Wednesday, September 19, 2007

Summary Pameran Jogja Gallery



TENTANG JOGJA GALLERY [JG]

Daerah Istimewa Yogyakarta [DIY] merupakan kota budaya, bersejarah dan potensial untuk dikembangkan menjadi salah satu pusat tujuan pariwisata internasional. Sebagai kota yang memiliki kekayaan seni dan seniman-seniman bertaraf dunia, Yogyakarta memerlukan gebrakan baru dalam memfasilitasi potensi tersebut, dan hal yang belum dimiliki adalah sebuah galeri seni dengan kualitas dan tekonolgi bertaraf internasional. Untuk itu Jogja Galleru hadir di tengah-tengah pesatnya perkembangan seni visual Indonesia

Jogja Gallery [JG], sebagai ‘Gerbang Budaya Bangsa’ berdiri di Yogyakarta, 19 September 2006. Diresmikan penggunaannya oleh Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta [DIY], Sri Sultan Hamengku Buwono X. Bertempat di 0 (nol) kilometer atau Alun-alun Utara, berada di kawasan heritage, pusat kota Yogyakarta, menempati bekas gedung bioskop Soboharsono (berdiri 1929) yang telah berfungsi sejak jaman penjajahan Belanda. Jogja Gallery sebagai galeri seni visual yang didirikan oleh PT Jogja Tamtama Budaya, bekerja sama dengan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat (selaku pemilik tanah dan bangunan) membawa peran penting yaitu sebagai media pertemuan antara pekerja seni dengan masyarakat luas. Program pelayanan publik yang telah dirancang antara lain pameran berkala, kerja sama non pameran, friends of Jogja Gallery, perpustakaan, art award forum, lelang karya seni, art shop, kafe dan restoran.

STRUKTUR ORGANISASI JOGJA GALLERY
Dewan Pengawas : KGPH Hadiwinoto, Bambang Soekmonohadi
Dewan Penasehat : Dr. Oei Hong Djien, Prof. Soedarso SP, M.A.
Direktur Utama : Sugiharto Soeleman
Direktur Pengembangan : Soekeno
Direktur Eksekutif : KRMT. Indro ‘Kimpling’ Suseno
Kurator : Mikke Susanto
Manajer Program : Nunuk Ambarwati
Manajer Keuangan : Endah Wahyuningsih
Sekretaris : Elly A. Mangunsong, Herdhiningrum Oktya Dewi
Staf Keuangan : Kusuma Febriani Putri
Staf Pameran : R. Daru Artono, Puji Rahayu, Norisma Andi S
Staf Teknis : Nanang Sukriyanto, FX. Dwi Hartanto
Staf Umum : Mudita Arya Kirana, Kuwat
Resepsionis : Suprapti
Staf Keamanan : Soni, Tri, Nur & PT Total Security
Desainer grafis : Dimas Bayu Arfianto
Penjaga pameran : Junia Sriwiwita, Zulfan Siahaan, Jeffer Simangunsong
Office boy & cleaning service : CV Yogya Yatra

Jam buka galeri – Selasa – Minggu; Senin tutup, pukul 09.00 – 21.00 WIB
Tiket masuk – Rp. 3.000,- / orang

Jogja Gallery [JG]Jalan Pekapalan No 7, Alun-alun Utara Yogyakarta 55000
Telepon +62 274 419999, 412021
Telepon/Fax +62 274 412023
Telepon/SMS +62 274 7161188, +62 888 696 7227
Email : jogjagallery@yahoo.co.id
info@jogja-gallery.com
http://www.jogja-gallery.com/


PAMERAN SENI VISUAL DI JOGJA GALLERY
SEPTEMBER 2006 – SEPTEMBER 2007

1+ 2 a. Pameran Seni Visual ‘ICON: Retrospective’ (19 September – 20 November 2006)Sifat pameran: kelompok, undangan
Kurator: M. Dwi Marianto dan Mikke Susanto
Seniman peserta: Affandi, Fadjar Sidik, Widayat, Aming Prayitno, Edhi Sunarso, Nyoman Gunarsa, Made Wianta, G. Sidharta, Sudarisman, Suatmadji, FX. Harsono, Bonyong Munny Ardhi, Hardi, Haris Purnama, Tulus Warsito, Ivan Haryanto, Ronald Manullang, Dede Eri Supria, Moelyono, Studio ‘Brahma Tirta Sari’: Agus Ismoyo & Nia Fliam, Eddie Hara, Heri Dono, Agus Kamal, Boyke Aditya, Nengah Nurata, Ivan Sagita, Sutjipto Adi, Lucia Hartini, Linda Kaun, Nindityo Adipurnomo, Mella Jaarsma, Dadang Christanto, Anusapati, Djoko Pekik, Entang Wiharso, Nasirun, Hedi Hariyanto, Agus Suwage, Agung Kurniawan, Hanura Hosea, Kelompok Seni Rupa Jendela, Made Sumadiyasa, Made Sukadana, Putu Sutawijaya, Nyoman Sukari, Noor Sudiyati, Iwan Wijono, Ugo Untoro, S. Teddy D, I Nyoman Masradi, Kelompok Apotik Komik, Komunitas Seni & Budaya Taring Padi, Ruang MES 56, Eko Nugroho & Daging Tumbuh, Abdi Setiawan, Budi Kustarto, the House of Natural Fiber, Yuli Prayitno, pameran ‘Yogyapan-Jepangkarta’: Seiko Kajiura, Yogyakarta Urban Art Movement, Sigit Santoso.

Pameran ini merupakan penanda berdirinya Jogja Gallery. ‘ICON’ mengetengahkan berbagai fenomena, karya atau person yang menjadi tajuk penting pada era 1970-2000 di Yogyakarta. Melalui pameran yang bersifat retrospektif semi dokumenter ini, Jogja Gallery berharap sebagai bentuk awal dari bentuk penghargaan dan terima kasih kami kepada para perupa yang terlibat dan mewarisi dan mengembangkan seni-budaya yang mewarnai budaya kota Yogyakarta ini.

b. ‘Pallingjang : Salt Water’ (19 September – 20 November 2006)Sifat pameran: kelompok, undangan
Kurator: Peter O’ Neill
Seniman peserta: Jo Davis, Robyn Charles, Charles Wilson, Ben Brown, Kevin Maxwell Butler, Marylin (Mally) Smart, Garry Jones, Reggie Ryan, Leanne Morris, Vicki Slater, David Dunn, Lindy Lawler, Lynette Moylan, Gwendolin Stewart, Val Saunders, Jodi Stewart, Georgina Parson, Mathew Carriage.
Pameran koleksi seni lukis Aborigin bekerja sama dengan Wollongong University, Australia.
Merupakan pameran yang menampilkan karya seniman Aborigin dari Illawarra dan South Coast Australia.

3+4 a. ‘Young Arrows: 40 Perupa Muda Terdepan Indonesia’ (2 Desember – 5 Januari 2007)Sifat pameran: kelompok, undangan dan kompetisi terbuka
Kurator: M. Dwi Marianto dan Mikke Susanto
Seniman peserta: AC. Andre Tanama, Ade Darmawan, Adi Gunawan, Agus Yulianto, Ahmad Sobirin, Ayu Arista Murti, Caroline Rika Winata, Anang Asmara, AT. Sitompul, Dadi Setiyadi, Dewa Ngakan Made Ardana, Dewi Aditya, Dipo Andi, Eddy Sulistyo, Feri Eka Chandra, G. Prima Puspitasari, Heri Purwanto, I Made Gede Surya Darma, I Made Arya Palguna, I Wayan Kun Adnyana, I Wayan Sudarna Putra, I Wayan Upadana, Januri, AG. Kus Widananto a.ka. Jompet, Laksmi Sitharesmi, M. Yusuf Siregar, Moch. Sofwan Zarkasi ‘Kipli’, Nano Warsono, Polenk Rediasa, Samsul Arifin, Saroni, Setu Legi a.k.a Hestu, Suroso [Isur], Teguh Wiyatno, Terra Bajragosha, Wahyu Santosa, Waluyohadi, Wedhar Riyadi, Wibowo Adi Utama, Wimo Ambala Bayang.

Mengapa diberi judul Young Arrows yang terjemahan harafiahnya ‘anak-anak panah muda’? Frase metaforik ini menerangkan pameran kedua di Jogja Gallery yang mengupayakan hadirnya karya-karya sejumlah perupa yang usianya paling tua 35 tahun. Via pameran ini Jogja Gallery menganggap perlu mengumpulkan karya yang secara menarik merefleksi jaman dari para perupa muda untuk dipamerkan bersama, dilihat secara keseluruhan, guna dimaknai sebagai salah satu fenomena perkembangan kesenirupaan negeri ini.

b. ‘Rhytm and Passion’ (2 Desember – 5 Januari 2007)Sifat pameran: kelompok, undangan
Kurator: M. Dwi Marianto dan Mikke Susanto
Seniman peserta: Askanadi, Made Wiguna Valasara, Beatrix Hendriani Kaswara, Nanda Hanifa Kamal, I Wayan Sudjana ‘Suklu’, Yon Indra, Yunizar.

Pameran ini memperlihatkan kecenderungan lain yang menarik dalam perkembangan seni lukis di Indonesia dewasa ini. Kecenderungan yang digulirkan, meskipun secara kuantitas (jika dibandingkan jumlah perupa di Indonesia) terbilang kecil, namun penting dikemukakan sebagai bukti atas bergeraknya dunia pemikiran seni rupa. Kecenderungan menarik yang dimaksud adalah mengarah ke penggunaan salah satu unsur penting dalam kajian seni rupa: garis.

5. ‘Id : Hanafi’ (13 Januari – 2 Februari 2007)
Sifat pameran: tunggal, pameran keliling
Kurator: Jim Supangkat dan Arief Ash Sidiq
Seniman: Hanafi

Pameran tunggal karya seniman Hanafi yang merupakan kerjaa sama O House Gallery, Jakarta dengan Jogja Gallery. Pameran ini merupakan bagian dari pameran keliling Hanafi, yang dikenal dengan karya abstraknya, dimana sebelumnya diselenggarakan di Galeri Nasional, kemudian ke Jogja Gallery, ke Bali dan selanjutnya ke Barcelona, Spanyol.

6+7 a. ‘Bonding the Brotherhood between Tunisia and Indonesia’ (10 – 20 Februari 2007)Sifat pameran: kelompok
Seniman peserta: Abdelmaksoud Najoua, Belkhodja Nejib, Bellagha Ali, Ben Yahia Basma, Bouderbala Meriem, El Bekri Abdelmajid, Gorgi Abdelaziz, Hajjeri Ahmed, Hnene Mokhtar, Karabibene Halim, Mehdaoui Nja, M’Naouar Asma, Thabouti Adbelhamid, Thabti Neji, Zouari Mohamed.

