natures to love their partner very deeply. Resolve and passion will keep these two together. The most powerful and threatening external forces will have a difficult time intruding on the happiness of a truly committed Scorpio couple. If they can wrangle their ardent energies, this power pair can set off fireworks.


The Planets Mars and Pluto rule Scorpio. Mars is the ancient God of War, always charging forward -- passionate, aggressive and courageous. Pluto is the higher octave of Mars and controls the power, destruction and rebirthing elements of the Scorpio-Scorpio relationship. These two planets together allow the Scorpion to bounce back after disappointments or tragic losses. Fortunately for the Scorpion, intense passions inflate the importance and loss of everything.


Scorpio is a Water Sign, so their first instinct in love is to respond deeply, passionately, fervently, and if they decide to express themselves, its never done halfway. Scorpios should commit themselves to this goal: Tame the vengeful or vindictive side of their intuitive personalities, and to celebrate the extreme ups and quickly forget the downs. A Scorpio must let go and really say what they want, what they feel, what they need, to their love mates. Pent-up emotions can become toxic, frustrating the one feeling them and confusing the one wondering about them. Because both are so devoted, jealousy may become an issue. Be strong, brave Scorpios, and overcome this hurdle together!

Scorpio is a Fixed Sign. Idea shortages are never an issue with this pair. No couch potato couple this one -- they like to stay active, and they'll accomplish much together. They share a knack for investments and risks -- calculated ones, that is. A Scorpio couple will thoroughly research and investigate an idea if that's what it requires. Once Scorpio love mates set their eyes on the prize, that's it -- it's theirs.

What's the best thing about a Scorpio-Scorpio love match? The intensity of love that this couple can feel. They're very goal-oriented, and their shared power makes them an incomparable, unconquerable duo! Utter devotion ensures that this relationship will continue for a long time.


Self Portrait : Famous Living Artists of Indonesia


Abstrak Kuratorial

Pameran Seni Visual
SELF-PORTRAIT Famous Living Artists of Indonesia
(POTRET DIRI Seniman Ternama Indonesia)

Jogja Gallery, Yogyakarta, 7 – 30 November 2008

I have a face, but a face is not what I am.
(Julian Bell, Five Hundred Self-Portraits, Phaidon, New York, 2000)

Setiap potret adalah duel—antara perwujudan dan peleburan diri; antara obsesi mengintip jiwa yang telanjang dan naluri untuk menyembunyikannya.
(Yudhi Soerjoatmodjo, “Kolam Narsisus Poriaman”, Tempo, 27 Februari 1993)

Hampir dipastikan, dalam sejarah hidup dan karir perupa, ia pernah menggambar dan memotret dirinya. Potret diri (atau “diri” yang lain) berbentuk foto, patung, lukisan, atau seni lainnya menyimpan segudang masalah. Hidup di antara problem mimetik, kesenangan, seni pesanan, atau pada waktu yang sama dibuat untuk sekadar mengejar nilai estetik. Problem tersebut biasanya lahir ketika persilangan antara kesempatan dan konfrontasi diri seniman, antara sifat romantisme dan kecenderungan sentimentalisme (lebih kasar mungkin disebut Narsisme) berbaur.


Potret di sini bukanlah sebuah gambar mengenai aktivitas kehidupan. Potret lebih banyak bergerak pada tataran sebuah catatan peringatan, buah pikir serta akhirnya berfungsi sebagai “korban” atas dirinya sendiri. Sang seniman lebih banyak berujar mengenai banyak hal dalam karyanya dengan memakai tubuh, wajah, imaji tentang dirinya sendiri. Ia tidak menggambarkan realitas dengan sebuah citra atau sekumpulan tanda-tanda di luar dirinya, tetapi lebih pada “mendera” diri untuk mencapai situasi yang kadang tampak ekstrem.


Perkara lukisan potret diri, dalam sejarah seni rupa telah berkembang pesat. Seni potret telah muncul sejak era seni Timur Jauh (1500 SM.) dan Mesir Kuno yang hidup selama 4000-an tahun. Terbukti dengan adanya bentuk potret diri pada lukisan dinding piramid, selain pada bentuk-bentuk seni patung lainnya. Kala itu perkembangan potret memang bukan mengejar penampakan volume dan kepersisan wajah, namun hanyalah sekadar simbolisasi dari raja-raja yang mereka hormati. Seniman pada masa ini belum tampak mengekplorasi dirinya sendiri.
Di era Romawi kuno potret diri mulai terasa naturalistik, setengah bervolume, namun masih nampak dekoratif. Selain pada lukisan, mereka juga mengembangkan pada patung batu, logam dan lilin dengan kecermatan yang lebih berkembang dari masa sebelumnya. Barulah pada abad ke-15 dan 16 di era Kristen kuno di Eropa, potret diri semakin berkembang pada fungsi agama. Di sela penggambaran Maria dan Jesus (atau sering pula disebut ikon) banyak diproduksi untuk gereja, wajah-wajah seniman muncul sebagai bagian dari representasi physiognomy (ilmu firasat) individu, pelukis itu adalah Pisanello dan van Eyck. Pisanello mengembangkan potret dirinya sebagai profil pada medali (logam), sedang van Eyck melukis dirinya sebagai orang lain pada karya Giovanni Arnolfini and his Wife.

Di era Renaissans, potret diri berkembang sebagai bentuk seni pesanan sangat kuat. Para patron, penguasa, pemimpin gereja menjadi pemesan yang sangat dihargai oleh seniman. Ukuran dan gaya lukisannya tampak sedemikian menarik, berkembang lebih bervolume, realistik, dan cenderung dilebih-lebihkan sekaligus romantis: yang jelek nampak cantik, yang cacat dimanipulasi, dan yang biasa dibuat berwibawa. Di masa ini potret diri selain sebagai wujud visual, namun kadang juga dicampuri dengan suasana mitos dan pesan religi. Di sini muncul nama-nama pelukis seperti Veronese, Titian, Tintoretto, Botticelli, dan Velasquez.
Pada era modern seni potret berkembang menjadi aktivitas utama hampir pada setiap seniman. Selain memotret orang lain, sang perupa selalu menyediakan waktu untuk mendokumentasi dirinya pada karya-karyanya sendiri, baik dengan sketsa, lukisan, patung maupun seni grafis. Potret diri seolah telah menjadi satu kajian tersendiri bagi seniman. Ia memiliki fungsi membawa ego seniman-yang merasa telah dikenal oleh publik-sebagai manusia yang patut untuk dilihat, dicatat, sekaligus dihormati.

Tak kurang seperti Rembrandt dengan amat jeli menampilkan perkembangan dirinya sendiri sejak muda hingga tua: berjenggot dan hampir mati. Puluhan potret dirinya lahir sebagai catatan perkembangan seni yang menandakan upaya seniman bahwa sesungguhnya potret diri telah menjadi satu peruntungan dan tanda perjalanan. Paul Cezanne dan van Gogh melukis dengan gaya Impresionismenya, Picasso memunculkan abstraksi potret dirinya dengan gaya kubis, hingga kemunculan seni potret wajah milik Warhol pada pop art yang dibuatnya dengan warna-warna cerah tahun ‘60-an. Di tahun ‘70-an muncul lukisan megapotret hiperrealis milik Chuck Close.


Seni modern Indonesia memunculkan seni potret dengan cerita yang menarik. Raden Saleh memulai dengan kesadaran Romantikisme yang didapatkan dari tempat gaya itu lahir. Ia berhasil mendokumentasi sekian puluh wajah para pesohor Jawa dan beberapa lainnya dengan teknik yang sangat sempurna. Munculnya seni potret Affandi yang berhasil mengeksploitasi dirinya sendiri pada tingkat yang paling ekstrem; menggambar pose telanjang sebagai sarana mengenal dirinya sendiri dengan cara berdiri pada sebuah cermin.

Namun di tangan Basoeki Abdullah seni potret tampil dengan kesadaran mimetik dan kesenangan (pleasure). Dibuat dengan keterampilan yang tinggi dan dalam tempo tak lama. Dari tangannya muncul ratusan karya potret orang lain dan beberapa tentang dirinya sendiri. Bila tangan Affandi menggenggam pisau, tangan Basoeki menghadirkan bunga. Sejak itu seni potret di Indonesia berkembang diantara ribuan ide.


Namun jika melacak berbagai kecenderungan yang lebih umum dalam konteks seni rupa dunia, karya ‘potret diri’ selama ini memiliki kecenderungan:

1. IDENTITAS: Memperlihatkan isu tentang identitas diri di seniman secara utuh, tanpa dibebani oleh isu dan konteks yang lain atau menjadi catatan dan sejarah pribadi dengan kompleksitas psikologi si seniman. (Rembrant van Rijn melukis dirinya sendiri sebagai catatan wajah di setiap usia, bisa lihat van Gogh)
2. TESIS & EKSPERIMENTASI: Memperlihatkan kecenderungan eksperimentasi dan kreativitas media atau teknik dalam visualisasi potret diri. Bahkan dapat pula sebagai bagian dari sarana pengajuan tesis baru dalam kreativitas seni. (Gustave Courbet ketika memproklamasikan Realisme, Egon Schiele dengan memanfaatkan fotografi untuk mengeksplorasi lukisan cat airnya, Salvador Dali dengan gaya surealistik, Dubuffet dengan Art Brut, Yoshimasa Morimura dengan gaya objek buah-nya, Yue Ming Jun atau Fang Li Jun dengan karakter kepalanya yang khasnya)
3. KONTEKS SOSIAL & SEJARAH: Memperlihatkan hubungan antara berbagai hal, situasi dan kondisi yang sedang berlangsung pada saat ini maupun dengan konteks sejarah (masa lalu) peradaban dengan diri si perupa. Dalam hal ini dapat dilihat pula bahwa posisi seniman sebagai makhluk sosial yang berada di tengah-tengah masyarakat. (Leonardo da Vinci pada Monalisa atau Shirin Neshat dalam karya Seeking Martyrdom, 1955)
4. Kecenderungan yang mengarah pada percampuran ide-ide baru yang mungkin belum tercatat dalam sejarah.

Dalam pameran ini diharapkan perupa melukiskan dirinya sendiri (dalam hal ini ekplorasi wajah sangat dan lebih diharapkan), sesuai dan secara jujur diakui sebagai bagian dari karakter yang dimilikinya saat ini. Adapun perihal media, dibebaskan: lukis, patung, grafis, sesuai dengan kebiasaan dalam berkarya seni. Dalam hal ini kurator akan membaca berbagai peragai yang muncul dalam setiap karya potret diri yang dihasilkan perupa. Sampai sejauh manakah wacana ‘potret diri’ di tangan perupa pada masa kini? Perupa dapat melakukan eksplorasi wacana atau disesuaikan dengan gaya karyanya, atau dapat pula memilih kecenderungan (klasifikasi) yang telah diungkap di atas.


Pameran ini mencoba memetakan ‘peristiwa’ melalui wajah para perupa.

Selamat berkarya & salam budaya.

Mikke Susanto [Kurator]

Bicara Asia Tenggara Lewat Seni Rupa



Berbicara mengenai Asia Tenggara, menjadi mahfum ketika saat ini banyak menjadi sorotan karena beberapa negara-negara di bagian ini menunjukkan kepesatan tingkat perekonomian mereka. Dalam dunia politik dan kebudayaan, kita mengenal jargon ”hubungan government to government” dan ”people to people”. Ketegangan-ketegangan yang terjadi antar pemerintah dari dua negara, misalnya, tak selamanya identik dengan yang terjadi pada hubungan antar masyarakatnya, khususnya para senimannya. Dan ketika berbicara pada kotak kesenian dan kebudayaan, sepertinya akan sepakat, bahwa seni dan budaya menjadi salah satu perekat hubungan bilateral maupun multilateral masing-masing negara. Dimana terkadang, seni dan budaya seperti tidak terpengaruh akan fluktuasi suhu politik mau pun ekonomi. Malah selama ini nyaris tak pernah terdengar ketegangan yang serius di antara para seniman dari negara-negara Asia Tenggara. Seni juga bisa menjadi obrolan yang panas pada forum formal mau pun unformal kita di era lintas batas saat ini.

Menjadi bagian dari negara yang berposisi di Asia Tenggara, Indonesia memiliki peranan penting memeriahkan peta seni rupa global. Di tengah gencarnya promosi karya-karya perupa-perupa Indonesia di luar negeri, serta persaingan wacana pasar dan pasar wacana seni rupa Asia saat ini. Maka, sangat tepat ketika gagasan pameran seni visual perupa-perupa Asia Tenggara ’T.V-I.M’ di Jogja Gallery, Yogyakarta, 17 Oktober – 2 November 2008 ini diselenggarakan. Tepat diselenggarakan di Indonesia, khususnya di Yogyakarta, dimana di kota inilah pergerakan seni rupa muncul dan menguat. Tepat, di saat fokus seni rupa global saat ini mengarah pada karya-karya perupa asal Asia Tenggara. Saya gembira Jogja Gallery dapat menyelenggarakan pameran ini. Sebab dengan begitu para seniman dapat saling bertukar informasi, memperluas wawasan, membanding-bandingkan, dan lebih dari itu adalah memahami apa yang ingin disampaikan oleh para seniman yang ikut terlibat dalam pameran ini.

Bersama dengan perupa-perupa asal Thailand, Vietnam dan Malaysia mari kita saksikan bersama bagaimana tema-tema indigenous muncul dalam kemasan kontemporer. Karya-karya dari negara-negara tetangga kita, yang kadang terasa jauh padahal dekat, kadang tak masuk dalam perhitungan padahal tetap eksis. Bagaimana keunikan, orisinalitas dan rasa kebangsaan mungkin masih terasa kental dimunculkan lewat karya-karya yang tersajikan kali ini.

Kita tahu, yang diungkapkan dalam seni adalah campuran dari macam-macam perasaan, imajinasi, khayalan, impian, dorongan, naluri, ide-ide, pendapat, yang semuanya berpusat pada nilai estetis karyanya. Sebab seniman pertama-tama didorong oleh nilai keindahan, meskipun bukan keindahan dalam pengertian dangkal.

