Tuesday, July 09, 2013

'ART JOKE' | pameran tunggal lukisan Yaksa Agus


oleh Nunuk Ambarwati

Yaksa Agus, lulusan ISI tahun 1996 ini, menggelar pameran tunggalnya yang ke empat. Di tahun ini, Yaksa bahkan menggelar pameran tunggal 2 kali berturut-turut; yakni bulan Juli 2013 di Tirana Artspace dengan tema ‘ART JOKE’ yang menggelitik dan menyusul di bulan Agustus 2013 nanti di Tembi Gallert dengan tema ‘MAAF’. Menariknya pameran ‘ART JOKE’ kali ini, Yaksa menampilkan karya-karya parodi/plesetan dari karya yang identik dengan karya seniman terkenal. Misalnya judul karya ‘Tukang Sulap yang Susah Dibunuh’ adalah identik dengan karya Heri Dono, yang kemudian diparodikan oleh Yaksa dengan judul ‘Heri Dono yang Susah Dibunuh’. Ada juga ikon karya seorang yang hampir seluruh tubuhnya diselimuti kerudung dengan aneka rupa barang yang identik dengan karya Mella Jaarsma. Atau ikon tengkorak dengan tulang rahang seperti tokoh wayang Cakil, yang identik dengan karya Agus Suwage hingga Damien Hirst. Atau karya ‘Man from Bantul’ yang digambarkan dengan seseorang mengenakan kostum Batman, yang diparodikannya dengan judul ‘Betmen Magelang’ yang sarat sindiran. Pada karya aslinya ‘Man from Bantul’, jari telunjuk orang tersebut mengacung ke depan. Tetapi pada karya ‘Betmen Magelang’, jari tangan terbuka semua dan terkesan menahan atau memberi kode stop/berhenti, yang diartikan oleh komentar Yaksa dengan, ‘kurator Magelang ndak mau beli karya lagi’.

Dan ada banyak seniman berikut karyanya yang ia parodikan yakni: Mella Jaarsma, Ugo Untoro, Djoko Pekik, Nasirun, I Nyoman Masriadi, EddiE Hara, Heri Dono, Putu Sutawijaya, Jumaldi Alfi, Agus Suwage, Damien Hirst, Entang Wiharso, Nindityo Adipurnomo, Agung Kurniawan, hingga Sudjojono, Affandi dan Hendra Gunawan. Mulai dari seniman senior yang sudah almarhum dan seniman termuda adalah I Nyoman Masriadi. Yaksa ‘bermain’ dengan karya parodi ini bukannya baru-baru saja, ia telah mengolahnya sejak tahun 2003. Bahkan ia mengaku, karya yang memparodikan seorang karya seniman ini laku terjual oleh kolektor di sebuah pameran di galeri cukup bergengsi di Yogyakarta. Waktu ditanya kenapa dia memparodikan karya-karya tersebut? Yaksa mengaku karya-karya para seniman tersebut menggelitik pemikirannya, ‘menganggu’ proses berkeseniannya. Semisal ketika semasa kuliah di ISI, karya etsa Tisna Sanjaya selalu menjadi acuan dosen untuk mengajar. Demikian juga karya Heri Dono juga menjadi acuan paling sering semasa menempuh studi di SMSR. Namun demikian, Yaksa tak pernah memberitahu seniman yang ia parodikan karyanya. Nah baru pameran yang kali ini ‘ART JOKE’ ia telah memberitahukan kepada tiap seniman yang ia olah kembali karya-karya mereka, kecuali yang telah almarhum tentunya.

Tengok karya tema ‘Perjuangan dan Doa’, disana digambarkan 3 maestro seni rupa Indonesia yang telah almarhum, Sudjojono, Affandi dan Hendra Gunawan, mengenakan kostum seperti raja dangdut Rhoma Irama. Ketiga tokoh tersebut yang selalu memperjuangkan seni rupa Indonesia; Sudjojono dengan wacananya, Affandi dengan propagandanya dan Hendra Gunawan yang dikenal dengan wacana seni sebagai komoditi. Ketiganya dikemas dalam sebuah karya seri ‘Perjuangan dan Doa’ yang dikenal sebagai judul lagu dangdut Rhoma Irama. Karya Yaksa cukup membuat kita berkerut dahi, menelaah dan akhirnya bisa membuat kita tertawa lebar. Bagi publik awam seni rupa mungkin karya-karya Yaksa yang terpajang di ruang pamer Tirana Artspace ini kurang dipahami secara konsepnya, karena kita harus kembali membaca sejarah seni rupa Indonesia dan karya-karya yang identik menjadi ikon seorang seniman tertentu. Dari sana kita baru bisa mengerti, karya siapa yang Yaksa parodikan. 