Kerjasama dengan Kedutaan Besar Republik Tunisia di Jakarta– sebuah pameran seni lukis karya 16 seniman asal Tunisia. Pameran ini bertujuan untuk meningkatkan hubungan antara dua komunitas: negara, bangsa dan rakyat Tunisia dan Indonesia.

b.‘Agraris Koboi!’ (10 – 20 Februari 2007)
Sifat pameran: kelompok, undangan
Kurator: Mikke Susanto
Asisten kurator: Yohanes Sumaryanto Nurjoko
Seniman peserta: Agus Yulianto, Arie Dyanto, Decky ‘Leos’ Firmansyah, Eko Dydik ‘Codit’ Sukowati, ‘Iyok’ Prayogo, Iwan ‘Pandir’ Effendi, Krisna Widyathama, Nano Warsono, Riono Tanggul a.ka. Tatang, Uji ‘Hahan’ Handoko, Wedhar Riyadi.

Pameran ini mengetengahkan fenomena seni rupa kontemporer di Yogyakarta yang konon masih dianggap sebagai bagian dari kultur besar [sub kultur]. Memberi ketegasan untuk menandai mereka, perupa peserta pameran, dalam satu gaya/fenomena yang di sela berbagai kecenderungan yang berkembang di Yogyakarta.

8. Pameran dan bursa seni lukis ‘EKSISTEN’ (27 Februari – 25 Maret 2007)
Sifat pameran: kelompok, undangan
Kurator: Mikke Susanto
Exhibition advisor: Heri Pemad
Seniman peserta: Agus Triyanto BR, Aji Yudalaga, Anang Asmara, Anggar Prasetya, Andy Wahono, Bambang Herras, Dedy Maryadi, Denny ‘Snod’ Susanto, Didik Nurhadi, Erizal AS, Hadi Soesanto, Hamdan, Herly Gaya, I Gusti Ngurah Udiantara, I Nyoman Darya, Iwan Sri Hartoko, Julnaidi MS, Kusmanto, Luddy Astaghis, M. Andi Dwi, Nanang Warsito, Nasirun, Nico Siswanto, Niko Ricardi, Oskar Matano, Robi Fathoni, Saepul Bahri, Riduan, Slamet ‘Soneo’ Santoso, Setyo Priyo Nugroho, Sito Pati, Stefan Buana, Wara Anindyah.

Pameran ini diselenggarakan turut merespon pasar malam dan agenda tahunan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat: SEKATEN. Dalam pameran ini perupa diharapkan dapat memberi sumbangan kreatif berupa karya-karya yang memiliki tema untuk mengingat kembali keberadaan dan sejarah kota Yogyakarta. Hal ini menarik dilakukan agar publik merasakan kembali bagaimana kota Yogyakarta yang telah berusia 250 tahun ini berjalan.

Meskipun pameran ini pada dasarnya mendukung gebyar pasar malam SEKATEN, tetapi juga menyimpan tujuan yang sangat berarti yaitu memberi rangsangan untuk mengingat berbagai kejadian dan situasi yang telah, sedang dan mungkin akan terjadi di Yogyakarta. Gambaran-gambar tentang berbagai aktivitas (yang menjadi perhatian banyak orang Jogja), polemik (tentang berbagai kebijakan dan kejadian kota), atau ruang-ruang publik Jogja dapat dikaitkan dengan isi dan tema karya yang akan dipamerkan dalam pameran ini. Adapun secara konsep teknis dan visual, pameran ini membuka peluang terhadap berbagai gaya, pendekatan visual maupun aliran pemikiran.

9+10 ‘Domestic Art Objects & StillLife’ (1 – 15 April 2007)
Sifat pameran: kelompok, undangan dan kompetisi terbuka
Kurator: Mikke Susanto
Asisten kurator: Ronald Apriyan
Exhibition advisor: Eko Agus Prawoto dan Hermanu
Seniman peserta: Yani Mariani Sastranegara, Hardiman Radjab, Eko Agus Prawoto, F. Sigit Santoso, I Wayan Sudjana ‘Suklu’, Awan Simatupang, I Wayan Cahya, Hadi Soesanto, Noor Ibrahim, Probo, M. Pramono Irianto, Ali Umar, Hedi Hariyanto, Kokok P Sancoko, Grace Tjondronimpuno, Sri Maryanto, Alexis, Waluyohadi, Prilasiana, Indrayanti, Aji Yudalaga, Putu Agus Sumiantara, Ketut Moniarta, Dieta Gambiro, Made Dodit Artawan, Eka Kusumatuti, Hariadi Nugroho, Made Gede Wiguna Valasara, I Putu Aan Juniarta, Khusna Hardiyanto, Koes ‘Doyok’ D, Mochammad Jamaludin, Winarso, Yulius Heru P, Vani HR.

Pameran ini adalah sebuah contoh bagaimana perupa menghilangkan sekat-sekat disiplin seninya. Ia bahkan juga bertindak menghilangkan batas-batas konvensi seni. Lalu melahirkan ’kesan antara’ benda seni dan bukan, menghilangkan perbedaan antara benda fungsi dan bukan, atau mencerai-berai status antara benda elite dan massal. Dalam pameran ini, 35 perupa (dari Yogyakarta, Jakarta, Bandung, Solo, Bali, Surabaya) secara khusus mengolah benda-benda keluarga atau rumah tangga. Mereka boleh mengungkapkan ide-idenya dengan pendekatan yang berbeda. Hasilnya terlihat bahwa pendekatan parodi dan formalisme menjadi pilihan yang sering dipakai. Sehingga yang muncul di sana adalah kesan unik, kontekstual, sekaligus cerdas menyiasati ruang. Dengan begitu, Anda sebagai penonton disuguhi karya-karya yang memiliki spirit belajar dan bermain. Inilah perjalanan proses kreatif ‘baru’ dari refleksi budaya kontemporer. Dimana simplicity, dekonstruktif, interaktif, dan konseptual menjadi nilai investasinya.

11. ‘The Thousand Mysteries of Borobudur’ (20 April – 9 Mei 2007)

Sifat pameran: kelompok, undangan & kompetisi terbuka
Kurator: Mikke Susanto
Seniman peserta: Affandi, Daoed Joesoef, Srihadi Soedarsono, IGN Hening Swasono PH, Pius Sigit Kuncoro, Dani Agus Yuniarta, Ismail, Ismanto, Heri Purwanto, Toni Ja’far, Riduan, I Made Supena, Agung ‘Tato’ Suryanto, Andi Hartana, Arif Sulaiman, Cipto Purnomo, Eko ‘Kota’ Haryono, Endra, Erianto, Erizal AS, Gatot Indrajati, Ismed [SAJO], Mufi Mubaroh, Setiawan Nugroho, Setyo Priyo Nugroho, Ugy Sugiarto, Slamet ‘Soneo’ Santoso, Studio Samuan, M. Faizal R, I Gede Made Surya Darma, Marselli Sumarno, Jay Subiakto, Garin Nugroho, Sigit Ariansyah.

Merupakan pameran seni visual hasil kerjasama dengan UNESCO Office, Jakarta, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI dan Jogja Gallery, yang menggandeng mitra kerja Universitas Gadjah Mada [UGM] Yogyakarta, PT Taman Wisata Candi, Balai Konservasi Peninggalan Borobudur dan Jogja Film Commission. Pameran yang dibuka Jumat, 20 April 2007, menandai bahwa Borobudur telah hidup kembali. Lewat tampilan-tampilan seni visual dari berbagai karya baik lukisan, patung, grafis, fotografi, video dan sebagainya sebagai sebentuk ‘saksi’ atas eksistensi Borobudur. Disamping itu pula, terselenggaranya pameran ini merupakan hasil kerja sama yang harmonis dari berbagai kalangan, baik swasta mau pun pemerintah guna lebih meningkatkan, mendukung dan mempromosikan pariwisata dan kebudayaan Indonesia, yang merupakan tanggung jawab semua pihak.

Dalam kaitan pameran ini, penyelenggara juga menggelar serangkaian program edukasi yang bekerja sama dengan berbagai pihak. Berbagai program edukasi tersebut akan difokuskan pada isu terkini perihal Borobudur dan warisan saujana yang melingkupinya. Program edukasi ini menjadi dianggap poin penting pula dalam rangkaian kegiatan ini oleh pihak penyelenggara, terutama UNESCO, sebagai salah satu bentuk pendidikan alternatif kepada kalangan akademisi untuk lebih mensosialisasikan berkaitan dengan banyak displin ilmu [sejarah, arsitektur, arkeologi, seni rupa, religi dan sebagainya] mengenai Candi Borobudur.

12. ‘Transposisi : Lukisan-lukisan Kolektor Jateng –DIY’ (22 Mei – 26 Juni 2007)Sifat pameran: kelompok, undangan
Kurator: Mikke Susanto
Exhibition advisor: Dr. Oei Hong Djien
Kolektor peserta pameran: Alexander Ming, Butet Kertaredjasa, Bambang Soekmonihadi, Deddy Irianto, Deddy PAW, Harsono, Hasan Berlian/Siswanto HS, Nasirun, Oei Hong Djien, Oki Widiyanto, Rahadi Saptata Abra, Simon Tan Kian Bing, Soekeno, Sugiharto Soeleman.
Seniman peserta pameran: Affandi, Agus Kamal, Anthony David Lee, Anton Huang, Amri Yahya, Bambang Darto, Bagong Kussudiardja, Budi Ubrux, Erica Hestu Wahyuni, Fadjar Sidik, Gusti Alit Cakra, Gusmen Hariadi, Hardi, Handiwirman Saputra, Hendra Gunawan, Ivan Sagita, Liu Guoqiang, Lucia Hartini, Nashar, Otto Djaja, Pupuk Daru Purnomo, S. Soedjojono, Semsar Siahaan, Sugiyo Dwiharjo, Suatmadji, Tulus Warsito, Vincent van Gogh.
Melalui pameran ini diundang sejumlah kolektor. Mereka menampilkan koleksi mereka yang secara khusus mewakili tujuan dari aksi mengoleksinya. Mereka rata-rata tinggal di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta [DIY]. Memamerkan koleksi lukisan para kolektor, merupakan upaya Jogja Gallery untuk memberikan apresiasi kepada para kolektor, betapa kiprah mereka telah memberikan sumbangan besar terhadap kemajuan peradaban seni rupa Indonesia. Sekaligus juga memberikan kesempatan kepada masyarakat umum, untuk memasuki ‘alam’ dunia koleksi, sehingga diharapkan dapat memberikan dorongan terhadap pertumbuhan masyarakat kolektor.