Meski penyelenggara sadar, belum sepenuhnya bisa menampilkan representasi karya semua negara di Asia Tenggara, setidaknya dan semoga pameran kali ini menambah kerekatan hubungan antar infrastruktur seni kita dengan banyaknya agenda acara pendukung yang menyertai digelarnya perhelatan ini. Menjadi mata rantai yang tak berujung antara perupa, kolektor dan pecinta seni. Juga mengingatkan kembali akan posisi penting perkembangan seni rupa kita di peta Asia Tenggara khususnya dan internasional pada umumnya.

Seni yang baik bisa mengungkapkan keluhuran, keindahan, keanehan, kelucuan, kegembiraan, dan bahkan kekejaman manusia. Seni yang baik juga bisa mengagetkan, menimbulkan kontroversi, dan terkesan provokatif. Sebab melalui karya-karyanya, seniman memprovokasi kita untuk bisa membuka dimensi yang lebih mendalam dari realitas dunia, realitas manusia.

Selamat berpameran kepada para perupa, selamat menikmati karya-karya yang tersajikan kepada para penikmat seni. Tak lupa, Jogja Gallery, Kelompok Seringgit dan Art Societes mengucapkan terima kasih atas apresiasi seluruh mitra kerja, rekan-rekan media, sponsor dan pendukung pameran ini. Kami tak pupus berharap, melalui pameran ini, semoga kita tak pernah lelah berkompromi untuk terus memajukan seni rupa kita.

Salam hangat,
Moetaryanto
Anggota Dewan Penasehat Jogja Gallery

Thursday, February 07, 2008

Komedi Putar, 15 - 30 March 2008


Diskusi Pra Even Kebangkitan Nasional



Notulen Diskusi Pra Even
Pameran Seni Visual 100 tahun Kebangkitan Nasional
‘Setelah 20 Mei*’
Jogja Gallery [JG], 2 Februari 2008, pukul 16.00 WIB – selesai
Narasumber:
DR. Baskara T Wardaya SJ
[Direktur Pusat Sejarah dan Etika Politik / PUSDEP Universitas Sanata Dharma Yogyakarta]
DR. Sri Margana, S.S., M.Hum, M.Phil
[Staf pengajar Ilmu Sejarah, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta]
Moderator:
Mikke Susanto, S.Sn
[Kurator Jogja Gallery]
Pengantar:
Untuk menjaring karya-karya seni terbaik, Jogja Gallery menyelenggarakan diskusi pra even kompetisi seni visual dalam rangka 100 tahun Kebangkitan Nasional ‘Setelah 20 Mei*’. Diskusi ini bersifat terbuka untuk perupa mau pun mereka yang tertarik hubungan antara seni visual dengan sejarah Kebangkitan Nasional. Diskusi ini membahas pergolakan wacana dan polemik tentang Kebangkitan Nasional serta menguak dokumen-dokumen penting berupa foto-foto atau artefak-artefak lain yang terkait dengan hari Kebangkitan Nasional yang telah berusia 100 tahun ini.
Kompetisi ini sendiri diselenggarakan untuk turut memperingati 100 tahun Kebangkitan Nasional yang akan jatuh 20 Mei 2008. Melalui kompetisi ini, Jogja Gallery mengajak para perupa untuk ikut merespon isu kebangkitan nasional. Dimana dalam kurun waktu 100 tahun, kebangkitan nasional bagi kalangan muda Indonesia memiliki penyikapan yang beragam sesuai riuhnya globalisasi yang tak bisa disangkal turut memberi pengaruh pada pola pikir, penyikapan, gaya hidup bahkan kepribadian personal mau pun bangsa Indonesia sendiri. Hasil dari kompetisi seni visual terbuka ini akan dijaring karya-karya [dengan media bebas] yang akan dipamerkan di Jogja Gallery mulai tanggal 20 Mei – 8 Juni 2008. Kompetisi ini juga bertujuan untuk mendapatkan perupa-perupa berbakat dengan mengedepankan kualitas karya melalui penyikapan semangat kebangkitan nasional terkini!