Kenapa ‘Art Joke’? Ya memang karya plesetan, parodi. Namun demikian, Yaksa tak menampik dia membaca momen seni rupa yang sedang hingar bingar di luar sana, seperti event berkala ‘Art Jog’ maupun peringatan 100 tahun nya maestro Sudjojono. Karya-karya yang ditampilkan semuanya menggunakan media acrylic on canvas, berukuran 30 x 30 cm dan paling besar ukuran 62 x 53cm, terdiri dari 21 judul karya. Meski pun mengambil ikon-ikon karya seniman lain, namun karakter Yaksa tetap muncul dalam setiap karyanya, yakni pada gambar anatomi tubuh , gestur tokoh yang karikatur dan teknik bloking pewarnaan latar belakang karya yang kita ketahui sebagai karakter Yaksa.

Art Joke: Keintiman yang Mengancam!
oleh: L. Surajiya

“I started a joke…” aku harus memulai tulisan ini dengan lagunya Bee Gees. Bagaimana tidak ‘a joke’ kalau Yaksa yang sudah dikenal karya-karyanya, yang menulis di banyak katalog pameran, Indonesia Art News, Bulletin Makna, dan berbagai media lainnya, tiba-tiba memintaku untuk menulis untuk pameran tunggalnya kali ini. Atau dia hanya ingin membuat ‘a joke’ denganku?

Seperti biasa, akupun memulai dengan sebuah pertanyaan yang sudah lazim dan sedikit klise:
“Tema pamerannya apa?”
“Art Jog,” jawaban itu yang terdengar di telingaku, ‘Ini lelucon,’ batinku.
                “Apa…. Art Jog?” aku mencoba meyakinkan apa yang kudengar.
                “Bukan, Art Joke!… Joke bukan Jog.” Dia menekankan.

Ah kata itu mirip sekali bunyinya di telingaku, jika tidak mempunyai sedikit kepekaan terhadap intonasi, tentu sulit untuk membedakannya antara ‘Art Jog’ dan ‘Art Joke’. Apakah ini sebuah kecerdasan mengemas ide? Sudah tak aneh l


agi, Yaksa bukan orang asing dalam mengolah serta bermain kata dan rupa di ranah ini.
                 “Ah jangan-jangan kau mau bersaing dengan Art Jog dengan Art Joke-mu?” aku langsung menimpali. Aku sendiri mendengar banyak isu bahwa beberapa seniman akan membuat pameran besar-besaran untuk menandingi Art Jog, ya minimal bareng, dalam waktu yang sama , hmmm….

Hari itu juga aku langsung bertandang ke rumah Yaksa, aku ingin melihat karya-karyanya segera. Dari tajuknya yang tampak keras dan mengancam itu membuatku penasaran, kenapa dia seberani ini? Adakah dia sangat intim (baca; dekat) dengan para senimannya yang sangat populer itu? Setahuku tidak! Mungkin saja karya-karya para seniman-seniman yang dimain-mainkan dan dilukis kembali cukup dekat dan mengganggu Yaksa selama ini. Tak mampu kujawab sendiri, dalam hatiku bahwa idenya gila dan luar biasa (beraninya).