13. Pameran seni visual Post-Kaligrafi - ‘Kalam dan Peradaban’ (7 Juli – 12 Agustus 2007)
Sifat pameran: kelompok, undangan
Kurator: Mikke Susanto
Seniman peserta: Agus Kamal, Arahmaiani, AD. Pirous, Anwar Sanusi, Abay D. Subarna, Alperd Roza, Chusnul Hadi, D. Sirojuddin AR, Erna Garnasih Pirous, Hendra Buana, Is Hendri Zaidun, Ismanto, KH. Mustafa Bisri, M. Pramono Irianto, Meri Suska, Muhammad Zuhri, Nasirun, Nasrul, Rispul, Robeth Nasrullah, Sunaryo, Salamun Kaulam, Syahrizal Koto, Syaiful Adnan, Titarubi, Tulus Warsito, Yetmon Amier, KH. D. Zawawi Imron, Zulkarnaini.
Sepanjang masa, kaligrafi telah dikenal sebagai sebuah kebudayaan tersendiri. Kaligrafi mendapat tempat terhormat dalam perkembangan seni Islam, termasuk yang terjadi dalam bidang arsitektur sampai ke syair. Kaligrafi adalah dasar dari seni perangkaian titik-titik dan garis-garis pada pelbagai bentuk dan irama yang tiada habisnya serta tidak pernah berhenti merangsang ingatan (dzikir) akan situasi hati.
Kaligrafi adalah sebutan yang mengarah pada penjelmaan perasaan seseorang, melewati huruf. Penjelmaan jiwa duniawi yang secara terus-menerus memberi pesan spiritual. Menurut Hossein Nasr, beberapa pokok penting dalam kaligrafi misalnya: pertama, mengenai hubungan atau pertalian asal seni ini antara Ali (wakil par excellece dari esoterisme Islam setelah Nabi) dengan beberapa tokoh spiritual Islam pertama yang dipandang sebagai kutub tasawuf dalam Islam Sunni serta imam-imam Syafi’i. Kedua, kaligrafi ditulis oleh tangan-tangan manusia yang terus dipraktikkan secara sadar sebagai emulasi manusia terhadap Tindakan Tuhan, meskipun “jauh dari sempurna”. Ketiga, kaligrafi tradisional didasari oleh sebuah ilmu pengetahuan tentang seluk-beluk dan irama geometris yang tepat.

14. Pameran seni lukis Creative Drawing Exhibition - karya anak-anak siswa Global Art ‘Bersemangat Meraih Cita-cita’ (10 – 12 Agustus 2007)
Jika kita berbicara tentang pameran lukisan;, pastilah yang terlintas dalam benak kita adalah hasil karya seniman dewasa profesional, dengan seluruh sisi pandang seni dan pola pikir yang mungkin hanya bisa dinikmati oleh golongan tertentu. Atribut aliran; yang dikenakan pada lukisan pun beraneka ragam, seperti: aliran realis, surrealisme, abstrak, dan lain sebagainya.
Namun kapankah kita pernah melihat sebuah pameran lukisan hasil karya anak-anak? Global Art Jogja mengadakan sesuatu yang berbeda dari pameran biasanya, yaitu pameran karya anak; yang menampilkan lukisan siswa-siswi Global Art yang tentu saja sebagai anak-anak, mereka masih polos, naif, namun penuh semangat, disiplin, berdedikasi, dan potensial! Pameran tersebut akan dikemas dengan profesional, termasuk acara lelang lukisan untuk tujuan sosial, sehingga siswa-siswi dapat menjadi insan yang peduli dengan orang lain dan membanggakan orang tua mereka.
Tujuan pameran ini adalah kami mengarahkan aktivitas seni; sebagai jembatan siswa-siswi untuk menapaki kehidupannya. Satu langkah pertama yang penting namun (disayangkan) sering terabaikan adalah membuat CITA-CITA.

15. Pameran Seni Visual dalam rangka turut memperingati 200 Tahun Raden Saleh, dengan tema ‘Ilusi-Ilusi Nasionalisme’ (18 Agustus – 9 September 2007).Sifat pameran: kelompok, undangan & kompetisi terbuka
Kurator: Mikke Susanto
Seniman peserta pameran: Abay D. Subarna, Ahmad Sobirin, AS. Kurnia, Astari Rasjid, Askanadi, Andy Wahono, Anang Asmara, Bambang Pramudiyanto, Bambang Sudarto, Budi Kustarto, KH. D. Zawawi Imron, Denny ‘Snod’ Susanto, Dadi Setiyadi, Dani Agus Yuniarta, Deni Junaedi, Dyan Anggraini Hutomo, Doel AB, Elyezer, Eddy Sulistyo, Eduard [Edo Pop], Eko Didyk ‘Codit’ Sukowati, Gatot Indrajati, Gusar Suryanto, Hanafi, Haris Purnomo, Heri Dono, Ivan Sagito, Imam Abdillah, Made Wiguna Valasara, Melodia, Mulyo Gunarso, Nana Tedja, Nanang Warsito, Nurkholis, Putut Wahyu Widodo, Pius Sigit Kuncoro, Pintor Sirait, R. Aas Rukasa, Riduan, Rosid, Ronald Manullang, Rudi Winarso, S. Teddy D, Samsul Arifin, Suraji, Suroso [Isur], Ugy Sugiarto, Willy Himawan, Wilman Syahnur, Yuswantoro Adi.

Pameran ini dilaksanakan dalam rangka turut menyemarakkan hari Kemerdekaan RI yang ke-62 dan memperingati eksistensi almarhum Raden Saleh Syarif Bustaman. Pameran yang diselenggarakan secara reguler oleh Jogja Gallery kali ini bersifat pameran kelompok, berskala nasional [diikuti oleh kurang lebih 40 perupa Indonesia] dan akan mengetengahkan karya-karya terkini perupa Indonesia yang mengambil inspirasi dari ikon seni Indonesia pertama yang berhasil mempengaruhi dan memperkenalkan Indonesia kepada dunia luar, yaitu Raden Saleh Syarif Bustaman. Dalam pameran ini kami mengajak para perupa ternama Indonesia untuk secara khusus mencermati lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro, bukan yang lain. Karena dengan lukisan ini semangat nasionalisme (oleh sebab itu pameran ini diselenggarakan pada bulan Agustus yang sakral bagi bangsa Indonesia), hendak diuji kembali, dikaji kembali dalam bentuk apa saat ini nasionalisme tersebut berjalan. Dalam beberapa hal, lukisan Raden Saleh ini juga memuat misteri yang tidak saja visual, namun juga dapat melahirkan lagi misteri dan ilusi-ilusi tentang berhagai hal yang lain. Dalam pameran ini juga dipamerkan reproduksi karya lukisan Raden Saleh Syarif Bustaman ‘Penangkapan Pangeran Diponegoro’ yang merupakan koleksi Istana Kepresidenan Republik Indonesia di Yogyakarta [Gedung Agung].

16. Pameran Seni Visual 1st Anniversary of Jogja Gallery ‘Portofolio #1’
(19 September – 21 Oktober 2007)
Sifat pameran: kelompok, terbuka
Kurator: Mikke Susanto
Alexis, Andy Wahono, Antoni Eka Putra, Anthony David Lee, Arie Dyanto, AT. Sitompul, Catur Bina Prasetya, Denny ‘Snod’ Susanto, Deddy PAW, Didik Nurhadi, Dadi Setiyadi, Djoko Pekik, Donna Prawita Arrisuta, Erizal AS, Feri Eka Chandra, Hamdan, Hari Budiono, Heri Purwanto, KRMT. Indro ‘Kimpling’ Suseno, I Gede Made Surya Darma, I Gusti Ngurah Udiantara, I Made Arya Palguna, I Made Supena, Iwan Effendi, I Wayan Cahya, I Wayan Sujana ‘Suklu’, I Wayan Sumantra, Januri, Luddy Astaghis, Mikke Susanto, M. Irfan, Made Wiguna Valasara, Muji Harjo, Mulyo Gunarso, Nanang Warsito, Nasrul, Nasirun, Nadiah Bamadhaj, Nico Siswanto, Niko Ricardi, Puji Rahayu, Riduan, Robi Fathoni, Saftari, Suraji, Syahrizal Zain Koto, Suroso [Isur], Wahyu Santosa, Wibowo Adi Utama, Yani Mariyani Sastranegara.

Pameran reportatif mengenai perjalanan pameran seni visual di Jogja Gallery sepanjang tahun 2007 sekaligus merayakan eksistensi 1 tahun berdirinya Jogja Gallery. Dalam pameran ini akan ditampilkan kembali karya-karya terbaru dari seniman-seniman yang pernah pameran di Jogja Gallery.


Tuesday, July 10, 2007

Sekitar Pencarian Bentuk Dalam Kaligrafi

Oleh KH. D. Zawawi Imron

Makalah disampaikan dalam diskusi pendukung
Pameran seni visual Post-Kaligrafi ’Kalam & Peradaban’

Tema: ’Lokalitas & Seni Kaligrafi di Indonesia’
Jogja Gallery, Yogyakarta, Minggu, 8 Juli 2007 / pukul 09.00 – 11.00 WIB

Bismillahhirrahmanirrahim

Makalah ini teramat sempit untuk memberikan gambaran sejarah kaligrafi Arab dengan
lika-liku perjalanan yang sangat panjang. Tetapi, yang patut dicatat bahwa sebelum Islam, huruf Arab yang berasal dari Hieroghlip. Kemudian dari era ke era menemukan bentuk yang dikenal sebagai khath kufi, bentuknya masih sangat sederhana, dan sulit dibaca oleh orang yang bukan Arab karena belum ada titik, dan belum memakai harakat seperti yang berkembang kemudian.

Kedatangan Muhammad Rasulullah SAW dengan kitab suci al-Quran telah membawa perubahan bagi penyempurnaan huruf Arab. Meskipun Muhammad seorang Nabi yang ummi (tidak bisa baca tulis), tetapi ia sangat menekankan betapa pentingnya kamum Muslimin untuk belajar membaca dan menulis. Musuh yang ditangkap dan menjadi tawanan perang, kemudian dibebaskan setelah berhasil mengajar anak-anak muslim membaca dan menulis. Hal ini dimaksudkan agar ummatnya dapat dengan mudah menulis dan mempelajari al-Quran.