Mikke Susanto: Diskusi ini diselenggarakan untuk mencari berbagai hal dengan tema yang dimaksud agar bisa diungkap dalam bentuk seni visual. Pentingnya even kali ini adalah peringatan Kebangkitan Nasional tahun ini adalah yang ke-100, dan tidak akan pernah bisa terulang. Mungkin yang peringatan yang ke 200 nanti, cukup fenomenal, itu pun kalau memang masih ada nasionalisme. Sembari kita akan diskusi lebih lanjut tentang Kebangkitan Nasional, selaku pembuka, diskusi ini akan dipandu saya sendiri. Diskusi bersifat terbuka untuk umum, tidak harus perupa yang berminat mengikuti kompetisi dan non formal. Silakan merespon wacana mau pun teknis. Kurator dan manajemen Jogja Gallery [JG] akan menyiapkan diri untuk masalah-masalah teknis.
Memperkenalkan, Romo DR. Baskoro T Wardaya, direktur Pusdep, lebih konsentrasi ke sejarah pasca kemerdekaan secara formal ilmiah. Dosen di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Dalam diskusi ini harapannya lebih mengarah kepada kontekstualisasi even-even mau pun program-program yang terkait dengan persoalan politik mau pun sejarah kebangsaaan. Banyak teman-teman seniman yang ingin mendapat inspirasi dari sejarah bangsa. Pameran yang sifatnya terhadap penghormatan sesuatu, telah banyak dibuat oleh banyak galeri di Indonesia. Khusus pada even kali ini, saya lebih ingin mencermati tidak melulu pada penghormatan pada peristiwa, tapi lebih pada perosalan kebangsaaan karena seniman juga bagian dari masyrakat dan bangsa. Ada pijakan utama yaitu nasionalisme. Di sini lebih penting menjadi metafora atau titik kajian yang utama. Ketika kompetisi yang pernah diselenggarakan oleh JG dalam rangka 200 tahun Raden Saleh, dibahas melalui salah satu karya Raden Saleh. Tapi kali ini lebih dibahas lewat even Kebangkitan Nasional secara umum, dimana peristiwa ini sangat jauh lebih muda daripada Raden Saleh, berselang 100 tahun.
KRMT. Indro ‘Kimpling’ Suseno: Kegelisahan JG sudah lama kita pikirkan, ketika setahun sebelum Mei 2008 mulai muncul even ini. Kegelisahannya, ini kita mau memperingati 100 tahun kebangkitan nasional, tapi apa yang terjadi pada bangsa ini? Apakah kita betul-betul sudah bangkit? Padahal kalau kita lihat, problem bangsa ini semakin banyak. Dirunut sejarah, kebangkitan nasional pertama, intinya dari Pangeran Diponegoro hingga munculnya Boedi Oetomo. Seperti Dr. Wahidin Soedirohoesodo keliling dengan sandal jepit memprovokasi tentang kebangkitan nasional. Kalau dipikir gila-gila semua para pendahulu kita. JG dan kita semua sepakat, kita bisa melakukan kebangkitan nasional melalui seni budaya. Sementara pamungkas itu adalah seni budaya. Hasil pendataan riil, yang tidak dilakukan pemerintah, komunitas, penggerak bahkan even seni budaya itu ada ratusan ribu seluruh Indonesia. Indonesia Visit Year tahun ini pun tidak muncul. Dari satu kotak, seni budaya ini, diharap lebih konsisten dengan kompetisi yang dimunculkan. Niat dari JG, kami sadar penuh bahwa mungkin tidak ada artinya, mungkin ada yang mencemooh, tapi kita tetap harus melakukan sesuatu. Terlalu berat ketika kita harus memikirkan kebangkitan nasional yang sesungguhnya. Tapi kita bisa melakukan banyak hal, melalui hal kecil ini. Jadi titip untuk para penulis dan para perupa ikutlah kompetisi ini dengan ‘jiwa’. Karena ‘jiwa’ Anda ada dalam karya ini di kesempatan yang langka, 100 tahun Kebangkitan Nasional kali ini. Kebetulan saya ikut terlibat dalam kepanitiaan yang melibatkan UGM, ketua Prof. Soetaryo. Namun kepanitiaan ini terkesan masih ceremonial. Karena membangun kebnagkitan nasional jaman dulu itu taruhannya nyawa pada masa itu. Sementara kita memperingati kesannya hanya ceremonial. Untuk itu kita harus serius. Mari kita buktikan kita punya aura dan daya yang lebih konkret dan lebih ‘berbahaya’ dan akan terpengaruh melalui pameran kali ini. Semua bisa merasakan kekuatan perjuangan dan kenyataan bahwa ‘perjuangan’ itu tidak habis-habisnya. Marilah kita sambut dengan baik. Pastilah kami banyak kekurangan dan keterbatasan, kami hanya punya niat baik untuk semuanya dalam mengisi satu item yang tidak pernah bisa diukur.
Mikke Susanto: Saya meneruskan rangkaian peristiwa 100 tahun Kebangkitan Nasional. Bahwa akan ada bnayak rekan-rekan di seluruh Indonesia merespon even ini. Saya kira persoalan ini memang menjadi milik kita sendiri, alangkah baiknya, kita harus lebih baik. Dan 100 tahun Kebangkitan Nasional dan peristiwa 10 tahun Reformasi ini tidak jelas arahnya. Satu pembicara yang belum saya perkenalkan adalah DR. Sri Margana, beliau baru saja lulus, 3 minggu lalu dari studi PSd di Leiden, Netherland. Beliau memang bekerja sebagai staf pengajar ilmu sejarah UGM. Apa opini mereka tentang Kebangkitan Nasional. Ada banyak buku dan selebaran, beberapa catatan dari situs internet yang mempertanyakan kembali tentang Kebangkitan Nasional. Mas Margana akan bicara tentang buku-buku tentang konteks sosial politik saat itu. Terutama tentang catatan Ki Hajar Dewantoro tentang Kebangkitan Nasional.
Sri Margana: Selamat sore. Saya memimpikan bisa berkomunikasi dengan komunitas seni. Saya juga suka seni tapi tidak kesampaian, ingin merasa menjadi seniman juga. Saya diberi tugas sama Mas Mikke, ide awalnya adalah bahwa nanti ada peringatan Kebangkitan Nasional dan para perupa bisa mengungkapkan persepsi mereka dan bisa diberikan inspirasi melalui diskusi ini. Maka saya tidak akan cerita sejarah. Saya akan bicara mozaik-mozaiknya saja, yaitu hal-hal yang mungkin tidak bisa diketahui di pelajaran sekolah atau buku tentang Kebangkitan Nasional itu sendiri.
Boedi Oetomo [BO], sebetulnya ada banyak kontroversi yang menyertainya. Ada yg menggugat sangat keras sekali, bahwa BO tidak layak untuk menjadi tonggak kebangkitan nasional hanya karena anggotanya para priyayi Jawa, dan hanya kegiatan sekumpulan priyayi. Kapan sebenarnya Indonesia memperingati Kebangkitan Nasional? Tahun 1948. Yg mempunyai ide, kala itu adalah presiden Soekarno. Tahun 1948 itu adalah periode dimana Indonesia sedang berjuang memproklamasikan kemerdekaan. Kenapa punya ide itu dengan melihat BO, karena Indonesia sudah mulai terbelah-belah lagi, ada perjanjian Renville, Van Royen, yang membuat Indonesia semakin sempit. Maka Soekarno punya ide, mempunyai momen dan kekuatan untuk membangun kembali, semngat Indonesia untuk bersatu lagi. Waktu itu namanya bukan Kebangkitan Nasional, tapi kebangunan nasional. Maka berkumpullah organisasi-organisasi Islam, Kristen di Yogyakarta untuk menyepakati kebangunan nasional, dan diterima. Ada kontroversi datang dari Hatta, tidak setuju. Jangan sampai Kebangunan Nasional menyaingi 17 Agustus. Jadi Indonesia seharusnya hanya punya ada satu hari nasional saja yaitu 17 Agustus saja. Kemudian Ki Hajar Dewantoro menanggapi, tahun 1950, dia juga menyinggung, termasuk peristiwa penyerahan kedaulatan itu tidak disamakan dengan 17 Agustus. Ki Hajar Dewantoro, punya pendapat bahwa Hatta benar tapi juga salah. Salahnya adalah alangkah miskinnya suatu bangsa hanya punya satu hari nasional saja. Kalau perlu kita mempunyai hari nasional sebanyak mungkin. Dan tidak harus, hari nasional tersebut harus menjadi hari libur atau tanggal merah. Makanya ada sebuah buku, banyak buku kontroversi yang muncul, saya baca ya mereka terlalu historis, kan motifnya terlalu akademis, kalau saya ungkapkan di sini bisa lebih kacau. Kemudian saya bongkar buku, di perpustakaan jurusan Sejarah UGM, ada dari Ki Suratman. Ini buku yang ditulis alm. Ki Hajar Dewantoro, mengapa kita memperingati Kebangunan Nasional tgl 20 Mei dan kenapa BO. Ketika Soekarno dan Hatta memproklamirkan 17 Agustus, apakah saat itu juga Indonesia merdeka? Kan enggak, masih ada Agresi Belanda dan seterusnya, masih sampai tahun 50 berperang dan berdiplomasi. Apakah rakyat terbebas dari kaum feodal kan juga tidak. Ketika BO dianggap kebangkitan nasional apakah juga semua orang bangkit. Sebuah nation state itu perlu mitos-mitos untuk kelangsungan hidupnya, salah satunya dengan menciptakan hari-hari nasional. Yang penting kita mempunyai satu momen sebagai mitos nasional sebagai ideologi. Jadi bagi sejarawan, kontrovesi semacam ini biasa. Sejarah selalu subyektif dan tidak perlu diperdebatkan. Kalau melihat dari tingkah laku dan hal-hal yang secara nyata para tokoh-tokohnya, tidak diragukan sedikit pun, bahwa mereka telah melakukan hal-hal yang luar biasa. Saya punya banyak cerita menurut Ki Hajar Dewantoro, 1908 – sampai Indonesia merdeka itu adalah masa Indonesia bangkit. Semua kontrovesi dalam buku itu adalah tokoh-tokohnya. Yang penting perilaku para tokoh-tokohnya ini yang penting ditiru. Misalnya Dr. Cipto Mangunkusumo, dia juga tokoh BO, dia seorang dokter, dokter jawa pertama yang diberi penghargaan oleh pemerintah Belanda, karena berhasil memberantas penyakit pes. Akhirnya dia mengembalikan penghargaan itu kepada Belanda, dan menaruhnya di pantat. Ada tokoh lain, Sosro Kartono, beliau adalah kakaknya Raden Ajeng Kartini, waktu itu dia diundang ke Brussel, untuk memberikan pidato, dia memberikan kritik kepada pemerintah kolonial Belanda, bahwa penjajah sengaja membodohkan rakyat. Kemudian pidatonya itu dimuat di sebuah koran, kemudian profesornya membaca. Kemudian dia bilang kalo promotornya Sosro Kartono masih Snouke Gorgoye, dia tidak pernah menjadikannya professor. Tapi Sosro Kartono adalah orang yang hebat, waktu itu dia juga mendapatkan tawaran, apabila ingin menyudahi disertasinya, maka hutang-hutang dia akan dianggap lunas. Kemudian, dia menjawab, bahwa hutang dia itu adalah satu-satunya kekayaannya, maka kalau diambil sama saja mengambil kekayaannya. Dan masih ada banyak cerita. Apakah sebetulnya yang mendasari semangat kebangkitan nasional. Dr. Ismangun, aktif di Perhimpunan Indonesia, waktu itu dia mau menjalani ujian menjadi doktor. Tapi Ismangun tidak boleh dikasih kursi, dia dikasih tikar. Ada Ali Sastroamijyo, dia ditahan di Belanda, karena dia aktif karena dianggap menghasut untuk membangkitkan semangat kemerdekaan. Ali Sastro waktu dia dipenjara dia seharusnya harus ujian menjadi sarjana hukum, oleh polisi diambil dari tahanan dan menjalani ujian, dia dicecer habis-habisan untuk kelihatan bodoh, tapi akhirnya dia lulus. Jangan hanya menilai sesuatu dari apa yang nampak di kertas, tapi kita juga harus mempelajari tokoh-tokohnya. Saya punya koleksi-koleksi foto. Ini hanya sekadar memberi impresi, rakyat kita seperti apa, supaya bisa memahami lebih jauh. Kenapa BO awalnya bergerak di bidang pendidikan dan kebudayaan. Ketika tokoh-tokoh kita sedang berpikir tentang nation state saat itu. Saya ingin memberikan konteks sosial, budaya potret masyarakat saat itu, seberapa kemajuan dan tingkat kehidupan masyarakat saat itu. Ada festival rakyat seperti memanah dan balap kuda, dalam periode kolonial saat itu. Keadaan seperti ini sebenarnya juga masih bisa kita temukan sampai sekarang. Kemudian apa sih kegiatan para doktor, STOVIA saat itu? Ada image tentang sebuah penyuluhan kesehatan kepada masyarakat. Kepala desa bertugas mengumpulkan penduduknya untuk diberi penyuluhan kesehatan. Ada penyuluhan juga dengan layar tancap. Jadi dokter-dokter waktu itu sudah membuat langkah-langkah nyata. Lewat proses ini persoalan nasionalisme juga bisa disampaikan. Jadi peran dokter memang berpengaruh saat itu, karena pemerintah kolonial bermasalah dengan masalah kesehatan supaya wabah-wabah penyakit itu tidak menjadi masalah dan menular ke para kolonial. Ada image tokoh -tokoh jaman Belanda, Alimin dan Muso. Tiga Serangkai yg mempengaruhi PI menjadi sangat radikal di Belanda. Banyak tokoh-tokoh STOVIA yang bisa melanjutkan studinya di Belanda. Ada cerita tentang Goenawan Mangoenkoesmo, waktu itu dia diundang organisasi untuk memberikan pidato, tapi diprotes karena tidak radikal dan tidak pernah bertemu dengan tokoh-tokoh Belanda, sampai pada acara itu dia mau berkelahi karena dikritik.
Mikke Susanto: Salah satu cara menjaring karya adalah dimensinya yang ilustratif, tidak mesti karya mempunyai konteks sosial saat ini. Jadi dimensi kebudayaan juga punya pengaruh besar terhadap pemikiran di masyarakat saat itu. Selanjutnya disambung oleh Romo Baskoro tentang bagaimana kontekstualisasi sejarah ini pada masa sekarang.
Baskara T Wardaya: Saya kira dengan mendengarkan presentasi dari Mas Margana sudah jelas, saya menambahkan beberapa hal saja, siapa tahu bisa menjadi tambahan masukan, sehingga memberikan inspirasi visual. Mengapa sih kita perlu belajar sejarah? Mengapa kita perlu berurusan dengan sejarah? Mungkin bikin ngantuk atau membosankan, tergantung dari cara pengajaran. Sejarah itu menjadi penting, setidaknya sejarah adalah hal yang membedakan kita di dunia ini. Sejarah yang membedakan manusia dengan benda atau binatang. Hanya manusia yang tahu sejarahnya, maka itu menjadi esensi kemanusiaan kita. Saya kira menjadi turun derajat kita sebagai manusia, apabila kita tidak mengetahui esensi kemanusiaan kita. Oleh karena itu apa pun profesi kita, kesejarahanlah yang menyatukan kita sebagai mahluk yang bernama manusia. Apa sebenarnya sejarah itu? Sejarah dipahami dalam 3 hal, sejarah sebagai peristiwa masa lalu, sesuatu yang terjadi di masa lalu itu kita sebut sebagai sejarah. Sejarah juga bisa sebagai cabang ilmu yang merekonstruksi, menerangkan masa lalu. Sejarah juga bisa disebut sebagai sebuah wacana, entah itu sosial mau pun politik. Nah ini dimensi menarik dari sejarah. Selama ini BO merupakan titik tolak sebagai kebangkitan nasional. Meski ada kontroversi, dimana ada pendapat bahwa Syarikat Islam yang seharusnya berhak untuk itu. Beberapa waktu lalu, Anda mungkin pernah mendengar mengenai dibakarnya buku-buku sejarah. Ada pertempuran wacana di situ. Semasa pemerintahan Orde Baru, sejarah menjadi selektif dan menjadi medan pertempuran wacana, yaitu wacana sosial politik. Nah tadi kita banyak ngomong apa yang disebut nasionalisme. Apa itu nasionalisme? Ada banyak definisi, tapi pengertian umum adalah sebuah pemahaman atau wacana politik yang menerangkan sebuah entitas politik tidak lain ditentukan oleh suku, agama atau garis keluarga [keturunan], tetapi oleh sebuah identitas sosial besama. Nah biasanya muncul atas masa lalu bersama atau ingatan kolektif, maka ada rasa kesatuan dan atau bangsa sehingga ada nasionalisme. Kalau feodalisme itu ditentukan oleh garis keturunan. Sebuah bangsa, ada identitas bersama yang diciptakan, yang bisa disebut sebagai imaging communities, ada sebuah reka bayang kita sebagai bangsa. Semasa pemerintahan colonial Belanda, pengertian mereka bahwa yang namanya Jawa, Dayak, Aceh itu bangsa. Ya pengertian bangsa memang sebenarnya itu. Mulai abad 20 ada pengertian yang melebihi sebuah itu, bahwa Indonesia sebagai bangsa, dan yang lainnya suku. Kalau dibalik, suatu bangsa bisa dipertahankan kalau bisa mempertahankan ingatan kolektif itu. Dalam hal ini, ada ikatan disana. Maka menjadi penting, apa pun profesi kita, kalau masih ingin mempunyai Indonesia, maka kita pelihara ingatan kolektif itu.
Di dalam konteks itulah lahir ide mengenai kebangunan nasional atau Boedi Utomo. Pada waktu tahun ’48, kita mau diserang oleh Belanda, di samping itu ada pertentangan antara tentara pemerintah dan tentara kiri, bangsa ini hampir terpecah-pecah, dan membutuh sesuatu yang menyatukan. Ini salah satu cara untuk mengikat kita sebagai sebuah bangsa. Sebenarnya satu atau dua hal yang bisa kita tambahkan, dr. Wahidin Soedirohoesodo, di Mlati Sleman, ada yang mengatakan dia mendapat pengaruh dari A. Rifai, dia prihatin sejak runtuhnya Hinduisme, Jawa mengalami kemunduran. Yang dulunya bisa membangun Borobudur dan Prambanan yang begitu megah, saat ini mengalami kemunduran. Dia prihatin, seperti masalah pendidikan. Bagaimana rakyat bisa mendapatkan pendidikan modern. Namun seorang Wahidin Soedirohoesodo tidak memiliki uang waktu itu. Kemudian ia ketemu dengan bupati, bahkan dia rela hingga menunggu 10 jam, baru bisa bertemu dengan bupati. Dia memprovokasi lebih dari satu bupati, akan perlunya memberikan beassiwa pendidikan. Bupati-bupati tersebut setuju. Maka Wahidin mengutarakan niatnya akan kebutuhan dukungan dana. Tapi bupati-bupati itu banyak yang menolak ketika harus memberi uang. Akhirnya sampailah dia ke Batavia dan bertemu dengan anak-anak muda. Hingga muncullah sebuah niatan yang berbudi dan bertujuan mulia, maka jadilah gerakan Boedi Oetama [BO]. Hingga ada kongres pertama yang diselenggarakan di Yogyakarta.
Pada satu sisi memang agak problematis, karena ada kelas dibawah priyayi tapi diatas kelas menengah. Ada perdebatan ketika agenda pertemuan di Yogyakarta kala itu. Pertama, adalah kelompok yang wawasannya agak sempit. BO kala itu tidak hanya berurusan dengan orang Jawa tapi juga Belanda, tidak hanya mengurusi bidang pendidikan melulu tetapi juga politik. Sehingga BO tidak murni urusan Jawa. Kemudian ada kontroversi karenanya dan hal itu lumrah, sehingga membuat sejarah itu dinamis. Yang penting bagi kita, ada dan perlunya ingat kolektif itu sebagai identitas sosial dan politis bagi kita. Apa yang bisa kita sumbangkan? Adalah dengan belajar sejarah, dengan melihat foto-foto tadi, di situ kemanusiaan kita ada. Dengan belajar sejarah, kita menggaris bawahi keberadaan kita sebagai manusia.
Sigit [Forum]: Kata kebangkitan bagi saya sangat seksi. Artinya di sini orang bisa bangkit itu biasanya karena ada yang mengelus-elus dan membisiki. Dari sekian foto yang tadi ditampilkan, semuanya berjenis kelamin laki-laki. Nah, sebenarnya ada yang perempuan tidak? Saya pernah bertanya kepada keluarga dari dr. Wahidin. Istri dr. Wahidin itu keturunan Jerman Perancis, jadi memang none Eropa. Dr. Soetomo itu juga istrinya orang Eropa, katanya perawan. Dr. Wahidin juga mewarisi masalah Retno Dumilah, yang artinya seperti kurang lebih adalah air mani. Yang itu juga warisan dari cendekiawan Belanda. Kemudian pertanyaan saya, ini ada hubungan apa antara intelektual Belanda dengan kita waktu itu? Apa hubungan none Eropa dengan tokoh-tokoh kita? Saya mengharapkan ada cerita mengenai itu. Terima kasih.
Mikke Susanto: Dr.Cipto dianggap orang yang paling tua untuk memberi nasehat. Bisa ‘ereksi’ karena distimulus oleh bacaan, bukan karena sentuhan, karena lebih banyak bersentuhan dengan buku.
Baskara T Wardaya: Ada hal yg membuat kita menjadi sebuah bangsa. Pertama, secara internal, karena kesamaan penderitaan di jajah oleh Belanda. Nasionalisme selalu ada faktor internal, misal para pelajar STOVIA ada dalam posisi yang tanggung. Secara eksternal, pada tahun 1901, Belanda memiliki ratu baru, Wilhelmina dengan menerapkan politik etis. Penjajahan Belanda yang terlalu kejam terhadap Indonesia kala itu, dengan politik etis berupaya mengurangi kekejaman itu dengan memberikan edukasi, irigasi, imigrasi. Ini adalah keahlian menangkap momentum. Hal ini dimata seniman itu menjadi sesuatu yang menarik. Kepekaan dan keahlian itu kita harus punya, dimana dimiliki oleh anak-anak STOVIA . Dan dalam sejarah, perubahan itu kebanyakan diawali oleh anak-anak muda, umur 20-an ini.
Forum: Lebih detail apa sih peran Sastro Kartono atau konsep dia tentang konsep nasionalisme? Setelah dia ke Indonesia lagi, kemudian menetap di Bandung. Dalam sejarah tidak pernah disebut-sebut tentang peran dia. Mengutip dalam pidatonya dia, yang juga sangat keras sekali pada Belanda, dia mengatakan bahwa dia akan menjadi musuh bagi siapa saja. Saya ingin tahu lebih detail tentang konsep dia tentang nasionalisme dan Indonesia.
Margana: Sasro Kartono ke Belanda pada awalnya, sebenarnya membawa misi kesenian yaitu memperkenalkan wayang. Dia juga mengenalnya konsep wayang dalam sebuah buku. Dia sangat dekat dengan Abendanon yang sangat terbuka. Saat itu Abendanon adalah Menteri Kebudayan, dia juga memberi inspirasi masyarakat untuk mendirikan sebuah organisasi. Tahun 1893-an, akhir abad 19, masih jauh dari BO waktu itu, tapi sikap dia waktu itu yang sangat menginspirasi mahasiswa adalah ketika dia diperlakukan tidak layak professor-profesor Leiden yang sangat kolot itu. Dia menguasai 13 bahasa, dia satu-satunya orang Indonesia pertama yang menjadi wartawan, dia punya gaji yang snagat tinggi sebagai orang pribumi. Konsep-konsep nasionalisme dia kalau dirunut-runut tidak ada, karena filsafatnya yang ‘kantong bolong’. Yaitu rejeki itu jangan disimpan di kantong sendiri, biarkan kantong bolong, dibagikan rejeki itu kepada yang lain. Dia juga dianggap tokoh klenik. Oleh Soekarno dia dikagumi dari aspek spiritualnya. Makanya Soekarno dalam pandangan-pandangannya lebih njawani dan sinkretisme, Sastro Kartono lebih dihargai karena ke-jawaan-nya itu, sikap-sikap religius dia, bukan dari paham-paham kebangsaaannya. Sosok Kartono sebagai sosok nasional terutama saat di Eropa.
Forum: Dia sempat dituduh sebagai komunis? Apakah ada sikap politis dia untuk hal ini ketika dia kembali ke Indonesia?
Sri Margana: Dia tidak berbuat apa-apa dalam hidupnya. Dia inward looking, kontemplasi, dia dituduh macam-macam tetapi dia tidak pernah merespon.
Mikke Susanto: Ada satu hal yang menarik akan pilihan kita terhadap selera mau pun gaya hidup dari para tokohnya. Sekarang dimensinya menjadi kuat sekali, buat Belanda atau Eropa, hal itu lebih universal, lebih lebar dimensinya. Pikiran untuk tetap menjadi Jawa atau Indonesia mungkin akan menjadi menarik dalam khasanah waktu itu.
Rahma [Forum]: Di awal dikatakan kalau kebangkitan nasional dicetuskan Soekarno, itu 3 tahun sesudah proklamasi. Yang masih menggantung, Soekarno sendiri lebih condong ke pemikiran kiri, komunis. Apa dari statement narasumber tadi dikatakan, tentang bagaimana menciptakan hari nasional. Apakah Soekarno waktu itu, murni membangkitkan nation state atau ada faktor politik untuk mencari pengakuan dari negara luar? Ada faktor politik lain yang melatarbelakangi pencetusan hari itu?
Sri Margana: Perhatian Soekarno waktu itu atas usul kebangkitan nasional adalah karena dia melihat masih adanya bahaya mengancam atas kedaulatan Indonesia saat itu. Tahun ‘48 itu agresi Belanda akan datang, demikian pula dengan perjanjian Roem Royen justru membuat Indonesia menjadi terbelah-belah. Dan dia melihat sebagian tokoh-tokoh nasional waktu itu juga terbelah pemikiran tentang Indonesai yang merdeka. Maka kita perlu sebuah mitos nasional yang bisa menjadi kekuatan untuk mempertahankan kemerdekaan. Orang sudah merdeka kok masih merundingkan tentang kedaulatan. Jadi jawabannya adalah murni karena Soekarno prihatin atas kedaulatan kebangsaaan Indonesia.
Choirodin [Forum]: Seperti tadi sudah dijelaskan, saya ingin mengaitkan langsung dari spirit yang diambil, dimana ketika kemerdekaan ada ancaman sehingga muncul sebuah statement kebangunan nasional. Apa yang diharapkan dari even ini, kompetisi atau pameran seni visual itu sendiri? Konsep budaya itu minimal bisa berpartisipasi dalam momen tersebut. Karena untuk konteks saat ini menurut pengamatan saya sendiri, seakan-akan juga sama halnya dengan kejadian saat itu, cuman beda konsep, dimana nasionalisme juga diambang kehancuran. Tidak sebatas territorial, lebih dari masalah identitas kebangsaaan, atau kebanggaan menjadi Indonesia.
Mikke Susanto: Selaku kurator, pada awalnya keinginan untuk membuat even ini muncul sesungguhnya dari berlalunya 10 tahun Reformasi. Ini harus kita rayakan bersama, menjadi satu momentum, mengipaskan kembali sensibilitas kita semua, untuk memunculkan satu gerakan budaya. Membangkitan lagi persoalan kita saat ini. Tujuannya bukan persoalan kemerdekaan lagi, ada banyak hal yang muncul yang menjadikan kita kriris. Seperti hak royalti, hak kita sebagai kebudayaan atas itu yang diambil. Terkait dengan tujuan pameran ini, bahwa kita ingin memperingati, tidak berhenti di situ, peringatan ini harus melahirkan satu statement, bahwa kita masyarakat seni di Yogyakarta, mampu memberi satu jalan untuk menggugah persoalan-persoalan itu, menggambarkan persoalan di tengah masyarakat kita ini. Apakah ini masih sensitif bahwa ini masih masalah atau bukan? Apakah kita masih punya ingatan kolektif ini? Saya gembira banyak berita bahwa kompetisi ini banyak direspon oleh para perupa di berbagai kota. Memang karena keterbatasan ruang sehingga harus menyeleksi. Beberapa hal mengenai sebuah karya masuk selseksi atau tidak, bisa dilihat kriterianya dalam brosur yang manajemen JG distribusikan. Persoalan lain adalah para tokoh, penghargaan kita terhadap imajinasi para tokoh ini untuk membentuk masyarakat bersama, meski agak membingungkan ketika bahwa ada Belanda maka kita ada. Persoalan wacana, itu akan menjadi polemik lagi, karya-karya Anda akan sangat mungkin didebat oleh publik. Persoalan kontekstualisasi masyarakat sekarang. Jadi itu hal-hal yang ingin saya tangkap.
Baskara T Wardaya: Saya ingin bicara seusatu yang mungkin tidak berkait langsung dengan kegiatan. Mengapa sejarah itu penting, saya guru sejarah, jadi harus promosi. Yang menurut saya yang agak lemah, dan akibatnya 2 minggu terakhir, cara berpikir logis kita itu agak lemah dan itu dibombadir dari luar, sehingga kurang kritis. Kita lagi ribut soal pahlawan, apakah alm. Soeharto layak disebut pahlawan dan sebagainya. Sementara definisi pahlawan itu adalah yang berjuang melawan Belanda. Misalnya Diponegoro, padahal dia hanya berjuang untuk Tegalrejo misalnya. Bahwa saat itu belum ada yang namanya Indonesia [ada Indonesia setelah tahun 1908 dan seterusnya]. Sebenarnya ada anak-anak muda yang berjuang, namanya 26 di Jawa, 27 di Sumatra, mereka berjuang untuk Indonesia. Sayangnya mereka PKI, sehingga tidak diakui. Nah bagaimana selektifnya kita akan hal itu. Maka definisi pahlawan perlu dipertanyakan lagi. Kita semua terpukau oleh media massa itu dan marilah kita berpikir ulang akan itu. Saya kira sejarah membuat kita berpikir misalnya tentang hal itu, sehingga kita menjadi bangsa yang kritis. Tugas kita bersama untuk kembali ke sana, situasi kita agak berbeda tapi mirip.
Sri Margana: Ini menjawab kegelisahan tentang kehilangan identitas ke-Indonesia-an itu, kita semua merasa kehilangan kebanggaan ke-Indonesia-an itu. Apa yang diharapkan saya kira adalah sampai sekarang semangatnya itu yang masih dibutuhkan. Makanya kita harus selalu terus membangun kebangunan itu, didengung-dengungkan terus, supaya menjadi semangat. Membangun visi itu harus punya perspektif ke belakang, punya pengalaman sejarah yang kuat. Masyarakat kita sendiri punya apriori dalam sejarah. Tidak ada yang bisa dijadikan panutan. Maka tugas seniman-seniman mengambil alih fungsi itu dengan sense of art itu melalui karya-karya mereka, sehingga publik menjadi lebih mudah menerima, daripada membaca teks sejarah yang membuat ngantuk.
Mikke Susanto: Diskusi ini hanya satu penggal, irisan kecil dari cerita kebangkitan nasional. Satu hal kecil ini bisa menjadi banyak hal untuk ke depan. Harapan saya sebagai kurator dan manajemen JG, kesenian jaman sekarang itu bebas, tidak ada kungkungan sebagai penggiat seni dari penguasa dan dari mana pun. Bagaimana menelurkan persoalan bangsa ini menjadi lebih menggigit, saya kira di situ pentingnya kaitan antara displin ilmu untuk bisa berkait terus di Jogja Gallery. Kalau waktu itu di tahun ‘70-an, ada poros Malioboro, Gampingan dan Bulaksumur, intens dikerjakan. Di tahun ‘80-an akhir, ‘benang’ itu sudah mulai putus. Jogja Gallery diupayakan sebagai media baru supaya kawasan utara dan selatan menjadi satu melalui keberadaan Jogja Gallery. Kesimpulan akhir berkaryalah yang bagus supaya masuk seleksi. Tidak ada batasan apa pun soal teknis, bias membuat statement baru tentang apa itu seni jaman sekarang. Dan opini Anda tentang kebangkitan nasional akan terus diharapkan.
Selesai.
Informasi dan keterangan selanjutnya, silakan menghubungi
Jogja Gallery [JG]
Jalan Pekapalan No 7, Alun-alun Utara Yogyakarta 55000 INDONESIA
Telepon +62 274 419999, 412021
Telepon/Fax +62 274 412023
Telepon/SMS +62 274 7161188, +62 888 696 7227
Email jogjagallery@yahoo.co.id
info@jogja-gallery.com
http://jogja-gallery.co