Setelah kuamati karyanya memang sangat luar biasa, tidak asal-asalan dan digarap dengan serius, terarah, antara judul dan karya-karyanya bertemu. Rasanya benar-benar sudah dipersiapkan secara matang pameran Art Joke di Tirana House ini.
“Karyanya bagus-bagus, luar biasa,” kataku sambil duduk di teras depan rumahnya.
“Judulnya apa saja?” tanyaku.
“Menghajar Tisna Sanjaya, Kiai Narsis, Konde kok di Muka, Ustadzah Mella, Ternyata takut pada Celeng, Betmen Magelang, Napoleon From Kasian, News from Ngoto, Jlebret Art Namun Suka Berdoa, dan lain-lain,” jawabnya sambil menunjukkan karya-karyanya yang berukuran 30 x 30 cm.
“Sebenarnya karya-karya seri art joke ini adalah pembacaan ulang pada karya-karya para seniman top, yang kebetulan menggelitik bagiku, misalkan Menghajar Tisna Sanjaya, itu balasanku ketika ia pernah membuat karya Menghajar Piccaso, Kyai Narsis jelas dari karya Nasirun, Heri Dono Yang Susah Di Bunuh itu dari karya Heri Dono yang berjudul  Tukang Sulap yang Susah Dibunuh dan lain sebagainya”, jelasnya panjang lebar.
 “Ok… ok…, tapi sepertinya itu kamu melukis kembali karya Sudjojono juga?
Apa karena tahun ini tepat 100 tahun Sudjojono? tanyaku.
“Ya..,mungkin begitu… dan karya Maka Lahirlah Angkatan 66 aku lukis kembali jadi Maka Lahirlah Angkatan Playgroup, dan yang ini karya Seeppp Di Segala Cuaca yang aku buat jadi Hello Mas Jon,” jelasnya .
Aku menelan ludah, keringatku tiba-tiba keluar dan lagu Bee Gees itu berakhir, “… that the joke was on me..!”

Aku mengakhiri tulisan ini, dengan satu yang menganggu pikiranku… Joke… Joke… Joke adalah senjatanya!!!

Rembulan Mungil, 05 Juni 2013




BIODATA



Nama                          :         Yaksa Agus
Tempat /tgl lahir       :           Bantul, Yogyakarta, August 23

Education                   :           1991 Fine Art High School (SMSR) Yogyakarta
1996 Indonesian Institute of Art (ISI) Yogyakarta

Solo Exhibitions
2000               : SENI UNTUK KEMANUSIAAN, Bentara Budaya Yogyakarta
2002               : PRIMA DONNA, Gelaran Budaya, Yogyakarta
2011               : SUPER SEMAR, Grand Opening Sangkring Art Project Yogyakarta
2013               : ART JOKE , Tirana House , Yogyakarta
                        : MAAF, TeMBI Rumah Budaya , Yogyakarta.

Selected Group Exhibitions

1991-2010     : Aktif berpameran di dalam mau pun luar negeri .

2011               : SPEAK OF !! Jogja National Museum, Yogyakarta
: LEARNING DEFFERENCES, Elgin art showcase, Elgint, USA
: BEAUTY IS……, SPA310 gallery, Richmond, USA
: MINIATURE MASTERPIECE, Galeri Aswara Kuala Lumpur,  Malaysia.
: REUNION : Detik 96, Taman Budaya Yogyakarta
: JATIM BIENNALE  # 4 -2011, Go ART SPACE, Surabaya

2012               : JOGJA ISTIMEWA : 100 tahun Sultan  HB IX , Jogja National Museum, Yogyakarta
: KEMBAR MAYANG, H.WIDAYAT Art Museum, Magelang.
: AGITASI GARUDA,  Jogja Gallery Yogyakarta.
: TROPYCAL UNIFORM, AJBS Gallery, Surabaya.
: DENTING +, TeMBI Rumah Budaya, Yogyakarta .
: THANKS TO ALL , Asiatrend Gallery, Singapura

2013               : KESURUPAN KUDA LUMPING, Bentara Budaya Yogyakarta.
: SAY WITH ART, Taman Budaya Yogyakarta
: UNTOLDology, Limanjawi Art House, Borobudur , Magelang.
: SUKAPARISUKA, Bentara Budaya Yogyakarta.
: META AMUK , Indonesian National Art Gallery, Jakarta, 2013.
: SAPTA PELANGI, Jogja Gallery, Yogyakarta .