Dari zaman pemerintahan Khulafaurrasyidin, kemudian zaman Bani Umayyah, sampai zaman keemasan kebudayaan Islam pada pemerintahan Daulat Abbasiyah, khath (kaligrafi) Islam semakin memenuhi syarat untuk menuliskan firman-firman Allah, bukan karena bentuknya yang semakin sempurna, tetapi lebih dari itu nilai keindahannya yang semakin tinggi. Keindahan irama bahasa yang penuh pesona pada al-Quran agaknya diusahakan tercermin pada kehalusan rasa para khathath (penulis huruf Arab) sehingga muncul bentuk-bentuk huruf Nasakhi yang jelaa dan manis, Tsulusi yang anggun, Riq`ah yang ekspresif, Diwani yang terbelit, Farisi yang berirama seolah-olah hendak roboh ke kanan, dan bentuk-bentuk yang lain.

Disamping untuk menulis ayat-ayat al-Quran, surat-surat administrasi pemerintahan, kitab-kitab agama dan kitab-kitab ilmu pengetahuan, hurup Arab juga dijadikan hiaan untuk memperindah mesjid. Sampai sekarang, dua mesjid yang paling bersejarah dalam Islam, yaitu Mesjidil Haram di kota Mekah dan Mesjid Nabawi yang terletak di jantung kota Madinah, kalau kita masuk ke dalamnya akan tampak adanya kaligrafi dengan nilai artistik yang tinggi yang isinya mengagungkan nama Allah

Setelah Islam masuk ke Indonesia, dengan sendirinya al-Quran juga menjadi bacaan utama kaum muslimin. Putera-puteri di kawasan Nusantara juga belajar baca al-Quran serat khat Arab. Kitab-kitab agama, cerita-cerita kepahlawanan serta hikayat dan dongeng juga ditulis dalam hurup Arab. Khat kitab-kitab berbahasa Melayu di Jawa disebut hurup Arab Melayu. Sedangkan di kalangan orang Melayu, Malaysia dan Brunei hurup Arab itu disebut huruf Jawi. Pengiran Dr. Haji Muhammad bin Pengiran Haji Abd. Rahman menyatakan dalam Majelis Sastra Asia Tenggara (Mastera) 2003, “Kesemua institusi dan dokumen (di Brunei Darussalam, Pen) menggunakan bahasa Melayu dan tulisan Jawi.” Yang dimaksud tulisan Jawi di sini adalah hurup Arab.

Sebelum hurup Latin masuk ke Indonesia menjelang abad ke 20, di Jawa, di samping hurup jawa, Huruf Arab digunakan untuk menuliskan karya-karya sastra. Tembang-tembang seperti “Serat Ambiya”, “Kisah Mi`raj”, “Riwayat Nabi Yusuf”ditulis dengan hurup Arab. Dan pada perkembangannya, khath Arab di Indonesia itu menemukan bentuk-bentuk yang khas. Dari naskah-naskah tua, baik tersimpan di beberapa museum, dan yang masih berada di tengah masyarakat ada bentuk-bentuk tertentu dan variasi Nasakhi-nya sangat kuat. Ada bentuk yang kaku namun artistik, dan ada yang meliut dengan lentur. Pada surat raja Lingga (Melayu) yang ditujukan kepada pejabat Belanda, atau surat beberapa Adipati di Madura yang ditujukan kepada Raffles, hurup yang digunakan ada sedikit kemiripan dengan khat Farisi, tetapi sudah menemukan bentuk yang sangat spesifik. Bentuk yang serupa itu juga digunakan untuk menuliskan terjamah (makna) kitab-kitab yang berbahasa Arab yang biasanya disebut “makna jenggot” karena bergantung ke bawah seperti jenggot.

Selain itu, hurup Arab digunakan sebagai hiasan mesjid, hiasan batu nisan, dan sebagainya. Sebagai hiasan rumah muncullah kaligrafi lukisan kaca Cirebonan. Ada bacaan zikir yang berbentuk Semar dan wayang lainnya, ada yang berbentuk harimau yang mengingatkan pada lambang Siliwangi

Lukisan kaca yang sebagian besar menampilkan kaligrafi kalimat-kalimat suci itu lalu berkembang di berbagai daerah bersama dengan gambar buraq, Mesjid al-Haram, Mesjid Nabawi, dan lain-lain. Kegiatan itu disambut oleh apresiasi masyarakat yang cukup terhadap seni Islam. Disayangkan, karena kualitas yang yang digunakan untuk lukisan kaca tidak tahan ratusan tahun, sekarang banyak lukisan kaca yang tinggal kacanya saja, lukisan sudah rusak dimakan zaman.

Menjelang abad kelima belas hijriyah, kegiatan berkaligrafi tidak hanya dilakukan oleh para khathath saja, tetapi juga oleh para pelukis. Pelukis kaligrafi tidak lagi menulis pada papirus, kertas dan dinding masjid, justru di atas kanvas dengan media cat minyak, akrilik atau media batik. Dari sinilah bermula lukisan kaligrafi.

Seorang seniman (dalam hal ini pelukis) adalah pengembara imajinasi dan pengembara ruhani yang tidak mengenal rasa lelah. Sebagai makhluk yang kreatif akan berupaya menampilkan bentuk-bentuk seni baru yang sebelumnya tak pernah ada di bumi ini. Karena itu, ia akan berusaha memacu daya khayal dan daya kreatifnya untuk menemukan sebuah puncak yang lain, tempat ia mengungkapkan esensi dirinya.

Dalam lukisan kaligrafi Islam, seorang Pelukis menemukan kebebasannya menuangkan imajinasinya melalui nuansa-nuansa warna yang kaya-raya, bahkan ditemukan pula bentuk-bentuk hurup Arab model baru yang berbeda dengan kaidah-kaidah penulisan yang telah baku sehingga tidak mustahil bila sesekali terdengar suara sumbang bahwa munculnya bentuk-bentuk hurup Arab model baru adalah penyimpangan, dan kejanggalan.

Pintu ijtihad kreativitas memang tidak pernah ditutup. Setiap pembaharuan dari hasil daya kreatif pada hakekatnya meninggalkan sesuatu yang sudah mapan, sedangkan matahari berputar dan zaman berjalan selalu menampilkan sesuatu yang baru.

Lukisan kaligrafi yang menggunakan media cat minyak di atas kanvas. Di samping itu Amri Yahya mencoba bereksperimen dengan media batik. Muncullah nama-nama seperti Ahmad Sadali, AD. Pirous, Amri Yahya, Amang Rahman, Syaiful Adnan, kemudia disusul oleh Abay D. Subarna, Yetmon Amier, Hatta Hambali, Hendra Buana, Sattar, Chusnul Hadi, dan lain-lain.

Menurut Soedarso Sp, seni lukis kaligrafi muncul setelah ada seni lukis abstrak, tidak ada gunung, pohon, dan langit, yang ada hanya garis, warna, tekstur, dan lain-lain. Di atas itu kaligrafi dilukiskan, yang tentu saja isinya disesuaikan dengan latar-belakang yang berupa lukisan abstrak itu untuk menjadi sebuah sajian komposisi yang padu. Disinilah imajinasi diberi ruang seluas-luasnya untuk menemukan nilai yang sangat berharga.

Dalam seni lukis kaligrafi, para pelukis berupaya menuangkan pengalaman spiritualnya dalam bentuk yang estetik seutuh mungkin. Ahmad Sadali tidak hanya menuliskan ayat-ayat al-Quran, lebih dari itu ia memadukan ayat itu dengan pengalaman spiritualnya dalam tekstur dan warna hasil renungan yang mendalam, seakan-akan warna dan tekstur itu abstraksi estetik dan batin sang Pelukis.

Amri Yahya menorehkan kaligrafinya di atas komposisi warna yang kadang ceria, tetapi pada saat yang lain dengan warna yang kelam biru kehijauan yang melukiskan kedalaman pengalaman ruhaninya.

Tidak kalah pentingnya upaya pelukis menemukan bentuk khath yang spesifik miliknya. AD. Pirous misalnya, selain ia menggunakan khath yang seperti dikembangkan dan khath Maghribi, ia juga berangkat dari khath yang bernuansa lokal, Aceh. Tetapi yang khas penemuan Pirous ialah bentuk hurupnya yang ekspresif yang sangat jelas sekali sosok kepribadiannya. Sayang sekali, dalam lukisan-lukisan Pirous yang saya amati, bentuk hurup ini tidak banyak digunakan.

Orang yang sangat percaya kepada bentuk khath-nya yang pribadi adalah Syaiful Adnan. Ia diciptakan bentuk hurup sendiri yang hampir tidak ada kaitannya dengan kaligrafi baku sehingga muncul khath gaya Syaiful. Ia membentuk ujung hurup-hurupnya runcing seperti duri dipadu jalinan dan kelindan antar-aksara engan sangat terampil dan teliti. Saking percayanya terhadap penampilan hurupnya yang mempribadi, ia merasa tidak perlu memainkan banyak warna. Lukisan-lukisan Syaiful rata-rata hampir monokrom.

Demikian pula Yetmon Amier yang hurup-hurupnya dikemas kubistik. Sumber khath-nya ditengarai dari khath Kufi, tetapi sudah dikembangkan sangat jauh dan digubah khusus untuk seni lukis sehingga bila diperhatikan jelas sekali sosok Yetmon-nya.

Hatta Hambali mengemas kaligrafinya dalam bentuk hurup yang terdiri dari pita panjang. Pita yang berupa hurup itu dilukis semi realis sehingga menjadi suatu yang otentik.

Tidak kalah otentiknya ialah Amang Rahman yang membuat hurup begitu unik. Ada permainan bayangan dan cahaya, serta titik yang dilukis menjadi lubang atau bolongan yang sangat dalam. Hal itu ditunjang dengan suasana biru yang menampilkan kesan mistis dan puitis.

Pada saat yang akan datang, bentuk-bentuk khath yang menjadi milik pribadi para pelukisnya perlu semakin digalakkan. Dan, untuk menemukan kepribadian dalam khath itu perlu perjuangan dan pencarian kreatif yang tidak kunjung lelah. Rasa taqarrub kepada Allah bisa menjadi spirit karena menorehkan kaligrafi tak lain sebagai tanda-tanda cinta kepada Allah dan ayat-ayat-Nya.