Wednesday, October 31, 2007

Following the City Through Sketches

Muji Harjo, 'Ngejaman Kraton Yogyakarta', mixed media on paper, 30 x 42 cm, 2007

Sketches and Photography Exhibition ‘MATA-MATA JOGJA’
Jogja Gallery, Jalan Pekapalan No 7, Alun-alun Utara Yogyakarta
3 – 18 November 2007

FOLLOWING IN THE CITY THROUGH SKETCHES
Mikke Susanto-Curator
Exhibition Participants: Denny ‘Snod’ Susanto / Deskhairi / M. Alfairuzha Hasby / M. Fadhlil Abdi / Masriel / Muji Harjo / WM. Hendrix
At glance, the sketches are similar to simple drawings of objects. But if we look at them in details, those drawings or drawn objects are such previews and documentation illustrating the recent situation of Jogjakarta. They are of a city with unique character entering by the edge of a change. The cycle of the change is not only rooting in the terrain of its human life but also relating to the natural change. It is probably affected by the earthquake hit the city a year ago and the way of thinking of the community members inflicted by another civilization ilfiltrating in the spaces and city planning of Jogjakarta as well.
These likely trivial pictures cover a thousand of memories to any one in fact. In the middle of this appalling change, the unavoidable turmoil, and uncertain situation have given rise to an awareness to carry out documenting in the early time. Furthermore, we have to set up things within the change itself. We have to move forward, create a new civilization. Furthermore, we have to get ourselves settled on within the change itself. It is important to be noticed that we hold local values and documentation of the glorious past. Therefore, sketches instead of photography become the very effective simple ways to reach the aim. One of the points to be stressed in this exhibition is that sketches and photography are proper to be put together as the vital instruments to life documentation. It is very reasonable to have this sketch exhibition The Eyes of Jogja arranged jointly with the photography exhibition Objective Paris at Jogja Gallery.
Through these simple works, we will see “a visual diorama” represented in the media of pencils, pens, Chinese ink, and water colors on papers. All of the sketches displayed in the exhibition room (some of them are printed in post cards) have a function to trace the last situation of Jogjakarta. They are of many kinds of things shown; the old historical buildings (there are also the photos of old buildings in Jogjakarta for a comparison), spreading rice-fields in a village, life portraits, plants, traditional weapons, and some traditional meal available until today. They are the works of the young artists staying and living in Jogja for years. With the academic capacity they have when studied sketch at ISI Yogyakarta, I dare to say that their works are good to be apreciated.

Tuesday, October 16, 2007

Dari Pameran ke Pameran


Sebuah Evaluasi untuk 1 Tahun Berdirinya Jogja Gallery [JG]
Oleh Nunuk Ambarwati*
Tulisan ini disampaikan sebagai bentuk evaluasi kinerja Jogja Gallery yang telah berjalan setahun [September 2006 – September 2007]. Penulis yang juga merupakan staf internal Jogja Gallery berupaya senetral mungkin dalam menyampaikan hasil tulisannya. Terima kasih atas dukungan semua pihak terhadap Jogja Gallery selama ini. Semoga bermanfaat.