Penghargaan & residensi
2004   : Residensi seniman di Kuala Lumpur dan Yogyakarta (Projek Mager 2005)
2005    : Winner AIAA awards 2005, Byron Bay, Australia
: 999 Mithology and Legends on visua
2007   : Residensi seniman di Rimbun Dahan, Kuang, Malaysia
2009 – sekarang  :  Kurator eksperimental dan penulis di beberapa pameran seni rupa 


Tuesday, June 04, 2013

OLEH-OLEH LIBURAN | Pameran bersama seni rupa


Pameran bersama seni rupa
‘OLEH-OLEH LIBURAN’
Seniman:
Mulyo Gunarso | Nur Milisani | Rizqy Ramadhan (Vyo)
Tina Wahyuningsih | Vina Puspita
Hotel Duta Wisata I | Jl Urip Sumoharjo No 73 Yogyakarta
5 – 20 Juni 2013

Pembukaan Rabu, 5 Juni 2013 | pukul 19.00 WIB

Menampilkan karya lukisan di sebuah venue yang non galeri, dalam hal ini adalah hotel, memerlukan kepekaan dari berbagai sisi. Terutama kepada siapa penikmat karya ini akan disuguhkan. Yang notabene, pengunjung hotel adalah publik yang awam dengan seni rupa. Maka, pilihannya jatuh kepada 5 (lima) orang perupa yang masing-masing memiliki ciri khas/karakter yang kuat dan tentunya berbeda satu sama lain. Mulyo Gunarso dengan karya realisnya. Nur Milisani menghadirkan perpaduan karya abstrak & dekoratif. Sementara Rizqy Ramadhan (Vyo), perupa muda ini menyuguhkan karya pop art. Tina Wahyuningsih yang sangat berbakat membangkitkan imajinasi kita dengan karya ilustrasinya. Dan Vina Puspita dengan karya-karya impresionisnya.

Kelima seniman ini disatukan dalam tema ‘Oleh-oleh Liburan’ yang memang dikehendaki untuk memberikan sensasi lain menikmati liburan dengan mengapresiasi sebuah kemasan pameran seni rupa berikut detail setiap karyanya. Penikmat pameran diajak untuk menikmati liburan alam nan hijau ala Mulyo Gunarso atau keindahan bunga-bunga yang sarat simbol milik Nur Milisani. Bisa juga mengikuti liburan bertema urban art namun tetap bernuansa lokal bersama Rizqy Ramadhan (Vyo), atau mau ke negeri dongeng yang penuh fantasi bersama karya Tina Wahyuningsih dan pilihan lain yang diberikan Vina Puspita, dengan liburan ala backpackers di negeri sendiri hingga ke Eropa. Memaknai liburan dengan mengapresiasi 22 karya seni yang sedang dipamerkan saat ini, merupakan alternatif bentuk edukasi, pencerahan wawasan dan pelengkap kebutuhan psikologis yang ditawarkan Hotel Duta Wisata I, Yogyakarta kali ini.

MULYO GUNARSO
[Lahir di Kediri, 31 Juli 1979 | Lulus dari ISI, Yogyakarta]
Mulyo Gunarso, seniman yang kuat di aliran realis. Karya-karyanya pada seri ini, menggambarkan tentang dampak negatif dari pertumbuhan industri yang tidak memihak kepada kelestarian lingkungan hidup & makhluk hidup yang ada didalamnya. Karya realisnya yang  terkesan halus sebenarnya mengandung banyak sindiran atau ironi atas perilaku tak etis segolongan oknum yang mengkorupsi sumber daya alam untuk kepentingan pribadinya. Mulyo rajin mengikuti kompetisi dan seringkali masuk sebagai finalis bahkan pemenangnya, seperti kompetisi UOB Painting of the Year (2011), Tujuh Bintang Art Award (2009) dan masih banyak lagi. Mulyo aktif mengikuti pameran bersama, juga aktif berkesenian dengan kelompoknya yakni Denting.