Tetapi, yang penting untuk dijadikan bahan renungan, apakah lahirnya karya seni dalam bentuknya yang baru itu berangkat dari getar kepekaan estetik atau tidak? Bila tidak lahir dari getar tali-temali rasa yang paling dalam, maka hasilnya tidak akan menyentuh. Tetapi, bila benar-benar lahir dari getaran estetik dan kemudian dicelup dengan sibghah (celupan) Allah, maka jadinya akan menjadi lukisan kaligrafi yang punya daya pesona tinggi yang tiada bosan-bosannya mata memandang. Penyair Iqbal berucap dalam salah satu penggalah sajaknya :

Dari manakah irama seruling mendapat kemerduan?
Dari getaran hati sang peniup, bukan dari potongan bambu
(Darb-l Khalim)

Pada hakekatnya, lukisan kaligrafi adalah ungkapan rasa religius seorang pelukis ke atas kanvas dengan bentuk hurup dan permainan warna yang mencerminkan kepribadian dan kedalaman jiwa pelukisnya. Penghayatan yang sepenuhnya terhadap hurup-hurup yang hendak digoreskan, penguasaan terhadap bidang dan warna benar-benar memancar dari suatu konsep penciptaan yang utuh.

Lukisan kaligrafi yang bermutu akan mampu membawa penikmatnya pada kesadaran transedental bahwa diatas dikehidupan ini, ada yang sangat dekat dan akrab dengan diri, yang rahmat-Nya selalu mengalir tiada henti, yaitu Allah.


Monday, June 18, 2007

Borobudur Impasto-nya Anthony




Oleh Nunuk Ambarwati dan Puji Rahayu
Borobudur Agung
Menemui sosok Anthony David Lee, perupa kelahiran Manado, 2 Juni 1964 merupakan seseorang yang lebih dikenal sebagai jagoan masak. Mengaku memiliki keahlian melukis yang dia peroleh secara otodidak. Anthony yang saat ini tinggal di Denpasar, Bali ini sempat menggelar aksi melukis dalam sebuah jamuan makan malam, di lapangan Gunadharma, kompleks wisata Candi Borobudur, pada hari Rabu, 30 Mei 2007 lalu menjelang peringatan Hari Raya Trisuci Waisak 2551 BE/2007. Aksinya ini merupakan prakarsa Muncul Art and Culture Center yang digawangi oleh Soekeno [direktur UD Muncul, Yogyakarta] bekerja sama dengan Jogja Gallery [JG], Yogyakarta. Menampilkan corak impresionistik dengan teknik impasto [menumpuk cat di atas kanvas]-nya, Anthony melukis Candi Borobudur secara langsung, dengan media cat minyak di atas kanvas ukuran 980 x 280 cm. Lukisan sebesar itu, yang kemudian bertajuk ‘Borobudur Agung’ berhasil dia selesaikan hanya dalam rentang waktu 1 jam 40 menit saja.
Sebelum menggelar aksinya tersebut, Anthony sempat melukis bersama dengan Kartika Affandi di Museum Affandi, Yogyakarta. Hal tersebut dia lakukan sebagai bentuk partisipasi memeriahkan 100 Tahun Affandi yang bertepatan di tahun ini. Dua karya berhasil diselesaikannya, masing-masing tak lebih dari setengah jam saja. Dengan tema Affandi sebagai Barong dan Affandi sebagai Rangda. Dua lukisan tersebut rencananya akan turut dipamerkan di akhir Juni 2007 ini dalam sebuah pameran menandai eksistensi sang maestro.
Matahari sebagai ikon lukisan yang melekat pada Affandi menginspirasi sangat kuat pada diri dan lukisan-lukisan yang dihasilkan Anthony. Disamping warna, semangat dan goresan Affandi yang menginspirasinya, nuansa mistis biru tua pada karya seri Borobudur-nya Srihadi Soedarsono ternyata juga turut mengilhami karya Anthony. Untuk lebih menyiapkan penguasaan materi, tema dan keahliannya guna aksi pada malam 30 Mei 2007 yang lalu, hampir tiap malam dia menggoreskan banyak tube cat minyak dalam beberapa kanvas dengan tema Borobudur di kediaman Soekeno, sebagai studionya di Soragan, Yogyakarta.
Dengan latar belakang Candi Borobudur yang mistis malam itu, dihadiri kurang lebih 50 tamu undangan, terdiri dari para kolega dan para jurnalis. Jamuan makan malam diselingi musik mengantar Anthony menyelesaikan karya besarnya. Segera setelah Anthony merampungkan aksi melukisnya, dia menyempatkan untuk mendeskripsikan maksud lukisannya kepada para undangan. Lukisan yang dia hasilnya menurutnya belum selesai, dia mengundang semua orang yang melihat karyanya kemudian menyelesaikannya dalam hati dan pikiran masing-masing. Dia ingin mengajak masyarakat Yogyakarta untuk merenungkan berbagai peristiwa yang terjadi, misalnya bencana alam gempa bumi [dimana tahun ini merupakan peringatan 1 tahun gempa bumi di Yogyakarta dan sekitarnya]. Dengan adanya peristiwa itu, jangan selalu menyalahkan Tuhan. Seharusnya berpikir lebih cerdas, dan harus banyak belajar, segala sesuatu itu bisa terjadi mungkin kebanyakan karena dari kelalaian kita sendiri, seperti kurang peduli terhadap alam yang ada di sekitar kita, yang sebenarnya telah memberi kita kehidupan, keindahan, kekayaan yang melimpah. Saatnya kita untuk sadar dengan hal itu.
Yang menjadi keprihatinan Anthony lainnya adalah banyak orang yang tidak tahu, tidak sadar bahwa kita punya peninggalan yang amat luar biasa, seperti Candi Borobudur. Keberadaanya belum begitu diperhatikan, padahal ini adalah peninggalan yang amat luar biasa. Banyak orang yang tidak tahu tentang sejarah maupun maknanya. Ini menunjukkan bahwa orang-orang banyak yang belum bisa menghargainya. Sejak melihat Candi Borobudur, Anthony sangat kagum, dia terus membaca dan mencari tahu dari berbagai sumber sebelum dia tertarik untuk melukiskannya.
Borobudur bagi Anthony adalah sebuah bangunan yang sangat indah, cantik dan sangat kokoh. Sesuatu yang luar biasa, mempunyai nilai spiritualitas yang tinggi dan baik dari ukuran, bentuk mau pun keberadaanya. Dia mengatakan kekagumannya tersebut ketika melihat sendiri peristiwa yang terjadi dihadapannya. Seperti manusia yang selalu berubah, peradaban yang berubah bencana yang membuat semua kehidupa dan alam berubah, tapi Borobudur tetap kokoh. Kekaguman ini sangat kuat dirasakan oleh Anthony, semua direkam dalam memorinya dan diwujudkan dalam bentuk lukisan yang dikerjakan hanya dalam beberapa saat.
“Karya ini universal, dimana disana ada matahari dan bulan. Matahari terinspirasi oleh Affandi yang bersinar, mempunyai kekuatan yang luar biasa sebagai maestro. Bulan terinspirasi oleh perupa Srihadi Soedarsono. Terdeskripsikan orang sedang berdo’a artinya kita harus bersyukur kepada Tuhan. Tidak terus meminta kepada Tuhan, tapi harus lebih banyak belajar dan terus belajar serta waspada. Bencana yang digambarkan merupakan peringatan bagi kita”, jelas Anthony.
Meski batal tercatat masuk di Museum Rekor Indonesia [MURI] sebagai lukisan paling banyak [berat] menggunakan cat minyak, para tamu undangan merasa kagum dengan karya yang dihasilkan Anthony. Banyak komentar atas karya spektakulernya, terasa luar biasa dan indah. Bahkan KGPH Hadiwinoto, yang hadir pada malam itu, mengatakan karya ini mengandung nilai spiritual yang tinggi dan agung. Karya Anthony bisa memberi peringatan pada manusia, dimana manusia sebenarnya adalah makhluk yang lemah dan perlu menjalankan hidup dengan terus mendekatkan diri kepada Tuhan. Manusia harus terus menuju jalan kebenaran dan terus rendah hati dihadapan-Nya, meminjam pepatah orang Jawa yang mengatakan dalam hidup perlu memayu hayuning bawana, jelas Gusti Hadi.
Karya tersebut kini menjadi koleksi pribadi Soekeno dimana saat ini terpajang dan bisa dinikmati dalam pameran yang dikuratori Mikke Susanto, ‘Transposisi: Lukisan-lukisan Koleksi Kolektor Jateng-DIY’, digelar Jogja Gallery [JG], Yogyakarta, 22 Mei – 26 Juni 2007.

Si Misterius Anthony
Selama masa tinggalnya di Yogyakarta kala itu [kurang lebih 2 minggu], Anthony sangat aktif melukis setiap harinya. Dalam aktifitasnya melukis, Anthony lebih mengedepankan sisi entertainmen. Dengan senang hati dia persilakan kita melihat proses menyelesaikan lukisannya. Dia juga tak keberatan kita ‘mendikte’-nya untuk melukiskan satu obyek dalam kanvas kosongnya. Selama proses melukis, dia banyak menyertakan guyonan-guyonan yang menyegarkan, entah berhubungan dengan obyek lukisan mau pun kadang tidak sama sekali. Dia pun selalu akan mengakhiri lukisannya dengan mendeskripsikan setiap detail apa yang dia goreskan di kanvas tersebut. Mengapa ada burung, mengapa ada matahari, mengapa warnanya kuning atau biru dan seterusnya. Hal tersebut sangat jarang bisa kita temui dari perupa-perupa lain. Bagaimana seorang perupa menutup diri, menemukan momen yang tepat, mengisolasi diri guna berkonsentrasi menyelesaikan karya dan seterusnya. Situasi langka yang bisa dihadirkan Anthony tersebut di atas, memberikan kejutan-kejutan yang menarik bagi publik awam akan dunia seni lukis.
Maka tak mengherankan ketika pengamat seni sekaligus kolektor ternama, Dr. Oei Hong Djien mengomentari karya-karya Anthony yang lebih tepat sebagai pengisi ruang, dekoratif yang bersifat mengindahkan. Tak lebih dari itu.
Bagi Anthony sendiri, situasi berkarya dengan dilihat banyak orang tak menganggunya menyelesaikan karya. Meski konsekuensi atas situasi tersebut jelas terbaca pada lukisan yang dia hasilkan. Ketika banyak komentar yang ‘mengintimidasi’ otaknya, dimana situasi yang selalu berbeda mengurangi kenyamanannya dalam berkarya, atau bahkan dikte-dikte yang memberi masukannya, jelas terbaca pada kualitas karya.
Buat Anthony, kegiatan melukis juga merupakan salah satu terapi baginya. Dimana menurut pengakuannya pada malam peringatan hari ulang tahunnya yang ke-43, dia merupakan sosok yang hiperaktif, dimana ide dan gagasannya selalu berkembang. Dokter yang menanganinya menyarankan untuk sedikit mengurangi sisi hiperaktifnya apabila dia ingin hidupnya menjadi lebih baik.
Satu hal lain yang menarik darinya adalah gaya melukisnya. Dibantu dua orang asistennya, Putu dan Kadek, bertube-tube cat bisa dia habisnya dalam satu kali melukis. Biasanya Putu yang akan memplototkan tube cat di atas kaca dan Kadek yang terus mendokumentasikan tahap-tahap Anthony melukis, mulai dari goresan pertama hingga tanda tangan sebagai tanda akhir dia melukis. Tak heran dokumentasi aksi-aksi melukisnya dimana pun, bahkan di rumah orang-orang penting di Republik ini, sangat detail dan lengkap, bisa kita lihat di laptop yang selalu dibawanya.
Anthony juga sangat mengedepankan kebersihan dalam aksi melukisnya. Disamping bertube cat yang dia habisnya, berlembar-lembar tisu juga wajib tersedia ketika dia melukis. Setiap kali selesai menggoreskan satu warna dengan ‘spatula’-nya, dia seka spatula tersebut dengan tisu hingga bersih. Anthony mengaku, warna-warna murni dari tube cat lebih dia sukai daripada mencampur warna. Meski pun kadang memang ada sedikit warna-warna campuran yang dia hasilkan untuk memberi aksen tertentu pada lukisannya.
Meski penulis sempat mengikuti aksi-aksi melukis Anthony, kemisteriusan background-nya masih selalu menjadi tanda tanya. Siapa sih Anthony? Masih merupakan pertanyaan besar yang selalu membayangi. Dia tak pernah bisa serius mengatakan siapa dirinya sebenarnya, bagaimana dia mendapatkan keahlian melukis, atau kronologi pameran dan prestasi berkaryanya. Meski tak pernah serius menjawabnya, tidak demikian ketika dia menjelaskan setiap detail karyanya. Untuk hal yang satu ini, dia selalu menjawab dengan ‘tak penting perupanya, yang penting adalah karyanya'.