Sudah lebih dari setahun lalu, tepatnya awal Agustus 2006, ketika penulis akhirnya berani menerima ‘tantangan’ untuk ikut membangun sebuah galeri baru, Jogja Gallery di sebuah kota budaya, Yogyakarta. 19 September 2007 ini, genap setahun Jogja Gallery berdiri dan terbilang aktif. Hingga akhirnya penulis menerima tawaran untuk menerima tanggung jawab sebagai program manager pada waktu itu, memakan waktu dan pikiran. Banyak pertimbangan berkecamuk ketika masih menyangsikan kemampuan diri sendiri, dimana hampir senada dengan banjirnya kritik, respon sebelah mata menyambut berdirinya Jogja Gallery kala itu. Mulai dari untuk apa sebuah galeri baru berdiri di tengah kondisi stagnannya seni visual Indonesia dari pengaruh pasar atas gencarnya karya-karya perupa China kala itu.
Juga perihal tanda tanya publik mengenai siapa saja ‘oknum’ di balik berdirinya galeri tersebut, akankah menjadi jaminan sebuah galeri bisa diandalkan dan dibanggakan, apalagi menggunakan nama kota sebagai brand-nya. Jogja Gallery murni dibangun dari dukungan investor. Seperti sudah diketahui, dimana rata-rata pendiri galeri di Indonesia adalah orang asing, tetapi tidak dengan Jogja Gallery. Para pendiri Jogja Gallery yang kesemuanya berasal dari Yogyakarta tersebut adalah KGPH Hadiwinoto, Sugiharto Soeleman, KRMT Indro ‘Kimpling’ Suseno, Bambang Soekmonohadi dan Soekeno. Sorotan tajam publik Yogyakarta khususnya tertuju kepada Direktur Eksekutif, KRMT. Indro ‘Kimpling’ Suseno, yang lebih dulu dikenal sebagai akitifis event organizer piawai di kota ini. Mau jadi apa Jogja Gallery, siapa saja yang bakal pameran di sana, jenis pameran apa saja yang bakal dipresentasikan? Mau sampai kapan galeri bisa hidup? Hingga masalah profit yang bakal diraup galeri ditengah lesunya pasar? Tak kalah seru juga semacam beban yang harus ditanggung, ketika merangkul Mikke Susanto dan M.Dwi Marianto sebagai tim kurator awal yang membidani program-program pameran di Jogja Gallery. Hingga menempatkan penulis sebagai program manager. Meski kemudian, M. Dwi Marianto megundurkan ditengah-tengah berjalannya proses [tepatnya awal Februari 2007].
Berdirinya Jogja Gallery waktu itu sepertinya belum bisa mengakomodasi kebutuhan dan kecenderungan tren seni visual yang berkembang. Sehingga memunculkan kritikan-kritikan pedas dari publik atas berdirinya galeri baru ini. Bentuk kesangsian bahkan kekhawatiran di masa depan atas mubazirnya membangun sesuatu yang tidak ditangani oleh orang yang tepat di bidangnya. Demikian asumsi penulis.
Sumber daya manusia
Hal-hal tersebut tak dipungkiri mempengaruhi psikologis kerja para staf Jogja Gallery sehari-hari. Memilih sumber daya manusia atau para staf untuk diposisikan pada masing-masing yang kompeten bidangnya. Untuk bersama sebagai tim yang solid, membangun sebuah galeri baru ditengah banyak sorotan, bangunan megah yang berposisi strategis di titik nol kilometer, fasilitas ruang pamer lebih dari galeri lainnya di wilayah Yogyakarta. Bagaimana bisa mendatangkan publik ke ruang pamer dengan tiket masuk. Dimana hal tersebut belum menjadi kebiasaan publik ketika mengunjungi ruang pamer. Memberikan persepsi positif untuk setiap kali even pameran yang diselenggarakan dengan target-target keberhasilan yang selalu dipertaruhkan.Tantangan-tantangan tersebut bukan hal mudah bagi kami para staf ketika menerima Jogja Gallery sudah sedemikian adanya. Apalagi bagi para staf yang belum mengetahui bagaimana hiruk pikuknya di belakang layar ketika memutuskan mendirikan Jogja Gallery. Mengapa brand color warna hijau yang dipilih. Mengapa desain arsitektur konvensional ala Keraton Yogya yang digunakan, dan seterusnya.
Berbagai konflik internal turut mewarnai tumbuh dan berkembangnya Jogja Gallery. Seleksi alam terus berlaku, staf datang dan pergi, ada yang bertahan dan sebaliknya, menyesuaikan dengan tingginya kriteria sumber daya manusia yang dibutuhkan. Staf atau sumber daya manusia ini menjadi satu hal sangat penting yang penulis sadari untuk menjadi perhatian. Membentuk tim yang solid dan tetap bekerja dengan bisa membedakan batas profesional dengan personal. Dewan direksi mau pun manajemen terus memotivasi tim untuk bekerja sebaik dan semaksimalnya, juga mendelegasikan kerja seefektif mungkin. Hingga siap meng-counter berbagai persepsi negatif yang mungkin timbul atau berkembang dari eks staf atas ketidakpuasan atau ketidakcocokan dalam bekerja. Dimana di Jogja Gallery, manajemen sangat menyadari bahwa tidak melulu memiliki latar belakang seni rupa menjadi jaminan seorang staf bisa bekerja, demikian sebaliknya. Kemauan dan saling belajar dari kesalahan dan pengalaman lebih diutamakan untuk selalu dicatat dalam ‘buku teori’ sebagai pelajaran di masa mendatang.
Untuk itu, hanya waktu dan proses yang bisa membuktikan hasil kerja keseluruhan. Saling memotivasi, memberi dukungan di sela tingginya frekuensi kerja menyiapkan pameran dan mengubah kritikan tersebut menjadi dorongan positif. Baru satu tahun eksis, sangat belum cukup menjadi ukuran keberhasilan. Masih harus menyiapkan nafas panjang, pikiran positif dan tenaga yang selalu segar untuk menyiapkan even-even berikutnya.
Manajemen yang berbenah
Terus-menerus menciptakan inovasi merupakan salah satu bagian dari bentuk survive yang dilakukan Jogja Gallery. Untuk sekadar bisa hidup, merupakan misi awal yang tak terlalu muluk di tengah kompetisi pasar seni rupa Indonesia. Pasar yang penulis nilai sebenarnya tidak cukup sehat baik di Indonesia mau pun global. Pembenahan pada level manajerial terus dilakukan berdasarkan berbagai ‘benturan’ yang ditemui langsung di lapangan. Pujian mau pun komplain diubah menjadi siasat dan strategi yang tak henti dibenahi untuk terus bisa bertahan. Maka manajemen Jogja Gallery sepakat untuk memaknainya sebagai manajemen yang terus berbenah. Suatu kebijakan atau ketentuan bahkan bisa terus diupdate per minggu guna mendapatkan kinerja yang lebih baik.
Seiring meningkatnya aktifitas dan keberhasilan tiap penyelenggaraan pameran di Jogja Gallery, sorotan publik pun semakin kuat. Sorotan tersebut dirasakan menyeluruh, tidak melulu pada tema, muatan mau pun karya dalam tiap kali pameran yang diselenggarakan, juga kepada manajemen internal hingga tiap person yang terlibat di dalamnya. Hal tersebut jelas menyemangati manajemen Jogja Gallery untuk terus meningkatkan kualitas tiap even yang digelarnya dengan dibarengi niatan positif untuk turut memajukan infrastruktur seni rupa Indonesia. Dalam hal ini penulis lebih fokus pada sistem manajemen dan pasar yang berkembang dengan luar biasa mengejutkan dan kadang sangat sulit diprediksi. Di saat lukisan memasuki dunia bisnis yang sebenar-benarnya, maka mungkin kita harus menanggalkan ‘pesan’ dari lukisan tersebut. Siapa yang bermodal besar dia yang menguasai pasar. Modal bahkan bisa membentuk selera. Kita pun terseret berlaku dalam pasar yang sesungguhnya tersebut. Perilaku para pelaku pasar ini kadang membuat penulis gerah. Bahkan ketika perupa ikut terjun di dalam pasar itu sendiri. ‘Permainan-permainan’ dilancarkan para pelaku pasar. Jogja Gallery menyadari hal tersebut dan sebagai salah satu pelaku pasar kita harus jeli dan tidak terjebak dalam ‘permainan’ tersebut. Berani menentukan sikap dan berlaku tegas dengan ketentuan yang disepakati dalam manajemen, menjadi modal untuk menentukan arah misi dan visi galeri di tahun-tahun mendatang.
Itu baru salah satu sisi ekternal yang mempengaruhi pembenahan manajerial. Sisi internal yang menjadi pekerjaan rumah manajemen Jogja Gallery adalah para pelaku modal atau investor galeri ini sendiri. Penulis berupaya untuk masing-masing person di dalamnya menjalankan fungsi sesuai porsinya. Dimana tidak semua person di Jogja Gallery memiliki cukup banyak bekal untuk siap bertarung di dunia seni rupa. Bahkan bekerja di dunia kreatif seperti di galeri seni rupa seperti Jogja Gallery, harus bisa berkompromi dengan segala hal. Ketika harus mahfum untuk menekan idealisme tanpa mengurangi kualitas even yang bakal digelar dan sebagainya.
Catatan presentasi**
Dari September 2006 ke September 2007, tercatat telah menggelar 16 even pameran seni visual. Pada awal berdirinya Jogja Gallery, memang diniatkan dalam setahun pertama untuk menggelar pameran kelompok dengan media beragam, tidak melulu seni lukis. Hal tersebut diupayakan untuk mengakomodasi berbagai varian [media, aliran mau pun generasi perupa] yang ada di Indonesia terutama di Yogyakarta. Diharapkan dari misi tersebut di atas, Jogja Gallery mampu menempatkan posisinya terlebih dulu sebagai ruang pamer baru di Yogyakarta yang membuka dirinya bagi siapa pun. Kalau pun ada satu pameran tunggal yang pernah berlangsung ketika usia Jogja Gallery masih seumur jagung, yaitu pameran karya Hanafi (13 Januari – 2 Februari 2007), hal tersebut berdasarkan proposal masuk, dan pada akhirnya disetujui kurator dan manajemen Jogja Gallery. Maka definisi pameran tunggal di sini adalah pameran tunggal yang didanai, diorganisir dan dipromosikan sepenuhnya oleh pihak Jogja Gallery.
Menurut penulis, ada sedikit salah perhitungan dari pihak investor ketika membangun fisik Jogja Gallery. Dana yang disetorkan oleh para investor terlanjur membengkak untuk menyempurnakan bangunan fisik galeri tersebut. Sehingga tidak atau belum terpikirkan untuk menyalurkan dana operasional guna operasional sehari-hari atau penyelenggaraan pameran tiap bulannya. Hal tersebut berimbas kepada dana tiap penyelenggaraan even di Jogja Gallery. Tim manajemen terkesan terengah-engah untuk terus-menerus mencari sponsor untuk tiap penyelenggaraan pameran, demikian halnya ‘tuntutan’ untuk memberikan masukan dari hasil penjualan karya. Hal tersebut memang sah ditujukan kepada manajemen Jogja Gallery, dimana memang galeri ini murni swasta, sebuah perseroan terbatas tepatnya.
Beberapa target keberhasilan sebuah even pameran selalu dipasang. Paling tidak untuk saat ini bagi Jogja Gallery target-target yang harus selalu diingat dan terus-menerus diharapkan peningkatannya dari pameran ke pameran adalah: a. jumlah pengunjung [pengunjung harian dan apresiasi untuk pelajar], b. target pemasukan [sponsor dan penjualan karya], c. media coverage.
Jogja Gallery selalu mengedepankan beberapa unsur dalam setiap even pameran yang digelar, yakni unsur idealisme, edukasi, apresiasi, entertainmen dan komersial. Meski untuk tiap kali pameran akan selalu berbeda prosentase tiap unsurnya. Sebagai contoh dalam pameran ‘Eksisten’ (27 Februari – 25 Maret 2007) unsur komersialnya akan memiliki prosentase lebih tinggi dibanding dengan pameran ‘Transposisi : Lukisan-lukisan Kolektor Jateng –DIY (22 Mei – 26 Juni 2007) yang lebih tinggi prosentasi edukasi dan apresiasinya. Kelima unsur tersebut dikolaborasikan sedemikian rupa guna lebih memantapkan positioning Jogja Gallery di dunia seni rupa Indonesia.
Dalam tiap kali menyelenggarakan evennya, Jogja Gallery memperhatikan proses regenerasi perupa dengan membuka peluang kompetisi atau undangan terbuka untuk berkarya. Yakni pada pameran ’40 Perupa Muda Terdepan Indonesia: Young Arrows’ (2 Desember – 5 Januari 2007), ‘The Thousand Mysteries of Borobudur’ (20 April – 9 Mei 2007) dan ‘200 Tahun Raden Saleh: Ilusi-ilusi Nasionalisme’ (18 Agustus – 9 September 2007). Selain bertujuan menjaring perupa muda baru dan berbakat, peluang kompetisi tersebut juga merupakan bentuk promosi Jogja Gallery menempatkan positioning-nya di jagat infrastruktur seni rupa Indonesia. Di samping itu pula mengukur demand salah satu stakeholder Jogja Gallery yaitu perupa atas keberadaan galeri itu sendiri. Seberapa besar Jogja Gallery dibutuhkan keberadaannya? Atau seberapa besar minat perupa atas kurasi yang ditawarkan? Dari ketiga peluang yang Jogja Gallery tawarkan tersebut rata-rata 100-an proposal masuk untuk diseleksi. Dan hingga kini, para perupa terus menunggu hadirnya kompetisi baru yang dibuka, mengingat telah cukup lama Indonesia vakum dari kompetisi seni rupa bergengsi.
Meski demikian, pameran seni lukis mendominasi dari sekian pameran yang telah dilaksanakan di Jogja Gallery. Hal tersebut terjadi karena diperkuat dengan latar belakang sebagai berikut:
  1. Potensi profit pasar seni visual Indonesia yang memang masih dominan terhadap seni 2 dimensi, terutama seni lukis.
  2. Demikian halnya, respon tinggi untuk mempresentasikan karya-karya datang dari perupa-perupa 2 dimensi/seni lukis.
  3. Tuntutan [secara tidak langsung] internal Jogja Gallery untuk menampilkan karya-karya yang mengakomodasi selera mereka, paling tidak dalam waktu setahun tersebut.
  4. Hal teknis cukup menjadi pertimbangan penyelenggaraan pameran non 2 dimensi, misal ketersediaan alat dan infrastruktur pendukung, juga biaya yang lebih besar dibanding menyelenggarakan pameran 2 dimensi.
Dari ke 16 even tersebut, 5 diantaranya merupakan hasil kerja sama dengan pihak lain. Yaitu:
  1. Pameran seni lukis ‘Pallinjang: Salt Water’, kerja sama dengan Wollongong University, Australia (19 September – 20 November 2006).
  2. Pameran seni visual tunggal ‘Id: Hanafi’ karya Hanafi, kerja sama dengan O House Gallery, Jakarta (13 Januari – 2 Februari 2007).
  3. Pameran seni lukis ‘Bonding the Brotherhood between Tunisia and Indonesia’, bekerja sama dengan Kedutaan Tunisia di Jakarta (10 – 20 Februari 2007).
  4. Pameran seni visual ‘The Thousand Mysteries of Borobudur’, bekerja sama dengan UNESCO Office, Jakarta dan beberapa mitra lainnya (20 April – 9 Mei 2007).
  5. Pameran seni lukis ‘Bersemangat Meraih Cita-cita’, bekerja sama dengan Global Art, Yogyakarta (10 – 12 Agustus 2007).
Definisi kerja sama di sini adalah even tersebut diroganisir oleh Jogja Gallery dan mitra [dengan porsi masing-masing lembaga berbeda tiap kali penyelenggaraan], dalam hal pendanaan, mengorganisir pameran, penyediaan material pameran, publikasi, promosi, penjualan karya dan sebagainya.
Respon Publik
Dari berbagai presentasi pameran tersebut, sambutan publik luar biasa menarik dan positif bisa penulis kumpulkan. Sambutan tersebut dikumpulkan dari media coverage, buku kritik saran setiap pameran yang diselenggarakan mau pun masukan lisan kepada Jogja Gallery. Pada intinya, para perupa membutuhkan ruang pamer untuk menggelar dan mempromosikan karya-karya mereka. Demikian pula sebaliknya, galeri membutuhkan karya-karya berkualitas dari para perupa. Berbagai bentuk tawaran kerja sama untuk bisa mempresentasikan karya terus berdatangan ke Jogja Gallery. Kesempatan untuk bisa berpameran di Jogja Gallery ini didorong oleh beberapa faktor antara lain karena representasi sebuah ruang pamer yang baru, fasilitas yang cukup memadai, tempat yang strategis dan prestisius, manajemen yang tertata apik. Dari berbagai sumber, penulis bisa menyimpulkan positioning Jogja Gallery di mata publik untuk saat ini adalah sebuah ruang pamer dengan fasilitas dan aktifitas pameran berskala nasional bahkan internasional dengan segmen publik kelas menengah ke atas yang menampilkan karya-karya berkualitas. Selamat ulang tahun yang pertama Jogja Gallery, sukses selalu sukses!
Catatan kaki:
* Penulis masih tercatat sebagai Program Manager Jogja Gallery dan terlibat sejak awal digelarnya pameran perdana ‘ICON: Retrospective’ di sana.
** Baca pula tulisan ‘Summary Pameran Jogja Gallery’ untuk lebih detailnya.
*** Buku referensi:
1.
‘How to Get Ahead in Business’, Richard Branson, Virgin Books, London, 1993.
2.
‘Managing Museums and Galleries’, Michael A. Fopp, Routledge, New York, 1997
3.
‘Art Marketing 101: A Handbook for the Fine Artist’, Constante Smith, Artnetwork, USA, 2002
4.
Berbagai sumber.