NUR MILISANI
[Lahir di Palembang, 12 Desember 1975 | Lulus dari Universitas Sarjana Wiyata Taman Siswa Yogyakarta]
Nur Milisani memulai karya dengan seri bunga di tahun 2011. Dimana sebelumnya, karyanya beraliran abstrak sepenuhnya. Saat ini, Nur, memberikan perpaduan antara aliran abstrak  dekoratif pada karya-karyanya. Seri lukisan bunga Nur Milisani kurang lebih menggambarkan deskripsi tangkai yang meliuk sebagai gambaran keras dirinya menjalani hidup. Ada banyak rintangan yang memerlukan ketangguhan. Bunga merujuk pada kelembutan perempuan. Kedua objek ini ditopang pot kecil sebagai simbol kekuatan menghadapi beragam cobaan hidup. Pot bunga yang digambarkan lebih kecil daripada bunga & tangkainya menyimbolkan sesuatu yang kecil bisa menghasilkan hal besar. Tercatat sejak tahun 1991 mulai berkarya, tetapi baru berkesempatan menggelar pameran tunggalnya di tahun ini, Juni 2013 di Tirana Artspace dengan tema ‘Dance of Flower Tree’.

RIZQY RAMADHAN (VYO)
[Lahir di Cirebon, 9 April 1989 | Studi di Insitut Seni Indonesia, Yogyakarta]
Mahasiswa ISI semester akhir ini menyukai budaya pop kekinian yang tergambarkan dari aliran karyanya. Tetapi bila kita cermati, meskipun bertema pop art, konsep yang ia usung mengedepankan kelestarian budaya lokal & keberpihakan pada isu sosial di sekitar wanita. Ia mengamati budaya tradisonal saat ini memang seperti kehilangan ruhnya atau setidaknya tidak jelas arah dan tujuannya. Hedonisme yang kini melanda kebudayaan lokal telah mampu menggeser parameter dalam melaksanakan suatu kewajiban. Tidaklah mengherankan bila semakin lama semakin banyak unsur kebudayaan Indonesia yang tergilas bahkan ditinggalkan. Sejak 2010 hingga sekarang aktif mengikuti pameran di Yogyakarta, Cirebon dan Surabaya. Pameran terbarunya di tahun 2012, duo show bersama rekannya Rendy Aditya, ‘Skate Bengal’, di Piknik Project Art Space, Cirebon.

TINA WAHYUNINGSIH
[Lahir di Purwokerto, 11 Agustus 1977 | Sarjana Psikologi dari Universitas Sanata Dharma Yogyakarta]
Sebelumnya, Tina Wahyuningsih banyak membuat karya soft toys (boneka dan sejenisnya). Sejak 2012, Tina melebarkan potensinya dengan membuat karya diatas kanvas. Tak jauh berbeda dengan karya-karya bonekanya, karya lukisnya sarat dengan figur-figur dan nuansa imajinasi dongeng ala Eropa. Meski mengaku berkiblat pada dongeng Eropa, Tina tetap memasukkan unsur lokal/tradisi pada karyanya, entah terselip dari judul karya atau konsep yang ia coba bangun.  Tina baru saja menyelesaikan gelaran pameran tunggal keduanya, Maret-April 2013 di Tirana Artspace, Yogyakarta dengan tema ‘Playing with Mind’. Dimana sebelumnya pameran tunggal perdana Desember 2011, ‘Mimpi Dunia Empuk’ di Via Via Café Traveller, Yogyakarta.

VINA PUSPITA
[Lahir di Jakarta, 7 Januari 1988 | Masih menempuh studi di Insitut Seni Indonesia, Yogyakarta]
Sebagai seorang perupa yang mencintai travelling, se-ala mampunya (atau biasa dikenal dengan backpacker tourist); Vina banyak mengunjungi tempat-tempat baru, melihat keindahan bumi dari sudut lain. Dan menikmati pengalaman perjalanan yang tak bisa terduga, membuat isi kepala Vina dipenuhi dengan memori dan mimpi. Tentu saja semua itu tak bisa dibendung sendiri, dimana ia tuangkan dan kerap ingin sekali ia ceritakan, yaitu melalui lukisan. Sejak tahun 2009 hingga sekarang, Vina masih aktif mengajar lukis di komunitas Sahabat Anak dan juga seorang desainer grafis. Beberapa kali juga menggelar pameran lukisan di hotel-hotel di Jakarta (2003-2005).  Tahun 2012 memutuskan ke Yogyakarta dan mendalami studi seni rupa di ISI, Yogyakarta.