Rekomendasi #6

Magelang, 26 February, 2007
Pengelola Program Magang Internasional periode 2007-2008
Yayasan Kelola, Jakarta in cooperation with
Asialink, Centre, Australia
The Asian Cultural Council, United States of America
Ref: Letter of recommendation
Dear Sirs and Madams,
I have known Ms Nunuk Ambarwati for several years. From the first time I met her, she already showed high appreciation for art. Besides, her social intercourse with the art world (collectors, galleries, curators, writers, event organizers) in general and artists in particular has always been very good.
Knowing her better, I observed that she was always carving for more knowledge and experience in art, particularly contemporary art. In this respect Ms Nunuk Ambarwati had been involved in the activities of Cemeti Art Foundation for some period.
Last year she joint our team in organizing a wedding art event where 80 prominent artists were participating; an art event never happened before. It was to a significant part due to her contribution that this art event became a great success. In this collaboration I noticed that she has great responsibility for her work.
Since the end of 2006 Ms Nunuk is employed as program manager of the new established Jogja Gallery where I am appointed as one of the advisers. In a short period she has proven her capability to execute her job very well. Since the opening of this Gallery there have been continuous activities. After an exhibition is terminated a new exhibition follows immediately, besides other activities like art talks.
Nationally she has built a significant knowledge and experience in programming and organizing art events. If she could get the opportunity to broaden her knowledge and experience internationally, it definitely would be a great benefit for the Indonesian art world since Ms Nunuk Ambarwati’s dedication to art is beyond doubt.
Yours sincerely,
Oei Hong Djien
Art Collector
Owner and curator of OHD Art Museum
Board member of Singapore Art Museum
Board member of Art Retreat Museum, Singapore
Curator of Museum H. Widayat
Adviser of Jogja Gallery

Rekomendasi #5

Jakarta, February 3, 2007
Pengelola Program Magang Internasional periode 2007-2008
Yayasan Kelola, Jakarta
I have known Nunuk Ambarwati prior to the opening of Jogja Gallery on September 19, 2007. Nunuk Ambarwati has been assigned as the Program Manager of Jogja Gallery. Prior to joining Jogja Gallery, Nunuk Ambarwati had been working for Cemeti Art House in Yogyakarta.
Yogyakarta is the birthplace of many famous artists in Indonesia, but, ironically, Yogyakarta didn’t have a common facility that can satisfactorily showcase the talents of the artists. To bring a great contribution to the preservation and strengthening of Yogyakarta’s identity as the cultural hub of Indonesia, Jogja Gallery was founded and is pleased to appoint Nunuk Ambarwati as our Program Manager.
Not like other galleries that either mostly funded by the government or individual artists, Jogja Gallery was fully funded individuals (including myself) to support the preservation and development of culture, art, and social life. The challenge arises when the executives of Jogja Gallery are requested to prepare a program that balances the quality of arts and the survival of the gallery. I was initially pessimist about the capability of the executives who are all with virtually no background in business. Surprisingly, Nunuk Ambarwati has been demonstrated her capability and talent to set a one year program in very short time period that satisfiying the business approach without sacrificing the quality of the arts. Among other programs, the “Icon: Retrospective”, “Young Arrows”, the “Art from Tunisia” (join exhibition with the Government of Tunisia), the “Thousand Mysteries of Borobudur” (join exhibition with UNESCO), Indonesian Student Art, etc, are considered as monumental exhibitions that can only be prepared by a talented person such as Nunuk Ambarwati.
As the President Director of Jogja Gallery, I have no doubt concerning the quality and talent of Nunuk Ambarwati, and consider her as the key persons at Jogja Gallery.
Sugiharto Soeleman
President Director



Rekomendasi #4

Saya, Suwarno Wisetrotomo, kritikus seni rupa dan dosen di Fakultas Seni Rupa dan Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, bertempat tinggal di: Jalan Bangau 577B, RT/RW 13 / 26, Wonocatur, Banguntapan, Yogyakarta 55198 Indonesia (email: sangkrit@yahoo.com), menulis Surat Rekomendasi untuk Saudara Nunuk Ambarwati (dokumentator seni visual; perancang/manajer program kesenian/seni rupa), alamat: Jalan Gamelan Kidul 22 Yogyakarta, Indonesia (email: qnansha@yahoo.com).
Saya mengenal Nunuk Ambarwati (selanjutnya ditulis Nunuk), lebih dari sepuluh (10) tahun yang lalu, melalui berbagai aktifitas kesenian – khususnya seni rupa – di Yogyakarta, Indonesia. Nunuk banyak terlibat aktif dalam berbagai kegiatan seni rupa, baik sebagai dokumentator, publikasi kegiatan, mau pun sebagai perancang dan pelaksana program. Saya semakin mengenal dan banyak berkomunikasi ketika Nunuk bekerja penuh pada Yayasan Seni Cemeti (Cemeti Art Foundation), sebagai dokumentator dan pengarsipan seni visual, serta ikut mengerjakan SURAT YSC yakni media publikasi Yayasan Seni Cemeti. Diantara pekerjaan itu, Nunuk masih bisa membagi waktu dengan terlibat pada beberapa proyek seni rupa, antara lain Biennale Seni Rupa Yogyakarta. Kemudian saya tahu, Nunuk akhirnya menjabat sebagai Manajer Program di Jogja Gallery, sebuah galeri baru di Yogyakarta.
Karier profesinya itu menunjukkan bahwa Nunuk seorang yang serius dan professional dalam bidang yang diminatinya, yakni sebagai perancang dan manajer (pengelola) program pada sebuah institusi kesenian/kebudayaan. Di samping itu, luasnya pergaulan, serta pengalamannya mendokumentasi berbagai kegiatan kesenian/seni rupa, pasti akan sangat menunjang dalam mengelola suatu program,. Manajer program merupakan salah satu pemegang kunci hidup atau matinya kegiatan yang menarik dan bermutu pada institusi kebudayan/kesenian. Sementara kita tahu, posisi manajer program itulah yang justru mengalami krisis, atau dengan kata lain, masih terlalu sedikit yang professional. Nunuk, dalam pengamatan saya, dan sejauh yang saya ketahui, berada di jalur yang tepat dan sungguh-sungguh ia pahami, sekaligus dapat mengisi celah kekosongan ikhwal manajer program yang professional.
Aktivitas dan partisipasinya dalam berbagai peristiwa dan berbagai skala, menunjukkan bahwa Nunuk adalah seorang yang tahu persis tentang apa yang akan dikerjakan, juga tahu manfaat pekerjaan itu bagi masyarakat luas, khususnya bagi dunia kesenian/seni rupa.
Atas potensi, kesungguhan, dan pengalamannya dalam berpartisipasi di berbagai peristiwa kesenian (seni rupa), saya yakin, Nunuk Ambarwati dapat melakukan program-program yang diagendakan oleh Pengelola Program Magang Internasional periode 2007-2008 – Yayasan Kelola Jakarta, bekerjasama dengan Asialink, Centre, Australia, Asian Cultural Council, dan United States of America. Dengan kata lain, Nunuk Ambarwati merupakan kandidat yang pantas dipertimbangkan untuk diterima dalam Program Magang Internasional tersebut. Saya berharap, catatan dalam rekomendasi saya ini, dapat membantu pemahaman siapa saja tentang sosok dan profesi Nunuk Ambarwati, dan pada akhirnya dapat membantu dalam membuat keputusan yang tepat baginya.
Salam,
Yang membuat rekomendasi

Suwarno Wisetrotomo

Rekomendasi #3

Yang bertanda tangan di bawah ini adalah saya: Aloysius Nindityo Adipurnomo; seniman perupa; salah satu Direktur Rumah Seni Cemeti Yogyakarta dan Pendiri serta mantan Pengurus aktif Yayasan Seni Cemeti Yogyakarta.
Saya mengenal saudari Nunuk Ambarwati seiring bersama berkembangnya karier dan komitmen saudari Nunuk pada bidang manajemen kesenian, secara khusus seni rupa. Pada tahun 1999 saudari Nunuk bergabung pada Rumah Seni Cemeti Yogyakarta, dimulai sebagai staf pengelolaan galeri.
Tahun 2002, Nunuk meneruskan komitmen pengelolaan kegiatan seni rupa dengan membenahi dan mengembangkan bidang dokumentasi seni rupa, yang menjadi core utama kegiatan Yayasan Seni Cemeti Yogyakarta.
Tahun 2006 saudari Nunuk mendapatkan tawaran posisi menjalankan manajemen/pengelolaan Jogja Gallery di Yogyakarta hingga sekarang.
Sebagai narasumber dan kolega, maka dengan ini saya secara pribadi mendukung segala macam bentuk upaya yang diperhitungkan mengarah pada stimulant bagi berkembangnya fokus keahlian dan kariernya, terutama di dalam manajemen pengelolaan kesenian, khususnya seni rupa secara nasional dan internasional.
Saya berharap surat referensi ini bisa dipergunakan oleh berbagai pihak sebaik-baiknya dan proporsional.
Yogyakarta, 7 Februari 2007
Nindityo Adipurnomo