Saturday, October 06, 2007

Thursday, October 04, 2007

SETELAH 20 MEI*

Kompetisi Terbuka Jogja Gallery, 2008
Pameran Seni Visual ’100 th KEBANGKITAN NASIONAL’
SETELAH 20 MEI*
Jogja Gallery, Yogyakarta, 20 Mei - 8 Juni 2008
Kompetisi ini diselenggarakan untuk turut memperingati 100 tahun Kebangkitan Nasional yang akan jatuh 20 Mei 2008. Melalui kompetisi ini, Jogja Gallery mengajak para perupa untuk ikut merespon isu kebangkitan nasional. Dimana dalam kurun waktu 100 tahun, kebangkitan nasional bagi kalangan muda Indonesia memiliki penyikapan yang beragam sesuai riuhnya globalisasi yang tak bisa disangkal turut memberi pengaruh pada pola pikir, penyikapan, gaya hidup bahkan kepribadian personal mau pun bangsa Indonesia sendiri. Hasil dari kompetisi seni visual terbuka ini akan dijaring karya-karya [dengan media bebas] yang akan dipamerkan di Jogja Gallery mulai tanggal 20 Mei – 8 Juni 2008. Kompetisi ini juga bertujuan untuk mendapatkan perupa-perupa berbakat dengan mengedepankan kualitas karya melalui penyikapan semangat kebangkitan nasional terkini!
Abstraksi
Dipelopori oleh para pemuda pelajar STOVIA, pada 20 Mei 1908 di Jakarta secara resmi terbentuk perhimpunan nasional Indonesia, Budi Utomo. Secara mendasar perhimpunan itu bertujuan untuk mencapai keharmonisan bangsa dengan memajukan sektor pendidikan, pertanian, peternakan, perdagangan, teknologi dan kebudayaan; serta bertujuan meningkatkan citra bangsa menjadi lebih terhormat dengan cara mempersatukan bangsa dengan mencapai kemerdekaan. Sepenuh-penuhnya.
Melihat upaya yang dilakukan oleh para pejuang bangsa (saat itu Budi Utomo dipimpin oleh para dokter, jaksa, guru, opsir legiun), pantaslah jika kita kini melihat kembali upaya mereka sebagai cerminan. Seratus tahun silam—bertepatan pula dengan 10 tahun reformasi—bangsa ini melakukan kebangkitan secara serempak. Namun, di masa ketika kita harus mempertahankan bangsa dari amuk ribuan persoalan dan jatuhnya moral para individu, apa yang bisa kita tarik dari sana? Salah satunya adalah mulai melirik kembali sejarah untuk memunculkan semangat baru: bangkitnya akal budi, hormat pada aturan & moral, serta sepenuhnya merdeka bagi setiap orang. Tanpa was-was.
Didorong oleh momen bersejarah itulah, dengan bangga Jogja Gallery mengundang Anda para perupa seluruh Indonesia untuk bersama bergabung dalam pameran peringatan ini yang akan berlangsung 20 Mei – 8 Juni 2008. Seperti halnya kata sang ”mutiara bangsa” Onze Tjip--Tjip Kita, panggilan tokoh penting Budi Utomo, dr. Tjipto Mangoenkoesoemo--bahwa bukan persoalan pertentangan Timur & Barat, Hindia & non-Hindia, melainkan penaklukan dalam segala bentuk yang harus dilarang. Sejarah mengajarkan kita untuk tidak tunduk dan takluk pada keadaan yang tertekan, dan yang lebih penting dari itu adalah menjaga agar setiap anak bangsa ini punya etika yang sehat. Sesehat-sehatnya.
Pameran ini mengharapkan karya-karya seni rupa Anda yang memiliki beberapa kerangka pemikiran.
Pertama, secara tematik bisa menggambarkan—misalnya secara ilustratif/realistik—situasi pada saat berlangsungnya peristiwa dalam Sejarah Kebangkitan Nasional.
Kedua, menggambarkan citra para tokoh yang berperan di dalamnya dan sejauh mana semangat kebangsaan dan perjuangan mereka dalam memerdekakan bangsa.
Ketiga, memberi edukasi bagi sebagian besar individu bangsa ini untuk mengetahui gejolak pemikiran dan wacana (politik, kebudayaan & sosial) yang ada saat itu, secar khusus dalam sejarah Kebangkitan Nasional.
Keempat, menarik benang merah atas peristiwa tersebut dengan berbagai kejadian atau fenomena yang saat ini berlangsung di Indonesia: rasa nasionalisme, hilangnya harta atau beberapa pulau atau tradisi lokal di Indonesia, semangat ”berpecah-belah” yang kini mulai terasa, dan sebagainya.
Dengan demikian karya-karya yang akan ditampilkan dalam pameran ini merujuk secara sistemis dan berupaya untuk menggambarkan secara menyeluruh rangkaian sejarah Kebangkitan Nasional Indonesia. Melalui riset yang dilakukan oleh perupa, melalui berbagai perenungan terhadap peristiwa negeri ini, melalui peringatan ini, kekurang-populeran peristiwa Kabangkitan Nasional (misalnya di mata anak muda saat ini) dapat lebih bergema. Nasionalisme dan perjuangan harus tetap berlangsung, apalagi berjuang untuk ”melawan lupa”.
*) judul diambil dari tulisan Goenawan Mohamad dari Nirwan A. Arsuka (editor), Kata, Waktu, Esai-esai Goenawan Mohamad 1960-2001, Jakarta, Pusat Data & Analisa TEMPO, 2001.
Terdapat banyak bacaan & referensi yang dapat dipakai, antara lain:
  1. Manuel Kaisiepo, ”Wahidin Soedirohoesodo dan Soetomo, Dari ”Kebangkitan Jawa” ke ”Kebangkitan Nasional”, dalam JB. Kristanto (ed.), Seribu Tahun Nusantara, Jakarta: PT. Kompas Media Nusantara, 2000.
  2. Akira Nagazumi, The Dawn of Indonesian Nationalism: The Early Years of the Boedi Oetomo, 1908-1918, Tokyo Institute of Developing Ecomonic, 1972. / [Versi Bahasa Indonesia] Akira Nagazumi, Bangkitnya Nasionalisme Indonesia, Budi Utomo 1908 – 1918, PT Pustaka Utama Grafiti, Jakarta, 1989
  3. Pramoedya Ananta Toer, Sang Pemula, 1985.
  4. Takashi Shiraishi, ”Impian Mereka Masih Bersama Kita”, dalam JB. Kristanto (ed.), Seribu Tahun Nusantara, Jakarta: PT. Kompas Media Nusantara, 2000.
  5. Sartono Kartodirdjo, Sejarah Pergerakan Nasional, Dari Kolonialisme sampai Nasionalisme, Jakarta: Gramedia, 1999.
TemaSejarah & Kreativitas Berbangsa’.
Kriteria Seleksi
  1. Kompetisi bersifat terbuka, berskala nasional, tanpa batasan usia.
  2. Peserta perorangan atau kelompok.
  3. Jenis dan media berkarya bebas.
  4. Karya harus asli, didasarkan pada ide yang orisinal, tidak sedang diikutkan dalam kompetisi yang lain dan bersedia untuk dijual.
  5. Ukuran untuk karya 2 dimensi tidak melebihi 300 x 300 cm.
  6. Ukuran untuk karya 3 dimensi 100 x 100 x 300 cm.
  7. Sedangkan seni instalasi/ multimedia menyesuaikan.
  8. Selain artistik, tema karya berdasarkan sejarah yang relevan atau berbasis pada kesadaran kreatif dalam berbangsa, serta menciptakan situasi yang membuka peluang bagi kemajuan bangsa di segala aspek (lebih khusus lihat paragraf akhir dalam pengantar pengumuman ini).
  9. Wajib menyertakan foto karya yang diikutkan seleksi tahap pertama, dengan ukuran 10 R-glosy, dikirim bersama dengan konsep karya, biodata & foto perupa serta informasi detail karya, diketik rapi.
  10. Khusus untuk karya 3 dimensi, harap memberikan foto detail karya.
  11. Khusus untuk karya multimedia, harap menyertakan berkas karya pendukung, misal CD interaktif dan sebagainya.
  12. Panitia tidak menerima kiriman foto karya dan sebagainya melalui surat elektronik (email).
Waktu pelaksanaan
  1. Seleksi tahap pertama, 20 Maret 2008, dengan materi seleksi foto karya; sehingga sangat diharapkan foto karya diterima oleh panitia paling lambat tanggal 15 Maret 2008, pukul 21.00 WIB [bukan cap pos].
  2. Seleksi tahap kedua, 10 April 2008 à peserta mengirim karya secara langsung dengan ke Jogja Gallery.
  3. Setiap karya yang masuk dalam pameran adalah yang berhasil melalui 2 tahap penjurian. Karya-karya yang tidak lolos seleksi tahap kedua bisa diambil kembali oleh peserta.
Penghargaan
  1. Sekitar 50 karya terpilih akan dipamerkan dalam pameran seni visual 100 tahun Kebangkitan Nasional ‘Setelah 20 Mei’, di Jogja Gallery, 20 Mei – 8 Juni 2007.
  2. Dewan juri akan menetapkan 5 besar karya terbaik dan akan mendapatkan penghargaan berupa uang masing-masing Rp. 3.000.000,- dan sertifikat.
  3. Pengumuman pemenang pada tanggal 1 Mei 2008 akan diumumkan baik secara personal maupun melalui situs kami.
  4. Keputusan dewan juri adalah mutlak dan tidak dapat diganggu gugat.
  5. Hal-hal lain yang belum jelas dapat ditanyakan ke Jogja Gallery.
Dewan Juri
  1. Prof. Soedarso Sp. MA. (Sejarawan Seni & anggota dewan penasehat Jogja Gallery)
  2. dr. Oei Hong Djien (Kolektor & anggota dewan penasehat Jogja Gallery)
  3. Mikke Susanto, S.Sn. (Staf Pengajar FSR ISI Yogyakarta & Kurator Jogja Gallery)
Selamat bekerja dan kami tunggu karya Anda.
Semua berkas silakan kirim ke
Panitia Kompetisi Seni Visual ’100 th Kebangkitan Nasional’
Nunuk Ambarwati [+62 81 827 7073]
R. Daru Artono [+62 856 4389 8779]
Jogja Gallery [JG]
Jalan Pekapalan No 7, Alun-alun Utara Yogyakarta 55000
Telepon +62 274 419999, 412021
Telepon/Fax +62 274 412023
Telepon/SMS +62 274 7161188, +62 888 696 7227
Email : jogjagallery@yahoo.co.id
info@jogja-gallery.com
www.jogja-gallery.com


Wednesday, September 19, 2007

Summary Pameran Jogja Gallery



TENTANG JOGJA GALLERY [JG]

Daerah Istimewa Yogyakarta [DIY] merupakan kota budaya, bersejarah dan potensial untuk dikembangkan menjadi salah satu pusat tujuan pariwisata internasional. Sebagai kota yang memiliki kekayaan seni dan seniman-seniman bertaraf dunia, Yogyakarta memerlukan gebrakan baru dalam memfasilitasi potensi tersebut, dan hal yang belum dimiliki adalah sebuah galeri seni dengan kualitas dan tekonolgi bertaraf internasional. Untuk itu Jogja Galleru hadir di tengah-tengah pesatnya perkembangan seni visual Indonesia

Jogja Gallery [JG], sebagai ‘Gerbang Budaya Bangsa’ berdiri di Yogyakarta, 19 September 2006. Diresmikan penggunaannya oleh Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta [DIY], Sri Sultan Hamengku Buwono X. Bertempat di 0 (nol) kilometer atau Alun-alun Utara, berada di kawasan heritage, pusat kota Yogyakarta, menempati bekas gedung bioskop Soboharsono (berdiri 1929) yang telah berfungsi sejak jaman penjajahan Belanda. Jogja Gallery sebagai galeri seni visual yang didirikan oleh PT Jogja Tamtama Budaya, bekerja sama dengan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat (selaku pemilik tanah dan bangunan) membawa peran penting yaitu sebagai media pertemuan antara pekerja seni dengan masyarakat luas. Program pelayanan publik yang telah dirancang antara lain pameran berkala, kerja sama non pameran, friends of Jogja Gallery, perpustakaan, art award forum, lelang karya seni, art shop, kafe dan restoran.

STRUKTUR ORGANISASI JOGJA GALLERY
Dewan Pengawas : KGPH Hadiwinoto, Bambang Soekmonohadi
Dewan Penasehat : Dr. Oei Hong Djien, Prof. Soedarso SP, M.A.
Direktur Utama : Sugiharto Soeleman
Direktur Pengembangan : Soekeno
Direktur Eksekutif : KRMT. Indro ‘Kimpling’ Suseno
Kurator : Mikke Susanto
Manajer Program : Nunuk Ambarwati
Manajer Keuangan : Endah Wahyuningsih
Sekretaris : Elly A. Mangunsong, Herdhiningrum Oktya Dewi
Staf Keuangan : Kusuma Febriani Putri
Staf Pameran : R. Daru Artono, Puji Rahayu, Norisma Andi S
Staf Teknis : Nanang Sukriyanto, FX. Dwi Hartanto
Staf Umum : Mudita Arya Kirana, Kuwat
Resepsionis : Suprapti
Staf Keamanan : Soni, Tri, Nur & PT Total Security
Desainer grafis : Dimas Bayu Arfianto
Penjaga pameran : Junia Sriwiwita, Zulfan Siahaan, Jeffer Simangunsong
Office boy & cleaning service : CV Yogya Yatra

Jam buka galeri – Selasa – Minggu; Senin tutup, pukul 09.00 – 21.00 WIB
Tiket masuk – Rp. 3.000,- / orang

Jogja Gallery [JG]Jalan Pekapalan No 7, Alun-alun Utara Yogyakarta 55000
Telepon +62 274 419999, 412021
Telepon/Fax +62 274 412023
Telepon/SMS +62 274 7161188, +62 888 696 7227
Email : jogjagallery@yahoo.co.id
info@jogja-gallery.com
http://www.jogja-gallery.com/


PAMERAN SENI VISUAL DI JOGJA GALLERY
SEPTEMBER 2006 – SEPTEMBER 2007

1+ 2 a. Pameran Seni Visual ‘ICON: Retrospective’ (19 September – 20 November 2006)Sifat pameran: kelompok, undangan
Kurator: M. Dwi Marianto dan Mikke Susanto
Seniman peserta: Affandi, Fadjar Sidik, Widayat, Aming Prayitno, Edhi Sunarso, Nyoman Gunarsa, Made Wianta, G. Sidharta, Sudarisman, Suatmadji, FX. Harsono, Bonyong Munny Ardhi, Hardi, Haris Purnama, Tulus Warsito, Ivan Haryanto, Ronald Manullang, Dede Eri Supria, Moelyono, Studio ‘Brahma Tirta Sari’: Agus Ismoyo & Nia Fliam, Eddie Hara, Heri Dono, Agus Kamal, Boyke Aditya, Nengah Nurata, Ivan Sagita, Sutjipto Adi, Lucia Hartini, Linda Kaun, Nindityo Adipurnomo, Mella Jaarsma, Dadang Christanto, Anusapati, Djoko Pekik, Entang Wiharso, Nasirun, Hedi Hariyanto, Agus Suwage, Agung Kurniawan, Hanura Hosea, Kelompok Seni Rupa Jendela, Made Sumadiyasa, Made Sukadana, Putu Sutawijaya, Nyoman Sukari, Noor Sudiyati, Iwan Wijono, Ugo Untoro, S. Teddy D, I Nyoman Masradi, Kelompok Apotik Komik, Komunitas Seni & Budaya Taring Padi, Ruang MES 56, Eko Nugroho & Daging Tumbuh, Abdi Setiawan, Budi Kustarto, the House of Natural Fiber, Yuli Prayitno, pameran ‘Yogyapan-Jepangkarta’: Seiko Kajiura, Yogyakarta Urban Art Movement, Sigit Santoso.

Pameran ini merupakan penanda berdirinya Jogja Gallery. ‘ICON’ mengetengahkan berbagai fenomena, karya atau person yang menjadi tajuk penting pada era 1970-2000 di Yogyakarta. Melalui pameran yang bersifat retrospektif semi dokumenter ini, Jogja Gallery berharap sebagai bentuk awal dari bentuk penghargaan dan terima kasih kami kepada para perupa yang terlibat dan mewarisi dan mengembangkan seni-budaya yang mewarnai budaya kota Yogyakarta ini.

b. ‘Pallingjang : Salt Water’ (19 September – 20 November 2006)Sifat pameran: kelompok, undangan
Kurator: Peter O’ Neill
Seniman peserta: Jo Davis, Robyn Charles, Charles Wilson, Ben Brown, Kevin Maxwell Butler, Marylin (Mally) Smart, Garry Jones, Reggie Ryan, Leanne Morris, Vicki Slater, David Dunn, Lindy Lawler, Lynette Moylan, Gwendolin Stewart, Val Saunders, Jodi Stewart, Georgina Parson, Mathew Carriage.
Pameran koleksi seni lukis Aborigin bekerja sama dengan Wollongong University, Australia.
Merupakan pameran yang menampilkan karya seniman Aborigin dari Illawarra dan South Coast Australia.

3+4 a. ‘Young Arrows: 40 Perupa Muda Terdepan Indonesia’ (2 Desember – 5 Januari 2007)Sifat pameran: kelompok, undangan dan kompetisi terbuka
Kurator: M. Dwi Marianto dan Mikke Susanto
Seniman peserta: AC. Andre Tanama, Ade Darmawan, Adi Gunawan, Agus Yulianto, Ahmad Sobirin, Ayu Arista Murti, Caroline Rika Winata, Anang Asmara, AT. Sitompul, Dadi Setiyadi, Dewa Ngakan Made Ardana, Dewi Aditya, Dipo Andi, Eddy Sulistyo, Feri Eka Chandra, G. Prima Puspitasari, Heri Purwanto, I Made Gede Surya Darma, I Made Arya Palguna, I Wayan Kun Adnyana, I Wayan Sudarna Putra, I Wayan Upadana, Januri, AG. Kus Widananto a.ka. Jompet, Laksmi Sitharesmi, M. Yusuf Siregar, Moch. Sofwan Zarkasi ‘Kipli’, Nano Warsono, Polenk Rediasa, Samsul Arifin, Saroni, Setu Legi a.k.a Hestu, Suroso [Isur], Teguh Wiyatno, Terra Bajragosha, Wahyu Santosa, Waluyohadi, Wedhar Riyadi, Wibowo Adi Utama, Wimo Ambala Bayang.

Mengapa diberi judul Young Arrows yang terjemahan harafiahnya ‘anak-anak panah muda’? Frase metaforik ini menerangkan pameran kedua di Jogja Gallery yang mengupayakan hadirnya karya-karya sejumlah perupa yang usianya paling tua 35 tahun. Via pameran ini Jogja Gallery menganggap perlu mengumpulkan karya yang secara menarik merefleksi jaman dari para perupa muda untuk dipamerkan bersama, dilihat secara keseluruhan, guna dimaknai sebagai salah satu fenomena perkembangan kesenirupaan negeri ini.

b. ‘Rhytm and Passion’ (2 Desember – 5 Januari 2007)Sifat pameran: kelompok, undangan
Kurator: M. Dwi Marianto dan Mikke Susanto
Seniman peserta: Askanadi, Made Wiguna Valasara, Beatrix Hendriani Kaswara, Nanda Hanifa Kamal, I Wayan Sudjana ‘Suklu’, Yon Indra, Yunizar.

Pameran ini memperlihatkan kecenderungan lain yang menarik dalam perkembangan seni lukis di Indonesia dewasa ini. Kecenderungan yang digulirkan, meskipun secara kuantitas (jika dibandingkan jumlah perupa di Indonesia) terbilang kecil, namun penting dikemukakan sebagai bukti atas bergeraknya dunia pemikiran seni rupa. Kecenderungan menarik yang dimaksud adalah mengarah ke penggunaan salah satu unsur penting dalam kajian seni rupa: garis.

5. ‘Id : Hanafi’ (13 Januari – 2 Februari 2007)
Sifat pameran: tunggal, pameran keliling
Kurator: Jim Supangkat dan Arief Ash Sidiq
Seniman: Hanafi

Pameran tunggal karya seniman Hanafi yang merupakan kerjaa sama O House Gallery, Jakarta dengan Jogja Gallery. Pameran ini merupakan bagian dari pameran keliling Hanafi, yang dikenal dengan karya abstraknya, dimana sebelumnya diselenggarakan di Galeri Nasional, kemudian ke Jogja Gallery, ke Bali dan selanjutnya ke Barcelona, Spanyol.

6+7 a. ‘Bonding the Brotherhood between Tunisia and Indonesia’ (10 – 20 Februari 2007)Sifat pameran: kelompok
Seniman peserta: Abdelmaksoud Najoua, Belkhodja Nejib, Bellagha Ali, Ben Yahia Basma, Bouderbala Meriem, El Bekri Abdelmajid, Gorgi Abdelaziz, Hajjeri Ahmed, Hnene Mokhtar, Karabibene Halim, Mehdaoui Nja, M’Naouar Asma, Thabouti Adbelhamid, Thabti Neji, Zouari Mohamed.

Kerjasama dengan Kedutaan Besar Republik Tunisia di Jakarta– sebuah pameran seni lukis karya 16 seniman asal Tunisia. Pameran ini bertujuan untuk meningkatkan hubungan antara dua komunitas: negara, bangsa dan rakyat Tunisia dan Indonesia.

b.‘Agraris Koboi!’ (10 – 20 Februari 2007)
Sifat pameran: kelompok, undangan
Kurator: Mikke Susanto
Asisten kurator: Yohanes Sumaryanto Nurjoko
Seniman peserta: Agus Yulianto, Arie Dyanto, Decky ‘Leos’ Firmansyah, Eko Dydik ‘Codit’ Sukowati, ‘Iyok’ Prayogo, Iwan ‘Pandir’ Effendi, Krisna Widyathama, Nano Warsono, Riono Tanggul a.ka. Tatang, Uji ‘Hahan’ Handoko, Wedhar Riyadi.

Pameran ini mengetengahkan fenomena seni rupa kontemporer di Yogyakarta yang konon masih dianggap sebagai bagian dari kultur besar [sub kultur]. Memberi ketegasan untuk menandai mereka, perupa peserta pameran, dalam satu gaya/fenomena yang di sela berbagai kecenderungan yang berkembang di Yogyakarta.

8. Pameran dan bursa seni lukis ‘EKSISTEN’ (27 Februari – 25 Maret 2007)
Sifat pameran: kelompok, undangan
Kurator: Mikke Susanto
Exhibition advisor: Heri Pemad
Seniman peserta: Agus Triyanto BR, Aji Yudalaga, Anang Asmara, Anggar Prasetya, Andy Wahono, Bambang Herras, Dedy Maryadi, Denny ‘Snod’ Susanto, Didik Nurhadi, Erizal AS, Hadi Soesanto, Hamdan, Herly Gaya, I Gusti Ngurah Udiantara, I Nyoman Darya, Iwan Sri Hartoko, Julnaidi MS, Kusmanto, Luddy Astaghis, M. Andi Dwi, Nanang Warsito, Nasirun, Nico Siswanto, Niko Ricardi, Oskar Matano, Robi Fathoni, Saepul Bahri, Riduan, Slamet ‘Soneo’ Santoso, Setyo Priyo Nugroho, Sito Pati, Stefan Buana, Wara Anindyah.

Pameran ini diselenggarakan turut merespon pasar malam dan agenda tahunan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat: SEKATEN. Dalam pameran ini perupa diharapkan dapat memberi sumbangan kreatif berupa karya-karya yang memiliki tema untuk mengingat kembali keberadaan dan sejarah kota Yogyakarta. Hal ini menarik dilakukan agar publik merasakan kembali bagaimana kota Yogyakarta yang telah berusia 250 tahun ini berjalan.

Meskipun pameran ini pada dasarnya mendukung gebyar pasar malam SEKATEN, tetapi juga menyimpan tujuan yang sangat berarti yaitu memberi rangsangan untuk mengingat berbagai kejadian dan situasi yang telah, sedang dan mungkin akan terjadi di Yogyakarta. Gambaran-gambar tentang berbagai aktivitas (yang menjadi perhatian banyak orang Jogja), polemik (tentang berbagai kebijakan dan kejadian kota), atau ruang-ruang publik Jogja dapat dikaitkan dengan isi dan tema karya yang akan dipamerkan dalam pameran ini. Adapun secara konsep teknis dan visual, pameran ini membuka peluang terhadap berbagai gaya, pendekatan visual maupun aliran pemikiran.

9+10 ‘Domestic Art Objects & StillLife’ (1 – 15 April 2007)
Sifat pameran: kelompok, undangan dan kompetisi terbuka
Kurator: Mikke Susanto
Asisten kurator: Ronald Apriyan
Exhibition advisor: Eko Agus Prawoto dan Hermanu
Seniman peserta: Yani Mariani Sastranegara, Hardiman Radjab, Eko Agus Prawoto, F. Sigit Santoso, I Wayan Sudjana ‘Suklu’, Awan Simatupang, I Wayan Cahya, Hadi Soesanto, Noor Ibrahim, Probo, M. Pramono Irianto, Ali Umar, Hedi Hariyanto, Kokok P Sancoko, Grace Tjondronimpuno, Sri Maryanto, Alexis, Waluyohadi, Prilasiana, Indrayanti, Aji Yudalaga, Putu Agus Sumiantara, Ketut Moniarta, Dieta Gambiro, Made Dodit Artawan, Eka Kusumatuti, Hariadi Nugroho, Made Gede Wiguna Valasara, I Putu Aan Juniarta, Khusna Hardiyanto, Koes ‘Doyok’ D, Mochammad Jamaludin, Winarso, Yulius Heru P, Vani HR.