Rekomendasi #2

Yogyakarta, 5 January 2007
To whom it may concern,
I have known Nunuk Ambarwati since the 1990s in various activities of art and culture in general. Nunuk used to work for the Cemeti Art Foundation, and now works for the Jogja Gallery based in Yogyakarta. As far as I know she has well managed not only in handling art exhibitions, but also in organizing art events which included many people from different backgrounds, local and expatriate artists, as well as institutions.
From my observation on her achievements and attitudes I would say that she is indeed a professionally hard worker, who always pursue excellent goals. She works efficiently, effectively, and punctually. In dealing with documents and information she handles systematically. Another good aspect of Nunuk’s competency is that she is patient enough in organizing or coordinating works that deal with artists many of who are very individualistic and eccentric. I have seen in many occasions that Nunuk has managed to implement solutions that come from heart.
Other credible points of Nunuk are the facts that she has skills required for a modern professional manager / organizer, those are mastering digitally recording equipment as well as taking advantes of recent electronic media. Nunuk has useful and good documentations of art events, and of and ethnic and contemporary works of art.
Nunuk studied Communication at a significant university in her home city, that is the University of Gadjah Mada. She was born of a family who respect Javanese culture, namely Javanese dance, and lives in an area where live dwellers having traditional cultural relationship with the Sultanate Palace of Yogyakarta. She happens to be a Javanese dancer, therefore she has developed empathetic sense in approaching artists.
Based from what I know I highly recommend Nunuk Ambarwati to receive a chance for international internship organized by Yayasan Kelola.
I can be connected any time to give more explanation or details about Nunuk Ambarwati should Yayasan Kelola need more.
Yours Sincerely,
M. Dwi Marianto



Rekomendasi #1

Yogyakarta, February 14, 2001
Letter of Recommendation
Since November 2000 Nunuk Ambarwati supports me with her assistance in conducting the ongoing empirical study “Journalism in Indonesia”, which is based on a cooperation between Atmajaya University Yogyakarta, Indonesia, and Technical University of Ilmenau, Germany.
Graduated from the Communication Department of the Gadjah Mada University Yogyakarta, Ms.Ambarwati is working with full commitment, always on-time and well organized.
Along with this formal aspect, in her work she deals with many organizations and mass media. Ms. Ambarwati is conscious, hardworking, communicative and intelligent young person. Given the change to work in your company, she will enhance her skills and enrich her vision, and this is extremely useful for her future career.
I strongly recommend for this job. I’am certainly sure that Ms. Ambarwati is heading to a successful career.

Thomas Hanitzsch


Wednesday, May 23, 2007

200 Tahun Raden Saleh


UNDANGAN TERBUKA BERKARYA
Pameran Lukisan - 200 Tahun Raden Saleh
ILUSI-ILUSI NASIONALISME
Jogja Gallery, Jalan Pekapalan No 7, Alun-alun Utara Yogyakarta
18 Agustus - 9 September 2007
Jogja Gallery, sejak di launching di Yogyakarta, 19 September 2006, telah menggelar pameran seni visual secara berkala. Pada penyelenggaraan pameran yang ke-14 kali ini, Jogja Gallery akan menggelar sebuah pameran lukisan sebagai sebuah penanda eksistensi 200 Tahun Raden Saleh dalam dunia seni, terutama seni rupa Indonesia. Jogja Gallery mengundang seluruh perupa di Indonesia yang tertarik untuk turut berpartisipasi dan merespon tema tersebut di atas. Berikut keterangan lebih detail.
Hal teknis yang perlu diperhatikan:
a. Pameran rencananya akan digelar tanggal 18 Agustus – 9 September 2007, di Jogja Gallery, Jalan
Pekapalan No 7, Alun-alun Utara Yogyakarta. Dengan kurator: Mikke Susanto.
b. Jogja Gallery telah mengundang khusus sejumlah perupa [ada sekitar 40 orang perupa] untuk
merespon tema ini. Namun demikian Jogja Gallery juga membuka undangan berkarya [proposal]
kepada semua perupa yang ingin terlibat dalam pameran ini.
c. Calon peserta pameran harap mempelajari abstraksi kuratorial yang kami lampirkan di bawah ini.
Data-data teks penunjang lainnya, seperti hasil riset dsb, bisa Anda dapatkan fotokopinya dengan
menghubungi langsung bagian pameran [Nunuk Ambarwati atau Puji Rahayu] di Jogja Gallery.
d. Proposal karya yang masuk, akan diseleksi oleh kurator [Mikke Susanto] dan manajemen Jogja
Gallery.
e. Media karya adalah 2 dimensi atau lukisan, maksimal ukuran 200 x 200 cm.
f. Bisa mengajukan lebih dari satu karya.
g. Proposal karya paling lambat diterima hari Senin, 25 Juni 2007. Dilengkapi dengan foto
karya yang hendak diajukan, konsep karya, data diri/biodata/CV terbaru, alamat/no kontak lengkap.
h. Keputusan hasil seleksi akan diumumkan Jogja Gallery melalui kontak langsung dengan perupa,
email, milis mau pun website, paling lambat tanggal 1 Agustus 2007.
i. Keputusan hasil seleksi tidak dapat diganggu gugat.
Informasi yang belum jelas, dapat ditanyakan pada pihak penyelenggara
(c.p. Nunuk Ambarwati 081 827 7073 atau Puji Rahayu 081 5787 60619).
Abstraksi Kuratorial
Meski pun masih terdapat polemik mengenai tahun kelahiran Raden Saleh itu sendiri; dari sebagian besar data yang ada, Raden Saleh dipercaya— lahir tahun 1807, tepat dua ratus tahun lalu. Ia tercatat lahir di Semarang Jawa Tengah dan kemudian melegenda menjadi pelukis perdana sekaligus pelopor seni lukis Indonesia. Jalan hidupnya sangat menarik, sebagai masyarakat biasa, pelukis istana Kerajaan Belanda dengan melakukan perjalanan ke beberapa negara selama bertahun-tahun, dan menjadi pelukis yang saat ini namanya tetap harum. Lukisan-lukisannya banyak menggambarkan suasana pemandangan, pertarungan binatang, potret para pembesar beberapa negara di Eropa dan di Indonesia, serta lukisan tentang perjuangan/ nasionalisme bangsa ini.
Perjalanan hidupnya yang sangat menarik tersebut, banyak mengilhami para perupa Indonesia. Selain dihormati karena kecerdasannya yang luar biasa, ia juga menjadi ikon seni Indonesia pertama yang berhasil mempengaruhi dan memperkenalkan bangsa ini kepada dunia luar. Wajar bila pada saat ini Raden Saleh kemudian dianggap menjadi kebanggaan bangsa. Ia, menurut peneliti Claire Holt, dianggap sebagai “ayah” bagi gerakan seni modern di Indonesia.
Salah satu lukisan yang hingga saat ini menjadi perbincangan dan sangat penting adalah Penangkapan Pangeran Diponegoro (1857). Lukisan ini sampai saat ini dipajang di Istana Presiden Republik Indonesia. Lukisan ini banyak memberi inspirasi bagi banyak pengamat, karena berbagai alasan. Alasan tersebut misalnya mempertentangkan sikap dan nasionalisme Raden Saleh terhadap bangsa Indonesia yang sedang terjajah. Mengapa sosok Diponegoro digambarkan sama tinggi dengan orang Belanda? Alasan lain adalah bahwa dalam lukisan ini selain secara tematik mengarah pada tema nasionalisme, tetapi juga memberi petunjuk bahwa segala keterampilan yang dimiliki Raden Saleh ditumpahkan dalam karya tersebut. Lihat saja tema lukisan pemandangan, binatang, potret para pembesar serta lukisan potret dirinya masuk dalam karya ini. Sehingga sangat layak seandainya lukisan ini kemudian dapat melahirkan berbagai gagasan mutakhir sampai saat ini.
Dalam pameran ini kami mengajak para perupa ternama Indonesia untuk secara khusus mencermati lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro, bukan yang lain. Karena dengan lukisan ini semangat nasionalisme (oleh sebab itu pameran ini diselenggarakan pada bulan Agustus yang sakral bagi bangsa Indonesia), hendak diuji kembali, dikaji kembali dalam bentuk apa saat ini nasionalisme tersebut berjalan. Dalam beberapa hal, lukisan Raden Saleh ini juga memuat misteri yang tidak saja visual, namun juga dapat melahirkan lagi misteri dan ilusi-ilusi tentang berhagai hal yang lain. Para perupa berhak mengajukan berbagai ilustrasinya mengenai lukisan ini.
Di samping itu, dalam pameran ini direncanakan tampil beberapa lukisan Raden Saleh koleksi Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. [Mikke Susanto]
Informasi ini dipublikasikan oleh:
Jogja Gallery [JG]
Jalan Pekapalan No 7, Alun-alun Utara, Yogyakarta
Telp. +62 274 419999, 412021, 7161188
Telp/Fax +62 274 412023
Email jogjagallery@yahoo.co.id
www.jogja-gallery.com