Pameran ini adalah sebuah contoh bagaimana perupa menghilangkan sekat-sekat disiplin seninya. Ia bahkan juga bertindak menghilangkan batas-batas konvensi seni. Lalu melahirkan ’kesan antara’ benda seni dan bukan, menghilangkan perbedaan antara benda fungsi dan bukan, atau mencerai-berai status antara benda elite dan massal. Dalam pameran ini, 35 perupa (dari Yogyakarta, Jakarta, Bandung, Solo, Bali, Surabaya) secara khusus mengolah benda-benda keluarga atau rumah tangga. Mereka boleh mengungkapkan ide-idenya dengan pendekatan yang berbeda. Hasilnya terlihat bahwa pendekatan parodi dan formalisme menjadi pilihan yang sering dipakai. Sehingga yang muncul di sana adalah kesan unik, kontekstual, sekaligus cerdas menyiasati ruang. Dengan begitu, Anda sebagai penonton disuguhi karya-karya yang memiliki spirit belajar dan bermain. Inilah perjalanan proses kreatif ‘baru’ dari refleksi budaya kontemporer. Dimana simplicity, dekonstruktif, interaktif, dan konseptual menjadi nilai investasinya.

11. ‘The Thousand Mysteries of Borobudur’ (20 April – 9 Mei 2007)

Sifat pameran: kelompok, undangan & kompetisi terbuka
Kurator: Mikke Susanto
Seniman peserta: Affandi, Daoed Joesoef, Srihadi Soedarsono, IGN Hening Swasono PH, Pius Sigit Kuncoro, Dani Agus Yuniarta, Ismail, Ismanto, Heri Purwanto, Toni Ja’far, Riduan, I Made Supena, Agung ‘Tato’ Suryanto, Andi Hartana, Arif Sulaiman, Cipto Purnomo, Eko ‘Kota’ Haryono, Endra, Erianto, Erizal AS, Gatot Indrajati, Ismed [SAJO], Mufi Mubaroh, Setiawan Nugroho, Setyo Priyo Nugroho, Ugy Sugiarto, Slamet ‘Soneo’ Santoso, Studio Samuan, M. Faizal R, I Gede Made Surya Darma, Marselli Sumarno, Jay Subiakto, Garin Nugroho, Sigit Ariansyah.

Merupakan pameran seni visual hasil kerjasama dengan UNESCO Office, Jakarta, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI dan Jogja Gallery, yang menggandeng mitra kerja Universitas Gadjah Mada [UGM] Yogyakarta, PT Taman Wisata Candi, Balai Konservasi Peninggalan Borobudur dan Jogja Film Commission. Pameran yang dibuka Jumat, 20 April 2007, menandai bahwa Borobudur telah hidup kembali. Lewat tampilan-tampilan seni visual dari berbagai karya baik lukisan, patung, grafis, fotografi, video dan sebagainya sebagai sebentuk ‘saksi’ atas eksistensi Borobudur. Disamping itu pula, terselenggaranya pameran ini merupakan hasil kerja sama yang harmonis dari berbagai kalangan, baik swasta mau pun pemerintah guna lebih meningkatkan, mendukung dan mempromosikan pariwisata dan kebudayaan Indonesia, yang merupakan tanggung jawab semua pihak.

Dalam kaitan pameran ini, penyelenggara juga menggelar serangkaian program edukasi yang bekerja sama dengan berbagai pihak. Berbagai program edukasi tersebut akan difokuskan pada isu terkini perihal Borobudur dan warisan saujana yang melingkupinya. Program edukasi ini menjadi dianggap poin penting pula dalam rangkaian kegiatan ini oleh pihak penyelenggara, terutama UNESCO, sebagai salah satu bentuk pendidikan alternatif kepada kalangan akademisi untuk lebih mensosialisasikan berkaitan dengan banyak displin ilmu [sejarah, arsitektur, arkeologi, seni rupa, religi dan sebagainya] mengenai Candi Borobudur.

12. ‘Transposisi : Lukisan-lukisan Kolektor Jateng –DIY’ (22 Mei – 26 Juni 2007)Sifat pameran: kelompok, undangan
Kurator: Mikke Susanto
Exhibition advisor: Dr. Oei Hong Djien
Kolektor peserta pameran: Alexander Ming, Butet Kertaredjasa, Bambang Soekmonihadi, Deddy Irianto, Deddy PAW, Harsono, Hasan Berlian/Siswanto HS, Nasirun, Oei Hong Djien, Oki Widiyanto, Rahadi Saptata Abra, Simon Tan Kian Bing, Soekeno, Sugiharto Soeleman.
Seniman peserta pameran: Affandi, Agus Kamal, Anthony David Lee, Anton Huang, Amri Yahya, Bambang Darto, Bagong Kussudiardja, Budi Ubrux, Erica Hestu Wahyuni, Fadjar Sidik, Gusti Alit Cakra, Gusmen Hariadi, Hardi, Handiwirman Saputra, Hendra Gunawan, Ivan Sagita, Liu Guoqiang, Lucia Hartini, Nashar, Otto Djaja, Pupuk Daru Purnomo, S. Soedjojono, Semsar Siahaan, Sugiyo Dwiharjo, Suatmadji, Tulus Warsito, Vincent van Gogh.
Melalui pameran ini diundang sejumlah kolektor. Mereka menampilkan koleksi mereka yang secara khusus mewakili tujuan dari aksi mengoleksinya. Mereka rata-rata tinggal di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta [DIY]. Memamerkan koleksi lukisan para kolektor, merupakan upaya Jogja Gallery untuk memberikan apresiasi kepada para kolektor, betapa kiprah mereka telah memberikan sumbangan besar terhadap kemajuan peradaban seni rupa Indonesia. Sekaligus juga memberikan kesempatan kepada masyarakat umum, untuk memasuki ‘alam’ dunia koleksi, sehingga diharapkan dapat memberikan dorongan terhadap pertumbuhan masyarakat kolektor.

13. Pameran seni visual Post-Kaligrafi - ‘Kalam dan Peradaban’ (7 Juli – 12 Agustus 2007)
Sifat pameran: kelompok, undangan
Kurator: Mikke Susanto
Seniman peserta: Agus Kamal, Arahmaiani, AD. Pirous, Anwar Sanusi, Abay D. Subarna, Alperd Roza, Chusnul Hadi, D. Sirojuddin AR, Erna Garnasih Pirous, Hendra Buana, Is Hendri Zaidun, Ismanto, KH. Mustafa Bisri, M. Pramono Irianto, Meri Suska, Muhammad Zuhri, Nasirun, Nasrul, Rispul, Robeth Nasrullah, Sunaryo, Salamun Kaulam, Syahrizal Koto, Syaiful Adnan, Titarubi, Tulus Warsito, Yetmon Amier, KH. D. Zawawi Imron, Zulkarnaini.
Sepanjang masa, kaligrafi telah dikenal sebagai sebuah kebudayaan tersendiri. Kaligrafi mendapat tempat terhormat dalam perkembangan seni Islam, termasuk yang terjadi dalam bidang arsitektur sampai ke syair. Kaligrafi adalah dasar dari seni perangkaian titik-titik dan garis-garis pada pelbagai bentuk dan irama yang tiada habisnya serta tidak pernah berhenti merangsang ingatan (dzikir) akan situasi hati.
Kaligrafi adalah sebutan yang mengarah pada penjelmaan perasaan seseorang, melewati huruf. Penjelmaan jiwa duniawi yang secara terus-menerus memberi pesan spiritual. Menurut Hossein Nasr, beberapa pokok penting dalam kaligrafi misalnya: pertama, mengenai hubungan atau pertalian asal seni ini antara Ali (wakil par excellece dari esoterisme Islam setelah Nabi) dengan beberapa tokoh spiritual Islam pertama yang dipandang sebagai kutub tasawuf dalam Islam Sunni serta imam-imam Syafi’i. Kedua, kaligrafi ditulis oleh tangan-tangan manusia yang terus dipraktikkan secara sadar sebagai emulasi manusia terhadap Tindakan Tuhan, meskipun “jauh dari sempurna”. Ketiga, kaligrafi tradisional didasari oleh sebuah ilmu pengetahuan tentang seluk-beluk dan irama geometris yang tepat.

14. Pameran seni lukis Creative Drawing Exhibition - karya anak-anak siswa Global Art ‘Bersemangat Meraih Cita-cita’ (10 – 12 Agustus 2007)
Jika kita berbicara tentang pameran lukisan;, pastilah yang terlintas dalam benak kita adalah hasil karya seniman dewasa profesional, dengan seluruh sisi pandang seni dan pola pikir yang mungkin hanya bisa dinikmati oleh golongan tertentu. Atribut aliran; yang dikenakan pada lukisan pun beraneka ragam, seperti: aliran realis, surrealisme, abstrak, dan lain sebagainya.
Namun kapankah kita pernah melihat sebuah pameran lukisan hasil karya anak-anak? Global Art Jogja mengadakan sesuatu yang berbeda dari pameran biasanya, yaitu pameran karya anak; yang menampilkan lukisan siswa-siswi Global Art yang tentu saja sebagai anak-anak, mereka masih polos, naif, namun penuh semangat, disiplin, berdedikasi, dan potensial! Pameran tersebut akan dikemas dengan profesional, termasuk acara lelang lukisan untuk tujuan sosial, sehingga siswa-siswi dapat menjadi insan yang peduli dengan orang lain dan membanggakan orang tua mereka.
Tujuan pameran ini adalah kami mengarahkan aktivitas seni; sebagai jembatan siswa-siswi untuk menapaki kehidupannya. Satu langkah pertama yang penting namun (disayangkan) sering terabaikan adalah membuat CITA-CITA.

15. Pameran Seni Visual dalam rangka turut memperingati 200 Tahun Raden Saleh, dengan tema ‘Ilusi-Ilusi Nasionalisme’ (18 Agustus – 9 September 2007).Sifat pameran: kelompok, undangan & kompetisi terbuka
Kurator: Mikke Susanto
Seniman peserta pameran: Abay D. Subarna, Ahmad Sobirin, AS. Kurnia, Astari Rasjid, Askanadi, Andy Wahono, Anang Asmara, Bambang Pramudiyanto, Bambang Sudarto, Budi Kustarto, KH. D. Zawawi Imron, Denny ‘Snod’ Susanto, Dadi Setiyadi, Dani Agus Yuniarta, Deni Junaedi, Dyan Anggraini Hutomo, Doel AB, Elyezer, Eddy Sulistyo, Eduard [Edo Pop], Eko Didyk ‘Codit’ Sukowati, Gatot Indrajati, Gusar Suryanto, Hanafi, Haris Purnomo, Heri Dono, Ivan Sagito, Imam Abdillah, Made Wiguna Valasara, Melodia, Mulyo Gunarso, Nana Tedja, Nanang Warsito, Nurkholis, Putut Wahyu Widodo, Pius Sigit Kuncoro, Pintor Sirait, R. Aas Rukasa, Riduan, Rosid, Ronald Manullang, Rudi Winarso, S. Teddy D, Samsul Arifin, Suraji, Suroso [Isur], Ugy Sugiarto, Willy Himawan, Wilman Syahnur, Yuswantoro Adi.

Pameran ini dilaksanakan dalam rangka turut menyemarakkan hari Kemerdekaan RI yang ke-62 dan memperingati eksistensi almarhum Raden Saleh Syarif Bustaman. Pameran yang diselenggarakan secara reguler oleh Jogja Gallery kali ini bersifat pameran kelompok, berskala nasional [diikuti oleh kurang lebih 40 perupa Indonesia] dan akan mengetengahkan karya-karya terkini perupa Indonesia yang mengambil inspirasi dari ikon seni Indonesia pertama yang berhasil mempengaruhi dan memperkenalkan Indonesia kepada dunia luar, yaitu Raden Saleh Syarif Bustaman. Dalam pameran ini kami mengajak para perupa ternama Indonesia untuk secara khusus mencermati lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro, bukan yang lain. Karena dengan lukisan ini semangat nasionalisme (oleh sebab itu pameran ini diselenggarakan pada bulan Agustus yang sakral bagi bangsa Indonesia), hendak diuji kembali, dikaji kembali dalam bentuk apa saat ini nasionalisme tersebut berjalan. Dalam beberapa hal, lukisan Raden Saleh ini juga memuat misteri yang tidak saja visual, namun juga dapat melahirkan lagi misteri dan ilusi-ilusi tentang berhagai hal yang lain. Dalam pameran ini juga dipamerkan reproduksi karya lukisan Raden Saleh Syarif Bustaman ‘Penangkapan Pangeran Diponegoro’ yang merupakan koleksi Istana Kepresidenan Republik Indonesia di Yogyakarta [Gedung Agung].

16. Pameran Seni Visual 1st Anniversary of Jogja Gallery ‘Portofolio #1’
(19 September – 21 Oktober 2007)
Sifat pameran: kelompok, terbuka
Kurator: Mikke Susanto
Alexis, Andy Wahono, Antoni Eka Putra, Anthony David Lee, Arie Dyanto, AT. Sitompul, Catur Bina Prasetya, Denny ‘Snod’ Susanto, Deddy PAW, Didik Nurhadi, Dadi Setiyadi, Djoko Pekik, Donna Prawita Arrisuta, Erizal AS, Feri Eka Chandra, Hamdan, Hari Budiono, Heri Purwanto, KRMT. Indro ‘Kimpling’ Suseno, I Gede Made Surya Darma, I Gusti Ngurah Udiantara, I Made Arya Palguna, I Made Supena, Iwan Effendi, I Wayan Cahya, I Wayan Sujana ‘Suklu’, I Wayan Sumantra, Januri, Luddy Astaghis, Mikke Susanto, M. Irfan, Made Wiguna Valasara, Muji Harjo, Mulyo Gunarso, Nanang Warsito, Nasrul, Nasirun, Nadiah Bamadhaj, Nico Siswanto, Niko Ricardi, Puji Rahayu, Riduan, Robi Fathoni, Saftari, Suraji, Syahrizal Zain Koto, Suroso [Isur], Wahyu Santosa, Wibowo Adi Utama, Yani Mariyani Sastranegara.

Pameran reportatif mengenai perjalanan pameran seni visual di Jogja Gallery sepanjang tahun 2007 sekaligus merayakan eksistensi 1 tahun berdirinya Jogja Gallery. Dalam pameran ini akan ditampilkan kembali karya-karya terbaru dari seniman-seniman yang pernah pameran di Jogja Gallery.