Friday, May 11, 2007

The Transposition of Artworks, Taste, and Reference


Mikke Susanto & Nunuk Ambarwati
Transposition: the shifting of position; the process or the change of function and category without the change in shape 1
Since artworks are regarded having trade values, so they have become luxurious items, as well as “miraculous”. It happens because of certain reason. First, it is rare. Second, it implies certain values. Third, it rings specific bell that satisfies someone’s taste and desire. Those are why these “miraculous” things then give impacts – direct or indirect – to someone’s biography.
On the other hand, paintings are also able to manifest so many human needs, especially for the social-cultural-political relation with other human beings. The luxurious items named paintings, for the possessor, seems to be the media for the forming of another capital. Hobby, self fulfilling, mind therapy, or kinds of “cultural ecstasy” have become the reasons or another function that enforce art’s position as the luxurious items. In short, paintings or artworks and other collectibles, possess the power to break through the unexpected borderlines of functions.
Reading the Desire
Quoting Garin Nugroho’s opinion at a seminar in ISI Yogyakarta, two years ago, that there exist two kinds of continuous art in the contemporary world: painting and pop art. Painting has its own running system, either in the marketing area or in its research area. Whereas pop art is understood more as the packaging or characteristic, meaning any arts, as long as they are under popular nuance or situation, will be accepted by many social groups. And so, we are really sure that artworks, in this case painting, have their stable history and condition. Moreover, compared to any other arts, painting possesses the ability to be accepted by many social groups.
Through this argument, we would like to emphasize that the market stability or the situation under the painting art came from the long research and history. One important point in this phenomenon is the existence of painting lovers’ desire that contributes in giving ‘life’ to the painting art. Since the beginning of the art history, painting lovers have attracted historian’s attention. The emerging of the art supporter from the noble class, rulers, governors, religious institutions, or even person in every era had given the enormous contributions.
Speaking about desire, we should also talk about the needs. The desire to have or collect can come from the needs to create the image of one’s power or position. Not less important is the desire to differentiate from others, for example, it is quite normal for people to collect things related to them. This can be seen from the existence of self-portrait, through painting as the media. The most interesting example is King Napoleon in war area in Eyland, when painted by Jean Antoine Gros in 1808, or when he wants his coronation beautifully painted by Jaques Louis David in 1804.
Desire, is also giving interesting impression to mark certain era. We can see the taste of Rococo’s painting lovers around 1700-1750s. The painting lovers “sunk” was very low, as the popular paintings at that time were naked women and the model that portrayed the free lifestyle. This was the era where the painting lover (mostly the nobles and rich men in France and Italy) loves to let loose of their lust and glamorous lifestyle, without even care of their surroundings. That is the reason why Rococo is often considered as a drawback of Renaissance. Once again, collector’s taste and desire seemed important to mark the upheaval of certain era or community. Everything is summed up through the painting collection.
About the Exhibition and the Invited Collectors
Regarding with this exhibition, if we are speaking about market and art research in Indonesia, collectors assume the important roles in the art community’s system and infrastructure. Indonesian Historian, M. Agus Burhan stated that there is no single art, wherever and whenever, that can stand still without any supporting system2. Arts is the integrated part in the era of collective-traditional society, or commonly referred as communal support, whereas in the feudal era, arts got its supports from the institutions, rulers, or often referred as the government support. In the present times, where capitalism is everywhere, the supporters of arts come from the business world or commonly referred as commercial support. Those are the collectors, gallery, and tourism.
Then, ‘what about the existence of the collectors in Indonesia? Who are they? How are they?’ Those questions then become the starting point of this work. In processing the exhibition, we asked the exhibitor candidates to answer the question, “Do you have the artworks that you really loved?” This question emphasizes the fact that when one loves his own artworks, one will not easily give that up but for collection. Thus, all the works here more or less is the private things that are regarded to imply the imaging function and also represent the owner’s taste. The acquisitions of those artworks were based on the reason of personal interest, whether representing the aesthetic taste of the owner or others. Hence, they can be considered assuming the roles as collectors, and the exhibited artworks will grant them another special meaning and status.
By putting the basis on the reason of love, personality, and artworks propinquity, this exhibition tries to be a small map of the supporting realms for arts, which consist of many different professions. Then some names are proposed. Specifically, they were invited from DIY and Central Java, for this exhibition intends to portray their efforts as the collectors living near the artists, or even closer to the centre of arts development: Yogyakarta. They came from different professional and educational background. Some of them are dr. Oei Hong Djien, Dedi Irianto, Alexander Ming, Deddy PAW, Nasirun, Butet Kertaredjasa, Bambang Soekmonohadi, Soekeno, Sugiharto Soeleman, Rahadi Saptata Abra, Simon Tan, Harsono and Siswanto HS/Hasan Berlian.
Nullifying “Seclusion”
This exhibition rolls over the attraction with two purpose. The first one is to nullify the problem of artworks seclusion. This seclusion here means the placement of artworks in the collection rooms. The terms seclusion itself came from the discourse delivered by Sanento Yuliman3 as the impact of the phenomenon of the booming of painting purchasing in the end of 80’s to 90’s. Thus, this exhibition will specifically show the artworks that have become private collections. Why private collections? As Sanento Yuliman proposed, one of the reasons that seclusion happened is the personal collector, not gallery or museum that are considerably more open.
According to Sanento, the moment after the purchasing, paintings are transformed into rich man’s secluded properties. Far from the society and the world. However, the seclusion process itself is urgent to be brought up in the forum, for it even against the slogan of “Artworks as the nation’s treasure” or the motto of “Arts for wider Society” or “Arts for People”. In the end, our minds are directed to the occurrence of the polemic of “cultural privatization through paintings”. There is no way that culture, as the right of society, will be privatized, whether done by person or corporate collectors4. And so the problem of collectors with all the efforts in the background will be interesting to research. How far has the collectors’ realized and understand these kinds of “seclusion”?
Responding to this problem, one of the exhibition participants, Butet Kertaredjasa5 argues that this is not about the “seclusion”, but the problem occurred when the artworks are put into private house. Surely the accessibility level will not be similar to those in gallery or museum. The access will be quite limited, though in one hand they can be very open and proud when their collections are borrowed by the famous museum, or to be included in the exhibition abroad, or become the cover of the books. This is also the reason serves as the underlying basis of the choosing of those works to be shown by their collectors in this exhibition. They are so responsive and respectful in accepting the suggestion, even show their collection openly.
Because of the characteristic, personal collection sometimes make the attitude towards the artworks themselves not or not yet maximal. Considering the importance of self satisfaction, most of the collectors do not employ special staff to inventory or take care of the collection. Hence, most of the time the collectors themselves are taking care and arranging their own collection. So don’t be surprised when once we find the fact that they can’t list their own collection, don’t have the time to count them yet, to another fact that the arrangement and care is so very simple.
Back to the topic, surely we cannot deny the existence of seclusion as the collectors also confess that some of their collection is so “sacred”, great, and precious, or even those they admire most, should stay at their home. Though this may not be significant, for all of the collection imply their own speciality.
Collectors’ Struggle
The second aim is to get the portrait of the collectors’ struggle in collecting every single piece of artworks. In dealing with this second purpose, the emphasis will be put over the taste, comments, and efforts as well as the collecting concept done by the collectors.
Through this small research, some purpose in collecting artworks can be unveiled. Mostly, it serves as a mere investment, then appreciation or psychological satisfaction – because of the pure interest towards arts - , or probably both. Some collectors said that they also collect other forms of arts other than 2 dimensional works (paintings), such as statue, photograph, antiques, jewelleries, etc. Though this exhibition focus only on 2 dimensional artworks, this fact gives insight that 2 dimensional works are still dominating the development of the discourse or even the market of visual arts.
Those reasons are almost mostly taken into consideration by the collector in choosing which artworks to add the collection. Besides, other considerations – if not to mention them as the absolute considerations - also involves many aspects, such as good technique / skill, aesthetic aspects, creativity, and interesting concept the artist try to convey through the works.
Those collectors also said that their collection is economically advantageous when use in the business. It means, they afford the works with the cheap way, under the normal price, in the auction, or can be resold when the price from both party is satisfying.
When asked for further reason of collecting, many arguments were proposed, starting from the close feeling to the artist, intention to economically helping certain artists, and other idealistic reasons such as family and self-appreciation as well as starting a private collection museum. The personal relationship between the collectors and the artists turns out to be one of the important considerations in owning certain works, like what Nasirun did. He is so admiring his lecturer, that he bought the works that are considered as the important points in the artist’s career.
We can also note that these collectors have already had their own favourite artists. And the impact is the privilege for the first preview of the works, in the studio, just before the works are marketed or exhibited. This is just one integrated part of the effort of building the closeness and relationship.
Differentiation of Taste
Problem about taste is also presented in this exhibition. The taste of each collector is quite represented through the artworks that they propose for this exhibition. Clearly, we have no normative reference in collecting the works, which is the best way of collecting woks, or the most profitable way to collect artworks, etc. However, we can also infer the ‘red-line’ of this taste thing when two collectors propose the artworks from the same artist, even though with different reason.
The representation of the taste is supported by one’s social background, as well as the reference and the background knowledge. Speaking about reference and the background knowledge, we can find something interesting about the development of art collectors in Indonesia. Indonesian collectors are quite aware that their role in the art infrastructure is often acknowledged. Some reviews from the art critics, articles in the media, gossips, or even the direct progress of the artists become the additional references for those collectors. They also have the awareness to help the progress of Indonesian young artists to improve their quality with their own way.
Even though we can still face some art people, whether they are collector, kolekdol [= collector but act as art dealer too], or even the artists which gives the bad image towards the system, market infrastructure, and the Indonesian art discourse, we can still put our hope to the appreciation level, study ethic, integrity, and the awareness of building a better system that most present collectors have in mind. At least, it is proven through by this exhibition.
As quoted from one young collector’s statement, Simon Tan Kian Bing6, that nevertheless the collectors should have the awareness to keep learning and trying to improve the appreciation quality, for it will bring about a great impact as well. Contrasted to the product, then the collectors are the final checks. Like the institution that will rate the worthiness of certain works to collect. If the final check is bad, then the passed artworks will also be bad. But if the final check is good, the quality of the passed works will be good instead.
Then we agree with Butet Kertaredjasa to show one of his personal collections, the work of Vincent van Gogh. This painting portrays a woman and a man, with the background of people harvesting wheat. Butet said that the work is not the original one, or only the reproduction. He deliberately bought one of the 5000 reproductions that are spread around the world with high price in 2002. Besides the interest towards the theme, he also takes the high reproduction skill presented in the works into the consideration. The skill makes every artist’s works can be copied with the scale 1:1 in the colour similarity level, line, and texture up to 90%. From this Butet’s collection, at least it will serve as the learning media of the artists regarded the classic polemic in collecting, originality.
So, if you can conclude many things from the exhibited collection, it is not impossible that our world of art will attract more discussion. Then, who is the real creator of “festivity” in our artworld? +++
Yogyakarta, May 3rd, 2007
End Notes
[1] JS. Badudu, Kamus Kata-Kata Serapan Asing dalam Bahasa Indonesia, Penerbit Kompas, Jakarta, 2003.
2 M. Agus Burhan, “Seni Rupa Modern Indonesia: Tinjauan Sosiohistoris”, dalam Adi Wicaksono dkk (ed.), Aspek-aspek Seni Visual Indonesia: Politik & Gender, Yogyakarta, Yayasan Seni Cemeti, 2003.
3 Sanento Yuliman, Boom! Kemana Seni Lukis Kita?, Makalah Sarasehan Pelukis Jawa Timur, Surabaya, 24 Agustus 1990.
4 Chin-tao Wu, Privatising Culture, Corporate Art Interention since the 1980s, London-New York, Verso, 2002.
5 Wawancara dengan Butet Kertaredjasa, 27 April 2007 di kediamannya, Yogyakarta.
6 Dialog Seni Kita/ DSK, Radio UNISI dan YSC, Yogyakarta, 8 Februari 2002.